I have a crush with my ex's boyfriend
Author : Do Sung Gyeol
Main pair : KaiSoo/KaiDO
Rate : M (for all)
Genre : Romance
Warning : I never write straight fic except for a slight, I never write GS, classic tale, bahasa absurd, blablabla. Bad!Kai, teacher!Kyung Soo.
a/n (harap dibaca): pertama-tama, pastikan kalian membaca warningnya ya^^. Untuk chapter ini khusus buat flashback sebelum Kyung Soo dijailin Kai. Makanya disini alurnya agak cepet. Disini diceritain kedok Kai yang sebenernya. Ini chapter tambahan.
The chara belongs to God and this fic belongs to me
.
.
Flashback
.
.
Kai a.k.a Kim JongIn adalah seorang namja belia yang baru saja menginjak umur 18 tahun. Dia bersekolah di sebuah sekolah ternama di Korea Selatan. Kai tinggal seorang diri dirumahnya, rumah yang menjadi bukti dari hasil jerih payahnya dalam mencari uang di kota metropolitan itu.
Pekerjaan Kai adalah sebagai seorang host. Dia melayani beberapa wanita yang memang membutuhkannya sebagai teman kencan, ataupun partner sex. Kai sama sekali tidak keberatan dengan hal itu selama dia juga menganggapnya main-main.
Namun, Kai memutuskan untuk berhenti sebagai seorang host semenjak ada seorang yeoja yang menyatakan cinta padanya. Kai bukannya mencintai yeoja itu juga, hanya saja, ia memang sudah lelah dipakai terus menerus layaknya boneka.
Dan yeoja yang sekarang memilikinya itu bernama Choi Miyoon.
Kai dan Miyoon menjalani hubungan selama 3 bulan lebih. Dan Kai merasakan sendiri keuntungan dari berpacaran dengan Miyoon. Mulai dari mengizinkannya tinggal dirumahnya, diberi makan dan uang untuk menghidupi kebutuhannya sehari-hari. Kai rasa ia harus berterima kasih akan hal itu.
Seperti biasa, sekolah sangat membosankan baginya. Kalau dia masih berada di klub host itu, mungkin Kai sudah pergi membolos lagi. Tapi hey! Ini masih pagi, dan kau sudah menghancurkan semangat pagimu hari ini? Sungguh bukan seorang Kim JongIn.
Bel tanda masuk berbunyi. Seluruh murid segera memasuki kelas mereka masing-masing. Dan tak lama setelahnya, seorang sonsaengnim yang memang mengajar di jam pertama masuk.
"Beri hormat" perintah sang ketua kelas. Semua murid membungkuk, lalu mereka kembali duduk setelah sonsaengnim membalas membungkuk pada mereka.
"Kita akan belajar trigonometri hari ini, buka buku paket kalian halaman 65" kata sonsaengnim mulai menjelaskan materinya.
Berbeda dengan murid-murid yang sedikit antusias dengan pelajaran kali ini, Kai justru malah dilanda bosan yang benar-benar bosan. Segala yang ia pandang disekolah tidak ada yang menarik.
Sampai ketika seseorang mengetuk pintu kelasnya. Sonsaengnim berhenti menulis di papan tulis, begitupun seluruh murid kelas itu. Mereka dengan kompak menolehkan kepala mereka pada seseorang yang kini sedang berdiri di depan pintu kelas dengan senyuman terulas di wajahnya.
"Josonghamnida Kim sonsaengnim, saya mengganggu sejenak" ucap orang itu yang dibalas anggukan oleh Kim sonsaengnim tadi.
Seorang pria paruh baya dan berbadan subur itu masuk ke dalam kelas, diikuti seorang namja mungil dengan kacamata tebal berterngger di matanya.
"Semuanya saya mohon perhatian sebentar. Hari ini, kita kedatangan guru tambahan, lulusan dari universitas ternama di Korea Selatan. Beliau baru saja lulus tahun lalu dan mendapatkan predikat sebagai guru muda" jelas kepala sekolah Jung yang membuat namja mungil disampingnya tersipu malu.
"Sonsaengnim, silakan perkenalkan diri anda"
Namja mungil itu mengangguk, berjalan satu langkah dari tempatnya berdiri dan menatap seluruh siswa di kelas itu dengan mata bulatnya.
"Annyeonghasseo, choneun Do Kyung Soo imnida. Saya disini mengajar matematika sama seperti Kim sonsaengnim. Saya sangat berharap bisa mengajar kalian juga, tetapi Pak Kepala Jung hanya mengizinkan saya untuk mengajar di kelas A sampai C saja. Bangapseumnida" kata Do sonsaengnim itu memperkenalkan dirinya.
Senyumnya sangat khas, tingkah lakunya pun masih terbilang kekanak-kanakan mengingat umurnya yang bisa dibilang muda.
Beberapa menit setelah perkenalan itu, kepala sekolah beserta guru muda itu pun pergi meninggalkan kelas Kai.
"Ya, kita lanjutkan kembali pada pelajaran-"
"Sonsaengnim" Kai mengacungkan tangannya.
"Ada apa Kim JongIn?"
"Saya izin ke toilet"
"Ah, silakan asalkan kau tidak kabur lagi"
Kai hanya mendengus lalu pergi begitu saja keluar. Kim sonsaengnim hanya mampu menghela nafas, anak seperti itu disekolah tidak hanya Kai saja.
Kai baru saja keluar dari toilet. Dan saat Kai sedang berjalan kembali menuju kelas, ia tak sengaja melihat lagi sonsaengnim yang tadi datang ke kelasnya. Sepertinya dia sedang kerepotan membawa tasnya sambil mengucek-ngucek matanya yang tertutupi oleh lensa tebal itu. Kai menghentikan langkahnya.
"Aigoo... gatal sekali mataku" keluhnya. Tas yang ia bawa disimpannya dilantai. Sonsaengnim itu membuka kacamatanya. Mendadak nafas Kai tercekat, ia tahu orang itu menyimpan bola mata yang indah dibalik kacamatanya. Tetapi Kai hanya bisa melihatnya sekilas karena tanpa kacamata tebalnya, matanya akan menyipit hingga tak terlihat lagi manik indahnya.
"Do sonsaengnim gwaenchana?" tanya seorang murid perempuan yang tak sengaja melewat.
"Mataku, sepertinya kemasukan sesuatu tadi. Tapi tidak apa-apa" jawabnya lembut.
"Boleh saya membantu sonsaengnim?" tawar murid itu, Kyung Soo yang awalnya ragu pun akhirnya mengangguk juga.
Murid perempuan itu menyuruh Kyung Soo untuk mensejajarkan tubuhnya. Dia membuka kelopak mata Kyung Soo lalu meniupnya pelan. Kyung Soo mengedipkan matanya berulang kali, matanya sudah tidak gatal lagi sekarang.
"Kamsahamnida, kau dari kelas mana?"
"Sama-sama sonsaengnim, saya dari kelas 3-B"
"Ah, berarti kau berada dikelas yang aku ajari. Sekali lagi terima kasih" ucapnya sambil tersenyum manis.
"Ne sonsaengnim, sama-sama. Ngomong-ngomong sonsaengnim, anda mau pergi kemana? Bukankah anda sudah diperbolehkan mengajar?"
"Kepala sekolah memang sudah mengizinkanku mengajar hari ini, tapi beberapa menit lagi aku harus pergi. Ada keperluan penting yang tidak boleh aku lewati" jawab Kyung Soo.
Murid perempuan itu hanya mengangguk mengerti. Keduanya pun berpisah dilorong sekolah itu. Kyung Soo memakai kacamatanya kembali, dengan langkah cepat ia berjalan melewati Kai yang sejak tadi memperhatikannya.
.
.
.
.
Kai menguap lebar pagi itu, untung saja sonsaengnim sedang sibuk menjelaskan. Jika sonsaengnim mendapati Kai menguap, ia pasti sudah disemprot habis-habisan. Lagipula siapa yang tidak mengantuk saat pelajaran sejarah? Apalagi kondisi badan sedang kelelahan, Rasanya Kai seperti sedang dininabobokan. Dia sedikit merutuki Miyoon kali ini, karena semalaman dia menyuruh Kai untuk melayaninya hingga lima ronde. Benar-benar yeoja jalang, menurutnya.
Masih ada satu jam lagi menuju istirahat, Kai menghela nafasnya pasrah. Daripada ia harus mati-matian menahan rasa kantuknya, lebih baik Kai pergi tidur di atap.
"Sonsaengnim"
"Ada apa Kim JongIn?"
"Saya izin ke toilet" lagi-lagi Kai mengeluarkan alibinya.
"Silakan" ucap sonsaengnim memberi izin.
Kai pun segera keluar. Ia melangkahkan kakinya menuju atap gedung sekolah.
Kai mendorong pintunya yang sedikit macet, ia menarik nafas panjang merasakan udara segar yang berhembus pelan kearahnya. Kemudian, Kai pun kembali melangkahkan kakinya menuju tumpukan meja tua. Dia merebahkan tubuhnya diatas meja itu.
"Haaah..." desahnya pelan, akhirnya ia bisa istirahat juga.
Dengan tangan yang menutupi matanya, sejenak Kai memikirkan sonsaengnim muda itu. Belum pernah ia melihat orang dengan senyum tulus dan mata yang begitu cantik. Kai benar-benar tertarik dengan sonsaengnim bernama Do Kyung Soo itu. Mungkin bisa dibilang ia jatuh cinta pada pandangan pertama?
Kai mendengus, ia tahu betul siapa dirinya. Kai hanyalah seorang murid nakal yang tumbuh dalam ruang lingkup yang gelap dan berantakan. Sementara dia? Dia merupakan seorang sonsaengnim dengan gelar dan sangat disegani.
Perbedaan umur yang terpaut jauh juga membuatnya sedikit minder. Apalagi orang seperti itu biasanya homophobic kan?
Hey! Kai juga bukan seorang homo! Dia straight, malah dia mempunyai seorang yeojachingu kan? Tetapi, orang bernama Do Kyung Soo itu telah berhasil membuat dirinya menjadi seorang bisex.
Kai menghela nafasnya lagi. Benar-benar bagaikan menggapai langit. Sebuah mimpi yang akan selamanya menjadi mimpi. Tidak akan pernah terjadi. Lagipula, Kai masih harus berkonsentrasi pada hubungannya dengan Miyoon. Meskipun Kai memang tidak mencintainya, tapi tidak terbesit sedikitpun niat dalam dirinya untuk melukai perasaan wanita itu. Mungkin Kai harus belajar menumbuhkan sedikit demi sedikit perasaannya.
Semilir angin menghembuskan rambutnya dengan lembut. Matanya terasa berat kembali. Dan tak lama kemudian Kai pun terlelap dalam tidurnya.
"Aaaahh... atap memang tempat yang bagus untuk menenangkan pikiran!"
Kai yang baru saja terbangun dari tidurnya kemudian menoleh pada sumber suara.
Seseorang dengan tubuh mungil dan berpakaian rapi sedang berdiri sambil merentangkan kedua tangannya di tepi pagar.
Kai menyerinyit melihat orang itu. Rasanya dia kenal dengan perawakannya. Namun Kai masih belum yakin, siapa tahu dia masih berada dalam mimpinya.
Orang itu berbalik sambil sibuk memainkan handphonenya. Sekarang Kai sudah yakin dengan tebakannya, itu adalah orang yang tadi ia pikirkan. Sang guru muda bernama Do Kyung Soo.
Kai sepertinya mulai kembali terpesona. Matanya tak lepas memandang wajah yang sedang tersenyum senang ketika menatap layar handphonenya. Membuat Kai tidak tahan untuk segera mengambil handphonenya dan memotret orang itu.
Namun sial, saat ia hendak mengambil gambarnya, Kyung Soo malah berbalik lagi sambil mengobrol dengan seseorang ditelfonnya. Kai mendecak kesal.
"Nde chagiya, kemarin aku sudah pergi ke percetakan untuk membuatkan undangannya" samar-samar suara itu terdengar oleh Kai. Kai mempertajam pendengarannya agar bisa menguping pembicaraan sonsaengnim itu.
"Baju pengantin? Ah... mianhae, aku lupa memikirkannya"
Kai memundurkan badannya, ternyata sonsaengnim itu sudah mau menikah. Wajar saja bukan? Usianya sudah cukup matang untuk memiliki seorang pendamping. Kai sedikit kecewa, namun inilah takdir yang harus ia terima.
"Ne Miyoon-ah, saranghae"
Kai segera menolehkan kepalanya begitu mendengar nama yang tadi Kyung Soo sebutkan. Miyoon? Apa yang disebutnya tadi, Choi Miyoon? Kai menggelengkan kepalanya, mungkin saja itu Miyoon yang lain.
Jam istirahat kedua, Kai dipanggil Kim sonsaengnim ke ruang guru. Rupanya, ia kepergok membolos lagi. Dan sang pelapornya adalah guru sejarahnya. Sial, ini sudah yang ketiga kalinya Kai dipanggil untuk minggu ini.
Saat sampai diruang guru, Kai permisi dulu sebelum memasuki ruangan. Kemudian ia menghampiri meja Kim sonsaengnim yang kebetulan berada di dekat meja Do sonsaengnim yang sedang dikerubungi beberapa rekan gurunya.
Kai melirik kearah meja itu, sepertinya mereka sedang membicarakan tentang pernikahannya. Beberapa ucapan selamat terdengar mengalun melewati telinganya. Kai menghela nafas, ia sudah tidak mau peduli lagi.
"Do sonsaengnim, aku ingin lihat calon mempelaimu, kau punya fotonya?" tanya salah satu sonsaengnim.
Kyung Soo tersipu dibuatnya. Dengan malu-malu, Kyung Soo mengeluarkan handphone miliknya lalu menunjukkan foto calon pendampingnya itu. Para sonsaengnim langsung berebut handphone itu untuk melihat fotonya.
"Omo yeppeuna..."
"Neomu yeppeun Do sonsaengnim- Ah aku lupa, siapa namanya tadi?"
"Choi Miyoon" jawab Kyung Soo malu-malu.
Mendengar itu, Kai dengan cepat menolehkan pandangannya pada handphone yang kebetulan sedang dipegang sonsaengnim yang membelakanginya. Kai membelalakkan matanya saat melihat foto Choi Miyoon yang dimaksud Kyung Soo adalah, Choi Miyoon yeojachingunya sendiri.
"Ah, rupanya kau sudah berada disini Kim JongIn. Kim JongIn?" panggil Kim sonsaengnim.
Kai tersadar dari lamunannya, "N- Ne sonsaengnim" katanya lalu duduk menghadap sang sonsaengnim.
Tapi apa yang diomongkan sonsaengnim kepadanya sama sekali tidak masuk ke telinganya. Kai sibuk dengan pikirannya sendiri. Memikirkan Kyung Soo, Miyoon, dan hubungan diantara mereka.
.
.
.
.
Hari itu, Kai dibangunkan oleh suara handphone yang berada diatas meja disamping tempat tidurnya. Dengan malas, Kai meraih-raih handphone itu dengan tangannya. Ada sebuah pesan dari seseorang untuk yeojachingunya.
Kai membangunkan tubuhnya sambil mengucek-ngucek matanya sejenak. Lalu ia melirik kearah celah gorden yang menutupi jendela itu. Sepertinya sudah pagi. Kai meregangkan tubuhnya lalu kembali pada handphone Miyoon yang sedang dipegangnya.
Dibukanya sebuah pesan tadi.
Do Kyung Soo
- Good morning chagiya! Kau sudah bangun kan? Hehe... jangan lupa sarapan ne? Saranghae :*
Kai mendengus, ternyata sonsaengnimnya ini begitu berlebihan. Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk lagi.
Do Kyung Soo
- Ah.. aku lupa, hari ini kita pergi mencari baju pengantin ne? Aku akan menjemputmu sekitar lima menit lagi. Dandan yang cantik ne, nae yeoja^^ aku benar-benar tidak sabar menunggu hari pernikahan kita
Setelah membaca pesan itu, ia membuka pesan-pesan lain yang dikirim oleh Kyung Soo pada Miyoon. Kai sedikit terkejut karena ternyata mereka sudah berhubungan sebulan lebih awal darinya.
Dari pesan-pesan yang Kyung Soo kirim, sepertinya namja yang berpangkat sebagai seorang sonsaengnim itu sangat mencintai Miyoon. Tapi kenapa justru Miyoon malah mempermainkan Kyung Soo seperti ini? Dan lagi, Miyoon menjadikan Kai sebagai selingkuhannya. Kai pikir selama ini Miyoon bersungguh-sungguh dalam menjalani hubungan dengannya, tapi ternyata dia masih berhubungan dengan orang lain.
Kai tidak percaya Miyoon memainkan perasaan orang yang selama ini mencintainya dengan tulus. Bahkan bisa dikatakan serius karena Kyung Soo sudah meminang Miyoon. Dan Kai sama sekali tidak bisa memaafkan perbuatan yeojachingunya yang telah menyakiti orang yang sangat dicintainya.
Kai memutar-mutar handphone itu ditangannya. Tiba-tiba terbesit sebuah ide gila yang mungkin akan menyenangkan setelah ia menjalaninya. Disamping itu, dengan memanfaatkan kepolosan sang sonsaengnim, Kai akan lebih mudah menjalani rencananya.
Dengan begitu, Kai akan mendapatkan apa yang ia inginkan selama ini.
Kai tertawa licik, kemudian dihapusnya dua pesan itu dan menaruh kembali handphone Miyoon ditempat semula.
Tepat saat Kai menaruh handphone itu, pintu kamar terbuka. Miyoon baru saja selesai mandi dan dia masih mengenakan kimono mandinya.
"Kai, kau sudah bangun?"
Tiba-tiba, Kai menarik lengan Miyoon lalu menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang. Kai segera mencumbui Miyoon kembali. Miyoon mengalungkan kedua tangannya dileher Kai sambil berusaha mengimbangi permainan lidah Kai di dalam mulutnya.
Kai kemudian melepaskan ciumannya, mulutnya beralih pada bagian dada yeoja itu. Kai menggigit dan menghisap kulit dada itu dengan kuat.
"AAAAHH... Kai..." pekik Miyoon kesakitan. Kai kembali mencium bibir Miyoon penuh nafsu, tangannya mulai bergerak kearah selangkangannya.
Tok Tok
Aktivitas mereka berdua terhenti. Miyoon menolehkan kepalanya.
"Siapa itu? Pagi-pagi sekali"
Kai menyeringai dibalik kata-kata Miyoon tadi. "Biar aku saja yang membuka pintunya" ucap Kai memakai kembali celananya lalu berjalan untuk membukakan pintu.
Saat ia membuka pintu rumah, Kai melihat Kyung Soo berdiri dengan wajah kaget saat melihatnya. Buket bunganya jatuh begitu saja dari genggamannya. Mulutnya membuka tidak percaya. Kai menatap penampilan Kyung Soo mulai dari ujung kaki hingga kepalanya, benar-benar ciri khas orang berpendidikan.
"Nuguseyo chagiya?" tanya Miyoon dari dalam rumahnya.
Dengan cepat Kyung Soo menerobos masuk kedalam rumah itu tanpa mempedulikan Kai yang masih diam di dekat pintu.
Tepat ketika Kyung Soo hendak masuk ke dalam sebuah kamar, seorang yeoja cantik yang mengenakan kimono mandi muncul dari kamar itu. Matanya terbelalak ketika melihat sosok Kyung Soo berdiri dihadapannya. Bak singa yang sedang menantang musuhnya, Kyung Soo menatap penuh amarah pada Miyoon. Terlebih saat ia melihat ada tanda kemerahan di daerah dadanya.
PLAK
Tangan Kyung Soo melayang kearah pipi Miyoon, dia meringis.
"Kyung Soo-ah" gumam Miyoon sambil mengusap wajahnya yang terkena tamparan Kyung Soo.
"Pernikahan kita batal!" teriak Kyung Soo.
Kai yang mendengarnya kemudian menyeringai, "Chukkae sonsaengnim" gumamnya lalu bermaksud melihat pertengkaran Kyung Soo dengan Miyoon.
Kai mendelik Kyung Soo yang berjalan cepat melewatinya. "Mianhae sonsaengnim, aku melakukannya untukmu" gumamnya dalam hati. Kai segera menghampiri Miyoon yang masih mematung setelah menerima tamparan tadi.
"Aigo, apa aku menghancurkan semuanya?" katanya dengan santai.
Miyoon mengusap rambutnya kebelakang, "Sudahlah, lagipula dia tidak begitu penting"
"Jinjja? Bukankah kalian sudah lama menjalin hubungan?" ucap Kai sambil melingkarkan lengannya di pinggang Miyoon dan memberinya kecupan dilehernya.
"Darimana kau tahu, Kai?" tanya Miyoon kaget.
"Heh, aku tahu semuanya"
.
.
Flashback End
.
.
Terima kasih yang udah baca, review, fav, sama follow ff ini^^
Kritik dan saran akan sangat diterima. Tidak menerima bashingan tidak bermutu. Kalo nemu kejanggalan dalam chapter ini tolong kasih tau ya^^
Keep support EXO!
Happy KaiSoo month!
XOXO
