I have a crush with my ex's boyfriend

Author : Do Sung Gyeol

Main pair : KaiSoo/KaiDO

Rate : M (for all)

Genre : Romance

Warning : I never write straight fic except for a slight, I never write GS, classic story, ini ngebut, OOC, typos(s), bahasa ga disensor, full NC!, blablabla. Bad!Kai, teacher!Kyung Soo.

a/n : please read the warn before you read! Disini mungkin agak sedikit BDSM dan jorok? Jadi harap dibaca betul-betul warnnya!

The chara belongs to God and this fic belongs to me

.

Kyung Soo melangkahkan kakinya yang terasa berat. Padahal masih terlalu pagi untuknya pulang ke rumah.

Wajah lesu, badan membungkuk, mata bengkak dan merah menjadi pemandangan yang tidak mengenakkan di pagi yang masih cerah itu.

Lalu apa yang membuat Kyung Soo seperti itu?

.

.

.

.

"Sekali lagi, diberitahukan kepada Do sonsaengnim agar segera menemui Kepala Sekolah diruangannya, terima kasih"

Suara yang berasal dari announcer itu terdengar berulang kali. Seolah itu merupakan panggilan kematian bagi Do Kyung Soo. Sang guru muda yang di fitnah oleh berita bodoh itu.

Di tengah-tengah kerumunan siswa sekolah yang jumlahnya kurang lebih 1000 orang itu, Kyung Soo merunduk. Matanya terasa panas walau hanya sekedar menatap lantai yang dingin. Tangannya mengepal kuat, sementara badannya bergetar menahan tangis.

Mimpi buruk Kyung Soo.

Mimpi yang seharusnya hanya menjadi bunga tidur itu, kini menjadi kenyataan.

Kyung Soo akan dipecat. Dan itu tidak lama lagi.

Tiba-tiba, dia teringat dengan mimpinya yang harus mencari Kai. Sekuat tenaga Kyung Soo bangkit dan menghapus sisa air matanya. Tak peduli orang-orang yang memandangnya dengan tatapan sinis, jijik, atau apapun itu. Kyung Soo hanya perlu mencari dimana JongIn sekarang.

Langkah kakinya yang ribut terdengar menggema di sepanjang lorong. Saat sampai di kelas 3-F, Kyung Soo segera membuka pintunya dan mencari dimana Kai.

"Dimana Kai?" tanya Kyung Soo sedikit membentak pada seluruh anak di kelas itu.

Namun, bukannya mendapat jawaban, Kyung Soo justru malah mendapat tatapan aneh dari para muridnya. Dan tidak ada satupun dari murid di kelas itu yang menghiraukan pertanyaannya. Beberapa saat mereka memandang Kyung Soo, mereka kembali pada aktivitas mereka. Bahkan Kyung Soo mendengar ada yang mencemoohkannya.

Kesal. Kyung Soo memukul pintu itu lalu berlari pergi menuju tujuannya yang lain.

Atap sekolah.

Sialnya, ternyata atap itu sudah di perboden. Dan Kyung Soo tetap tidak bisa membukanya meskipun dia sudah menarik paksa kayu yang ditempel di pintu itu, karena pintunya terkunci.

"Kim JongIn! Buka pintunya! Aku tahu kau sedang ada diluar sana sekarang! Cepat buka dan temui aku! YA KIM JONGIN!" teriak Kyung Soo sambil memaksa pintu itu untuk terbuka.

Kyung Soo memukul-mukul pintu itu berulang kali sambil berteriak seolah-olah Kai memang sedang ada di atap itu. Kyung Soo menangis sejadi-jadinya. Demi Tuhan dan segalanya, ia tidak ingin karirnya hancur sekarang. Ia tidak menginginkan takdir yang seperti ini. Ia masih ingin menjadi orang yang berjasa di sepanjang hidupnya.

"ARGH!" Kyung Soo menendang pintu itu frustasi. Tubuhnya merosot perlahan, kedua tangannya menutup wajahnya yang banjir oleh air mata. Kyung Soo belum bisa berhenti untuk menangis.

"Do sonsaengnim"

Sebuah panggilan yang tak asing membuat Kyung Soo menoleh kearahnya.

"Pak kepala sudah tidak sabar menunggu anda diruangannya" ucap Kim sonsaengnim, yang kebetulan menemukannya di dekat pintu atap ketika diperintahkan untuk mencari Kyung Soo oleh kepala sekolah.

Kyung Soo mengangguk pelan, ada yang berbeda dari cara bicara Kim sonsaengnim. Wajar saja, dia pasti tidak suka pada Kyung Soo sekarang. Padahal, selama ini Kim sonsaengnim banyak membantunya, tapi Kyung Soo malah membuat harga dirinya jatuh dan kotor di mata seorang lelaki berumur itu.


Sebuah amplop putih dijatuhkan dengan kasar tepat dihadapan Kyung Soo.

Namja berkacamata tebal itu mendongakkan wajahnya mati-matian agar bisa menatap wajah atasannya yang terlihat penuh amarah itu.

Benar saja, Jung gyeojang saat ini menatapnya dengan mata melotot. Bisa Kyung Soo rasakan hawa kemarahannya bergejolak memenuhi seluruh ruangan. Kyung Soo menelan ludahnya paksa. Tangan rampingnya meraih amplop itu.

"Itu surat pemberhentian anda Do sonsaengnim, anda di pecat mulai detik ini juga!"

Kyung Soo syok, mata bulatnya kembali bergetar dan mengeluarkan cairan bening.

"Ta- tapi Pak kepala, saya-"

"Alah! Sudahlah, saya tidak mau mendengar alasan anda lagi! Sudah jelas-jelas artikel ini membuktikan bahwa anda memang benar-benar hina! Manusia rendahan yang berkedok ilmu pengetahuan dan embel-embel gelar" bentak Jung gyeojang sambil melemparkan sebuah koran sekolah yang tadi dipegangnya, koran itu hampir saja mengenai wajah Kyung Soo.

"Benar-benar memalukan! Harusnya anda tahu dimana posisi anda sekarang ini! Anda itu seorang pendidik, bukan pelacur! Seorang pendidik harusnya memberikan panutan pada muridnya, bukan memaksanya menjadi seorang pemuas hasrat anda! Apa anda tidak belajar moral?"

Kyung Soo diam. Benar-benar diam. Tetapi tangannya perlahan meremas amplop yang masih rekat itu. Kyung Soo tidak perlu tahu apa isinya, karena Jung gyeojang sudah mengatakannya dengan jelas padanya tadi.

"Saya tidak mau sekolah ini hancur oleh orang seperti anda. Jadi sekarang, anda boleh angkat kaki dari tempat ini sebelum saya melaporkan kasus ini pada polisi" ucap Jung gyeojang menutup kalimatnya. Tangannya mengarah lurus pada pintu, isyarat agar Kyung Soo harus cepat keluar dari tempat itu sekarang juga.

Dengan berat hati Kyung Soo beranjak dari kursinya. Menggeret kakinya perlahan keluar ruangan.

Kyung Soo mengambil tas dan segala barangnya yang berada di meja tempatnya bekerja di ruang guru. Kemudian ia meninggalkan ruangan itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada seluruh sonsaengnim yang ada disana.

Lagipula siapa yang akan mendengarnya? Tidakkah kalian tahu kalau sekarang para rekannya sedang menatap jijik padanya?

Kyung Soo mengakhiri karirnya dengan meninggalkan sekolah itu.

.

.

Sementara itu, beberapa menit kebelakang saat Kyung Soo masih tertimpa insidennya. Kai rupanya sudah kembali ke rumah –rumah Kyung Soo-.

Bingung, bimbang, resah, itulah gambaran dari perasaan Kai saat ia sedang memakai dasi sekolahnya. Menatap cermin dengan ragu seolah bayangan dirinya mengatakan kalau ia harus menanggalkan pakaian sekolahnya lagi.

Kai menghela nafasnya lalu melepaskan dasi itu dengan kasar. Ia mengacak-acak rambutnya frustasi sambil duduk diatas ranjang milik Kyung Soo.

"Aish, kenapa perasaanku jadi tidak enak begini?" gumamnya resah. Tangannya mengusap wajahnya dengan kasar. Bibirnya digigiti sambil kakinya mengetuk-ngetuk lantai.

"Kai pabbo! Harusnya kau tidak meninggalkan handphonemu di rumah yeoja itu! Dasar pabbo kau Kim JongIn!" kesalnya merutuki dirinya sendiri.

Tak lama kemudian, ia mendengar suara pintu terbuka. Kai sedikit tersentak ketika mendengar deritan pintu kayu itu, badannya mendadak tegap tapi jantungnya berdetak hebat. Harapan Kai agar tidak bertatap muka dulu dengan Kyung Soo gagal sudah.

Kai melihat Kyung Soo yang lusuh membuka pintu kamarnya pelan. Sebelah tangannya terdapat banyak sekali barang –lebih tepatnya berkas- yang diketahui Kyung Soo ambil dari mejanya.

Saat Kyung Soo menatap Kai yang juga sedang memandanginya. Kyung Soo tiba-tiba menjatuhkan tumpukan barang-barangnya ke lantai. Matanya berkaca-kaca, menatap orang yang berada di pandangannya dengan emosi yang menyulut-nyulut.

Kyung Soo berjalan cepat menghampiri Kai. Kai tidak sempat menghindar saat namja mungil berkacamata yang katanya minus 8,5 itu memukulnya tepat di pipi. Alhasil Kai pun hanya bisa mengusap pipinya yang terasa sakit dan panas disaat yang bersamaan.

Didorongnya tubuh Kai hingga menjadi telentang diatas kasur. Kyung Soo menaiki badannya, memberikan bogem mentah berulang-ulang pada namja berkulit tan itu sembari menangis terisak.

Beberapa kali Kai mencoba menghentikan aksi Kyung Soo. Akhirnya kepalan tangan itu bisa ditahannya. Kyung Soo memang memberontak, namun Kai semakin menguatkan cengkramannya pada dua pergelangan tangan Kyung Soo.

"Kau puas sekarang?" lirih Kyung Soo.

"KAU PUAS SEKARANG HAH!?" teriaknya, menatap Kai dengan wajah yang sama sekali tidak diinginkan oleh Kai. Kusut, hancur, dengan buliran air mata yang membasahi pipi chubbynya, juga mengotori kacamata yang sudah tidak teratur letaknya.

"Kau mengambil calon pengantinku! Kau menghancurkan hidupku yang semula normal! Kau mempermainkan tubuhku dengan semena-semena! Kau bahkan mengambil keperjakaanku! Dan sekarang, aku dipecat gara-gara berita picisan yang kau buat dengan semua foto-foto itu! Apa sekarang kau puas Kim JongIn!?" ucap Kyung Soo dengan nada tinggi, menyambung kalimat sebelumnya.

Kai menatap Kyung Soo dengan rasa sesal yang menyelimuti seluruh jiwa raganya. Cengkraman yang semula bertenaga itu mengendur. Membuat Kyung Soo menghempaskannya dengan mudah.

Isakan tangis memecah keheningan kamar itu. Kyung Soo sesenggukan sambil mengucek matanya yang berair. Dan sejujurnya, Kai tidak ingin melihat namja di hadapannya seperti ini. Terlalu menyayat hatinya melihat orang yang paling di cintainya menangis karena ulahnya sendiri. Dan Kai sedikit menyesali perbuatannya kali ini. Tidak sesuai rencananya yang semula.

"Aku benar-benar tidak mengerti kenapa kau menjahiliku sampai sejauh itu Kai. Sebenarnya apa salahku padamu? Aku bahkan tidak mengenalmu sama sekali, meskipun faktanya kau adalah muridku" lanjut Kyung Soo dengan suara yang melemah.

"Sonsaengnim... aku..."

"Pergi"

Kai membeku. Kyung Soo mendongakkan wajahnya menatap Kai. "Pergi dari rumahku, dari hadapanku sekarang juga! Aku tidak ingin melihatmu lagi!" katanya.

"Sonsaengnim-"

"PERGI!"

Sekuat tenaga Kyung Soo mendorong Kai menjauh dari kamarnya, dari rumahnya. Seluruh barang yang Kai bawa ke rumahnya di lemparkan begitu saja keluar. Setelah itu, Kyung Soo membanting pintunya keras-keras.

Kai berusaha memanggil Kyung Soo, namun sia-sia. Dan akhirnya Kai hanya bisa menundukkan kepalanya menyesal.

.

.

.

.

Seminggu berlalu, Kai menjamur di rumahnya. Berkali-kali ia berusaha mengunjungi Kyung Soo untuk meminta maaf, namun namja yang lebih tua darinya itu tetap tidak mau membukakan pintu rumahnya untuk Kai. Malah yang ada teriakan Kyung Soo mengusir namja itu menggelegar.

Kai yang sedang berbaring di sofa itu menggeram frustasi. Mengacak-acak rambutnya sambil menendang-nendang kakinya di udara. Ia sudah terlanjur gila untuk memikirkan cara apa lagi agar Kyung Soo mau memaafkannya.

"YEOJA SIALAAAAAN!" teriaknya. Kai menyalahkan semua ini pada Miyoon, karena siapa lagi yang bisa ia curigai soal menyebarnya berita sampah itu selain Miyoon? Lagi, yeoja itu mendadak menghilang setelah berita itu tersebar.

Benar-benar licik.

Cih.

Kai menghela nafasnya, bantalnya ia jatuhkan begitu saja diatas wajahnya.

"Sonsaengnim..." gumamnya.

Kryuyuuuk~

Perutnya berbunyi. Kai baru sadar kalau ia kurang asupan makanan belakangan ini karena terus memikirkan sosok sonsaengnim itu. Bantalnya dienyahkan dari wajahnya, Kai segera beranjak menuju dapur.

Sialnya, ketika membukakan pintu lemari es, tak ada satupun makanan yang bisa ia makan.

"Sebenarnya apa yang aku lakukan seminggu ini?" gumamnya meratapi kulkasnya yang kosong.

Kai menutup pintu kulkasnya kembali. Itu berarti ia harus pergi mencari makanan hari ini. Namja itu menghela nafasnya. Sejujurnya ia malas untuk keluar rumah. Sekolah saja ia bolos seminggu ini karena Kyung Soo. Tapi demi perutnya, Kai mau tak mau harus pergi ke tengah-tengah kerumunan orang yang sedang berlalu lalang tak jelas di tengah kota.

.

.

Setelah berbelanja Kai pulang menuju rumahnya. Satu kantung kresek penuh dengan ramyun ditentengnya pulang. Sesekali kakinya menendang kerikil yang menurutnya menghalangi langkah kakinya. Hingga akhirnya kerikil itu sukses mengenai betis seorang yeoja yang baru saja keluar dari sebuah restoran kecil di kota itu.

"Ouch" pekik yeoja tersebut.

Merasa kenal dengan suaranya, Kai mendongak. Matanya tiba-tiba saja membelalak saat melihat siapa yang terkena tendangan kerikilnya tadi.

"Miyoon"

Yeoja itu menoleh, namun dilihatnya tidak ada siapa-siapa dibelakangnya. Alis yeoja itu mengerut. Kemudian mulut beroleskan lipstick berwarna merahnya menggerutu kecil sambil mengusap kakinya. Tak lama ia kembali melangkahkan kakinya pergi.

Dari balik sebuah tembok, Kai mengintip kepergian sosok Miyoon.

"Ternyata kau masih ada disini" batinnya.

Kai menyunggingkan seringaiannya, ia rasa ini merupakan salah satu waktu yang tepat untuk memberi pelajaran pada yeoja itu. Kai pun kemudian segera mengambil langkah kucing beberapa meter di belakang Miyoon.

Sesampainya di depan pintu rumah, Miyoon membenarkan rambutnya sejenak. Lalu ia mengeluarkan kunci pintunya dari dalam tas. Benda besi itu diputarnya berlawanan arah jarum jam. Setelah terdengar suara yang menandakan kuncinya terbuka, Miyoon membuka pintunya.

Namun tiba-tiba saja sebuah tangan kekar menghadangnya untuk masuk. Sontak saja Miyoon membelalakkan matanya kaget. Yeoja itu menoleh ke belakangnya. Dan benar saja, Kai terlihat berdiri sambil menatapnya tajam.

"K- Kai?"

BRAK!

Kai menendang pintu itu keras, Miyoon di dorongnya masuk ke dalam rumah yang gelap itu. Kai sudah tahu persis dimana letak kamarnya, jadi tanpa penerangan pun Kai bisa membawa Miyoon ke dalam kamarnya.

Suara debaman pintu terdengar lagi saat Kai sudah berhasil membawa Miyoon ke dalam kamarnya.

Pintu kamar dislot, lampu dinyalakan dengan memukul saklarnya. Kai berbalik menatap Miyoon yang kini tengah ketakutan melihat raut wajah Kai yang benar-benar sangat menyeramkan.

Miyoon yang tadi sempat dilempar Kai ke atas ranjangnya bergerak mundur. Tubuhnya terlihat gemetaran saat Kai mulai mendekatinya secara perlahan.

Dicengkramnya rahang yeoja itu dengan kuat. Bibirnya diraup sedikit kasar. Miyoon awalnya terlihat tidak menikmati ciuman kasar Kai. Namun lama kelamaan yeoja itu bisa mengimbanginya.

Ciuman itu semakin basah seiring Kai yang mulai memainkan lidahnya di dalam mulut hangat Miyoon. Lidah mereka saling bertautan bertukar saliva.

Beberapa saat kemudian, Kai melepaskan pagutannya. Namun tiba-tiba ia meludahi wajah Miyoon. Yeoja itu kaget luar biasa, jarinya mengelap saliva yang baru saja di cipratkan Kai padanya.

Miyoon hendak menampar wajah Kai, tapi dengan sigap Kai menahan pergelangan tangan Miyoon dan melemparnya kembali.

Kai membuka laci yang berada di dekat tempat tidur itu. Tepat sekali, ia menemukan sebuah gunting disana. Seringaian tergambarkan dengan jelas pada wajah Kai. Miyoon semakin membelalakkan matanya, ia takut Kai akan berbuat macam-macam padanya melebihi ini.

Kedua lengan Miyoon ditahannya lagi. Kai bertumpu diatas tubuh Miyoon. Yeoja itu menggeliat tak nyaman, lebih tepatnya ingin melepaskan diri. Sementara Kai mengangkat guntingnya. Benda tajam itu mulai merobek sedikit demi sedikit pakaian yang Miyoon kenakan. Kai menggerakkan guntingnya vertikal ke atas, pakaian itu terbagi menjadi dua dengan sempurna.

Lalu, Kai membuka paksa pakaian itu dari tubuh Miyoon. Ia menggunakannya untuk mengikat pergelangan Miyoon juga kakinya.

Setelah itu, Kai beranjak dari atas kasur. Ia berjalan menuju sebuah laci lemari tempat dimana –seingatnya- dulu ia menyimpan mainannya. Ternyata masih ada.

"Kai kau mau apa!?" pekik Miyoon was-was.

Kai mendelik Miyoon yang terkapar dengan tersiksa diatas ranjangnya.

"Memberi pelajaran, pada seseorang yang sudah membuat orang yang paling aku cintai menderita" jawab Kai sembari menyalakan sebuah vibrator ditangannya.

"Kyung Soo? Apa maksudmu itu Kyung Soo?" teriak Miyoon. "Kai aku benar-benar tidak mengerti, kenapa kau lebih memilih namja itu dibanding aku? Aku sudah memberikan segalanya padamu tapi ini yang aku dapatkan? Kenapa kau jadi seperti ini Kai? Kenapa?" Miyoon semakin mengeraskan volume suaranya.

Kai berjalan mendekat, ia kembali mencengkram rahangnya.

"Karena dia seratus kali lebih baik darimu. Aku hanya tidak tega, melihat orang polos dan tak berdosa yang sudah susah payah mencintaimu tapi kau justru malah mempermainkannya" ucap Kai diiringi gerakan tangannya yang memasukkan vibrator itu masuk ke dalam lubang Miyoon tanpa pelumas sedikitpun.

"ARGH!" Miyoon berteriak kesakitan, rasa perih serasa merobek kulit kewanitaannya. Setitik air mata mulai keluar dari sudut mata Miyoon. Ia menggigit bibirnya menahan rasa perih, sakit, dan nikmat disaat yang bersamaan.

Tak tanggung-tanggung, Kai langsung menekan tombol maksimum pada remote vibrator itu. Dan sekarang benda itu bergetar dengan hebat di dalam tubuh Miyoon.

Yeoja itu berteriak dan mendesah tak karuan, kakinya yang diikat menendang-nendang sembarang.

"Kai lepaskan ini!"

"Setelah kau katakan dimana kau menyimpan handphoneku"

"Ah... Ka- Kai! Jebal- le- lepaskan inih..."

Kai semakin mendorong vibrator itu dengan telapak kakinya.

"Aku tanya dimana kau menyimpan handphoneku?"

"Di- aku... menyimpannya- di dalam tasku... aahh..."

"Bagus" ucapnya lalu pergi mengambil tas Miyoon.

Dia berhasil mengambil kembali handphonenya, dan juga mengambil handphone Miyoon.

Miyoon menatap sayu kearah Kai dengan wajah yang penuh dengan keringat. Kai kembali berbalik menatapnya. Memutar-mutar gadget berbentuk persegi panjang ditangannya sebelum akhirnya, Kai melempar handphone Miyoon hingga hancur berkeping-keping.

"KAI!"

Tak mengindahkan teriakan Miyoon, Kai meraih sebuah memori di antara serpihan handphone itu. Kemudian Kai melemparkan memori itu keluar melalui jendela.

Miyoon tampak mulai menangis, tetapi orang yang membuatnya menangis tidak ingin peduli.

"Kuharap kau menyesali perbuatanmu pada Kyung Soo. Bitch!" ucap Kai memberikan penekanan pada akhir kalimatnya. Setelah itu dia pun melangkah pergi dari rumah itu. Meninggalkan Miyoon yang berteriak-teriak meminta dilepaskan.

.

.

.

.

Beberapa hari setelahnya, Kai sudah mantap dengan putusannya untuk meminta maaf pada sonsaengnimnya dan menjelaskan semuanya.

Kai menghela nafasnya berkali-kali saat ia berdiri di depan pintu rumah Kyung Soo. Entah sudah berapa kali ia gagal mengetukkan tangannya pada pintu itu. Kai terlalu gugup, entahlah.

"Calm down Kai, everything's gonna be okay" gumamnya menenangkan diri.

Dengan sekali tarikan nafas, Kai akhirnya mengetuk pintu rumah itu.

Terdengar seseorang berjalan menghampiri pintu. Kai semakin gelisah, mendadak otaknya blank. Padahal ia sudah mempersiapkan semuanya, dari mulai obrolan basa-basi, isi, dan penutupnya. Dan Kai sudah tidak ingin lagi menggunakan cara gilanya yang kemungkinan berakibat fatal.

Kini terdengar suara orang sedang membuka kunci pintu itu. Kai memejamkan matanya, pelipisnya mulai berkeringat. Dan saat pintu itu dibuka...

"Nuguseyo?"

"Eh? Nuguya?"

Kai tidak mengerti, kenapa ada seorang kakek tua berada didalam rumah sonsaengnimnya.

TBC

Annyeong!

Saya minta maaf kalo chapter ini makin ngebut dan absrud, saya bermaksud mempublishnya sebelum saya disibukkan kembali sama persiapan UN T.T

And so many many many thanks for read, review, fav and follow my story

Jujur, saya seneng banget soalnya banyak yang respon sama FF ini xD

Dan maaaaaaaaaaaaaf kalo hasilnya mengecewakan T.T

-No edit-

-Dyororooo-

XOXO