Tittle: Four Flower Petals
Author: Lee Hae Eun
Genre: Romance, School life, Fluff(?)
Rating: PG-15
Cast: Oh Sehun x Luhan
Lee's note: Annyeong~ /hening sejenak/ kyah! Lee baru ingat, MIANHAEE /bow sedalam-dalamnya/ pasti banyak yang melupakan FF ini deh /pundung/ abis Lee udah lamaaa banget gak update kan? huhu, mian ne, reader-nim? /puppy eyes/ Lee janji lain kali bakalan lebih cepet update. lagipula kan kemarin-kemarin Lee lama update karena Lee sibuk UN. sekarang udah siap UN, Lee jadi bebas deh. untuk FF ini yang memang tak seberapa dibandingkan dengan karya author-nim lain yang ada di luar sana(?) Lee minta maaf yak /sungkem/
Thanks to: younlaycious88, BabyHimmie, Peter Lu, Se and Lu, Guest, Id, lisnana1,Jong Kyudo kalian semua penyemangat sayaa /kiss n hug atu-atu/
Happy Reading~~
.
.
Di sana, tepatnya di depan air terjun kecil di pusat taman, berdirilah seorang yeoja cantik dengan jumpsuit biru dongker, tas tangan kecil biru langit, rambut yang digerai dengan bando berwarna senada dengan tas tangannya, juga flatshoes garis birunya. Bisa disimpulkan, yeoja ini menggilai warna biru. Karena bahkan casing handphone yang digenggamnya juga berwarna biru dengan logo sebuah klub sepakbola, Chelsea FC.
Luhan POV
"Mana sih bocah datar itu? Jangan bilang dia tidak datang hari ini?!" seruku kesal sambil menghentak-hentakan kakiku. Ini sudah lewat lima menit dari perjanjian. Bayangkan, LIMA MENIT! Lihat saja, saat dia muncul wajah datarnya itu akan kubuat biru-biru seperti warna handphone-ku ini.
Kring! Kring!
Eh? Hanpdhone-ku berbunyi? Apa karena aku menyandingkannya dengan warna lebam yang akan kuberikan pada bocah itu?
Plak!
Tanganku langsung menampar pipiku spontan. Kenapa otakku ini bodoh sekali, sih? Mana mungkin handphone-ku berbunyi karena alasan konyol itu! Ish!
Kring!
Ah, aku lupa handphone-ku masih berbunyi. Tanpa melihat nama kontak si penelepon, aku langsung menerima panggilan itu karena takut panggilannya segera berakhir.
"Ne yeobose-?"
"Luhan, sudah kubilang jangan sakiti dirimu sendiri!" serbu si penelepon langsung bahkan sebelum aku menyelesaikan kalimatku. Dan aku sudah mengenal si penelepon tak sopan ini. Oh Sehun. Wajahku langsung meniru ekspresi favorit bocah itu. Datar.
"Ya, Oh Sehun! Neo eodiga!?" Pekikku kuat. Handphone masih di telingaku dan itu membuat beberapa pengunjung taman lain menatapku aneh. Aku membungkuk rendah sambil tersenyum minta maaf. Dasar! Oh Sehun sialan kauu!
"Asal kau berjanji untuk tak menyakiti dirimu lagi, aku akan memberitahu aku di mana."
Aku membuang nafasku kasar sebelum menjawabnya. "Menyakiti diri apa yang kau maksud?"
"Aku tahu kau bodoh, Han. Tapi please, jangan sekarang."
"Ya! Bicara to the point saja!" bentakku. Kudengar dia membuang nafas persis seperti caraku tadi.
"Menampar pipi, Han! Kulihat tadi kau menampar pipimu sendiri. Bukankah itu namanya menyakiti diri? Kurasa kebodohanmu meningkat." cerocosnya panjang.
Aku melongo terkejut. Akhir-akhir ini memang dia banyak bicara padaku. Artinya, benar-benar padaku. Tidak pada orang lain termasuk Jongin temannya. Tapi mendengar dia bicara dengan nada khawatir seperti itu membuatku berdebar dan pipiku mendadak hangat. Yah walaupun di akhir kalimat dia menghinaku dan dia tahu tadi aku menampar pipiku sendiri. Aku tahu itu memang tindakan konyol. Tapi yang namanya kebiasaan memang susah diubah kan? Lagipula, aku menampar pipiku tadi...
Chamkamman! Kalau bocah itu melihatku tadi, berarti dia sudah di taman sejak tadi! Argh!
"OH SEHUUUN!" teriakku marah. Tapi dia malah terkekeh riang di sana.
"Baru sadar? Aku sudah melihat tingkah lakumu dari tadi, Han. Kau lucu. Keke." dan dia terkekeh lagi. Ugh, sialau kau bocah wajah datar! Akupun mengedarkan pandanganku ke sekeliling taman. Sampai akhirnya aku melihat bocah itu, berdiri menyandar pada sebuah pohon tak jauh dariku dengan satu tangan terlipat di depan dada dan satu tangan lagi sedang memegang handphone di telinganya. Bibirnya melengkung ke atas membentuk senyuman. Dan anehnya, mendadak jantungku berdebar keras melihat senyumnya. Ada apa denganku?
"..Han? Luhan? Halo?"
"E-eh? Ya! Aku sudah melihatmu bodoh!"
Bocah datar itupun menolehkan kepalanya menatapku dari jauh. Dia kembali tersenyum padaku. Ya ampun! Senyumnya manis sekali! Eh?
"Oh, kau sudah tahu. Tunggu di sana. Pangeran kuda putihmu sebentar lagi akan datang~"
Aku menunduk agar tak bertatapan dengannya lagi. Itu hanya membuat pipiku panas dan jantungku berdebar keras. "Y-ya! Pangeran kuda putih apanya?"
Tutt tutt
Ish! Bocah ini benar-benar! Dia malah langsung memutuskan sambungan tanpa mengatakan apapun! Aku pun menyimpan handphone-ku ke dalam tas tangan biru langitku. Aku masih berdiri menunduk sambil sesekali memainkan kakiku. Hingga akhirnya sepasang kaki jenjang berdiri di depan kakiku. Aku mendongak. Oh, dia sudah sampai.
"Hai, Luhan." sapanya dengan senyum. Aneh. Kenapa dia jadi sering tersenyum hari ini? Reflek, aku menyentuh dahinya untuk memeriksa suhu badannya.
"Kau tidak demam." gumamku. Dia terkekeh singkat sebelum menyentil dahiku.
"Aww."
"Itu untuk bersikap tidak sopan padaku."
Aku mendelik. "Kau yang tidak sopan! Kau hoobae-ku dan telah seenaknya menyentil dahiku!" Pekikku kesal.
Bocah ini kembali menyentil dahiku.
"Ya!"
"Kau seenaknya langsung mengecek suhuku. Bahkan kau belum membalas sapaku."
Hh. Aku membuang nafasku kesal. Baiklah baiklah..
"Halo juga, Sehun." dan dia tersenyum puas setelahnya. Ck.
"Oh ya, ngomong-ngomong, Han. Kau terlihat seperti maniak biru hari ini." katanya sambil melihatku dari atas sampai bawah. Aku mendengus.
"Memangnya kau tak berkaca sebelum pergi tadi?" Aku berkata seperti itu karena memang dia juga memakai pakaian serba biru. Lihat saja, kemeja tangan panjang biru dongkernya yang dikancing sampai atas, celana pendek selutu berwarna senada. Juga sneakers garis birunya. Kok motifnya sama seperti flatshoes ku ya?
Bocah wajah datar ini kembali terkekeh melihatku yang sedang memperhatikan penampilannya.
"Aku memang pecinta biru, Han."
"Jadi aku tidak boleh mencintai biru juga?"
Dia mendesah. "Arraseo, kau boleh menyukai biru juga."
Aku mengabaikan perkataanya dan melipat tanganku di depan dada.
"Jadi, siap untuk mencari bunga berkelopak empatku?"
.
.
Sehun POV
Aku menatap jenuh sunbae rusa yang duduk melamun di depanku ini. Sudah sepuluh menit kami duduk di Cafe ini dan dia belum mengatakan apapun selain mendesah dan menghela nafas panjang. Ya, dia seperti itu karena kami tak menemukan satupun bunga berkelopak empat di taman ini. Padahal sudah sampai tiga jam kami mencari di semua semak-semak taman, tapi hah.. Tidak ada satupun. Itu membuat kami putus asa dan berakhir di cafe kecil yang berada di taman ini. Tapi sunbae rusa ini sangat berlebihan. Dia terlihat seperti orang gila sekarang.
"Han. Luhan!" panggilku. Dan akhirnya dia menoleh malas ke arahku.
"Mwoya?" tanyanya dengan suara kecil.
"Mau memesan sesuatu?" tawarku. Dia terdiam sejenak sebelum mengangguk kecil. Akupun menyodorkan buku menu kepadanya dan membuka buku menu di depanku. Hmm.. Tidak ada bubbletea di cafe ini. Aish, ya sudahlah. Aku pesan Americano saja.
Kulirik sunbae rusa yang tengah melihat-lihat buku menunya dengan malas. Hh. Akan lama kalau sudah begini.
"Sudah?" akhirnya aku memutuskan untuk bertanya saja. Dia mendongak menatapku.
"Tak ada bubbletea di sini."
Aku tertegun beberapa detik. Dia punya pemikiran yang sama denganku?
"Jadi kau tidak pesan?" dia menggeleng.
"Aku haus." aku menatapnya datar. Bertele-tele sekali dia ini.
"Jadi kau pesan apa?"
"Kau pesan apa, bocah?" ck, dia malah balas bertanya dan memanggilku bocah.
"Americano."
"Ya sudah, samakan saja denganmu." setelahnya dia menelungkupkan wajahnya di meja. Dia benar-benar terlihat seperti orang kehilangan arah sekarang.
Akupun memanggil pelayan cafe dan menyebut pesanan kami. Tak lama pesanannya datang. Akupun menggoyangkan lengan sunbae rusa itu berusaha membangunkannya. Dia mendengung aneh sebagai jawaban dan mengangkat kepalanya tak semangat. Aku menyodorkan Americano ke hadapannya.
"Minum ini. Kau seperti tak punya tulang saja." perintahku. Dia menggerutu pelan sambil mengangkat gelasnya. Tapi sebelum dia meneguk, dia menurunkan kembali gelasnya dan merogoh tas tangan biru langitnya. Mengeluarkan handphone ber-casing biru dan logo Chelsea FC. Dia itu namja atau yeoja sih? Tomboy sekali.
"Mau apa?" tanyaku penasaran saat dia sedang asyik mengetik di layar sentuh handphone-nya. Dia mendongak sebentar sebelum kembali mengetikkan apapun itu.
"Melaporkan pada Baekhyun."
"Apanya?"
Dia meniup poninya sebelum menjawab. "Kalau di taman kota yang luas ini tidak ada bunga berkelopak empat seperti yang dia katakan. Huh!" ocehnya panjang lebar.
Aku tersenyum diam-diam melihat wajah rusanya yang terlihat imut jika sedang menggerutu seperti itu. Aku menopang daguku untuk dapat melihatnya lebih leluasa.
Setelah mengetikkan pesan kepada Baekhyun seperti katanya tadi, dia meletakkan handphone-nya di atas meja dan meraih gelas Americano-nya. Dia meminum coffee itu beberapa teguk sebelum meletakkan gelasnya kembali. Dia menatapku dengan alis mengernyit.
"Apa?" tanyaku.
"Kau belum meminum punyamu?" balasnya bertanya sambil menunjuk gelas Americano-ku dengan dagunya. Aku tersadar akan kebodohanku dan tersenyum tipis. Hah, aku lebih mementingkan melihat dia daripada meminum punyaku. Akupun meraih gelasku dan meminumnya sampai setengah gelas. Setelah meletakkan gelasnya, aku merasa dia masih menatapku.
"Apa?" tanyaku lagi.
"Kau tidak merasa pahit?"
Aku tanpa sadar mengangguk seolah mengetahui maksud perkataannya. "Aku ini namja, Han. Sudah terbiasa dengan rasa pahit. Kau menyesal kan sudah mengikuti apa yang kupesan?"
Dia menggeleng beberapa kali.
"Ani. Aku justru mengkhawatirkan kau. Kau kan hoobae-ku, jadi mungkin kau belum terbiasa dengan yang pahit."
Aku melongo. Yeoja ini benar-benar tomboy.
"Oh iya, Han." kulihat dia melirikku. "Kenapa kau ngotot sekali ingin menemukan bunga itu?"
Sunbae rusa itu melipat tangannya di meja dan mencondongkan sedikit badannya ke depan. Aku masih pada posisiku. Bertopang dagu menatapnya.
"Bukankah sudah kukatakan?"
"Mencari jodoh maksudmu?" dia mengangguk.
"Kenapa harus repot-repot mencari jodoh? Terima saja namja yang sudah menyatakan perasaannya padamu, dan kau akan hidup bahagia." entahlah, aku tidak tahu kenapa bisa sengotot ini bicara padanya. Tapi aku memang tak habis pikir sunbae sepertinya -juga kedua sahabatnya- masih percaya pada rumor kekanakan seperti itu.
"Kau kira aku tak mau menerima mereka?" aku menaikkan satu alisku penasaran dengan kelanjutan kalimatnya. "Tapi aku tak merasakan apapun mereka. Ketertarikan, rasa suka, apapun itu namanya, aku tidak merasakannya."
"Sampai sekarang?" tanyaku tak percaya. Sunbae rusa ini terdiam beberapa detik. Apa yang dipikirkannya.
"Han? Luhan?" aku melambaikan tanganku di depan wajahnya. Dan dia tersentak.
"Mwoya? Museun suriya?"
"Aku bertanya, apa kau sampai sekarang masih belum merasakan ketertarikan, rasa suka, atau apapun itu?" tanyaku ulang dengan tekanan di setiap katanya.
Dia kembali berpikir sejenak. "Emm.. Aku rasa aku mulai merasakannya." Aku kembali menaikkan satu alisku. "Nado molla. Ini pertama kalinya aku merasakan hal-hal seperti itu."
Aku langsung berdebar tak tenang. Sunbae rusa itu sudah merasakannya, tapi pada siapa? Entah kenapa aku langsung khawatir dan merasa iri pada orang yang sudah membuat Luhan tertarik.
Ting.
Bunyi pelan itu cukup menyadarkanku dari lamunan tentang Luhan. Kulihat sunbae rusa itu meraih handphone-nya dan mengetikkan sesuatu lagi di sana. Aku yakin tadi itu pesan dari Baekhyun sunbae. Dan setelah mengetikkan balasan untuk sahabatnya, sunbae rusa itu meniup poninya kesal. Aku terkekeh melihat ekspresinya.
"Baekhyun sunbae bilang apa?"
"Aku harus ke rumahnya sekarang dan menceritakan semua yang terjadi hari ini."
Aku tertawa kecil. Baekhyun sunbae memang seperti itu orangnya. Menghabiskan istirahat dengan sahabat-sahabat unik sunbae rusa ini juga Jongin, membuatku mengenal karakteristik mereka masing-masing. Walaupun aku tak pernah larut dalam obrolan mereka di kantin dan hanya sekali-kali menggoda Luhan, tapi berterimakasihlah pada Jongin dan Baekhyun sunbae yang selalu berhasil mencairkan suasana. Aku juga sadar akhir-akhir ini Jongin berusaha dekat dengan Kyungsoo sunbae, sahabat sunbae rusa yang satunya.
Aku meminum Americano-ku sampai habis. Luhan juga meminum Americano-nya terburu-buru, mungkin dia tahu kami akan segera pergi dari cafe. Setelah membayar minuman kami dan memastikan tidak ada barang tertinggal, kamipun keluar dari cafe. Berjalan menuju halte bus yang berada tepat di depan taman.
"Kita tidak mencari bunga berkelopak empat lagi?" tanya sunbae rusa berusaha menyamakan langkah dengan kakinya yang lebih pendek dariku. Aku menoleh sebentar padanya.
"Kita bisa mencarinya lain kali sekarang kau harus langsung pergi ke rumah Baekhyun sunbae agar tak pulang kemalaman."
Ah, aku ini memang realman sejati. Tapi kurasakan sunbae rusa ini menghentikan langkahnya. Aku menatapnya heran.
"Wae?"
Dia tergagap dan kembali melanjutkan langkahnya dengan kaku. "A-ani." dan jika aku tak salah lihat, pipinya sedikit berwarna pink. Dia berdandan? Ah, tak mungkin. Jika dia memang berdandan, kenapa aku baru melihatnya sekarang? Kenapa tidak daritadi?
Tak terasa kami sudah sampai di halte dan tinggal menunggu bus yang akan membawa Luhan.
"Kau sudah boleh pergi." kata sunbae rusa ini tiba-tiba.
"Ani. Aku tunggu sampai kau naik bus."
Hening sejenak sampai akhirnya Luhan berseru. "Itu busnya!" aku menahan senyumku. Rasanya aku tak bisa untuk tak tersenyum saat bersamanya. Setiap tingkah lakunya terlihat lucu di mataku.
Sampai akhirnya bus itu berhenti di depan kami. Aku memutar badanku agar berhadapannya. Dia mendongak sedikit untuk dapat menatapku. Dan ketika mata kamu bertemu, aku tersenyum.
"Sampai jumpa hari Senin, Han." kataku sambil mengusak rambutnya. Tidak sampai membuat rambutnya berantakan sih.
Dia diam mematung. Tapi dengan cepat dia tersadar dan membalas senyumku.
"See ya, Sehun-ah!" dia pun berbalik, menaiki bus, duduk di dekat jendela. Syukurlah dia duduk di situ, aku jadi bisa melihatnya.
Aku melambai padanya sambil tetap tersenyum. Dia juga membalas lambaianku walaupun terlihat kikuk. Bus pun mulai berjalan meninggalkan halte.
Aku berjalan menuju arah yang berlawanan dengan senyum di wajahku. Sesekali aku sedikit berlari dan mengepalkan tanganku di udara karena senang. Tapi kemudian aku tersadar sesuatu. Tanganku pun merogoh saku celanaku. Mengeluarkan handphone-ku dan mengetikkan sesuatu di sana. Untuk Luhan, sunbae rusaku.
Kalau pulang malam, naik taxi saja. Jangan naik bus! Arrseo?!
Hari ini menyenangkan, bersama Luhan memang selalu menyenangkan. Walaupun bunganya tak ditemukan tapi aku beruntung.
Ini seperti kencan saja.
.
To Be Continue
Oh ya, Lee turut berdukacita ya, atas keluarnya Kris dari EXO TT*TT Walaupun Kris gak ada di FF Lee, Lee sayang kok sama Kris /hug Kris/ Bagi para fansnya Duizhang, tetep dukung EXO ya. karena bagaimanapun Kris pernah menjadi bagian EXO. Love you, Kris!
Ehm, Lee juga punya FF baru, judulnya Bestfriends, buat yang mau baca, kunjungin akun Lee yah!
Annyeong!
Dont forget to review, reader-nim~
