Tittle: Four Flower Petals

Author: Lee Hae Eun

Genre: Romance, School life, Fluff(?)

Rating: PG-15

Cast: Oh Sehun x Luhan

Lee's note: Annyeong~ ketemu lagi sama Lee disinii~ /senyum ceria, reader natap datar/ hehe, pasti seneng kan ketemu Lee lagi? seneng kan? ya kan? /reader tetep natap datar/ huwaa, Lee diacuhin T^T gak papa deh, biar Lee sendiri aja yang merasa senang bisa ketemu ama reader-nim. eh, kok Lee jadi kayak pembawa acara gitu ya? /nampar diri sendiri/ ada yang nungguin FF ini kagak? sebenarnya karakter Sehun di sini itu mau Lee buat sedingin(?) mungkin, tapi Lee gak bisaa /lebay/ kurang dingin kan Sehunnya? nanti deh, di chapter-chapter selanjutnya bakalan ada kejadian yang bakal bikin Sehun dingin banget sama Luhan. makanya, tetep pantengin FF ini yaa. fufu

Thanks to: byun najla, younlaycious88, Sanshaini Hikari, RZSL 261220, preciouselu, DiraLeeXiOh, bvhbhx, BT99, Hunhan Shipper, Xiao HunHan, kalian semua penyemangat sayaa /kiss n hug atu-atu/

Happy Reading~~

.

.

Luhan berjalan di koridor sekolahnya dengan tatapan kosong.

Ini masih terlalu pagi untuk datang ke sekolah, Luhan sendiri bingung kenapa dia datang secepat ini. Sejak bicara dengan Baekhyun semalam, pikirannya melayang entah kemana. Dia juga jadi tidak bisa fokus pada satu hal, karena entah kenapa otaknya kembali memikirkan yang dikatakan Baekhyun, sahabatnya. Hah! Buat pusing saja..

Flashback On

"Jadi begitu saja?" tanya Baekhyun tak percaya.

Luhan menganggukan kepalanya polos.

"Ya ampuuun!" seru Baekhyun gemas. "Kalian tidak makan malam bersama begitu?"

"Ya!" Luhan mengerucutkan bibirnya kesal. "Memangnya kami kencan apa? Lagipula kau bilang harus ke rumahmu secepatnya."

Baekhyun menghembuskan nafasnya menyerah. "Baiklah, baiklah. Jadi? Bunganya tidak ketemu?"

"Ne. Padahal aku dan Sehun sudah mencarinya kemana-mana. Kau mencarinya di bagian mana sih, Baekkie?"

Baekhyun tampak memikirkan sesuatu. Kerutan di keningnya sangat jelas terlihat.

"Lulu." panggil Baekhyun.

Luhan menatap Baekhyun penuh minat. "Ya?"

"Aku baru menyadari satu fakta."

"Dan fakta itu adalah?"

"Seseorang, yang sudah bertemu dengan jodohnya, tak akan bisa mendapatkan bunga berkelopak empat itu lagi. Kan memang begitu cara kerjanya, jika sudah bertemu dengan jodoh kita, untuk apa lagi bunga berkelopak empat itu?" jelas Baekhyun dengan wajah serius. Tangannya tergerak untuk mengelus-elus dagunya sendiri. "Bungaku hilang setelah aku bertemu Chanyeol. padahal jelas-jelas aku melihat bunga itu di rambut Chanyeol."

Luhan tampak tak percaya. "Masa sih?" Tapi kemudian matanya membulat. "Jadi maksudmu Sehun itu jodohku? Begitu?!"

Luhan dengan segera memukuli Baekhyun dengan bantal milik yeoja itu.

"Siapa yang menyebut nama Sehun juga?" protes Baekhyun tak terima. "Kan kau sendiri."

Luhan terdiam cukup lama. Otaknya kembali memutar adegan saat dia dan Sehun pertama kali bertemu. Di taman sekolah, dia mencari bunga itu. Saat dia hampir menyentuh bunga itu, kaki Sehun sialan malah menginjak bunga itu sampai rata dengan tanah. Sejak itu dia tidak pernah melihat bunga berkelopak empat di manapun lagi. Ya ampun, ini berarti...

"Tapi Lulu, menurutku kau dan Sehun cocok, lho."

Luhan kembali memukuli Baekhyun dengan bantal.

End Flashback

Tanpa sadar Luhan melangkahkan kakinya ke kelas Sehun. Tas MCM-nya saja masih di punggung, untuk apa dia ke kelas Sehun?

Salah seorang teman sekelas Sehun yang memang selalu datang kepagian mengernyit bingung saat melihat yeoja asing masuk begitu saja ke kelasnya dan duduk di bangku Sehun. Mungkin anak baru, pikirnya. Dia pun memutuskan untuk memberitahu yeoja itu bahwa bangku yang didudukinya sudah berisi.

"Chogiyo." katanya. Tapi yeoja itu bermata kosong seperti melamun. Dia sempat terpesona juga sih melihat kecantikan yeoja ini. "Chogiyo." ulangnya lebih keras.

"E-eh?" Luhan tersentak dan menatap heran namja asing di depannya. "Nuguya?"

"Eh?" teman sekelas Sehun bingung menjawab apa karena yeoja ini malah menanyakan siapa dirinya.

Luhan mengedarkan kepalanya ke sekeliling. Ini bukan kelasnya. "Ini dimana?"

"Kelas X-A." jawab namja asing di depannya.

Mata Luhan membulat. Kenapa kakinya melangkah ke sini?! Ya ampun, dia benar- benar sudah hilang akal.

"Ah, kansahamnida."

Luhan membungkuk singkat pada namja tadi dan sesegera mungkin pergi dari kelas Sehun.

Di koridor menuju tangga lantai dua, Luhan kembali memikirkan hal tadi. Kenapa dia bisa melangkah sendiri ke kelas Sehun, coba? Perasaan dia belum pernah ke sana. Hanya pernah mendengar Jongin, teman Sehun, menyebutkan nama kelas mereka saja kemarin. Jadi kenapa dia ke sana? Luhan memutar kepalanya menatap kosong koridor di belakangnya. Sedetik kemudian kembali melanjutkan jalan ke kelasnya.

Ugh! Jika terus dipikirkan, malah membuat kesal saja! Dirinya yang selalu memikirkan Sehun itu... jelas bukan dirinya!

Tap!

Luhan membuka pintu kelasnya yang masih kosong. Sepertinya dia murid pertama yang datang hari ini.

Dasar, kelas Sehun saja sudah ada satu orang yang datang, kenapa kelas senior malah masih kosong sih?

Sampai di tempat duduknya yang nyaman, Luhan segera menelungkupkan wajahnya. Sontak, rambut panjangnya yang dibiarkan terurai menutupi wajah dan tangan yang dijadikannya sebagai bantal. Hiii, Luhan tampak menyeramkan sekarang.

Cklek.

Luhan diam tak bergeming saat mendengar pintu dibuka tak lama setelah dia memutuskan untuk tidur menunggu sahabatnya datang. Dia juga tak bergerak saat mendengar derap langkah kaki itu semakin mendekatinya. Dan duduk di sampingnya.

Apa?

Apa?!

Dengan segera Luhan mengangkat wajahnya dan menoleh ke samping. Langsung bertatapan dengan mata orang itu.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Empat detik.

Lima detik.

Enam—

"Kyaaaa!"

"Aaaaaa!"

Setelah berteriak secara bersamaan, keduanya saling menatap tak percaya.

"Oh Sehun?" Luhan yang pertama kali menemukan suaranya.

"Luhan?" Dan Sehun mengekorinya.

"Kenapa kau bisa di sini?" Dan mereka berdua bertanya bersamaan. Please, ini seperti drama-drama televisi saja.

"Ini kelasku, dasar bodoh!" Luhan memukul kepala Sehun kuat-kuat. "Cepat kembali ke kelasmu!" usirnya.

Sehun melongo tak percaya, mengabaikan kepalanyanya yang sedikit berdenyut akibat pukulan Luhan tadi. "Ini bukan kelasku?" Lalu dia mengedarkan pandangannya. "Ini benar- benar bukan kelasku." ujarnya pelan seakan baru sadar.

"Memang!" gerutu Luhan. "Sudah sana! Pergi pergi!" Luhan mendorong Sehun sampai namja itu hampir saja jatuh dari bangku.

"Iya, iya. Sabar."

Setelah dua langkah maju, Sehun memundurkan badannya lagi menatap Luhan.

"Apa?" tanya yeoja rusa itu ketus.

"Semalam kau belum berterima kasih padaku karena sudah menemanimu kan?" Sehun menaikkan sudut bibirnya. Senyum miring.

Luhan membalas dengan tergagap. "Memang harus?" Tapi kemudian dia teringat sesuatu. "Lagipula itu kan kewajibanmu! Kau sudah menginjak bungaku kemarin!" Luhan mengalihkan pandangannya tak mau menatap Sehun, karena entah kenapa dia merasa pipinya memanas mengingat pembicaraannya dengan Baekhyun semalam.

Sampai-sampai dia tak melihat Sehun yang sedang tersenyum kecil menatapnya.

"Ya sudah kalau kau ngotot. Aku pergi dulu."

Luhan cepat-cepat kembali menatap Sehun yang sudah berjalan keluar. Tanpa berpikir dua kali—lebih tepatnya tanpa benar-benar berpikir, bibirnya bergerak sendiri memanggil Sehun.

"Sehun!"

Dua orang itu sama-sama terkejut. Luhan yang tak menyangka bibirnya berani melakukan hal memalukan itu. Dan Sehun juga tak menyangka Luhan memanggilnya. Sebenarnya dalam hati dia senang. Sangat senang lebih tepatnya.

Luhan POV

Mati aku!

Apa sekarang? Bibirku memanggil namanya dengan sendirinya. Bahkan otakku belum memikirkan untuk memanggilnya. Ya ampun! Ya ampuuun! Apa yang akan dipikirkan boc=

ah datar itu nanti?!

Dan tanpa diduga-duga, setelah beberapa detik berlalu dengan hening mencekam, bocah datar ini kembali melangkahkan kakinya dan duduk di sampingku. Aku masih menatapnya tak percaya.

"Apa?" tanyanya. Mungkin risih karena aku terus memandanginya.

"Kenapa kau duduk di sini lagi?" tanyaku ragu. Dia tidak bertanya kenapa aku memanggilnya?

"Kau memanggilku karena kau takut sendirian di kelas kan?"

Eh?

"Kau tadi menangis karena sendirian di kelas kan?"

Apa?

"Kau takut hantu kan?"

HELL!

Plak!

Kali ini aku memukul pipinya itu agar dia sadar sedang bicara pada siapa. Dasar bocah wajah datar menyebalkaaan!

"Michoseo?! Eo?!" kesalku sambil sekali lagi memukul pipinya.

"Ish! Aku kan hanya bercanda. Kau saja yang pemarah." gerutunya sambil mengelus pipinya yang sedikit merah.

Aku mendecih. "Akhirnya sifat bocahmu keluar juga."

"Hei! Aku tidak sedang merengek!"

"Ya ya, tenang saja adik kecil, noona akan menjagamu, ok?"

"Ugh!"

Tiba-tiba Sehun memegang kedua bahuku dan mendekatkan wajahnya. Aku yang hanya bisa kaget karena gerakannya yang cepat terdiam menatap matanya. Kami sama-sama terdiam dengan saling menatap.

Oh ya ampun! Kenapa aku membeku seperti ini, sih?

Dorong dia, Luhan.

Otakku mulai memberi perintah. Tapi tanganku hanya diam tak bergerak! Ayolah tangan.. Dorong dia!

"Luhan." Saat tanganku mulai sedikit terangkat, dia memanggilku. Bocah datar nan menyebalkan ini.

"N-ne?" Sial! Kenapa aku terbata, eoh?

"Boleh aku menciummu sekarang?"

A-apa?

Mencium?

Maksudnya mencium yang bagaimana?

Dia mau mencium tanganku?

Ya ampun, otakku mulai berulah. Masa arti kata mencium saja aku tak tahu. Dan sebelum aku berpikir lebih jauh lagi, aku merasakan bibirku ditimpa sesuatu. Sesuatu yang dingin, tipis, dan basah.

Aku mengerjapkan mataku dua kali dan membelalak melihat bocah ini menciumku. Aku ulangi, MENCIUMKU!

Mataku kembali bertemu matanya. Dia melepaskan ciumannya setelah itu. Dan aku mencubit pinggangnya kuat.

"Yak! Dasar bocah menyebalkaaan! Apa-apaan tadi itu, eoh? Kau mencuri first kiss yang berharga, bodoh!"

Dia menatapku aneh dan aku balas menatapnya garang. "Itu first kiss-mu?" tanyanya pelan.

"Tentu saja! Ish!"

Aku kembali mengalihkan pandangan ke luar jendela kelas. Tiba-tiba aku kembali merasakan pipiku menghangat saat mengingat kejadian tadi. Bibir Sehun terasa sangat pas di bibirku. Rasanya...

Eh?!

Plak!

Kali ini aku menampar pipiku spontan.

"Luhan!" dia yang masih di sampingku berseru, menarik bahuku agar menatapnya. "Sudah kubilang berapa kali, hm? Jangan sakiti diri sendiri!"

Aku terbengong menatapnya yang bicara dengan nada tinggi. Dia membentakku?

"Kau.. membentakku?" gumamku.

"Aku hanya mengkhawatirkan dirimu, Luhan.. Kenapa kau terus-terusan menyakiti dirimu?"

Aku berusaha mencari suaraku yang tiba-tiba hilang. Raut khawatir yang tercetak jelas di wajahnya membuatku merasa sedikit.. sedikiiiit saja senang. Entah kenapa.

"Kau khawatir padaku?" tanyaku pelan.

"Tentu saja! Ya ampun, sebenarnya berapa sih umurmu?" dia kembali berceloteh. Tangannya bergerak mengelus pipiku. Lalu dia menatapku. "Tak sakit kan?"

Aku bingung mendapati diriku yang entah kenapa merasa nyaman menatap matanya yang tajam. Wajah kami sudah dekat. Tanpa sadar, aku menahan nafasku.

"Hoamm.. Aku masih mengantuk."

Dan kami langsung bergerak menjauh saat seseorang bergumam di pintu kelasku. Aku mengernyit saat menyadari aku mengenal suara itu.

"Lho? Lulu? Sehun?"

Benar.

Itu Kyungsoo. Kyungsoo berjalan menuju bangkunya. Yang ada di depan bangkuku.

"Sedang apa?" tanyanya sambil meletakkan tas ransel kecilnya di atas meja.

"Eh? Tidak sedang apa-apa kok, sunbae." Sebelum aku menjawab, Sehun sudah mendahuluiku. Dia bangkit berdiri setelahnya. "Sudah ada teman kan, Han? Jadi aku bisa pergi." setelah sampai di pintu kelasku dia melambai. "Bye Luhan. Bye Kyungsoo-sunbae."

Aku masih menatapnya sampai lupa melambai. Kyungsoo yang membalasnya. "Bye, Sehun!"

Kyungsoo langsung cepat-cepat berpindah duduk saat Sehun sudah sepenuhnya menghilang di balik pintu.

"Lulu, sedang apa kau bersama Sehun, eoh?" tanyanya semangat.

Aku menoleh menatapnya sambil masih berpikir. Kenapa tadi Sehun bilang tidak sedang apa-apa? Dia bahkan sudah mencuri first kiss-ku tadi! Apa dia tak mau megakui itu di depan Kyungsoo? Lagipula, kenapa dia cepat-cepat pergi? Aku kan masih mau…

Eh?!

Tanganku hampir saja mau menampar kembali pipiku saat teringat tadi Sehun mengelus pipi kananku. Aku merasakan hangat di sana.

"..Lulu? Halo? Luluu!"

Aku tersentak dan segera menengok Kyungsoo. "Ya? Ada apa?"

Kyungsoo mempoutkan bibirnya dan melipat tangannya di depan dada. Ini gayanya ketika ngambek. "Kenapa Lulu malah ngelamun, sih?! Trus muka Lulu merah lagi." dia menarik nafa sejenak. "Jangan-jangan tadi sebelum aku datang, Lulu dan Sehun sedang itu-ituan ya? Ya?"

Sekarang aku merasa pipiku panas. "A-apaan sih, Kyungie! Kami kan cuma…"

"Cuma apa hayoo~" Kyungsoo menaikturunkan alisnya.

Aku berusaha mengelak, tapi kemudian sadar bahwa Kyungsoo adalah sahabat lamaku. Mungkin dia harus tahu.

"Kyungie-ya,"

"Ya?"

"Bagaimana jika ada namja yang menciummu?"

"Tentu saja aku akan—WHAT?! JADI SEHUN MENCIUMMU?!"

.

.

Sehun POV

Hah! Aku gila! Benar-benar gila! Bagaimana mungkin aku..?!

Ugh!

Mungkin Luhan akan menjauhiku. Ya, pasti dia akan menjauhiku. Dia pasti berpikir aku ini maniak gila yang berani mencuri ciuman pertamanya. Dan setelah dia pergi menjauh, tinggal aku di sini sendiri.

Kenapa jadi menyedihkan begini?!

Sebenarnya yang salah itu dia kan?! Kenapa pula dia belum pernah berciuman sebelumnya? Tapi aku beruntung sih jadi orang pertama yang merasakan..

Eh?!

Aku benar-benar gila karena Luhan! ...juga bibirnya yang tampak begitu menggoda tadi. Dia pakai lipgloss ya?

EH?!

Aku benar- benar gila.

"Ya! Ya! OH SEHUN!"

Aku langsung menoleh menatap Jongin yang tampak marah di sampingku. "Ada apa?" tanyaku tenang. Setidaknya dia membuatku melupakan bibir Luhan.

"Aku sudah memanggilmu daritadi, bodoh!" Dia merengut. "Kau tidak ke kantin?"

Dan bertemu dengan Luhan? Setelah apa yang terjadi tadi pagi?!

BIG NO!

"Ani. Aku tidak lapar." aku kembali pura-pura membaca bukuku. Dapat kurasakan Jongin gelisah. Jelas gelisah, dia tidak mempunyai teman ke kantin untuk menemui gebetannya. Sahabat Luhan tadi pagi. Kyungsoo-sunbae.

"Ayolah, Hun-ah." dia mulai merengek. "Kau juga bisa bertemu Luhan-sunbae lho."

ITU YANG KUTAKUTKAN, IDIOT!

Huh. Tenang Sehun, tenang. Jangan biarkan imej cold guy yang selama ini kau jaga hilang karena si item ini.

"Jongin, dengar," kataku pelan. Dia mendekatkan badannya agar bisa mendengarku. Walaupun risih aku tetap melanjutkan. "Aku mencium Luhan tadi pagi. Ciuman pertamanya."

Jongin langsung menjauhkan tubuhnya kembali dan menatapku syok. "Jinjja?" bisiknya terkejut.

Aku mengangguk sekali.

"Itu ciuman pertamamu juga kan?"

Kok dia tahu?

"Eoh."

"Kau sengaja atau tidak?"

"..Tidak sengaja."

"Eiiii~"

"Baiklah. Aku sengaja."

Jongin mengelus-elus dagunya sok berpikir. "Kurasa ini memudahkanmu." ujarnya kemudian.

Aku menyandarkan badanku ke sandaran kursi dan menghela nafas. "Sama sekali tidak."

"Dengar, kau bisa menembaknya setelah ini!" ujarnya semangat.

Aku kurang setuju padanya. Kami baru beberapa kali ini kenal dan walaupun kami cukup dekat, dia bilang sudah merasakannya ke orang lain.

Ugh! Fakta itu membuatku mendadak ingin meninju sesuatu.

"Tidak, tidak. Dia bisa saja menolakku mentah-mentah."

Jongin menggedikan bahunya. "Kau tak akan tahu sampai kau sendiri membuktikannya."

Aku menoleh sinis padanya. Sok bijak! Dia sendiri masih belum bergerak untuk mendapatkan Kyungsoo-sunbae.

"Seperti kau ahli saja." cibirku. "Kyungsoo-sunbae bisa saja sudah mempunyai kekasih." Aku tertawa iblis dalam hati melihat Jongin melotot melihatku.

"Ya! Ya! Kau balas dendam?"

Gantian aku yang menggedikkan bahu.

Rasakan Kim Jongin. Siapa suruh menggodaku eoh?

"Oh ya," Jongin menepuk tanganya sekali. "Aku lupa bertanya tentang yang satu ini."

Aku menaikan satu alisku. "Kuharap bukan pertanyaan mesum ya."

"Sedikit mesum sih.."

"Cepat tanya sebelum aku memukul wajahmu sekarang."

"Arraseo, arraseo. Kenapa kau tak sabaran sekali, sih?"

Aku memasang wajah datar. Dia yang bertele-tele!

"Bagaimana rasanya, Hun?"

"Rasa apa? Sarapanku tadi pagi?"

"Bukan bodoh! Ciuman ituu.. bersama Luhan-sunbae."

Ini untuk yang pertama kalinya aku merasakan seluruh wajahku memanas. Perasaan macam apa ini?!

Aku menggaruk tengkukku ragu."Emm.. kau tahu sendiri. Itu.. manis."

Kemudian terdengar kikikan mesum dari Jongin. Dia memukul-mukul bahuku dengan keras. Ada apa sih dengannya?

"Ya! Ya! Itu sakit!" gerutuku.

"Kau lucu, Hun." Dia menghela nafasanya sejenak untuk menghentikan tawanya. "Kau seharusnya bertemu Luhan-sunbae lebih cepat. Apa yang kau lakukan selama ini?"

Aku tertegun.

Benar. Seharusnya aku bertemu dengannya lebih cepat. Pasti akan lebih menyenangkan dan..

Dia bisa merasakannya padaku, bukan pada orang lain.

.

To Be Continue

Oh ya, Lee udah ganti pen name jadi DeerHun, tapi tetep panggil "Lee" aja. jangan author, jangan Deer, apalagi Hun /pout sok imut/ oke? dan yang khawatir akan rate, tenang~ gak akan ada di FF Lee yang rate M apalagi M+, karena Lee masih poloos banget /ini ciyus loh/ juga, buat yang udah negur Lee tentang Kris kemarin, makasih~ Lee itu orangnya super kudet, jadi reader-nim wajib kasih tau inpo-inpo terhot sama Lee. wajib loh /maksa bener/

Ehm, Lee juga punya FF baru, judulnya Bestfriend, buat yang mau baca, kunjungin akun Lee yah! /tetep aja promosi/

Annyeong!

Dont forget to review, reader-nim~