Lolipop
Love is …
Original story by Hayama Risa
Fairy Tail © Hiro Mashima
Malam itu kau tiba-tiba menelponku, mengatakan bahwa kau tengah berada di taman, dan memintaku untuk datang. Aku bergegas menyusulmu. Kau hanya memakai selembar kaus tipis dan jeans panjang serta sepasang sandal saat itu. Kau tersenyum begitu aku datang, meski bibirmu bergemeletuk kedinginan. Aku memberikan mantelku, lalu memelukmu erat. Mencoba menyalurkan kehangatan dari suhu tubuhku yang tinggi.
"Apa yang terjadi kali ini? Kau bertengkar dengan ayahmu lagi?" tanyaku begitu kita duduk. Kau hanya tersenyum simpul.
"Tidak, aku hanya muak dengan kelakuan papa yang selalu seenaknya." Aku memeluknya erat, mengelus rambutnya dengan saying.
"Baiklah, jadi, apa yang ingin kau lakukan sekarang? Mau bermalam di rumahku?"
"Tidak, terima kasih, aku tidak mau merepotkan bibi Grandine dengan bertamu malam-malam begini."
"Kau bercanda? Ibuku akan sangat senang kalau kau dating, Luce…" Kau tertawa pelan.
"Natsu, aku… aku berpikir untuk pulang dan mencoba berdamai dengan papa. Bagaimana menurutmu?" Aku tersenyum dan mengeratkan pelukanku.
"Bukan ide yang buruk, mau kuantar?" Kau menggeleng, kemudian melepas pelukanku dan berdiri.
"Aku pulang, ya…" ujarmu lirih. Aku mengangguk, mengecup bibirmu sekilas.
"Hati-hati, Luce. Aku mencintaimu."
"Atashi mo…" kau melambai kemudian hilang di persimpangan.
Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok. Kita hanya mampu berharap agar yang terjadi esok adalah yang terbaik, agar esok, kita bukan lagi kita yang kemarin. Agar esok, kita menemukan kebahagiaan yang masih tersembunyi. Agar esok tak ada lagi tangis. Tapi sekali lagi, kita hanya mampu berharap, sisanya Tuhan yang menentukan.
Dan sepertinya untuk pagi ini Tuhan sedang marah padaku. Karena dia yang kucinta, hilang tanpa jejak.
Yang kutemukan hanya sebuah lollipop besar dan sepucuk surat darinya. Teman-teman bilang, dia pindah. Dipindahkan oleh ayahnya pagi-pagi sekali. Dan pamit dari sekolah via telepon. Katakanlah aku seorang lelaki cengeng, tapi tak ada yang bisa kulakukan lagi selain menangis. Terlalu menyakitkan saat tahu bahwa senyumnya semalam adalah senyum terakhir yang dapat kulihat.
"Percayalah bahwa dia akan kembali, Natsu." Erza menepuk pundakku pelan. Aku hanya diam. Yah, aku hanya bisa berharap sekarang. Berharap bahwa perkataan Erza jadi nyata. Berharap bahwa Lucy akan kembali secepatnya.
Sudah dua tahun berlalu. Aku disini masih mencoba bertahan pada perasaanku. Bertahan pada harapanku.
"Natsu…" aku menoleh, seorang gadis berambut silver melambai padaku.
"Ada apa Lissana?"
"Upacara perpisahannya akan segera dimulai, cepatlah." Aku mengangguk.
"Duluan saja, aku akan menyusul nanti." Kali ini dia yang mengangguk, lalu berjalan menghampiri kekasihnya yang menurutku cukup aneh itu.
Aku menutup pintu rooftop, dan menguncinya agar guru-guru itu tidak dating dan menyeretku pergi. Aku masih menatap lollipop besar darinya. Lollipop yang sama seperti yang selalu kuberikan padanya jika ia sedang sedih. Sudah dua tahun, warna-warna lollipop itu sudah tak lagi beraturan karena sering meleleh saat panas dan sering kubekukan lagi ke dalam freezer.
Sejak hari itu, Lucy menghilang dari kelas. Namanya hilang dari daftar absen murid. Meski begitu, nama Lucy masih diingat dengan baik oleh teman-teman, terutama olehku. Kabar terakhir yang kudengar dari ayahnya hanya Lucy kini berada di Paris.
"Aku merindukanmu, Luce." Gumamku sembari memejamkan mata.
"Aku juga merindukanmu, Natsu." Suara ini. Suara seseorang yang sangat kurindukan. Seorang gadis blonde dengan seragam berdiri di depan pintu rooftop yang tadi kukunci, dengan sahabatku yang lain. Tanpa sadar, air mataku menetes lagi sejak aku kehilangannya. Aku menghambur memeluknya. Dengan sangat erat. Aku tidak ingin kehilangannya lagi. Tidak lagi.
Di sinilah kami, aku, Lucy dan sahabatku, Team Natsu, yang sempat kulupakan beberapa waktu ini. Duduk melingkar di bawah pohon Sakura. Saling melepas rindu. Lebih tepatnya melepas rindu mereka pada kekasihku.
"Kau tahu, Lucy. Flamehead jadi lelaki mellow yang cengeng selama kautinggalkan." Ujar Gray, best-frienemy yang juga kuhiraukan selama ini. Lucy menatapku dengan alis terangkat. Pipiku memerah.
"Urusai, Hentai-Yarou."
"Benarkah Natsu?"
"Te-tentu saja tidak. Mana mungkin."
"Ara ara, Natsu merona. Hahaha."
"Oh, ayolah Mira…"
"Sepertinya meninggalkanmu bukan ide buruk, lain kali akan kulakukan lagi, dan menyuruh Mira untuk merekam keseharianmu tanpaku. Hahaha."
"Kalau kau berani coba-coba untuk meninggalkanku, aku takkan membiarkanmu pulang malam ini."
"Natsu. Omonganmu seperti om-om mesum."
"Kau pikir aku peduli, huh? Sudahlah, kau tidak bisa kemana-mana lagi, Lucy. Aku sudah bilang pada ayahmu bahwa begitu kau kembali, margamu bukan lagi Heartfilia, tapi Dragneel. Lucy Dragneel. Tidak buruk, kan…"
"Eh, kau sedang melamar, ya Natsu?"
"Ara ara, kurang romantis, Natsu…"
"Oi.. oi flamehead, kau serius?"
"Sugoi, Natsu-kun… Gray-sama kapan akan melamarku? Huhu…"
Lucy masih terdiam. Dan detik berikutnya ia menjerit.
"Tidaaaaaaaak… aku mau kembali ke Paris saja."
END
