Lolipop
La Destinée
Original story by Hayama Risa
Fairy Tail © Hiro Mashima
Author POV.
Magnolia Senior High School, dua hari lalu.
"Gray-san, aku menyukaimu. Jadilah pacarku." Lelaki bernama Gray itu mendengus. Ini sudah kesepuluh kalinya gadis dihadapannya ini menyatakan cinta padanya.
"Dengar Juvia-san, aku tidak menyukaimu. Aku sudah muak mendengar pernyataan cintamu itu. Dan ini sudah yang kesepuluh kalinya, memangnya kau tidak bosan, hah?"
"Juvia tidak pernah bosan menyukai, Gray-san." Gadis itu mengucapkannya dengan tenang tanpa menghilangkan senyumannya sama sekali. Sementara Gray memutar bola matanya jengah.
"Hei, tidak pernahkah kau berpikir kalau orang terus-terusan mengatakan hal yang sama sudah pasti orang yang mendengarnya akan merasa bosan, bahkan muak."
"Kalau begitu, jadikan aku pacarmu. Maka kau tidak akan mendengar pernyataan ini lagi."
"Kau menjijikkan, Juvia. Kau membuatku muak. Sudahlah, kuanggap pembicaraan ini tidak ada, jangan muncul lagi dihadapanku."
"Kau… membenciku?" Tanya gadis itu bergetar. Air matanya nyaris tumpah.
"Sangat. Kalau perlu kau enyah saja sekalian." Pungkas Gray sinis, kemudian meninggalkan gadis itu sendirian.
Rumah Sakit Umum Magnolia, hari ini.
"Bagaimana bisa gadis ini begitu gila sampai menabrakkan dirinya dengan sebuah truk yang melintas? Hhh, siapa yang harus disalahkan di sini, huh?! Dasar bodoh." Gray, lelaki berambut raven itu kembali merutuk tanpa melepas genggamannya pada gadis yang terbaring koma itu. Ya, gadis itu adalah Juvia, gadis yang sudah menyatakan cintanya yang kesepuluh kalinya pada Gray kemarin lusa.
Pintu ruangan itu berderit, seorang gadis dengan sebuket bunga di tangannya masuk. Membuat Gray menoleh. Gadis itu tersenyum.
"Sepertinya kau sudah mulai menerima Juvia, ya Gray." Ujar Mirajane, teman sekolahnya, teman sekelas Juvia. Gray menggeleng, dan tersenyum sedih.
"Aku tidak tahu. Aku seperti orang tolol yang tidak bias membedakan rasa kasihan dan sayang." Mira mengambil vas di samping tempat tidur Juvia, mengganti airnya.
"Kau hanya merasa bersalah, merasa tak pantas kalau boleh dibilang…"
"Mungkin
Gray POV.
Aku menghempaskan tubuhku ke kasur, rasanya nyaman sekali. Mungkin karena dua hari ini aku tidur di sofa yang sempit di rumah sakit. Ya, sudah tiga hari Juvia koma, terhitung sejak dua hari lalu dan hari ini. Dalam pikiranku, masih teringat jelas kata-kata Mirajane tadi pagi. "Kau hanya merasa bersalah, atau merasa tak pantas kalau boleh dibilang…". Benarkah hanya merasa bersalah? Berarti selama ini aku memang menyukai Juvia? Rasanya agak mustahil setelah mengatakan hal yang membuatnya nyaris kehilangan nyawanya. Ah sudahlah, aku harus kembali ke rumah sakit besok pagi-pagi sekali. Orang tua Juvia berada di Perancis, dan aku sendiri sudah berjanji pada mereka akan menjaga Juvia sampai ia benar-benar sembuh sebagai permintaan maafku.
Drrt… drrrt…
Shit. Ini masih pagi, aku baru tidur tiga jam lalu. Siapa yang menelpon, huh?!
Drrrrt… drrt…
"Ya ya… halo, ini siapa?" Sahutku dengan nada kesal yang kentara.
"Halo, Gray, ini aku Mira. Kau harus cepat ke sini."
"Ke sini, kemana?"
"Ke rumah sakit, bodoh. Juvia baru saja sadar."
Author POV.
Gray tersenyum lega begitu ia sampai di rumah sakit. Lelaki itu langsung memeluk Juvia. Mengabaikan Mirajane dan teman-temannya yang juga berada di ruangan itu.
"Syukurlah, Juvia. Syukurlah… kupikir kau takkan bangun lagi." Ujarnya seraya melepas pelukannya. Juvia menatap Gray heran. Lalu menatap teman-temannya.
"Dia siapa, sih? Seenaknya saja peluk-peluk orang." Gray terdiam. Kaget bukan main. Gray menatap Juvia, mendalami manik sebiru laut itu, mencari kebohongan yang mungkin saja gadis itu buat untuk membalasnya. Tapi nihil, ia tak menemukan kebohongan di sana, tidak sedikitpun.
"K.. kau tidak me.. mengenalku?"
Gray POV.
Apa kalian pernah dengar seseorang yang hidup, namun mati? Atau bisa dibilang, hidup tanpa jiwa? Atau yah, hal semacam itulah… kurasa aku mengalaminya sekarang. Aku hidup, ragaku utuh, tapi jiwaku sudah mati. Jangan tanya kenapa karena menjawabnya adalah hal yang menyakitkan.
Aku kehilangan seseorang yang dulu kuhindari. Yang dulu kubenci. Yang kehadirannya menurutku sangat mengganggu. Aku mungkin membencinya saat itu, tapi tanpa aku sadari, bersamanya adalah hal yang menjadi heroin bagiku. Ya, aku kini mencintainya. Namun semua itu sudah terlambat, karena heroinku itu tidak mengenaliku sekarang. Bahkan kini, ia yang membenciku.
"Kau kenapa sih? Tidak bosan, ya mengikutiku terus?" Ujar Juvia ketus. Aku tersenyum.
"Tidak, aku tidak pernah bosan mengikuti orang yang kusukai."
"Cih, menyebalkan. Aku sama sekali tidak mengenalmu, Tuan Fullbuster. Jadi berhentilah mengikuti dan menyukaiku."
"Aku tinggal memperkenalkan diri sekali lagi, dan membuatmu jatuh cinta kepadaku, semudah itu." Yah, semudah itu. Kau tahu, segala sesuatu yang kita pikir mustahil, sebenarnya adalah hal yang mudah selama kau tetap berpikir positif.
"Kau terlalu percaya diri, Tuan Fullbuster. Enyah saja sana." Hei, tidakkah kalian berpikir kami seperti sedang bertukar tempat? Hahaha. Hidup bisa selucu itu 'kan.
END.
