Pelangi
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rated : T
Pairing : Sasuke-Sakura
Genre : Romance/family
By Uchiha Ghita
2014
" Ingat cerita dibawah ini hanya karangan fiksi belaka, jika ada kesamaan tokoh atau kesamaan cerita itu hanya kebetulan semata"
Lee pun mengangguk. Sakura berdiri dan segera pergi saat Sakura dan Lee mulai menjauhi ruangan itu terdingar sayup-sayup kalimat.
"Setidaknya kreatif sedikit Uchiha-san."suara lembut nan menyebalkan ditelinga Sasuke.
"Jika aku bertemu dengannya lagi, jangan harap dia bisa berbicara seenaknya seperti itu."ujar Sasuke kesal.
"Oh.. kau berharap bertemu dengannya lagi Sasuke teme?"timpal Naruto.
"Diam kau!"Sasuke segera pergi meninggalkan Naruto di belakang.
"Hei, Sasuke urusan Karin bagaimana?"
-Dua-
Pagi harinya Sakura sudah bergegas pergi kesekolah barunya. Sakura berjalan menuju halte bis dekat apartementnya. Setelah sampai didepan halte itu sebuah mobil mewah berhenti tepat dipinggir Sakura. Sakura yang sama sekali tidak tertarik tak mengacuhkan orang di dalam mobil itu. Seorang pemuda tampan bermata hazel tersenyum kearahnya dan menyapanya. Sakura masih belum menyadari pemuda itu.
"Sakura-chan?"seru pemuda itu. Sakura menatap pemuda itu.
"Sasori-nii? Apa kabar?"senyuman menghiasi bibir gadis itu.
"Baik, aku mencarimu. Mebuki-obasan menyuruh ku mengantarmu ke sekolah."terang Sasori.
"Begitukah? Arigatou, niisan merepotkan mu kalau begitu."Sakura mengikuti Sasori lalu masuk kedalam mobil."Aku harap tidak mengganggu jadwal kuliah mu."
"Lie.. hari ini kelasku mendapat kan jam siang hari."Sasori tersenyum simpul.
"Bagaimana, kabar gadis mu Niisan? Kalau tidak salah Shion bukan?"goda Sakura.
"Kami, sudah berakhir. Dia lebih memilih pangeran sekolahnya."jawab Sasori enteng.
"Maaf, aku tidak bermaksud."Sakura terdengar merasa bersalah.
"Tidak..tidak, kau tahu apa yang lebih lucu Sakura, kemarin dia mengajak ku kembali bersama. Dia salah paham dengan pangeran sekolahnya."Sasori terkekeh geli.
"Salah paham? Apakah kau menerimanya kembali Niisan?"
"Aku, masih memikirkannya."Sasori memutar kemudinya.
"Saranku, lebih baik kau tarik ulur. Bila dia benar-benar sayang padamu, tentunya dia takkan rela kau lepas darinya."Sakura menepuk bahu Sasori.
"Hai.. sepupuku yang lucu sudah besar rupanya."ejek Sasori.
"Hei, kita hanya berbeda dua tahun ingat itu."Sakura mengerucutkan bibirnya membuat Sasori gemas.
"Hahaha... aku tahu itu."Sasori mencubit pipi Sakura. Sakura menatap Sasori tajam tanda tak terima.
"Mommy, bilang sekolah ku dulu itu sekolah mu, berarti aku satu sekolah dengan Shion benar. Apalagi aku dengannya seumuran."
"Yap, aku hampir lupa memberitahui mu akan hal itu. Benar sekali, sepertinya dia akan mengenalmu mengingat kalian sempat bertemu dipesta ulang tahunku beberapa bulan yang lalu."
"Aku pikir juga begitu."Sakura menganggukan kepalanya."Tunggu, berarti aku akan satu sekolah dengan mantan kekasih mantan kekasihmu benar? Hei, kau harusnya tahu siapa orang itu bukan?"Sakura sedikit terkejut.
"Kau baru menyadarinya?Dia bukan mantan kekasih, mantan kekasihku. Dia, adik sahabatku. Dia tidak sepenuhnya salah. Sebenarnya, aku juga yang dulu terlalu cuek kepada Shion. Sampai akhirnya Shion salah paham dengan kebaikan adik sahabatku itu, dan menganggapnya serius. Padahal sebenarnya, akulah yang menyuruh adik sahabatku itu, menjaganya selama aku sibuk dengan jadwal kuliahku."
"Waw... miris sekali cerita mu Sasori-niisan, memang siapa sih pemuda itu?"
"Pemuda yang mana, maksudmu?"
"Adik, sahabat mu."jelas sakura.
"Saat aku ulang tahun, kau bertemu dengan Uchiha Itachi kan? Dia adiknya Uchiha Itachi."Sasori dan Sakura memasuki gerbang sekolah barunya.
"Uchiha?"gumam Sakura.
"Nah, Sakura sudah sampai. Selamat belajar dan semangat hai?"Sasori mengacak rambut sakura. Sakura mendengus kesal lalu turun dari mobil Sasori.
"Arigatou, Niisan.. Jaa!"Sakura melambaikan tangannya mengantarkan kepergian Sasori.
Sakura memasuki gerbang sekolahnya. Murid-murid menatapnya penasaran, ia ingat pesan ibunya untuk menemui wali kelasnya diruang guru. Saat yang tepat dimana ia harus menanyakan pada siapa ruang guru berada. Rambut jabrik berwarna orange menaikan sudut bibirnya.
"Namikaze-san.. "tegur Sakura sembari mendekati Naruto.
"Sakura-chan, kau sekolah disini. Aku tidak menyangka, mungkinkah ini takdir?"Naruto terkejut dengan kehadiran Sakura.
"Sebenarnya, aku ingin bertanya dimanakah ruang guru, apakah itu tidak merepotkan mu Namikaze-san?"
"Tidak perlu seformal itu, panggil saja aku Naruto, Naruto-kun! Bila kau memanggil ku Naruto-kun dengan senang hati aku akan mengantarkan mu ke ruang guru."ujar Naruto panjang lebar.
"Hai.., Naruto-kun."Sakura tersenyum canggung.
"Ayo, aku antarkan mu keruang guru."Naruto menarik tangan Sakura. Perlakuan ini membuat Sakura terkejut.
"Naruto-kun, tangan mu."ujar Sakura. Naruto melepas pegangan tangannya sambil tersenyum malu.
Setelah tahu dimana kelasnya, ia menerima kunci loker dari wali kelasnya. Hatake Kakashi, Sakura perlu mengingat nama itu. Naruto sudah lebih dahulu pergi setelah mereka tiba didepan ruang guru. Sakura melangkah kan kakinya menuju loker baru miliknya. Selalu saja dia tidak menyadari seseorang disebelahnya sedang menatapnya.
"Hm..."seseorang berdeham disebelah Sakura. Sakura tetap tidak mengindahkan suara itu.
"Sakura-san..."barulah Sakura menatap arah suara itu.
"Shion-san, aku tahu itu kau."Sakura tersenyum simpul.
"Aku melihat mu diantar oleh Sasori-kun.."Shion terlihat kikuk.
"Tepat sekali, aku sudah tahu semua tentang kalian dari Sasori-nii. Hanya tunjukanlah bahwa kau sungguh kepadanya Shion-san."ujar Sakura menasehati.
"Arigatou, kau tidak marah aku sudah menyakiti sepupumu?"
"Untuk apa? Itu masalah kalian, selama tidak merugikan ku. Untuk apa aku ikut marah kepadamu, sungguh tidak ada gunanya."Sakura tersenyum tulus.
"Wah.. kau baik sekali Sakura-san, kau masuk kelas apa?"
"Kelas III-B, kau tahu dimana itu"tanya Sakura.
"Tepat, disebelah kelas ku. Ayo kita pergi bersama."ujar Shion.
"Arigatou, Shion-san."
"Tidak usah sungkan, jika ada keperluan kau bisa bertanya kepadaku."
"Pasti, aku tak akan sungkan."
"Sampai, disini ya Sakura-chan. Tak apa aku memanggilmu begitu?"Shion mengulaskan senyum padanya.
"Yap, Shion-chan. Sampai ketemu istirahat. Sepertinya aku butuh teman."Sakura tersenyum manis, Shion mengangguk menanggapi sakura.
Mereka masuk ke kelas masing-masing. Saat masuk ruangan kelas, Sakura merasa tak asing melihat seseorang lelaki sedang duduk dipojok dengan komik menutupi wajahnya. Rambutnya tak asing bagi Sakura. Sakura memilih duduk didepan lelaki itu, karena melihat bangku itu kosong. Seorang lelaki blonde masuk, dan membulatkan matanya saat melihat Sakura.
"Sakuraa-chan, memang benarkan ini takdir sekarang kita sekelas."Seru lelaki itu sambil berhambur mendekati Sakura. Sakura tersenyum canggung, karenanya.
"Ish... berisik kau dobe!"terdengar suara dibelakang tubuh Sakura, suara menyebalkan dan tak asing terdengarnya. Naruto menyimpan tasnya dibangku sebelah Sakura. Lalu, menghampiri seseorang dibelakang.
"Sasuke, lihat Sakura sekarang sekelas dengan kita."Sakura bisa mendengar itu. Sekarang Sakura bisa mendengar bangku mendecit-bergeser dibelakangnya. Dia sudah merasakan seseorang sudah berdiri disebelahnya.
"Ohayou, Nona Muda Haruno. Tidak kusangkaa biisa bertemu lagi disini. Bukan kah artinya setiap hari kita akan bertemu?"suara itu terdengar mengerikan bagi Sakura, dan Sakura tak mau ia disangka bernyali ciut.
"Hai, Tuan Muda Uchiha."Sakura bangkit dari duduknya. Sekarang Sakura dapat jelas melihat wajah Uchiha Sasuke."Masa bodoh mau setampan apapun dia aku tetap tak suka padanya."batinnya.
"Sepertinya hari yang indah akan menjadi lebih indah karena kehadiranmu."Sakura menyeringai menantang.
"Wow... Kau, berani juga menantang ku Haruno!"Sasuke mendekatkan wajahnya. Ia dapat melihat jelas mata hijau yang menusuk dan mendamaikan hatinya.
"Cukup ini sudah kelewatan."Sakura menginjak kaki Sasuke.
"Aw... kau"Sasuke menunjuk tepat didepan wajah Sakura.
"Apaa?"tantang Sakura.
"STOP!"Naruto mengintrupsi Sasuke dan Sakura. Mereka berdua pun sadar lalu saling membuang muka.
"Aku tak mengerti kenapa kalian saling membenci? Teme mengalahlah pada wanita."ucapan Naruto ditanggapi dengusan oleh sasuke.
"Dan, Sakura-chan sebaiknya kau jangan menantang seorang pria. Bagaimanapun, tenaga mu takkan cukup melawannya."Naruto mencoba menengahi. Sakura mengangkat bahu lalu duduk kembali kebangkunya.
Bel berbunyi tanda pelajaran akan dimulai. Semua murid sudah masuk kelas dan siap untuk belajar.
"Bagaimana kesan pertamamu setelah masuk kelas Sakura-chan?"Shion dan Sakura kini sudah duduk disebuah bangku dikantin sekolah.
"Begitulah, kau tahu Uchiha Sasuke?"
"Uchiha, ke-kenapa?"Shion terlihat gugup mendengar kata Sasuke.
"Tunggu kenapa kau gugup?"Sakura menyadari perubahan yang terjadi pada Shion. "Saat aku ulang tahun, kau bertemu dengan Uchiha Itachi kan? Dia adiknya Uchiha Itachi."Sakura mengingat kalimat Sasori yang tertunda tadi pagi.
"Tunggu, apakah Uchiha sasuke pangeran disekolah ini?"Sakura bertanya dengan menyelidik.
"Bisa, dibilang begitu."Shion tersenyum canggung dan mengalihkan pandangannya kesembarang arah sambil menyeruput minumannya.
"Aah..."Sakura menyenderkan tubuhnya pada kursi dan melipat tangannya didepan dada."Shion, aku sungguh tak peduli apapun yang dulu terjadi antara kau dan Uchiha."ucap Sakura tenang. Shion menatap Sakura sekarang.
"Lalu, kenapa kau menanyakan orang itu?"
"Aku tidak suka kepadanya, ini bukan karena masalah mu. Tapi, dia selalu mencari masalah dengan ku. Sebelum aku masuk sekolah ini aku sudah bertemu dengannya juga Naruto."jelas Sakura.
"Benarkah? Bagaimana bisa?"Shion penasaran.
Sakura menceritakan insiden yang terjadi kemarin pada Shion. Shion mengerti dan mengangguk-angguk.
"Mau tahu apa yang lebih kejam yang pernah dia lakukan?"
"Apa?"Sakura antusias.
"Ada seorang gadis, kalau tidak salah namanya Kin. Dia sangat menyukai Sasuke, hingga hampir setiap istirahat membawakan bekal untuknya. Setiap Sasuke latihan basket selalu setia datang menunggu hingga membawakan air untuknya. Hingga pada akhirnya dia mengungkapkan perasaannya. Kami semua mengira, Kin akan diterima karena dia itu sangat manis dan menarik."Shion menjeda ceritanya.
"Lalu?"Sakura tak bisa menutupi rasa penasarannya.
"Sasuke, menolaknya ditempat. Bodohnya Kin, menyatakan cinta di saat selesai tanding basket. Dia tidak memperkirakan bagaimana jadinya kalau dia ditolak."
"Jahat sekali.."ujar sakura terdengar prihatin. Shion mengangguk setuju.
"Sasuke beralasan, dia sudah cukup memberi ruang untuk Kin. Dia menerima apa yang diberikan Kin sebagai bentuk menghargai. Karena dia pikir, dia tidak mau menyakiti dirinya dan membohongi Kin tentang perasaannya."
"Pintar sekali mencari alasan, lalu kabar Kin setelah itu bagaimana"
"Pindah sekolah."
"Separah itu kah?"Sakura mengerutkan keningnya, sementara Shion tersenyum kecut.
"Tapi, dia masih punya sisi baik. Aku dulu sempat salah paham padanya, dia jadi sangat baik kapadaku. Dia mendengarkan dan melaksanakan pesan Sasori-kun dengan baik."
"Aku sempat mendengar hal itu dari Sasori-nii."Sakura mengangguk."Tetap saja aku tak mau dekat dengannya. Menurutku orang semacam dia tidak cocok dengan ku."ujar Sakura sambil menerawang kedepan.
Pelajaran telah selesai, Sakura sekarang sedang diam didepan gerbang menunggu Sasori menjemputnya."Ddrrrtt"Sakura merasakan handphone disakunya bergetar.
"Moshi, moshi.. Sasori-nii dimana?"
"Maafkan aku, tak bisa menjemput dosen ku mengadakan praktikum mendadak."
"Tidak masalah kalau begitu, aku bisa naik taksi."Sakura mencoba santai.
"Tidak perlu, aku sudah menyuruh seseorang mengantarmu dia sudah setuju dia.."Sakura tak sempat mendengar ucapan Sasori karena seseorang sudah menepuk pundaknya.
"Kau, sungguh merepotkan Haruno."ujarnya keyus.
"Sakura, kau masih disana?"
"Nanti aku menghubungimu lagi Sasori-nii."Sakura memasukan Smartphonenya kedalam saku dan menatap lelaki didepannya.
"Biar aku naik taksi saja."Sakura berjalan menjauhi lelaki itu. Tangan Sakura langsung ditarik. Sekarang lelaki itu sudah menyeretnya keparkiran dan menyuruhnya masuk kedalam mobil sport hitamnya.
"Uchiha no baka, sakit bodoh."Sakura meringis kesakitan. Sasuke tidak mengindahkan Sakura. Sekarang Sasuke sudah memaksa Sakura masuk kedalam mobilnya menutup pintunya.
Sakura memegang pergelangan tangannya yang sedikit kemerahan.
"Apakah sakit?"Sasuke menarik pergelangan tangan kanan Sakura.
"Dasar lelaki kasar."ujar Sakura."Ssh.. auw sakit baka."Sakura menatap Sasuke tajam. Sementara yang ditatapnya melepaskan tangan sakura, dan mulai menyalakan mesin kendaraannya.
"Setidaknya, ucapkan maaf."sindir Sakura.
"Gomen.."Sasuke mengucapkan dengan malas dan suara kecil.
"Untung telinga ku tajam. Baik kali ini aku maafkan Uchiha."Sakura mengeluarkan smartphone dari sakunya untuk menghindari obrolan dengan Sasuke.
"Besok aku yang menjemputmu, itu yang Sasori pesankan."ujarnya terdengar dingin.
"Tidak, terimakasih aku bisa naik bus."
"Sasori bilang kau buta arah, apalagi kau baru disini."ujar sasuke.
"Tidak.. tidak, aku malas berdekatan denganmu."ujar Sakura asal. Sasuke menyisikan mobilnya tiba-tiba membuat Sakura terkejut.
"Kau, mau mati hei Uchiha."Sakura kesal.
"Turun!"sahut Sasuke memerintah.
"Apaa?"Sakura terkejut.
"Bukannya kau tak mau berdekatan dengan ku? Sekarang turun!"ujar Sasuke tegas.
"Tapii..."Sakura kesil, karena sama keras kepala dengan Sasuke ia pun keluar dan membanting pintu mobil Sasuke dan berjalan entah kemana.
"Bodoh..."Sasuke bergumam sambil memandang Sakura berjalan yang mulai menjauh.
To Be Continue
author, gak bisa bilang banyak selain ARIGATOU... keep review, author juga berharap kalian selalu tersenyum saat membaca fanfic ini special thank's buat
kiki takajo/mia/hazekeiko/hanazono .9
semoga readers yg lain juga review yaa.. author sedih udah buat maksimal tapi sepi.. kritik dan saran nya yaaa ;)
