.
Eternally Love
By Punchjongin ©
Kim Jongin – Oh Sehun – Xi Luhan
T
.
.
.
Chapter 2
.
Belakangan, Luhan sadar bahwa keputusan Sehun untuk berkencan dengan lelaki yang paling di bencinya bisa saja bukan merupakan ancaman belaka. Ia tak dapat membayangkan Jongin berpacaran dengan mantan kekasihnya, orang yang sampai saat ini masih disayanginya, dan sebenarnya masih berat untuk dilepaskan. Tetapi, ia tidak mempunyai pilihan lain untuk memberi Sehun pelajaran.
Setelah ia bercerita pada Minseok saat Luhan berkunjung ke rumahnya tiga hari setelah Luhan memutuskan hubungan dengan Sehun, ia memutuskan untuk mencari Sehun dan berbicara secara baik-baik, sesuai dengan usulan Minseok.
Luhan tak memungkiri bahwa dalam masalah ini ia memang salah. Dia terpikat dengan Chanyeol yang selalu bersikap hangat dan memperhatikan dia. Satu hal yang tidak dimiliki oleh Sehun, walaupun Sehun perhatian pada Luhan, tetapi juga selalu mengkritik Luhan dalam berbagai hal. Mungkin, Chanyeol yang sudah bertahun-tahun dekat dengannya, akan lebih baik daripada Sehun untuk menjadi kekasihnya kelak. Sekarang, ia hanya perlu untuk menyelesaikan masalahnya dengan Sehun.
Sehun sedang menikmati makan siangnya di kantin dan Luhan sengaja mencarinya di kantin karena ia tak menemukan batang hidung Sehun setelah sebelumnya ia mencari di lapangan basket. Menjalin hubungan selama setahun, membuatnya hapal dengan kebiasaan Sehun yang selalu mengisi waktu istirahatnya di lapangan basket atau di kantin, itu jika ia tak memiliki pekerjaan rumah yang belum ia selesaikan dirumah. Di dalam ruangan yang ramai dengan murid-murid yang mengantre untuk mendapatkan makan siang mereka, mata Luhan menangkap sosok yang di carinya sedang menyantap hidangannya di salah satu meja dengan Yifan, sahabatnya. Dengan langkah terburu-buru, ia menghampiri Sehun, tak ayal membuat tubuhnya beberapa kali menabrak murid lain.
"Sehun, kau tak serius kan dengan perkataanmu kemarin?"
Sehun yang sedang memakan sesuap nasi dengan kimchi itu mengangkat wajahnya mendengar suara Luhan. Sejenak, ia mengamati mimik wajah Luhan yang sedang menunjukkan kekesalannya. Rahangnya mengeras.
Ketika melihat Luhan yang berada di hadapannya, wajah Sehun terasa kaku. Hatinya masih sakit diputuskan dengan cara seperti kemarin. Yifan mengerti dengan situasi itu, lalu ia memutuskan untuk duduk di meja lain, di samping Yixing, teman sekelasnya.
Tanpa pikir panjang, Sehun kembali memakan makan siangnya itu. Walaupun rasa daging asap yang ia kunyah baru saja tiba-tiba terasa hambar.
Luhan menduduki kursi dimana sebelumnya diduduki oleh Yifan. Luhan menautkan tangannya di atas meja. "Aku tau kau marah padaku, tapi bisakah kau tak melakukan tindakan bodoh yang melibatkan siswa miskin itu?"
Setelah mendengar perkataan Luhan, Sehun meletakkan sumpitnya. Selera makannya menguar entah kemana, "Dia punya nama," mata Sehun menajam, "Kim Jongin, namanya," lanjutnya.
"Bahkan kau sekarang membelanya," kesal Luhan.
"Aku hanya memberitahu, bukan melakukan pembelaan,"
"Ah… Terserah! Bukankah lebih baik kau berkencan dengan seseorang yang lebih baik dariku? Aku akan senang jika kau melakukannya. Itu akan lebih baik untukmu, bukan lelaki yang jauh di bawahku,"
Sehun mendengus kesal. Kali ini, selera makannya benar-benar hilang. Dengan kencang, ia membanting kedua sumpitnya di atas meja. Membuat sepasang sumpit itu terpental dan jatuh di lantai sekitarnya. Ia menoleh pada Luhan, "Kau membuat selera makanku hilang Luhan. Kau tau? Aku akan sengaja berkencan dengan orang yang kau benci itu, Luhan."
Sehun menyeringai melihat wajah Luhan yang menampakkan ekspresi tak senangnya, "Kurasa, tak buruk berkencan dengan siswa nomor satu itu," Sehun menekan kata 'satu' di perkataannya.
Wajah Luhan kaku dan matanya membesar. Dia tak terima dengan sindiran mantan kekasihnya itu. Ia memukul meja dengan kedua tangannya keras, dan beranjak berdiri sehingga kursi besi itu berbunyi dan tergeser kebelakang. Sorot mata tak suka ia tujukan untuk Sehun, dibawahnya, Sehun menyeringai dengan wajah yang menyebalkan; menurutnya.
"Lihat saja nanti, Oh Sehun."
Luhan pun pergi meninggalkan Sehun. Beberapa siswa yang berada di sekitarnya memandangi tubuh Luhan yang menjauh menuju pintu keluar kantin dengan penasaran.
.
.
.
Luhan berpikir jika ini bukan hanya kesalahan Sehun, melainkan kesalahan siswa miskin yang selalu membuatnya kesal. Setelah ia melangkahkan kaki keluar kantin, Luhan kini berjalan menuju kelasnya. Hatinya masih sangat kesal dengan perkataan Sehun yang seakan memojokkan dirinya. Kakinya terhenti ketika tempat yang ia tuju sudah berada di depan matanya. Setelah memastikan jika orang yang dicarinya sedang berada di dalam kelas, ia masuk ke kelasnya itu dengan langkah yang angkuh.
Beberapa murid menoleh ke arahnya penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya setelah pertengkaran Sehun dan Luhan yang melibatkan blackhole di kelas itu yang sedang menikmati makan siangnya, Kim Jongin.
"Hei! Siswa miskin! Kau sengaja?"
Jongin menoleh, "Maksudmu?"
Pandangan menusuk dari Luhan terpancar jelas di kedua matanya. Luhan tak mengindahkan wajah Jongin yang masih memar di beberapa bagian, "Menyingkirkanku dari peringkat pertama, dan sekarang, kau mendekati mantan kekasihku?"
"Maksudmu, Sehun?"
"Ya. Apa kau sedang berpura-pura tak tau? Kau merencanakan sesuatu kan?" tuduhan Luhan membuat beberapa pasang telinga disekitar mereka menajamkan indera pendengarannya.
Jongin menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Siapa yang mau dituduh seenaknya seperti itu?
"Aku tak mengenal Sehun sama sekali. Dan masalah tempo hari itu aku benar-benar tak sengaja. Untuk perkataan Sehun waktu itu, mungkin dia hanya ingin menggertakmu saja, Luhan," terang Jongin. Ia kembali memakan onigirinya tanpa mempedulikan Luhan.
Mata Luhan makin terbelalak. Dengan kasar, ia memukul pergelangan tangan Jongin dan membuat makan siangnya itu tercecer di lantai kelasnya.
"Kau sedang membela dirimu sendiri? Jika sedikit saja aku melihat kau berurusan dengan Sehun, maka aku akan…" Luhan menggantung perkataannya.
Mata Luhan melirik meja Jongin. Ada sebuah buku catatan yang terbuka bertuliskan rumus-rumus matematika, dua buah onigiri masih utuh, sebotol air mineral dan sebuah ponsel keluaran lama yang sedang memutar anime Jepang.
Jongin yang terkejut dengan tindakan Luhan, kini mengikuti arah pandangan Luhan yang tertuju pada ponselnya. Ponsel berwarna putih dan bukan ponsel keluaran terbaru. Jongin hendak mengambil ponselnya, namun tangan Luhan mendahuluinya untuk meraih ponsel Jongin yang ada di atas mejanya. Hitungan detik, Luhan menjatuhkannya di lantai tepat di dekat sepatunya.
Tidak terima, Jongin membungkuk ke samping dan mengulurkan tangannya untuk meraih ponselnya. Namun, kaki kanan Luhan mendahuluinya. Dalam jarak yang dekat, Jongin melihat ponselnya terinjak oleh sneaker mahal milik Luhan. Itu adalah ponsel miliknya selama 3 tahun ini.
"Jangan!" pekikan Jongin tak diindahkan Luhan. Kakinya terus menginjak ponsel satu-satunya milik Jongin hingga ponsel itu terpisah bebrapa bagian. Bahkan layarnya sudah menjadi kepingan.
Belum puas menghancurkan ponsel milik Jongin, Luhan menginjak tangan Jongin yang terulur tak jauh di dekat kakinya.
"Argh!"
Tangan kanan Jongin terasa sakit ketika tekanan dari sneaker Luhan menguat. Tubuhnya limbung, dan ia terjatuh dari bangkunya. Sontak, membuat seluruh perhatian teman-teman kelasnya itu teralih pada mereka. Rasa iba muncul dari hati mereka, ketika melihat wajah Jongin yang mengernyit kesakitan. Namun, mereka tak bisa berbuat apa-apa. Mereka bukan tipikal orang yang mencampuri urusan orang lain. Apalagi, urusan Jongin, siswa beasiswa yang tak nampak.
"Ini belum seberapa, Kim," ujar Luhan penuh penekanan, "Aku bisa saja mencabut beasiswamu itu, kau tahu kan seberapa besar pengaruh keluargaku di sekolah ini?"
Setelah mengatakan itu, Luhan mengangkat kakinya dan menyeringai melihat tangan Jongin yang merah padam dan punggung tangannya yang tercetak sedikit bentuk alas sneakersnya. Tanpa mempedulikan sekelilingnya, Luhan beranjak dari tempat itu untuk menuju bangkunya yang terletak di sudut kanan paling depan dari kelas itu.
Sepeninggalan Luhan, Jongin memunguti bagan-bagan ponselnya yang mungkin sudah tak bisa diperbaiki lagi dengan menahan kekesalannya.
Sering kali, Jongin menyesal karena keadaannya yang lemah seperti ini. Fisiknya memang melebihi Luhan, namun dari segi apapun, Luhan lah yang lebih unggul darinya. Nyali Jongin ciut. Ia tak ingin dikeluarkan dari sekolah ini ketika berurusan dengan Luhan, salah satu anak donator di sekolah ini. Dan ia tak pernah menyangka jika dirinya akan terlibat masalah dengan Luhan sejauh ini. Selama dua tahun bersekolah dengan beasiswa, Jongin memang mencari aman dengan tidak terlalu sering berinteraksi dengan teman-temannya. Tapi, setelah mendengar ancaman Luhan tadi, seolah nyalinya semakin ciut untuk berada di sekolah bertaraf Internasional ini. Jika beasiswanya dicabut, ia pasti tak akan mampu untuk membayar uang bulanan sekolah ini. Melihat nominalnya saja, sudah membuat Jongin pusing. Dan, Jongin tau watak Luhan yang tak pernah main-main dengan perkataannya.
Menurutnya semakin banyak interaksi orang lain, maka masalah-masalah yang akan timbul semakin banyak. Maka dari itu, ia lebih senang menyendiri dan mendengarkan musik atau membaca buku di taman sekolah atau di bangkunya ketika jam istirahat daripada berbincang dengan teman-temannya.
.
.
.
Bel pulang sekolah telah berbunyi. Seluruh pintu ruang kelas SMA Yongsan terbuka, kemudian satu persatu seluruh murid muncul dari balik pintu itu untuk bergegas menuju tempat yang mereka tuju setelah jam sekolah berakhir. Tak terkecuali kelas Jongin. Setelah seluruh siswa di kelas 2A memberi salam pada songsaenim dan menunggunya keluar, mereka berhamburan keluar kelas. Dan menyisakan beberapa siswa yang masih sibuk dengan kepentingan yang menahannya. Termasuk Jongin yang sedang mengunci lokernya yang berada di belakang kelas setelah ia memasukkan beberapa buku bacaannya.
Jongin memutar tubuhnya, dan berjalan menunduk menuju pintu.
Saat ia telah melewati ambang pintu, tiba-tiba sepasang sneakers merah menghalanginya. Jongin mengangkat kepalanya dan mata mereka bertemu.
Sehun sedikit terheran dengan memar di tulang pipi Jongin, membuat mata sebelah kiri itu sedikit bengkak. Jongin mendapatkan pukulan itu semalam ketika ayahnya kembali dengan keadaan mabuk.
"Jongin," seseorang memanggil namanya dengan suara tinggi.
Jongin terbelalak melihat Sehun yang memanggilnya kini amat dekat dengannya. Ia tak bergerak. Jongin bingung harus bersikap bagaimana pada Sehun.
"Bisa kita bicara sesuatu?"
Sehun mengajaknya bicara!
Jongin segera memutar otaknya.
Ia melihat dari ekor matanya, wajah Sehun yang tersenyum tulus itu terukir. Sebuah ide terlintas di benaknya. Sehun memperhatikan dengan seksama pergerakan Jongin. Lelaki itu tampak mempertimbangkan sesuatu.
Bruk!
Tubuh Sehun terpelanting ke belakang saat Jongin tiba-tiba mendorong Sehun dengan kuat. Tanpa menoleh ke arah Sehun yang tengah bangkit berdiri, Jongin berlari kencang menuju gerbang sekolah. Ia tak mengindahkan makian beberapa murid karena beberapa kali, tubuhnya menabrak murid-murid tersebut.
"Yah! Kim Jongin!"
Suara yang mengaung di koridor itu tak ia pedulikan walau beberapa pasang mata yang masih berada di koridor memandanginya dengan wajah heran. Setelah ia menepuk seragam untuk merapikannya, ia menghela napas panjang sembari memandangi tubuh Jongin yang menghilang diantara kerumunan murid yang berlalu lalang di koridor.
"Sepertinya ini akan sedikit sulit," gumamnya.
.
.
.
Tepat pukul 7 malam, seseorang datang di rumah Jongin dengan ketukan kasar. Jongin pikir itu adalah ayahnya. Jongin bergegas untuk membukakan pintu, namun setelah mendengar suara itu bukan seperti suara ayahnya, ia mengurungkan niatnya.
Gedoran di pintu rumahnya semakin kencang,
"Tan Hankyung!" Terdengar suara pria tengah baya. Suaranya agak serak. "Keluarlah!"
Pria itu diam sebentar menunggu tanggapan. Ketika yakin tak ada tanggapan, dia mulai mengetuk pintu lagi. Kali ini sedikit lebih keras.
"Tan Hankyung! Aku tau kau ada di dalam. Tak usah kucing-kucinganlah! Bukakan pintu! Aku tau kau ada didalam!"
Jongin meraih payung yang berada di pojok ruangan, mengantisipasi jika lelaki di balik pintu itu nekat untuk mendobrak pintunya.
Siapa gerangan orang itu, apa yang dicainya, Jongin sama sekali tak dapat menerka. Tetapi mengapa ia berkeras untuk minta dibukakan pintu. Tentu saja, itu tak akan dilakukan Jongin ditengah keadaan yang sekarang.
Akhirnya suara ketukan berhenti, lalu suara pria itu kembali terdengar,
"Tan Hankyung, aku datang menagih hutangmu. Aku tahu kau ada di dalam. Sekeras apapun kau menghindariku, aku bisa menemukanmu. Aku tahu kau ada di dalam dan menungguku menyerah dan pergi. Kau tak mau membayar hutangmu."
Priai itu bersuara lebih keras daripada sebelumnya. Suaranya menggema di depan rumah itu. Memang itulah niatnya. Memanggil nama orang dengan suara sekeras-kerasnya. Mengejek dan mempermalukan. Tentu saja Jongin tetap diam. Ia sedang mencerna perkataan lelaki itu. Hutang? Ayahnya tidak pernah bercerita jika ia memiliki hutang.
Jongin ingin berjingkat ke pintu dan mengintip dari lubang kunci rumahnya. Ingin tahu seperti apa pria itu, tetapi ia tak beranjak dari tempatnya berdiri. Lebih baik tidak melakukan apapun. Tak lama lagi, pasti pria itu pergi, pikirnya.
"Tan Hankyung, ayo berhenti main petak umpat. Aku sudah memberimu kelonggaran waktu 3 bulan untuk membayarnya tapi kau selalu berlari jika melihatku. Mungkin kau tidak senang, tapi peraturannya begitu. Jika kau terus-terusan seperti ini, terpaksa aku harus melaporkan pada polisi,"
Tuduhan yang diteriakan pria itu, membuat Jongin berpikir berulang kali. Ia tak bisa berbuat apa-apa karena ia tak mengetahui permasalahan diantara pria itu dan ayahnya.
"Kau tau Hankyung? Dengan kau berbuat seperti itu. Tidakkah kau merasa seperti pencuri? Meminjam uang orang dan tidak mengembalikannya,"
Pria itu berhenti berbicara sebentar lalu menggedor pintu kini dengan kakinya.
"Tan Hankyung. Kau mulai jengkel, kan? Aku bisa saja menghancurkan pintu ini dan menemukanmu dengan tanganku. Tapi aku cukup main bersih disini. Aku hanya mau kau membayar hutang untuk menyekolahkan anakmu itu,"
Terdengar bunyi langkah kaki dan semakin mejauh dari rumahnya.
Rasa penasaran Jongin mengalahkan rasa takutnya. Jongin menghampiri pintu, lalu memberanikan diri untuk membuka pintu. Pintu terbuka sedikit demi sedikit. Jongin dapat melihat pria setengah baya itu mengenakan parka panjang berwarna hitam dan mengenakan topi.
"Tunggu,"
Jongin berteriak kepada pria setengah baya itu. Pria yang mendengar suara Jongin itu menghentikan langkahnya yang akan meninggalkan halaman rumah Jongin. Pria itu berbalik dan mendapati Jongin berdiri di ambang pintu yang terbuka.
"Apa semua yang kau katakan itu benar?"
.
.
.
Derap langkah sepasang sneakers berwarna putih itu menggema di koridor. Beberapa siswa yang menyadari keberadaan dari pemilik langkah buru-buru itu menebar senyum dan sapaan mereka.
"Oh Sehun memang selalu mempesona setiap harinya" gumam salah seorang siswi pada siswi di sebelahnya.
"Jika kau berani, katakan padanya jika kau menyukainya,"
Siswi itu menggeleng, "Aku masih ingin bersekolah disini. Bisa-bisa Luhan menendangku dari sekolah ini,"
"Tetapi mereka kan sudah putus,"
"Putus atau tidak, kau lihat kan mereka bagaimana?"
Sehun, pemilik langkah itu menyunggingkan senyumnya ketika mendapati orang yang dicarinya sedang berjalan menuju kelasnya sembari membaca buku. Ia menghentikan langkahnya tepat di hadapan siswa tersebut. Siswa tersebut menabrak tubuh Sehun yang tiba-tiba berada di hadapannya. Ia tak mengetahui keberadaan Sehun karena matanya disibukkan membaca materi yang akan diajarkan gurunya hari ini.
"Kim Jongin," suara Sehun terdengar lembut.
Siswa yang ternyata adalah Kim Jongin itu mengangkat kepalanya, dan berusaha untuk tidak menampakkan wajah takutnya. Membuat Sehun terkekeh geli dalam hati melihat ekspresi itu.
"Apa kau ingin membantuku?" tanya Sehun perlahan, "Aku sungguh butuh bantuanmu,"
Tangan Sehun menarik kedua tangan Jongin dan meletakkannya didada. Buku yang di genggam Jongin terjatuh. Kejadian itu membuat beberapa siswa yang berada di koridor mengalihkan pandangan mereka.
Jongin terkejut menatap kedua tangannya. Dilihat sekilas saja, pasti murid lain akan salah mengartikan posisi mereka.
"Tidak. Aku tidak bisa membantumu,"
Begitu Jongin menggelengkan kepala dan menarik kedua tangannya dari genggaman Sehun. Kemudian mendorong Sehun dengan kasar, Sehun terjatuh sempurna di atas lantai dan pantatnya terasa nyeri bersentuhan dengan dinginnya lantai pagi hari. Seketika, senyum Sehun luntur. Wajahnya tak menampakkan ekspresi. Jongin menunduk untuk mengambil bukunya yang jatuh, kemudian berjalan menuju kelasnya.
"Aku benar-benar tak mau terlibat masalah dengan Luhan, Oh Sehun," kata-kata terakhir Jongin sebelum meninggalkannya itu perputar dibenaknya. Hati Sehun melecus. Itu pertama kalinya permintaannya ditolak oleh seseorang.
.
.
.
Memikirkan permasalahan ayah satu-satunya itu membuat Jongin menghela napas kesal. Semalam, Jongin mengetahui jika ayahnya memiliki hutang pada pria bernama Choi Siwon sebesar 1000.000 won. Beruntung, Siwon memberikannya waktu sebulan untuk melunasinya setelah Jongin berlutut memohon keringanan.
Jongin berpikir, jika ia bekerja paruh waktu, mengambil seluruh tabungannya dan menyisihkan uang bulanan yang dikirim ibunya, ia pasti dapat membayarnya dengan jangka waktu yang cukup itu. Jongin berencana untuk melamar pekerjaan paruh waktu, sepulang sekolah nanti. Ayahnya semalam tak pulang. Jongin cukup tahu jika ayahnya tak pulang. Ia akan menghabiskan waktu di tenda pinggir jalan untuk menikmati soju, kemudian tertidur di jalanan karena tak mampu untuk mengingat dimana jalan ke rumahnya.
Semenjak ibunya meninggalkan mereka berdua untuk hidup di Seoul, ayahnya selalu berperilaku seperti itu. Ayahnya tak bekerja sama sekali. Ia hanya berkeliaran setelah sebelumnya meminta beberapa lembar uang kiriman ibunya untuk minum-minum. Begitu setiap harinya. Tak ayal, uang 1.500.000 won yang dikirimkan ibunya tak cukup untuk mencukupi kebutuhan mereka berdua. Bahkan Jongin dapat mengingat kapan terakhir kali ia membeli sepatu dan tas miliknya yang telah butut. Keadaan itu semakin membuatnya kesal ketika ponsel miliknya rusak karena Luhan, padahal melalui ponselnya itu, ia dapat mencari tahu kabar dan informasi terbaru dari ibunya di beberapa situs informasi.
Jongin membalik halaman kedua bab 7 dan menyalin beberapa rumus dari buku tersebut pada buku catatannya. Beberapa kali ia menyela kegiatan tulis menulisnya dengan mengunyah makan siangnya. Bel istirahat berbunyi 10 menit yang lalu dan hampir seluruh teman-temannya meninggalkan kelas itu dan menyisakan Jongin yang masih duduk setia di bangkunya.
Ia sama sekali tak beranjak dari bangkunya. Matanya terus bergantian melirik rumus dan mencatatnya. Begitu seterusnya. Ia tak sadar, Sehun berdiri di ambang pintu dengan bimbang sembari membawa kotak bekal yang dipengangnya erat.
Jongin dapat mendengar suara langkah seseorang yang semakin dekat. Ia menulikan telinganya. Meskipun earphone terpasang di kedua telinganya, namun ujung kabel itu menggantung di udara. Ujung kabel itu tak terpasang pada perangkat apapun. Ia tetap menggerakkan tangannya dan menulis rumus-rumus.
Sebotol minuman rasa jeruk dan sekotak tempat makan diletakkan di atas meja Jongin. Tiba-tiba jantungnya berdetak lebih cepat. Ia mencoba untuk lebih berkonsentrasi dalam catatannya, namun sama sekali tak bisa. Ia meletakkan pulpennya dan menengadah. Mendapati wajah Sehun yang menampakkan senyumannya di atas sana membuat jantungnya berdetak semakin cepat.
Sehun menduduki bangku di depan meja Jongin dan menghadapkan dirinya pada Jongin. Sehun mengambil buku catatan Jongin dan menggeser kotak bekalnya di hadapan Jongin, kemudian membuka tutupnya.
"Makanlah,"
Jongin sejenak nampak ragu-ragu, ia menggeleng. Ia mengetahui Sehun melakukan ini untuk membujuknya menerima tawaran Sehun untuk pura-pura berkencan dengannya.
Tanpa melepas earphonenya, ia menggeser kotak makan yang menampakkan sushi dan beberapa dumpling yang terlihat enak itu di hadapan Sehun. Jongin sengaja membuka bungkus onigiri keduanya dan memakannya di depan Sehun, seolah menunjukkan pada Sehun jika ia telah memiliki menu makan siangnya sendiri.
"Tak baik, makan makanan yang sama setiap hari," celetuk Sehun.
Sehun tampak santai sambil menatap Jongin yang tampak kesal sembari mengunyah onigiri itu utuh. Matanya sempat melirik ujung earphone yang menggantung di udara di samping Jongin.
"Belum kenyang, kan?" Sehun kembali menggeser kotak makan di hadapan Jongin, "Mulai sekarang, aku akan memastikan kau memakan bekal ini, hingga kau menerima tawaranku."
Jongin mengangkat alisnya dengan wajah menyeramkan, sementara Sehun tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Jongin.
Jongin kembali menggeser kotak makan itu di hadapan Sehun. Ketika kotak makannya berhenti kembali di hadapannya, Jongin mengambil kotak makan itu kemudian bangkit berdiri dan melepas earphone, meletakkannya di atas mejanya.
Jongin sudah memikirkan ini sebelumnya. Sehun terdiam. Ia penasaran apa yang akan Jongin lakukan selanjutnya.
Langkah Jongin terhenti di tempat sampah yang di tempatkan di depan kelas mereka tepatnya di pojok ruangan.
Sehun mengamati pergerakan Jongin dan senyumnya seketika luntur saat Jongin menampakkan seringaiannya pada Sehun dan dengan pergerakan lambat, ia membuang kotak bekal itu di hadapan Sehun ke dalam tempat sampah.
Sehun masih belum sepenuhnya sadar atas perbuatan Jongin. Ia membuangnya di lantai. Membiarkan isi makanan itu keluar dan mengotori lantai,
"Aku tidak main-main dengan perkataanku, Oh Sehun," teriak Jongin, sontak membuat beberapa teman sekelasnya yang sudah berada di kelas itu menolehkan pandangan mereka ke arah Sehun dan Jongin. Tak terkecuali Luhan, yang tengah berada di ambang pintu. Ia menyaksikan apa yang terjadi di depan matanya itu dengan tatapan tajam.
Tangan Luhan meremas kuat air mineralnya dengan sangat erat, "Kau sudah berani main-main denganku, Kim Jongin."
.
.
TO BE CONTINUED
A/N :
Apa sudah panjang cerita chapter ini?
Terimakasih banyak review, follow dan favoritenya!
Saya nggak sangka responnya bagus. Terimakasih juga untuk beberapa yang kirim PM.
Jika respon banyak, saya akan melanjutkan.
Yesaya . mei – Kaysaiko – Sisca Lee – LM90 – Ainurulnaf – Jonginisa – Kamong Jjong – Jongin 48 – Nha . Shawol – Kaihun 1404 – Putrifibrianti96 – AyumKim – Eviaquariusgirl – Saya . orchestra – Keepbeef Chicken Chubu – BabyWolf Jonginnie'Kim – Novisaputri 09 – Sayakanoicinoe – Ren Choi – KaiNieRis – Parkwu – Miyuk – Sejonghunkai – JeonYeona – Guest – Aliyya – Thiefhanie – Guest 1 – Guest 2 – Cute – Ren Chan – Seli Kim – Cute 2 – Guest 3 – Bapexo – Oracle 88 – Asmayae – Meliarisky 7 – Aldi . Loveydovey – Chotaein 816 – Flamintsqueen – Han Yoori – Kairytale – Askasufa – Sayang semua member suju – Rilakkyuming 97 – Frostlightx – Jongkwang – Jonginkai – Guest 4
