.

Eternally Love

By Punchjongin ©

Kim Jongin – Oh Sehun – Xi Luhan

T

.

.

.

Chapter 3

.

Mencari pekerjaan paruh waktu di Seoul tampaknya lebih sulit daripada yang Jongin kira. Setelah berhari-hari mengunjungi beberapa tempat untuk melamar pekerjaan, akhirnya ia dapat diterima di sebuah kedai ramen.

Pekerjaannya cukup mudah.

Menjadi assisten koki dan tentunya menjadi pesuruh senior pembuat ramen di kedai itu. Jam kerja Jongin pun hanya dari jam 4 sore hingga 11 malam. Setidaknya, ia masih bisa belajar di malam hari. Kedai ramen itu mendatangkan banyak pembeli. Selain dikenal dengan rasa ramennya yang nikmat di kawasan itu, kedai itu juga telah dikenal karena berdiri sejak 15 tahun yang lalu.

Untuk menuju kedai ramen itu, Jongin harus berjalan kaki 1 km ke arah barat dari sekolahnya. Tak jauh memang dari sekolahnya. Walaupun harus memakan waktu 10 menit untuk berjalan, ia sama sekali tak merasa pegal di pergelangan kakinya. Ia terbiasa jalan kaki.

Beberapa kali Jongin mendesah kesal dan menghentikan langkahnya sejenak. Bukan karena langkahnya yang melamban namun karena Sehun berjalan persis di belakangnya. Terlebih, Jongin harus pura-pura menulikan pendengarannya oleh kata-kata Sehun yang terus memohon padanya. Memohon untuk berpura-pura kencan dengan Sehun dan bermesraan di depan Luhan. Itu adalah permohonan Sehun.

Sudah empat hari ini, saat di sekolah Sehun selalu menemuinya ketika jam istirahat atau jam pulang. Jika Jongin bukan siswa beasiswa, ia ingin sekali memukul wajah menyebalkan Sehun dengan tangan kosongnya. Tindakan Sehun membuatnya kesal dan risih akhir-akhir ini. Pada akhir keputusannya, ia mengalah dan mencari aman agar tak melukai Sehun sedikitpun. Jika itu terjadi, beasiswanya akan terancam dicabut karena membuat babak belur anak donator tertinggi untuk sekolahnya.

Bahkan lelaki bermarga Oh itu dua hari yang lalu mengikuti Jongin mencari pekerjaan hingga ke rumahnya dengan berbagai 'tawaran menarik' yang terus dilontarkan. Tentunya, beberapa kali Sehun harus meninggalkan mobil di parkiran sekolah dan menyuruh Yifan untuk membawa ke rumah Sehun.

"Jongin," Sehun memanggil nama Jongin dari belakang. Matanya tak lepas dari kedai bubble tea tak jauh dari tempatnya berjalan, "Bisa kau tunggu sebentar? Aku ingin membeli bubble tea dulu," lanjutnya.

Jongin tak menghentikan langkahnya. Ia mengabaikan perkataan Sehun dan terus berjalan ke tempat ia bekerja. Sedangkan Sehun, ia tak bisa menahan hasratnya untuk menikmati minuman kesukaannya itu. Langkahnya yang buru-buru mulai memasuki kedai bubble tea bernama Gongcha dengan senyum cerahnya. Jika Jongin meninggalkannya pun ia tak peduli, lagi pula, ia sudah tau dimana Jongin bekerja.

Setelah membayar pesanannya, Sehun duduk di kursi khusus take away. Beberapa menit berlalu, dan pelayan lelaki meneriakkan namanya,

"Oh Sehun!"

Panggilan dirinya itu membuat Sehun bergegas menuju counter mengambil pesanannya, lalu keluar. Tangan kirinya membawa empat cup bubble tea berbeda rasa dengan satu cup wrap, sedangkan tangan kanannya membawa satu cup milk tea dengan pearl jelly didalamnya. Ia menikmati minuman yang mulai mengusir rasa hausnya.

Sambil mencengkeram cup milk tea pada tangan kanannya, ia terbatuk setelah melihat seorang lelaki berkaos hitam longgar bertuliskan 'Hate Summer' yang sedang menggandeng mesra seorang lelaki lebih kecil di sampingnya dengan tangan kirinya. Lelaki lebih kecil tertawa setelah mendengar lontaran konyol lelaki disampingnya, dan dia masih mengenakan seragam sekolah sama dengan Sehun.

Sehun memandang kedua lelaki itu yang berjalan ke arahnya dengan hati berkecamuk. Biar bagaimanapun, Sehun masih sangat mencintai Luhan. Ia tak pernah memainkan perasaan Luhan selama ini. Namun, apa yang akhir-akhir ia alami membuatnya berpikir dua kali.

"Luhan," lirih Sehun.

Mata mereka bertemu sepersekian detik sebelum Luhan memutuskan kontak mata mereka dengan mengalihkan pandangan pada Chanyeol, lelaki yang sedang menggandengnya. Sehun hanya terdiam dan berdiri tak jauh dari tempat Luhan dan Chanyeol menghilang. Mereka berdua memasuki sebuah café berlantai dua tanpa mempedulikan keberadaan Sehun.

Perasaannya berkecamuk. Matanya mulai panas dan seperti terlihat awan di pelupuknya. Ia memejamkan matanya untuk mengusir air mata yang tertahan di pelupuknya. Air mata Sehun menetes. Kemudian, ia menggelengkan kepala seolah mengusir lalat yang ada di sekitarnya.

Beberapa saat masih memikirkan Luhan, ia kembali teringat akan tujuannya hari ini. Sehun memandang cup wrap di tangannya dan mengangguk tegas. Seolah meyakinkan sesuatu.

Kim Jongin.

Ia harus menemui Jongin untuk memberi tawaran yang lebih menarik. Ia sudah tak tahan dengan kelakuan Luhan yang semakin menjadi. Lagi pula, ada tujuan lain, karena Sehun berniat untuk memberi Paman Yesung, Jongin dan dua koki lainnya minuman kesukaannya ini.

.

.

.

Sudah pukul 11.15 malam, namun Jongin belum muncul juga. Sehun beberapa kali melihat pekerja kedai ramen yang satu per satu meninggalkan kedai itu. Sehun terus bersandar pada kursi pada trotoar depan kedai ramen dan mengamati beberapa pejalan kaki yang melintas dihadapannya dengan bosan. Bagaimanapun, ia tak akan menyerah dengan usahanya hari ini untuk mendekati Jongin. Walaupun perkembangannya tak menunjukkan kemajuan, ia yakin jika lambat laun, Jongin akan membantunya untuk mendapatkan Luhan kembali.

Kim Jongin muncul pada pukul 11.24 dari balik pintu kedai yang sudah gelap bersama dengan seorang lelaki paruh baya yang sedang mengunci pintu itu, Paman Yesung. Setelah memastikan pintu itu terkunci, Jongin pamit pada atasannya itu untuk pulang. Mereka berjalan berlawanan arah.

Sehun bergegas mengejar Jongin yang berjalan ke arah selatan. Setelah berhasil mensejajarkan langkah, Sehun mulai angkat bicara, "Bagaimana? Apa kau sudah berubah pikiran?"

Langkah Jongin terhenti, membuat Sehun juga menghentikan langkahnya. Wajah Jongin yang kusut itu memandang Sehun lekat-lekat lalu menggeleng, "Sudah berapa kali ku bilang aku tak mau. Aku tak mau terlibat masalah dengan kalian."

Sehun mengerucutkan bibirnya. Wajahnya mulai berubah ekspresi meminta belas kasih Jongin, "Aku akan melakukan apapun, asal kau mau pura-pura menjadi kekasihku, Jongin," pinta Sehun, "Tolong bantu aku untuk mendapatkan Luhan kembali," pintanya.

Lawan bicaranya itu menggeleng saat Sehun terus memasang ekspresi aneh. "Bagaimana? Aku akan meminjamkan kartu kreditku padamu jika kau mau," kata Sehun, "Kau bisa menggunakannya untuk bersenang-senang sebagai imbalannya," lanjutnya.

Perkiraan Sehun meleset jika ia pikir Jongin akan tersentuh dengan semua yang telah ia lakukan dan tertarik dengan penawarannya kali ini. Tapi, Jongin malah meraih kerah kemejanya dan menjatuhkan Sehun di trotoar tanpa melepas genggaman erat pada kerah Sehun. Punggung Sehun terasa nyeri dan berkedut. Ia meringis kesakitan. Namun, seketika rasa itu terkubur ketika melihat mata Jongin seolah mengkilat dan terbakar api. Ia menggertakkan giginya. Rahang Jongin pun mengeras sehingga terlihat dengan jelas tulang rahangnya. Ia menajamkan pandangan yang menusuk pada Sehun, "Sebenarnya aku tak ingin melakukan ini pada anak salah satu donator sekolah sepertimu," kata Jongin penuh penekanan, "Kau harus ingat satu hal," lanjutnya.

Jongin menatap kedua mata Sehun lebih tajam dan dalam, lalu berkata, "Aku memang miskin. Tapi aku tak tertarik dengan uangmu itu, Sehun."

Sekali hentakan Jongin melepaskan cengkeramannya pada kerah Sehun membuat tubuh Sehun terjatuh mengenai aspal. Tanpa menunggu reaksi Sehun, Jongin melangkah pergi meninggalkan Sehun yang masih terdiam dengan pandangan kosong.

.

.

.

Setelah hari itu, Jongin lebih menjaga jarak dengan Sehun. Ia akan mengambil jalan lain ketika melihat Sehun berjalan ke arahnya. Dan itu membuat Sehun kesal dua hari ini. Sehun tak pernah diperlakukan seperti itu oleh orang lain. Terlebih oleh siswa beasiswa di sekolahnya. Sehun tak pikir panjang kenapa Jongin bisa menjatuhkan lawannya saat itu. Rasa kesal Sehun bertambah ketika Luhan semakin mengejeknya karena Sehun tak berhasil membujuk Jongin. Dengan sengaja Luhan menyuruh Chanyeol untuk mengantar jemputnya dua hari ini. Itu membuat Sehun uring-uringan dua hari ini. Imbasnya, ibunya dan Yifan lah yang menanggung kekesalan Sehun.

Sehun sengaja mendatangi kedai ramen dimana Jongin bekerja setelah ia pulang dari sekolahnya dan kembali ke rumahnya sebentar. Setelah ia memesan satu porsi ramen dengan kepedasan level 3, ia mengambil salah satu meja yang kosong dan duduk disana. Jongin dengan celemek putih yang dipakainya, mengantarkan satu botol air putih ke mejanya. Tanpa melirik Sehun, Jongin memberikan botol plastik itu. Sehun menyodorkan sekotak besar box kue pada Jongin.

"Kue kesukaan Paman Yesung. Berikan ini padanya dan dua koki lainnya. Dan jangan lupakan untukmu," ujar Sehun. Sepertinya Jongin masih marah pada Sehun karena kejadian tempo hari.

Tanpa berdiri lebih lama di dekat Sehun, Jongin berjalan dan kembali ke dapur. Meletakkan box berisi kue itu diatas kulkas dan mengambil nampan kayu untuk membawa pesanan-pesanan yang telah ditunggu oleh pembeli. Kali ini, ia tak bisa menolak permintaan Sehun karena pemilik kedai ramen ini, Paman Yesung, ternyata sudah mengenal Sehun. Jauh sebelum Jongin melamar pekerjaan disini.

Setelah ia memberitahukan pada seniornya bahwa Sehun membawakan mereka kue, ia kembali bekerja. Membersihkan meja yang kotor, mengepel, membantu menyiapkan sayuran, hingga membuang sampah. Seakan terus berputar tanpa henti pekerjaannya itu. Salah satunya karena ini memasuki jam makan malam.

Jongin mendesah lega ketika Sehun telah meninggalkan kedai ramen itu. Ia mulai bergerak lincah untuk melakukan pekerjaannya.

Dan ingatkan Jongin agar tak memakan kue dari Sehun.

.

.

.

Genangan air hujan terlihat seperti cermin. Sehun jongkok dan memperhatikan genangan itu hanya sekedar ingin mengetahui apa yang terlihat dari genangan air tersebut. Ia menundukkan kepalanya dan yang terlihat hanyalah cahaya lampu kuning yang membuatnya pusing. Ia melirik jam tangannya yang mulai merambah ke angka 11. Setelah sebelumnya Sehun pulang untuk mengganti pakaiannya, ia melanjutkan kegiatannya untuk membujuk Jongin. Setelah hujan berhenti, Sehun mendatangi kedai ramen dengan Audi A5 miliknya.

"Xi Luhan," gumam Sehun memanggil nama Luhan. Kepalanya menengadah ke langit. Sudah mulai gelap.

Luhan.

Satu nama yang membuat hidup Sehun terbalik saat ini. Sehun merasa jika semua masalah akhir-akhir ini bertumpu pada Luhan. Sehun mencintai Luhan. Itu sudah pasti. Jika tidak, ia tak sudi menyatakan perasaan pada Luhan terlebih Luhan itu berjenis kelamin sama dengan dirinya. Luhan adalah cinta pertama Sehun. Sehun mengakui, ia tertarik pada perempuan yang berbadan proporsional. Nyatanya, ia menyukai Miranda Kerr. Tapi, hatinya tak bisa mengelak. Ia mulai terjerat dengan segala pesona yang dimiliki Luhan. Luhan mempunyai kepribadian yang hangat. Sebelum ia mengetahui jika Luhan ternyata memiliki rasa benci pada Jongin dan memiliki ambisi yang besar untuk masuk ke kampus nomor satu di Korea mengambil jurusan kedokteran.

Hatinya menangis tanpa bisa dicegah. Di akhir pikiran itu muncul campuran rasa bersalah dan rindu yang menyakitkan. Sehun masih berharap bisa mengatasi ini. Namun, bukannya semakin mudah. Tidak bertemu atau bertemu dengan Luhan justru semakin berat. Melihat Luhan bersama Chanyeol adalah sesuatu yang sulit diterima.

Sehun tak mengetahui dan sulit menerka jika mereka akhirnya akan seperti ini.

Sehun segera mengakhiri kegiatannya itu ketika melihat Jongin yang sedang keluar dari kedai ramen Paman Yesung. Jongin berpakaian serba hitam. Ia tak mengenakan seragam sekolahnya seperti ketika Jongin datang di kedai ramen dengan seragam yang masih lengkap. Tak biasanya ia berpakaian selain seragam lengkap dan pakaian casual.

Sehun memandang lelaki itu dari atas sampai bawah. Ini pertama kalinya ia melihat Jongin mengenakan pakaian seperti itu. Rambut Jongin sengaja dibuat acak-acakan, memakai jeans sobek dan sneakers putih butut, serta jaket baseball berwarna hitam. Jongin membawa tasnya di punggung dan ia keluar dari kedai ramen dan terlihat terburu-buru menuju ke suatu tempat.

Sehun segera menghidupkan mesin mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempatnya ia berdiri kemudian mulai menjalankan mobil itu untuk mengikuti Jongin dari belakang. Sehun melajukan mobilnya sangat pelan karena ia harus menjaga jarak beberapa meter di belakang Jongin. Jalanan pada malam ini sedikit renggang. Mungkin karena hujan yang mengguyur kawasan itu usai beberapa jam lalu.

Jongin tidak berjalan menuju rumahnya, namun menuju ke satu kawasan yang ramai dengan kedai-kedai pinggir jalan. Jongin berhenti di satu tenda berwarna putih. Sehun mematikan mesinnya tak jauh dari tenda tersebut. Tak lama kemudian, Jongin merangkul seorang pria setengah baya yang kesadarannya hampir habis keluar dari kedai tersebut. Sehun mengerutkan keningnya. Bertanya dalam hati, apa yang sedang Jongin lakukan.

.

.

.

Tanpa campur tangan Sehun, Jongin tiba di rumahnya tengah malam. Satu jam setelah ia menjemput Hankyung. Beberapa hari ini Hankyung tidak pulang. Dan dugaan Jongin benar. Hankyung akan pergi ke penginapan murahan dan bermain wanita. Jongin tak peduli jika setelah ini Hankyung akan memukulnya habis-habisan karena mengganggu acara minum-minum Hankyung dengan seorang wanita sewaan di kedai tempat biasa Hankyung menghabiskan malamnya untuk minum.

Setelah menutup pagar dengan kesusahan, Jongin memasuki halaman rumahnya. Hankyung terus merancau tak jelas dalam rengkuhan Jongin. Bahkan ketika mereka di jalan menuju rumah, Hankyung beberapa kali melepaskan diri dari Jongin dan berteriak tak jelas.

Sehun mengamati pasangan ayah dan anak itu dari balik tembok pagar sembari menerima telepon dari ibunya yang menyuruhnya pulang.

Sehun memarkirkan mobilnya di gang ujung rumah Jongin karena gang depan rumah Jongin yang tak bisa dilalui oleh mobil. Setelah memastikan Jongin masuk dan menutup pintu rumahnya, Sehun berbalik hendak meninggalkan rumah itu. Namun langkahnya terhentik ketika mendengar teriakan pria tua dari dalam kemudian disusul dengan suara bantingan suatu benda. Sehun tak dapat menerka apa yang sedang terjadi di dalam rumah tersebut.

Sayup-sayup suara teriakan Jongin mulai terdengar. Tanpa pikir panjang, Sehun segera membuka pagar dan berlari ke pintu utama rumah tersebut.

"Ini Jongin, Aboji. Bukan Eomma!" teriakan Jongin terdengar miris dari balik tembok.

"Kau tau Heechul! Kau membuatku seperti ini! Perempuan sialan!" maki pria tua itu.

Tentu saja Sehun penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Ia menerobos masuk ke dalam rumah beberapa saat kemudian. Untungnya, Jongin belum mengunci pintu tersebut. Matanya melebar, mulutnya terbuka menyaksikan apa yang sedang terjadi di hadapannya. Dibawah kungkungan pria tua itu, tubuh Jongin terkapar dengan kepala yang mengeluarkan darah. Pukulan demi pukulan mendarat di permukaan wajah Jongin. Wajah Jongin dipenuhi dengan luka, yang mengeluarkan darah. Belum lagi, ada kursi yang hancur tak jauh ditempat Sehun berdiri.

"Sialan kau Heechul!" maki Hankyung, kemudian ia tertawa seperti orang gila ketika melihat tubuh Jongin yang tak berdaya di bawahnya.

Tampaknya Jongin dan Hankyung tak menyadari keberadaan Sehun di antara mereka.

Dengan cepat, Sehun menerjang Hankyung. Ia meraih bahu Hankyung dan mencoba menjauhkan dari Jongin. Ia menahan tangan Hankyung yang hendak meraih kerahnya dengan membekukan kedua tangan Hankyung kebelakang.

Sehun melihat sebuah ruangan dengan pintu terbuka.

Tanpa berniat menyakiti Hankyung, ia mendorong Hankyung ke dalam ruangan tersebut dan menutup pintu dengan cepat. Ia mengunci Hankyung dalam ruangan tersebut. Tak peduli dengan makian yang terus diteriakkan oleh pria setengah baya itu.

Dengan panik, Sehun menggendong Jongin dan berlari keluar rumah.

.

.

.

Tulang punggung Jongin patah.

Itu kesimpulan Sehun setelah mendengarkan penjelasan medis yang tak dimengertinya dari Dokter yang menangani perawatan Jongin. Sehun tak mengerti kenapa tulang punggung Jongin bisa patah. Terlebih, Dokter menyarankan untuk Jongin melakukan operasi dan memasangkan pen pada tulang yang patah setelah melakukan pertolongan pertama dan CT Scan pada tubuh Jongin. Jongin juga mendapatkan 4 jahitan di kepala belakangnya.

Pikiran Sehun dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa ia terka saat ini. Ia bahkan tak sadar jika waktu telah menunjukkan pukul tiga pagi.

Beruntung, ia telah menelpon ibunya dan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi supaya ibunya tak khawatir tentang keadaan Sehun.

Ketika Sehun memasuki ruangan dimana Jongin dirawat, lelaki itu bergerak tak nyaman di atas ranjang. Kepalanya di balut perban, sedangkan punggung Jongin dipasang alat untuk pembidian. Wajah Jongin yang tadinya terluka dan mengeluarkan darah, sudah dibersihkan dan diberi alkohol oleh suster.

"Jongin," sapa Sehun pada jongin.

Ucapannya jelas membuat Jongin segera memalingkan pandangannya dari luar jendela ke arah Sehun berdiri.

Suaranya terdengar renyah. Sepasang mata tanpa ekspresi itu mengingatkan Sehun pada anak anjing yang ditinggalkan oleh induknya.

Jongin tak tau apa yang harus ia lakukan setelah ini. Entah berterimakasih pada Sehun, atau memaki Sehun karena telah ikut campur kedalam masalahnya.

"Bagaimana rasanya? Mendapat 4 jahitan sekaligus?" kata Sehun sembari menyunggingkan senyumnya. Sebenarnya, ia tak bermaksud untuk menyinggung Jongin. Ia hanya ingin mencairkan suasana.

Jongin tak menjawab lelucon Sehun. Ia mengalihkan pandangannya dari Sehun.

"Bisakah aku pulang malam ini?" tanya Jongin.

"Ini sudah pagi," sanggah Sehun, "Dan kau tak boleh pulang sebelum kau menyelesaikan perawatanmu,"

"Memangnya apa yang harus diselesaikan? Toh, aku akan membayar pengobatanku sendiri." Jongin berujar sembari menyentuh benda yang tampak menyerupai anti peluru pada angkatan militer itu dengan risih.

"Siang ini, kau dijadwalkan untuk operasi."

Jongin terkejut. Matanya membulat sempurna.

"Punggungmu itu patah dan harus dipasang pen,"

Jongin geram. "Tidak! Aku tak mau dioperasi! Alat aneh ini saja sudah cukup!"

Sebenarnya, Jongin mengkhawatirkan tentang biaya rumah sakit. Mendapatkan perawatan kelas atas seperti saat ini saja sudah membuat dirinya memikirkan berapa biaya yang harus ia keluarkan setelah ini.

"Apa yang kau khawatirkan? Biaya rumah sakit?"

"Kau selalu merendahkan orang lain seperti itu ya? Aku hanya memikirkan Aboji. Dia pasti sudah menungguku dirumah."

Sehun menggelengkan kepala dan berdecak kesal. Ia tidak berniat untuk merendahkan Jongin, hanya bertanya dengan jujur.

"Kau ini keras kepala sekali," ujar Sehun.

Ia mendekati ranjang itu kemudian menahan pergerakan Jongin. "Jika bergerak, maka punggungmu tak akan sembuh."

"Lalu, Aboji. Bagaimana dengan dia?"

"Ya Tuhan! Aku lupa," Sehun berkata sembari menepuk dahinya dengan tangan kanannya,"Aku tadi menguncinya di salah satu kamar di rumahmu," lanjutnya.

Ia baru ingat tadi mengunci Hankyung dalam ruangan. Ia tersenyum getir pada Jongin dan menggaruk rambutnya.

Wajah Jongin mengeras kemudian memukul tubuh Sehun dengan kepalan tangan kanannya. Tubuhnya condong ke arah Sehun.

"Hey! Aku melakukan itu karena dia terus memukulmu tanpa henti!" Sehun membela dirinya.

Sehun menjauhi ranjang namun Jongin tetap berusaha menggapai tubuh Sehun. Ia tak bisa menegakkan punggungnya, jadi hanya menggeser badannya.

"Tapi aku akan membukakan kuncinya setelah ini, aku janji," kata Sehun terlontar untuk menenangkan emosi Jongin yang meluap.

Semakin jauh,

Semakin jauh,

Dan…

Bruk!

Tubuhnya terjatuh dari ranjang dan mendarat tepat di permukaan lantai yang dingin. Wajah Jongin menampakkan kesakitan. Ia tak kuasa menahan rasa sakit yang mendera punggungnya,

"Argh! Sialan kau Sehun!"

Sehun yang terkejut, segera membunyikan bel tak jauh dari ranjang Jongin untuk memanggil perawat. Ia tak berani membantu Jongin bangkit dan menidurkannya di atas ranjang. Kata Dokter, pergerakan sekecil apapun, akan membuah tulang patah semakin parah.

.

.

.

Hankyung sedang menyendok bubur panas yang lima belas menit lalu baru dihidangkan. Sedangkan, Sehun masih menatap pria tengah baya dihadapannya dengan penuh terkaan.

Mereka tengah berada di sebuah restoran yang telah buka pagi hari seperti ini, dengan jendela-jendela tertutup kerai bergaris dan bergerigi.

Pria tengah baya itu berdiam diri selama beberapa saat. Sambil tetap menyendokkan bubur panas dengan tangannya dan siku yang disandarkan pada permukaan meja. Ia menatap sebuah titik pada ruang kosong di samping Sehun. Sehun tau jika tidak terlihat apapun di sampingnya. Hankyung hanya butuh tempat untuk sejenak memikirkan kata yang selanjutnya akan ia katakana.

Sehun yakin itu.

Sebelumnya, Sehun pergi ke rumah Jongin dan membukakan pintu ruangan dimana Hankyung dikunci. Saat itu, Sehun melihat pria paruh baya itu mendengkur keras dengan tubuhnya yang meringkuk di atas kasur lipat tak beraturan. Beberapa saat setelahnya, ia berhasil untuk membangunkan Hankyung dan membawanya ke tempat dimana mereka berada, sekarang. Dalam hati, Sehun bernafas lega karena Hankyung tidak memberontak ketika Sehun berkata tentang keadaan Jongin di dalam mobilnya saat menuju ke restoran ini.

Sehun pun masih tak menyangka jika pada akhirnya akan mengetahui hidup Jongin yang menurutnya menyedihkan ini. "Bagaimana bisa seorang Ibu meninggalkan anaknya yang masih 1 tahun. Aku benar-benar tak mengira,"

Hankyung menggeleng kecil, "Dia pergi bergitu saja. Seandainya terjadi hal semacam itu, aku tak akan menikahinya dulu. Dia meninggalkan Jongin sendiri ketika aku sedang dinas keluar kota," jelas Hankyung, "Dia tak membawa uang sepeser pun. Bahkan ponselnya ditinggalkan di lemari kami,"

Dalam hati ia mencatat apa yang dikatakan Hankyung pada Sehun. Sudah setengah jam mereka berbincang dengan keadaan Hankyung yang sudah sadar sepenuhnya.

"Setelah itu aku terpukul. Selama dua hari Jongin ditinggalkan di atas kasur tanpa memberinya ASI sedikitpun. Aku cukup beruntung mempunyai anak sekuat Jongin," Hankyung berkata dengan rendah, "Beruntung tetangga kami ada yang sedang dalam masa menyusui dan mau memberikan ASI pada Jongin," lanjutnya

"Tapi kau memukulnya dan hampir membuatnya mati semalam," sergah Sehun. Ia menggertakkan giginya. Sebenarnya, ia kesal dengan Hankyung. Namun, ketika melihat mata yang kosong pada kedua bola mata pria tengah baya itu, rasa bencinya menguar entah kemana.

"Aku sempat menyuruh Jongin untuk tinggal di rumah Imo nya di China. Tapi, ia tak ingin meninggalkanku sendiri di Korea," Hankyung menghela napas panjang, "Ia selalu berkata jika ingin hidup denganku selamanya walau aku sering memukulnya ketika mabuk,"

Sehun bungkam.

"Ini semua diluar kesadaranku," ungkap Hankyung.

Hankyung sekilas melirik jendela yang menghubungkan ruangan itu pada sebuah taman luar. Kemudian sekali lagi menatap wajah Sehun, "Jadi, Sehun, kapan aku bisa bertemu Jongin?"

"Setelah kau menghabiskan sarapanmu, Ahjussi,"

Setelah mendengar kata yang terucap dari bibir teman anaknya, Hankyung tak lagi memandang Sehun. Ia mengalihkan pandangan ke menu sarapannya yang mulai dingin dan memakannya dengan cepat.

.

.

.

Sehun tak masuk sekolah.

Itu jawaban Yifan ketika Luhan bertanya kenapa Sehun tak mengikuti latihan rutin tim basket sekolahnya beberapa menit lalu. Kini, Luhan berjalan menuju kantin seorang diri. Ia hendak mengisi perutnya yang terus meronta karena tak sempat sarapan. Sebenarnya, ia sedikit khawatir mengapa Sehun tak masuk sekolah. Ketika masih berpacaran, Sehun jarang menggunakan ijin untuk tak masuk sekolah. Maka dari itu, ia penasaran apa yang sedang dilakukan Sehun saat ini. Terlebih Jongin juga absen dengan surat Dokter, itu yang dikatakan petugas absen ketika berada di kelasnya.

Setelah mendapatkan makan siangnya, Luhan duduk di salah satu meja. Tangan kanannya memegang sendok, sementara tangan kirinya memegang sumpit untuk mengambil potongan daging. Sambil tetap memasang senyum di wajahnya, ia memakan makan siangnya dengan perlahan.

"Eonnie, dengar-dengar Sehun tak masuk karena anak kelas A itu,"

Luhan yang hendak menyendok nasi lantas menajamkan pendengarannya.

"Kau mendapatkan kabar itu dari mana?"

"Beberapa murid membicarakan ketika aku lewat di koridor. Katanya, ada seorang murid SMA kita yang melihat Sehun di rumah sakit daerah Gangnam dengan seorang pria tua, setelah ia mengikutinya, ternyata Sehun mendatangi ruang inap siswa kelas A itu,"

"Benarkah itu?"

"Entahlah. Aku sih mengira itu benar. Kau tau kan Sehun sedang dekat dengan siswa peringkat satu di sekolah itu?"

"Kupikir mereka lumayan cocok,"

"Lebih cocok jika Sehun denganku. Terlebih aku ini perempuan,"

"Jangan berhayal, Namjoo."

Luhan mendengarkan pembicaraan antar siswi yang berada di meja sebelahnya itu. nampaknya, kedua siswi itu tak sadar keberadaan Luhan. Mendengar perkataan kedua siswi itu membuat Luhan geram. Luhan menggenggam leher sendok dengan erat kemudian meletakkannya di atas meja dengan kasar. Selera makannya menguar. Ia tak mempedulikan beberapa murid menoleh ke arahnya saat mendorong kursinya dengan kasar hingga kursi tersebut terjungkal.

Kedua siswi dibelakangnya itu terkejut dan saling berpandangan,

"Sepertinya kita salah bicara, eonnie," ujar siswi bername tag Namjoo.

.

.

.

Ketika pulang ke rumahnya, Sehun mendapati Ibunya tengah membaca majalah masakan di ruang tamu. Sehun mendekati Nyonya Oh dan duduk di sampingnya. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu Nyonya Oh dengan manja.

"Eomma,"

"Sehun? Apakah keadaan temanmu itu sudah baik?" tanya Nyonya Oh tanpa mengalihkan pandangan dari majalah yang sedang dibacanya.

"Siang ini, Jongin akan melakukan operasi, tapi Eomma…" Perkataan Sehun menggantung. Nyonya Oh menutup halaman majalahnya dan memandang Sehun dengan tatapan bertanya,

Sehun memandangi wajah Ibunya lekat, dengan pandangan memohon ia berkata,"Bisakah aku meminjam uang Eomma untuk biaya operasi Jongin?"

"Apakah dia tak memiliki uang?" tanya Nyonya Oh penasaran. Alisnya terangkat.

Sehun menggeleng tegas, "Abojinya tak bekerja dan dia adalah murid beasiswa. Mereka hidup dalam kesulitan ekonomi,"

Nyonya Oh menatap Sehun dengan penuh heran. Menatap Sehun seolah meminta penjelasan. Sehun mengulurkan jari kelingking di depan Ibunya.

"Aku akan menceritakan semuanya, tapi Eomma janji jangan beritahu Appa?"

.

.

.

Sehun menjalinkan jari-jari kedua tangannya di atas pangkuan, lantas sekali lagi menatap wajah Hankyung dari depan. Wajah Hankyung tampak khawatir. Begitu juga dengan Sehun. Kedua lelaki berbeda usia itu sedang berada di depan pintu ruang operasi dan duduk di kursi besi memanjang di koridor. Beberapa kali, Sehun memainkan ponselnya untuk menghilangkan kejenuhannya dengan memainkan game. Dan saat itu, Sehun sadar, ayah Jongin sama sekali tak berusaha mengusir rasa khawatirnya dengan meminum kopi dari Sehun. Kopi itu masih utuh tak tersentuh. Mata Hankyung terus menatap ke arah lantai dengan titik di antara sepatu boots lusuhnya.

Ada lebih banyak pertanyaan yang ingin Sehun lontarkan pada Hankyung. Tetapi apapun yang ingin ia tanyakan, hanya sebatas pikirannya saja. Melihat kondisi saat ini, tak sopan jika ia bertanya pada Hankyung. Sebenarnya, ia ingin sekali memukul Hankyung karena telah membuat anaknya sendiri seperti ini. Ini pertama kali dalam hidup Sehun, mengetahui hidup orang disekitarnya diluar nalar. Dengan menanggung penderitaan yang tidak ringan, Jongin dapat bertahan hidup selama bertahun-tahun, membuat Sehun diam-diam mengagumi seorang Kim Jongin.

Namun, ia mengurungkan niatnya ketika Jongin memohon untuk tidak menyalahkan ayahnya itu terucap. Maka, Sehun tak bisa berbuat apa-apa.

Lampu ruang operasi dimatikan. Sehun menepuk punggung Hankyung,

"Sepertinya operasi sudah selesai, Ahjussi," katanya.

Pintu ruang operasi terbuka. Seorang suster dengan rambut cokelat muncul dari balik ruangan. Ia menarik brankar. Dengan seorang suster berkacamata mendorong brankar itu. Tubuh Jongin terbaring lemah di atas brankar yang akan dipindahkan ke ruangannya. Hankyung dan Sehun menghampiri Dokter yang menangani operasi Jongin.

Setelah mengatakan jika ia berhasil melakukan operasi dan kondisi Jongin baik-baik saja, mereka menanyakan keberadaan Jongin. Namun, Dokter melarang mereka untuk menemui Jongin selama dua jam karena Jongin sedang disuntikkan obat tidur agar dapat istirahat dan menghilangkan rasa nyeri bekas jahitan. Dokter menyarankan untuk Hankyung dan Sehun kembali ke rumah mengistirahatkan diri.

.

.

.

Kilatan cahaya dari beberapa kamera wartawan berpusat pada sosok yang baru saja menginjakkan kaki keluar pintu gate kedatangan internasional di Incheon. Sosok wanita paruh baya itu menjadi sorotan beberapa orang yang berada di sekitarnya. Dengan mengenakan kemeja putih bergaris hitam, celana yang menggantung dibalut dengan mantel cokelat hangat, wanita itu menyunggingkan senyuman ke arah kamera.

"Kim Heechul-ssi," sapa beberapa wartawan di depan gate tersebut.

"Bisa kah kau melihat ke arah kamera kami?"

"Disini, Kim Heechul-ssi,"

"Kim Heechul-ssi, bagaimana rasanya kembali ke negara kelahiran anda?"

Setelah beberapa saat ia menjawab pertanyaan wartawan tentang kepulangannya ke Korea, wanita bernama Kim Heechul itu berjalan mendekati sebuah mobil van dan memasukinya setelah seorang assisten mengurus beberapa kopernya.

"Sudah semuanya?" tanya Heechul kepada assisten perempuan itu.

"Sudah. Semuanya sudah diurus sedemikian rupa,"

"Bisakah kita pergi ke suatu tempat sebelum aku ke hotel, Jessica?"

Assisten yang dipanggil Jessica itu menganggukkan kepalanya kuat, "Baik. Tapi, kita hanya memiliki waktu 2 jam sebelum menghadiri undangan Presdir Jang untuk membicarakan kontrak kerja,"

.

.

.

Rumah sederhana itu tampak seperti terakhir kali Heechul meninggalkannya. Rumput-rumput liar mulai tumbuh di lantai tampak membuat risih pandangan matanya. Terlebih melihat ada lumut menempel di dinding-dinding rumah dan pagar besi yang mulai berkarat.

Heechul mendekati rumah itu dengan langkah beratnya. Matanya terus menerawang di satu titik sudut rumah tersebut. Memandangi setiap sudut halaman depan rumah dengan perasaan berkecamuk. Pintu rumah itu tertutup dan tampak sepi. Rumah itu dalam keadaan kosong.

Heechul hendak mendekati rumah itu, namun niatnya terhenti ketika mendengar derap langkah besar seseorang. Dari kejauhan melihat seorang pria yang sangat dikenalnya berjalan ke arah Heechul. Heechul segera bersembunyi di balik pagar rumah sebelah dengan menurunkan topi beige untuk menutupi wajahnya dan meninggikan syal tebal cokelat untuk menutupi wajahnya.

Ia memperhatikan gerak gerik pria tersebut yang berjalan terburu-buru memasuki rumahnya.

"Hankyung," gumamnya.

Tubuh pria yang ternyata Hankyung itu semakin kurus dan tumbuh kumis halus di wajahnya. Pria yang sudah lama ia rindukan, namun tak dapat ia temui. Ketika Hankyung berbalik untuk menutup pintu pagar, ia bertemu mata dengan Heechul. Mereka saling beradu pandang. Hankyung terpaku beberapa saat.

Memori mereka sebagai pasangan suami-istri beberapa tahun silam muncul. Hankyung tahu betul sorot mata itu. Walaupun jarak mereka tak lebih dari 5 meter. Menyadari syal yang melorot, dengan panik, Heechul meninggikan syal yang hampir menutupi wajahnya dan pergi dari gang itu dengan berlari.

Hankyung membuka kembali pagar berkarat itu kemudian berlari mengejar Heechul. Namun, saat di ujung gang, Hankyung kehilangan jejak Heechul karena wanita paruh baya itu masuk ke dalam van-nya dan van itu melaju meninggalkan perkampungan itu.

"Kau kah itu, Heechul?" gumam Hankyung tanpa sadar.

.

.

.

TO BE CONTINUED

A/N:

Cerita ini semakin absurd kelihatannya.

Saya memadatkan konflik disini dan lebih banyak HunKai chapter ini. Luhannya di simpen dulu ya.

Saya nggak bermaksud menistakan salah satu cast disini.

Untuk "Kim Heechul", saya Genderswitch – in disini.

Terimakasih review, follow dan favoritenya!

Jika repson baik, saya akan melanjutkan.