.
Eternally Love
By Punchjongin ©
Kim Jongin – Oh Sehun – Xi Luhan
T
.
.
.
Chapter 5
.
"Apa kau baik-baik saja?"
Ketika Sehun berbicara untuk yang kelima kalinya dengan kata sama, ia beringsut lebih dekat ke dinding dan duduk di samping Jongin. Jongin hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan kata apapun.
Mereka sedang berada di peron stasiun. Jongin menolak ajakan Sehun untuk mengantarkan ke rumah dengan mobilnya dan lagi-lagi, Sehun harus meninggalkan mobilnya terparkir di public parking.
"Are you okay?" tanya Sehun, lagi.
Jongin jengah, merasa terganggu. Kemudian, Jongin berdiri dan diam di tempatnya.
"Kenapa kau berlari begitu saja?"
Lelaki berkulit tan itu tetap enggan mengeluarkan suaranya.
Dengan alisnya yang sedikit berkerut, Sehun berseru, "Answer me!"
"Bisakah kau tak mencampuri urusan orang lain?" Jongin melanjutkan, "Tidak ada gunanya melakukan hal seperti ini,"
"Apa yang kau katakan?"
"Jangan berada di sekitarku lagi,"
Jongin beranjak dan berjalan menuju line untuk mengantri masuk dalam kereta. Ketika ia merasa Sehun masih mengikutinya, ia menghentikan langkahnya dan menoleh pada Sehun, "Kembalilah ke café. Kau tak perlu mengikutiku lagi dan hari-hari seterusnya,"
Kereta datang dan pintu peron terbuka otomatis tepat setelah Jongin mengakhiri pembicaraannya. Sehun hanya terdiam melihat sosok Jongin yang mulai menjauh lalu masuk ke dalam kereta.
.
.
.
Jongin memasuki rumahnya ketika jam menujukkan pukul 8 malam saat Hankyung sedang menonton televisi yang menyiarkan berita lokal. Ia segera mematikan dengan remote ketika Jongin duduk di sebelahnya tanpa mengganti seragam sekolahnya.
"Kenapa Aboji mematikan televisi?" Jongin cemberut, kesal.
"Karena kau belum mengganti seragammu. Ganti seragammu dulu, lalu duduk kembali disini,"
Jongin menggeleng lalu memeluk Hankyung dengan tiba-tiba. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Hankyung. Matanya terpejam. Tangannya masih menggelayut di pundak Hankyung ketika dengan lembut Hankyung mengusap rambut Jongin hati-hati.
"Biarkan seperti ini, Aboji,"
Jongin memang belum pernah bertemu dengan ibu kandungnya sejak ia dapat mengingat bagaimana wujud dari ibu kandungnya. Terakhir kali bertemu, saat dirinya berumur 5 tahun itu karena Hankyung pergi ke New York mengajaknya untuk menyusul Heechul. Ia hanya mengingat memori kecil dimana ada cahaya lampu gemerlap, gedung pencakar langit dan kehidupan mewah. Selain itu, ia tak ingat apapun. Ia hanya mendengar cerita tentang Ibunya dari mulut Hankyung yang jarang sekali membicarakan tentang ibunya.
Jongin hanya mengetahui satu fakta dari Ayahnya jika Ibunya bernama Kim Heechul.
Ia mencari tau tentang Ibunya ketika ia mendapatkan ponsel baru yang diberikan Ayahnya karena ia berhasil memenangkan olimpiade sains nasional dengan posisi juara 3. Sejak saat itu, ia berusaha mencari tau akan sosok ibu kandungnya yang sering diteriakkan Hankyung ketika memukuli dirinya. Dan, dugaannya itu diperkuat dengan selembar foto yang di simpan Hankyung dalam lemarinya juga kumpulan surat pesan singkat yang dikirim dari New York yang tak pernah Hankyung balas.
Satu hari setelah ia mendapat ponsel barunya, ia mengetikkan nama 'Kim Heechul' pada mesin pencari di internet. Dan dari situ, foto yang di tampilkan oleh mesin pencari sama persis dengan foto yang dimiliki Hankyung. Sejak saat itu, ia sering menggunakan ponselnya untuk mencari tahu informasi tentang ibunya yang dikenal sebagai aktris international.
Ia mengetahui jika keberadaan dirinya dan ayahnya di tolak oleh ibunya. Maka dari itu, ia tak pernah menyesalkan itu terjadi dan tak memikirkan persoalan itu berlebihan. Menurutnya, menjalani hidup kedepan adalah tujuan berikutnya tanpa mengetahui masa lalu dirinya. Jongin bersumpah tidak akan pernah mengganggu kehidupan ibunya, setidaknya tidak untuk dua kali.
Selepas sekolah, aku ingin bekerja dan tidak lagi mengandalkan uang bulanan ibu, pikir Jongin.
Saat ayahnya menyuruhnya untuk meninggalkan Seoul dan pergi ke China untuk memulai hidup baru dengan Imonya, ia berulang kali menolak. Pada saat keberangkatan, Jongin kabur dari ayahnya saat mereka berada di airport untuk menunggu pesawat menuju China. Pada akhirnya, Jongin kembali ke rumah setelah beberapa hari. Menemukan Hankyung khawatir. Hankyung akhirnya mengalah. Jongin tidak memakai marganya, itu karena kesalahannya.
Jongin tidak pernah menyesal mempunyai ayah seperti Hankyung dan masalah Hankyung yang selalu memukuli dirinya saat mabuk, adalah sisi buruk dari ayah kandung yang harus diterima. Ia tak ingin kehilangan satu-satunya orang tua yang merawat dan menerimanya.
Dengan langkah ringan, Jongin mengikuti Hankyung yang berjalan ke arah dapur setelah Jongin melepas pelukannya. Sejak kejadian dimana ia mendapat beberapa jahitan akibat ulah Hankyung, lelaki berumur akhir 30 tahun itu mencoba untuk berhenti mengkonsumsi alkohol. Setelah Jongin pulang dari rumah sakit pun, ia selalu berada di rumah untuk menjaga anak tunggalnya dan tak pernah pergi bermalam dengan wanita lain.
Dapur yang sempit dipenuhi aroma kopi itu tercium. Hankyung sedang merebus campuran bubuk kopi dan air panas di atas kompor.
Begitu ia melihat sekilas sosok Jongin yang duduk di meja makan, ia tersenyum dan bertanya, "Kau lapar?"
Jongin menggeleng, "Tidak. Aku sudah makan tadi,"
Ia masih mengamati kegiatan Hankyung dengan intens. Dalam bayangannya, jika ada seorang ibu di dalam dapur dan menemani Hankyung untuk merebus kopi kesukaannya, mungkin akan terasa lengkap. Namun, ia menampik. Setiap keluarga pasti memiliki suatu masalah dan inilah takdir keluarganya.
Begitu selesai dengan rebusan kopinya, Hankyung menuangkan pada cangkir keramik dan mencampurnya dengan sesendok teh gula. Hankyung segera mengambil cangkir itu dan membawanya ke meja makan.
Beberapa saat kemudian, Jongin masuk ke dalam kamarnya. Membersihkan diri dan juga bersiap untuk tidur, karena esok hari ia harus bekerja di kedai.
.
.
.
Pada hari minggu, angin berhenti berhembus. Hari yang tenang dan hangat, beda sekali dari tadi malam. Setidaknya, itu pikiran Heechul. Orang-orang melepas mantel yang berat, menikmati sinar matahari. Namun, Heechul tidak ikut menikmati cuaca cerah diluar. Dia melewatkan hari mengurung diri di dalam kamar hotel.
Jessica khawatir dengan keadaan Heechul, berulang kali mengetuk pintu hotel atau menelpon dirinya. Namun, Heechul sama sekali tak berniat untuk merespon apa yang dilakukan Jessica.
Di atas tempat tidur beralas warna putih itu tersebar beberapa foto dari beberapa amplop yang sering ia bawa ketika berpergian. Matanya masih bengkak. Dan cairan bening masih tersisa di sudut matanya. Ia teringat ketika pertama kali menyewa investigator untuk menggali informasi terbaru dan keadaan keluarga kecilnya.
"These are the photos that the private detective sent over previously" kata seorang sembari menyerahkan amplop yang dibawanya pada Heechul ketika berada di New York. Heechul membuka amplop itu dengan perlahan. Foto-foto suami dan anaknya yang berada di Korea. Ia memang menyewa detektif swasta untuk mengetahui kabar tentang keluarga yang sudah lama ditinggalkannya.
'There's been no change? Hanya Jongin yang semakin tumbuh besar,' batin Heechul.
Tangan kanannya menggengam erat foto seorang lelaki muda yang sedang menyumpal kedua telingannya dengan earphone dengan latar pinggir jalan. Lelaki itu tak berekspresi dan mengenakan seragam sekolahnya yang ia kenakan dengan rapi. Tak jarang, difoto-foto lainnya, menampakkan lelaki yang sama dengan mengenakan kacamata baca besar yang hampir memenuhi wajahnya. Tidak ada ekspresi yang berubah signifikan dari lelaki tersebut. Kim Jongin. Lelaki muda itu Kim Jongin.
Ada juga beberapa foto seorang pria tua yang beberapa diantaranya mengenakan jaket parka hijau tua yang sudah usam. Dari foto keluar sebuah bar, minum alkohol di sebuah kedai pinggir jalan hingga tertidur di trotoar pun ada dalam foto-foto tersebut. Ya, dia Tan Hankyung.
.
.
.
Usai makan siang pada jam istirahat beberapa hari berikutnya, Jongin memasuki toilet dan hendak menuju bilik toilet. Namun,
Byur.
Tiba-tiba seragamnya basah kuyup karena air yang mengguyur dari atas tubuhnya. Jongin mendongak, dan mendapati wajah Luhan yang sedang menyeringai di atas sana. Lelaki itu sepertinya menaruh kursi di bilik toilet untuk memudahkan aksinya.
Sebenarnya, Jongin hendak membalas perbuatan Luhan. Namun, ia sadar diri, ia tak mau berurusan dengan Luhan semakin jauh.
"Kau akan seperti ini jika terus berada di dekat Sehun, Jongin,"
Luhan menarik dagu Jongin. Lalu menyeringai. Jongin diam tak berkutik. Jika saja Luhan bukan salah satu donatur di sekolah ini, Jongin pasti akan membalasnya. Pasti.
"Aku sudah menyuruhnya untuk tak didekatku," jawab Jongin dengan berusaha melepaskan tangan Luhan. Luhan menghempaskan tangannya kasar.
"Kau pikir kau siapa? Seharusnya kau yang menjauh darinya," kata Luhan dingin.
"Aku tak pernah mendekati Sehun," bantah Jongin.
"Siswa miskin sepertimu ingin menunjukkan eksistensi dengan cara apapun. Apa orangtuamu tak pernah memberitahu apa itu sopan santun padamu?"
Jongin menggeleng. Matanya menajam. Tubuhnya seolah digerakan oleh emosinya dan mendorong Luhan hingga dia terjatuh kebelakang, "Jangan pernah bawa orangtuaku, Luhan. Kau boleh merendahkanku, tapi tidak dengan orangtuaku,"
Luhan yang mendengar perkataan itu, membuat gerakan seolah membuang ludah. Jongin mengatakan itu sebelum ia beranjak dan keluar dari kamar mandi. Meninggalkan Luhan yang masih diam di tempatnya.
Tanpa menarik perhatian siapapun, Jongin memasuki ruang ganti khusus olahraga dengan keadaan basah kuyup. Jongin beruntung, karena ia selalu menyimpan seragam olahraga di loker khusus olahraga di ruang ganti tersebut. Ia membuka lokernya dan mulai melucuti kemejanya. Ketika ia hendak memakai seragam atasan olahraga, ia beringsut minggir dan mencoba menutupi badannya dengan pintu loker yang terbuka.
Jongin mendengar ledakan tawa dan suara dari arah pintu masuk. Sepertinya anggota klub olahraga menghabiskan jam istirahat untuk berlatih. Salah satu dari gerombolan yang memasuki ruang ganti adalah Yifan. Yifan menyadari keberadaan Jongin karena sepatunya yang tak ikut tertutup oleh pintu loker. Lelaki bermarga Wu itu berjalan mendekati loker yang terbuka. Mendapati Jongin mengerutkan keningnya, panik.
"Apa kau mengikuti klub renang?" tanya Yifan setelah melihat rambut dan sekujur tubuh Jongin basah. Saat ia menelisik, ia menggelengkan kepala.
"Kau memakai sepatu saat berenang?" Yifan menujuk alat pembidian Jongin yang ikut terkena air, "Kurasa kau tidak mungkin berenang dengan keadaan seperti itu," lanjutnya.
Mendengar perkataan Yifan, Jongin mengangkat kepalanya dan tersenyum -kaku-, "Aku terjatuh di kamar mandi,"
Yifan sepertinya menangkap perkataan Jongin dengan pemikirannya. Ia hanya mengangguk, "Kau bisa mengatakannya pada Sehun, jika Luhan memperlakukanmu berlebihan."
.
.
.
Sejak hari itu, Sehun memutuskan untuk tidak melibatkan Jongin dalam masalahnya dengan Luhan. Sudah seminggu sejak Jongin mengatakan itu pada Sehun, kini mereka tidak saling melihat, menghindari satu sama lain, dan mengabaikan rasa cemas pada Jongin. Donghae pun mengatakan jika Jongin tidak ada dalam daftar pasien rutin yang harusnya ia lakukan, setelah Sehun bertanya pada Donghae. Sehun tidak yakin atas keputusan Jongin tersebut setelah mendengar informasi dari Donghae yang seharusnya pasien rutin melakukan check up –setelah operasi- dan mengganti perban, namun Jongin tidak. Sehun masih berpikir untuk menyeret Jongin ke rumah sakit untuk yang kedua kalinya, belum.
Mengikuti latihan rutin klub basket SMA Yongsan adalah kegiatan Sehun setelah bel sekolah usai berbunyi. Beberapa anggota baru sedang menunjukkan kemampuannya untuk shoot bola. Sehun berjalan memasuki lapangan ketika Yifan –ketua klub dan team basket– sekolahnya tengah berdiri di dekat barisan anggota baru. Anggota baru dibagi beberapa kelompok, salah satu kelompok dilatih oleh Yifan. Sedangkan kelompok lain, berada dalam intruksi team basket inti sekolah. Sehun, mendapat satu kelompok kecil beranggotakan 3 orang. Mereka sedang menunggu kedatangan Sehun yang terlambat 5 menit.
"Pakai kekuatan lengan, bukan pergelangan tangan," ujar Sehun pada seorang siswa bernama Minhyuk yang sedang mencoba menembak bola ke ring.
"Akhirnya kau datang," seru Yifan tak jauh darinya. Sehun tersenyum dan mengangguk.
"Maaf aku terlambat," balas Sehun.
.
.
.
Di ruang ganti olahraga, setelah berganti baju dan mengevaluasi latihan kali ini, anggota klub basket diperbolehkan untuk pulang.
Ketika sedang memasukkan baju ke dalam tas besar miliknya, Sehun dikejutkan oleh tepukan punggung dari Yifan.
"Kuharap kau akan terus mengikuti latihan,"
Mendengar ucapan Yifan, Sehun mengangguk cepat, "Tentu. Pasti aku melewatkan banyak hal ya?"
Yifan mengangguk. Ia mengambil tempat dan duduk di dekat Sehun.
"Kupikir klub ini akan kehilangan shooter terbaik," ujar Yifan, meneguk air mineralnya.
"Tidak akan. Aku tidak akan keluar hanya karena masalah dengan Luhan,"
"Dan juga, Jongin." Yifan menimpali.
"Jongin?" tanya Sehun polos.
"Ya. Kau telah melibatkan anak nomor satu itu. Pada akhirnya, ia menjadi bulan-bulanan Luhan,"
"Maksudmu?"
"Kau tau, Sehun?" Yifan mengangkat alisnya, "Waktu istirahat, aku bertemu dengan Jongin ketika ia sedang mengganti seragam basahnya," lanjutnya.
"Lalu?" Sehun menunggu kelanjutan cerita Yifan.
"Kudengar Luhan yang melakukannya,"
"Jongin bercerita padamu?"
Yifan menggeleng dan berkata, "Jongin tak mengatakan apapun. Aku hanya mendengar dari beberapa siswa yang berbisik di koridor,"
Tiba-tiba Sehun teringat Luhan yang merusak ponsel Jongin. Dan, sepengetahuan Sehun, didepannya, Jongin tak pernah menggunakan ponsel.
"Kau menjadi siswa penggosip, sekarang?"
"Leluconmu tidak lucu, Oh Sehun" kata Yifan, "Sepertinya anak itu masih berat meninggalkanmu, Sehun," sambungnya.
"Kupikir juga begitu,"
"Jangan libatkan Jongin dan selesaikan masalah kalian tanpa orang lain,"
"Aku sedang menjauhinya,"
Yifan mengangguk walaupun ia ragu. Ketika mereka selesai berbincang, Yifan mendapat panggilan dari ponselnya.
"Who called?" tanya Sehun setelah Yifan selesai menerima panggilannya.
"My mom," Yifan meraih tas besarnya, "I'm leaving. Bye Sehun," dan mengatakan pada Sehun jika ia harus segera pulang. Yifan pergi.
Sehun melangkah menuju parkiran yang telah sepi. Dengan cepat, ia masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan mesin. Ia meninggalkan kawasan sekolah dengan kecepatan rata-rata. Mobil Sehun tak langsung melaju rumahnya. Ia membelokkan setir menuju pertokoan. Dari bagan jalan, Sehun dapat melihat Jongin sedang sibuk melayani pembeli. Rasanya, sudah lama Sehun tak berbincang dengannya. Ia berada disana selama beberapa menit lalu ia kembali melajukan mobilnya ke blok ujung untuk pergi ke suatu tempat. Setelah memarkirkan mobilnya, Sehun turun dan berjalan menuju Samsung Store.
.
.
.
Jongin kembali ke rumah ketika jam 11. 23 malam. Hankyung menyambutnya di meja makan yang penuh makanan. Hankyung telah mengetahui tentang pekerjaan Jongin. Ketika Hankyung merasa keberatan dan hendak menggantikan Jongin untuk bekerja, Jongin melarangnya. Bahkan ketika Hankyung memaksa, Jongin tidak berbicara dengannya selama 2 hari. Hankyung mengalah. Sifat keras kepala Jongin menurun dari ibunya. Mereka sama-sama keras kepala dan tidak ingin mengandalkan orang lain. Mereka akan puas dengan pekerjaan tangannya sendiri.
Hankyung sedang memanaskan samgyetang ketika Jongin datang dan duduk di atas meja makan. Jongin melihat meja makannya yang penuh dengan makanan yang jarang berada di atas meja mereka. Gimbap, miyeok guk, galbi, kimchi dan juga samgyetang.
"Aboji, apa kau yang membeli semua ini?" Jongin panik. "Bukankah sudah ku bilang? Uang bulanan akan kusisihkan beberapa untuk hutang Siwon-ahjussi? Kenapa Aboji mengambilnya?" runtutnya.
Hankyung memang memperhatikan menu makan mereka berdua setelah Jongin keluar dari rumah sakit. Biasanya, menu makanan mereka hanya sebatas kimchi jjigae, telur goreng, ikan panggang atau tuna kaleng. Namun tidak, malam ini. Mereka terlibat percakapan kecil mengenai menu makan untuk keesokan harinya. Dan Hankyung hanya mengatakan jika ada temannya yang berbaik hati memberi makanan tersebut
Beberapa waktu kemudian, Hankyung kembali menuju meja makan dengan mangkuk penuh dengan samgyetang. Kemudian, Jongin mengambil dua mangkuk nasi dari mesin penanak. Mereka mengambil duduk masing-masing dan mulai makan dengan tenang.
Seusai mereka menyantap makan malam dan membereskan peralatan makan, Hankyung memberikan sebuah ponsel keluaran terbaru berwarna putih pada Jongin.
"Kenapa Aboji berikan ini padaku?" tanya Jongin ketika menerima ponsel putih itu.
"Kudengar, ponselmu rusak. Itu pengganti ponselmu yang rusak,"
Jongin curiga dengan kata 'kudengar' dari Hankyung. Pandangannya menelisik. Seolah membaca apa yang sedang terjadi, "Sehun yang memberikannya?" Jongin melanjutkan, "Apa Sehun juga yang memberikan makan malam hari ini?"
Jongin yakin, jika Abojinya tak mungkin memegang uang sebanyak harga ponsel atau menu makanan. Karena, beberapa tahun belakang, Jongin lah yang menghandle kebutuhan mereka sehari-hari dengan uang kiriman ibunya.
Hankyung tergagap, "S-s-sudah, pakai saja."
"Aku tau Aboji tak mungkin mengeluarkan uang banyak untuk membeli ini semua," Jongin melanjutkan, "Apa Sehun mengatakan pada Aboji untuk merahasiakannya?"
Jongin mengangkat alisnya dan memandang Hankyung, dalam. Hankyung terkejut, "Sehun tadi datang dan memberikan ponsel itu," Hankyung merogoh sakunya, "Dan ini,"
Ponsel hitam dengan seri sama berada ditangan Hankyung.
Jongin menggeleng, tidak suka. "Aboji, jangan pernah menerima barang dari siapapun, apa Aboji lupa kata-kata Aboji dulu?"
Jongin mengambil ponsel hitam tersebut dan memegangnya dengan ponsel putih -miliknya-. "Aku akan mengembalikannya esok di sekolah. Aku akan membayar hutang pada Siwon-ahjusshi dan Sehun –pembayaran rumah sakit Jongin– segera. Aboji jangan memberatkanku dengan menerima bantuan orang lain. Arraseo?"
.
.
.
Jongin menarik pergelangan tangan Sehun ketika Sehun akan memasuki ruang ganti olahraga. Sehun mengangkat alisnya. Sikap dinginnya kembali. Padahal, ada beberapa perubahan radikal yang dialami Sehun selama bersama Jongin. Itu hanya bisa dirasakan oleh orang terdekat Sehun.
Jongin menghempaskan tangan Sehun ketika mereka berada di koridor yang jauh dari murid. Dengan cepat, Jongin merogoh saku celana dan menarik dua ponsel keluar. Tangan kirinya membuka telapak tangan Sehun dan menaruh dua ponsel itu dengan tangan kanannya.
"Ini ponselmu," kata Jongin.
"Apa ini?" tanya Sehun penasaran.
"Sebenarnya apa rencanamu lagi? Sungguh, Sehun. Jika itu menyangkut kau dan Luhan. Aku tak ingin ikut campur," jawab Jongin, "Kau memberiku rumah, mobil atau uang pun aku tak mau melakukannya. Itu sama saja menyamakan hati dan materi,"
"Lalu, kenapa kau mengembalikannya? Aku memberikan padamu karena Luhan merusak ponselmu. I feel bad about what happened,"
"That's just ridiculous!"
"Kenapa kau tak terima saja? Itu akan lebih baik,"
"Tidak. Pernahkah kau meminta ijinku dulu sebelum melakukan sesuatu yang berhubungan denganku? Tidak, Sehun!" Jongin mengepalkan tangannya keras.
Sehun terdiam. Jongin benar, batin Sehun.
"I worked so hard to received this scholarship. Tolong jangan membuat ini sulit," seru Jongin. Ia menggertakkan giginya dan rahangnya mengeras.
Ia kembali merogoh sakunya untuk mengambil sebuah amplop dan diberikan pada Sehun, "Dan ini hutangku sebagian. Aku membutuhkan waktu untuk membayar keseluruhan,"
.
.
.
Heechul menurunkan kaca jendelanya. Sementara, sesosok lelaki muda mengenakan seragam sekolah berjalan melewati mobilnya. Heechul menahan napas. Jantungnya tak berdetak dengan stabil seakan ditusuk-tusuk benda tajam. Dan wajahnya mulai memanas dengan mata yang memerah.
Ketika lelaki yang ia kenal itu memasuki sebuah kedai ramen yang berjarak tak jauh dari mobilnya, air matanya tumpah seketika. Ingin rasanya ia keluar dari mobil dan mengejar lelaki itu, memeluknya dengan hangat. Namun, sepertinya itu hanya keinginan yang tak bisa ia wujudkan untuk saat ini. Melihat pertumbuhan anaknya yang semakin pesat, ingin sekali ia bertanya bagaimana hari-hari yang ia lalui di sekolahnya. Bertanya apakah dia dapat mengikuti pelajaran dengan baik.
Namun, seolah gelombang yang besar telah menunggu didepannya, ia berlari menghindari ombak tersebut.
"Kim Jongin… Apa kau bersekolah dengan baik?" lirih Heechul dengan bibir gemetar keras.
.
.
.
Sehun tak pernah terlibat masalah seperti ini. Sebelumnya, ia bahkan tak akan memulai percakapan pada orang asing terlebih 'mengikuti' untuk memohon sesuatu. Itu sama sekali bukan Sehun. Ia tidak menyangka cintanya pada Luhan rumit dengan orang ketiga bahkan ke empat. Namun, serumit apapun, bukankan cinta harus diperjuangkan?
Terlebih, ia belum pernah ikut campur dengan kehidupan orang lain. Meminta Paman Yesung untuk menerima lamaran pekerjaan Jongin secara diam-diam tanpa diketahui oleh Jongin, sengaja meminta bekal dengan porsi lebih pada Nyonya Oh untuk dibagi oleh Jongin, menolong Jongin selama perawatan, memberikan ponsel pada Hankyung dan Jongin secara cuma-cuma, dan hal-hal kecil lainnya.
Sehun memasuki pintu rumah utamanya dengan semangat setelah ia melihat mobil Tuan Oh terparkir di halaman. Mendapati Tuan Oh sedang sibuk dengan laptop dan Nyonya Oh berada di sampingnya untuk mengamati kegiatan Tuan Oh, Sehun meluncur menuju sofa dan menduduki sofa di antara ayah dan ibunya dengan sedikit memaksa keduanya untuk bergeser memberinya tempat. Berada dalam keluarga yang lengkap dan harmonis membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang hangat pada orang yang sudah dikenalnya.
"Bagaimana sekolahmu, Sehun?" suara Tuan Oh mengawali perbincangan mereka. Ia menarik diri dari laptop dan menatap anak tunggalnya.
"Tidak banyak berubah. Aku tetap memperoleh nilai 60 pada matematika dan latihan basket seperti biasa,"
Tuan Oh terkekeh, "Kau sama saja dengan eomma-mu. Tidak bisa diandalkan dalam pelajaran matematika, padahal appa pintar dalam hal itu," ujar Tuan Oh membanggakan dirinya.
"Kau maksud kami ini bodoh, Oh Kyuhyun?" seru Nyonya Oh sembari memukul lengan Tuan Oh.
Sehun tertawa dengan interaksi ayah dan ibunya. Mereka memang mempunyai love-hate relationship. Mungkin itu yang membuat hubungan antar keduanya bertahan hingga saat ini.
"Appa dengar dari Donghae, minggu lalu kau membawa temanmu ke rumah sakit. Siapa dia?" tanya Tuan Oh, kembali dengan pekerjaannya pada laptop.
"Teman sekolahku. Namanya Kim Jongin," jawab Sehun.
"Dan kau tau, Kyu-"
Sebelum Nyonya Oh melanjutkan perkataannya, Sehun menggenggam punggung tangan ibunya dan menggeleng kecil.
"Apa, Sungmin?" tanya Tuan Oh menoleh pada anak dan istrinya. Nyonya Oh menggeleng.
"Tidak. Aku lupa ingin mengatakan apa,"
Sehun bernafas lega.
.
.
.
Pada pukul 9 malam, pintu rumah Hankyung di ketuk enam kali oleh seseorang. Hankyung yang sedang menyetrika pakaian Jongin, seketika menghentikan kegiatannya dan berjalan menuju pintu. Setelah kenop pintu diputar dan pintu dibuka, Hankyung terdiam. Ia tidak dapat menggerakkan tangannya untuk mempersilahkan masuk atau menutup pintu kembali. Matanya berair dan jantungnya lebih cepat berdetak.
Heechul berada di depannya. Persis di depannya dengan senyum canggung.
Setelah tersadar dari lamunannya, Hankyung menyingkir untuk memberi jalan Heechul masuk. Heechul berdecak kagum dalam hati. Rumah yang dulu ditinggalinya tidak berubah sama sekali. Sofa, tata meja, ataupun televisi kecil yang berada di tengah ruangan. Heechul duduk di seberang Hankyung. Mereka sama sekali belum bercerai namun terpisah selama bertahun-tahun.
"Apa kau masih sudi berada di rumah ini?" Hankyung berkata dingin. Tangannya mengepal dan rahangnya mengeras.
"Apa yang kau katakan? Aku hanya ingin menemui kalian,"
"Apa kau punya rasa malu? Setelah meninggalkan bayi Jongin, dan menemuinya tanpa rasa bersalah sedikitpun?"
"Aku sudah bertemu dengan Jongin,"
Hankyung terdiam. Ia menerka bagaimana mereka bertemu.
Setelah ia rasa Hankyung tak membalas perkataannya, Heechul melanjutkan, "Jongin adalah teman dari anak temanku, Oh Sungmin,"
"Lalu?" tanya Hankyung meninggi, "Apa kau ingin merebut Jongin dariku?"
Heechul menggeleng, "Tidak. Aku belum siap,"
"Kau memang tidak pernah siap. Tidak pernah siap untuk melepaskan impianmu demi anakmu, dan keluargamu,"
"Bukankah kau tau sendiri, itu pilihan berat bagiku?"
"Ya. Aku tau. Seharusnya dari awal kau tak menolak perjodohanmu dengan konglomerat itu supaya kau tak hidup sulit," Hankyung geram.
Heechul menarik napasnya dalam, "Jangan mengungkit itu lagi,"
"Oh begitu rupanya," balas Hankyung, "Kau membuang kami seperti sampah, dan kau menemui seperti pecundang,"
"Jaga ucapanmu, Tan Hankyung!" seru Heechul.
Hankyung berdiri menghadap pada Heechul, "Kalau begitu, apa yang akan kau lakukan? Hah? Kau sendiri yang menolak penandatanganan surat cerai, dan kini…" kata Hankyung, "Perempuan jalang!" lanjutnya.
Begitu Hankyung mengatakan itu pada Heechul, mata Heechul langsung terbelalak lebar. Ia berdiri dengan spontan dan melayangkan tamparan pada pipi kiri Hankyung, kencang.
"Apa kau tidak sadar dimana letak kesalahanmu, Kim Heechul? Cih! Kau bahkan tak mengubah margamu menjadi Tan,"
"Kenapa kau selalu mempermasalahkanku? Aku selalu mengirim kalian uang setiap bulan. Kau bahkan selalu memukul Jongin saat mabuk, bukan?"
Hankyung terkejut, tak berkata apapun.
"Aku mengetahui semuanya, Tan!" teriak Heechul kalap, "Kau menghancurkan perasaan Jongin,"
"Bukan aku yang menghancurkannya! Tapi kau, jalang!" pekik Hankyung.
Tangannya terangkat, hendak melepaskan tamparan telak pada pipi Heechul. Namun, tangan seseorang menggenggam erat pergelangan tangannya, ia tak bergerak. Heechul menoleh ke samping. Mendapati Jongin yang melakukan itu. Ia baru saja memasuki rumah tersebut dan melihat Hankyung yang berapi mengangkat tangannya.
"Kau bisa dituntut karena melakukan tindak kekerasan pada public figure, Aboji," sahut Jongin. Tangan Hankyung terlepas perlahan. Dan tubuhnya beringsut pada sofa.
Jongin mengalihkan pandangan pada Heechul kemudian membungkuk sejenak dan menegakkan badannya seperti semula. Pandangannya dingin.
"Jwesonghamnida. Maafkan Aboji saya," sahut Jongin dengan sopan.
"Jongin, apa kau tidak ingat aku?" tanya Heechul lirih.
Jongin tidak menjawab pertanyaan Heechul, meskipun mendengar. Ia hanya menunjuk dengan tangannya letak pintu yang masih terbuka, "Anda bisa keluar sekarang," kata Jongin halus.
"Jongin. Ini aku, Eomma-mu," suara Heechul bergetar.
Heechul berusaha memeluk Jongin, namun ditampik halus oleh Jongin, Jongin mundur.
Jongin menarik napasnya dalam, "Perlukah saya untuk mengantar anda menuju pintu keluar?" ucap Jongin dingin dan sedikit membentak.
Jongin tahu siapa Heechul.
Sangat tahu.
Tapi,
Bukankah ini cara terbaik?
Jongin bersumpah tidak akan pernah mengganggu kehidupan ibunya, lagi.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED
A/N :
TERIMAKASIH SUDAH REVIEW, FAVORITE, FOLLOW, PM DAN MENDUKUNG FANFICTION INI!
Saya mengganti pen name dari bbusanmenjadi punchjongin.
MAAF!
Q: Apa Heechul tau Jongin itu anaknya?
A: Tau. Jongin pun tau Heechul adalah ibunya. Semua terjawab di chapter ini. Sehun dan Sungmin belum tahu. Saat di café, Jongin pergi begitu saja.
Q: Kapan Jongin suka Sehun?
A: Seiring berjalannya waktu (?) Ehn.. belum terlalu kelihatan ya? Saya akan tunjukin dengan sikap mereka. Untuk saat ini, sedikit.
Untuk Yesaya mei : Tidak. Bukan Sehun, tapi Heechul yang ganti posisi tersebut. ^^
Bocah Lanang + Ayumkim : Iya Heechul tau. Itu semua ada di chapter ini. ^^
Jika respon baik, saya akan melanjutkan.
Fanfiction lain, saya usahakan sebelum Tahun Baru atau Natal
Selamat Libur Akhir Tahun!
-punchjongin-
