.

Eternally Love

By Punchjongin ©

Kim Jongin – Oh Sehun – Xi Luhan

T

.

.

.

Chapter 6

.

Heechul tidak mengira Jongin melakukan itu padanya. Dugaan bahwa Jongin akan berlari memeluknya, itu salah. Ini salah dirinya, ya benar. Salah Heechul. Menelantarkan anak yang seharusnya ia rawat dengan baik. Sikap dingin Jongin yang ditujukan padanya, mungkin salah satu karma yang harus Heechul tuai sendiri. Tidak hanya Jongin. Kepergiannya, berdampak buruk pada Hankyung. Alkohol dan wanita murahan. Hankyung yang dia kenal bertahun-tahun, tidak seperti itu. Bahkan, dia tidak dapat minum baik lebih dari satu gelas.

Heechul berjalan keluar rumah tersebut dengan langkah berat. Beberapa kali, ia menoleh ke belakang untuk berharap jika Jongin akan mengejarnya. Namun, pintu ditutup setelah langkah ke lima nya oleh Jongin. Ingin sekali dirinya berlari ke dalam rumah dengan mendobrak pintu tersebut, namun tidak bisa. Heechul menyusuri gang-gang sempit yang akan membawanya menuju jalan besar, dimana mobil van sudah menunggu. Tidak ada kegiatan malam pada jam segini oleh penduduk sekitar. Jalanan itu tampak sepi. Ketika ia muncul keluar dari gang sempit, Jessica berlari ke arahnya. Wajahnya panik ketika melihat penampilan Heechul yang berantakan.

"Apakah anda baik-baik saja?" serobot Jessica setelah ia meraih pergelangan tangan Heechul.

Heechul menjawab pertanyaan Jessica dengan mengangguk, terisak. Ia tak menghentikan langkahnya menuju mobil van hitam yang sudah nyala mesinnya. Sebelum beberapa orang yang berlalu lalang menyadari keberadaan Heechul, Jessica menutupi wajah artisnya dengan jacket miliknya dan menarik lembut tubuh atasannya, membimbing menuju mobil van.

"Sebaiknya kita langsung ke hotel saja, sebelum Presdir mengetahui," usul Jessica. Heechul tidak mengangguk maupun menggeleng.

.

.

.

Jongin mengulurkan secangkir teh hijau hangat pada Hankyung setelah ia memasuki kamar. Mereka sedang berada di kamar Hankyung. Hankyung menerima cangkir itu lalu meminumnya perlahan. Diantara mereka berdua, hanya ada keheningan pekat. Ekspresi wajah keduanya masih dingin. Namun, mata Jongin memerah.

"Aku tidak tahu Heechul akan datang seperti itu. Dan…" Hankyung membuka suara setelah bermenit mereka diam dalam keheningan masing-masing, "Dan mengaku sebagai Ibumu." Lanjutnya.

Jongin mengambil tempat di depan Hankyung yang duduk menghadap meja papan kayu rendah dan kecil. Ia masih menggenggam cangkir teh. Telapak tangannya menjadi hangat, menjalar dari cangkir keramik. Jongin tidak menjawab. Bukan tidak mendengar, ia ingin membiarkan Hankyung bercerita lebih jauh.

"Ini salahku. Dia menjadi seperti itu karena dia terbiasa dengan hidup berkecukupan. Aku miskin, sehingga tak dapat menghidupi kalian dengan layak." Hankyung meneteskan airmata, "Dulu, ibumu seorang anak tunggal dan pewaris perusahaan, tapi dia meninggalkan semuanya demi aku. Aku yang hanya anak yatim piatu, Jongin."

Ini pertama kalinya Hankyung bercerita dalam kepada Jongin. Jongin mengangguk saat Hankyung memandangnya.

"Kami menikah setelah kau berada di kandungan ibumu 3 bulan. Dan, kabar pernikahan sembunyi terdengar oleh keluarga ibumu. Nenekmu menjadi depresi lalu bunuh diri. Setelah itu, hidup kami menjadi buruk. Kakekmu selalu meneror kami. Aku dipecat dari pekerjaan karena kekuasaannya. Terlebih, mengancam untuk menggugurkan kandungan ibumu," Hankyung menghela napas panjang, "Waktu itu kami lari ke China, untuk menghindari kakekmu yang semakin menjadi. Ke rumah Imo-mu. Setelah mengetahui itu, kabar kami menghilang begitu saja, beliau menyewa orang yang memata-matai kami, dan orang tersebut memberikan informasi yang salah,"

Jongin tertunduk, memikirkan ucapan itu. Ia tidak mengetahui jika kedua orangtuanya melalui masa tersebut. Lebih sulit daripada apa yang dialaminya.

"Dia mengira kami tewas kecelakaan mobil di Daegu karena mobil yang digunakan korban adalah bekas mobil kami. Kami menjualnya untuk pergi dari Korea. Dan kakekmu meninggal," tutur Hankyung, seakan mengungkap rahasia.

"Lalu? Apa yang terjadi pada kalian?" tanya Jongin dengan suara gemetar.

"Kami kembali ke Korea setelah ibumu melahirkanmu. Saat ibumu datang ke rumah orangtuanya, dia sudah tercoret dari hak waris. Semua warisan dilimpahkan pada tangan kanan kakekmu. Semuanya."

Jongin mengangguk lalu menyesap tehnya. Jongin menimbang-nimbang jawaban Hankyung selama beberapa saat, "Lalu?"

Hankyung bertutur, "Aku tak mengetahui apa yang dipikirkan ibumu saat dia meninggalkan kau yang masih berumur 1 tahun sendirian. Aku telah mencarinya kemanapun. Tapi, tidak menemukan. Beberapa tahun kemudian, ibumu mengirim surat dan menyuruhku tutup mulut akan statusnya dengan jaminan uang bulanan yang akan dikirim berkala."

"Setelah itu, aku meminjam uang pada Imo-mu untuk pergi ke New York. Aku mendapatkan alamat ibumu dari alamat pengirim uang bulanan. Susah payah aku menerobos keamanan saat berada di acara penghargaan film, dan setelah kami bertemu,"

"Dia menolak mengakui suami dan bayinya. Saat itu, sedang banyak wartawan. Mungkin, ibumu tak ingin membuat skandal yang mengancam karirnya."

Selang beberapa menit. Keheningan menjalar. Seakan memastikan sesuatu, Jongin mengangguk kecil dan mengusir kecemasannya.

Jongin berkata, "Apa Aboji menyesal?"

"Untuk?" Hankyung tidak paham apa yang dimaksud anaknya.

"Membesarkanku sendiri?"

Hankyung menggeleng. Hankyung mengulurkan tangannya, dan dengan lembut meletakkan di atas tangan Jongin.

"Aku tidak pernah menyesal membesarkanmu sendiri. Tidak ada penyesalan karena kau lebih berharga bagiku lebih dari siapapun di dunia ini, Kim Jongin."

Jongin memeluk Hankyung. Sangat erat.

"Terimakasih untuk semuanya, Aboji." Jongin menghela napas pendek, "Karena aku menyadari aku bertahan untuk Aboji," lanjutnya.

"Bisakah kita mulai hidup baru? Hidup hanya aku dan Aboji. Tidak ada yang lain. Alkohol, wanita murahan, ataupun…" Jongin menggantung kata-katanya,

"Termasuk Eomma." Sahut Jongin.

Hankyung terkejut. Ia bertanya, "Apa kau yakin apa yang kau katakan?"

"Ya. Sangat yakin. Sudah lama aku dapat melepas Eomma dan tak akan mengganggu hidupnya. Jika sedikit kita mengganggunya, karirnya akan hancur. Bukankah itu juga alasan mengapa Eomma tidak memakai marga suaminya sendiri?"

Hankyung terdiam. Menatap lekat manik mata Jongin. Hanya terpancar keyakinan dan ketulusan dalam matanya. Dia tidak menemukan keraguan atas keputusannya.

"Baiklah, jika itu maumu, Jongin."

"Apa aku boleh meminta sesuatu dari Aboji?" tanya Jongin memastikan.

"Apa?"

"Bisakah Aboji mengubah margaku menjadi Tan? Marga Kim, itu membuatku sedikit sulit untuk melupakan eomma."

.

.

.

Pada 3 hari berikutnya, bel usai sekolah berbunyi dan murid SMA Yongsan berhamburan keluar. Ingin segera menghirup udara segar setelah berjam-jam duduk di ruang kelas. Termasuk Sehun. Hari ini, tidak ada latihan klub basket sehingga ia dapat mengunjungi café Nyonya Oh karena sebelumnya sudah berjanji akan mengunjungi tempat itu. Sehun memang sering mengunjungi café ibunya sebelum pulang ke rumah.

Audi A5 milik Sehun sedang berada dalam barisan mobil yang mengantri untuk keluar dari halaman sekolah. Ia merendahkan volume musik pada mobilnya ketika matanya menangkap siluet seseorang yang familiar. Orang tersebut sedang berdiri memasukkan kedua tangannya di kedua saku mantel usam dengan leher sesekali menjulur seperti mencari seuatu dari kejauhan. Sehun menepikan mobil pada sisi halaman sekolah dan keluar dari dalam. Ia berjalan untuk bertemu orang tersebut.

"Han-Ahjusshi?" sapa Sehun setelah ia berada di dekat orang tersebut.

Orang itu berbalik, mengangkat kedua ujung bibirnya sedikit. Tan Hankyung. "Oh kau Sehun?" kata Hankyung dengan ramah.

"Apa kau ingin menemui Jongin?" tanya Sehun penasaran.

Hankyung mengangguk, "Ya. Kami janji bertemu disini untuk kesuatu tempat,"

"Oh begitu," Sehun mengangguk kecil, "Apa kau butuh tumpangan?"

Sejenak, Hankyung berpikir. Lalu, menggeleng kecil ketika teringat kata-kata Jongin tempo hari. "Tidak. Kami akan menggunakan bus," kata Hankyung, "Sehun, maaf. Jongin menolak pemberianmu. Dia sedikit keras kepala dan cepat marah. Apa kau sudah berbicara dengannya?"

"Sudah. Kemarin Jongin mengembalikan ponsel dan juga memberikan uang pengganti biaya rumah sakit," balas Sehun.

Hankyung terlonjak. Tampangnya agak kurang yakin, "U-uang pengganti?"

"Iya. Dia memberikan beberapa won dimuka," kata Sehun, "Padahal, aku sudah bilang tidak dia tidak perlu menggantinya,"

Hankyung menelan ludah. "Uang itu bukankah untuk bayar hutang Siwon?" gumamnya. Tidak terlalu jelas.

Sehun seperti mendengar sesuatu yang keluar dari mulut Hankyung. Ia mendekatkan kepalanya, "Apakah ahjusshi mengatakan sesuatu?"

Dengan cepat, Hankyung menggeleng. "Tidak. Aku tidak mengatakan apapun," elaknya.

"Aboji," suara seseorang menginterupsi. Mereka menoleh ke arah suara.

Jongin sedikit mengendurkan sudut bibirnya ketika melihat Sehun.

Jongin sedang berjalan ke arah mereka. Kacamata besar yang hampir menutupi wajahnya itu bertengger pada hidung Jongin. Sehun terkesiap. Baru pertama kali, ia melihat Jongin menenakan kacamata baca. Dan menurut Sehun, Jongin terlihat… ehn berbeda.

Sehun menatap wajah Jongin seolah-olah mengaguminya.

Jongin menaikkan kacamata yang melorot dengan jari telunjuknya. Dan merangkul Hankyung. Tanpa mengeluarkan kata apapun, Jongin berjalan –secara tidak langsung, Hankyung terseret-. Sehun sedikit heran dengan perilaku Jongin. Kadang menjadi lebih dingin dari dirinya, kadang menjadi hangat sehangat Nyonya Oh. Apakah dia memiliki kepribadian ganda? Pikir Sehun.

Sehun melambai kecil merespon Hankyung yang menoleh ke arahnya dengan wajah sungkan. Dia meminta maaf atas perbuatan Jongin yang tidak sopan, pada Sehun.

.

.

.

Menunggu bus di halte memerlukan waktu yang tidak sebentar. Beberapa bus melewatinya karena bukan merupakan line mereka. Jadi, Jongin harus mengantri untuk naik ke dalam bus. Mereka telah menghabiskan waktu setengah jam untuk menunggu bus -sialan- datang. Tubuhnya terus bergerak gelisah. Beberapa kali melirik arloji atau membenarkan kacamata yang melorot. Dia tidak akan seperti itu, jika 30 menit lagi, kantor pemerintah masih buka. Ya, sebentar lagi jam kantor sudah usai. Hankyung berusaha menenangkan Jongin. Mengatakan jika masih ada hari esok. Bukan Jongin jika tidak keras kepala. Ia menginginkan marga Tan segera mungkin. Lagi pula, dokumen pengajuan untuk mendaftar, sudah lengkap. Sangat lengkap, sejak sehari lalu.

Sebuah mobil berhenti di pinggir jalan. Tepat di lintasan bus. Dan itu membuat beberapa calon penumpang bus menggerutu tak jelas. Jelas, itu dilarang. Berhenti di garis marka bus. Pengemudi mobil menurunkan kaca mobil dan kepalanya menjulur. Auranya menyeruak wanita yang sedang dalam antrian. Sekedar berbisik untuk memuja ketampanan dari balik kacamata hitam seorang Oh Sehun.

"Butuh tumpangan?" suara maskulin itu terdengar. Dan membuat Hankyung maupun Jongin menoleh. Suara familiar pada telinga mereka.

"Siapa yang kau maksud?" seorang wanita membawa anak kecil bertanya.

Sehun menunjuk dengan dagunya ke arah Jongin, "Seorang siswa SMA Yongsan bernama Kim Jongin dan ayahnya bernama Tan Hankyung."

Mendengar itu, Jongin menunjuk dirinya sendiri. Tidak percaya, "Aku?" tanyanya memastikan.

"Iya. Kau. Jika bukan kau, siapa lagi," jawab Sehun dengan senyum menawan. Membuat beberapa orang berdecak kagum.

Jongin bersikeras, "Tidak akan!"

Butuh waktu beberapa lama untuk mengalahkan ego Jongin yang terlalu besar. Suara klakson bus berbunyi, maksud untuk menyingkirkan mobil di depannya yang mengambil linenya.

Melihat seseorang yang dimaksud pengemudi tidak bergerak dari tempatnya, seorang lelaki muda berseru pada Jongin, "Cepatlah naik ke mobil itu. Sebelum kami kehilangan bus kami!"

Hankyung menyenggol lengan Jongin. Tanpa seijin anaknya, Hankyung menarik Jongin keluar dari antrian penumpang dan menyeret Jongin menuju mobil Sehun. Hankyung melepas tangannya dan masuk ke dalam jok belakang tanpa pikir panjang.

Saat tersadar, Jongin mendapati dirinya berdiri di pinggir jalan. Diantara sekelompok penumpang dan mobil mewah Sehun. Dan juga, seruan untuk dirinya menyingkir.

"Naik bus pun, kita tidak akan bisa mengejar waktu, Jongin." kata Hankyung yang ternyata sudah duduk di jok belakang.

"Aku tidak akan naik. Lebih baik kita mendaftar besok saja Aboji. Ayo turun." Jongin berusaha membuka pintu belakang untuk menyeret Hankyung keluar, namun Hankyung telah menguncinya.

TIN! TIIIN!

"Hey apa kau tuli?"

"Bisakah kau segera masuk ke mobil temanmu?"

"Kau mengulur waktuku!"

Supir bus membunyikan klakson dengan tidak sabar, diiringi seruan beberapa calon penumpang agar mobil tersebut menyingir –dan juga Jongin-. Dengan kesal, Jongin bergegas masuk dan mengambil duduk di samping kemudi. Ia membanting tubuhnya kasar pada jok di samping kemudi.

Klakson tetap berbunyi walaupun Jongin sudah masuk. Jongin benar-benar mengutuk supir itu, dalam hati.

Sehun tidak melajukan mobilnya sama sekali. Jongin menatap Sehun dan menggerakkan bibirnya untuk segera jalan. Namun, Sehun tidak merespon,

"Pasang seatbeltmu dulu. Maka aku akan menjalankan mobil," titah Sehun.

Jongin segera memasang seatbelt dengan kasar. Seperti tengah dipermalukan oleh Sehun. Dan ia masih menyumpah serapahi Sehun tidak jelas. Membuat Sehun tertawa geli. Akhirnya, bus dapat berhenti pada line ketika mobil –Oh Sehun- yang menghalanginya telah pergi.

.

.

.

Mereka berada di café milik Nyonya Oh setelah menyelesaikan di kantor pemerintah pada pelayanan kekonsuleran. Peraturan yang rumit. Namun, untungnya, mereka dapat menyelesaikannya hari ini. Tidak butuh waktu lama untuk mengurus birokrasi di Korea Selatan. Akhirnya, Jongin bermarga Tan. Bukankah terdengar keren? Tan Jongin. Mirip dengan warna kulit Jongin.

Berawal dari Hankyung yang menawarkan untuk mentraktir Sehun makan di salah satu restoran, dan berakhir di café milik Nyonya Oh. Sebenarnya, Jongin menolak keras ketika ayahnya ingin menghabiskan uang –menurutnya tidak penting- untuk mentraktir Sehun. Dalam keadaan ekonomi yang sedang dibawah, bisa-bisanya ayahnya mentraktir orang lain di restoran mewah, pikir Jongin. Setelah itu, Sehun menawarkan pada Hankyung untuk mengunjungi café milik ibunya yang kebetulan tidak jauh dari kantor pemerintahan tersebut. Dan, tanpa pikir panjang, Hankyung menyetujuinya. Itu membuat Jongin tidak berbicara pada keduanya setelah keputusan Hankyung. Jongin tidak mengetahui jika maksud Hankyung menyetujui tawaran Sehun, untuk berterimakasih pada orang tua Sehun, setidaknya ibu Sehun.

Jongin duduk di samping Hankyung. Sedangkan Sehun, sedang memesan menu. Mereka tidak melakukan pembicaraan. Jongin masih kesal. Padahal, Jongin sudah susah payah untuk menghindar dari Sehun, namun gagal karena ayahnya sendiri.

Sehun berdeham, Hankyung menoleh. Di belakang Sehun, seorang pelayan berjalan lalu menaruh beberapa pasta, dessert dan minuman di atas meja.

"Han-ahjusshi tadi mengatakan jika ingin bertemu dengan eomma, ya?"

Hankyung mengangguk mendengar pertanyaan Sehun, "Apa eomma-mu sedang berada disini?" tanyanya.

"Iya. Eomma akan menyelesaikan urusan dapur dulu,"

Melihat Jongin yang sedari tadi memalingkan pandangan ke arah luar dinding kaca, Sehun duduk di hadapan Jongin.

"Apa yang sedang kau lihat?"

Jongin tidak mengindahkan. Hankyung mulai meminum kopi pesanannya.

"Kau tidak akan menemukan hal selain paha wanita,"

Sehun terkekeh geli. Jalan dekat café ibunya memang ramai. Terlebih ada kampus khusus perempuan yang hanya terhalang satu blok. Pemandangan yang mendominasi adalah perempuan berpakaian trendy berlalu-lalang.

Jongin menoleh. Memandang Sehun dengan tatapan tajam.

"Bisakah kau berpikir sebelum bicara?" kata pertama Jongin yang keluar setelah perang dingin mereka selama beberapa waktu, dan juga Hankyung.

Sehun memiringkan dagunya yang halus ke kiri sedikit, memandang wajah Jongin yang menurutnya menarik jika sedang kesal. Lalu, menyunggingkan senyum penuh arti, "Kupikir kau kehilangan syaraf untuk berbicara,"

Jongin mendelik tidak suka pada perkataan Sehun. "Tidak baik mendiamkan ayahmu sendiri,"

"Who cares?" kata Jongin dingin. Tidak peduli.

"Jongin…" Hankyung angkat bicara. Mengingatkan anak satu-satunya untuk tidak berbuat berlebihan, "Tidak seharusnya kau bicara seperti itu. Sehun benar."

Jongin menoleh pada Hankyung dengan pandangan tidak setuju, "Kenapa Aboji membela Sehun?!"

"Maaf, aku sedikit lama," suara lembut seorang wanita menginterupsi.

Nyonya Oh berdiri di sisi meja dengan senyum sumringah. Ia beralih pandangan pada Hankyung, "Oh, apa anda ayah dari Kim Jongin?"

"Ya. Aku Tan Hankyung. Ayah Jongin," sahut Hankyung.

"Ngomong-ngomong, dia bukan Kim Jongin lagi, eomma. Tapi Tan Jongin," Nyonya Oh mengangkat alis mendengar perkataan Sehun, "Dia baru mengubah marganya hari ini," lanjutnya.

.

.

.

Setelah pelajaran usai dan diperbolehkan untuk pulang, Jongin tidak langsung menuju kedai ramen. Ia mendatangi klinik di sekolahnya untuk meminta ganti perban yang berada di lantai 2. Biaya rumah sakit terlalu mahal jika hanya mengganti perban. Tidak salah, bukan? Memanfaatkan salah satu fasilitas sekolah dengan baik. Jongin memasuki klinik dengan Dokter jaga bernama Tiffany –tertulis pada papan kecil tertempel di satu sisi dinding- yang direkrut khusus oleh sekolah, sudah 3 tahun ia berjaga. Tidak menemukan Tiffany, Jongin duduk di kursi depan meja kerja Tiffany. Menunggu selama beberapa menit. Akhirnya, perempuan berdarah campuran itu masuk setelah menit ke 12 dengan membawa cup caramel macchiato panas.

"Oh…" Tiffany sedikit kaget, ia sekilas melihat nama yang tertera pada kartu ID siswa yang tergantung pada leher Jongin,"Hello, Kim Jongin?"

"Apa yang kau butuhkan hingga membawamu datang kesini?" tanyanya.

Sebenarnya, sedikit risih dipanggil dengan marga Kim. Ia telah bermarga Tan, sejak kemarin. Tetapi, butuh waktu lima hari untuk mengurus pada bagian kesiswaan, mengganti marga barunya. "Bisakah Euisa mengganti perbanku?" tanya Jongin sopan.

"Tentu." Tiffany meletakkan cup coffee di atas meja kerjanya dan menginterupsi Jongin untuk duduk di atas ranjang pada salah satu bilik. "Itu adalah pekerjaanku," lanjutnya.

Jongin duduk di pinggir ranjang, tanpa melepas sepatunya. Tiffany menyiapkan beberapa peralatan di meja tak jauh dari ranjang yang berjejer rapi.

"Aku tidak pernah melihatmu kesini. Apakah kau murid baru?" tanya Tiffany, tengah mengambil alkohol dan diletakkan dalam nampan besi.

"Tidak. Aku hanya jarang keluar kelas," jawab Jongin.

"Apakah kau salah satu diantara murid pandai yang menghabiskan waktu membaca buku?" Tiffany kembali bertanya, dan berjalan menuju ranjang. Meletakkan nampan besi di sebelah Jongin.

"Lebih tepatnya aku salah satu murid beasiswa"

Tiffany berdecak kagum. "Pasti kau salah satu diantara rangking 10 besar? Sekolah ini mempunyai standart tinggi untuk murid beasiswa," katanya.

"Ya, bisa dibilang begitu,"

"Ngomong-ngomong," Tiffany mulai memeriksa perban Jongin, "Berapa lama kau tidak mengganti perbanmu?"

"Sudah 5 hari, mungkin?"

"Ya Tuhan! Kenapa kau tidak mengganti selama itu. Infeksi akan cepat menyebar jika perban kotor,"

"Aku baru terpikir, jika sekolah punya klinik. Dan mungkin Euisa dapat mengganti perbanku. Abojiku tidak bisa diandalkan dalam mengganti perban,"

"Kau tidak ke klinik dekat rumah atau rumah sakit?"

"Aku harus mengeluarkan setidaknya 50.000 won paling sedikit untuk mengganti perban,"

Sepertinya Tiffany mengerti apa yang dibicarakan Jongin. Ia mulai melepas perban dengan hati-hati, "Kau bisa kesini untuk mendapatkannya," kata Tiffany mulai menggulung perban dan dibuang pada tempat sampah.

"Murid SMA ini, kebanyakan, hanya menggunakan klinik sebagai alasan bolos," lanjutnya.

Jongin mengangguk. Benar sekali.

Setelah beberapa lama, Tiffany selesai dengan pekerjaannya. Ia menaruh kembali nampan besi pada tempatnya dan mengambil minuman dingin pada lemari pendingin. Jongin duduk di depan meja kerja Tiffany lalu menerima sekaleng soda dari Tiffany.

"Minumlah. Untuk mendinginkan tenggorokanmu,"

Tiffany membuka kaleng soda miliknya dan minum. Begitu juga dengan Jongin. Sepertinya Jongin mempunyai satu teman bicara santai di sekolah ini.

"Baru kali ini aku mendapat pasien yang sepertimu," ujar Tiffany, "Kupikir 5 tahun belakangan ini, aku akan mendapat pasien buruk," lanjutnya.

Tiffany menoleh pada Jongin. Lelaki itu mengangkat alisnya, "Mereka buruk dalam perilaku mereka. Tidak sopan. Sudah membolos dan menggunakan klinik seenaknya, mereka berteriak dan membuat keributan tak jelas," jelas Tiffany.

"Seburuk itukah?"

Tiffany mengangguk, "Ya. Apa kau tidak pernah mendengarnya?"

Jongin menggeleng cepat, "Tidak," ia melanjutkan, "Kenapa tidak mengambil praktek selain SMA ini?"

"Keinginanku memang seperti itu. Tapi, eommaku menyuruh untuk mejadi Dokter tetap disini, setidaknya sampai adikku yang baru kelas satu lulus. Dan eomma salah satu donatur dan aku salah satu alumni SMA ini. Berat untuk menolaknya," Tiffany berjalan menuju jendela yang terbuka. Menaruh kaleng soda di pinggir jendela. Pandangannya menerawang ke bawah.

"Apa kau pernah ke taman itu?"

Jongin beranjak menuju jendela dan melihat para arah pandang Tiffany. Halaman belakang sekolah dan asrama khusus SMA Yongsan yang hanya di pisah dengan tembok tinggi dan tebal. Lalu menggeleng.

"Aku tidak pernah kesana. Bukankah itu taman hanya boleh dimasuki murid asrama saja?"

"Tidak. Tidak jika kau masuk dari tembok berlubang itu," Tiffany menunjuk ke arah tembok dengan semak lebat, "Dulu, teman seangkatanku menjebolnya dan bermain bola di lapangan asrama,"

"Kupikir, Euisa salah satu murid pemberontak ya dulu?"

Tiffany tertawa dan mengangguk, "Apa kau tidak pernah seperti itu?"

"Pertama dan terakhir aku melakukan sesuatu adalah mendorong Luhan di kamar mandi karena membawa orang tuaku dalam pembicaraan. Aku tidak akan melakukan hal yang dapat mengancam beasiswaku,"

"Luhan? Aku pernah mendengarnya beberapa kali. Murid yang datang disini sering membicarakan Luhan, Yifan, Sehun, Myungsoo, dan beberapa lainnya," sahut Tiffany.

Jongin mengerutkan dahi sedikit, "Euisa hafal?"

"Hey, aku bisa menghafalnya karena murid penggosip selalu membicarakan hingga bibir berbusa."

Jongin melirik jam dinding tak jauh dari tempatnya. Ia harus segera bergegas. 15 menit lagi jadwal kerjanya akan dimulai.

"Kurasa aku akan betah disini mengobrol dengan Euisa kalau shiftku tidak dimulai 15 menit lagi," ujar Jongin.

"Pastikan kau sering kesini untuk mengganti perbanmu, Kim Jongin."

Jongin mengerutkan dahi, "Aku telah mengubah marga kemarin. Namaku Tan Jongin, Euisa"

Jongin mengambil tas di atas kursi, lalu berjalan keluar. Sebelum benar-benar menghilang, ia menoleh, "Dan akan ku pastikan datang kesini lagi. Terimakasih untuk perban dan sodanya, Euisa," kata Jongin sebelum benar-benar pergi.

.

.

.

Sehun yang akan kembali ke ruangan basket setelah membeli air mineral, berpapasan dengan Jongin yang berjalan keluar dari klinik kesehatan. Sehun menghentikan langkahnya, menatap Jongin. Ia berpikir apakah Jongin dalam keadaan baik-baik saja? Kenapa ia harus datang ke klinik kesehatan? Namun, dugaan jika Jongin mendapat sakit, salah. Melihat perban putih menempel dan seperti baru diganti, ia mengubur sangkaannya.

"Jongin," sapa Sehun ketika Jongin melewatinya tanpa memandang Sehun.

"Tan Jongin?!" seru Sehun ketika Jongin tidak merespon. Jongin tetap tidak menghentikan langkahnya.

"Apa begini sikapmu dengan orang yang telah menolongmu? Apakah kau tidak pernah berterimakasih?" kata Sehun menghentikan langkah Jongin. Jongin tidak berbalik. Sehun menghampiri Jongin dan berdiri di hadapannya.

"Jika ada yang memanggil nama, menolehlah," ujar Sehun memburu, "Kenapa kau selalu menghindar seakan aku tidak berada di sekitarmu? Apakah aku ini hantu? Tidak terlihat?"

Jongin mengangkat kepalanya. Melihat wajah Sehun yang datar di hadapannya. Ia tidak membalas ucapan Sehun, hanya mengangkat alis sebelah.

"Jawablah. Aku yakin pendengaranmu masih berfungsi baik, dan mulutmu tidak sedang jalan-jalan," desak Sehun.

"I had no choice, Sehun," kata Jongin, dingin.

Sehun mengernyit, muncul kerut halus di samping kedua matanya.

Jongin bertutur, "Bisakah kau tak mempersulit keadaanku? Luhan menganggap, aku menghalangi pandangannya terhadapmu, aku benar-benar akan mati dengan keadaan -sialan- ini. Beasiswaku akan dicabut dan Luhan akan terus membayangiku. Tidakkah kau sadar? Obsesi Luhan terhadap sesuatu, besar. Termasuk kau. Dia akan menyingkirkan siapapapun yang menghalanginya,"

Sehun terbelalak, matanya membulat sempurna. Baru kali ini, Jongin berbicara sepanjang itu, "Whats wrong with you? Kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu?" ujar Sehun, "Tell me if anyone else bother you," lanjutnya.

Jongin menggeleng, "Tidak ada yang menggangguku. Kau lah yang menggangguku, Oh Sehun." kata Jongin.

Sehun tidak menjawab. Masih terpaku atas perkataan Jongin.

Jongin berkata dengan pandangan menusuk, "Kau tau kenapa aku menolak permohonanmu dari awal? Karena kau adalah Oh Sehun. Dan lawanku adalah Xi Luhan. Aku tidak mau bermain dalam perasaan orang lain. Terlebih…"

Jongin menggantung kata-katanya.

Disusul keheningan singkat.

"A-a-aku bukan gay," sambung Jongin.

Ada keraguan di bibir Jongin.

Perkataan Jongin membuat Sehun diam. Perkataan yang sangat berani yang pernah Sehun dengar dari Jongin. Dan itu, membuatnya semakin ciut.

"Ternyata, kau menghindariku karena aku gay?" lirih Sehun. Sangat lirih. Tidak akan terdengar oleh siapapun, kecuali angin.

Sehun hanya bisa memandang punggung Jongin yang melewatinya dan menjauh darinya. Lalu, ia menghilang bersamaan dengan denting lift pintu terbuka.

.

.

TO BE CONTINUED

-punchjongin-