.
Eternally Love
By Punchjongin ©
Kim Jongin – Oh Sehun – Xi Luhan
T
.
.
.
Chapter 7
.
Luhan bersembunyi di balik dinding pada lorong lantai 2 yang tampak sepi. Menajamkan telinga agar dapat mendengarkan setiap kata dari percakapan antara Sehun dan Jongin. Jaraknya yang dekat namun tertutupi oleh sebuah standing banner acara field trip. Memandang dua orang tengah terlibat percakapan dengan tatapan penuh arti.
Setelah Jongin meninggalkan Sehun, Luhan dapat melihat punggung Sehun yang bergetar dengan kepala menunduk. Tangan Sehun meremas kuat botol air mineral pada tangan kiri hingga berbunyi. Jongin memasuki lift, menghilang. Namun, Sehun tetap pada posisi tersebut selama beberapa saat.
Sehun menegakkan badan dan kepalanya lalu menghembuskan helaan napas berat. Sehun berbalik dan berjalan menuju ujung lorong yang mengantarkan pada lapangan olahraga, termasuk lapangan basket.
Sehun mengernyit lalu menghentikan langkah kelima melihat kehadiran Luhan disana. Pandangan mereka bertemu. Sesaat, mereka bertatapan. Namun, Luhan segera mengalihkan pandangan dan berbalik pergi. Sehun mengejar Luhan.
Sehun berseru, "Luhan,"
Luhan tetap berjalan tanpa menoleh ke belakang, bahkan, semakin mempercepat langkahnya untuk menuju ke gedung sebelah, dimana parkir kendaraan siswa berada.
Langkah kaki Sehun sudah tidak terdengar ketika Luhan menyusuri gedung tersebut. Maka, Luhan melangkah biasa. Sesaat kemudian, Sehun meraih lengan tangan Luhan dan mencekalnya. Luhan tidak berbalik. Sehun mengambil satu gerakan dan berdiri di depan Luhan.
"Ada apa?" tanya Luhan dengan sewot.
Sehun maju selangkah untuk lebih dekat dengan Luhan.
Sehun dapat mencium aroma tubuh Luhan yang lembut dan menggemaskan. Ia memengang kedua bahu Luhan. Luhan memalingkah wajah ke arah lain.
"Apa aku masih memiliki kesempatan?" tanya Sehun.
Luhan memandang Sehun. Setelah melihat mata coklat dengan pupil bergerak, ia ragu. Ragu atas perkataan Sehun. Luhan mengetahui banyak tentang Sehun. Terutama ekspresi wajah Sehun yang sulit terbaca, tapi, kali ini beda. Sehun tidak memiliki keyakinan atas kata-katanya.
"Apa kau yakin?" tanya Luhan meyakinkan.
Sehun terdiam sejenak.
Sehun bergerak sedikit gelisah. Matanya tidak melihat Luhan dengan jelas. Tangannya pada bahu Luhan bergetar, "A-aku.."
"Sebelum kau meyakinkan orang lain, yakinkan dirimu, Oh Sehun," tegas Luhan. Luhan hendak pergi, namun Sehun lebih cepat untuk menghalangi jalan.
Luhan menoleh pada Sehun, menatapnya serius.
"Kau tidak yakin dengan keputusanmu?" Luhan keberatan.
Sehun melepaskan pegangan pada bahu Luhan lalu mengacak rambutnya sendiri dengan kasar. Setelah menghela napas kasar, Sehun kembali mencondongkan wajah pada Luhan dan menatap Luhan dalam-dalam.
"Baiklah. Aku mengakui kalau ada yang aneh dalam diri-"
Belum sempat melanjutkan perkataan, Luhan menyela,"Baik. Ini waktunya aku bicara masalah ini sekarang. Kau tahu? Selama setahun kita berkencan, aku sulit bertemu dengan teman-temanku. Sekalipun dapat bertemu, aku melakukannya dibelakangmu. Kau membuatku bagai terkurung dalam sangkar,"
Sehun menatap Luhan dengan kening berkerut. Perkataan Luhan membuatnya bertanya-tanya.
"Selama setahun. Aku bisa menghitung dengan jari, untuk bertemu teman-temanku. Semua orang, butuh bersosialisasi, termasuk aku. Bukan hanya itu yang kubenci darimu, kau selalu mengkritik apa yang kulakukan, didepan orang lain. Kau tidak pernah sekalipun memujiku benar-benar dari hatimu," pancing Luhan.
"Kau hanya mengagumiku, Sehun. Bisa dibilang, mengagumi suaraku. Bukankah itu yang kau katakan saat kau menyatakan perasaanmu padaku di ruang vocal? Aku sudah berusaha untuk mengambil hatimu, tapi kau tidak pernah pernah mencoba memberikannya padaku. Sebaliknya, hatiku telah kau miliki. Tetapi, Chanyeol yang menyadarkanku karena aku terlalu bodoh memberikan semua padamu, pada orang yang tidak pernah menghargaiku sedikitpun,"
Luhan mengambil udara, lalu menahan airmata yang telah berada dipelupuk. Menengadahkan kepalanya, agar airmatanya kembali. Sehun hendak memegang bahu Luhan, namun ditampik kasar oleh Luhan.
"Kau selalu mengaturku, Sehun. Kau tidak pernah mau menerima pendapatku, selalu memutuskan sesuatu sendiri. Saat itu, aku sadar, bukan aku yang kau cintai," suara Luhan serak.
Sehun diam. Perkataan Luhan memenuhi otaknya. Sehun tak pernah menyadari jika dirinya seperti itu. Selama ini, Sehun merasakan perasaan yang tidak bisa pada Luhan, rasa ingin memiliki dan melindungi.
"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan,"
Luhan menghela napas kesal, "Kau mengerti jika kau berada dalam posisiku, Oh Sehun,"
"Kenapa Luhan? Kenapa kau melakukan ini padaku?" ujar Sehun terbata. Matanya memerah dan pandangannya mengabur karena air mata yang berada di pelupuk. Sewaktu-waktu, bisa terjatuh.
Perlahan, air wajah Luhan berubah. Ia menarik kecil satu sudut bibirnya. "Sudah lama aku ingin mengakhiri semua dan waktu itu adalah saat yang tepat. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan."
Sehun tidak menjawab.
"Luhan, kenapa kau tega melakukan ini semua? Aku tidak begitu,"
Wajah Sehun sendu. Ia menghapus airmatanya dengan kasar, lalu air wajah Sehun berubah. Ia menarik kedua ujung bibirnya ke atas, tersenyum, dan kembali bersuara, "Ayo kita coba lagi, Luhan. Kita mulai dari awal."
Luhan menggeleng tegas. "Tidak. Aku sudah menemukan orang yang benar-benar kubutuhkan. Dan aku tidak akan mengkhianatinya."
"Kau…" Luhan menggantungkan perkataan, "dan Kim Jongin," tegasnya.
"Kau tahu apa kesalahan yang telah kalian buat? Siswa sok pintar itu merebut apa yang seharusnya kumiliki. Peringkatku dan kejuaraan nasional. Semua yang seharusnya menjadi milikku," Luhan melanjutkan, "Kau, Oh Sehun, aku tidak akan pernah melepaskanmu karena kau…"
Luhan maju satu langkah. Menyamakan bahu dengan Sehun. Luhan berbisik tepat di daun telinga kanan Sehun, "Karena kau membuatku menyesal telah menyerahkan kesucianku padamu, Oh Sehun."
Mata Sehun membesar dan rahangnya mengatup.
"Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja. Tetapi, tenang saja, aku tak akan melukaimu karena kau lebih mengkhawatirkan Kim Jongin daripada dirimu sendiri. Tentunya bisa berpikir, bukan?"
Setelah itu Luhan menyenggol bahu Sehun dengan sengaja dan berjalan menuju parkiran. Seringaian tercetak jelas di wajah Luhan.
Sehun tetap membatu ditempatnya. Matanya mengecil dan hidungnya memerah. Alisnya terangkat. Dan, kukunya menusuk kulit ketika menggenggam tangan dengan kencang.
"Apa maksud perkataanmu itu, kau akan menyakiti Jongin, Luhan?" lirihnya.
.
.
.
Sehun memutuskan untuk memberitahu Yifan jika ia sedang tidak dalam keadaan baik untuk mengikuti latihan klub basket lewat telepon, semenit lalu. Meskipun ia tengah berada di area sekolah, nyalinya ciut, hanya sekedar berbicara pada Yifan. Lelaki itu pasti akan menasehati Sehun habis-habisan. Yifan memang beberapa bulan lebih tua daripada dirinya, mungkin itu salah satu sebab Yifan memiliki kepribadian yang hangat, pada orang yang telah dikenalnya. Sehun menemukan sosok seorang kakak pada diri Yifan.
Hingga kini, Sehun masih terdiam di dalam mobilnya. Kedua lengan ramping bertumpu pada setir dan ia menenggelamkan kepala diantara kedua tangannya. Beruntung, parkiran sepi. Hanya ada beberapa mobil keluar masuk namun intensitas tidak sering. Itu membuat Sehun lega, ia tidak ingin orang lain melihat dirinya yang tampak kacau. Dari penampilan atau mata. Terlebih, hati Sehun.
Sehun benar-benar membenci hari ini, setidaknya untuk saat ini.
Ia belum mendapatkan sesuatu dari perkataan Luhan. Sekelebat bayangan masa lalunya dengan Luhan memenuhi pikirannya. Dimana dia pertama kali tertarik pada Luhan saat mendengarkan Luhan bernyanyi di ruang vocal. Saat kencan pertama mereka, kencan berikutnya hingga dimana Luhan memutuskan dirinya di hadapan siswa lain. Sampai, saat ia terbangun menemukan tubuh Luhan yang terbaring tanpa mengenakan busana di sampingnya. Sehun tidak mengingat setiap detail yang terjadi sebelumnya. Bahkan bayang-bayang itu samar dan itu terjadi setelah pekan kebudayaan SMA Yongsan beberapa bulan lalu, berakhir.
Lamunan itu terbang hingga Sehun menyadari dirinya telah terlalu masuk dalam hidup Jongin, dan itu disebabkan oleh Luhan.
Tetapi, Jongin memiliki sesuatu yang membuat Sehun tidak dapat melepaskan Jongin begitu saja. Sejak kejadian dimana Hankyung memukuli Jongin, ia memutuskan dalam hati jika ia tidak akan membiarkan Jongin mengalami hal serupa. Meskipun Jongin selalu menolak niat baiknya, Sehun tetap berada di dekat Jongin, memaksa.
Rambut cokelat gelap Sehun bergerak ke kanan-kiri dengan mata tertutup. Menggumamkan sesuatu tidak jelas dari bibirnya yang terkatup. Dalam beberapa saat, ia seperti sedang mengusir sesuatu dari kepalanya. Lalu dia berhenti, air wajahnya berubah menjadi datar. Sehun membenarkan posisi duduknya dan menghela napas panjang.
Sehun mengangguk yakin dan mengayunkan lengan yang terkepal di udara. Bibirnya membentuk kata 'fighting'. Setelah itu, Sehun mulai menyalakan mesin mobil dan melajukan mobil keluar parkiran.
Beruntung, halaman sekolah yang luas dan memanjang sedang sedikit renggang. Mungkin karena ini telah lewat jam pulang sekolah. Ia menghentikan mobil pada mesin depan pos penjagaan dan menempelkan ID kesiswaannya pada mesin tersebut. Secara otomatis, portal terbuka, dan Sehun menambah kecepatan setelah berada di luar lingkungan sekolah. Baru beberapa saat menyetir, matanya menangkap seseorang yang familiar tengah berjalan di trotoar dekat jembatan.
Sehun memperlambat laju mobil, mengamati gerak-gerik Tan Jongin dari balik kaca depan mobil. Saat berniat untuk berhenti di depan Jongin, Sehun teringat perkataan Jongin. Tanpa pikir panjang, ia menginjak pedal gas untuk menambah kecepatan. Mobil hitam itu melewati Jongin begitu saja.
.
.
.
Ketika mobil Sehun berlalu melewatinya di jalan depan sekolah, Jongin menatap dengan kecemasan dimatanya.
Jongin yakin jika Sehun tersinggung dengan perkataannya di depan klinik. Tetapi, Jongin harus melakukan itu. Melakukan segala cara untuk menjauh dari sumber masalah. Semakin banyak berurusan dengan orang lain, semakin banyak masalah yang kapan saja dapat timbul, itu menurut Jongin. Maka dari itu, Jongin jarang berkawan dengan yang lain.
Sejak kecil, Jongin sudah terbiasa tidak terlihat dengan kehadirannya. Ia sudah bersahabat dengan kesepian dan cemoohan teman-temannya atas dirinya yang tidak memiliki ibu dan terlahir miskin.
Orang kaya selalu berpikir rendah tentang orang miskin. Walaupun Jongin berada dalam lingkungan orang-orang kaya, namun dirinya tidak tertarik dengan mereka. Mereka hanya menyukai materi dan tahta. Tidak benar-benar tulus berteman dengan siapapun. Jongin mulai membenci orang-orang seperti itu, terlebih, setelah mengetahui fakta tentang ibunya.
Dan, demi uang juga, orang dapat meninggalkan orang-orang terdekatnya, membuang seperti sampah. Seperti apa yang Jongin dan Hankyung alami.
Saat mobil Sehun berbelok pada tikungan, Jongin merasakan keheningan menyeruak dalam hatinya.
Dalam lubuk hati dalam, ia ingin menahan Sehun. Tetapi, dia tidak memiliki hak apapun untuk itu.
.
.
.
Sudah tiga hari berlalu sejak pembicaraannya dengan Sehun. Jongin bernapas lega, karena Sehun sudah tidak menampakkan diri di depannya selama itu. Ketika hati kecilnya mencari keberadaan Sehun secara diam-diam, Jongin tidak tahu kenapa selama di sekolah ia tidak bertemu batang hidung Sehun. Ada sesuatu yang mengganjal diantara mereka dan itu membuat Jongin merasakan sesuatu yang aneh.
Kehadiran Sehun sedikit banyak telah mengubah hidupnya. Hidupnya, yang sebelumnya tidak pernah tersentuh oleh orang lain.
Jongin memasuki kantin pada jam istirahat pertama.
Ini kali ketiga ia menginjakkan kaki di kantin selama ia bersekolah. Jongin kesiangan dan tidak sempat membeli onigiri atau kimbap di minimarket sejalan dengan sekolahnya, maka dari itu, ia terpaksa masuk kantin. Keadaan kantin ramai. Kantin tersebut luas dan dapat menampung seluruh murid SMA Yongsan dalam sekali waktu. Jika ia tidak lupa untuk pergi ke minimarket dahulu, pasti ia sudah berada di klinik kesehatan dan menghabiskan makan siang disana, dengan Tiffany. Toh, itu yang dilakukan Jongin akhir-akhir ini. Mengobrol dengan Tiffany.
Setelah mengantri beberapa lama, Jongin mendapat giliran memesan. Ia memesan paket ayam goreng yang sudah termasuk dengan air mineral. Jongin membayar pada kasir lalu berjalan mencari tempat duduk yang kosong.
Sulit menemukan tempat duduk yang kosong, Jongin berjalan ke sudut kantin dan mendapatkan kursi kosong. Ia duduk satu meja dengan siswa kelas satu. Mereka tidak keberatan Jongin mengambil satu kursi dari mereka, dan melanjutkan obrolan yang tertunda.
Jongin makan dengan tenang sambil sesekali mengamati sekelilingnya. Jongin harus menelan kekecewaan ketika tidak mendapati batang hidung Sehun dalam kantin.
"Kau mencari Sehun?"
Seseorang berkata dengan suara maskulin tepat di belakang Jongin. Jongin menatap siswa kelas satu di sekelilingnya sedang berbisik. Ia menoleh, Wu Yifan.
Siswa itu meletakkan nampan berisi menu makan siangnya di samping Jongin tanpa canggung. Tanpa pikir panjang, Jongin melanjutkan makannya, walau sedikit risih dengan keberadaan Yifan dan siswa kelas satu yang berbisik.
"Aku bertanya, apa kau mencari Sehun?"
Jongin terdiam, ia tidak melakukan suapan dan mengembalikan pada piringnya. Jongin menoleh ke Yifan dengan alis berkerut.
Sebelum Jongin menjawab, Yifan mendahuluinya, "Sudah 3 hari Sehun tidak berangkat sekolah dan nomornya tidak aktif."
Mendengar perkataan Yifan, hatinya melecus. Namun, Jongin"Kenapa kau mengatakannya padaku?" tanya Jongin kembali mengambil suapan.
Yifan perlahan mendekat ke arah Jongin dan menatap Jongin dengan seksama, "Karena, sepertinya kau butuh informasiku."
Jongin mencari arah lain untuk menghindari pandangan dari Yifan yang mengintimidasi, "Tidak. Aku tidak membutuhkannya."
Yifan terkekeh dan meminum jus apelnya, "Itu bukan jawaban yang seharusnya. Kau diam-diam mencari Sehun di kelas dan lapangan basket, bukan? Kenapa menyangkal jika kalian sudah terlibat satu hal sejauh ini. Dan kau masih mementingkan egomu?"
Jongin berbicara sambil mengertutkan dahinya, "Aku tidak tahu apa yang sedang kau katakan."
Yifan menyela, "Kupikir, kalian saling terlibat perasaan masing-masing. Ehm… rasa suka, mungkin?" ujar Yifan, "Tetapi, itu bisa lebih dari rasa suka. Hanya kalianlah yang merasakannya. Aku hanya menilai dari pandangan mata kalian satu sama lain."
Jongin menggeleng dan beranjak, hendak menduduki tempat lain. Menghindar dari Yifan, tentunya. Namun, Yifan menarik pergelangan tangan Jongin dan membuat Jongin kembali terduduk.
Senyum kecil Yifan membuat Jongin mengernyit.
"Kau sudah duduk disini dahulu. Aku yang akan pergi."
Yifan bangkit dan meraih nampannya. Sebelum ia pergi, ia membungkuk dan berbisik tepat di telinga Jongin, "Kau akan menyesal jika membangun tembokmu sendiri. Aku tahu yang terjadi tentang kau, Sehun dan Luhan. Sebisa mungkin, jauhilah Luhan. Dan jangan menghindar dari Sehun. Atau kau akan menyesal suatu saat nanti."
Dan, Yifan pergi membawa nampannya dan menduduki salah satu bangku dengan beberapa anggota klub basket tak jauh dari sana. Setidaknya, Jongin dapat terhindar dari degup jantungnya yang lebih cepat ketika mendengar perkataan Yifan.
Yifan mengetahui pembicaraan Sehun dan Luhan pada gedung dekat parkiran. Saat itu, ia sedang mencari Sehun yang tidak kembali setelah mengatakan jika ingin membeli air mineral di kantin, dan tidak sengaja, Yifan mendengar percakapan antara mereka berdua.
.
.
.
Nyonya Oh akhirnya menyatakan keberatan ketika Sehun masih bergulung di kasur dengan selimut tebal. Maka, ia memutuskan untuk menarik paksa anaknya keluar kamarnya. Sudah 3 hari Sehun tidak keluar kamarnya. Ia akan keluar saat jam makan saja, selebihnya, tidak. Dengan ancaman, Sehun akhirnya menyetujui untuk turun dari kamarnya dan berbicara dengan Nyonya Oh. Meskipun, malam sebelumnya, Sehun telah berbicara tentang semua apa yang menjadi pikirannya akhir-akhir ini.
Sehun pun pergi ke dapur dan melihat Nyonya Oh sedang memeriksa beberapa makanan yang baru ia masak beberapa saat lalu. Ketika Sehun melingkarkan kedua tangannya dan memeluk tubuh Nyonya Oh dari belakang, Nyonya Oh terperanjat dan membalikkan tubuhnya.
"Apa kau sudah merasa lebih baik?"
Nyonya Oh memeriksa kening dan permukaan leher Sehun dengan punggung tangannya. Sehun mengangguk,
"Iya. Tidur adalah obat yang paling manjur, eomma."
Nyonya Oh terkekeh dan mengelus ujung kepala Sehun, membawa Sehun ke ruang makan.
Sehun duduk di salah satu bangku dan Nyonya Oh kembali ke dapur mengambil beberapa makanan.
Nyonya Oh meletakkan piring-piring besar di meja makan. Seorang pelayan datang dan membantu Nyonya Oh menyiapkan makanan. Nyonya oh mendudukkan dirinya di hadaoan Sehun.
"Makanlah yang banyak. Besok kau harus sekolah." Dengan telaten, Nyonya Oh mengambilkan makanan Sehun, "Ayahmu tidak akan pulang hari ini. Dari rumah sakit, ia akan pergi ke Daegu meninjau project perusahaan baru. Jadi, kita bisa makan duluan."
Sehun mengangguk. Kebiasaan keluarga Oh adalah makan bersama dan menunggu semua anggota keluarga berada dalam meja yang sama, kecuali jika seseorang di antara mereka sedang tidak berada di rumah.
Setelah meminum air putihnya, Sehun berujar, "Eomma… aku masih enggan untuk masuk sekolah."
Nyonya Oh yang sedang mengambil nasi untuk dirinya sendiri itu menghela napas, "Jika begitu, biarkan saja Luhan menyakiti Jongin, seperti apa katanya."
"Ini rumit, eomma."
"Justru kau yang membuatnya rumit. Jongin terlibat, karenamu, bukan? Maka, selesaikan apa yang sudah kau mulai, Sehun."
Sehun merengek, "Eommaa…."
"Sudah diam! Makanlah makan malammu lalu tidur. Besok kau harus sekolah, jika tidak, aku akan menyeretmu sendiri dan melaporkan hal ini pada ayahmu."
Sehun menghela napas kesal lalu menyendok makanan dengan setengah hati.
"Sudah untung aku tidak memberitahu pada ayahmu, jika kuberitahu, habislah kau Oh Sehun," ujar Nyonya Oh dengan nada mengancam.
.
.
.
Jam pelajaran olahraga dimulai, Luhan melepaskan sneakersnya dan mengganti dengan sepatu sepak bola. Pagi ini, giliran kelasnya untuk mengikuti pelajaran olahraga dengan materi sepak bola. Mereka memiliki waktu 10 menit pada pergantian pelajaran untuk mengganti pakaian olahraga. Beberapa temannya sudah berada di lapangan, sebagian masih berada di ruang ganti olahraga. Mereka meninggalkan ID card kesiswaan mereka pada loker pribadi yang mereka dapatkan pada ruang ganti olahraga. Ruang ganti dengan loker besar berjejer memenuhi dinding, dan kursi panjang-ramping berada di antara susunan loker.
Luhan merenggangkan kakinya kecil setelah sepatu sepak bola terpasang sempurna dikakinya. Ia memasukkan sneakers ke dalam lokernya. Hanya ada sebagian kecil siswa yang masih sibuk dengan kegiatan ganti baju mereka. Termasuk Jongin.
Siswa yang dibencinya itu sedang menunduk untuk mengingikat sepatu olahraga, kencang. Rambut lurus dan hitam turun menutupi wajah Jongin. Seakan memastikan sesuatu, satu sudut bibir Luhan tertarik ke atas.
Luhan segera menutup lokernya dan beranjak menuju lapangan sepak bola.
.
.
.
Sudah 15 menit melakukan pemanasan kecil, guru pelatih membagi dua kelompok siswa. Sedangkan siswi-siswi, diintruksikan untuk menunggu giliran bermain di lapangan dengan menduduki tribun bawah.
Ketika peluit dibunyikan, kedua kubu bergerak dengan lincah. Mereka memusatkan perhatian pada bola yang tengah digiring oleh Daehyun. Siswa berambut cokelat muda itu bergerak lincah. Lalu, Luhan, merebut bola dari kaki Daehyun. Luhan berbalik dan menggiringnya ke gawang lawan dengan kaki jenjangnya yang gesit. Ia mengoper pada Jongdae yang tengah menunggu bola di dekat gawang. Dan… bola masuk tepat sepersekian detik setelah Luhan mendapatkan operan bola dari Jongdae.
1-0
Mereka kembali ke permainan awal. Dan kali ini, Youngjae yang menguasai bola. Ia mengoper pada Yongguk dan ketua kelas itu mengoper pada Jongin. Jongin bergerak lincah, namun, kaki kanannya terlihat terseret oleh kaki kiri. Ia hanya dapat menggunakan kaki kiri, saat ini.
Melihat itu, Yongguk mencoba menarik perhatian Jongin dengan menyuruhnya menendang bola ke arah dirinya.
"Jongin! Kemari!"
Menyadari kakinya tak mampu menumpu badannya. Ia segera menendang dengan kaki kiri, sisa kekuatan, pada Yongguk. Siswi bersorak riang ketika Yongguk menggiring bola menuju gawang lawan dengan terampil. Namun, belum sempat ia mencetak gol, kaki Luhan merebutnya. Ia berlari menuju gawang kubu Yongguk. Saat melewati Jongin, ia sengaja memancing Jongin. Jongin berusaha merebut bola tersebut dari Luhan. Namun, Jongin terjatuh karena kaki kirinya terkena tendangan Luhan pada pergelangan dengan keras.
Melihat Jongin terjatuh, Luhan tersenyum puas. Ia tidak membutuhkan waktu yang lama untuk memasukkan gol ke gawang Yongguk.
Peluit dibunyikan tepat beberapa sentimeter bola akan mengenai garis gawang. Kubu Jongdae harus menelan kekecewaan tidak bisa unggul 2 point karena guru pelatih memberi peringatan.
Guru pelatih memasuki area lapangan dan melihat keadaan Jongin yang terkapar dengan kedua tangan memegangi kakinya. Guru pelatih jongkok lalu memeriksa pegelangan kaki Jongin yang memerah. Tidak hanya itu yang menarik perhatiannya. Namun, sepatu olahraga Jongin yang kedua sisinya terdapat darah yang muncul dari balik sepatunya.
"Yongguk, cepat bawa Jongin ke klinik kesehatan," titah guru pelatih pada Yongguk.
.
.
.
Yongguk dan Hongbin memapah Jongin ke klinik kesehatan di lantai dua. Setelah memasuki klinik kesehatan, keduanya mendudukkan Jongin di atas ranjang pada satu bilik. Tiffany yang sedang mencatat beberapa laporan, segera beranjak menuju bilik tersebut.
"Ada apa dengan Jongin?" tanya Tiffany, sedikit panic.
Yongguk berkata, "Saat kami melakukan pertandingan sepak bola, tiba-tiba Jongin terjatuh, entah karena tendangan Luhan atau kakinya yang berdarah," terang Yongguk, "Kami tidak berani melepas sepatunya. Takut jika itu akan membuat kakinya bertambah parah," jelasnya.
Tiffany terkejut ketika mendapati sepatu kaki kanan Jongin yang terdapat bercak-bercak darah. Ia memegang lembut pergelangan kaki Jongin untuk memeriksa.
"Baiklah. Kalian bisa kembali pada pelajaran. Aku akan mengurusnya,"
"Terimakasih Euisa," kata Hongbin.
"Jongin, aku akan memberitahukan guru pelajaran selanjutnya jika kau ingin istirahat," kata Yongguk.
Jongin menggeleng, "Tidak perlu. Aku akan masuk setelah Euisa selesai mengobati,"
Yongguk menjawab dengan anggukan, "Terimakasih, Yongguk, Hongbin."
Mereka hanya tersenyum lalu pergi dari klinik kesehatan.
Tiffany mendorong meja besi beroda lalu menaruh pada salah satu sisi ranjang. Perlahan, ia melipat handuk bersih dan menaruh di dekat kaki Jongin. Lalu, ia membuka simpul tali sepatu Jongin dan membuka sepatu kanan Jongin dengan sangat hati-hati.
Bau anyir darah tercium. Tiffany mengernyit. Setelah dapat melepaskan kaki Jongin dari sepatu yang didalamnya dengan banyak darah, ia melepaskan sepatu Jongin yang terlihat baik-baik saja. Perempuan berumur 28 tahun itu menaruh sepasang sepatu olahraga Jongin dekat meja obat-obatan.
Ketika Tiffany mengambil sesuatu dari kamar mandi, bel istirahat yang nyaring berbunyi di seluruh penjuru sekolah.
Tiffanny kembali dengan membawa sebuah ember kecil lalu meletakkan tepat dibawah kaki Jongin. Setelah melepaskan kaus kaki putih yang bersimbah darah, Tiffany membuangnya pada tempat sampah disisinya. Lalu mulai mengguyur kaki kanan Jongin dengan alkohol khusus.
Dokter muda itu dapat melihat darah menetes tanpa henti yang terbawa oleh guyuran alkohol. Air alkohol perlahan mulai membasahi jari-jari kaki Jongin kemudian turun dan mengenai ujung kakinya. Menetes di ember abu-abu.
Melirik sekilas wajah Jongin yang tidak menampakkan ekspresi apapun, Tiffany bertanya, "It doesn't hurt, Jongin?"
Jongin menggeleng.
Setelah beberapa lama kaki kanan Jongin bersih dari darah, Tiffany mengangkat kaki Jongin tepat di atas lipatan handuk bersih tadi. Ia sedikit membungkuk untuk melihat luka dan merabanya dengan hati-hati.
"Beruntung kakimu tidak perlu dijahit. Lukanya cukup dalam memanjang, namun tidak luas," terang Tiffany.
Dengan telaten, ia mengambil kapas yang sudah terendam alkohol dan menyapukan kapas dengan hati-hati menggunakan penjepit besi.
Kaki Jongin hanya sedikit terlonjak. Namun, Jongin tak mengeluarkan suara sama sekali.
"It's bleeding and doesn't hurt at all?" tanya Tiffany memastikan.
"Tidak, Euisa."
"Kau terlihat berbeda hari ini. Tidak banyak bicara. Apa kau sedang memikirkan sesuatu?" Tiffany kembali bertanya, namun matanya terfokus pada luka Jongin.
Jongin menggeleng dan membuat Tiffany menarik napas. Meskipun baru beberapa waktu mereka sering menghabiskan waktu bersama di klinik, Jongin tampak belum dapat terbuka dengan Tiffany.
Setelah menempelkan kapas dengan alkohol, Tiffany memilitkan perban pada kaki Jongin. Namun, baru 4 lilitan, suara pintu dibuka dengan kasar menginterupsi. Tiffany menoleh, tetapi tidak dengan Jongin. Jongin masih menatap kosong dinding di depannya.
Seorang siswa dengan rahang sempurna, mata segaris, dagu dan hidung condong ke depan, dan rambut light brown berdiri dengan napas terengah di ambang pintu. Kedua alisnya terangkat, wajah panik. Siswa tersebut berjalan mendekati ranjang. Tiffany dapat membaca ID kesiswaan yang tergantung di bertuliskan 'Oh Sehun'.
Rupanya, ini siswa yang sering dibicarakan beberapa murid di klinik, batin Tiffany.
Tiffany tidak ambil pusing dengan kehadiran Sehun, ia melanjutkan melilit perban dengan telaten.
Sehun setengah berlari, mendekati mereka. Ia mengernyit ngeri melihat genangan berwarna pekat di ember dengan bau anyir menusuk dan beberapa kapas penuh darah di meja besi dorong.
"Kenapa Jongin bisa seperti ini, Euisa?" tanya Sehun dengan napas terenggah-enggah.
Tiffany menunjuk ke arah sepatu Jongin berada dengan dagunya, "Kakinya terkena benda tajam dan sedikit memar di pergelangan. Seorang menendangnya,"
Sehun mengambil sepatu lalu memeriksa dalam sepatu. Ia bergidik ngeri mendapati dalam sepatu olahraga tersebut tertancap potongan isi cutter dan darah yang akan mengering. Sehun tidak yakin ada beberapa potong, sebagian endapan darah menutupi isi cutter itu.
Sehun menghadap arah pandang Jongin lalu mengangkat kedua sepatu kiri Jongin, menggoyangkan kecil di hadapan pemiliknya itu. Jongin dapat mencium bau anyir dari sepatunya.
"Siapa yang melakukan ini?" tanya Sehun dengan nada tinggi.
Jongin tidak menjawab. Ia mengabaikan Sehun.
"Kau punya mulut untuk menjawab, Jongin!" kata Sehun dengan nada yang lebih meninggi. Ia melemparkan sepatu penuh darah ke sisi lain, "Jawab aku!" bentaknya.
Tiffany membaca situasi itu, segera mempercepat pekerjaannya. Ia merekatkan ujung perban dengan perekat. Lalu segera membereskan peralatan dan menjauh dari kedua siswa tersebut.
"Sehun, ketika di klinik, sebaiknya kau tidak menggunakan nada tinggi," Tiffany mengingatkan sebelum akhirnya ia pergi.
Jongin terlonjak ketika Sehun mendekatkan wajahnya dan hanya berjarak lima sentimeter. Bahkan, napas Sehun dapat ia rasakan, hembusannya. Kedua tangan Sehun bertumpu di sisi kanan dan kiri tubuh Jongin. Mata mereka bertemu. Seketika itu juga, Jongin gelagapan dan ia menoleh ke arah lain untuk menghindari tatapan Sehun yang dalam.
Sehun menggunakan tangan kanannya untuk menarik dagu Jongin agar menghadapnya. Mata mereka kembali bertemu, kedua kalinya.
Sehun menatap wajah Jongin dalam-dalam. Jongin hanya dapat menahan napas dan menahan detak jantungnya agar lawan bicaranya tidak dapat mendengar detakannya. Jongin hanya dapat memandang lurus-kosong ke dalam mata Sehun. Sesaat mereka bertatapan. Hingga akhirnya, Sehun menghela napas. Lalu menegakkan badannya. Ia mengacak rambutnya frustasi.
"Kupikir, aku tahu siapa," kata Sehun tegas.
Sehun menarik paksa Jongin untuk turun. Jongin terhuyung, ia butuh waktu untuk menjaga kembali keseimbangan tubuhnya saat berdiri, tapi Sehun tidak melakukannya. Jongin berjalan terseok mengikuti langkah lebar Sehun. Beberapa kali Jongin memukul tangan Sehun yang menggenggam erat lengannya, namun tidak dapat melepaskan genggaman erat itu.
Berpasang-pasang mata melihat kejadian itu dan hanya berbisik, mereka penasaran apa yang sedang terjadi. Sepasang kaki telanjang Jongin menapaki marmer pada lorong lantai 2 yang dingin, hanya kaki kanannya yang terbungkus perban. Sedangkan Sehun terus berjalan tak mengindahkan keberadaan mereka. Pandangannya sangat dingin dan menusuk.
Sehun berjalan ke arah kelas Jongin yang berada di lantai 3. Ketika menapak tangga, ganggaman Sehun melonggar. Dengan cepat, Jongin menghempaskan genggaman Sehun dengan sekali hentakan kuat. Sehun berbalik dan mendekati Jongin. Tangan Jongin bertumpu pada dinding dekat tangga.
Sehun bertanya. Wajahnya merah padam, "Kenapa, Jongin?"
"Apa kau senang diperlakukan rendah, seperti ini?" sambung Sehun, marah. Matanya berkilat penuh api.
Jongin tak menjawab, tetap terlihat tenang dengan keadaan seperti itu. Namun, tangan Jongin mengepal kuat, buku jari tangannya berbunyi. Ia mengatupkan rahangnya keras-keras. Gemerutuk giginya terdengar dengan pandangan yang tajam yang membunuh terarah pada Sehun.
Beberapa murid mengerumuni mereka. Mereka tidak bisa melewatkan itu dengan wajah penasaran. Bahkan beberapa dari mereka mengabadikan melalui ponselnya, mungkin itu dapat menjadi hot topic selama seminggu di SMA Yongsan.
"Kenapa kau diam saja diperlakukan seperti ini? Apa kau takut karena kau hanya murid beasiswa dan berlindung karena itu?" geram Sehun memegang bahu Jongin dengan kedua tangannya.
"Kau tuli? Kau bisu?" runtut Sehun.
Jongin geram. Tanpa diduga, Jongin menarik jas seragam Sehun dan membanting tubuh Sehun ke tembok. Jongin menekan rongga dada Sehun menggunakan lengannya.
"Apa kau lupa perkataanku? Jangan pernah mencampuri urusanku, Sehun," Jongin berkata dengan nada mengancam.
"Oh! Kau menyukai posisimu sekarang, Jongin? Menjadi blackhole dan menerima perlakuan apapun?" bentak Sehun, "Kau itu pengecut, Tan Jongin."
Sehun terbatuk ketika tiba-tiba Jongin menarik kerah Sehun dan mendorongnya lebih dalam.
"What's the big deal if they do it? Lalu, kenapa jika aku pengecut?" Jongin mengingatkan.
Tanpa diduga, tangan kanan Jongin mengepal di udara. Kejadian itu terlalu cepat. Wajah kaget tidak dapat dihindarkan dari kerumunan murid.
Pukulan telak Jongin layangkan pada tulang pipi Sehun.
Sehun berkata dengan tersenggal, "Aku merasa geram melihat kelakuanmu itu, Jongin. Kau tidak melepas topengmu."
Beberapa murid menyumpah serapahi Jongin yang dengan berani melakukan itu pada salah satu siswa populer. Mereka tidak berani mendekat. Tidak ada yang berani. Mereka lebih memilih untuk mendapat tontonan menarik daripada harus melerai dan mendapat masalah panjang.
Bruk!
Tubuh Sehun tersungkur akibat pukulan Jongin.
Bagus, Jongin, perlihatkan pada mereka jika kau tidak lemah, batin Sehun.
Kemudian, Jongin menunduk dan mengangkat tubuh Sehun dengan susah payah lalu kembali mencengkeram kerah kemeja Sehun.
Tangan Jongin terayun ke udara, hendak melepaskan pukulan pada tubuh Sehun. Namun,
"Kim Jongin, Oh Sehun!"
Suara seorang guru pembimbing kesiswaan menginterupsi. Jung Yunho. Matanya berkilat. Guru yang terkenal dengan sikap tegas dan sangat tertib, berdiri dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
Jongin melepaskan cengkeraman dan berbalik menghadap Yunho.
"Kalian berdua, Ikut aku ke kantor!" seru Yunho.
Sebelum pergi, Yunho berbalik dan menajamkan mata elangnya, "Jika kalian tidak bubar, aku akan mencatat nama kalian dan ku beri point di buku kesiswaan kalian!"
.
.
.
.
TO BE CONTINUED
-punchjongin-
