LAST LOVE
CAST : KAISOO, SLIGHT HUNHAN AND CHANBAEK
GS FOR ALL UKE
.
.
.
.
NO SIDERS!
.
.
.
DON'T BASH!
.
.
.
.
REVIEW PLIS!
.
.
.
.
SEMUA CAST BUKAN MILIKKU DAN IDE MURNI DARI OTAKKU
.
.
.
.
ENJOY
.
.
.
.
CHAPTER 9
.
.
.
.
HAPPY READING!
.
.
.
Sehun berjalan memasuki rumah mewahnya. Dirinya terlalu lelah membalas sapaan para maid yang berlalu-lalang. Tujuan Sehun saat ini hanya kamarnya dan tidur dikasur empuknya. Menemani Luhan belanja seharian menguras tenaganya. Apalagi Sehun dipaksa untuk menemani ketempat-tempat yang paling Sehun tak suka seperti menemani Luhan di salon. Sehun sangat benci menunggu Luhan di salon. Saat Sehun melewati ruang kerja appanya tiba-tiba saja appanya memanggilnya. Sehun meruntuki ruang kerja appanya yang tidak ditutup hingga appanya bisa mengetahui kedatangannya. Sehun membungkuk sopan saat berada berhadapan dengan appanya dan duduk diseberang appanya.
"Apa rencana liburanmu kali ini?" Sehun memicingkan matanya saat appanya menanyakan perihal liburannya. Sehun mencium ada hal tersembunyi dibalik kata-kata appanya.
"Memangnya kenapa?" balas tanya Sehun.
"Aku dengar Kai mulai bekerja diperusahaan appanya untuk membantu hyungnya" ucap Tuan Oh datar.
"Lalu?"
"Aku harap kau..."
"Tidak!" tolak Sehun tegas saat tau arah pembicaraan appanya.
"Kau sudah seharusnya mengikuti jejak Kai"
"Aku tak mau. Sekeras apapun appa memaksa tapi jawabanku masih sama. Aku tidak mau bekerja diperusahaan appa selama liburan ini" ucap Sehun bersikeras. Sehun berdiri dan membungkukkan badannya lalu pergi begitu saja. Tuan Oh menghela nafasnya melihat kelakuan Sehun yang keras kepala.
Sehun pergi meniggalkan rumahnya yang baru saja dia masuki. Beberapa maid yang melihat tampak bingung saat tuan mudanya pergi tergesa-gesa setelah beberapa menit masuk. Tuan Oh melihat mobil putranya keluar rumah. Tuan Oh sudah kehabisan akal untuk membujuk Sehun untuk melanjutkan perusahaannya. Sehun merupakan putra satu-satunya dan dialah pewaris resmi dan sah semua perusahaannya.
.
.
.
.
Kai menguap lebar dan berjalan malas-malasan menuju pintu apartemennya. Dia baru saja terbangun dari tidurnya saat ada yang mengetuk kasar pintu apartemennya. Kai membuka pintu apartemennya dan terkejut melihat Sehun berdiri didepan apartemennya. Kai memberi kode Sehun untuk masuk dengan kepalanya. Sehun yang sudah lelah melangkah masuk dan langsung merebahkan disofa panjang apartemen Kai. Sehun menutup matanya menggunakan satu tangannya yang diletakkan diatas matanya. Kai mendekati Sehun dan duduk dikursi samping sofa Sehun.
"Apa yang kau lakukan malam-malam begini kemari?" tanya Kai yang masih mengantuk.
"Biarkan aku tidur disini malam ini" lirih Sehun.
"Geurae. Tidurlah. Atau kau mau tidur dikamarku?"
"Aku tidur disini saja. Jalja" ucap Sehun mengakhiri percakapan mereka. Kai mengangguk yang tidak mungkin Sehun lihat dan meninggalkan Sehun yang tertidur disofanya.
.
.
Suho dengan cerah memasuki apartemen Kai. dirinya membawa banyak belanjaan ditangannya. Hari ini dia akan menghabiskan waktu paginya bersama dongsaeng kesayangannya itu. Suho meletakkan belanjaannya didapur dan beralih menuju kamar Kai. Saat melewati ruang tengah dirinya dikejutkan dengan sesosok makhluk yang duduk di sofa.
"Ya! Nuguya?!" teriak Suho kaget.
Makhluk yang diteriaki Suho hanya menatap datar Suho dan berdiri. Makhluk itu meregangkan tubuhnya yang kaku. Suho menajamkan pandangannya dan menebak siapa makhluk yang berani-beraninya mengagetkannya dipagi hari. Keadaan apartemen Kai memang sedikit remang. Korden-korden dijendela Kai masih tertutup jadi menghalau sinar matahari yang bersinar terang diluar. Lampu yang sengaja dimatikan membuat nuansa remang semakin kental.
Kai keluar dari kamarnya sambil mengucek matanya. suara teriakan Suho mampu membangunkannya dari tidur lelapnya. Kai berjalan mendekati Suho yang menatap makhluk yang sedang meregangkan badannya. Pandangan Kai tertuju keobyek yang dipandang Suho.
"Kau sudah bangun, Sehun-ah?" tanya Kai serak. Suho melebarkan matanya dan terburu-buru menyibakkan korden secara kasar untuk memastikan.
Cahaya matahari berlomba masuk untuk menerangi apartemen Kai yang gelap. Kai dan Sehun menghalangi matanya dengan tangan karena cahaya matahari yang tiba-tiba masuk membuat mereka silau. Suho meneliti lebih lanjut makhluk yang tadi diteriakinya. Saat tau itu Sehun, Suho menghela nafas lega.
"Ku kira kau pencuri Sehun-ah" ucap Suho dengan cengirannya. Kai memutar bola matanya malas melihat hyungnya yang selalu bertingkah konyol.
"Mian hyung aku tadi mengagetkanmu" ucap Sehun dan sedikit membungkukkan badannya.
"Aniya...aniya...Tak apa" balas Suho dengan melambaikan kedua tangannya cepat.
"Kau semalam tidur disini? Kenapa tidur disofa bukan dikamar saja?" tanya Suho.
"Atau adikku yang bodoh ini menyuruhmu tidur disini?" lanjut Suho yang menjitak kepala Kai yang entah sedari kapan sudah duduk disebelah Sehun disofa yang ditiduri Sehun. Kai mengaduh kesakitan saat hyungnya menjitak kepalanya. Apa salahku batin Kai miris. Sehun menggeleng.
"Aku yang terlalu lelah untuk beranjak kekamar hyung" jelas Sehun. Suho menganggukkan kepalanya.
"Lalu kenapa kau pagi-pagi sudah berada disini hyung? Kau tidak kekantor?" tanya Kai ketus.
"Aish...kau ini!" seru Suho menganggkat tangannya hendak memukul Kai. Kai yang melihat gerak-gerik Suho akan memukul langsung membuat tameng dari kedua tangannya. Sehun terkikik melihat tingkah laku kakak-adik ini.
"Setidaknya aku tak perlu berangkat pagi dan bisa menghabiskan waktuku denganmu tapi kau malah berkata seperti itu. Kau melukai hatiku" ucap Suho dengan ekspresi terluka yang dibuat-buat. Kai menatap datar Suho dan mengalihkan pandangannya kearah Sehun.
"Kau ada masalah apa sampai tengah malam kau mengungsi ke apartemenku?" tanya Kai dan mengacuhkan Suho.
"Appa..."
"Ah...Tuan Oh. Bagaimana kabarnya? Aku sudah lama tak melihatnya" ucap Suho memotong perkataan Sehun. Kai mendelik kesal kearah Suho. Hyungnya satu ini benar-benar mengganggu sesi curhat Sehun.
"Bukankah kau mau membuat sarapan hyung? Sana pergi. Ini pembicaraan anak muda" usir Kai. Suho menggerutu tak jelas dan berjalan kedapur. Kai menghela nafasnya pelan dan memandang Sehun.
"Appamu memaksamu lagi?" tebak Kai. Sehun mengangguk lemah.
"Apa itu karena aku yang selama liburan ini akan membantu Suho hyung diperusahaan?" tebak Kai lagi.
"Benar tapi aku tak menyalahkanmu untuk itu. Appaku selalu saja memaksaku setiap kali ada kesempatan" ucap Sehun.
"Lalu hari ini kau akan pulang kerumah?" tanya Kai. Sehun menggeleng.
"Baiklah. Kalau begitu kita akan bersenang-senang hari ini!" seru Kai semangat. Sehun hanya tersenyum menanggapi perkataan Kai.
"Kalian akan bersenang-senang tanpaku?" tanya Suho yang menyembulkan kepalanya dipintu dapur.
"Hanya untuk anak muda, hyung. Kau sudah tua" jawab Kai santai.
"Yak! Neo! Aish...kalian mandilah!" marah Suho yang tertahan. Kai dna Sehun terkekeh melihat Suho yang tidak jadi marah.
.
.
.
.
.
Kai berjalan menggeret kopernya. Kai membenarkan letak kaca mata hitamnya dan melihat sekitar bandara. Kai berdiri angkuh ditengah lobi bandara dan memainkan ponselnya. Tatapan kagum dilayangkan kearah Kai dari seluruh pengunjung yang ada dibandara. Wajah tampan, rahang tegas, bibir tebal menggoda, tubuh tegap tinggi, kulit yang berwarna kecoklatan, rambut hitam kelam dan pakaian yang terlihat sangat modis melekat sempurna ditubuhnya. Dari kesemuanya itu menambah nilai plus-plus untuk Kai. Banyak mata melirik kearahnya.
Tiba-tiba saja ada seorang anak kecil yang berlari dan terjatuh didepan Kai. anak itu mengaduh kesakitan dan hampir menangis. Kai berjongkok dan mengusap kepala anak itu pelan. Kai membantu anak itu berdiri dan merapikan pakaian anak itu yang sedikit kotor. Anak itu menatap Kai dengan mata berairnya. Kai tersenyum tampan yang membuat siapapun yang melihat menghentikan nafasnya karena shock effect yang diberikan Kai. Kai merogoh saku jaketnya dan mengambil sebuah permen lolipop. Diberikannya lolipop itu ke anak yang ada didepannya. Anak itu mengambil lolipop itu dengan senyum merekah diwajahnya. Anak itu membungkuk dan berlari meninggalkan Kai. Kai melambaikan tangannya kearah anak itu.
"Wah...tak kusangka kau penyuka anak kecil. Tak cocok sekali dengan image-mu" ucap seseorang yang berada dibelakang Kai. Kai menegakkan tubuhnya dan berbalik menatap orang dibelakangnya.
"Lama tak bertemu, Chan hyung" ucap Kai dan memeluk Chanyeol.
"Tentu saja sudah lama. Kau pergi sudah setahun yang lalu" sindir Chanyeol. Keduanya tertawa.
"Jadi bagaimana dengan Paris? Pasti banyak gadis cantik disana" goda Chanyeol.
"Mereka tak terlalu cantik, hyung. Kau sendirian? Dimana yang lain?" tanya Kai saat melihat Chanyeol yang datang menjemputnya.
"Mereka ada diapartemenmu. Mereka sedang menyiapkan pesta meriah untuk menyambut kedatanganmu" jawab Chanyeol.
"Kaja kita pulang!" seru Chanyeol dan melingkarkan tangannya dipundak Kai. Kai hanya menurut dan menggeret kopernya.
.
.
.
Kai memasuki apartemennya. Sudah lama sekali ia meninggalkan apartemen ini. Dilihatnya teman-temannya berkumpul menyambut kedatangannya. Senyum Kai terkembang melihat orang-orang yang disayanginya berkumpul diapartemennya. Luhan memeluk Kai erat.
"Bogoshippeo, Noona" lirih Kai.
"Nado bogoshippeo, Kai" ucap Luhan.
Chanyeol yang berada dibelakang Kai langsung ikut memeluk Kai dari belakang. Diikuti Baekhyun dan Sehun yang sedari tadi memperhatikan acara berpelukan Luhan dan Kai. Mereka terlihat bahagia terutama Kai yang dapat berkumpul lagi dengan teman-temannya. Selama setahun Kai berada di Paris jauh dari keluarga dan teman-temannya membuatnya rindu. Selama itu pula Kai tak dapat menghubungi mereka karena kesibukannya disana. Kai benar-benar seperti diasingkan ke negeri orang.
"Ya! Ya! Apa-apaan kalian berpelukan seperti itu! seperti teletubies saja" seru Suho saat keluar dari dapur. Kai melepaskan pelukannya hingga membuat yang lain ikut melepaskan pelukannya juga. Kai berjalan menuju Suho dan memelukanya. Suho membalas pelukan Kai dan mengusap pelan punggung Kai. Tanpa Kai berkata apa-apa Suho tau bahwa adiknya ini sangat merindukannya terlihat dari cara Kai memeluknya.
"Bilang saja kau iri ingin dipeluk Kai" cibir Luhan yang melihat kemesraan Kim bersaudara itu. Semuanya terkekeh mendengar penuturan Luhan kecuali Suho.
"Sebaiknya kita duduk dulu agar lebih enak mengobrolnya" usul Sehun.
Semua yang ada disana langsung memposisikan diri untuk duduk. Chanyeol, Sehun dan Kai lebih memilih duduk dibawah sedangkan Luhan, Baekhyun dan Suho duduk disofa. Terlihat banyak makanan di meja. Luhan dan yang lainnya sengaja membuatkan Kai banyak makanan Korea. Mereka tau jika Kai sangat merindukan masakan Korea. Kai memandang takjub ke makanan yang tersaji didepannya. Segala makanan yang ingin ia makan selama di Paris ada dihadapannya. Air liurnya serasa ingin menetes melihat makanan yang menggiurkan itu.
"Makan saja. Air liurmu sudah menetes kemana-mana" gurau Chanyeol yang melihat Kai melongo.
Tanpa banyak bicara Kai langsung mengambil makanan yang ada dihadapannya. Kai menjejalkan setiap makanan kedalam mulutnya. Kai terus saja makan tanpa memperdulikan teman-temannya yang menatapnya heran sekaligus aneh. Tangan Kai yang cekatan mengambil satu persatu makanan. Gerakannya sangat cepat hingga tanpa sadar makanan didepannya sudah berkurang banyak.
"Aku tak menyangka satu tahun di Paris membuatmu seperti orang kelaparan seperti ini" ucap Baekhyun takjub dengan cara makan Kai yang beringas.
Dalam sekejab makanan yang ada habis dilahab Kai sendiri. Sehun, Chanyeol, Baekhyun dan Luhan melongo melihat makanan yang mereka siapkan habis. Mereka berdecak kagum melihat kemampuan Kai yang dapat menghabiskan makanan sebanyak itu dalam sekejab. Suho terkekeh melihat ekspresi Luhan dan yang lainnya. Kai memegangi perutnya yang kekenyangan dan menyandarkan tubuhnya disofa. Rasanya nikmat sekali bisa menghabiskan makanan sebanyak itu.
"Ini semua salahmu, oppa! Kau membuang Kai ke luar negeri hingga ia tak dapat makan dengan benar selama disana! Kau tega sekali" marah Luhan.
"Kenapa aku yang disalahkan? Aku tak tau apa-apa" elak Suho.
"Jelas kau tau, Kim sajangnim! Kau yang membuang wakil direkturmu sendiri kesana!" kesal Luhan menahan marah.
"Itu kemauannya! Aku tak dapat berbuat apa-apa. Bahkan aku sudah mengusulkan untuk pegawai lain untuk pergi kesana" ucap Suho tak mau kalah.
"Sudahlah. Itu semua kemauanku. Aku tak yakin proyek disana akan berhasil jika mengirim pegawaiku saja" ucap Kai menengahi pertengkaran Luhan dan Suho.
"Itu benar, Lu. Memang sebaiknya seorang atasan yang langsung menangani proyek besar semacam itu" bujuk Sehun.
"Apalagi jika proyek itu bernilai miliyaran dollar. Jelas harus yang ahli yang melakukannya" imbuh Chanyeol.
Luhan dan menekuk wajah mereka kesal. Selalu saja bisnis yang dipikirkan para namja batin mereka. Luhan dan Baekhyun diam saja saat para lelaki mulai membahas tentang bisnis. Jika para lelaki itu membahas bisnis mereka pasti akan berujung dengan mencueki para yeoja. Luhan dan Baekhyun semakin kesal melihat kekasih mereka larut dalam pembicaraan bisnis yang tiada habisnya itu. Kejengkelan mereka memuncak saat mereka berdua dicueki habis-habisan selama berjam-jam hanya karena bisnis. Baekhyun dan Luhan berdiri serentak dan mengambil tas mereka secara kasar. Para lelaki kaget karena adanya pergerakan tiba-tiba dari Luhan dan Baekhyun. Baekhyun dan Luhan menatap sengit kearah Sehun, Chanyeol, Kai dan Suho bergantian lalu pergi begitu saja. Sehun dan Chanyeol menyadari jika gadisnya marah langsung menghalangi mereka agar tak pergi.
"Minggir!" teriak Baekhyun dan Luhan bersamaan saat Sehun dan Chanyeol berada dihadapan mereka dan menghalangi jalan mereka.
"Lu, kau marah?/ Kau marah Baek?" tanya Sehun dan Chanyeol bebarengan.
"Tentu saja aku marah! Urusi saja bisnis kalian dan jangan pernah menemuiku lagi!" marah Luhan dan pergi dari apartemen Kai lalu membanting pintu saat menutupnya.
"Aku tak mau melihatmu lagi, Park Dobi!" teriak Baekhyun nyaring dan pergi lalu membanting pintu seperti yang dilakukan Luhan.
Sehun dan Chanyeol menatap sendu kearah pintu. Mereka tau mereka salah tapi kenapa harus jadi seperti ini. Sehun dan Chanyeol kembali duduk dengan muka lusuh. Kai dan Suho hanya diam melihat drama yang disajikan didepan mereka.
"Apa semua wanita menakutkan seperti itu, hyung?" bisik Kai kearah Suho.
"Molla. Selama ini Lay tak pernah bertingkah seperti itu" balas Suho berbisik.
"Berarti hanya Luhan Noona dan Baekhyun Noona saja yang seperti itu?" lanjut Kai berbisik.
"Mungkin. Tapi selama kau berada di Paris, hal ini sering terjadi bila Sehun dan Chanyeol terlalu sibuk dengan bisnis mereka" jelas Suho.
"Jadi ini semua karena bisnis?" tanya Kai. Suho menganggkat bahunya tak tahu. Kai menatap prihatin kearah Sehun dan Chanyeol. Keduanya hanya diam dan merenung.
.
.
.
Para pegawai membungkukkan badan saat melihat Kai berjalan memasuki kantor perusahaan Kim. Seperti biasa Kai berjalan angkuh dengan wajah datar dan dinginnya. Image Kai terkenal dingin dimata para pegawainya. Tak ada satupun pegawai yang berani membantah setiap kata Kai. Sifat Kai sangat berbeda dengan Suho yang lebih ramah dan banyak senyum. Bahkan Suho tak pernah sekalipun memarahi pegawainya walaupun mereka punya salah. Suho akan berbicara lembut dan penuh pengertian.
Kai melewati begitu saja barisan para manager yang menunggunya datang. Serentak mereka membungkukkan kepalanya saat Kai lewat. Mereka mengejar Kai yang berlalu tanpa mengatakan apapun.
"Bujangnim anda sudah kembali?" tanya salah satu manajer yang hanya dibalas deheman oleh Kai. Mata Kai hanya terfokus kedepan dan mengacuhkan para manajer yang mengekorinya sedari tadi.
Sesampainya diruangannya, Kai duduk dikursi kebanggaannya dan membuka beberapa berkas yang ada dimeja. Kai sibuk mengamati tulisan-tulisan yang ada dan memahami setiap isinya. Para manajer sudah berbaris rapi didepan meja Kai dan siap menerima apapun yang akan Kai lakukan. Kai masih sibuk dengan berkasnya dan membolak-balik kertas-kertas itu.
"Keluarlah. Akan aku panggil jika aku sudah membaca semua laporan ini" ucap Kai dingin. Para manajer membungkukkan badannya dan keluar satu persatu. Pintu ruangan Kai diketuk kemudian dibuka seseorang.
"Kau sudah pulang, Kai? Senang bisa melihat bujangnim yang dingin dan mengerikan kembali" sindir Minseok yang masuk langsung duduk disofa yang ada diruangan Kai. Kai memutar bola matanya jengah melihat saudaranya ini selalu berbicara blak-blakan.
"Karena kau sudah kembali aku ingin menyampaikan sesuatu" ucap Minseok menatap Kai yang sibuk dengan kertas-kertasnya.
"Aku sudah menemukan sekertaris pribadi untukmu" lanjut Minseok yang mendapat perhatian langsung dari Kai. Kai menatap datar Minseok.
"Sudah aku bilang jika aku tak membutuhkan sekertaris pribadi" ujar Kai datar dan tegas.
"Aku yakin kau akan suka karena aku sudah menyiapkannya selama setahun ini" ucap Minseok santai tanpa menghiraukan tatapan Kai yang menusuk.
"Well...iru saja yang ingin aku katakan saat kau kembali. Aku pergi dulu, Kim bujangnim" kata Minseok pergi meninggalkan Kai yang masih menatapnya.
Kai menghela nafas. Saudaranya itu sangat susah untuk diajak bicara. Selalu semaunya sendiri. Kai sudah menolak ratusan kali saat Minseok memaksanya mencarikan sekertaris pribadi. Kai tak pernah mau ada orang lain yang mengatur-atur hidupnya kecuali hyungnya. Hyungnya saja tak pernah memaksanya untuk mencari sekertaris kenapa saudaranya itu selalu memaksanya. Dan bahkan dia sudah memiliki kandidat yang cocok untuk dijadikan sekertaris Kai. Selain itu sudah satu tahun disiapkan berarti saat dia pergi ke Paris. Sial umpat Kai dalam hati.
Suasana hatinya benar-benar buruk hari ini. Berterimakasih kepada Minseok karena membuatnya seperti ini. Kai meletakkan berkas yang ada ditangannya diatas mejanya kemudian bangkit menuju jendela ruangannya yang menghadap hiruk pikuk kota Seoul. Kai memandang keluar jendela. Suasana pagi menjelang siang yang cukup ramai diluar membuatnya sedikit terhibur. Kai menerawang saat melihat sepasang kekasih berjalan bergandengan tangan.
"Sudah 3 tahun lamanya kita tak berjumpa. Bagaimana kabarmu? Apa kau masih menghukumku dan tak ingin bertemu denganku?"
.
.
.
.
.
Sehun terlihat rapi dan tampak tampan pagi ini. Dia membalas sapaan dari setiap pegawai yang menyapanya. Walaupun wajahnya terkesan datar dan dingin tapi dia masih punya rasa sopan dan menghargai jadi dia tetap membalas sapaan para pegawainya. Sehun menuju ruang direktur utama. Saat ini Sehun menggantikan appanya sebagai direktur utama diperusahaan appanya. Awalnya Sehun menolak keras. Dia paling tak suka jika appanya memaksa untuk menggantikan posisi appanya. Tapi semua itu berubah saat appanya tiba-tiba saja kolaps dan kondisinya semakin memburuk. Mau tidak mau Sehun harus mengambil posisi appanya segera.
Sebenarnya Sehun bisa saja menggantikan appanya tapi Sehun sangat tau konsekuensi yang akan dialaminya jika menerima itu. Seperti saat ini, Luhan yang marah karena kesibukan Sehun diperusahaan. Sehun dan Luhan sering bertengkar karena masalah sepele semenjak Sehun bekerja diperusahaan appanya. Luhan yang terbiasa Sehun selalu berada disisinya kini merasa diacuhkan dan ditinggalkan Sehun. Sehun sebisa mungkin membagi waktunya antara pekerjaan dan Luhan ternyata masih belum cukup untuk Luhan. Luhan menginginkan lebih dari Sehun. Tapi Sehun tak bisa melakukannya karena sekarang perusahaan menjadi tanggung jawabnya dan Sehun hanya ingin Luhan mengerti akan hal itu.
Sehun menghembuskan nafasnya pelan. Sehun menyandarkan punggungnya ke kursi kerjanya yang mewah dan nyaman. Sehun merogoh saku celananya dan mengambil ponsel kemudian menelepon seseorang. Tangan kanan Sehun mengetuk-ketuk meja kerjanya sedangkan tangan kirinya untuk memegang ponsel yang berada ditelinganya. Dengungan masih terdengar ditelinga Sehun. Teleponnya tak diangkat sama sekali. Sehun mencoba berkali-kali menelepon seseorang tapi hasilnya masih sama. Sehun mendesah kecewa mengetahui teleponnya secara tak langsung ditolak.
"Sajangnim, rapat akan dimulai dalam 5 menit lagi. Dimohon sajangnim untuk pergi keruang rapat" ucap sekertarisnya yang berada diambang pintu. Sehun mengangguk dan beranjak menuju ruang rapat.
.
.
.
Sehun sedikit melonggarkan dasinya yang terasa mencekik lehernya. Rapat selama 4 jam menguras fisiknya. Tenaganya serasa dikuras habis setelah berdebat dengan para investor. Kepalanya seakan mau pecah karena banyak hal yang Sehun pikirkan saat ini. Sehun kembali mengambil ponselnya dan menelepon seseorang. Teleponnya sama sekali tak diangkat. Sehun berdiri dan beranjak pergi meninggalkan ruangannya. Sekertarisnya yang melihat kepergian Sehun gelagapan.
"Sajangnim...anda mau kemana? Sebentar lagi ada evaluasi" teriak sekertaris Sehun yang diacuhkan Sehun. Saat ini dalam pikiran Sehun hanya satu orang yaitu Luhan. Bagaimana caranya Sehun harus bertemu Luhan walaupun itu harus membatalkan semua jadwalnya yang sudah tersusun rapi.
Sehun menaiki mobilnya dengan kencang. Satu tangannya ia gunakan untuk melepas dasinya dan mengacak-acak rambutnya dan tangan yang lain memegang kendali stir mobil. Sehun mengumpat beberapa kali saat mobilnya hampir bertabrakan dengan mobil lainnya. Sehun terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi ke rumah Luhan.
Suara decitan keras terdengar saat Sehun dengan mendadak mengerem mobilnya saat sampai dirumah Luhan. Sehun turun dari mobilnya dengan sedikit membanting pintu mobil. Sehun mengetuk pintu rumah Luhan. Tak lama kemudian seseorang membuka pintu yang ternyata adalah maid rumah Luhan.
"Dimana Luhan?" tanya Sehun tanpa basa-basi.
"Nona Luhan berada dikamarnya, Tuan Sehun. Silahkan masuk"
Sang maid mempersilahkan masuk Sehun setelah mengatakan keberadaan Luhan. Sehun memasuki rumah Luhan dan langsung menuju kamar Luhan yang sudah hafal letaknya dimana. Sehun mengetuk pelan pintu kamar Luhan. Setelah mendengar Luhan mempersilahkan masuk, Sehun membuka pintu kamar Luhan dan memasukinya. Luhan yang awalnya tengah membaca diranjangnya menolehkan kepalanya. Dengan cepat Luhan mengalihkan pandangannya saat tau siapa yang masuk kekamarnya.
"Pergi!" usir Luhan. Sehun tak mendengar perkataan Luhan dan tetap mendekati Luhan. Sehun duduk ditepi ranjang Luhan dan mengamati kekasihnya yang memfokuskan diri ke buku yang sedang dibacanya.
"Lu..."
"Pergi! Aku tak ingin bertemu denganmu!" usir Luhan sekali lagi menyela ucapan Sehun.
"Baby Lu..."
Luhan menepis tangan Sehun yang hendak menyentuh tangannya. Luhan menatap Sehun tajam dan marah. Dirinya benar-benar tak ingin melihat Sehun saat ini. Luhan beranjak dari ranjangnya tapi ditahan oleh Sehun. Luhan mencoba melepaskan cengkeraman Sehun tapi cengkraman Sehun semakin kuat. Sehun menarik tangan Luhan hingga Luhan terbaring diranjangnya. Saat Luhan hendak bangkit, Sehun langsung mengunci pergerakan Luhan. Luhan terkejut dengan posisi mereka sekarang. Luhan berada dibawah Sehun lebih tepatnya berada dibawah kukungan Sehun. Sehun menatap dalam kedua mata Luhan yang berada dibawahnya.
"APA YANG KAU LAKUKAN, OH SEHUN!" teriak Luhan marah.
"Dengarkan aku dulu, Lu" ucap Sehun lembut.
"Lepaskan!" suruh Luhan dan terus memberontak dibawah Sehun. Sehun tampak kewalahan menangani Luhan yang terus memberontak.
"Lu...aku.."
"Lepas!"
"Aku..."
"Lepas!"
"DENGARKAN AKU, LU!" bentak Sehun yang emosi karena sedari tadi Luhan terus memberontak dan menyela kata-katanya. Luhan bungkam karena terkejut mendengar Sehun membentaknya. Matanya memanas dan mulai berair.
"Mian, Lu. Aku tak bermaksud membentakmu. Maafkan aku. Tapi dengarkan penjelasanku dulu" ucap Sehun melembut saat melihat Luhan memandangnya dengan tatapan kecewa.
"Aku mohon jangan marah, Lu. Aku minta maaf karena mengacuhkanmu tempo hari. Tapi aku tak bermaksud seperti itu. Aku benar-benar menyesal" tutur Sehun.
"Urusi saja bisnismu dan jangan pedulikan aku" sengit Luhan.
"Aku menyesal telah mengacuhkanmu, Lu. Maafkan aku" mohon Sehun.
"Aku sudah lama bersabar, Sehun. Tapi kau selalu saja mengulangi hal yang sama. Kau lebih mementingkan bisnismu itu" sinis Luhan. Sehun menghela nafas.
"Kau lebih penting Lu dari apapun" ucap Sehun tulus.
"Benarkah aku penting untukmu? Tapi selama ini kau asik dengan kerjaanmu dan melupakan aku. Kau bahkan memilih mengerjakan pekerjaanmu daripada menemaniku. Benarkah aku masih penting? Aku meragukan itu. Lebih baik kita rehat dulu dari hubungan kita" ucap Luhan. Sehun membelalakkan matanya saat Luhan minta rehat dari hubungan mereka.
"Pikirkan baik-baik, Lu. Berpikir dewasalah" ucap Sehun mengontrol emosinya.
"Itu keputusanku. Aku tak akan mengubahnya" ucap Luhan dan mengalihakan pandangannya kesamping.
"Mengertilah, Lu. Pikirkan posisiku saat ini" bujuk Sehun.
"Posisiku saja sudah bergeser dari pikiranmu, Sehun-ah" ucap Luhan yang membuat emosi Sehun meluap. Sehun melepas cengkramannya dan duduk membelakangi Luhan.
"Jika itu maumu maka akan ku turuti. Kita rehat hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Aku kecewa padamu. Harusnya kau mengerti posisiku saat ini. Selamat tinggal, Luhan-ssi" ucap Sehun dingin dan keluar dari kamar Luhan. Hati Luhan mencelos saat Sehun mengguanakan embel-embel –ssi. Luhan menangis saat Sehun pergi. Hatinya hancur saat dengan mudahnya Sehun menyetujui keputusannya. Luhan tak bermaksud mengatakannya tapi mulutnya dengan lancar mengeluarkan kata-kata itu. Hari itu Luhan menangis kencang seharian.
.
.
.
.
TBC
Aduh konflikku jadi kemana-mana. Mian kalo Hunhan aku buat berantem lagi. Dan maafkan aku karena belum bisa menyatukan Kaisoo dichap ini. Mungkin Chanbaek juga aku buat sedikit konflik tapi masih belum pasti. Mungkin beberapa reades agak bingung dengan settingan waktu dichap ini. Jadi dichap ini aku percepat 3 tahun. 2 tahun Kai masih di Korea dan 1 tahun Kai di Paris. Udah jelas harusnya kalau para readers baca isi hatinya Kai yang nunggu Kyungsoo selama 3 tahun diatas tadi. Aku masih belum tau cerita ini nanti kayak apa. Aku hanya mengikuti isi kepalaku aja. Makasih yang udah baca, review, follow atau favoritin epep dan aku. Maaf kalo belum bisa memuaskan para readers. Aku ucapkan selamat datang untuk para readers baru. Jangan lupa tinggalkan jejak dikotak review.
Big thanks to:
zoldyk, yixingcom, qie kaisoo 2, kimyori95, ViraaHee, Valencia Byun, SognatoreL, PandaCherry, NadynaDyna, Kyungra26, Desta Soo, ruixi1, lee kaisoo, kyunginsoo, hyeraPark, didinsoo, ariviavina6, Panda XOXO, NezuYuki, AraSabila, LuXiaoLu, , dhyamanta1214, kmy, Sniaanggrn, NopwillineKaiSoo, Yesha1214, Insooie baby, dorekyungsoo93, ayp, ParkHyunHa, hunhanrakaisoo , thelostisland35, kim kyung soo, JonginDO,Taman Coklat, Winnybo Q'star, k0j3t4, kyungsooaddict, YoungHeeSEHUN94, shijue, Riska laheb, Guest, BabyZhao,
kyungiee, Yesha1214, zhea . zhiioott, FitraBela, kinannkinanti, The Spring, lailatul . magfiroh . 16, keroro . r . kero, kyungiee, teukiangle, Silent Kaisoo, deerxiviiiv, she3nn0, humaira9394, xiuchenchen, yoosushipper729
MIND TO REVIEW?
