LAST LOVE
CAST : KAISOO, SLIGHT HUNHAN AND CHANBAEK
GS FOR ALL UKE
.
.
.
.
NO SIDERS!
.
.
.
DON'T BASH!
.
.
.
.
REVIEW PLIS!
.
.
.
.
SEMUA CAST BUKAN MILIKKU DAN IDE MURNI DARI OTAKKU
.
.
.
.
ENJOY
.
.
.
.
CHAPTER 10
.
.
.
.
HAPPY READING!
.
.
.
Chanyeol sedari tadi membuntuti Baekhyun dikampus. Chanyeol melangkahkan kakinya secara hati-hati agar Baekhyun tak mengetahui keberadaannya. Baekhyun berjalan dikoridor sendirian. Chanyeol mengendap-endap mengikuti Baekhyun. Saat Baekhyun berbelok Chanyeol langsung berlari agak kencang agar tak kehilangan Baekhyun. Saat Chanyeol akan mengintip dari balik tembok ponselnya berdering. Chanyeol gelagapan saat akan mematikan ponselnya. Setelah ponselnya benar-benar mati Chanyeol menghela napas lega dan mengintip. Tapi objek yang sedari tadi diikutinya sudah menghilang entah kemana. Chanyeol mengumpat dalam hati dan mengacak-acak rambutnya. Sia-sia sudah usahanya hari ini untuk membuntuti Baekhyun seharian hanya karena sebuah telepon tak penting.
Chanyeol yang menyerah memutuskan untuk pulang. Chanyeol berjalan lesu menuju tempat parkir. Tapi tiba-tiba tubuhnya menabrak seseorang hingga membuat orang itu terjatuh kesakitan. Chanyeol yang kaget langsung menghampiri orang yang ditabraknya.
"Gwenchanayo, Seulgi-ssi?" khawatir Chanyeol memegang pundak orang yang ditabraknya.
"Nan gwenchana, Chanyeol-ssi" jawab Seulgi penuh senyum. Chanyeol membantu Seulgi berdiri dengan merangkul pundaknya. Seulgi sedikit kesakitan saat berdiri sepertinya kakinya sedikit keseleo
"Sepertinya kakimu terkilir. Kau yakin tak apa-apa?" tanya Chanyeol memastikan saat Seulgi menahan rasa sakit saat berdiri. Posisi mereka saat ini seperti sedang bermesraan. Tangan Chanyeol yang semula berada dipundak Seulgi turun kepinggangnya guna menopang berat Seulgi. Sedangkan tangan Seulgi dilingkarkan disekitar leher Chanyeol untuk menahan tubuhnya.
"Aku benar-benar tak apa, Chanyeol-ssi" ucap Seulgi yang masih kesakitan.
"Aku akan membawamu keruang perawatan. Aku rasa kakimu harus segera diurut" putus Chanyeol. Seulgi mengangguk paham dan mengikuti langkah Chanyeol yang menuntunnya. Chanyeol melangkah pelan agar Seulgi bisa menyeimbangi langkahnya.
Baekhyun mengepalkan tangannya. Tak sengaja Baekhyun melihat adegan romantis dadakan tadi. Niatnya dia ingin kembali kekelasnya untuk mengambil barang yang tertinggal tapi langkahnya terhenti saat melihat Chanyeol merangkul mesra yeoja lain. Hati Baekhyun memanas menahan amarah dan cemburu. Ingin sekali dia menghampiri Chanyeol dan memakinya. Tapi saat ini Baekhyun sudah memutuskan untuk menjauhi Chanyeol. Dan ternyata dibelakangnya Chanyeol mengkhianatinya.
Baekhyun masih terdiam ditempatnya tadi. Matanya menatap kosong koridor yang menjadi saksi bisu sakit hatinya. Perasaannya hancur, benar-benar hancur. Baekhyun membalikkan tubuhnya lalu berjalan setapak demi setapak. Setiap kakinya melangkah air matanya menetes. Dengan tetap mempertahankan langkahnya, Baekhyun menatap lurus jalan yang dilaluinya. Tak peduli pandangan mahasiswa yang melihatnya heran. Baekhyun tetap melangkah dengan kepala tegap dan air mata yang membanjiri pipinya.
.
.
.
.
Sehun berjalan santai setelah memarkir mobilnya. Satu tangannya dimasukkan kedalam saku celananya. Penampilannya saat ini terlihat santai tak serapi biasanya. Dirinya hanya menggunakan kemeja putih yang ditutupi sweater tanpa lengan sehingga otot tubuhnya terlihat jelas, celana berwarna abu-abu yang pas dikaki jenjangnya dan sepatu kets merk ternama melengkapi penampilannya. Rambutnya dibiarkan sedikit berantakan. Sehun menekan tombol lift sambil bermain ponselnya. Pintu lift terbuka, Sehun langsung masuk dan menekan tombol lantai yang diinginkan tanpa mengalihkan pandangannya seperti sudah hafal letak tombolnya. Sehun terlalu fokus pada ponselnya dan tak menyadari jika dirinya telah sampai dilantai yang dituju. Sontak kepalanya mendongak saat pintu lift terbuka. Saat melihat angka yang tertera ditombol lift menunjukkan lantai yang dituju, Sehun langsung keluar lift. Sehun memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celananya sambil berjalan menuju kesuatu ruang.
"Tuan Oh? Anda mencari Kim bujangnim?"
Sehun membalik badannya saat ada yang memanggilnya. Sehun menatap penuh tanya pada salah satu pegawai yang tak dikenalnya tiba-tiba saja memanggilnya sambil bertanya. Pegawai itu berdehem sebentar saat menyadari dirinya lancang bertanya tanpa memperkenalkan diri.
"Maafkan saya Tuan Oh karena telah lancang berbicara tanpa memperkenalkan diri. Nama saya Kim Jongkook, saya asisten dari Nona Kim Minseok" ucap pegawai itu yang ternyata asisten dari Minseok sambil membungkukkan badannya hormat. Sehun sedikit mengangguk.
"Anda mencari Kim bujangnim?" tanya Jongkook kemudian.
"Dia tak ada diruangannya?" tanya Sehun balik.
"Kim bujangnim sedang melakukan inspeksi mendadak disetiap bagian" jelas Jongkook. Sehun mengangguk paham.
"Anda ingin menunggu diruangan Kim Bujangnim?" tawar Jongkook. Sehun mengangguk. Jongkook mempersilahkan Sehun untuk mengikutinya ke ruangan Kim bujangnim. Jongkook membukakan pintu ruangan Kim bujangnim dan mempersilahkan Sehun masuk.
"Silahkan duduk, Tuan Oh. Saya akan menyiapkan minuman untuk anda"
Jongkook menutup pintu. Sehun mendudukkan diri disofa yang tersedia diruangan itu. Sehun melihat interior ruangan itu. Sama sekali tak ada perubahan walau sudah setahun dia tak masuk ke ruangan itu karena pemilik ruangan ini pergi. Sehun mengecek jam tangan yang melingkar ditangannya kemudian mendesah. Pintu ruangan itu diketuk lalu terbuka. Jongkook membawa nampan yang berisi cangkir teh untuk Sehun. Jongkook meletakkan cangkir itu di meja depan Sehun lalu membungkuk pamit.
Sehun merebahkan tubuhnya dipunggung sofa. Sehun menatap langit-langit ruangan dan sedikit menerawang. Hubungannya dengan Luhan sedikit rumit hingga membuat mereka berakhir rehat. Awalnya Sehun tak ingin menyetujui ide gila Luhan tapi dirinya terpancing emosi dan kondisi lelahnya akhir-akhir ini membuatnya tak bisa berfikir jernih. Sehun mendesah saat memikirkan kejadian beberapa hari yang lalu. Sehun menegakkan tubuhnya dan mengambil cangkir teh yang berada dimejanya lalu menyesapnya pelan sambil menikmati aroma teh yang menguar. Samar-samar Sehun mendengar suara ribut dari luar. Pintu dibuka kasar oleh seseorang. Sehun menoleh melihat siapa yang melakukannya.
"Saya tak ingin kejadian ini terulang lagi! Saya akan memberi sangsi untuk setiap pegawai yang melakukan kesalahan!"
Sehun melihat seorang yang marah-marah yang ternyata pelaku pembuka pintu secara kasar. Dibelakangnya terlihat beberapa orang yang mengikutinya sambil menunduk. Orang itu duduk di kursi meja kerjanya secara kasar. Matanya menyolot marah kepada setiap orang yang berada dihadapannya.
"Apa kepergian saya membuat kalian keenakan?!"
"Jika begitu saya ingin mengadakan rapat evaluasi minggu depan. Setiap bagian harus mempresentasikan kegiatannya selama setahun saya pergi! Silahkan keluar!"
Para pegawai yang berdiri menunduk membungkukkan badannya dan berjalan keluar dengan keadaan yang sedikit tertekan atau stress mungkin.
"Kau terlalu keras pada bawahanmu, Kai" ucap Sehun datar. Kai memandang Sehun terkejut. Pasalnya dia tak menyadari keberadaan Sehun saat masuk ke ruangannya tadi. Mungkin dirinya terlalu terbawa emosi hingga tak menyadari ada seseorang didalam ruangannya.
"Sejak kapan kau ada disana?" tanya Kai sambil berjalan mendekati Sehun.
"Beberapa menit yang lalu. Jongkook yang mengantarkanku" jawab Sehun.
"Ah..kau sudah bertemu dengan Jongkook? Kau pasti bingung saat melihatnya pertama kali"
"Aku hanya merasa asing dengan wajahnya karena aku tak pernah melihatnya dikantor ini"
"Karena dia baru bekerja disini. Lalu apa yang kau lakukan disini? Apa ada masalah?" tanya Kai penasaran. Tentu saja penasaran. Seorang petinggi perusahaan Oh corp. datang keruangannya disaat jam kerja dengan penampilan santainya.
"Aku dan Luhan nyaris putus" lirih Sehun lalu menghela nafasnya berat. Kai tampak terkejut.
"Apa masalah yang dulu masih belum selesai?" tebak Kai.
"Masalah itu yang membuat kami hampir putus. Aku tak bisa meyakinkannya tentang pekerjaanku" cerita Sehun putus asa.
"Luhan Noona hanya merasa tersaingi saja. Biasanya dirimu selalu menempel kemana-mana dan sekarang kau jauh dari jangkauannya. Yah bisa dibilang Luhan Noona haus akan belaianmu" ucap Kai santai dan menumpukkan salah satu kakinya diatas kaki lainnya.
"Kau harus membagi waktumu dan pekerjaanmu. Buat Luhan Noona merasa nyaman saat berduaan denganmu" lanjut Kai sok bijak.
"Kau tak akan mengerti. Aku sudah melakukan semuanya tapi Luhan masih merasa kurang dengan itu"
"Kau benar, aku tak akan mengerti karena aku tak pernah mengalami itu" sedih Kai. Sehun yang melihat Kai tampak murung jadi sedikit merasa bersalah. Sehun tau bagaimana perasaan Kai yang selama ini menunggu seseorang selama 3 tahun ini.
"KAI!"
Sehun dan Kai langsung menoleh kearah pintu. Disana mereka melihat Suho berkacak pinggang didepan pintu yang sudah tertutup. Keduanya tak menyadari Suho sudah berada didalam ruangan Kai. Suho menghampiri Kai dengan sedikit kesal.
"Kenapa kau berlaku seenaknya saja dengan membuat keputusan seperti itu?!" kesal Suho.
"Keputusan apa?" tanya Kai dengan muka polos. Suho semakin kesal melihat muka adiknya yang seperti tak tau apa-apa itu. Ingin sekali dia mencekik adik kesayangannya itu.
"Kau memarahi semua pegawai dan mengadakan rapat evaluasi minggu depan" geram Suho.
"Oh yang itu. Itu karena mereka yang salah jadi jangan salahkan aku" ucap Kai santai. Suho semakin mendidih melihat tingkah laku adiknya yang seenaknya saja itu.
"Bagaimana kabarmu, hyung?" tanya Sehun mengalihkan pembicaraan. Suho mengalihkan pandangannya dan menatap Sehun.
"Sehun-ah! Kapan kau ada disini? Aku tak melihatmu" ucap Suho ceria saat melihat Sehun melupakan amarahnya kepada Kai. Kai memutar bola matanya malas melihat perubahan mood yang drastis dari hyungnya itu.
"Aku sudah dari tadi disini, hyung. Hyung saja yang tak memperhatikanku" ujar Sehun sambil tersenyum.
"Geurae? Ah...amarahku pada si hitam ini membuatku tak menyadari keberadaanmu" sindir Suho sambil menunjuk kearah Kai yang duduk disebelahnya. Kai mendelik kesal saat Suho mengatainya hitam. Sehun terkekeh saat melihat ekspresi jengkel Kai yang dikatai hitam oleh hyungnya sendiri.
Ketiganya langsung larut dengan pembicaraan mereka. Terkadang Suho menggoda dan mengejek Kai hingga Kai sebal. Begitu pula Kai yang akan membalas ejekan Suho sadis hingga hyungnya itu memukulinya. Sehun tertawa saat melihat kakak-adik itu bertengkar dengan cara mereka yang terlihat lucu dimata Sehun. Sehun sedikit melupakan masalahnya saat bersama Suho dan Kai. entah mengapa kedua orang itu bisa dengan mudah mengubah moodnya yang pertamanya sedih menjadi bahagia. Sehun merasa nyaman dengan kedua orang itu yang sudah dianggapnya sebagai keluarga.
Suara riuh tawa menggema disetiap sudut ruang Kai yang biasanya sepi. Ketiga orang itu sangat menikmati quality time mereka. Suasana bahagia mereka mendadak pecah saat suara telepon dimeja kerja Kai berbunyi. Kai berdecak lalu menuju meja kerjanya untuk menjawab panggilan telepon. Kai memencet satu tombol untuk menjawab panggilan itu.
"Kai, apa Suho ada disana? Dia sudah ditunggu rapat sedari tadi. Aku mencarinya kemana-mana." Kai melirik Suho yang menepuk jidatnya. Kai tau pasti hyungnya itu lupa dengan rapatnya sendiri.
"Ne, dia disini. Dia akan segera kesana, Noona" ucap Kai dan mematikan sambungannya.
Suho terlihat tegesa-gesa bangkit dan berlari kearah pintu ruangan Kai. Suho menutup pintu ruangan Kai sedikit keras hingga menimbulkan bunyi dentuman yang cukup menggetarkan kaca. Kai dan Sehun saling bertatapan kemudian tertawa terbahak-bahak. Tak mereka sangka dapat membuat seorang petinggi Kim Corp. itu melupakan rapatnya. Sehun melirik jam tangannya kemudian beranjak dari tempatnya.
"Sepertinya aku harus kembali. Aku ada kuliah sore" ucap Sehun yang sudah berada didepan Kai.
"Kalau begitu hati-hati" ucap Kai.
"Kapan kau akan kembali kuliah?" tanya Sehun.
"Besok aku akan mengurusnya ke kampus" jawab Kai. Kai dan Sehun berpelukan sebentar kemudian Sehun keluar ruangan Kai.
.
.
.
Pagi hari yang cerah membuat semangat Kai ke kampus semakin naik. Sudah lama dia tak datang ke kampusnya. Dia memutuskan untuk cuti selama setahun karena ke pergiannya ke Paris. Dan hari ini dia memutuskan untuk mengurus surat aktif kuliahnya. Kai tak terlalu khawatir akan ketinggalan pelajaran. Kai itu cerdas. Dengan bakatnya ia mampu mengembangkan perusahaan appanya menjadi semakin maju. Bahkan Kai mampu menangani masalah anak perusahaannya di Paris sendirian. Sebenarnya Suho meminta Kai untuk menjadi direktur utama tapi Kai menolak. Kai hanya ingin mendampingi hyungnya saja karena itu adalah haknya Suho sebagai anak tertua.
Kai melangkahkan kaki jenjangnya di koridor kampus. Beberapa mahasiswa tampak berbisik melihat Kai yang kembali ke kampus. Kepopulerannya di kampus tak surut walaupun dia pergi selama setahun. Langkah Kai terhenti saat Luhan mencegatnya dan memandangnya tajam.
"Kau tak memberitahuku jika akan kembali kuliah?" tanya Luhan dingin.
"Mian, Noona. Aku lupa. Akhir-akhir ini banyak kerjaan diperusahaan jadi aku..."
"Selalu saja perusahaan dan bisnis yang dipikirkan para lelaki. Tak sadarkah itu membuat kalian semakin menjauh" gerutu Luhan pergi. Kai menyamai langkah Luhan dan merangkul saudara sepupunya itu.
"Kami para namja tau jika itu menyita waktu kami. Tapi taukah para yeoja jika itu kami lakukan untuk masa depan mereka kelak?" tanya Kai dan mendekatkan kepalanya kewajah Luhan. Luhan menoyor kepala Kai menjauhi wajahnya.
"Jika itu memang untuk masa depan kami, jangan membuat kami menderita sebelum meraih masa depan bahagia kami" ucap Luhan menghempaskan tangan Kai yang berada dipundaknya lalu beranjak pergi. Kai tersenyum menanggapi perkataan Luhan. Kai yakin jika Luhan mengerti akan posisi berat para lelaki. Tapi Luhan dan para yeoja hanya ingin mereka tak diacuhkan hanya karena alasan klasik. Kai kembali melangkah menuju ke ruang administrasi mengurus kuliahnya.
.
.
.
.
"Baek...Baek...Dengarkan aku chagi. Maaf aku mengacuhkanmu waktu itu tapi aku mohon jangan seperti ini. Jangan menghindariku lagi"
Saat ini Chanyeol sedang memohon ke Baekhyun yang mengacuhkannya. Baekhyun sibuk membereskan peralatan belajarnya. Kelas Baekhyun sudah tampak sepi dan hanya mereka berdua yang masih berada dikelas.
"Ayolah, chagi. Aku minta maaf. Aku janji tak akan mengacuhkanmu lagi. Atau kau ingin sesuatu, eoh? Akan kubelikan asal kau mau berhenti mendiamkanku" mohon Chanyeol. Baekhyun menghentikan gerakannya dan memandang tajam Chanyeol.
"Apa menurutmu aku seperti yeoja yang kekurangan uang, Chanyeol-ssi. Aku bisa membeli semua hal yang kuinginkan dengan uangku sendiri. Aku juga bukan yeoja matre yang haus akan uangmu. Maafkan aku karena mengecewakanmu, Chanyeol-ssi" sinis Baekhyun lalu pergi meninggalkan Chanyeol yang mematung.
Chanyeol memukul-mukul kepalanya kesal. Betapa bodohnya dia mengatakan hal itu yang dapat memperparah amarah baekhyun. Chanyeol langsung berlari mengejar Baekhyun. Chanyeol terus memohon kepada Baekhyun. Baekhyun masih saja mengacuhkannya dan terus berjalan. Tak ada hentinya Chanyeol mengatakan kata maaf ke Baekhyun. Tapi gadis itu tetap dengan pendiriannya. Langkah keduanya berhenti saat ada seorang yeoja yang menghalangi jalan Baekhyun. Baekhyun menatap datar ke arah yeoja dihadapannya. Sedangkan Chanyeol menatap bingung yeoja yang mengganggu acara minta maafnya.
"Mian Baekhyun-ssi, Chanyeol-ssi menganggu kegiatan kalian. Tapi aku ingin berterima kasih kepada Chanyeol-ssi" ucap Seulgi malu-malu. Baekhyun semakin datar dan tajam memandang Seulgi.
"Itu bukan urusanku. Nikmati waktu kalian" ketus Baekhyun melanjutkan perjalanannya. Chanyeol yang menyadari Baekhyun pergi langsung mengejarnya tapi tangannya ditahan oleh Seulgi. Chanyeol menatap dingin tangannya yang dipegang Seulgi. Seulgi yang sadar langsung melepaskan tangannya.
"Jika kau ingin berterima kasih kepadaku maka menjauhlah dariku. Dengan begitu kita impas dan tak ada lagi yang namanya balas budi" ucap Chanyeol kejam dan berlalu dari hadapan Seulgi. Seulgi menitikkan air matanya saat mendengar kalimat yang dikeluarkan Chanyeol. Gadis itu memang mempunyai perasaan kepada Chanyeol walaupun tau jika Chanyeol sudah memiliki kekasih. Tapi rasanya semakin membesar saat Chanyeol menolongnya. Dirinya dibuat melayang akan tindakan Chanyeol. Tapi rasa itu seakan dihempaskan kuat saat Chanyeol dengan kejamnya mengatakan untuk menjauhinya.
.
.
.
Kai sibuk meneliti setiap berkas dikantornya. Matanya dengan cermat membaca setiap kata dan dengan cepat pula memproses semua. Kai memutuskan untuk kembali ke perusahaannya untuk menyelesaikan meneliti laporan-laporan dari bawahannya sebelum ditandatangani oleh hyungnya. Semua dokumen yang akan ditandatangani Suho harus melewati pengecekan dari Kai. Hal itu akan memperingan pekerjaan direktur yang sangat banyak.
Kai terus membolak-balik dokumen-dokumen yang ada dipegangannya. Matanya masih fokus membaca dan memahami semua isinya. Sesekali dahinya mengkerut dan kepalanya diangguk-anggukan. Kai terus mengecek setiap dokumen penting yang menumpuk dimejanya. Dari yang awalnya tumpukan itu meninggi disisi kirinya kini mulai berkurang. Kai menghela nafas sejenak. Laporan-laporan ini membuatnya sedikit pusing. Kai meregangkan tubuhnya. Diambilnya ponsel yang ia letakkan diatas meja kerjanya. Kai membuka kunci layar ponselnya. Disana terpampang wajah seorang yeoja imut yang tengah tersenyum lebar. Mata belonya terlihat menyipit saat tersenyum dan senyumnya sangat menawan dengan bentuk hati dibibirnya. Kai mengusap pelan layar ponselnya. Pandangannya tak pernah lepas dari foto diponselnya itu. Bunyi telepon diatas mejanya membuat buyar lamunannya terhadap gadis diponselnya. Kai memencet tombol.
"Kai pesananmu sudah datang!" pekik riang seseorang diseberang line telepon.
"Pesanan? Aku tak pernah memesan sesuatu, Noona" bingung Kai.
"Ini pesanan khusus untukmu"
"Maksudmu?"
"Sekertaris pribadi barumu!"
"Sudah kukatakan berkali-kali jika aku..."
"Dia akan ke ruanganmu dan membawakan minuman untukmu. Aku yakin kau pasti lelah harus menyelesaikan mengecek laporan-laporan itu"
"Mwoya?!" gerutu Kai saat sambungannya diputus sepihak oleh Noonanya –Minseok.
Kai terus menggerutu tak jelas semenjak Minseok memutus secara sepihak line teleponnya. Noonanya itu tak ingin ditolak sama seperti sepupunya yang satunya yaitu Luhan. Kedua yeoja itu sangat tak suka jika kemauan mereka ditolak. Mereka akan memaksa hingga keinginan mereka terpenuhi. Dan semua sasaran pemaksaan itu adalah Kai. Karena Kai merupakan anggota termuda di keluarga besar Kim. Kai mendesah pelan dan pasrah dengan keputusan semaunya saudaranya itu.
Pintu ruangan Kai diketuk. Kai sedikit berteriak untuk mempersilahkan masuk orang yang berada diluar. Orang yang mengetuk itu kemudian masuk perlahan dan kembali menutup pintu dengan membawa cangkir yang berisi kopi. Kai sama sekali tak melirik siapa yang datang. Dirinya memfokuskan diri melanjutkan pengecekannya. Orang itu membungkukkan diri dihadapan Kai walaupun Kai tak melihatnya. Orang itu meletakkan secangkir kopi yang dibawanya diatas meja kerja Kai. Kai hanya melirik cangkir kopi yang dibawa orang itu dan kembali berkutat dengan laporan-laporannya.
"Kau sekertaris pribadi yang diutus Minseok Noona?" tanya Kai datar yang masih memperhatikan kertas-kertasnya.
"Ne, bujangnim" ucap orang itu lembut.
DEG!
Jantung Kai berdetak cepat. Darahnya mengalir cepat saat mendengar suara orang itu. suara yang sudah lama tak ia dengar. Suara yang mampu menghanyutkan pikirannya. Suara yang selalu menggema dihatinya. Suara yang tak akan pernah ia lupakan walaupun sudah lama ia tak mendengarnya. Perlahan Kai mengangkat kepalanya untuk melihat orang yang berada dihadapannya. Kai melebarkan mata sipitnya saat matanya bertemu dengan mata orang itu. Orang itu tersenyum manis kepadanya. Kai merasakan nafasnya terhenti. Wajah yang selama ini ia rindukan ada dihadapannya sedang tersenyum manis. Kai menganga tak percaya. Ditampar wajahnya yang tampan. Kai kesakitan dan mengusap pipi bekas tamparannya. Orang itu terkekeh pelan melihat tingkah laku Kai. Kai semakin yakin jika ini bukan mimpi. Ini nyata. Orang yang ia rindukan kembali. Orang itu ada dihadapannya.
"Soo..."
"Annyeong, Kai" sapa Kyungsoo lembut. Kai beranjak dari duduknya lalu memeluk erat Kyungsoo. Kai semakin mengeratkan pelukannya dan Kyungsoo membalas pelukan Kai seadanya. Kai membenamkan wajahnya dilekuk leher Kyungsoo menyesapi aroma yang sudha lama tak ia cium. Aroma Kyungsoo masih sama seperti dulu. Membuatnya tenang dan nyaman.
.
.
.
.
.
Baekhyun meneguk habis minuman yang dipegangnya. Sudah 2 botol alkohol kadar sedang yang dihabiskannya. Baekhyun menimang-nimang gelas kosong yang berada ditangannya. Pandangan matanya berubah sayu. Tubuhnya terkulai lemas di meja bar sebuah klub. Baekhyun sudah cukup mabuk. Keadaannya benar-benar berantakan. Bibir manis itu menggerutu tak jelas. Baekhyun dengan kasar mengambil ponselnya yang berada ditasnya dan menelepon seseorang. Baekhyun menunggu sedikit lama hingga panggilan teleponnya diangkat.
"Dasar Park Dobi bodoh! Kau mengacuhkan aku dan sekarang kau sedang bersenang-senang dengan gadis lain! Aku membencimu! Sangat membencimu! Jangan temui aku lagi dan jangan pernah tunjukkan lagi dirimu dihadapanku, arraseo?!" bentak Baekhyun.
Baekhyun memutus sambungan teleponnya. Kepalanya tak sanggup lagi berdiri tegak. Matanya sudah berat untuk membuka. Baekhyun jatuh tertidur setelah menelepon seseorang. Sang bartender yang sedari tadi mengamatinya langsung panik saat Baekhyun tertidur. Diambilnya ponsel Baekhyun dan menghubungi orang yang baru saja dihubungi Baekhyun. Bartender itu memberikan alamat klub kepada orang itu agar menjemput Baekhyun yang sudah mabuk.
Tak begitu lama seorang namja tinggi dengan telinga aneh datang tergesa-gesa. Chanyeol langsung menuju ke meja bar. Bartender yang meneleponnya tadi melambaikan tangannya. Chanyeol langsung menghampiri bartender itu. Bartender itu menunjuk Baekhyun yang tertidur dimeja bar. Chanyeol mengguncang tubuh Baekhyun agar Baekhyun sadar. Tapi tak ada pergerakan berarti dari Baekhyun.
"Kelihatannya dia mabuk berat. Dia sudah menghabiskan dua botol" ucap bartender itu. Chanyeol mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
Chanyeol membopong Baekhyun yang tertidur pulas ala bridal style. Chanyeol mendekap erat Baekhyun seakan tak ingin Baekhyun pergi. Sesampainya di mobilnya Chanyeol membuka pintu mobil dengan susah payah. Chanyeol meletakkan pelan Baekhyun dikursi sebelah sopir dan memakaikannya sabuk pengaman. Chanyeol mengamati Baekhyun yang tertidur pulas. Dirapikannya rambut Baekhyun yang sedikit berantakan. Chanyeol tersenyum kemudian mencium kening Baekhyun lama lalu menutup pintu mobil. Chanyeol langsung melesat masuk kedalam mobilnya.
Chanyeol menjalankan mobilnya menembus keheningan malam di kota Seoul. Sesekali Chanyeol melirik kearah Baekhyun yang tertidur. Chanyeol menghela nafasnya. Chanyeol sempat terkaget saat Baekhyun meneleponnya dan memakinya. Chanyeol yakin saat itu ada yang tak beres dengan Baekhyun. Hal itu terbukti saat ada seseorang yang meneleponnya dari nomer Baekhyun dan memberitahunya jika Baekhyun mabuk. Dengan terburu-buru Chanyeol datang ke alamat yang diberitahu orang tadi.
Chanyeol mengacak rambutnya frustasi saat tak bisa meyakinkan Baekhyun. Keadaannya begitu rumit. Dia tak bisa meninggalkan perusahaan appanya hanya demi Baekhyun karena dia sudah membuat perjanjian dengan appanya dan appa Baekhyun. Saat ini tak masalah baginya jika Baekhyun marah kepadanya. Karena semua yang ia lakukan ini demi Baekhyun dan masa depan mereka. Chanyeol yakin jika suatu saat Baekhyun akan mengerti akan perjuangannya ini.
.
.
.
.
TBC
Jeng-jeng! Chanbaek dilanda masalah. Kaisoo udah aku ketemuin. Maafkan aku jika chap ini lebih banyak Chanbaek momennya. Dan maafkan aku juga jika membuat chanbaek bermasalah. Aku gag tau kapan akan membuat Hunhan dan Chanbaek baikan yang jelas aku mau fokus dulu ma momennya Kaisoo. Mungkin chap depan aku banyakin momennya Kaisoo dan lovey dovey mereka. Kasian juga si item galau terus. Aku jadi tak tega,, kkkk. Apa merasa alurnya terlalu lambat karena baru berhasil buat kaisoo ketemu dichap ini? Klo untuk epep yang kependekan itu emang aku bisa buatnya segitu-gitu duank. Hehehehe.
Sudah ada yang maen tebak-tebakan dichap kemarin siapa sekertarisnya Kai dan disinilah jawabannya. Selamat buat para readers yang berhasil menjawab dengan benar. Masih ada beberapa readers yang bingung dengan alur dichap kemarin ya. Chap kemarin aku buat saat mereka masih liburan kemudian langsung loncat ketiga tahun setelahnya. Aku sengaja gag ngasih tulisan atau tanda. Berharap para readers tau sendiri/plak/ Maafkan aku yang gag nyeritain kehidupan Kyungsoo selama jauh dari Kai. Memmang aku buat begitu jadi yang aku ceritain Cuma dari sisi Kai aja. Maaf klo banyak yang kecewa.
Makasih buat para readers yang setia nunggu epepku dan yang sudah meninggalkan jejak dikotak review. Makasih juga yang udah follow atau favoritin epepku. Untuk para silent readers terima kasih juga tapi segeralah bertaubat, hehehe. Selamat datang buat para readers baru. Selamat menikmati epepku. Aku selalu open untuk para readers baru.
Big thanks to:
zoldyk, yixingcom, qie kaisoo 2, kimyori95, ViraaHee, Valencia Byun, SognatoreL, PandaCherry, NadynaDyna, Kyungra26, Desta Soo, ruixi1, lee kaisoo, kyunginsoo, hyeraPark, didinsoo, ariviavina6, Panda XOXO, NezuYuki, AraSabila, LuXiaoLu, , dhyamanta1214, kmy, Sniaanggrn, NopwillineKaiSoo, Yesha1214, Insooie baby, dorekyungsoo93, ayp, ParkHyunHa, hunhanrakaisoo , thelostisland35, kim kyung soo, JonginDO,Taman Coklat, Winnybo Q'star, k0j3t4, kyungsooaddict, YoungHeeSEHUN94, shijue, Riska laheb, Guest, BabyZhao,
kyungiee, Yesha1214, zhea . zhiioott, FitraBela, kinannkinanti, The Spring, lailatul . magfiroh . 16, keroro . r . kero, kyungiee, teukiangle, Silent Kaisoo, deerxiviiiv, she3nn0, humaira9394, xiuchenchen, yoosushipper729, hxnhxn, InSoo-nim, RiKyungie, Sniaanggrn
MIND TO REVIEW?
