LAST LOVE
CAST : KAISOO, SLIGHT HUNHAN AND CHANBAEK
GS FOR ALL UKE
.
.
.
.
NO SIDERS!
.
.
.
DON'T BASH!
.
.
.
.
REVIEW PLIS!
.
.
.
.
SEMUA CAST BUKAN MILIKKU DAN IDE MURNI DARI OTAKKU
.
.
.
.
ENJOY
.
.
.
.
CHAPTER 12
.
.
.
.
HAPPY READING!
.
.
.
Kyungsoo duduk sendiri disalah satu meja cafe. Kyungsoo mengedarkan pandangannya melihat seluruh interior cafe. Cafe itu sangat nyaman dan interiornya berkesan modern. Sangat nyaman untuk tempat hangout. Secangkir kopi panas menemani Kyungsoo dipagi menjelang siang ini. Uap dari kopi itu masih terlihat menandakan isinya masih panas. Kyungsoo belum sedikitpun menyentuh kopi yang baru saja diantarkan oleh seorang pelayan. Kyungsoo masih menikmati suasana cafe. Matanya mengerjab-ngerjab lucu. Pemandangan didalam cafe tak membuatnya bosan sedikitpun.
Hari ini Kyungsoo berdandan santai karena hari ini adalah weekend jadi dirinya tak perlu bekerja. Dress selutut berwarna tosca membalut tubuh langsing Kyungsoo. Rambutnya ia gerai tapi bagian samping rambutnya ia kepang dan disatukan dibagian belakang. Berkesan manis dan terlihat lebih muda. Wajahnya hanya ia beri bedak dan sedikit lipstik untuk bibirnya. Jika orang melihat Kyungsoo mungkin mereka akan menyangka jika Kyungsoo masih duduk disekolah menengah atas. Wajahnya tak menggambarkan jika ia sudah bekerja dan berumur 20 tahunan.
Kyungsoo menyesap kopinya yang sedari tadi ia biarkan. Rasa pahit dengan cepat menjalar dimulut Kyungsoo. Kyungsoo meletakkan cangkirnya dan mengambil buku ditasnya. Ia buka bukunya kemudian mulai membaca dibagian yang ia tandai. Kyungsoo membaca tiap deret kalimat didalam bukunya. Kyungsoo membalik lembar demi lembar bukunya. Tiba-tiba suara melengking enyapa indera pendengarannya.
"KYUNGIE!"
Kyungsoo menoleh kemudian tersenyum saat ada dua yeoja datang menghampiri mejanya. Kyungsoo berdiri dan langsung memeluk kedua yeoja itu secara bergantian. Heartlipsnya tak pernah luntur diwajahnya saat kedua yeoja itu memeluknya. Perasaan bahagia menghampiri Kyungsoo karena dia bisa bertemu dengan sahabatnya dulu. Walaupun Kyungsoo jauh berada di Jepang tapi kedua sahabatnya ini selalu meneleponnya dan memberi kabar keadaan di Korea. Di liburan musim panas lalu, kedua yeoja itu memberi kejutan dengan datang ke Jepang.
"Neomu bogoshippeosseoyo" ucap Baekhyun dengan nada manjanya. Kyungsoo terkekeh mendengar suara Baekhyun yang seperti ibu mertua merindukan menantunya.
"Kau terdengar seorang mertua yang lama tak bertemu menantunya, Baek" cibir Luhan disebelah Baekhyun. Baekhyun tak menggubris perkataan Luhan dan hanya memandang Kyungsoo dengan memegang kedua tangannya.
"Aku juga merindukan kalian" ujar Kyungsoo lembut.
"Kenapa kau baru memberitahu kami jika kau sudah berada di Korea?" kesal Luhan cemberut.
"Mian, eonnie. Kai menahanku beberapa hari jadi aku baru memberitahu kalian kemarin" sesal Kyungsoo.
"Dasar si hitam jelek itu selalu berbuat seenaknya. Awas saja nanti" geram Luhan.
"Lalu apa yang kau lakukan sekarang, Kyung? Katanya kau sudah bekerja?" tanya Baekhyun.
"Ne. Aku bekerja diperusahaan Kai sebagai sekertaris pribadinya"
"Mwoya?! Kenapa dia menjadikanmu sekertarisnya? Setauku dia tak pernah mau memiliki sekertaris" heran Luhan.
"Itu karena Minseok eonni yang menjadikanku sekertaris Kai. Bahkan Kai tak tau jika sekertaris barunya adalah aku" jawab Kyungsoo.
"Minseok eonni? Pasti dia merencanakan sesuatu dengan menjadikanmu sebagai sekertaris" selidik Luhan. Kyungsoo tersenyum.
"Lalu bagaimana hubungan kalian dengan Chanyeol oppa dan Sehun?" tanya Kyungsoo. Luhan dan Baekhyun terdiam. Baekhyun melepaskan tangannya dari genggaman tangan Kyungsoo. Sedangkan Luhan memasang ekspresi sendunya. Kyungsoo sempat bingung melihat ekspresi kedua sahabatnya itu.
"Kalian bertengkar?" tebak Kyungsoo tepat sasaran. Luhan mengangguk sedangkan Baekhyun hanya diam.
"Karena pekerjaan mereka?" tebak Kyungsoo lagi. Baekhyun dan Luhan menatap Kyungsoo. Kyungsoo yang merasa ditatap langsung mengerti. Ternyata tebakannya benar semua.
Baekhyun memalingkan mukanya tak ingin membahas lebih lanjut. Kyungsoo tersenyum meraih tangan Baekhyun dan Luhan. Kyungsoo menggenggam erat tangan sahabatnya.
"Aku tau kalian marah karena merasa tersisihkan. Tapi coba pahami mereka" tutur Kyungsoo.
"Kau tak akan mengerti, Kyung" sanggah Baekhyun.
"Aku sangat mengerti, Baek. Posisi mereka sangat sulit. Mereka tak bisa memilih antara pekerjaan atau kalian karena menurut mereka semuanya sangat penting"
"Setidaknya saat bersamaku dia tak membahas tentang pekerjaan, Kyung. Seakan-akan dipikiran mereka hanya pekerjaan" sebal Baekhyun.
"Mereka tak membicarakan pekerjaan. Mereka hanya mengadu. Layaknya anak kecil yang mengadu pada eommanya tentang yang terjadi disekolahan. Percayalah, Baek"
"Lalu kenapa dia menyetujui keputusanku untuk rehat? Biasanya dia akan menolak dan meyakinkanku" ucap Luhan sedih.
"Karena dia tak ada pilihan eonni. Mereka lebih memilih rehat agar kalian sama-sama berpikir dan merenungi semuanya. Dia tak ingin kehilanganmu. Jika dia masih terus meyakinkanmu dan eonni terus-terusan menolaknya mungkin kalian bisa putus"
"Lalu apa yang akan kau lakukan jika ada diposisi kami, Kyung?" tanya Baekhyun pada akhirnya.
"Tentu memahami posisi mereka. Kalian harus melihat bagaimana mereka bekerja. Tampang serius mereka, keringat yang mereka keluarkan, dan tubuh lelah mereka adalah bukti jika mereka berusaha keras demi diri mereka dan masa depan kalian. Saat aku melihat wajah serius Kai saat bekerja membuatku terpana akan sosoknya. Ada hal lain yang kita tak pernah tau. Betapa sangat berkharismanya dia saat serius bekerja. Seakan-akan meyakinkan kita jika akan selalu serius dalam berbagai hal yang menyangkut tentang diri kita. Dia bekerja untuk kita dan kita harus mendukungnya. Senyuman kita disaat mereka lelahlah yang mampu menghilangkan segala penat mereka karena bekerja" jelas Kyungsoo.
Baekhyun dan Luhan tertegun mendengar ucapan Kyungsoo. Mereka tak pernah berpikir sejauh itu, yang mereka pikirkan hanya perasaan mereka sendiri. Kyungsoo terlihat lebih dewasa. Segala pemikirannya sangat matang dan tak pernah mengambil keputusan dari satu sisi. Kyungsoo benar-benar hebat. Mereka berdua merasa minder dengan Kyungsoo. Mereka lebih tua dari Kyungsoo tapi pemikiran mereka masih seperti anak kecil. Kai benar-benar beruntung bisa mendapatkan Kyungsoo. Kyungsoo merupakan wanita impian untuk para lelaki.
"Aku tau kalian paham dengan posisi mereka. Jangan tutup telinga kalian dari penjelasan mereka. Dengarkan baik-baik setiap kata yang mereka keluarkan. Jika kalian mampu memahami setiap penjelasan mereka maka kalian akan menemukan hal yang sangat penting. Semua yang mereka lakukan hanya untuk kalian. Kebahagiaan kalian" saran Kyungsoo bijak. Kyungsoo tersenyum melihat Baekhyun dan Luhan diam memikirkan kata-katanya. Kyungsoo tau jika Baekhyun dan Luhan sangat mencintai Chanyeol dan Sehun. Rasa takut kehilanganlah yang membuat Luhan dan Baekhyun menutup telinga mereka dari semua penjelasan kekasih mereka.
Kyungsoo memesankan dua cangkir teh untuk Luhan dan Baekhyun yang masih berdiam diri. Kyungsoo meletakkan cangkir teh yang diantarkan pelayan didepan Baekhyun dan Luhan. Baekhyun dan Luhan menatap kosong kearah cangkir teh dihadapan mereka.
"Minumlah. Itu akan merilekskan pikiran kalian" ucap Kyungsoo.
Baekhyun dan Luhan mengangkat cangkir tehnya lalu meminumnya perlahan. Menikmati aroma teh yang menenangkan dan rasa manis teh dimulut mereka. Benar kata Kyungsoo. Pikiran mereka menjadi lebih tenang dan rileks. Kyungsoo sahabat yang dapat mereka andalkan.
.
.
.
.
Baekhyun berjalan menuju kamarnya. Harinya lebih menyenangkan setelah bertemu Kyungsoo dan bisa menghabiskan waktu mereka bersama seperti dulu. Rasanya semua beban yang ada pada dirinya menghilang sedikit demi sedikit. Tubuhnya lebih ringan dan dia dapat tertawa lepas seharian ini. Baekhyun sangat senang hari ini. Langkahnya terhenti saat melewati ruang kerja appanya. Baekhyun tak sengaja mendengar percakapan appanya dengan seseorang.
"Kau sudah berhasil memajukan perusahaan appamu. Aku sangat bangga padamu. Kau menepati janjimu. Sekarang aku yakin kau adalah pria yang cocok untuk putriku"
"Akan saya lakukan apapun untuk bersama Baekhyun. Walaupun itu akan menyakiti hati saya"
Baekhyun membeku mendengar suara yang sangat ia kenali. Baekhyun menutup mulutnya. Dirinya syok mendengar percakapan appanya dengan Chanyeol. Dia tak menyangka jika Chanyeol membuat suatu perjanjian dengan appanya. Tapi kenapa selama ini Chanyeol tak memberitahunya. Kenapa Chanyeol memendamnya sendiri. Semua pertanyaan menghampirinya. Jadi Chanyeol bekerja keras selama ini untuk dirinya? Tiba-tiba Baekhyun teringat kata-kata Kyungsoo. Kyungsoo benar lagi tentang semua yang dilakukan Chanyeol untuk dirinya. Baekhyun mengingat perkataan terakhir Chanyeol. Chanyeol tersakiti? Karenanya? Dan dia menambah sakit hatinya dengan mendiamkannya? Pikiran Baekhyun berkecamuk. Dadanya terasa sesak. Segala yang ia lakukan ternyata menyakiti Chanyeol dan Baekhyun tak menyadari itu.
Pintu ruangan kerja appanya terbuka. Baekhyun tak menyadari ada seseorang yang terkejut saat membuka pintu. Chanyeol melebarkan matanya saat melihat gadis mungil yang adalah kekasihnya itu berdiri membelakangi pintu. Pikiran Chanyeol kalut. Chanyeol takut jika Baekhyun mendengar percakapannya dengan Tuan Byun.
"Baek..."
Baekhyun tersentak saat mendengar suara bass yang berasal dari belakang tubuhnya. Baekhyun langsung berlari menuju kamarnya tanpa menoleh kebelakang. Chanyeol menatap kepergian Baekhyun sendu. Hatinya teriris melihat Baekhyun yang tak mau melihatnya. Baekhyun menutup pintu kamarnya dan bersandar dibalik pintu. Baekhyun masih terlalu syok menerima kenyataan. Selama ini bukan dirinya yang tersakiti tapi Chanyeol lah yang tersakiti. Baekhyun masih tak tau harus berbuat apa. Ini semua terlalu mendadak untuknya. Baekhyun menangis dalam diam. Baekhyun memeluk kedua lututnya dna membenamkan wajahnya.
.
.
.
"Tenanglah, Baek. Tenangkan pikiranmu dulu"
"..."
"Sekarang kau tau kan alasan Chanyeol oppa begitu?" Kyungsoo menggeliat tak nyaman.
"..."
"Kau harus segera menemuinya dan mendengarkan semua penjelasannya" Kyungsoo semakin menggeliat dan resah.
"..."
"Tak perlu takut. Hwaiting!"
Pip
Kyungsoo semakin menggeliat. Sedari tadi mulut Kai tak berhenti bergerak disekitar tengkuknya. Mengecupnya pelan dan sesekali menjilatnya. Kyungsoo yang sedang menerima telepon dari Baekhyun tak bisa berkonsentrasi. Saat ini Kai sedang memeluk Kyungsoo dari belakang dan menciumi leher Kyungsoo. Kyungsoo tak bisa menolak perlakuan Kai. Setelah sampai di apartemen Kai, dia langsung ditarik Kai duduk disofa dan dipeluk erat. Kyungsoo yang ingin pergi kedapur untuk membuatkan Kai minuman saja tak diperbolehkan Kai. Kai benar-benar mengurungnya dalam kungkungannya. Dan Kyungsoo rasa akan membutuhkan waktu lama untuk lepas dari pelukan Kai.
Kai mengendus aroma tubuh Kyungsoo yang sangat membuatnya kecanduan. Sesekali ia mencium leher gadisnya itu. Disibaknya rambut Kyungsoo yang mengganggu aktivitasnya. Kyungsoo semakin gelisah dipelukannya. Kai semakin gencar mengerjai leher Kyungsoo. Rasanya Kai tak ingin melepaskan Kyungsoo dari pelukannya.
Kai menghentikan aksinya. Kepalanya ia benamkan diperpotongan leher Kyungsoo. Mencoba menghirup wangi tubuh Kyungsoo. Kai memejamkan matanya dan menikmati sensasi yang selalu ia rindukan. Kai semakin erat memeluk Kyungsoo. Kyungsoo mengusap tangan Kai yang berada disekitar perutnya. Kai yang menerima usapan dari tangan Kyungsoo merasa sangat mengantuk. Nafas Kai mulai teratur. Kyungsoo yang merasa tak ada pergerakan dari Kai perlahan-lahan menolehkan kepalanya. Kai yang sedang tertidur membuat senyum Kyungsoo mengembang. Dengan hati-hati Kyungsoo memegang kepala Kai. Kyungsoo bangkit perlahan agar tak membangunkan Kai. Kyungsoo memposisikan dirinya duduk disebelah Kai. Kyungsoo meletakkan kepala Kai diatas bantal yang dipangkunya.
Kyungsoo kaget saat Kai bergerak untuk menyamankan dirinya. Kyungsoo mengamati Kai yang terlihat menyamankan posisi barunya. Kai membenamkan wajahnya diperut Kyungsoo dan kembali terlelap. Kyungsoo sedikit terkekeh melihat tingkah kekanakan Kai. Kyungsoo membelai rambut Kai. Kekasih hatinya yang selama ini ia rindukan sekarang berada dipangkuannya.
Kyungsoo ingat selama berada di Jepang dia tak pernah bisa lepas memikirkan Kai. Kyungsoo sebenarnya tak tega meninggalkan Kai yang terlihat begitu rapuh saat itu. Tapi dia sudah berjanji kepada dirinya sendiri untuk fokus menyelesaikan sekolahnya. Dan Kyungsoo yakin Kai bisa melakukan semua hal sendirian walaupun tanpa Kyungsoo. Kyungsoo selalu menjaga hatinya untuk Kai. Kyungsoo juga yakin Kai akan melakukan hal yang sama. Baekhyun dan Luhan selalu memberitahu kabar Kai selama dia di Jepang. Kedua sahabatnya selalu melapor perkembangan Kai. Kyungsoo sangat bahagia saat mengetahui jika Kai akan membantu Suho mengelola perusahaan appanya. Dan Kyungsoo juga bangga pada Kai karena sudah mau menemui halabeojinya walaupun dengan syarat. Kyungsoo percaya jika Kai masih menyayangi halabeojinya. Buktinya Kai ingin membantu Suho mengelola perusahaan appanya yang dulu adalah milik halabeojinya. Jika Kai sangat membenci halabeojinya pasti Kai tak akan pernah menawarkan diri untuk menginjakkan kaki disana.
Baekhyun dan Luhan selalu mengirimi foto-foto terbaru dari Kai. Kedua sahabatnya itu bertingkah layaknya paparazi demi mengambil foto-foto Kai. Kyungsoo terkekeh saat ingat bagaimana reaksi Baekhyun dan Luhan saat Kai memiliki banyak penggemar dikampus barunya. Seakan-akan kedua yeoja itu adalah kekasih Kai yang sebenarnya. Baekhyun dan Luhan menceritakan betapa agresifnya gadis-gadis dikampus mereka demi mendekati Kai. Bahkan Luhan sangat sebal melihat Kai yang didekati banyak yeoja. Kyungsoo menyadari jika Kai memang memiliki banyak pesona. Jadi tak dapat dipungkiri jika banyak wanita yang akan tergoda dengan ketampanan Kai. Kata Baekhyun dan Luhan Kai sama sekali tak menggubris semua tingkah para yeoja genit yang mendekatinya. Mata Kai seperti buta dan tak pernah sekalipun melirik yeoja disekelilingnya.
Kyungsoo bersyukur memiliki kekasih seperti Kai yang tetap menjaga hatinya walaupun jauh dan tak pernah berkomunikasi sedikitpun. Kai dan Kyungsoo sangat menjunjung komitmen mereka. Seingin-inginnya mereka melakukan komunikasi tapi mereka tak pernah melanggar janji mereka. Kyungsoo berusaha keras menjadi wanita yang dapat diandalkan. Setiap harinya Kyungsoo akan mencari kesibukan agar tak selalu merenung memikirkan Kai. Ditengah hiruk pikuk pergaulan di Jepang, Kyungsoo menjaga diri agar tak terjerumus pergaulan yang salah. Jenjang SMAnya ia selesaikan dengan nilai yang sangat memuaskan. Ia melanjutkan studinya disana sambil bekerja. Ia tak pernah tau jika perusahaan tempatnya bekerja merupakan anak cabang dari Kim Corp. Kyungsoo mengetahui itu saat seorang wanita Korea datang menemuinya dan mengatakan jika ia akan menemukan Kyungsoo dengan Kai. Dari situlah Kyungsoo bekerja keras dengan didikan langsung dari wanita itu.
Selama setahun Kyungsoo dididik menjadi wanita karir yang hebat akhirnya ia dapat bertemu dengan Kai. Perjuangannya tak sia-sia. Ia dapat melihat dengan jelas wajah kekasihnya yang ia rindukan. Detik-detik yang paling Kyungsoo nantikan selama 3 tahun ia tak bertemu dengan Kai. Wajah Kai yang lebih tampan dibandingkan fotonya, tubuhnya yang terlihat lebih atletis dan kulit tannya yang tak berubah sedikitpun. Mengingat pertuman pertamanya dengan Kai setelah 3 tahun membuatnya bahagia dan berbunga-bunga.
Kyungsoo tersadar dalam lamunannya. Tak terasa sudah dua jam ia duduk menemani Kai yang tertidur. Rasanya sangat cepat saat ia mulai mengulang ceritanya 3 tahun kebelakang. Kyungsoo melirik jam. Sudah saatnya makan malam tapi ia tak bisa bergerak sedikitpun untuk membuat makan malam. Kyungsoo mendengar suara tombol dipencet dan suara pintu yang terbuka. Kyungsoo menoleh untuk melihat siapa yang datang. Suho yang melihat Kyungsoo duduk sambil menatapnya, mengangkat plastik yang dibawanya. Suho mendekati Kyungsoo yang duduk disofa. Suho mengernyit heran saat Kyungsoo tak beranjak dari duduknya untuk menyambutnya seperti biasanya. Saat Suho melihat jika Kai berada dipangkuan Kyungsoo dan sedang tertidur, Suho mengerti alasan Kyungsoo. Suho meletakkan makanan yang dibawanya dimeja dan duduk dikursi sebelah sofa Kyungsoo.
"Dia sedari tadi tertidur?" tanya Suho. Kyungsoo mengangguk.
"Anak itu tidur seperti mayat. Dari dulu sampai sekarang tak pernah berubah" dengus Suho. Kyungsoo terkekeh. Suho mulai membuka plastik yang dibawanya dan mengeluarkan berbagai makanan didalam plastik.
"Mian oppa. Aku tak bisa membantumu" sedih Kyungsoo.
"Gwenchana. Lagipula Kai lebih memerlukanmu. Karena pekerjaan yang menumpuk jadi dia tak bisa tidur nyenyak" ucap Suho. Kyungsoo menatap Kai yang masih terlelap dengan mungasap kepala namjanya itu.
"Ja! Kau mau apa Kyungsoo-ah? Jajangmyeon? Curry ramyeon?" tanya Suho.
"Curry ramyeon saja, oppa" jawab Kyungsoo. Suho mengambil mangkok curry rumyeon lalu menyerahkan ke Kyungsoo. Kyungsoo hendak mengambil curry ramyeonnya tapi pergerakannya terhenti ketika orang yang berada dipangkuannya menggeliat. Kyungsoo menoleh kebawah dan mendapati Kai yang sedng menggeliat tak nyaman dipangkuannya. Kyungsoo memberi tanda kepada Suho untuk menahan gerakannya. Suho yang langsung mengerti langsung meletakkan kembali curry ramyeon yang dibawanya lalu melirik Kai.
Kai langsung mendudukkan dirinya dan menghadap kearah makanan yang tersaji diatas meja. Kai mengendus-enduskan hidungnya menikmati aroma harum dari makanan yang dibawa Suho. Dengan matanya yang masih terpejam Kai menciumi bau makanan dari ujung meja hingga ke ujung meja lainnya. Kyungsoo dan Suho melongo melihat tingkah Kai. Kai membuka matanya saat mencium makanan kesukaannya. Kai menatap ayam goreng didepannya. Tangannya bergerak menyentuh ayam goreng itu sebelum sebuah suara menghentikannya.
"Kau bangun karena mencium ayam goreng? Wah...Daebak!"
Kai menoleh. Suho memandangnya sinis dan remeh. Kai memberikan cengiran anehnya. Suho memutar bola matanya malas melihat tingkah aneh adeknya jika sudah bertemu dengan ayam goreng kesukaannya. Kyungsoo menggelengkan kepalanya melihat tingkah Kai yang benar-benar seperti anak kecil.
"Aku kelaparan, hyung" rengek Kai.
"Jika kau lapar setidaknya kau bangun sedari tadi agar Kyungsoo bisa membuatkanmu makan malam" sengit Suho.
"Itu karena aku selalu nyaman berada didekat Kyungsoo hingga tak menyadari jika waktu sudah berlalu dengan cepat" bela Kai.
"Heol...gombalanmu menjijikkan" ujar Suho dengan ekspresi ingin muntah.
"Kau tak pernah merasakannya kan, hyung? Suruh Yixing Noona kesini untuk melakukannya padamu" goda Kai. Suho menatap Kai tak suka lalu mendengus. Suho mengambil jajangmyeon lalu memakannya. Dia pasti selalu kalah jika berdebat dengan Kai. Kai terkikik melihat hyungnya yang berhasil dia goda.
"Kau ingin makan apa, Soo?" tanya Kai lemah lembut.
"Curry ramyeon"
Kai mengangguk lalu mengambilkan curry ramyeon untuk Kyungsoo. Sedangkan dirinya mengambil ayam goreng. Kyungsoo menerima curry ramyeon dari Kai. Satu tangan Kai yang bebas menarik tubuh Kyungsoo untuk duduk didepannya. Kyungsoo tak bisa berbuat apa-apa dan menuruti semua tindakan Kai. Kai memakan ayam gorengnya dengan satu tangan sedangkan tangan yang lainnya ia lingkarkan disekitar perut Kyungsoo. Kyungsoo menikmati makanannya dalam pelukan Kai.
"Tak bisa kah kalian tidak bermesraan didepanku?" iri Suho melihat kemesraan Kai dan Kyungsoo.
"Jika kau iri suruh saja Yixing Noona kemari" jawab Kai cuek. Suho cemberut dan memakan habis makanannya hingga mulutnya penuh. Kyungsoo mencubit lengan Kai.
"Mianhae, oppa. Dia memang seperti itu" ujar Kyungsoo minta maaf.
"Gwenchana. Dia memang adik yang kurang ajar" sinis Suho setelah menelan habis makanannya. Kai cuek dan pura-pura tak mendengar perkataan Suho.
.
.
.
.
Sehun menenteng tasnya dipundak. Kakinya terus melangkah ke tempat parkir kampus. Dia baru saja menyelesaikan kuliahnya dan harus segera bergegas menuju perusahaannya. Terlihat wajahnya tampak letih dan lelah yang disamarkan dengan poker facenya. Sehun selalu bekerja keras untuk segala urusannya. Dia akan melakukan yang terbaik hingga dia puas dengan hasilnya.
Sehun berbelok melewati koridor yang sepi. Tanpa sengaja matanya melihat sosok yang sangat ia rindukan. Ingin sekali Sehun berlari dan memeluk sosok itu seperti biasanya. Tapi untuk saat ini dia tak bisa. Bukan karena egonya tapi demi kebaikan sosok itu. Sosok itu masih tak menyadari jika Sehun berjalan berlawanan arah dengannya. Saat sosok itu menegakkan kepalanya, dia terdiam. Kakinya terhenti untuk jalan. Matanya terpaku menatap mata elang milik Sehun.
Sehun dengan santai memandang yeoja yang berada beberapa meter didepannya. Tatapannya berkesan datar tak peduli. Sehun melewati yeoja itu tanpa melirik atau berbicara sedikitpun. Yeoja itu menundukkan kepalanya saat Sehun melewatinya begitu saja. Matanya memerah menahan tangis.
"Hunnie..." lirih Luhan. Suaranya terdengar begitu pelan tapi karena koridor kampus yang begitu sepi jadi suaranya masih terdengar oleh Sehun yang berjarak beberapa meter dibelakangnya.
Sehun menghentikan langkahnya. Dia masih diam dan tak ingin berbalik. Luhan berbalik dan menatap punggung Sehun. Rasanya sangat sedih saat Sehun tak ingin melihatnya. Luhan berjalan pelan mendekati Sehun. Tangannya terangkat ingin menggapai tubuh Sehun. Tapi pergerakannya berhenti saat Sehun berkata sesuatu.
"Ada apa, Luhan-ssi?"
Tubuh Luhan bergetar. Sehun memanggilnya secara formal dan itu membuat dadanya sesak. Tangan Luhan yang terangkat kembali turun. Air matanya menetes setelah ia berusaha untuk menahannya.
"Aniyo, Sehun-ssi. A-aku ha-hanya ingin minta maaf. Ta-tapi sepertinya kau sangat sibuk. Per-permisi"
Luhan berbalik dan langsung berlari menjauhi Sehun. Air mata Luhan terus mengalir dan tak mau terhenti. Tangannya ia gunakan untuk mengusap air matanya. Dirinya terlalu bodoh. Ini yang dia inginkan dan Sehun hanya menuruti keinginannya. Tapi dia ingin sekali Sehun memberontak untuk tak menuruti keinginannya. Luhan terlalu munafik.
Sehun berbalik dan melihat Luhan yang berlari pergi. Sehun tau jika kekasihnya itu tengah menangis. Suara Luhan bergetar saat berucap. Sehun meninju tembok yang ada disisinya. Sehun terlalu kesal dengan dirinya yang telah menyakiti Luhan, kekasih yang teramat dicintainya. Pikirannya kacau. Ingin sekali Sehun menyusul Luhan dan memeluk tubuh gadisnya agar tak menangis lagi. Tapi dialah sebab Luhan menangis. Apakah masih pantas dia sebagai kekasihnya setelah menyakiti perasaan Luhan?
Sehun kembali melangkah ke tempat parkir. Wajahnya sangat kacau. Tatapan matanya seakan ingin membunuh siapa saja yang memandangnya. Mahasiswa yang berpapasan dengannya di tempat parkir takut menatap Sehun apalagi menegurnya. Sehun seakan-akan mengeluarkan aura dingin dan menusuk disekitar tubuhnya. Setiap mahasiswa yang dilewatinya akan merasa merinding dan bergidik ngeri. Mereka akan langsung pergi dengan kepala menunduk.
Sehun membuka pintu mobilnya dan langsung masuk kedalamnya. Sehun menyalakan mobilnya dan pergi dari kampusnya. Laju mobil Sehun begitu cepat. Sehun dengan kasar membanting stir mobilnya. Dia tak peduli keselamatan dirinya. Pikirannya masih kacau dengan kejadian beberapa menit yang lalu.
Sesampainya di perusahaannya, ia langsung menuju ruangannya. Ia abaikan setiap pegawai yang menegurnya. Ia tak peduli dengan setiap kata-kata bisikan dari pegawai yang membicarakannya. Ia hanya ingin berada diruangannya dan menenangkan diri. Sehun masuk kedalam lift dan menekan tombol ke lantai ruangannya. Saat pintu lift akan tertutup, ada beberapa pegawai yang menahannya sehingga pintunya kembali terbuka. Sehun mentap datar kearah pegawai yang berada diambang pintu lift. Para pegawainya yang menyadari akan tatapan Sehun langsung menunduk takut dan membiarkan Sehun menaiki liftnya sendirian.
"Sajangnim...apa anda tak apa-apa? Tangan anda terluka" khawatir sekertaris Sehun setelah melihat tangan Sehun yang sedikit berdarah.
"Gwenchana" jawab Sehun datar.
"Apa perlu saya ambil kan kotak obat?" tawar sekertaris Sehun.
"Dwesseo. Jangan biarkan ada seorangpun masuk ke dalamku. Aku sedang tak ingin diganggu" ucap Sehun lalu masuk kedalam ruangannya. Sekertaris Sehun mengangguk patuh dan membungkuk.
Sehun melangkah menuju meja kerjanya. Sehun duduk dan bersandar dikursinya. Kepalanya terasa sangat pening. Semuanya berputar-putar diotak Sehun. Sehun kembali teringat kejadian dikampus tadi. Dia benar-benar tak ingin membuat Luhan sampai menangis seperti itu. tiba-tiba saja kata-kata itu yang keluar dari mulutnya. Ingin sekali ia merobek mulutnya yang membuat Luhannya menangis. Sehun menghela nafasnya lelah.
Sehun membuka satu persatu berkas yang ada dimeja kerjanya. Dia harus kembali bekerja. Sebenarnya Sehun ingin lari dan tak ingin mengurus semua pekerjaan yang membuatnya pusing ini. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Seluruh hidupnya seakan dikontrol appanya. Sehun menggeram frustasi dan melempar berkas yang dibawanya. Berkas itu berceceran dilantai. Sehun memegang kepalanya. Bekerja disaat seperti ini sangat menyiksanya. Yang Sehun inginkan saat ini hanya Luhan. Dia butuh Luhan sekarang juga.
Sehun kembali melempar berkas-berkasnya. Kertas-kertas bercecer diruangannya terutama disekitar meja kerja Sehun. Sehun benar-benar frustasi. Beberapa hari tak melihat Luhan, tak mendengar suaranya, tak bisa merasakan sentuhannya membuatnya gila. Dirinya semakin gila lagi karena telah menyakiti Luhan. Sehun berteriak frustasi. Rambutnya terlihat acak-acakan begitu juga dengan bajunya.
"Wow...tempat ini seperti habis terkena badai"
Sehun menoleh kearah pintu. Kai melihat sekitar ruangan Sehun yang terlihat sangat 'mengesankan'.
"Jusungeyo, sajangnim. Tuan Kai memaksa untuk bertemu dengan anda" ucap sekertaris Sehun takut. Sehun mengangguk dan menyuruh sekertarisnya untuk keluar meninggalkan mereka berdua.
"Kau terlihat sangat berantakan. Apakah dulu aku juga seberantakan dirimu?" tanya Kai yang sudah duduk disofa.
"Tak seberantakan sepertiku tapi kau terlihat sangat mengenaskan saat itu" canda Sehun.
"Sepertinya seorang wanita dapat berdampak besar bagi kehidupan kita" sindir Kai.
"Sangat. Bertengkar dengan mereka sudah membuatku seperti ini apalagi sampai aku kehilangan mereka" ucap Sehun dengan muka frustasinya.
"Tak usah kau bayangkan. Karena itu sangat menyiksamu hingga kau ingin mati" balas Kai menerawang.
"Aku salut padamu. Kau mampu bertahan selama itu" puji Sehun.
"Dan aku harap kau tak mengikuti jejakku" gurau Kai. Sehun dan Kai tertawa bersama menertawakan kebodohan mereka.
"Ada apa hingga kau kemari?" tanya Sehun.
"Baby Soo meneleponku jika Luhan Noona terlihat kacau dan menyuruhku untuk menemui dan melihat keadaanmu" jawab Kai.
"Ah benar...Kyungsoo Noona sudah pulang. Aku bahkan sampai sekarang belum bertemu dengannya" ujar Sehun mengalihkan pembicaraan.
"Tak usah mengganti topik" peringat Kai. Sehun menghela nafas.
"Begitulah. Dia mencoba meminta maaf tapi aku berbicara dingin kepadanya" aku Sehun.
"Kau terlalu bodoh seperti aku dulu. Temui dia dan katakan bahwa kau sangat mencintainya" saran Kai.
"Hanya begitu?" tanya Sehun.
"Kau ingin yang seperti apa? Aku tau kau bukan orang yang banyak bicara. Cukup yakinkan dia bahwa kau sangat mencintainya dan itu sudah mewakili semuanya" tutur Kai. Sehun merenungkan kata-kata Kai. Mungkin Kai benar. Tak ada salahnya mencobanya batin Sehun.
.
.
.
.
TBC
Yehet! Setiap couple ada dichap ini walaupun masih belum jelas hubungan Hunhan n Chanbaek. Aku sempilkan Kaisoo momen dichap ini. Mian jika berkesan maksa. Chap ini aku gunain buat nyadarin Luhan dan Baekhyun. Semoga mereka sadar setelah curhat bareng Kyungsoo,, kkkk. Gimana chap kemarin? Puas dengan kaisoo momennya? Mian jika banyak typo disana-sini. Kemarin dapet kritikan membangun. Makasih sudah mengkoreksi tulisanku. Sangat membantu banget. Soalnya klo udah ngetik gag sadar juga.
Ada beberapa readers yang tanya kapan epep ini end. Aku masih belum tau kapan endnya yang jelas aku gag mau panjang2. Akan aku usahakan sampai chap 16 atau mungkin kurang. Aku takut jika readers nanti bosan. Happy ending atau gag aku masih belum tau, hehehe #ketawa nista. Dan aku usahain setiap chap kedepan selama Chanbaek dan Hunhan baikan akan ada kaisoo momennya. Banyak atau sedikit tergantung alur ceritanya ya. untuk para readers baru mungkin ada yang belum tau klo epep ini sequel dari epepku yang berjudul Saranghae, Noona! Saya hanya mengingatkan. Mungkin ada yang penasaran awal mula dari epep ini. hehehe
Makasih para readers setia yang selalu menunggu setiap epepku. Semangat dari kalian membuatku terharu untuk selalu cepat apdate. Jangan lupa untuk review disetiap chapnya. Untuk para silent readers terima kasih juga tapi aku harap kalian ikutan review. Mian aku belum bisa bales review kalian yang chap kemarin. Aku udah ada epep baru setelah epep ini tamat. Tapi masih belum tau kapan dipublishnya. It's Yaoi time. Biasanya setelah aku buat GS aku akan buat Yaoi. Biar imbang. Itu sedikit bocoran aja dariku. Terima kasih para readers-nim #deepbow bareng Kaisoo.
Big thanks to:
zoldyk, yixingcom, qie kaisoo 2, kimyori95, ViraaHee, Valencia Byun, SognatoreL, PandaCherry, NadynaDyna, Kyungra26, Desta Soo, ruixi1, lee kaisoo, kyunginsoo, hyeraPark, didinsoo, ariviavina6, Panda XOXO, NezuYuki, AraSabila, LuXiaoLu, , dhyamanta1214, kmy, Sniaanggrn, NopwillineKaiSoo, Yesha1214, Insooie baby, dorekyungsoo93, ayp, ParkHyunHa, hunhanrakaisoo , thelostisland35, kim kyung soo, JonginDO,Taman Coklat, Winnybo Q'star, k0j3t4, kyungsooaddict, YoungHeeSEHUN94, shijue, Riska laheb, Guest, BabyZhao,
kyungiee, Yesha1214, zhea . zhiioott, FitraBela, kinannkinanti, The Spring, lailatul . magfiroh . 16, keroro . r . kero, kyungiee, teukiangle, Silent Kaisoo, deerxiviiiv, she3nn0, humaira9394, xiuchenchen, yoosushipper729, hxnhxn, InSoo-nim, RiKyungie, Sniaanggrn, dekaeskajei, hyenakim501, Leewufan, frz2407, mocca, aku adalah aku, sehunpou, MbemXiumin, xoxokyungsu, doctorbaek, mozavirgodiyana, guest, love
MIND TO REVIEW?
