Naruto © Masashi Kishimoto

story © Soakers

Warning : OOC, OC, Typo(s), penuh ketidak jelasan

happy reading~

|The Sky Is Crying

Jeritan, tawa, dan seruan berbaur menjadi satu yang riuh ramai terdengar. Itu udah jadi kebiasaan kalo kelima anak manusia yang menyebut diri mereka dengan P.O.S atau Persatuan Orang Senang lagi libur dan kumpul alias enggak ada kerjaan. Udah jadi kebiasaan juga kalau lagi kumpul enggak penting di hari Minggu kayak gini, main ular tangga adalah opsi utama. Udah kayak biasa juga Sakura bakalan jadi juaranya, siapa yang paling apes juga udah ketebak, dia pasti Naruto.

"Bosen nih," kata Naruto yang sebenarnya bukan bosan main, melainkan karena kalah terus.

"Bilang aja kalau takut beresin kamar," balas Sakura.

Memang benar, peraturannya adalah siapa yang kalah harus membereskan kamar tempat mereka berkumpul. Ini jadwal kamarnya Hinata, yang artinya akan dua kali lebih melelahkan dari membenahi kamar Shikamaru. Kamar Hinata yang besar serta berserakannya bekas makanan ringan, bakalan menjadi jadwal bersih-bersihnya Naruto sesaat lagi.

"Tenang aja, hari ini Naruto-kun bebas tugas," kata Hinata lembut, "biar aku saja nanti yang beres-beres."

"Enak aja," sahut Shikamaru dengan nada datar namun terlihat kesal. "Kemarin aku tidak begitu saat di rumah Sasuke." Meski pintar, Shikamaru enggak seberuntung Sakura dalam melempar dadu, tapi enggak seapes Naruto juga tentunya. Makanya, minggu lalu saat jadwal kumpul di rumah Sasuke, Shikamaru menjadi alat pembersih kamar Sasuke.

"Sudahlah," ucap Hinata lembut seraya tersenyum manis. Siapa aja pasti luluh kalo lihat senyum memesona gadis Hyuuga itu, bahkan Shikamaru pun bisa melupakan sosok Sora Aoi di otaknya barang sejenak.

Permainan ular tangga yang cuma bisa dimainin sama empat orang ini, bikin salah seorang dari mereka enggak ikut main. Sasuke emang enggak terlalu mood buat main ular tangga, makanya dia cuma mainin gitar punya Neji-kakaknya Hinata-dengan mata menatap ke jendela, sementara jemari tangannya memainkan melodi indah yang sesekali terdengar melengking.

The sky is cryin ...

Can't you see the tears roll down the street

The sky is cryin ...

Can't you see the tears roll down the street

I've been looking for my baby

And I wonder where can she be

Suara berat namun merdu Sasuke menjadi scoring music sore itu. Semuanya terhanyut dengan nada-nada indah yang menenangkan tersebut. Sesekali Hinata ikut bernyanyi namun dengan suara pelan. Lain halnya dengan Naruto yang juga ikut bernyanyi namun dengan suara yang jelas enggak ada blues-blues-nya sedikitpun, sampai akhirnya Sakura melotot agar Naruto diam.

"Eric Clapton, The Sky Is Crying," ujar Sakura setelah Sasuke menyelesaikan bait terakhrinya serta memberikan tepuk tangan.

Sasuke bergeleng pelan, "bukan," katanya, "meski memang Eric Clapton juga pernah bawa lagu itu."

"Iya, bukan Eric, Sakura," kini Naruto ikut berkomentar meski pengetahuan tentang musik blues-nya minim banget. "Yang benar itu lagunya Stevie Ray Vaughan, iya 'kan, Teme?" Komentar Naruto barusan sukses mendapat tatapan sinis dari Sasuke.

"Kau ini, Naruto," desah Shikamaru yang kebetulan duduk di sampingnya, "Eric Claptos yang mencover lagu itu tahun 1964 saja bukan pemiliknya, apa lagi SRV yang menyanyikannya di tahun 1991." Shikamaru mengakhirinya dengan geleng-geleng kepala.

Hinata hanya tersenyum kecil melihat perdebatan teman-temannya itu.

"The Sky Is Crying itu ditulis dan dinyanyikan oleh Elmore James pada tahun 1959," Sasuke menerangkan. Semuanya memerhatikan Sasuke layaknya kumpulan bocah yang lagi dengar gurunya mendongeng sejarah. "Satu lagi, SRV mengcover lagunya tahun 85, dan barulah rilisnya tahun 91."

Semuanya membatin, emang salah kayaknya kalo sok tau musik blues di depan Sasuke.

"Teme, kayaknya kamu ini lebih cocok jadi guru musik daripada jadi sutradara yang dicita-citakanmu itu," Naruto berujar.

"Hey, Dobe, itu tidak ada hubungannya," dengus Sasuke sengit.

Hari mulai gelap. Bukan karena udah menjelang malam, tapi karena mendung yang artinya bakalan hujan. Benar, setelah itu akhirnya tetes-tetes air dari langit sore itu pun berlahan membasahi bumi.

"Tuh, 'kan, langitnya nangis," kata Hinata sembari menatap ke arah jendela, diikuti oleh tiga teman lainnya, dan satu orang lagi menatap Hinata penuh kasih dan ... Cinta.

TBC

Oke, ini hanya chapter pemanasan yang artinya enggak penting banget. Kisah inti catatan lima anak manusia ini akan coba saya sampaikan di chapter berikutnya.

Bantulan nubi satu ini agar karyanya bisa-setidaknya-sedikit baik di kemudian hari dengan cara review (apapun jenisnya) ^^'