Naruto © Masashi Kishimoto
story © Soakers
Warning : OOC, OC, Typo(s), penuh ketidak jelasan
happy reading~
MEREKA
|Ask yourself
Ketika ada hati yang bahagia, bukan enggak mungkin ada hati yang tersakiti. Dan saat itulah cinta berbicara; saat itu juga cinta hanya perlu diyakini. Sayangnya, keyakinan selalu salah.
Mencintai orang yang selama ini bersamamu tanpa orang itu tahu betapa kamu mencintainya, apa yang kaurasa? Bahagia? Atau sebaliknya? Seenggaknya, bagi Naruto itu adalah hal yang cukup. Ketika kamu mencintai orang itu, saat dia tersenyum bahagia, itu sudah lebih dari cukup.
Sakura adalah gadis idaman Naruto sejak lama, udah lebih dari sepuluh tahun bareng sejak di sekolah Junior, sampe sekarang kelas tiga di Konoha HS, enggak bikin Naruto mampu bilang tentang perasaannya sama Sakura. Perasaan itu, hanya Naruto dan Tuhan yang tahu.
Duduk di waktu yang lama, cuma bengong di depan jendela kaca, sambil menatap kelas di sebelah utara, hanya buat lihat Sakura yang kebetulan duduk di dekat jendela sebangku juga sama Sasuke.
Naruto sangat menyayangkan dia enggak sekelas sama Sakura. Sakura yang otaknya bisa dibilang lumayan sekelas sama Sauke di kelas A, sedangkan Naruto yang bodoh di kelas C. Ngomong-ngomong soal kelas unggulan yang katanya yang pintar di kelas A dan H paling buruk, ternyata cuma mitos. Soalnya Shikamaru sama Hinata juga bareng sama Naruto di kelas C, kelima anak manusia itu tahu kalo Shikamaru adalah anak yang jenius dan Hinata adalah gadis yang cerdas.
Naruto yang berada di bangku kedua dari belakang, sebelahan sama Hinata, dan di belakang mereka Shikamaru yang sudah bisa ditebak lagi tidur, sehingga keduanya enggak memerhatikan pelajaran Fisika yang diajarin sama Bu Anko.
"Uzumaki!"
Anko udah tau kalo Shikamaru anak cerdas yang bisa ngerjain tugas walau enggak memerhatikan, makanya Anko cuma negur Naruto. Sayangnya, atensi Naruto beneran udah habis oleh satu titik cewek berambut merah muda, meski beberapa kali Hinata coba memberi tahu Naruto kalo Anko manggil dia dengan cara menendang pelan kakinya, Naruto tetap geming. Hingga akhirnya Anko melemparkan kapur tulisdan tepat mengenai jidat Naruto.
Naruto serentak berdiri dengan tangan meniru gerakan hormat anggota militer, "siap, Bu!" serunya diikuti tawa satu kelas.
"Apa yang kaumaksud dengan siap?" tanya Anko tajam sampai bikin Naruto bergidik ngeri.
Naruto bingung sendiri. Kenapa dia bilang siap? Emangnya disuruh baris-berbaris?
"Memangnya Anda nyuruh apa, Bu?" tanya Naruto sambil pasang wajah heran.
Wajah Anko merah padam menahan amarah. Satu ... dua ... tiga ... "KELUAR!"
Mau-enggak-mau akhirnya Naruto nurut sama apa yang Anko teriakin. Bagi makhluk sejenis Naruto sih ini keberuntungan, toh percuma juga di kelas kalo enggak merhatiin guru?
mereka
Kulit tangan berwarna tan itu terlipat di atas pagar besi di atap KHS. Angin siang di bulan Juli itu sesekali menyambuk wajah si pemilik rambut pirang. Naruto sesekali mendengar burung bernyanyi berbaur dengan gemerisik dedaunan. Damai. Rasanya damai. Matanya terpejam menghayati setiap detik 'bonus istirahat' yang dia dapat.
Beberapa detik berlalu dengan mata terpejam sampai tepukan pelan di bahunya membuat Naruto membuka mata. Seseorang sudah berdiri tepat di belakangnya.
"Hinata?" ucap Naruto saat menoleh ke belakang. "Kenapa keluar kelas? Anko bisa marah," katanya lagi dengan nada khawatir yang kentara banget. Jelas aja Naruto takut Hinata kena semprot Anko, soalnya Hinata udah sering banget kena imbas ulah Naruto.
"Kali ini 'kan atas kemauanku sendiri," sahut Hinata seraya mensejajarkan berdirinya dengan Naruto. "Jadi, jangan pernah merasa bersalah." Tangan Hinata membentang lebar sembari menikmati angin yang membuat rambutnya beterbangan karenanya. Matanya terpejam. Naruto yang jaraknya dekat banget sama Hinata, baru sadar kalo Hinata cantik banget.
"Tapi kenapa?"
Alih-alih menjawab, Hinata berkata, "lakukanlah hal yang sama seperti ini."
Padahal Naruto udah melakukan hal yang sama bahkan sebelum Hinata. Tapi, kalo Hinata yang nyuruh, kesannya seperti ucapan penuh dengan mantra hipnotis, siapa pun pasti mau nurut. Naruto pun akhirnya ikutan kayak Hinata.
"Naruto-kun merasakannya?" tanya Hinata.
"Ya."
"Damai ini ... aku suka seperti ini." Hinata menghirup napas dalam-dalam sampai terdengar sama Naruto. Perlahan Hinata menoleh kepada Naruto. "Naruto-kun suka sama Sakura-chan?"
Naruto tersentak. Bagaimana Hinata tahu tentang perasaannya? Padahal Naruto enggak pernah ngasih tahu siapa-siapa selain kepada Tuhan di sela do'a-nya.
"Ma-maksudmu apa?" setengah gugup Naruto menjawab. "Dia kan sahabat kita, sudah pasti aku menyukainya seperti aku menyukaimu, 'kan?"
Hinata tersenyum. Senyuman berbeda yang enggak biasanya Naruto lihat dari gadis itu. Lalu Hinata bergeleng pelan, "enggak," katanya lembut.
"Tentu saja benar begitu," kilah Naruto yang kemudian membuang muka dari Hinata.
"Enggak sama. Aku tahu itu." Hinata menekan.
"Ah, kamu enggak pernah senyebelin ini, Hinata," sahut Naruto sengit.
"Dan Naruto-kun enggak pernah bisa bohong di depan Hinata?" balas Hinata tak kalah sengit namun tetap dengan aksen lembutnya.
"Aku enggak tau. Entah aku menyukainya sejak pertama kami bertemu. Entahlah. Yang kutahu pasti, ketika dia berjalan mendekatiku, entah bagaimana caranya seakan aku tak memiliki masalah. Aku bahagia. Tapi aku masih bingung, entah cinta atau ambisi?"
"Tanyalah diri sendiri."Hinata kembali tersenyum. "Aku bisa membantu Naruto-kun," katanya kemudian.
Naruto mengerutkan kening enggak paham, tapi Hinata enggak ngejelasin maksudnya apa. Entah apa yang akan dilakukan Hinata dengan kata 'membantu' tersebut? Yang jelas Naruto enggak tahu.
"Apa Hinata pernah menyukai seseorang?" Naruto berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Jangan berusaha mengalihkan pembicaraan, Naruto-kun," sahut Hinata.
"Bukan gitu," kilah Naruto kemudian. Dia berpikir sejenak sebelum kembali berkata, "adakah seseorang yang kamu cintai?"
Hinata menunduk, wajahnya sedikit memanas ketika pertanyaan yang menurut Hinata itu sensitif banget. "I-itu ..." Jeda sejenak, "aku enggak tau ..."
"Kalian di sini ternyata," seru Sakura sesaat membuka pintu masuk ke atap sekolah. Di belakangnya sudah ada Sasuke dan Shikamaru yang masih setengah ngantuk.
Ketiga orang itu mendekati Naruto dan Hinata, "kenapa kalian kencan tidak mengajakku?" Sakura berkacak pinggang sambil menatap mereka berdua bergantian. Hinata sedikit merona namun nyaris tak kentara.
"Kenapa kamu tidak membangunkanku tadi, Hinata?" kini Shikamaru yang ngomong dengan suara malasnya.
"Shika-kun kan tadi tidurnya pulas banget," balas Hinata yang sekarang menyandar ke pagar pembatas.
"Hn," gumam Sasuke yang kini juga mendekati Hinata dan duduk di sampingnya. "Beberapa hari lagi libur musim panas," ucapnya kemudian.
"Oh iya," Sakura menepuk jidatnya sendiri. "Besok 'kan festival Tanabata[1]," serunya.
"Membosankan," ujar Shikamaru masih dengan nada malasnya. Dia menghampiri Naruto dan duduk di atas pagar pembatas.
"Kita ikut Tanabata di Hokkaido saja, bagaimana?" kini Sasuke yang bicara, "sebentar lagi liburan, 'kan? Bagaimana kalau liburan ini ke vila keluargaku saja?"
"Ide bagus, Teme," seru Naruto.
"Hokkaido," Shikamaru lagi-lagi cuma bergumam. Dalam otaknya terbayang pantai-pantai bersih di sana. Belum lagi para wisatawan wanita yang berpakaian minim alias cuma pekai bikini. Ah, membayangkannya saja sudah bikin Shikamaru bahagia. "IDE BAGUS!" serunya sambil mengangkat tangan ke udara.
Semua mata menoleh Shikamaru, hal yang jarang terjadi pada pemuda Nara itu.
"Kamu enggak mikir yang aneh-aneh, 'kan?" tanya Sakura sambil memicingkan matanya.
"Enggak lah," kilah Shikamaru.
"Iyalah," sambar Naruto, "hal itu bukan hal aneh buat Shikamaru. Hal mesum udah mendarah daging dengannya," tukasnya kemudian.
TBC
[1] Tanabata atau bisa disebut festival bintang itu salah satu festival musim panas di Jepang yang dirayakan tanggal 7 Juli, tapi upacaranya tanggal 6 malam hari. Biasanya di Hokkaido sama di Sendai, Tanabata dirayakan lebih lambat, yaitu tanggal 8 Agustus. Lebih jelasnya, cari aja di google *plak
yah, begitulah part ini. Udah jelas, 'kan, arah ceritanya mau ke mana? Bantulah saya biar bisa bikin fic yang seenggaknya sedikit lebih baik dari ini ^^'
