Naruto © Masashi Kishimoto
story © Soakers
Warning : OOC, OC, Typo(s), penuh ketidak jelasan
happy reading~
|Just a Dream
Not just on Sunday, I love you everyday
And I fall to my knees
Everynight I pray since
You've come and saved me
For all eternity In the name of the Father and the Son
You are my religion
Sasuke masih duduk di belakang kemudi, di sampingnya Sakura asyik memainkan ponsel. Naruto yang duduk di jok belakang di antara Hinata dan Shikamaru, sesekali mengikuti lagunya Bad English yang diputar di radiomobil van hitam milik Sasuke itu.
Jalan lurus yang diapit oleh pohon-pohon pinus di kedua sisi membuatnya sejuk dilalui. Makanya, enggak heran kalo Shikamaru tidurnya lebih nenyak dari biasanya. Bahkan Naruto sampai menganggap Shikamaru kayak mayat. Meski berisik dalam mobil enggak bikin cowok gondrong itu bangun.
"Masih jauh gak, Teme?" Naruto menyondongkan kepalanya tepat di samping kiri Sasuke.
"Ini belum setengah perjalanan."
Terang saja Naruto enggak tau, meski pernah ke Hokkaido, Naruto biasanya naik shinkansen yang ke Shin-Aomori, nah dari Shin-Aomori baru ke Hokkaido. Ini pertama kali Naruto ke Hokkaido naik mobil pribadi, yang artinya akan memakan waktu tiga sampai empat kali lipat lebih lambat. Secara, jarak Konoha ke Hokkaido lebih jauh daripada dari Tokyo. Alasan mereka menggunakan mobil pribadi adalah, beberapa waktu lalu pemerintah Jepang membuat jembatan ke pulau tersebut. Dengan dalih ingin merasakan hal yang berbeda, akhirnya mereka memutuskan menggunakan mobil pribadi.
"Wah, bakalan menjadi perjalan panjang," seru Naruto.
"Bukannya sudah kubilang akan jauh lebih lama," kata Sasuke. "Ini pun kita sudah memotong jalan."
"Kita nikmati saja perjalannya, Naruto-kun," Hinata berkata lembut.
"Tentu saja, Hinata," Naruto merangkulnya dan menyandarkan kepala Hinata di dadanya, "kalau lelah, tidur aja," katanya kemudian.
Hinata berusaha berontak. Kini wajahnya sedikit merona, "memalukan," katanya kemudian.
"Siapa yang peduli." Kemudian Naruto tertawa.
"Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan, Dobe," dengus Sasuke. Naruto kembali tertawa.
"Kenapa?" goda Naruto sembari mengangkat alis beberapa kali. Kembali Naruto mendekatkan kepalanya sampai dekat banget sama telinga kiri Sasuke. "Kau cemburu, Teme?" bisiknya kemudian sehingga enggak sampe kedengeran sama yang lain.
"Diamlah," balas Sasuke dingin.
Hari itu mulai gelap, saat Sakura melihat jam di layar ponsel yang menunjukan pukul 08:00 pm. Belum lagi karena jalanan yang diapit oleh hutan bikin suasana agak suram.
"Di sini enggak banyak hantu, 'kan?" Sakura menoleh ke arah jendela dengan wajah ngeri.
"Entahlah," jawab Sasuke, "tapi dulu sempat terjadi kecelakaan di sekitar sini."
Sakura dan Hinata langsung menelan ludah. Jelas keduanya itu cewek penakut.
"Kecelakaan?" tanya Naruto.
"Ya. Enggak jelas gimana kecelakaan itu. Tapi beberapa orang yang sering melewati jalan ini, sempat lihat penampakan. Mungkin saja itu arwah korban kecelakaan tersebut."
Sakura langsung menutup rapat-rapat jendela kaca mobil di sampingnya.
"A-apa enggak apa-apa?" Hinata makin merapatkan diri ke Naruto, sebenernya sih udah mepet banget tapi Hinata terus menempalkan diri sama Naruto. Dia menatap Naruto penuh harap. "Naruto-kun, boleh tukeran tempat duduk?" katanya.
"Kamu takut hantu, Hinata?" tanya Naruto.
"Si-siapa bilang?" kilah Hinata agak tergagap.
Mata Naruto membulat, pandangannya mengarah ke kaca di belakang Hinata. Sesekali dia menelan ludah, enggak lama kemudian Naruto berseru, "ada hantu di belakangmu, Hinata!"
Hinata menjerit serta langsung memeluk Naruto dengan erat. Badannya bergetar. Shikamaru yang sedari tadi tidur seketika langsung bangun.
"Ada apa, Hinata?" tanya Shikamaru panik.
Naruto tertawa sambil mengelus-elus pucuk kepala Hinata. "Maaf, maaf, aku cuma becanda," katanya di sela tawa.
"Enggak lucu!" pekik Hinata dengan kembali melepaskan pelukannya.
"BERHENTILAH BECANDA!" Sakura berteriak dari depan sambil berusaha mencekik Naruto.
"Apa yang kamu lakukan, Naruto?!" nada horor tiba-tiba keluar dari mulut Shikamaru.
Naruto berbalik ke Shikamaru secara perlahan. Sakura dan Hinata melakukan hal yang sama. Sedangkan Sasuke cuma geleng-geleng kepala.
"Tuh,'kan, Shikamaru kesurupan," ucap Naruto merinding gemeteran.
"Dan sebentar lagi Shikamaru mungkin akan membunuhmu, Dobe," ujar Sasuke dingin.
Naruto langsung nelen ludah. "I-itu enggak mungkin, 'kan?" Naruto sedikit merinding, "iya, 'kan, Shikamru?"
"Iya, tapi nanti." Shikamaru menoleh ke depan. Tanpa disadari Naruto, Hinata, dan Sakura, Sasuke telah menghentikan laju mobilnya. "Ada yang lebih gawat sekarang," kata Shikamaru lagi.
"Pantas dari tadi enggak ada mobil lewat," kini Sasuke berkomentar.
Sebuah pohon besar tumbang menghalangi jalan mereka. Mereka heran, pasalnya enggak ada pemberitahuan sebelumnya akan apa yang terjadi di jalan yang mereka lalui.
"Kayaknya ini baru deh," kata Sakura yang kini turun bersama Sasuke diikuti yang lainnya.
Hinata nampak takut. Buktinya dia megang tangan Naruto sekuat tenaga, dan enggak jarang Naruto meringis karena pegangannya terlalu kuat. Lain halnya dengan Shikamaru, cowok satu ini pasti ngeluh kalo mendapati masalah seperti ini.
"Enggak ada jalan lain?" tanya Shikamaru sembari melangkah ke depan.
Semakin pekat malam itu, suasana di hutan nampak kurang bersahabat karena angin kencang sesekali berhembus. Belum lagi suara-suara asing yang dihasilkan oleh hewan nokturnal. Sesekali gemerisik rerumputan di sisi jalan terdengar. Itu semua bikin suasana kayak di film-film horor.
"Aneh," gumam Naruto. "Ini musim panas, kenapa kayak mau ujan gini."
"Biasanya, di film-film kalo kayak gini, bakalan ada seorang penjahat yang bawa gergaji mesin," Shikamaru berkata lagi.
Dari balik pohon terdengar suara mesin pemotong kayu. Terlihat sosok siluet bertubuh tinggi besar dengan gergaji mesin di tangannya. Semuanya nampak ketakutan kala sosok itu semakin dekat. Semakin dekat dan cepat sosok itu menghampiri.
"Kalian lari! Cepat!" teriak Shikamaru.
"Hey, hey, bangun. Kita sudah sampai." Sasuke mengguncangkan tubuh Shikamaru.
Shikamaru sontak kelaur dari mobil sambil beberapa kali memperaktekan gerakan-gerakan silat.
"Mana orang itu?" tanyanya sambil celingukan mencari sosok pembawa gergaji mesin tersebut.
"Ngomong apaan sih?" tanya Naruto.
"Sebaiknya cepat keluar dan bawa barang-barangmu. Aku capek," kini Sasuke yang berujar.
Shikamaru mengerutkan kening, hingga dia sadar jika hal yang baru dialaminya hanyalah mimpi.
TBC
