Naruto © Masashi Kishimoto

story © Soakers

Warning : OOC, OC, Typo(s), penuh ketidak jelasan

happy reading~

~o0o~

|Kita, bukan Kami

"Jadi ini villanya?" Tanya Shikamaru agak kecewa.

Jelas saja Shikamaru agak kecewa, orang yang dilihatnya bukanlah villa seperti yang diharapkan. Bukan villa berbentuk bangunan modern yang di dalamnya sudah dipastikan ada tempat karaoke atau home theater.

Di depan mereka telah berdiri bangunan rumah khas tradisional Jepang yang terlihat asri dengan pohon-pohon kecil di sekeliling halaman. Hingga Shikamaru akhirnya berkomentar, "kupikir keluarga Hyuuga aja yang antik, ternyata Uciha juga menyimpan barang klasik," dengan nada sinis.

"Selamat datang, Tuan Muda," sapa seseorang wanita dewasa menunduk di depan pintu masuk. "Saya sudah menyiapkan segalanya."

"Kamu boleh pulang sekarang, Izumi," balas Sasuke kepada wanita tersebut. Izimu pun mengangguk dan meninggalkan mereka.

Mereka akhirnya memasuki ruangan Washitsu yang biasa digunakan sebagai ruang serba guna. Di ruangan itu hanya terdapat tatami yang di atasnya sebuah meja kayu. Selain itu, dinding ruangan di sekelilingnya terdapat gambaran sebuah naga di atas awan. Mereka melangkah menuju Genkan atau area pintu masuk ruangan berikutnya.

"Sudah jam sepuluh," ujar Sasuke. "Ada empat kamar tidur di sini ..."

"Aku bisa berbagi kamar tidur dengan Hinata atau Sakura," potong Shikamaru yang berakhir pada jitakan dari Sakura.

"Enak aja!" sembur Sakura. "Aku sekamar dengan Hinata aja," katanya lagi diikuti anggukan Hinata.

"Ikuti aku," kata Sasuke.

Semuanya ikut Sasuke ke salah satu ruangan paling belakang. Di sana terdapat kamar yang dekat dengan taman belakang. Hanya ada dua kasur lantai di sana.

"Ini kamar cewek," kata Sasuke. "Kamar cowok ada di seberangnya.

"Kalian tidur aja duluan," kata Shikamaru, "aku belum ngantuk."

"Yaiyalah," sergah Naruto, "kamu kan baru bangun, Shika."

Shikamaru enggek peduli dan langsung kembali ke ruangan paling timur. Ruangan itu seperti dapur yang terdapat tungku di depannya. Shikamaru menyalakan api di tungku tersebut untuk memasak air.

"Kamu belum tidur, Shika-kun?" entah sejak kapan Hinata sudah duduk di sampingnya.

"Seharusnya aku yang nanya gitu," sahut Shikamaru. "Kenapa Hinata belum tidur?"

"Aku enggak bisa tidur." Hinata diam sejenak, "eh, jangan berbuat mesum, ya?" kelakarnya.

"Mau aku buatkan susu?" ucap Shikamaru enggak peduli.

Hinata mengangguk.

"Hinata," gumam Shikamaru.

"Ya."

"Apa ada orang yang kamu suka?"

"Banyak. Termasuk Shika-kun sendiri."

"Bukan itu maksudku. Apa ada yang lebih kausuka?"

Hinata terdiam. Dia menatap api di hadapannya sambil memeluk lutut. Pandangannya tentu tertuju pada api itu, tapi enggak sama pikirannya. Shikamaru yang duduk di samping Hinata memerhatikannya secara saksama, dia tahu Hinata memikirkan sesuatu.

"Kamu enggak harus menjawabnya kalau emang enggak perlu." Shimaru enggak mau maksa.

"Aku enggak tau. Entah aku menyukainya sejak pertama kami bertemu. Entahlah. Yang kutahu pasti, ketika dia berjalan mendekatiku, entah bagaimana caranya seakan aku tak memiliki masalah. Aku bahagia. Tapi aku masih bingung, entah cinta atau ambisi?" Hinata senyum sendiri setelah apa yang diucapkannya. Begitu juga Shikamaru.

"Kalo ambisi, kamu pasti akan berusaha mendapatkannya."

Hinata meminum susu di gelas yang masih ada uapnya itu. Susu tersebut bikin Hinata semakin hangat.

"Kalau Shika-kun sendiri?" Hinata menoleh ke arah Shikamaru.

"Emm ...," Shikamaru berpikir sejenak. "Mungkin," katanya kemudian.

"Mungkin bagaimana?"

"Iya, mungkin aku menyukai seseorang, sayangnya orang itu suka sama orang lain." Shikamaru ketawa sendiri namun berusaha pelan agar enggak bikin yang lain bangun. Kemudian ia menatap Hinata, "Kamu tahu?"

Hinata bergeleng.

"Itu menyakitkan," tambah Shikamaru. Lagi-lagi dia ketawa seakan dia lagi berbagi lelucon, yang malah jatuhnya tragikomedi. "Tapi ..." Shikamaru menunduk lesu.

"Tapi?" tanya Hinata penasaran menunggu apa yang mau diomongin sama Shikamaru.

"Mungkin menyakitkan ketika kita menyukai seseorang yang orang itu malah menyukai orang lain," ungkapnya, "tapi akan lebih menyakitkan ketika orang yang kita sayangi enggak bahagia jika bersama kita. Bukan begitu, Hinata?" Shikamaru tersenyum lebar memperlihatkan sederet gigi putihnya yang rapih sambil menggaruk kepala bagian belakangnya.

"Makanya," Shikamaru ngomong lagi, "aku bakalan berusaha bikin dia bahagia meski enggak bersamaku." Shikamaru menatap serius cewek Hyuuga di hadapannya.

Mata Hinata membulat seakan tahu apa yang dipikirin sama Shikamaru, dan rasanya baru kali ini Hinata melihat Shikamaru yang enggak biasanya. Shikamaru lalu berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Hinata. "Mau ikut menghirup udara segar?"

Hinata pun menerima sambutan Shikamaru. Lalu mereka berdua keluar meninggalkan ruangan itu.

~o0o~

Malam itu, malam di mana bintang bergerombol. Titik-titik cahaya di langit malam itu memberi keindahan tersendiri di malam bulan Juli, dan Hinata bersama Shikamaru menikmati minuman hangatnya sembari menatap ke atas sana selagi mereka duduk di teras depan.

"Shika-kun, kenapa kamu suka sekali melihat langit?"

"Aku enggak lagi menatap langit," sahut Shikmaru yang matanya masih melihat ke atas. "Bukan, bukan juga melihat bintang," tambahnya kemudian seakan tahu Hinata bakal ngomongin hal itu.

"Benarkah?" Hinata melihat Shikamaru, skeptis, "aku sering melihatmu melihat langit. Mau itu siang, sore, bahkan malam seperti ini. Bahkan yang lain pun akan setuju denganku."

"Apa yang kita lihat, enggak selalu yang ada di depan mata."

Hinata enggak ngerti sama apa yang baru aja Shikamaru omongin.

"Aku sedang menatap kehidupan," kata Shikamaru lagi. "Life has no meaning the moment you lose the illusion of being eternal."

Hinata tersenyum kecil, "kata siapa?" tanyanya.

"Paul Sartre," jawab Shikamaru cepat. Dia meminum secangkir kopi yang digenggamnya sedari tadi.

"Oh iya, Shika-kun, ngomongin yang tadi."

"Yang mana?"

"Memangnya aku menanyakan banyak hal? Pertanyaan yang sama kayak kamu nanya sama aku."

"Jawabannya sama sepertimu," gumam Shikamaru.

"Kenapa kamu tidak menyatakannya? Kamu kan cowok."

"Kalo gitu," Shikamaru menghadap Hinata, "maukah kamu menjadi kekasihku?"

Hinata tersenyum, "jangan becanda," balasnya.

"Begitulah," desah Shikamaru, "jika aku mengatakan hal itu, cewek yang aku suka akan beranggapan kalo aku becanda," terangnya lagi sambil melayangkan senyuman yang enggak biasanya.

Hinata tertawa pelan, "apa aku tahu nama cewek beruntung itu?"

"Tentu. Kita satu kelas." Shikmaru bangkit dari duduknya, "sudah larut. Kenapa kita enggak tidur aja sekarang? Besok pasti akan menyenangkan."

TBC

a/n: Okay, maafkan saya karena memberikan setiap chapternya begitu pendek. Jujur saja, saya mengetik fic ini di sela-sela jam istritahat saya *soksibuk *dihajar

Saya tidak menyangka jika fic ini mendapat tanggapan yang positif mengingat ini cuma iseng, tapi bukan berarti saya membuat fic ini asal-asalan (walau kelihatannya asal-asalan). Terima kasih :')

Menjawab beberapa review yang menanyakan ''ini pairingnya siapa?" kita lihat saja nanti, oke ^^d

Dan saya akan sangat berterima kasih jika Anda yang membaca ini menyempatkan meninggalkan jejak berupa apapun itu. Sebuah cacian pun akan sangat berharga di kolom review di fic ini. Arigatou gozaimasu (_ _)