Naruto © Masashi Kishimoto

story © Soakers

Warning : OOC, OC, Typo(s), penuh ketidak jelasan

Thank you so much for reading and I hope you like it ^^d

~oOo~

|I'm Glad I Have A Friend Like You

Lima anak manusia itu lagi bersiap menuju pantai. Jaraknya pun cukup jauh dari vila milik Sasuke. Singkat cerita mereka telah berada di pesisir pantai. Cewek-cewek yang dibayangin sama Shikamaru ternyata enggak ada banyak di sana.

"Apa para cewek enggak ada yang menikmati musim panas?" dengusnya sambil melihat sekeliling pantai.

"Saat kita kembali ke Konoha, mungkin mereka baru akan datang ke mari," sahut Sasuke yang berada di sisi kanannya.

"Kau picik juga, Uciha," Shikamaru kembali mendengus.

"Seenggaknya kita masih memiliki dua gadis cantik dan seksi." Mata Naruto melihat Hinata dan Sakura yang turun dari mobil dengan balutan bikini.

Lekuk tubuh Sakura yang tinggi langsing terlihat sempurna dengan bikini pink yang dikenakannya. Tubuh putih mulus tanpa cela milik Hinata juga nampak sempurna berbalutkan bikini berwarna indigo. Enggak heran makanya ketiga cowok itu cuma bisa mangap menanti lalat hinggap di mulut mereka kala melihat dua bidadari berbikini tersebut.

"Hey, jangan cabuli kami di dalam pikiran kalian!" ujar Sakura sembari berkacak pinggang.

Hari itu benar-benar dimanfaatkan dengan baik oleh kelima anak manusia ini. Shikamaru lagi asyik bikin rumah-rumahan dari pasir bareng sama Naruto. Sasuke sama Sakura main voli, sedangkan Hinata cuma memerhatikan teman-temannya tersebut, karena memang dia udah cape main.

Hinata bahagia melihat teman-temannya begitu riang gembira.

"Lihatlah! Istanaku lebih keren," seru Naruto kepada Shikamaru. "Lebih besar." Dia berkacak pinggang dengan bangga atas hasil karyanya.

"Jelas punyaku lebih artistik," sahut Shikamaru.

Hinata berpikir bahwa sebaiknya dia membeli minuman segar untuk teman-temannya. Sakura yang melihat itu kemudian memanggil Hinata dan bertanya mau ke mana. Hinata bilang mau beli minuman, Sakura memutuskan buat ikut bareng sama Hinata. Sasuke ngerti Sakura udah mulai cape, dan dia setuju dengan usul Hinata untuk membeli minuman.

Sasuke kemudian menuju Shikamaru dan Naruto. "Dan raksasa pun datang," katanya sambil menendang dua istana bikinan Naruto sama Shikamaru.

"Apa yang kau lakukan, Teme?" dengus Naruto.

"Uciha bodoh!" Shikamaru enggak kalah geram.

Sasuke lalu kabur dan akhirnya terjadi kejar-kejaran ala anak SMA (baca: SD) yang lagi main kucing-kucingan.

Sakura yang melihat hal itu lalu tersenyum dan tertawa pelan. "Lihat, 'kan, Hinata, pantai bisa bikin seorang Uciha kayak anak kecil," katanya kepada Hinata yang sama-sama melihat hal itu.

"Begitulah," balasnya singkat namun dengan nada bahagia.

Mereka berdua pun berjalan mencari penjual minuman segar. Di saat mereka berjalan, keduanya serempak ngomong, "Hinata/Sakura-chan." Keduanya langsung berhenti berjalan. Mereka saling berhadapan dan memandang. Enggak ada yang ngomong buat beberapa saat, sampai akhirnya mereka berdua tertawa.

"Ada apa?" mereka ngomong barengan lagi. Lagi-lagi mereka ketawa. Akhirnya mereka memutuskan untuk saling menunggu apa yang bakal diomongin sama lawan bicara masing-masing.

Sakura menyerah, "Hinata, apakah kamu tahu kalau aku suka sama Sasuke?" agak ragu Sakura mulai mengungkapkannya.

Hinata berhenti berjalan dan menatap Sakura penuh tanya, "benarkah?"

"Iya. Aku udah suka sama Sasuke sejak dulu. Cuma aku berusaha buat menutupinya. Aku hanya takut hubungan kita akan menjadi renggang oleh hal semacam ini." Wajah Sakura menjadi muram, "selama ini, aku memerhatikan kalau Sasuke sering mendengar apa yang kamu katakan."

"Itu enggak benar, kok," sanggah Hinata.

"Aku yakin," balas Sakura, "karena aku selalu memerhatikannya." Dia tersenyum kancap makna.

"Lalu?"

"Aku mau ... Hinata membantuku dengan Sasuke ..."

Hinata terdiam. Die enggak tahu mau ngomong apa. Pasalnya Hinata udah janji duluan sama Naruto buat deketin Sakura sama Naruto. Butuh beberapa detik agar Hinata yakin untuk mengatakan, "maaf, Sakura-chan, aku enggak bisa."

Sakura tertawa lepas, "sudah, jangan dianggap serius begitu. Aku cuma becanda, kok," kilahnya. "Oh iya, tadi kamu mau bilang apa?" kini Sakura bertanya.

"Ano ... aku sendiri lupa."

Sakura tau Hinata berbohong, namun dia enggan untuk mendesak agar mengatakan hal yang sebenarnya. Keduanya diam tanpa bicara dalam langkah menuju kedai minuman terdekat. Enggak ada ucapan yang keluar dari mulut mereka sampai mereka di kedai yang dituju.

Dalam pikiran Hinata, janjinya kepada Naruto nampaknya akan lebih sulit dari yang dibayangkan sebelumnya. Tapi dia bertekad untuk membantu Naruto apapun caranya. Karena dia tahu inilah satu-satunya hal yang bisa dia lakukan untuk orang yang disayanginya; dikaguminya; dicintainya sepenuh hati ... sejak lama.

Setelah mereka membeli minuman mereka pun kembali kepada ketiga temannya yang lain. Di tengah perjalanan kembali, Sakura bilang, "Hinata, kamu mau, 'kan, melupakan apa yang setelah aku katakan?"

Hinata mengangguk lalu membalas, "aku akan berusaha menganggap hal itu enggak pernah terjadi," sambil tersenyum tulus, namun dalam hatinya ada sedikit ganjalan yang bahkan Hinata sendiri pun enggak tahu apa itu.

Saat kembali ke tempat awal, Sasuke masih dikejar oleh Naruto dan Shikamaru yang berusaha melemparnya dengan gundukan pasir.

"Sudahlah, minum dulu. Nanti dilanjut main kejar-kejarannya," seru Hinata yang langsung dituruti oleh ketiga cowok konyol itu.

Mereka duduk di pesisir pantai menanti langit menjingga. Matahari yang mulai tenggelam enggak lepas dari pandangan kelimanya, hal yang menurut mereka indah. Enggak ada yang ngomong, hanya menatap matahari yang kian bersembunyi.

Angin pantai di bulan Juli, seengaknya memberi sedikit kehangatan di hati kelimanya. Merasa damai tanpa ada kemunafikan di sekitar mereka, tak ada kesedihan untuk beberapa saat.

Naruto yang duduk paling kiri, di samping Hinata, mulai berbicara. "Aku mulai mengerti," katanya pelan.

"Tentang apa?" tanya Sasuke yang duduk di tengah, di kanannya Sakura dan paling kanan Shikamaru.

"Kenapa Tuhan menciptakan senja," jawab Naruto. "Kupikir, senja diciptakan untuk obat bagi mereka yang lelah."

"Lelah akan hidup yang rumit," tambah Hinata yang mulai menyandarkan kepalanya di pundak Naruto.

"Lelah akan kemunafikan," Sasuke menimpali.

"Lelah akan cinta yang tak pasti," Sakura angkat bicara.

"Dan kini aku mengerti," Shikamaru menambahkan, "kenapa Tuhan enggak menghadirkan banyak wanita berbikini hari ini."

Semuanya menoleh ke arah Shikamaru, mereka tahu imajinasi akan hal mesumnya sudah sangat akut, enggak heran semuanya langsung menjaga jarak denga cowok berambut panjang itu.

"Kalian menganggapku seakan pembunuh," dengus Shikamaru sembari melirik sinis teman-teman yang dikasihinya.

"Aku takut kau mencabuliku," sahut Sasuke.

"Hey, aku bukan homo!" bentak Shikamaru. "Aku merasa Tuhan sangat mencintaiku."

Semuanya diam enggak ngerti sama apa yang diomongin sama Shikamaru.

"Seandainya Tuhan mengirimkan banyak wanita seksi hari ini, aku pasti enggak bakal menikmati mahakarya-Nya ini." Matanya menatap matahari senja, "... dengan orang-orang yang kucintai di sampingku. Mungkin aku bukanlah orang baik, bahkan mungkin otakku terbilang mesum ..."

"Sangat mesum," sindir Naruto.

"Baiklah. Sangat mesum. Tapi kalian tetap menjadi sahabat terbaikku," Shikamaru melanjutkan."A friend is someone who knows all about you and still loves you, dan terimakasih kalian menjadi sahabat terbaikku." gumamnya kemudian.

"Aaahhhh, Elbert Hubbard-ku," Sakura langsung memeluk Shikamaru, diikuti yang lainnya.

"Hey-hey-hey, cukup yang cewek-cewek aja yang memelukku, aku tidak menerima pelukan dari cowok."

Semuanya ketawa dan tetap memeluk erat Shikamaru meski dia berusaha berontak.

TBC

Terima kasih sudah membaca fic gaje ini. Review teman-teman sangat berarti untuk tidak menjadikan fic ini semakin gaje. Jadi, apa salahnya membantu saya dengan mengisi kolom review di bawah ini, 'kan? Arigatou gozaimasu (_ _')a