Naruto © Masashi Kishimoto

story by Soakers

Warning: OOC, OC, Typo(s), penuh ketidak jelasan

happy reading ^^d

|PRINSIP

Seminggu berlalu semenjak mereka di vila Sasuke. Mereka tahu betul artinya liburan dan mencari kesenangan. Berbagai hiburan telah mereka lakukan, dari mulai berenang, mancing, bahkan sampe nyari semut buat diaduin. Makanya, sekarang mereka kayak kebingungan mau ngapain lagi.

Malam ini bagian Sasuke yang masak, setelah kemarin Shikamaru, dan kemarinnya lagi Sakura yang sebelumnya Hinata, dan Naruto di hari kedua. Itu semua sengaja mereka lakukan - enggak bawa pembantu buat masak - karena emang pengin seru-seruan aja.

Sasuke membawa nampan berisi mangkuk makanan yang entah apa namanya ke ruang makan, di mana keempat teman-teman lainnya berada. Dia pun meletakan nampan itu di antara mereka yang duduk membentuk lingkaran.

"Ini apa, Teme?" Naruto menatap makanan yang dibawa Sasuke. Cuma lima mangkuk nasi dan lima mangkuk - kalo bisa dibilang - kari.

"Kari Pedas buatan Sasuke," sahut Sasuke bangga.

"Perasaanku gak enak," bisik Shikamaru kepada Naruto.

"Hey, hey, hey, aku mendengar itu," ujar Sasuke dongkol.

"Kita satu hati, Shika," Naruto balas berbisik.

"A-apa ini sehat?" ujar Hinata ragu-ragu.

"Masih bisa dimakan, 'kan?" Sakura menimpali.

Sasuke mendesah jengkel lihat respon keempat temannya yang baginya enggak tahu berterima kasih. Padahal saat memasak-yang bisa dibilang lama buat ukuran bikin kari-Sasuke melewatinya dengan darah dan air mata.

Sasuke kemudian menepuk dadanya sendiri, "tenang saja, aku bisa jamin ini aman dikonsumsi," ucapnya bangga.

Agak ragu keempat teman Sasuke mencoba mencicipi makanan tersebut, sedetik kemudian wajah mereka biru kemerah-merahan seakan keracunan. Jelas, masakan Naruto bisa dibilang sedikit lebih baik ketimbang masakannya Sasuke, apalagi kalo dibandingin sama masakannya Hinata atau Sakura yang notabene cewek yang pinter masak.

"Besok-besok, kau tak perlu memasak lagi, Teme," teriak Naruto yang kemudian lari ke toilet diikuti Shikamaru, Hinata dan Sakura.

Sasuke bingung melihat semuanya, apa makanan ini emang segitu parahnya, ya? Sasuke membatin. Jelas Sasuke enggak tau sebetapa parah masakannya, dia hanya memasukan bumbu asal-asalan tanpa mencicipinya terlebih dahulu. Sasuke pun penasaran akan rasa kari tersebut. Dan ... dia akhirnya tahu seberapa ancur rasanya itu. Sang Uciha pun akhirnya ikut lari ke toilet buat muntah berjamaah.

Pada akhirnya, malam itu mereka hanya memakan ramen instan yang memang enggak pernah ketinggalan dibawa oleh Naruto.

"Hey, Teme, rencanamu buat membunuh kami berjalan hampir sempurna," kata Naruto sarkastis.

"Hey, hargailah usahaku. Itu masakan pertama yang kubuat sepanjang hidupku." Sasuke emang enggak pernah masak, meski itu air sekali pun. Sejak kecil dia selalu dilayani secara eksklusif mengingat dia adalah bungsu dari pemilik hotel terbesar di Jepang, Hotel Uciha.

"Sudah, sudah," lerai Hinata yang agak takut kalo nanti teman-temannya bakalan berantem. "Yang penting sekarang kita bisa makan," tambahnya dengan lembut.

"He'em," Sakura menimpali, "seenggaknya Sasuke udah mau usaha buat masak, 'kan? Jadi mari kita bahas hal lain aja."

Lagi asyik makan tiba-tiba lampu ruangan mati mendadak diikuti teriakan para cewek. Sasuke yang kebetulan lagi pegang ponsel langsung menyalakan lampu kamera ponsel tersebut buat dijadikannya penerangan. Dia merasa seseorang lagi ketakutan dan memeluk erat tangan sampe dia enggak bisa menggerakannya. Saat menyoroti sosok itu, ternyata Sakura.

Saat senter ponsel mengarah ke yang lainnya, Hinata juga melakukan hal yang sama, bedanya dia memeluk Naruto, sedangkan Shikamaru nampak enggak peduli dan tetap memakan ramennya.

"Kenapa tiba-tiba mati lampu?" tanya Naruto entah kepada siapa.

"Mungkin ada masalah," sahut Shikamaru, "sebentar lagi pasti nyala," tambahnya. Tapi setelah ramennya abis listrik enggak kunjung nyala, dan Sasuke pun akhirnya memutuskan menyalakan lilin buat gantiin ponselnya yang mulai lowbat.

"Mending kita tidur aja deh," kata Shikamaru kemudian berdiri tapi dengan Sakura menariknya buat duduk lagi. "Ada apa? Mau tidur bareng?" goda Shikmaru yang kemudian mendapat jitakan dari Sakura.

"Kita tidur sama-sama di sini sampai lampunya nyala," terangnya. "Tanpa ada mikir mesum-mesum," tambahnya. Dia menendang Shikmaru buat menjauh, lalu menarik Sasuke buat dekat dengannya. "Lebih baik sama Sasuke aja."

Sasuke hanya mendesah pelan.

"Baiklah, aku dekat dengan Hinata," ujar Shikamaru. Tapi sayang Naruto sudah ada di samping Hinata. Jadi posisinya keempat orang itu duduk di hadapan Shikamaru. "Aku punya firasat akan menjadi perjaka terakhir di sini," ucapnya malas yang langsung dipelototin sama para cewek.

"Bagaimana kalau kita berbagi cerita sampai listriknya nyala lagi?" usul Sakura.

"Ide bagus buat ngebunuh rasa bosan," timpal Hinata.

"Cerita apa?" Naruto bertanya.

"Apa aja. Yang berhubungan dengan kalian misalnya," jawab Sakura.

"Sebagian besar waktuku selalu bersama kalian, enggak ada yang bisa kuceritain," Sasuke mulai bicara.

"Aku punya cerita," ujar Shikamaru tiba-tiba.

"Benarkah? Ayo cerita," Sakura antusias, diikuti yang lainnya memerhatikan Shikamaru yang siap berbagi kisah.

"Jadi ..."

Semuanya hening, cukup lama enggak ada yang ngomong. Semuanya serius memerhatikan Shikamaru yang menatap bergantian orang-orang didepannya.

"Begitulah," kata Shikamaru enggak jelas.

"Apaan?" dengus Naruto.

"Lagian, kalian serius banget," balas Shikamaru. "Jangan terlalu serius, soalnya cerita ini sangat mengerikan."

"Jangan bilang mau cerita seram?" selidik Hinata yang kemudian semakin mendekatkan diri kepada Naruto. Tapi Shikamaru malah tersenyum misterius dan nyenterin ponsel ke wajahnya sendiri dari bawah, sehingga mirip hantu-hantu yang ada di film lawas.

"Ini berawal dari seorang anak kecil," Shikamaru mulai bercerita. "Di sebuah desa hiduplah satu keluarga yang begitu bahagia. Awalnya hidup meraka dipenuhi suka cita. Semua warga begitu menghormati keluarga tersebut, keluarga terpandang yang kaya raya dan baik hati. Tetapi enggak ada seorang pun yang tahu keluarga tersebut memiliki rahasia hitam."

"Tentu saja karena itu rahasia," potong Naruto.

"Benar. Dan apa rahasia itu? Kalian tahu?"

"Bukan rahasia kalau kami tahu," kini Sasuke yang ngomong.

"Yaudah, tamat," ujar Shikamaru.

"Apaan?" lagi-lagi Naruto mendengus, "kau makin enggak jelas, Shika."

"Kayaknya tanpa bokep hampir seminggu ini bikin sakit otak Shikamaru," kata Sasuke datar.

"Bukannya pria yang sering menonton porno kemampuan otaknya akan menyusut? Sudah terbukti dengan penelitian," sanggah Sakura.

"Tentu, buktinya Shikamaru selalu menjadi juara kelas," jawab Sasuke berbanding terbalik. "Itu hanya menyusutkan otak striatum, nafsu seksualnya bakalan makin naik. Dengan kata lain, bagi pria yang memiliki striatum kecil lebih gampang terangsang."

"Striatum?" tanya Naruto.

"Bagian otak yang melacak di mana nafsu seksual merespon," jawab Hinata. "Itu enggak berpengaruh dengan daya pikir otak dalam bidang akademis. Buktinya beberapa ilmuan juga memiliki nafsu seks yang besar. Lagipula, penelitian itu enggak membuktikan dengan jelas apa bisa bikin otak jadi kecil secara langsung."

"Jadi nonton bokep itu aman?" Naruto nanya lagi.

"Enggaklah," sambar Sasuke, "semakin kecil ukuran striatum bakal semakin bahaya. Bisa-bisa kambing betina juga di'garap'," kelakar Sasuke.

Narto tulah-toleh melihat teman-temannya secara bergantian. Kalo diperhatiin, dia kayak orang bego yang terdampar di pulau para ilmuan.

"Jadi, apa kita akan bicara masalah seks?" Sakura mendelik ke arah Shikamaru.

"Aku merasa ditampar dengan tatapanmu, Sakura," sahut Shikamaru.

"Bukannya itu lebih baik?" ujar Hinata.

"Apa kamu setuju dengan bahasan kayak gini?" Sakura kaget karena dia kira Hinata setuju bahas masalah seks yang udah jelas kegemaran para pria.

"Bukan," jawab Hinata sambil ketawa pelan, "maksudku kata Shikamaru yang seakan kamu tampar."

"Maksudnya?"

"Bukannya lebih baik ditampar sahabat daripada dikecup musuh?" ucap Hinata lembut.

"Phytagoras, ya?" gumam Shikamaru sambil tersenyum simpul.

"Phytagoras?" tanya Sakura.

"Iya, yang bilang mending digampar teman daripada dikecup musuh."

"Filsuf sekaligus matematikawan itu?" tanya Naruto. Akhirnya Naruto merasa enggak kelihatan bego banget.

"Yang jelas dia yang menemukan teorema Pythagoras, yang menyatakan bahwa kuadrat hipotenusa dari suatu segitiga siku- siku adalah sama dengan jumlah kuadrat dari kaki-kakinya, 'kan?" timpal Sakura yang enggak dimengerti sama Naruto, karena bagi Naruto matematika itu menyebalkan.

"Bukan, dia bukan penemunya," sanggah Shikamaru, "dia hanya orang yang pertama kali membuktikannya secara matematis. Makanya nama teorama itu Phytagoras. Tapi teori itu sudah ada jauh sebelum Phytagoras lahir."

Semuanya manggut-manggut berlagak paham.

"Tapi bukan filsuf namanya kalo enggak ada pertentangan dan cerita suram," Shikamaru menambahkan. "Ada bagian menyeramkan dari kisah teorama itu."

"Menyeramkan?" Hinata mulai khawatir.

"Bukan cerita hantu," Shikamaru menenangkan. "Ada yang bilang kalo muridnya, Hippasus, nemuin kalo, hipotenusa dari segitiga siku-siku sama kaki dengan sisi siku-siku masing-masing satu, adalah bilangan irasional, murid- murid Pythagoras lainnya memutuskan buat bunuh tuh orang karena enggak bisa ngebantah bukti yang diajuin Hippasus."

"Dibunuh?"

"Iya, karena Hippasus dianggap sesat oleh Phytagoras pada masa itu."

"Serem amat," ujar Naruto.

"Begitulah, zaman itu emang suram." Shikamaru ketawa seakan bikin lelucon lucu. Teman-temannya malah menatapnya datar. "Oke, itu enggak lucu," kata Shimaru yang mengakhiri tawanya.

"Phytagoras berarti bukan orang yang bisa nerima pendapat orang lain dong?" Naruto kembali bertanya.

"Zaman itu semua orang enggak bisa berpendapat dengan bebas," terang Shikamaru.

"Aku jadi inget cerita Socrates," ujar Sasuke, "bukannya dia juga dibunuh karena pendapatnya? Apakah dia satu angkatan dengan Phytagoras?"

"Begitulah, Socrates juga dihukum mati gara-gara pendapatnya," jawab Shikamaru, "tapi Phytagoras dan Socrates berbeda aliran, dan dia lahir seabad setelah Phytagoras. Aku juga begitu mengagumi Socrates."

"Mengagumi orang yang dihukum mati?" sergah Hinata?

"Memilih mati," sanggah Shikamaru.

"Memilih mati?"

"Begitulah. Socrates memilih mati meski sebenarnya dia bisa lari dari hukuman itu, karena keyakinannya. Dia memilih mati daripada mematahkan keyakinan yang dia yakini."

"Dia yakin atas?" tanya Sakura.

"Karena dia yakin dia adalah orang yang paling bijak di Yunani pada masa itu."

Naruto tergelak. "Mana ada orang bijak ngaku dirinya bijak," kata Naruto sarkastis.

"Karena dia tahu dia enggak bijak."

"Aku enggak ngerti," ucap Naruto.

"Sama," timpal Sakura dan Hinata bersamaan. Sasuke cuma memerhatikan cerita Shikamaru dengan saksama.

"Itu gara-gara sahabatnya, Oracle Delphi. Orakel Delphi bilang ke Socrates kalo Socrates adalah orang paling bijak di negara itu. Socrates enggak percara, terus dia menemui para sophis, sophis sendiri adalah orang-orang yang dianggap bijak sama orang-orang Yunani. Saat dia bertemu sama para sophis, dia mulai diskusi dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar atas kebijakan. Diskusi itu berjalan seru, malah kaum sophis beberapa kali menekan Socrates tapi Socrates terus bertanya sampai akhirnya para sophis bilang 'enggak tau', anehnya tuh para shopis masih percaya mereka itu adalah orang paling bijak dan paling tau. Berbanding terbalik dengan Socrates yang selalu bilang 'aku enggak tau apa-apa'.

"Karena Socrates selalu berlagak bego biar menambah pengetahuannya. Berbeda dengan orang lain, Socrates lebih mementingkan pertanyaan daripada jawaban. Makanya, di setiap diskusi dia selalu bertanya-bertanya-dan bertanya. Dia pandai mengajukan jawaban di waktu yang tepat. Oleh karena itu, Socrates akhirnya percaya perkataan Orakel Delphi kalo dia adalah orang paling bijak di Yunani, karena dia tau dia enggak bijak. Kalo kalian pernah denger kalimat paling populer Socrates yang bilang, 'orang yang bijak adalah orang yang tau dirinya enggak tau' awalnya dari cerita tadi.

"Terus dia dianggap sesat sama pemerintah Yunani dan para kaum sophis karena membelokan apa yang selama ini mereka percaya selama itu. Terus dia dikasih pilihan, mengaku dia salah atau dihukum mati. Socrates yang enggak mau menjilat ludahnya sendiri memilih mati. Sebenarnya sih bukan keyakinan kalo kataku, tapi lebih ke kebenaran. Karena Socrates memaluinya secara empiris, bukan keyakinan yang notabene adalah perandaian." Shikamaru mendesah sejenak. "Meski begitu, Socrates memiliki banyak teman karena kebaikan, kecerdasa dan keadalinnya itu. Makanya, saat voting hukuman mati buat Socrates, hasilnya tipis banget antara yang setuju Socrates dihukum mati sama yang enggak. Aku jadi ingin punya prinsip kayak gitu, deh." Shikamaru mengakhiri kisahnya.

"Mereka mengusir yang tahu, dan menerima yang percaya," akhirnya Sasuke angkat bicara.

"Begitulah," kata Shikamaru. "Cuma sayang banget Socrates enggak pernah nulis kisahnya atau teori yang dilewati secara empiris tersebut."

"Keren juga, ya. Eh, terus gimana orang-orang tahu kisah Socrates itu? Apa dari mulut ke mulut?" tanya Hinata.

"Bukannya sejarah bisa berubah dari mulut satu ke mulut lainnya?" timpal Sakura.

"Maka kita harus berterima kasih kepada Plato. Plato adalah orang yang giat menulis kisah Socrates, karena dia adalah murid Socrates yang begitu mengagumi gurunya itu."

Percakapan semakin melebar ke berbagai hal. Dari mulai ngomongin film, musik, hingga novel. Silih berganti mereka berbagi cerita hingga waktu enggak terasa entah telah berapa lama mereka bicara. Sampai akhirnya semua ngantuk. Sasuke udah berbaring berbantalkan tangan yang dilipatnya di belakang kepala, diikuti Sakura yang tidur miring menghadap Sasuke. Sesekali Sakura melihat wajah Sasuke, Sasuke yang merasa diperhatikan menoleh ke arah Sakura, tapi Sakura menyembunyikannya dengan . Sasuke hanya tersenyum geli menyadari itu.

Shikamaru? Dia adalah orang pertama yang terbang ke alam mimpi dengan posisi tidur mirip Sasuke. Tinggal Hinata dan Naruto yang belum tidur.

"Kamu belum ngantuk, Hinata?" tanya Naruto.

"Sedikit, aku kan enggak bisa tidur kalo enggak ada bantal."

Naruto menyandarkan punggungnya di pintu ruangan, kakinya dijulurkan. Kemudian dia menepuk pahanya sendiri, "sandarkan kepalamu di sini," katanya kepada Hinata. "Aku enggak apa-apa," ucapnya lagi memotong apa yang akan diucapkan Hinata.

Hinata pun mengangguk dan menyandarkan kepalanya di paha Naruto. Perlahan Hinata mulai menutup matanya, "oyasumi, Naruto-kun," gumamnya pelan.

"Oyasumi," balas Naruto tak kalah pelan.

Kalo dilihat-lihat, Hinata imut juga lagi tidur kayak gini, batin Naruto. Tapi kemudian matanya melihat cewek yang selama ini mengisi hatinya, Sakura. Melihat punggungnya yang lagi tidur damai bikin hati Naruto juga damai. Cukup lama dia menatap Sakura kayak gitu. Hati kecilnya berharap, posisi Hinata diisi oleh Sakura harusnya ...

TBC

Fic ini terinspirasi dari novel 5 cm-nya Donny Dhirgantoro sama manga Good Ending milik Kei Sasuga. Beberapa bagian kecil mungkin akan terlihat agak mirip dengan kedua karya tersebut, meski begitu saya membuatnya sebeda mungkin. Alur dan plotnya pun saya pastikan akan sangat berbeda.

Well, saya sangat berharap pembaca yang baik hati dan tidak sombong pun rajin ibadah serta menabung, bisa meluangkan waktunya meninggalkan saran dan kesan bahkan cacian Anda di kolom review. Terima kasih sudah membaca :)