Naruto © Masashi Kishimoto
story by Soakers
Warning: OOC, OC, Typo(s), penuh ketidak jelasan
happy reading
|Kamu mencintainya, 'kan?
Hinata bangun lebih awal. Posisinya masih sama kayak pertama kali dia tidur malam tadi. Begitu pun dengan yang lainnya. Tapi ada yang membuatnya sedikit kaget, Naruto.
"Sudah bangun?" kata Naruto pelan dengan matanya yang sedikit memerah.
"Naruto-kun enggak tidur?" tanya Hinata yang kemudian merubah posisinya jadi duduk dan bersandar di pintu―berdampingan dengan Naruto.
"Aku takut air liurku menetes ke wajahmu kalo tidur," jawab Naruto sembari tersenyum simpul dan matanya kian berat dan perih.
"Hmmm, Naruto-kun baik banget sih." Hinata mencubit pipi Naruto sampe cowok rancung itu meringis. "Gantian sini," katanya lagi sambil menirukan gaya Naruto sebelum mereka tidur.
"Enggak apa-apa nih?" tanya Naruto yang sebenarnya pengin banget tidur, apalagi itu di paha Hinata. Pasti anget-anget gimana gitu. Tapi Naruto malah belagak menolaknya dan bilang mau tidur di kamar aja, soalnya pasti seharian ini dia bakalan tidur. Naruto pun akhirnya berpamitan kepada Hinata dan beranjak menuju kamar tidur.
Hinata menarik tangan Naruto. Wajahnya menunduk enggak berani bertatapan sama cowok yang dia sukai itu. "A-arigatoo, Naruto-kun," gumamnya pelan.
Naruto tersenyum lalu mengacak-ngacak rambut Hinata dan pergi meninggalkannya tanpa sepatah kata pun.
~o0o~
"Naruto masih belum bangun?" tanya Sakura yang lagi masak bareng Hinata. Tangannya terampil memotong kentang buat makan hari ini.
"Kayaknya sih gitu," jawab Hinata sambil melihat jam tangannya. "Udah jam dua padahal."
"Semaleman die enggak tidur?"
"Begitulah."
"Dasar, Naruto itu."
Sakura memasukan sebagian irisan kentang itu ke panci yang berisi air. Hinata pun melakukan hal yang sama setelah selesai mengiris wortel. Hinata kemudian mengambil gelas dan menyeduh susu.
"Hinata enggak pernah telat ya minum susu," komentar Sakura dengan tangan yang masih mengiris sisa kentang.
"Bukan, ini buat Naruto-kun."
Sakura berhenti sejenak dari aktivitasnya. Dia menoleh kepada Hinata dengan tatapan menggoda. Sesekali matanya mengedip-ngedip menggoda Hinata yang bikin cewek berambut indigo itu sedikit gelisah.
"Perhatian banget sih," Sakura terus menggoda Hinata.
"Apaan sih. Ini cuma sebagai tanda terima kasihku karena dia meminjamkan pahanya buat dijadiin bantal."
"Masa sih?" Sakura mengangkat alisnya beberapa kali dengan tujuan bikin Hinata salah tingkah. Tapi, ketenangan Hinata enggak bisa dibantahin lagi, dia dengan apik menyembunyikan kegugupannya dalam sekejap.
"Udah ah, aku mau anter ini dulu." Hinata pun beranjak meninggalkan Sakura menuju kamar Naruto.
Di sana Naruto ternyata udah bangun. Dia cuma tiduran sambil menatap langit-langit kamar. Dirinya memang di sana, tapi enggak sama pikirannya. Hinata yang masuk ke kamar pun enggak disadari Naruto, sampai akhirnya Hinata meletakan secangkir susu di samping cowok itu.
"Naruto-kun ngelamun?" tanya Hinata setelah meletakan susu tersebut.
"Eh, Hinata. Enggak, aku hanya lagi ngumpulin nyawa," kelakar Naruto yang masih setengah ngantuk. "Yang lain udah bangun?" Naruto mendudukan dirinya.
"Shika-kun sama Sasuke-kun lagi mancing. Sakura lagi masak. Ini susu minum dulu, anggap aja bayaran tadi malam."
Naruto ketawa pelan. "Kamu ini," katanya seraya mengambil susu itu. Dia menghabiskan susu tersebut dengan sekali teguk. Hinata yang melihatnya begitu bahagia melihat Naruto menikmati setiap teguk susu bikinannya, namun Hinata berusaha menyembunyikan kebahagiaan itu.
"Kamu temenin Sakura-can, gih," ujar Hinata sembari mengedipkan mata kanannya.
Naruto ngerutin kening enggak tau maksud Hinata apaan, tapi itu enggak berlangsung lama setelah Hinata bilang, "aku 'kan udah janji buat bantu Naruto-kun sama Sakura. Cepet samperin dia." Hinata menyeret Naruto dari tempat tidurnya.
Naruto pun bangun tapi pura-pura ogah.
"Bilang aja aku nyusul Sasuke-kun sama Shika-kun ke tempat mancing," ujar Hinata lagi. Dia tetap menarik Naruto supaya keluar dari kamar tersebut.
"Tapi aku harus bagaimana?" tanya Naruto agak panik, "selama ini aku jarang banget berduaan sama Sakura-chan, biasanya juga kan selalu rame-rame."
"Sudahlah, besrikap biasa aja."
"Antar."
"Ke mana?"
"Ke dapur, nemuin Sakura."
"Sendiri aja."
"Enggak mau."
"Harus mau."
"No."
"Oke," Naruto menghela napas. "Aku balik tidur aja."
"Fine," desah Hinata. Akhirnya dia mau nganter Naruto ke dapur buat berduaan sama Sakura.
"Kalian kenapa sih?" tanya Sakura yang melihat Naruto dan Hinata silih dorong buat dulu-duluan di pintu dapur.
"Ano ..."
"Aku mau ke pemancingan nemuin Sasuke-kun sama Shika-kun, sambil mau beli cemilan buat nanti malam," Hinata sedikit berbohong.
"Aku juga mau ke sana," ujar Naruto tiba-tiba tapi keburu kakinya diinjak sama Hinata sampai dia sedikit meringis.
"Kalian mau ninggalin aku?" tanya Sakura sambil melihat Hinata dan Naruto secara bergantian.
"Bukan gitu, maksud Naruto-kun, dia mau gantiin aku buat ke sana itu ke tempatnya Sakura-chan. Bantuin Sakura masak. Iya, 'kan, Naruto-kun?"
"Be-begitulah." Naruto cengengesan enggak tau ngetawain apa.
"Aku curiga." Sakura kembali memerhatikan Naruto dan Hinata secara iterasi. "Kalian enggak nyembunyiin sesuatu, 'kan?" tanyanya dengan penuh penekanan.
"Ah, perasaan Sakura-chan aja," kilah Hinata yang kemudian mendorong Naruto ke arah Sakura. "Berusahalah," bisiknya kemudian.
"Baiklah, aku enggak tau kenapa kalian nampak aneh begitu. Tapi jika memang Naruto mau bantu masak, ayo bantu aku mengiris bawang."
Hinata tersenyum simpul melihat keduanya, dia pun pergi meninggalkan mereka berdua di dapur tersebut.
Naruto enggak banyak ngomong kayak biasanaya. Jelas ini Naruto pertama kalinya sejak masuk SMP cuma berduaan saja dengan Sakura. Entah bagai mana hati kecil Naruto berharap Hinata ada di sana. Suasana kurang nyaman itu disadari Sakura, dia melihat Naruto agak linglung meski tangannya mengiris bawang buat bahan masakan yang mereka bikin.
"Kamu sakit?" tanya Sakura berusaha menyentuh kening Naruto. Naruto bengong; matanya membulat; pipinya merona. "Tuh, 'kan, kamu sakit? Dasar bodoh. Sudah istirahat aja sana, aku bisa masak sendiri, kok."
"Aku sehat. Lihat nih," Naruto menepuk-nepuk tangan atasnya kala berpose ala binaragawan.
Sakura mendesah pasrah, dia tau Naruto itu orangnya kekeh dan keras kepala. Seberusaha apapun buat larang Naruto bantu dia, itu akan menjadi hal yang percuma. Sakura pun kembali melanjutkan aktivitasnya semula. Tanpa sengaja telunjuk Sakura teriris piasau sampai dia terpekik pelan.
Naruto sigap langsung meraih tangan Sakura.
"Kamu mau apa?" tanya Sakura.
Naruto enggak jawab, dia langsung menghisap darah yang keluar dari telunjuk cewek itu buat memberhentikan pendarahan.
"Na-Naruto ..." guamam Sakura. Entah apa yang ada di pikiran cewek itu, yang pasti wajahnya kini agak merona.
Naruto menyudahi hisapannya. "Tunggu di sini, aku mau ambil plester," katanya kemudian yang langsung bergegas menuju kotak PPPK.
Cuma butuh beberapa detik Naruto kembali membawa plester dan sebotol alkohol serta kain kasa, karena kotak pengobatan emang ada di dapur. Tapi dia bingung cara pasangnya gimana.
"Sakura-chan, aku enggak tau cara membersihkan luka. Kamu bercita-cita jadi dokter, pasti kamu lebih tau, 'kan?" Padahal itu alasan aneh, orang yang bercita-cita jadi pilot pun enggak tentu bisa bawa pesawat.
Sakura mengangguk dan mulai membersihkan lukanya sebelum dia menutupnya dengan kain kasa berbalut plester.
"Selesai," kata Sakura sambil menunjukan hasil balutannya.
"Sakura-chan emang hebat, ya." Naruto berkata tulus. "Tapi maaf, ya, aku enggak bisa melakukannya."
"Hey, kenapa harus minta maaf?" Sakura lagi-lagi melihat Naruto dengan tatapan penuh curiga, "aku khawatir otakmu bermasalah. Soalnya dari tadi kamu bersikap aneh, Bodoh."
"Ah, hanya perasaanmu saja."
"Tapi, terima kasih ya." Sakura menyunggingkan semum manis. "Ternyata kamu sigap juga, ya."
"Tentu saja," sahut Naruto bangga, "aku kan tampan."
"Apa hubungannya, Bodoh?!" Sakura langsung menjitak kepala Naruto. Hal yang biasa dilakukannya. Tapi hal itu malah membuat keduanya tertawa.
Tapi di sana, Hinata tidak benar-benar pergi. Dia memerhatikan Naruto dan Sakura dari celah pintu ruangan tengah. Dia bergumam pelan dan enggak mungkin terdengar oleh orang yang diperhatikannya, "arigatou, Naruto-kun."Entah apa maksud tetima kasih itu, yang jelas dia bahagia karena 'misinya' telah berjalan satu langkah.
Kini die enggak perlu khawatir lagi, dia tau Naruto sudah melakukannya cukup baik. Hinata pun akhirnya benar-benar pergi.
Sasuke nampak menikmati acara memancingnya, begitu pula dengan Shikamaru, cowok berambut panjang itu juga menikmati tidur siangnya. Enggak heran, Shikamaru yang sama sekali enggak ada bakat dan minat dalam mancing, bisa langsung tidur pulas.
Sasuke menyadari ada orang yang menghampirinya. Saat dia menoleh ke belakang, Hinata tengah berjalan mendekat sembari membawa kantung plastik yang berisi tiga botol minuman dingin.
Dia memberikan salah satu minuman itu ke Sasuke. Sasuke pun menerima dan meneguknya.
"Shika-kun selalu tidur nyenyak ya," kata Hinata tanpa menyapa Sasuke terlebih dulu. Dia duduk di samping cowok Uciha tersebut lalu memeluk lutunya sendiri.
"Enggak aneh," sahut Sasuke yang kembali beratensi pada pelampung pancingannya.
Hinata tersenyum di sana. Membayangkan Naruto yang bahagia bersama Sakura. Inikah yang dirasakan oleh Naruto sebelumnya? Naruto cukup bahagia ketika melihat Sakura bahagia. Akhirnya Hinata tahu apa arti cinta yang dimaksud Naruto. Naruto, dialah yang mengajari cinta itu.
"Ada apa? Kamu meninggalkan Sakura memasak sendiri? Lalu apa si Dobe sudah bangun?" Sasuke bertanya secara beruntun.
"Enggak, Naruto udah bangun, kok. Dia juga nemenin Sakura buat masak."
Sasuke manggut-manggut.
Hinata tersenyum lalu matanya melihat langit siang menjelang sore itu. Pemancingan Hokkaido sore ini tidak terlalu banyak yang mengunjungi. Hanya beberapa orang saja. Sesekali melewat orang yang membawa jalan-jalan seekor Anjing di hadapan mereka.
"Seberapa besar kamu mencintainya?" tanya Sasuke tiba-tiba.
"Siapa yang Sasuke-kun maksud?"
"Siapa lagi? Ya si Dobe itu."
"Enggak, kok," kilah Hinata, "aku menyukai Naruto-kun kayak aku menyukai Sasuke-kun dan yang lainnya."
Sasuke tersenyum kecut. "Adakalanya, adalah tindakan bodoh berbohong di depan seorang sutradara yang mendapat penghargaan di felstival film remaja Konoha." Memang, Sasuke saat mengikuti festival film tahunan Konoha tahun lalu, mendapatkan penghargaan juara pertama film remaja, dan terpilih juga sebagai sutradara terbaik di tingkatan tersebut. "Kamu bukan pemain peran yang baik," kata Sasuke lagi, "seandainya saja kamu ini aktrisku, sudah kuganti dengan orang yang pandai bermain peran." Meski bernada agak menyombongkan diri, Hinata tahu Sasuke enggak bermaksud jahat. Hinata juga tahu kalo Sasuke adalah orang baik. Makanya, Hinata cuma cengengesan mendengar Sasuke kayak gitu.
"Sasuke-kun, bukannya cinta itu bahagia? Aku sudah cukup bahagia melihat Naruto-kun tersenyum lepas bersama Sakura-chan." Hinata ikut melihat pelampung pancingan milik Sasuke. "Sasuke-kun pernah denger Robert Heinlein bilang 'Love is that condition in which the happiness of another person is essential to your own', gak? Kayaknya aku setuju deh."
Sasuke mengikuti Hinata melihat awan beriringan di atas sana. "Nope," katanya, "enggak selalu begitu."
Hinata mengerutkan kening lalu menatap wajah Sasuke. "Maksudmu?"
"Kautahu jawabannya, Hinata." Pemuda bermata hitam legam itu menoleh dan tersenyum kancap makna kepada Hinata. "Jauh di dalam hatimu, ada rasa itu, 'kan?"
"Aku enggak ngerti ..." Hinata menunduk memandang ujung sepatunya. "Sungguh tak dapat kumengerti."
"Kau mencintainya, 'kan?" tanya Sasuke lagi.
Hinata mengangguk pelan. "Bisakah kusebut itu cinta?" tanya Hinata pelan.
"Enggak, jelas itu keliru. Cinta bukan tentang dia bahagia, atau kau bahagia," kata Sasuke bijak, "cinta tentang semua bahagia, Hinata. Dan kupikir kamu hanya cewek yang egois." Meski terkesan prontal, Sasuke nampak enggak terlihat bersalah setelah apa yang dikatakannya kepada Hinata.
"A-apa aku seperti itu?" Hinata terbata dan merasa ada sedikit serangan ke ulu hatinya.
"Ya, yang kulihat seperti itu." Sasuke mendesah pelan, "dapat," katanya sambil mengangkat ikan yang entah apa jenisnya itu. Ikan itu enggak terlalu besar, makanya Sasuke melepaskannya kembali.
"Karena kamu menikmati cinta itu sendiri," kata Sasuke lagi. Sasuke berdiri sambil melihat arloji di tangan kiri.
"Sudah sore," katanya. Hinata mendongak, Sasuke mengulurkan tangannya kepada Hinata.
"Sasuke-kun ...," gumamnya pelan, "arigatou." Dan Hinata pun menyambut hangat uluran tangan Sasuke.
"Kamu berhutang budi padaku jika kamu mengatakan terima kasih," balas Sauke. "Balaslah dengan membuatnya bahagia." Dia mengedipkan mata kananya. Hinata enggak ngerti, belum sempat dia bertanya maksud Sasuke, Sasuke keburu ngebangunin Shikamaru dengan menciprati pangeran tidur itu dengan air minum minum yang dibawa Hinata.
Shikamaru bangun segera sambil bergaya silat, mirip kayak seminggu yang lalu saat mereka sampai di vila Sasuke. Sasuke dan Hinata ketawa renyah melihat tingkah Shikamaru. Shikamaru bengong enggak ngerti kenapa kedua temannya itu ketawa. Dari tingkah Shimaru barusan, sudah bisa dipastikan kalo dia baru saja mimpi buruk.
~o0o~
"Sakura, airnya sudah mendidih, apa yang harus aku lakukan?" teriak Naruto kepada Sakura yang lagi menanak nasi.
"Aku segera ke sana," sahut Sakura.
Sakura pun berlari pelan menghampiri Naruto. Saat Sakura tepat di belakang Naruto, Naruto mendadak membalikan badan. Dan sesuatu yang tidak terduga pun terjadi. Tanpa sengaja bibir mereka saling menempel, atau disebut ... ciuman.
~TBC~
Suatu kebahagiaan bagi saya jika pembaca mau meninggalkan review di karya nubi ini :)
