GabriMicha Runa & Katsunawa Yura-Tassya Presents
We Wanna to be Girl Who Could Loving Someone
Rated: K+ (maybe... Kadang author Runa suka buat jadi rated M /digeplak)
Genre: Humor and big Romance (keinginan bikin story Runa hurt/comfort /digeplak)
Character:
- Yura (OC) & Masamune (Tokoh SenBasa)
- Runa (OC) & Motonari (Tokoh SenBasa)
Language: Indonesian (maybe (lagi), takutnya author Yura pakein bahasa Inggris di dialog Masamune dan author Runa pakein bahasa Inggris di dialog Runa /apa)
Warning: OOC, Alur kecepatan, Typo, GaJe, Bahasa yang ngaco, Modus Author (ha?), Kadang tulisan satu dan lain beda (soalnya dua author yang ngerjain disini), era tidak diketahui, dll.
Disclaimer: Sengoku BASARA game milik CAPCOM dan anime milik production I.G., gakuen milik Yuki Mitai. Kami pinjam mereka demi kepuasan author yang jomblo selama beberapa dekade /plakked!
Summary: Runa dan Yura (OC) ingin merasakan cinta dan pacaran dengan daimyo idola mereka, Motonari dan Masamune. Story about Wahana and Romance, little humor (maybe).
Scene V - Motochika! Halo!
Runa bersama Motonari dan Tsuruhime pun terhenti di sebuah kios gulali. Tsuruhime memandang gulali dengan takjub.
"Motonari-kun, aku mau itu~" kata Tsuruhime manja. Runa dan Motonari sambil lempar pandang dengan wajah heran seakan mengatakan 'hei-yang-kencan-siapa-sih?'.
"Kan kau punya uang sendiri, Tsuruhime," gerutu Motonari hanya bisa menggeleng. Tsuruhime menggembungkan pipinya manja.
"Ihh katanya minta temani. Sudah deh, aku pulang aja!" ujar Tsuruhime ngambek, lalu mendengus dan membuang wajahnya. Sekali lagi pasangan penyuka warna hijau ini saling lempar pandang. Pasangan? Astaga, bisa-bisa aku bakal digebukin sama author Meaaaa...
"Ayolah Motonari-sama, belikan saja dia," ucap Runa berbisik.
"Kau tidak tahu berapa uang di dalam kantong koinnya hasil dari bertempur bersama Magoichi!" Motonari histeris sambil tetap berbisik. Tsuruhime tentu sudah hilang dari pandangan mereka gegara keterlambatan Motonari dalam meladeni seorang gadis labil itu.
"Kan, dia hilang deh," keluh Runa. "Jadi... hanya kita berdua..."
Motonari geli mendengar nada suara Runa yang terakhir. Bayangkan suara Runa benar-benar seperti suara tikus kejepit jebakan tikus saking melengkingnya.
"Lagian awalnya kau hanya mengundangku kan? Mengapa harus khawatir?" jawab Motonari datar, membuat Runa mengadahkan wajahnya dan berubah menjadi merah semu.
"I—itu, itu..." bibir Runa gemetar dengan alisnya yang turun. Ia memejamkan matanya sambil berkata dalam hati, 'Uhh aku benar-benar gugup... Bisa mati aku karena jantungku berdetak cepat seperti ini.'
"Runa?"
"Ah Motonari-sama! Ada balon terbang hiu dengan wajah seperti Motochika!" seru Runa mengalihkan topik sambil menunjuk balon hiu yang terbang milik seorang pedagang keliling. Motonari pun penasaran dan menatap arah yang ditunjuk oleh poin telunjuk Runa.
"Mana miripnya, Runa..." Motonari seperti biasa mengucapkannya dengan nada datar. Runa cuma bisa cengegesan lalu berlari kecil menuju pedagang tersebut.
"Pak! Mau balonnya satu dong!" pinta Runa pada pedagang itu.
"Wah manis sekali. Kencan ya?" kata pedagang itu basa-basi sambil mengambil balon yang ditunjuk Runa.
"Ti—tidak kok! Cuma jalan-jalan bareng teman," Runa menunduk dengan wajahnya yang mulai merah. Pedagang itu hanya tertawa kecil.
"Ini non," tegur si pedagang sambil memberikan balonnya. Runa menerimanya dan bertanya.
"Berapa harganya?"
"Tidak perlu bayar non," jelas si pedagang hingga Runa langsung... mangap.
"Tapi."
"Beneran kok."
"Tidak boleh lah pak!" cegah Runa sambil celingak-celinguk dalam menunduk mencari kantong emasnya, dengan wajah kaku. 'Aduh tidak mungkin aku tidak membawa koin emas untuk sekarang ini.'
Motonari berdeham kecil, merasa waktunya terbuang sia-sia. Ia tarik tangannya dan merangkul Runa yang masih saja membacot dengan pedagang itu. Ia tarik dan sedikit mendongakkan kepalanya pada roller coaster.
"Aku selalu merasa sebal jika ada yang membuang waktu dengan dungunya," lirih Motonari kembali dingin seperti biasa. Runa yang tadinya sempat meronta-ronta memberontak, kini cuma bisa diam dengan menyesal.
"M—maaf..."
"Ya. Kumaafkan jika kita naik wahana disana bersama," Motonari menunjuk wahana 'roller coaster' dengan tetap terus merangkul.
"Oh?" Runa cuma bisa senyum kecut melihatnya.
"Aku ikutan juga dong."
Runa dan Motonari kaget dan langsung menengok asal suara tersebut.
"Motochika! Halo!" sapa Runa ramah.
"Aku mendengar rivalku sedang berkencan, hehe," kata Motochika yang kini mengenakan pakaian bajak laut merah putihnya. Orang hampir mengira aniki stress kurang asupan gizi ini lagi cosplay jadi Captain Hook.
"B—bukan kencan kok!" ralat Runa dengan wajah yang kini bertambah merah. Motonari sedari tadi masih terus menatap Motochika dalam, dan entah sejak kapan Motonari sudah melepas rangkulannya.
"Jadi, kau menikmati festival Tanabata tanpa rivalmu, eh?" tanya Motochika mengalihkan topik pada Motonari.
"Kau bukan orang yang selamanya penting," jawab Motonari judes. Latar halilintar menyambar terlihat menggambarkan hati Motochika.
"Ergh, b—biar begitu, aku juga mau menikmati festival Tanabata sekarang!" cetus Motochika. "Aku diajak juga ya?"
Motonari menatap Runa yang sedari tadi senyam senyum tidak jelas.
Astaga author lupa kasi tau, Runa mengidap penyakit 'maho lovers complex' alias fujoshi akut.
Mari kita lihat Runa secara fokus.
Oh! Di dalam matanya, menggambarkan Motochika dan Motonari ciuman! Buset dah...
"R—runa..." panggil Motonari hati-hati.
Semburan darah seperti selang mengalir keluar dari lubang hidung Runa setelah satu menit berlalu sejak Motonari memanggilnya.
"KYAAA~!" jerit Runa sebentar, lalu ambruk tewas dengan darah mengalir seperti air mancur.
Scene VI - Kau adalah Pengganggu! Runa!
Setelah sempat mengadopsi(?) Runa lebih dari 60 menit (baca: 1 jam) yang lalu, Runa kini siuman dengan masih mengenggam tali balonnya kuat. Owalah, owalah...
"Ngh, aku dimana?" lirih Runa yang tersadar dari tidur ngoroknya. Motonari memeriksa keningnya cukup lama.
"Yak pak! Sudah," sahut Motonari setelah 5 menit memegangi kening Runa dalam diam.
"Sudah apa?" tanya Runa bingung.
"Waktunya untuk..."
"ROLLER COASTER!" jerit Motochika yang tau-tau ternyata ada di sebelah Runa. Roller coaster yang mereka duduki mulai berjalan, dan dengan kecepatan 60 km/jam dia mulai menuruni rel yang curam. Bertambah dan terus bertambah, hingga kita bisa masukkan rumus percepatan (a) dengan... oke, author ndak boleh pamer fisika dulu.
"AAAA!" Motochika dan Runa berteriak bersamaan di dalam kereta, beda sama Motonari yang cuma diam seakan-akan udah ndak ngerasa lagi gregetnya.
Kita skip saja bagaimana aksi norak mereka disana.
"Chousokabe," ucap Motonari ketika mereka semua sudah turun dari kereta roller coaster. "Bisa berhenti mengikuti kami? Aku merasa risih dengan kehadiranmu."
"Kok kayaknya gak suka aku sih?" balas Motochika. "Kita kan rival?"
"Memang rival. Hanya untuk KALI ini saja, bisa kan menjauhiku?" tegas Motonari. Tatapan tajam sudah terlihat oleh sorot mata dingin si anak matahari ini. Runa yang berada di belakang mereka berdua pun merinding ketakutan.
'M-mereka berkelahi...' batin Runa.
"Tidak mau," tolak Motochika. "Ini pertama kalinya aku bersama rival tanpa mengacungkan senjata dan rasa ingin membunuh antar lawan."
"Chousokabe!"
"Biar aku saja yang pergi ya?" desis Runa pada Motonari.
"Aku tidak menyuruhmu menjauhiku."
Motochika menatap kedua insan yang secara kebetulan warna manik mata mereka sama.
"Oh! Ya! Kau bersama Tsuruhime saja di bianglala! Dia sendirian di bianglala loh!" seru Motochika langsung.
"CHOUSOKABE! CUKUP! AKU MUAK DENGANMU!" bentak Motonari tiba-tiba.
"Kenapa sih? Dia sendiri yang menawarkan diri menjauhi kita kan?" tepis Motochika.
"Bisakah untuk kali ini membaca situasi? Sungguh aku muak berhadapan denganmu."
"K-kalian jangan berkelahi..." Runa mencoba melerai kedua rival tersebut. Namun apa daya, Motonari dan Motochika kini saling adu bertatapan tajam. Hingga Motochika mengalah dengan cara memejamkan matanya sebentar, berdeham pelan, lalu ia melengok pada posisi Runa berdiri.
"COBA SAJA RUNA TIDAK ADA, KAU PASTI TAKKAN BEGINI KAN!?" bentaknya sambil menunjuk Runa sarkastik.
"Apa maksudmu?" Motonari spontan mengikuti ujung tunjuk Motochika, yaitu Runa. Motochika memutar bola matanya tanda jengkel.
"Kau itu pura-pura bego atau apa?" bilang Motochika pada Motonari. Motonari yang mendengarnya kembali menatap Motochika kesal, yang bahkan lebih dari biasanya. Runa yang mendengarkan percakapan mereka dengan baik menaikkan tangannya untuk melepas ikatan kendonya, hingga surai panjang coklatnya turun melambai-lambai.
"R-Runa?" heran Motonari yang melihat Runa langsung bersikap aneh sambil menunduk.
"Aku... sepertinya harus mencari Yura dulu. Makasih untuk memenuhi undanganku, Motonari-sama."
Runa mendongakkan wajahnya sedikit, dan nampak kedua bola mata Runa memerah tanda telah lama menangis. Ia langsung menarik kedua kipasnya ketika surai menutupi wajahnya layaknya sadako, lalu sosoknya lenyap dengan angin deras yang menerpa Motonari tiba-tiba seiring Runa memutar tubuhnya sambil berbisik, 'Fairy Mode: Fly'.
"Eh Ru-" Motonari mendongak dan menemukan sosok Runa yang terbang di udara.
"Na..."
Scene VII - Sasuke Bodoh!
"COBA SAJA RUNA TIDAK ADA, KAU PASTI TAKKAN BEGINI KAN!?"
Teriakan Motochika memenuhi pikiran Runa saat ini. Runa yang tengah duduk di sebuah dahan pohon yang agak tinggi, menyenderkan kepalanya sambil menatap festival Tanabata di hadapannya.
"Ah Motonari-sama, saya sangat minta maaf jika saya benar-benar menganggu."
Runa menatap kosong, lurus ke depan. Dimainkannya helaian rambut coklat tipisnya di tengah lamunannya. Mungkin dia sudah ketularan rasa depresi Oichi.
"Eh? Kau siapa?"
Runa pun terbangun dari lamunannya. Ditengoknya seseorang yang menegurnya dimana kini ia berdiri di samping ia duduk. Seseorang berambut jingga dengan wajah bercorak ala tentara, melirik Runa sambil berdiri melipat tangannya.
"Eh aku?"
"Iyalah siapa lagi!" ucap lelaki tersebut. "Tidak pernah kulihat orang lain bisa naik ke pohon selain aku, Kasuga, dan Kotarou."
"Aku tadi hanya berusaha manjat. Dan tidak bisa turun," alasan Runa.
"Coba lihat telapak tanganmu."
Runa spontan mematuhi perintah pria yang merupakan ninja dari klan Takeda. Pria tersebut melihat teliti kedua telapak tangan Runa.
"Bahkan telapak tanganmu tidak ada bekas lecet. Kau terbang?"
Runa menunduk enggan menjawab.
"Yah sudahlah jika tidak ingin menjawab," ucap Sasuke, nama dari pria tersebut. "Tapi dari mata sembabmu, kau punya masalah ya? Mau berbagi cerita?"
Runa menghela nafas pelan, kemudian memejamkan matanya sebentar. Ia membuka matanya, lalu mulai menggetarkan lehernya.
"Ceritanya aku menghancurkan hubungan orang lain. Gegara kehadiranku, orang lain berkelahi," ucap Runa langsung pada intinya.
"Ah situasi rumit rupanya."
"Iya."
Keheningan tercipta seketika.
"Hei, kau pernah merasa jatuh cinta pada seseorang?" tanya Runa.
"Pernah. Tapi ceritanya rumit hingga aku tidak bisa jelaskan."
"Menurutmu, mencintai seseorang itu salah ya?"
"Tergantung pihak orang lain. Kadang jika orang lain cemburu, itu berarti kau salah mencintai."
"Oh gitu."
"Tapi," lanjut Sasuke. "Itu antara kau atau pihak lain tersebut yang salah. Cara menentukan salah atau benar, hanya perlu melihat pihak yang dicintai tersebut. Dia suka kita, atau pihak lain. Jika dia suka kita dan menginginkan kita disampingnya, kita tidak salah dan justru pihak pencemburu yang salah. Mengerti kan maksudnya?"
"Jadi ketika kau suka aku, dan aku juga suka kamu, berarti aku tidak salah mencintai kamu. Gitu kan?"
"Yap. Dan saat kau mulai ingin lenyap dari kehidupan seseorang yang dimana orang itu juga menyukaimu, berarti kau salah. Kau sudah dicap sebagai orang yang mempermainkan keinginan orang."
"Eh maksudnya?"
"Yah. Misal saja kau suka aku, begitu juga aku. Kemudian kau kabur dariku demi agar aku bisa berpasangan dengan orang lain. Berarti kau yang salah, bukan si pihak ketiga tersebut," jelas Sasuke. "Masih belum mengerti?"
"...mengerti."
Runa memalingkan wajahnya, melirik pada hal lain. Pikirannya sekarang dipenuhi perasaan bersalah. Dia menyukai Motonari, dan ia juga berpikir Motonari menyukainya. Tapi ia tidak tahu bagaimana perasaan Motonari terhadap Motochika, apakah lebih besar cinta Motonari pada Runa atau justru Motochika?
'Berarti aku...'
"Jika kau yakin dia lebih menyukaimu, mengapa kau harus pura-pura tidak menyukainya sampai menangis diam-diam seperti ini?"
Perkataan blak-blakkan Sasuke langsung membuat Runa kepleset sampai hampir jatuh dari dahan pohon, jika saja bukan seseorang tengah menyelamatkannya.
Seseorang?
Ya. Terlihat Motonari menangkap Runa dari bawah dengan gesit. Runa yang digendong ala putri, langsung nge-blush.
"M-m-m-" lidah Runa kelu untuk mengucapkan sesuatu yang ia pikirkan sekarang. Motonari memicingkan matanya pada Runa, walau wajah Runa sempat terhalangi oleh surai coklat mudanya.
"Terima kasih informasinya, Sarutobi Sasuke," bilang Motonari. Sasuke yang ada di atas mengacungkan jempolnya pada Motonari.
"Pelayanan spesial pada daimyo musuh hanya saat festival ini dijalankan, okey?" kata Sasuke. Dengan jurus ninjanya, ia yang berdiri di atas dahan tempat Runa dan dirinya berdiri, menghilang dengan bulu gagak berjatuhan terkena gravitasi hingga menghujani Motonari di bawahnya.
"J-jadi Sasuke tadi-"
"Dia membantuku mencarimu," jelas Motonari datar. "Runa, aku ingin mengungkapkan sesuatu padamu."
Jantung Runa berdetak lebih cepat dari biasanya. Picuannya bahkan terdengar oleh gendang telinganya sendiri. Bagaimana tidak!? Kini daimyo idolanya akan mengucapkan sesuatu dengan sebelumnya meminta permisi. Mana sebelumnya Motonari pasti mendengar curhatan Runa bukan? Jika begitu pasti...
Scene VIII - Segan untuk Jujur
"Soal kata Chousokabe, tidak usah diambil hati ya," bilang Motonari.
GUBRAK!
Runa yang sudah teriak-teriak dalam hati mengandaikan Motonari akan segera menembaknya, seakan tertimpa oleh batu besar secara tiba-tiba. Hatinya yang berdebar-debar, kini ia rasakan seperti terbelah dua.
"Saya mengerti Motonari-sama," pikiran Runa saat ini sedang kacau-kacaunya. Baru saja nge-fly, eh jatuh lagi. Mana terbangnya Runa tinggi lagi. Jadilah ia merasa seluruh tulang punggungnya akan lepas buku-bukunya.
Motonari yang masih menggendong Runa, berjalan menuju sebuah pohon rindang besar. Ia menurunkan Runa dan menaungkannya di bawah pohon tersebut.
"Jadi, mana Motochika?" tanya Runa penasaran karena merasa sesuatu hilang.
"... Aku yang kabur dari dia."
"KENAPA!?" Runa reflek bertanya dengan suara lantang.
"SUDAH JELAS KAN? DEMI MENGEJARMU!?" teriak Motonari balik. "SAMPAI MENYURUH SASUKE, NINJA ANDALAN DAIMYO ORANG HANYA DEMI MENCARIMU!"
Emosi Motonari sudah mencapai level maksimal. Runa merinding ketakutan, lalu gidikan tubuhnya perlahan memudar seiring Runa menundukkan kepalanya.
"Pfftt ahaha..."
Runa mendongakkan kepalanya, tertawa lepas.
"Kau masih bisa tertawa ya?" tegur Motonari dingin. Runa menghentikan tawanya sambil menatap Motonari heran.
"Menangislah jika kau mau. Aku tidak merasa terbebani."
Senyuman Runa menyusut tergantikan muram. Matanya yang lebar tiba-tiba menyipit. Alisnya yang keduanya naik menjadi melengkuk. Bibirnya bergetar. Surai coklat mudanya kembali menutupi wajahnya layaknya gembel.
"Hiks... Motonari-sama, saya takut Motonari-sama... Saya sangat takut..." lirih Runa. "Saya ini, apakah diciptakan Tuhan untuk menghancurkan hubungan orang lain? Apakah aku anak yang ditakdirkan menjadi cobaan orang lain? Betapa menyebalkannya diriku..."
"Kau tidak seperti itu."
"Tentu aku seperti itu!" sebat Runa dengan suara yang mulai serak.
"Cih. Keras kepala sekali."
Motonari pun berjongkok, menyamakan tingginya dengan Runa. Runa yang masih menunduk sedih, dikagetkan oleh suatu regapan yang memeluk tubuhnya secara hangat. Motonari... memeluknya...
"Kau tahu Runa, apa amanat mendiang ibumu padaku bersama Hanbei? 'Rawat Runa baik-baik saat aku tiada'."
"Jadi Motonari-sama mengasihaniku?"
"Memegang teguh amanat saja. Tapi Hanbei saja sudah tiada sekarang."
Runa menunduk kecil.
"Mengapa aku terlahir menjadi orang yang menyusahkan orang?"
"Tidak ada satu manusia yang mau disusahkan jika bukan karena sesuatu. Layaknya seorang ibu yang merawat anaknya sampai dewasa. Ia hanya mengharapkan bisa berbuat yang terbaik untuk anaknya bukan?"
"Iya..."
"Baiklah Runa. Kau membuat aku harus mengatakan 'hal' ini," marah Motonari.
Cup!
Sesuatu yang basah dirasakan oleh bibir Runa. Betapa kagetnya Runa saat menyadari Motonari menciumnya walau hanya saling bersentuh bibir. Motonari menaikkan kepalanya, melepas peluknya.
"Kau tahu artinya kan?"
"Tidak sampai bercumbu ya?" harap Runa.
"Kau cukup dewasa untuk hal ini ya?" heran Motonari. Runa tertawa kecil.
"Motonari-sama baru pertama kali berhubungan ya?"
"Pertanyaan bodoh!"
Dari kejauhan, nampak sosok berpakaian ala bajak laut bertengger pada suatu pohon. Ia mengintip sedikit dengan gaya melipat kedua tangannya. Senyum kecut terpampang dari wajahnya.
...
"Yah kurasa pengganggu tidak bisa menganggu hubungan mereka lagi. Saatnya aku juga mencari pendamping hidup."
...
A/N (Nur): Moshi-moshi ketemu saya lagi hohoho. Ini membuat fanfic tanpa persetujuan author sebelah sebenarnya. Karena ini full screen Runa x Motonari, jadilah saya buat tanpa bilang-bilang. Sebenarnya mau aplod lama, cuma baru kesampaian sekarang.
Ceritanya saya mau buat sampulnya. Eh udah gak ada d-pen, scanneer ga punya, mau minjam hp kakak tapi lagi berantem. Sabar banget jadi saya ya? /slap
Saya tunggu buatanmu, nak! *todong piso ke author sebelah*
Review?
