Aku benar-benar mengharapkan sebuah cinta datang dalam hidupku
Namun aku tidak mau ada kepura-puraan
Maka cobalah jujur
Meskipun itu aib besarmu sekalipun
-oOo-
Vocaloid fanfiction © Crypton & Yamaha
Megane Badass
Pairing: Kagamine Len x Kagamine Rin
Genre(s): Romance, Humor, Friendship, etc (tergantung chapter selanjutnya)
Warning! Typo dan segala kesalahan ketika mengetik mungkin akan muncul. Mohon segera tekan tombol 'back' jika anda merasa hal tersebut menganggu mata anda.
-oOo-
Chapter II – Megane Truth!
Waktu menunjukkan pukul 19.34 dari layar ponsel bercasing perak berbentuk jam digital milikku. Berbagai makanan manis seperti pocky; wafer; dan lainnya, habis hanya tinggal berupa remah-remah kecil yang tertinggal kemasan saja di atas ranjang kamarku yang berukuran sedang. Padahal aku sudah makan malam tadi loh. Tapi entah kenapa perutku kini dalam mode karet.
"Len bodoh..." lirihku kecil. Aku duduk bersilang di atas ranjang memeluk guling erat. Menenggelamkan wajah sampai hidung, menghirup nafas seadanya yang kudapat.
Saat mengingat momen ketika dia melawanku sungguh membuat jantungku berderu tidak karuan. Kagamine Len yang culun dan gagap habis, menang melawan gadis berperangai kasar sepertiku. Mendapatkan perhatian secara paksa. Mencemarkan keperawananku. Kaito, mantanku saja tidak pernah menciumku karena takut bogemanku. Tapi dia... bias merebutnya begitu mudah.
"M—mau ditaruh kemana wajahku besok...," bisikku kecil. "Terutama jika Miku bahkan Gumi tahu. Ah tidak. Kaito."
"Rin! Jangan lupa sikat gigi sebelum tidur!" terdengar suara perintah wanita paruh baya berteriak nyring dari luar kamarku. "IYA IBU," sahutku nyaring dengan masih menenggelamkan wajahku pada guling.
"Iya iya saja. Lakukan sekarang!"
"Ah ibu sewot deh! Rin masih kenyang makan nih!" teriakku walau frekuensi nyaring pita suaraku terhambat sedikit karena wajahku yang kututup.
"Habis makan jajan lagi?"
Ketahuan.
"Nanti gigimu sakit lagi, Rin! Segera sikat gigi!"
Terpaksa aku bangkit dari ranjangku keluar kamar dengan gaya jalan malas setelah melempar guling yang kupeluk. Ia melayang dan mendarat pada ranjang seiring aku menutup pintu kamar keras.
-oOo-
"Helo Rin! Bagaimana ka—KYAAAA!" Miku yang tadi ingin menyapaku ramah di depan pintu, tiba-tiba ditarik ke dalam kelas oleh seseorang. Sosok lelaki berambut indigo seperti Miku menjambak salah satu twintail panjang Miku.
"Hai Rin. Bagaimana pagimu?" sapa pria yang sekelas denganku yang merupakan pelaku penganiayaan terhadap sahabat karibku saat kelas 1 SMA, dan sekarang masih kelas 1 SMA. Dia menyembunyikan seragam putihnya dengan memakai jaket tebal biru laut.
"Baik seperti biasa," jawabku manis.
"MIKUO! SAKIT!" jerit Miku yang berusaha merampas helaian rambut yang ditarik pria berperangai jail itu. Mikuo—yang merupakan sepupu Miku, tertawa jahil menanggapi. Ia masih tidak melepas genggaman tangannya untuk menarik helaian panjang rambut Miku dimana sang pemiiknya sudah beberapa kali berusaha menarik—melepasnya.
"Cuma ditarik kecil saja kok," balas Mikuo dengan wajah tidak bersalah.
"Kalian memang pasangan serasi ya?" celetukku. Segera Mikuo melepas tarikan dari rambut Miku dan nyaris membuat Miku salto akibat tidak bias mengstabilkan tarikannya ketika memberontak.
"Rin! Kalau bicara itu harus yang masuk akal dong!" marah Mikuo tiba-tiba. Aku langsung tertawa iseng.
"Kenapa marah? Kalau marah, berarti suka bukan?" hampir saja aku tertawa keras melihat tampang Mikuo seperti bocah yang tidak suka permennya dimalingin. Ketika aku mendengar ada sahutan yang berasal bukan punya dari kami bertiga.
"Err... boleh beri ruang agar saya b—bisa m—masuk?"
Suara yang sangat kukenal menggetarkan kedua gendang telingaku. Langsung saja aku melengok asal suara tersebut, dan mendapati Len yang berdiri dengan kepala menunduk sembari membawa tas ransel berbahan plastik putih. Dia berdiri dengan memegang kedua tali tasnya.
"Len..," lirihku kecil. Kagamine Len memalingkan wajahnya, enggan berani bertatap wajah denganku. Ia menatap sepatu Mikuo yang berupa kain berwarna merah merun.
"Oh maaf Len!" Mikuo memberi jalan agar Len dapat memasuki kelas setelah mengerti maksud Len menengoku kedua kakinya—alias sepatunya. Len hanya tersenyum sambil berdeham kecil, lalu berjalan memasuki kelas. Masih juga aku menatap tajam Len, sebal. Tidak sedikitpun aku menggerakkan kepalaku menghindari wajahnya.
Sebal lah jika masih mengingat Len itu munafik! Dia menyerangku kemarin tanpa sedikit pun rasa takut. Dan... dia seksi...
APA YANG BARUSAN AKU PIKIRKAAAAAAAANNNN?!
"Rin?"
"Eh?" aku tersadar dari lamunanku setelah Miku memanggil namaku kecil sembari menepuk pundakku pelan. Mikuo juga menatapku diam.
"Jangan bilang Rin suka sama Len..." bisik Miku setelah memastikan Len menjauh. Makna bisikannya membuatku terbelalak kaget dan langsung saja wajahku serasa panas seakan memerah tiba-tiba.
"A—Apa? Jangan bercanda ah! Mana mungkin aku begitu!" elakku.
"Ih Rin malu-malu. Tumben gadis kasar bisa malu-ma— AAKKKHH!" Mikuo menjerit mendapati aku menendang selangkangannya dengan lutut kananku yang aku majukan. Miku hanya bisa bilang 'ughh'sebagai ungkapan ekspresi yang bias ia beritahu setelah melihat adegan tersebut.
"Rasain."
Terdengar suara bel tanda pelajaran pagi akan dimulai. Aku menyepak Mikuo yang masih meringis kesakitan hingga dia terjatuh, namun tertahan oleh dada Miku. Kedua dada Miku yang besar. Miku yang wajahnya langsung memerah setelah mencerna suatu alat miliknya disentuh oleh orang yang bukan mahramnya (karena sepupu bellum tentu sedarah), langsung saja memberi tinjuan kuat sampai Mikuo tertabrak dinding.
Aku berjalan menuju bangku—cuek dengan kelakuan dua insan berumur 15 tahun tersebut, yang kebetulan dekat dengan meja culun kampret itu. Len melirikku ragu, dan aku membalas tatapan tajam padanya setelah tahu ia melirikku. Segera dia memalingkan wajahnya dan membuka ranselnya. Terlihat oleh kedua mataku suatu plastik bernuansa gelap telah berisi hingga berbentuk lebar. Isinya yaitu sepatu olahraga.
Olahraga...
Ah...
HARI INI KAN PELAJARAN OLAHRAGA?!
"AAAAAAAAAAAAAA!"
Semua anak-anak dalam kelas kaget termasuk Len saat mendengar aku berteriak. Miku yang telah selesai memberi pelajaran pada Mikuo langsung menghampiriku. "Ada apa?"
"Aku... Aku lupa Miku..."
"Seperti biasa pelupa. Dasar Rin. Lupa apa?"
"LUPA BAWA BAJU OLAHRAGAKU!"
Miku tertawa kecil. "Hayo loh nanti dihukum bu Akita Neru," Miku menakutiku.
"Mana mungkin! Beliau kan baik!" balasku menepis.
-oOo-
...
Kini seorang Kagamine Rin, mendapat hukuman dengan mencabut rumput liar di lapangan olahraga sekolah—tepatnya pinggir lapangan sepak bola berukuran 10 x 20 meter (mungkin?), yang bersemen sedang pinggirnya tidak. Nah, karena pinggirnya tidak disemen dan hanya tanah dengan rumput, maka inilah tugasku. Mencabut mereka sampai jam pelajaran selesai dimana aku diawasi bu Akita Neru—wanita paruh baya bersurai panjang kuning—dari kejauhan.
"Miku benar..." keluhku. Aku menyeka air keringat yang muncul dari pelipisku. Sendirian, aku mencabut rumput seperti petani, di depan kawan-kawanku yang saat ini sedang dalam pemanasan untuk berolahraga. Memalukan.
Seorang Kagamine Rin memang selalu menderita karena telah dipandang jelek oleh orang-orang. Aku memang menyebalkan, sampai-sampai dihukum tanpa toleransi panjang oleh para guru. Aku memang banyak musuh, dimana saat aku susah selalu ditertawakan. Aku kesal dengan mereka walau ada Miku sebagai pendingin.
"M—maaf R—Rin. B—bagi-bagi area y—ya?"
Reflek aku memberi jarak kakiku untuk bergeser menyamping menjauhi suara tersebut. Len menatapku kebingungan dari balik kacamatanya, memposisikan berdiri tegap menatapku.
"K—kau?! Kenapa kau ada disini!?" bentakku saat menyadari bahwa pria pencari masalah denganku, yang menegur saat aku melamun.
"A—Aku dihukum j—juga," ucapnya berbisik lalu berjongkok bergemetar, mulai mencabut rumput. Aku yang tadi berdiri menegang lalu ikut-ikut berjongkok jua.
"Dihukum? Kamu kan pake baju olahraga?"
"A—aku ti—tidak b—bawa sepatu o—olahraga," jawabnya.
"Aku melihat kamu bawa sepatunya kok. Asal aku teriak awalnya melihat sepatumu," balasku. Beneran! Aku kan melihat dia membawa sepatu olahraga hitam ke sekolah. Tapi saat kujenguk apa yang dia pakai, ternyata hanya sepatu sekolah putih polos.
"... di—digencet," ucapnya singkat.
"Apa? Cat?"
"Digencet..."
"Hah? Gak salah digencet? Ingat gak sih kelakuanmu kemarin sama aku? Kamu menyerangku tahu!" marahku mudeng dengan maksud ucapannya. "Ciuman pertamaku kamu rampas! Dan sekarang kamu ngaku-ngaku bilang digencet? Jangan sok lemah plis."
"A—Aku m—me—emang g—gak pura-pura!" bantah Len.
"Aku paling benci manusia ngotot yang udah jelas-jelas habis berbuat hal yang di ngototinnya tau!"
"Aku—aku akan b—buktikan. Ji—jika k—kamu ma—mau," kata Len. Aku menatap wajahnya yang masih fokus mencabuti tanaman. Aku terhenti dari kegiatan mencabut rumput yang senantiasa tumbuh terutama ketika musim hujan tiba.
"Pulang sekolah bareng maksudnya? Gak! Aku gak mau!" bantahku.
"Ji—jika h—hanya ing—in me—mendapat buk—bukti. Jika ti—tidak mau, ti—tidak apa-apa," balasnya masih dalam suara gagap namun ketus.
"Ngomong yang jelas dong! Gagap mulu."
Len semakin menundukkan wajahnya ke bawah, masih menekuni pekerjaan hukumannya. Terdengar suara dehaman dari dekat. Aku mengira Len yang berdeham, namun dia tidak sedikitpun membuka katup mulutnya. Terlihat wanita paruh baya bersurai kuning yang harusnya tadi membimbing anak-anak kelasku, berdiri sambil menyilangkan tangannya dari belakang punggungku. Aku yang melengoknya reflek menelan ludah.
"Asyik ya ngobrol bareng?" ucap bu Akita Neru.
Kami hanya bisa diam dalam keheningan tanpa ada satupun suara yang keluar akibat adrenalin yang belum terlalu kuat muncul.
-oOo-
Bel bunyi pulang sekolah pun berbunyi. Anak-anak dari masing-masing meja mereka segera membereskan perlengkapan belajar mereka ke dalam tas masing-masing. Miku dan Mikuo ngebut saling mengejar menuju keluar kelas, meninggalkanku. Entah mengapa. Padahal kemarin mereka tidak rebut seperti sekarang.
"Kasihan banget cantik-cantik udah berandalan, pacarnya culun lagi," salah satu anak buah Gumi lagi-lagi menggosip dengan (sengaja) bersuara nyaring hingga menggetarkan gendang telingaku. Aku hanya bisa menghela nafas pelan dengan tanggapan mereka, menganggap pendengaran yang kudengar memang seharusnya keluar.
"Sudahlah. Aku tidak mau mengurusi rivalku lagi," ketus Gumi yang sudah menatapku tajam dari kejauhan. Aku ikut menatapya sangar.
"Tidak mau mengurusi kenapa? Takut kalah dariku?" tantangku. Gumi membulatkan kedua mata jingganya sejenak, lalu tertawa kecil—mengejek.
"Hei semuanya. Kalian baru dengar apa yang dikatakan si kentut Kagamine Rin?" semua anak buah Gumi tertawa, bahkan ada yang tawanya kencang sampai anak-anak dalam kelas yang masih tinggal—termasuk Kagamine Len, menengoki tempat Gumi berdiri.
"Si kentut? A—apa?!"
"Kentut kan kuning," jelas Gumi. "Mirip dengan rambutmu kan?"
"Ngasi julukan tuh yang bagus dikit dong!"
"Hihi, marah langsung berarti memang mengakuinya," kata Gumi terakhiran. "Ayo semuanya, kita ke rumahku lagi daripada membuang-buang waktu dengan si calon culun kentut ini."
Bibirku bergetar ingin saja menyahut, jika dia tidak tertawa terbahak-bahak dengan sinis bersama gengnya hingga berteriak pun rasanya percuma. Dia takkan mendengar. Sebal. Sangat sebal.
Aku membereskan perlengkapan belajarku dengan gaya malas. Kuhela nafas pelan, bersuara kecil. Pria yang aku kenal alias si culun itu, mengelus pundakku pelan—seakan iba.
"S—Sabar ya Rin?" katanya kecil. Aku berbalik memandangnya langsung, memberi tatapan tajam kepadanya.
"Kenapa tidak menunjukkan sifat aslimu itu?! Jika kau tunjukkan, mereka pasti akan klepek-klepek termakan omongan sendiri lalu mengincarmu!" kataku kesal. Len menurunkan tangannya bergemetar.
"Rin... maaf ya..." ucapnya lirih.
"Aku gak perlu minta maaf! Aku ingin kau menunjukkan sifatmu yang sebenarnya! Sifat idaman para wanita!"
"...," Len berdiam menunduk. Tidak sedikitpun ia membuka mulutnya. Entah kenapa aku merasa bersalah telah mengucapkannya setelah melihat ekspresinya yang hanya bisa diam pasrah dibentak.
"... Err, maaf Len. Bukan begitu, cuma aku lagi emosi saja," kataku. Len mendongakkan wajahnya dan menatapku tersenyum.
"S—Sudahlah. Ka—katanya mau li—lihat aku bagaimana seandainya aku lepas ka—kacamata bu—kan?" Len melihatku mengangguk kecil, dan ia meyakini bahwa itu artinya aku ingin melihat bukti. Ia berjalan duluan keluar kelas, disusul olehku. Aku mengekorinya.
Kami berjalan di sepanjang distrik sampai melihat sebuah toko kue cukup ramai dengan balon juga badut dimana-mana. Seorang wanita bersurai kuning cerah menghampiri Len dengan secercah senyuman. Ia mengenakan pakaian ala maid berupa hitam putih kebanyakan.
"Bonjour, Len!" sapa gadis berparas manis tersebut. "Sudah siap?"
Len hanya membalas mengangguk kecil. Wanita tersebut menarik satu tangan Len masuk ke dalam kafe. Namun, tangan Len satunya juga menarikku untuk ikut masuk.
"Hei Len! Tumben membawa tamu dari anak kelasmu?" sapa salah satu gadis berambut ruby dengan twintail bergelombang. Len tertawa kecil.
"Janjiku untuk membawanya," kata Len yang saat kutengok, tanpa kusadari ia telah melepas kacamatanya.
"Cepat Len. Tamu-tamu gadis sudah menunggu di luar."
"Maukah kau menyediakan pakaian pekerjaannya kepadaku? Aku bisa memberimu pelayanan spesial setelah pekerjaan selesai, Kasane Teto," gadis berumuran dengan kami yang ia panggil Kasane Teto, nampak wajahnya kini memerah. Ia berdiri menurut, dan berlari menuju sebuah pintu ruang ganti pakaian. Aku yang baru menyadari tanganku masih ia genggam erat, langsung berusaha melepaskannya.
"Jadi mau buktikan apa? Kamu bisa membuat pegawai sini mematuhi perintahmu?" tanyaku.
"Lily, bisa jelaskan kondisiku pada gadis ini? Aku malas berbicara dengannya. Daritadi dia rewel."
"APA?!"
Gadis bersurai kuning yang tadi menjemput kami dari luar kafe, terlihat memegang kacamata Len yang butut. Ia tersenyum manis padaku lalu melirik Len.
"Sebelum itu, perkenalkan aku Lily," salamnya. "Aku anak pemilik toko kue ini."
"Kagamine Rin. Sekelas dengan Len. Salam kenal," balasku.
"Aku panggil Rin tidak apa-apa ya?"
"T-tidak masalah!" gadis di depanku ini terlalu manis. Sampai-sampai aku menghormatinya padahal baru saj bertemu dengannya. Ia mengangkat kacamata Len, menyodorknnya padaku. Aku langsung saja menerima tanpa menunggu ucapan yang keluar dari gadis yang katanya pemilik toko kue ini. Len hanya mengupil dari sebelahku, ikut mendengarkan.
"Kamu tahu alasan Len bersifat 180 derajat dari biasanya? Karena kacamata ini," katanya dengan masih menatap kacamata Len yang kini dalam genggamanku.
"Ada apa dengan kacamata ini?"
"Dahulu, kakak Len bekerja disini dan meminjam uang dengan kami sebanyak satu juta yen. Kami tentu terima karena di karyawan lama dan baik dengan kami. Namun dia malah kabur dengan hutang yang berlum dia lunasi. Jadilah Len yang kami sandera."
"Sandera? Semacam penculikan?"
"Lebih tepatnya pertukaran. Kami ambil Len, atau dia harus melunasi hutangnya," jawab Lily.
"Karena aku orangnya gagap, jadi mereka bilang 'tidak ada harapan dengan tenaga anak ini'," sambung Len tiba-tiba. "Mereka memanggil orang yang bisa membuatku percaya diri, dan hipnotis lah cara satu-satunya."
"Akhirnya dengan perjanjian selama Len masih ditangan kami, kami bebas memanipulasinya bagaimana," lanjut Lily. "Yaitu saat Len melepas kacamatanya, dia akan menjadi orang yang bisa menarik perhatian lawan jenis."
"Dan Lily lah yang bertugas mencabut dan memasang kacamataku. Kalau tidak, aku juga berpikir takkan mau memakai kacamata dan enak dengan kepribadian sekarang," sahut Len.
"Tunggu. Kalau tidur bagaimana?" tanyaku.
"Kan ada Lily. Jadi saat pagi dia akan memasang kacamataku," ucap Len enteng.
"Heee? Jadi gagap memaang pribadi asli? Sedangkan waktu 'itu' pribadi buatan?"
"Pribadi kapan, Len?" terlihat hawa gelap dari Lily, membuat kami berdua melangkah mundur cepat sebelum hal buruk menimpa kami.
"INI BAJUNYA!" teriak Teto sambil menyerahkan pakaian Len gembira.
"Terimakasih, Teto."
CHU!
Len mencium pipi Teto manja, menghasilkan hawa panas dari wajah Teto langsung.
"KYAAAA!"
Satu yang baru aku tahu dari Len...
"Terimakasih ya."
Dia...
"No worries, Len! Aku biarpun ga punya pacar tetap senang ketika kau menciumku. Makanya jangan pacaran ya?"
Mempunyai sisi lain...
"Tentu sayangku."
BERUPA KELINCI ALIAS PLAYBOY!
-Bersambung-
Kembali dengan chapter dua yang rencana publishnya Jumat malah kelar Rabu! Aku lagi semangat walaupun tugas sekolah mengerikan karena lagi mode mesum bayangin wajah Len nih. Jadi bayangin dalam lagu Spice! deh.
Ada yang rekues fanfic panjang ya? Maaf aku memang paling kuat sampai word 2k saja. Bisa panjang tapi berbulan-bulan. Hehe. Juga ada yang bilang A.S.A.P. itu maksudnya apaan ya? Maklum masih newbie. *mojok*
Semoga aku bisa terus update karena sebentar lagi UTS. Semoga nilaiku tinggi.
November 26, 2014
