Aku tidak mau sadar dengan perasaanku sendiri

Jika aku menyadarinya

Itu berarti aku mengagumimu selama ini

Kumohon, jangan buat aku terpesona denganmu

-oOo-

Vocaloid fanfiction © Crypton & Yamaha

Megane Badass

Pairing: Kagamine Len x Kagamine Rin

Genre(s): Romance, Humor, Friendship, etc (tergantung chapter selanjutnya)

Warning! Typo dan segala kesalahan ketika mengetik mungkin akan muncul. Mohon segera tekan tombol 'back' jika anda merasa hal tersebut menganggu mata anda.

-oOo-

Chapter III – Something Bothering

"Rin mau juga bekerja?"

Aku yang masih menatap datar sikap Len yang secara terang-terangan tengah mencium seorang gadis asing—yang tidak aku ketahui—di depan mataku, langsung melengokkan kepalaku pada sang gadis berpakaian maid yang tadi telah memberiku penjelasan akan sikap Len sebenarnya barusan. Dia menatapku dengan senyuman tipis, menunggu jawabanku secepat mungkin. Aku yang masih memegang kacamata Len, menggeleng lemah.

"Terlalu capek sebagai pelajar. Kalau tambah pekerjaan aku jadi makin capek," ujarku beralasan yang menurutku jawabanku ini sangat tidak manis terdengar. Ah sudah. Dari sana aku juga kurang pendidikan budi pekerti.

Sang lawan bicara langsung memaparkan wajah, 'oh-ya-aku-mengerti' dengan raut masam.

"Kalau melihatku bekerja? Lagian besok libur bukan?" sambung Len yang berusaha mendorong tubuh Teto agak menjauh darinya. Tunggu aku tidak salah lihat kan?

"Untuk apa melihatmu bekerja? Buang-buang waktu berhargaku saja," jawabku judes.

"Siapa tahu kau menyadari pesonaku," ujar Len narsis. Ia mengibaskan rambut honeyblondenya yang untuk ukuran rambut laki-laki termasuk panjang, memberi isyarat bahwa dia memang merasa dirinya ganteng. Jijik plis. Apalagi saat melihat Teto yang tiba-tiba blushing dengan mimisan hebat.

"KYAAA LEENNN! DAISUKI DAYOOOO!" Teto langsung pingsan di tempat. Aku, Lily, dan Len, hanya menatap tempat dimana Teto terbaring dengan wajah mesum. Oh my.

"Err Lily, bisa aku memasang kembali kacamatanya ini? Sifatnya yang sekarang ini menganggu pemandanganku," ucapku tanpa basa-basi.

"APA? AKU YANG DIJULUKI PANGERAN KAFE INI DIBILANG MENJIJIKKAN?!" Len protes.

"Kau tahu? Bahkan teman-teman sekelas yang telah lama menyadari sifatmu sejak kelas 1 SMA pasti akan jijik dengan sifatmu sekarang ini," balasku jengkel.

"Hoo, jadi menantang?" ucap Len tak kalah jengkel.

"Menantang? Tidak. Aku hanya melaporkan bukti."

"Kau pasti beranggapan bahwa teman-teman kita tidak suka aku, begitu?"

"Tuh tahu."

"Tahu kalau anak perdana menteri Jepang sekarang yang cewek mimisan menyadari ke-glamour an aku saat berpapasan di Tokyo dulu?"

"Gak usah ngarang juga."

"APAAA?" emosi Len kurasakan memuncak menjadi lebih panas ketika berdebat denganku. Heh. Dia tidak tahu apa aku biarpun cewek tapi selalu juara satu dalam hal berdebat apa?

"Sudah! Len, kembali bekerja!" perintah Lily. Len yang dengan masih memasang tampang kesal kuadrat, menatapku menantang. Aku membalas jua dengan menatapnya sangar. Lily yang melihat kedua wajah kami saling beradu tatapan laksana petir keluar dari kedua mata kami, hanya bisa diam dengan helaan nafas kecil dan menegur anak buahnya setelah itu.

"Len."

"Aku tahu!" Len mendengus kecil kemudian berbalik keluar dari ruang pegawai yang biasa digunakan untuk istirahat—terlihat dari beberapa cangkir kosong dan piring-piring kue dalam kondisi kotor belepotan sesuatu yang familiar aku tahu setiap kali mengunjungi sebuah kafe—dari atas meja yang tidak jauh dari lokasi aku berdiri.

"Maafkan Len ya?" ucap gadis dengan umur seperantaraan aku. Gadis bersurai kuning itu menatap laluan Len berjalan—dimana akhirnya sosok pria menyeballkan tersebut menghilang dari pandangan kami.

"Dia suka sekali mencari gara-gara, makanya aku tidak suka mulutnya. Pedas sekali," balasku. "Padahal jika pribadi biasa dia, mungkin tidak banyak omong seperti tadi."

"Yah tipe orang pendiam bukan berarti tidak bisa melawan. Mungkin dari depan dia tidak cerewet, tapi belum tentu hatinya juga diam."

"Begitu ya? Mungkin dia juga selama ini ingin sekali melawan, tapi terhalang sifat pengecutnya."

"Kasar sekali mengatakannya," Lily tertawa geli. "Eh hei, kau benar-benar tidak ingin melihat Len bekerja sekilas?"

"Untuk apa? Dia bukan siapa-siapa aku kecuali teman sekelas," sahutku.

"Mungkin cinta antara kalian berdua belum terlihat terjalin ya?"

"Ta—tadi bicara apa?"

"Oh tidak apa-apa. Pulanglah, waktu sudah sore. Nanti dicari sama orang tua loh."

"B—baiklah," walaupun tidak yakin untuk meng-iyakan ucapannya, tapi mending aku lakukan saja. Tidak ada yang bisa aku lakukan juga disini, dan lagian di rumah banyak sekali pekerjaanku. Pekerjaan untuk memakan semu jatah cemilan milik orang rumah. Hahahahaha.

-oOo-

Esoknya beruntung sekali hari sedang dalam masa cerah. Matahari fajar menyingsing, membangunkanku yang sedang dalam masa tidur dengan mimpi indah. Yah sangat menyebalkan. Lagi enak-enakan mimpi hujan jeruk malah terbangun akibat salah seorang keluargaku membuka tirai kamarku diam-diam hingga cahaya matahari masuk. Biasanya aku bangun jam 7 pagi saat liburan, hari ini aku harus bangun jam 6 lewat 15 menit.

"M... malasnya...hoaammmm..." aku menguap lebar dengan masih memposisikan diri berbaring di atas ranjang miring kanan, memeluk guling kuning berbahan kain flanel dengan di atas adalah wajah salah satu tokoh kartun favoritku—Winnie the Pooh. Mataku hanya terbuka setengah, menatap lurus jendela terbuka yang kebetulan berhadapan.

Pip!

Terdengar suara ringtone tanda sms masuk dari ponselku. Aku mengerjap-ngerjap melihat isi pesan setelah mendapatkan ponselku yang kusimpan dari balik bantal putihku. Terlihat pesan dari Hatsune Miku.

'Rin! Mau berenang gak hari ini?'

Aku pun membalas cepat.

'Gak ah. Malas bergerak.'

Beberapa menit kemudian, datang lagi balasannya.

'Kalau jalan-jalan ke taman? Aku dan Mikuo mau jalan-jalan tapi bingung mau kemana. Gak enak berduaan. Ayolah. Kau kan kawan baik aku kan?'

Miku... kau berani bicara seperti itu setelah beberapa kali mengejekku bahkan kabur saat aku mempunyai masalah. Dan sekarang bicara begitu? Ingin saja aku ngomel super pedas jika saja aku tidak ingat dia sahabat baik aku.

'Iya deh iya. Ke taman mana?'

'Aku nanti kasih tahu deh. Intinya, keluar sekarang setelah mandi harum-harum ya!'

'Eh? Kau dimana?'

'Aku dan Mikuo di halaman rumahmu.'

Langsung aku bangkit dari ranjang dan membuka kaca jendela. Benar saja. Miku dan Mikuo melambai padaku serempak dari bawah.

"Cepat mandi, bau!" ucap Mikuo lantang.

-oOo-

"Kalian ini, coba kalau berkunjung kudu nelpon dulu kek," ucapku ngomel. Miku dan Mikuo serempak nyengir.

"Hari ini adalah ulang tahun aku, Rin," ucap Miku. Ia seperti biasa berpenampilan dengan kedua rambut panjangnya yang diikat twintail, lalu memakai rompi belang hitam biru malam panjang sampai menutupi pinggulnya menutupi kaos oblong putih—juga rok lipit merah yang hanya sampai atas lutut. Tidak lupa ia memakai tas selempang kecil dengan wajah anak anjing chihuahua merah jambu, tas kesayangannya yang wajib ia bawa setiap berjalan (aku tahu itu karena aku sering berjalan bareng dia). Ia sepertinya sudah biasa untuk menggunakan high heels saat jalan-jalan.

"Ulang tahunmu tanggal 30 Agustus kan Miku?" ralatku. Beda dengan Miku yang dengan style feminim, aku mengenakan pakaian dengan style sport. Aku memakai kaos hitam belang putih berlengan panjang, lalu celana jeans pendek selutut coklat pudar. Untuk menutupi kedua kakiku—yang kurasa saat ditampakkan kedua kakiku terasa dingin terkena angin, aku mengenakan kaos kaki panjang selutut putih polos lalu mengenakan sepatu sport kuning yang biasa kugunakan saat sekolah. Namun aku memakai bando putih dengan kedu pita mencuat ke atas untuk menandakan aku cewek.

"Hihi, ketahuan deh," celetuk Mikuo yang sedang mencuri-curi pendengaran dari percakapan kami. Dia hanya mengenakan jaket biru malam berbahan katun—tertutup, lalu celana jeans biru pudar dan sepatu sport hitam. Kebiasaan cowok ini suka sekali berpenampilan dengan bahan-bahan bernuansa gelap.

"Yah, hahaha, minta temenin aja sih," ucap Miku terakhir.

"Bicara yang jujur gapapa kok. Kita kan sahabat?"

Miku tampak kelihatan kebingungan. Ia menatap Mikuo—berharap dapat bantuan, dan Mikuo membalas pandangannya dengan kedua alisnya bertekuk turun.

"Err ya gini Rin," Miku mulai angkat bicara walau masih melirik Mikuo. Aku ingin saja mendengar sebelum aku melihat sekilas sosok pria yang sangat aku kenal, ingin berpapasan dengan kami di trotoar menuju taman.

"K—Kaito..." lirihku. Miku langsung jua menatap sosok yang aku pandang fokus sedari tadi, lalu ikut mengejang sepertiku. Pria bersurai biru tua bermanik biru jua membesarkan kedua matanya tanda kaget. Ia berpakaian dengan jaket peach dengan buludru jua bercelana jeans biru malam. Untuk apa memakai jaket saat hari secerah dan sepanas ini?

"Kaito! Hai bro! Sudah lama tidak melihatmu," sapa Mikuo yang tidak mengerti dengan situasi kami bertiga sekarang. "Sudah 3 hari ini kau tidak kelihatan." Kaito yang tadinya hanya fokus menatapku, kini berganti menatap Mikuo.

"Seperti biasa, pekerjaanku sebagai penyanyi menyita waktuku, dan apakah kangen sama aku?" ucap Kaito lembut. Ah sisi ini yang aku suka dari pria ini, sebelum kenyataan pahit aku lihat dengan kedua mataku sendiri sekitar tiga bulan yang lalu.

"Halo Kaito," sapa Miku ikut-ikutan.

"Miku, Mikuo, kalian berdua bisa tinggalkan aku dan Rin berdua?" mohon Kaito tiba-tiba, membuatku semakin mengejang. Tubuhku terasa panas seakan kesemutan. Aku berharap Miku menolaknya, namun Mikuo segera menarik tangan Miku menjauhi lokasi kami berdua berdiri.

"Kami tinggal dulu ya!" Mikuo menarik Miku sambil berlari. "Kami tunggu di taman ya Rin!"

Aku dan Kaito saling pandang setelah meyakini mereka yang jua merupakan teman sekelas kami berdua menjauh.

"Rin, boleh aku bertanya?" mulai Kaito.

"Aku tidak mau lagi bicara denganmu setelah aku tahu kamu buaya, Kaito..."

"Rin! Waktu itu tidak seperti yang kau bayangkan! Percayalah Rin!"

"Aku gak mau dengar alasan lain lagi, Kaito."

"Rin, kumohon beri aku waktu untuk menjelaskan—"

"MENJELASKAN APA, KAITO? KAU TAHU BETAPA SAKIT HATINYA AKU SEWAKTU AKU MELIHATMU BERSAMA—khhh..." pita suaraku mulai bergetar kacau tanda serak, menandakan aku mulai ingin menangis.

"Rin! Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Luka! Percayalah!"

"Tidak—hiks! Karenamu, aku jadi gadis berperangai kasar. Sekarang aku jadi tidak mau mempercayai orang! Hiks!"

Kaito hanya tersenyum kecut menatapku menangis. Wajahku sungguh terlihat kacau sekarang.

"Aku gak mau jatuh cinta lagi. Aku gak mau dibohongin. Hiks!"

"Rin..." Kaito langsung menangkap tangan kananku yang saat itu otot motorik bekerja demi menyeka air mataku yang berjatuhan. "Aku akan lakukan apapun agar kamu kembali percaya sama aku. Aku janji. Seperti isi bait lagu yang kubuat saat debut pertama ketika kita masih SMP, Rin. Tolong mengertilah."

"Tidak..."

"RIN! BERAPA KALI AKU HARUS MEMINTAMU AGAR KAMU MAU MENDENGARKAN AKU?"

PAKK!

Seseorang dengan mengenakan jaket putih bercelana jeans abu-abu pucat—memisahkan kedua tangan kami kasar, dan ia menarikku menjauhi Kaito dengan berlari. Sosok lelaki dengan tinggi nyaris sama (dia lebih tinggi 1 cm dariku) dengan surai honeyblonde. Aku tahu siapa dia.

"L... Len...?"

Sosok tersebut berhenti dengan kemungkinan merasa telah cukup jauh dengan lokasi saat Kaito dan aku berduaan. Ia berpaling, langsung melengokku dengan menyipitkan kedua matanya menampakkan kedua manik sapphirenya tanpa terhalang kacamata kali ini.

"Lelaki bajingan! Beraninya membuat cewek menangis di depannya!" maki Len.

"Dia... mantanku..."

"H—hah?"

"Kaito. Dia Kaito."

"K—KAITO?!"

Dia langsung terduduk lemas di atas trotoar.

"Maaf. Aku kira dia menyakitimu. Ternyata..." Len membuang wajahnya dariku saking malu. Aku tertawa kecil menanggapi tingkah Len yang menurutku sangat lucu terlihat.

"Hihi Len lucu juga rupanya. Sok jadi super hero," ucapku geli.

"Jangan tertawa!" ketusnya. Ia kaget saat melihat wajahku yang kini bukan dalam bentuk beringas dengan kening mengkerut setiap bertemu dengannya, namun kini tersenyum lembut layaknya gadis yang sedang berada di tengah padang bunga bermekaran.

"Terima kasih Len. Kamu begitu hebat sekali mengetahui aku ingin menjauh darinya," ucapku lembut. Len yang tadinya terpana, langsung melancarkan beberapa kalimat kepadaku.

"Menangis lah. Jika kau ingin, ceritakan padaku masalahmu. Aku akan membantumu," katanya. Aku membelalakkan mataku kaget dengan apa yang barusan ia ucapkan. Ia mengangguk pelan dengan sunggingan senyuman walau aku masih memaparkan wajah tidak yakin dengan ucapannya—masih dalam posisi duduk. Akhirnya aku mendekatinya dan ikutan duduk di sebelahnya.

"Jika ingin mendengar apa hubunganku dengannya, ya kami dulu pacaran dari kelas 2 SMP. Bersyukur kami sekelas dan diam-diam kami saling menyukai walau tidak sadar satu sama lain," mulaiku.

"Jadi kalian dahullu sempat pacaran ya?" aku hanya membalas mengangguk.

"Kaito berusaha belajar bermain gitar agar bisa memikat hatiku saat itu, dan seseorang yang kalian tahu adalah pencari bakat—menemukan dia dan menawari pekerjaan sebagai penyanyi, saat sadar suara Kaito begitu merdu. Kaito tentu menerimanya demi bisa memikat hatiku, dan dia menyanyikan sebuah lagu saat pertama kali ia tampil di atas panggung dalam siaran televisi terkenal. Aku menangis saat menyadarinya. Esoknya saat kami berdua sekolah, dia menembakku setelah sebelumnya menanyakan apa perasaan dia tersampaikan. Kami pun akhirnya pacaran," jelasku.

"Lalu?"

"Tiga tahun kami lalui tanpa sekalipun putus sebab tiada sengketa antara kami," ucapku. Aku memeluk kedua lututku, menampakkan raut wajah sedih. "Setelah adanya Luka, murid pindahan dari sekolah unggul, Kaito sudah terlihat aneh. Akhirnya aku memergoki mereka berdua berciuman dalam kelas, dan hatiku saat itu sangat sakit. Begitu sesak menyadari orang yang kusukai ternyata bermain dari belakangku."

Aku melengok Len dengan persiapan memasang raut wajah seakan aku baik-baik saja dengan peristiwa yang barusan aku ceritakan. Len menatapku iba, membuat hatiku serasa berat untuk berbohong. Akhirnya aku mulai terisak dengan menyipitkan kedua mataku, dan ia sudah siap menyodorkan kedua tangannya memberi tumpangan untuk memeluk.

Seakan tertarik, aku segera mendekatkan tubuhku dan ia meregapku. Rasanya begitu hangat dan nyaman. Aku terisak keras saat ia mengelus punggungku lembut.

"Jarang sekali ada yang mau menceritakan kisah pilunya secara langsung padaku. Rasanya dipercaya sebagai wadah curhat itu menyenangkan juga ya?" ucap Len.

"B—bodoh... kau kebetulan saja ada sewaktu aku perlu Miku, hiks!"

"Lanjut saja menangisnya. Jika tidak ada Miku, aku akan ada disampingmu."

"Tapi aku ada dua permintaan."

"Apa?"

"Satu, jangan beritahu soal ini pada siapapun apalagi saat aku bercerita sambil menangis. Dua," aku sengaja memberi waktu panjang diam untuk mengetahui reaksi Len apakah ia penasaran atau tidak.

"Dan?"

"Temani aku melihat apa yang dilakukan Miku dan Mikuo di taman berduaan."

-oOo-

Aku dan Len mengendap-ngendap bersembunyi dari balik semak-semak yang kebetulan dekat dengan kursi panjang taman dimana Mikuo dan Miku berduaan. Tepatnya di belakang mereka. Jadi kami hanya bisa mendengar suara mereka berdua.

"Mikuo, Rin lama ya?" keluh Miku.

"Paling juga jalan-jalan bareng Kaito. Sudah dihubungi?"

"Oh iya ya dihubungi! Kenapa tidak terpikirkan olehku?"

"Tidak usah. Biarkan kali ini kita berdua saja menikmati liburan minggu."

"Eh?"

"Apakah Mikuo akan menembak Miku?" Len tiba-tiba jadi pembawa acara dadakan walau masih dalam berbisik. Aku menutup mulutnya segera sambil mendesis.

Syukur saja suasana taman sedang ramai oleh suara tawa anak-anak yang keasyikan bermain. Habisla aku jika kami ketahuan memergoki mereka diam-diam.

"Miku, sebenarnya walau kita sepupu jauh, tapi sudah lama aku suka sama kamu."

"A—apa? Suka? Jangan canda ah Mikuo."

"Aku mau bilang bagaimana lagi biar kelihatan serius?"

Nyaris aku bakal ketawa cekikikan, jika saja Len tidak memberi tatapan sangar untuk diam padaku.

"Err, sama sih. Aku juga suka. Cuma..."

"Cuma? Apa? Takut pacaran karena takut diejek Rin?"

"Gak kok. Aku kira kamu lagi main Truth or Dare bareng siapa gitu buat mendapatkan aku. Kan dulu pernah gitu."

"Maafkan aku yah. Aku salah waktu itu tidak jujur."

"Tidak jujur? Berarti..."

"Saat itu aku serius mengatakannya. Maaf membuatmu sempat menangis saat itu."

"Bodoh! Kalau kau tidak bohong, kita sudah pacaran sejak lama."

"Jadi kita pacaran sekarang aja. Miku begitu manis hari ini, dan aku tidak tahan dengan perasaanku untuk memilikimu."

"M—makasih. Jadi kita pacaran seandainya aku terima kan?"

"Tentu."

Aku nyaris ketawa ngakak mendengar obrolan mereka yang rada polos. Begitu dengan Len. Wajahnya sudah terlihat norak sekali saat menahan tawa gelinya.

"Kita kencan yuk? Tapi sehabis menghajar dua penguntit di belakang kita ini," Mikuo terlihat sudah berdiri di depan kami dengan mengacak pinggang kedua tangannya. Aku dan Len memaparkan wajah kecut. Miku yang di sebelah Mikuo menggembungkan kedua pipinya marah.

"RIIIIIIINNNNNNNNN! LEEEEEEEENNNNNNNN!"

"KABUUUUUUURRRRRRRRR!"

-Bersambung-

Chapter ketiga rada gak seru ya? Tapi mau gak mau nulis ginian dulu biar jelas ceritanya. Hiks, tahan mimisan deh. Btw makasih yang sudah menjelaskan ASAP itu apaan. Jadinya untuk chapter 3 selesainya dalam 4 jam doang yey!

Untuk chapter 2 ada keralatan sewaktu bilang 1 SMA. Seharusnya setting sekarang sudah kelas 2 SMA. Maklum lagi stress huhu.

Mind to Review?

November 29, 2014