Serasa keberadaanku hanya menjadi sengketa antar kedua pihak

Apakah aku masih pantas berada di atas bumi?

Apa yang harus kulakukan?

-oOo-

Vocaloid fanfiction © Crypton & Yamaha

Megane Badass

Pairing: Kagamine Len x Kagamine Rin

Genre(s): Romance, Humor, Friendship, etc (tergantung chapter selanjutnya)

Warning! Typo dan segala kesalahan ketika mengetik mungkin akan muncul. Mohon segera tekan tombol 'back' jika anda merasa hal tersebut menganggu mata anda.

-oOo-

Chapter IV – Feeling Afraid

"Oh ah, Len tidak pakai kacamata?" gadis bersurai indigo twintail berkepang dua ini baru menyadari suatu kejanggalan terdapat pada kawan seangkatannya—bahkan sekelas. Len nyengir kecut sembari melengokku, berharap aku yang merupakan sahabat Miku ini bisa menjelaskan nasib absurdnya. Dari paparan wajahnya aku sudah bisa menebak ia tak mungkin bisa berpura-pura menjadi dirinya yang biasa diperlihatkannya bebas dalam kelas.

"Ehm yah, dia lupa memakai kacamata. Terus kami berpapasan. Yah gitu," jawabku ragu.

"Emhhh...," itulah reaksi Miku setelah aku menjawab pertanyaannya dimana saking gugup sampai nyaris berkeringat. Singkatnya...

"Owh gitu ya. Tapi Rin, Len, kalian jangan lagi menjadi penguntit!" bilang Mikuo. "Dan sebagai bayaran karena menguntit, kalian harus traktir kami makan di suatu warung makan."

Eh apa? Traktir makan? Yang baru jadian siapa? Yang harus bayar PJ (Pajak Jadian) —entah tuh hukum kapan berlakunya dalam kelas kami—siapa? Ni cowok minta digorok apa?

"Loh bukannya yang baru pacaran kalian? Peresmiannya dong!" Len langsung nyembur protes. Bicaranya yang super duper lancar dari terakhir kali kami bertiga bersapaan dengan Len, langsung memberikan reaksi yang sangat aku duga. Ya. Mikuo mangap, sedangkan Miku memegang jidat Len—memeriksa Len ini cowok apa punya kelainan atau tidak. Mampus lah aku kalau ketahuan selama ini aku tahu rahasianya.

"Len, kamu ganteng ya kalau tidak pakai kacamata?"

Aku menghela nafas lega. Setidaknya dia dahulu yang membicarakan topik lepas dari permasalahan jiwa raga Len berubah.

"Tentu my lady. Jika kamu ingin lebih, aku bisa memberikannya," Len kembali mengeluarkan jiwa yang berpengalaman untuk menggombal saat dipandang gadis yang terpesona akan dirinya. Miku tiba-tiba mimisan.

"KYAAA LEN!" Miku berteriak histeris. "Kau masih jomblo kan? Kalau iya a—"

Mikuo tahu ini dalam situasi darurat dimana rasa cemburu dirinya yang besar akibat dikalahkan Len juga Miku yang mulai tidak terkendali fansgirling, saling bertabrakan. Segera ia menarik tubuh Miku dengan cara memeluk kedua pinggang Miku sebelum Miku ngerocos lebih, lalu menyembunyikannya ke belakang punggung lebar pria berperagai easy-going yang terkadang bisa saja serius.

"Len! Kamu gila ya. Bukannya kamu baru lihat kami berdua barusan jadian?" marah Mikuo. Len langsung senyum kecut.

"Err, ke—kelepasan," Len menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Eh bentar dulu! Mikuo, tolong dengarkan aku!" aku ingin menengahi sebelum adegan jotos-jotosan sampai cakar-cakaran akan dimulai. Miku masih menatap Len dari belakang punggung Mikuo dengan wajah memerah tanda terpesona.

Jika jurus Len dapat memengaruhi kaum hawa sampai seperti dua hawa yang aku kenal—Miku dan Teto, kenapa aku tidak sedikitpun tergoyah untuk setidaknya terpesona saja?

'Sebaiknya aku akan bertanya pada Len ketika ada waktu berduaan nanti,' pikirku.

"Baik aku tunggu karena aku masih menganggap Len sebagai kawan," ujar Mikuo. Len mungkin sekarang bisa bernafas lega karena sekarang ia tidak perlu membuang hasil gajinya demi perawatan wajah. Jika pikiran nistaku berbicara.

"Begini, kalian berdua harus percaya ini," mulaiku. "Ini benar-benar ya. Aku tidak berbohong untuk menjelaskan ini."

"Jelaskan saja Rin!" bentak Mikuo.

"E—i—iya. Ya gini, Len itu punya kelainan."

"KELAINAN?" Miku dan Mikuo berbarengan berteriak. Len langsung melancarkan tatapan marah, dan kubalas dengan cengegesan kecil.

"Maksudnya gini. Len itu punya dua kepribadian. Err yah sebenarnya satu hanya saja ditambah satu lagi jadi dua—"

"NGOMONG YANG JELAS AH!" kesabaran Mikuo sudah habis. Tumben pria yang selalu ceria ini tiba-tiba jadi temperamental.

"Intinya Len kalau tidak pakai kacamata dia jadi playboy! Sifat gagapnya hilang! Dia jadi serba mempermainkan cewek sampai cewek klepek-klepek—walau aku gak! Dia pokoknya jadi cowok idaman wanita!" ucapku langsung. Mikuo dan Miku berkoor ria. "Ohhhh..."

"Pantas dia gak pake kacamata dan sifatnya berkelainan. Untung aku tidak sempat menghajarmu habis-habisan, Len," Len hanya bisa menanggapi dengan cengiran kecil.

"Rin gak bisa dirayu dia? Hebat!" Miku mengacungkan jempolnya ke atas. "Mungkin karena sifat kasarmu yang jarang dimiliki manusia, bahkan presiden Bush saja kalah kejam denganmu."

Entah aku harus berterimakasih atau tersinggung dengan kalimat blak-blakkannya. Disaat aku sedang diam heran menatap Miku, terasa kedua tangan memeluk leherku erat. Panas.

"Makanya aku jadi ingin merayu gadis ini. Jika dia bisa kutaklukkan, predikatku sebagai pangeran yang bisa menjatuhkan semua wanita dalam pelukan ada digenggamanku."

Wajah Len terlihat dekat. Ia mendekati batang hidungnya dari samping pipi kananku, dan menabrakkan keduanya menjadi dekat. Ia menghirup nafas saat aku sudah merasa batang hidungnya yang berminyak sedikit itu.

Sniff! Sniff!

PLAAAKKKKKK!

"Ayo kita pergi ke suatu kafe. Aku tahu kafe mana yang enak," aku mendorong kedua punggung Miku dan Mikuo ke depan, meninggalkan Len yang terbaring ke tanah secara tewas.

-oOo-

Miku dan Mikuo saling bergandengan tangan dari depanku. Miku merebahkan kepalanya pada pundak Mikuo manja, dengan sesekali mereka saling bercanda bersama. Mesranya. Beda dengan aku yang ada di belakang mereka berdua. Sendirian tanpa siapapun yang bisa aku manjakan. Hanya ada si pangeran gombal Len tanpa kacamata di sampingku. Sang pria yang diam-diam rupanya sedang ingin meraih predikat pangeran apalah itu hanya mengangkat kedua tangannya dan menjadikannya sebagai landasan belakang kepalanya untuk baring. Sesekali terdengar siuan kecil dari bibir yang ia majukan.

Tuhan, inikah keadilan?

"Hei kita kemana nih? Katanya Rin tahu dimana kafe yang enak?" tanya Mikuo. Aku terbangun dari renungan naasku, mendongak menatap wajah Mikuo yang berbalik ke belakang—kebetulan ia lebih tinggi 10 cm dariku.

"Ehmm sebenarnya aku juga tidak tahu sih," jawabku. Miku mencibir tidak senang.

"Ah Rin nih... gak seru!" cibir Miku. "Gak feminim sih, kerjanya malak orang mulu."

"Ya aku tahu aku ini tidak ada selera cewek. Puas?"

"Walau tidak ada selera cewek, tapi itu yang aku suka dari Rin."

"Len, jangan merayuku lagi ah!" marahku. Aku berbalik dan terkejutnya aku saat melihat sosok pria berambut biru tua dengan postur tubuh tinggi nan sempurna dengan masih memakai jaket peach buludru, membekap mulut Len erat. Len mengerang berusaha melepas diri, namun ia tidak bisa melepas diri.

"K—Kaito? Kau kenapa ada disini?" spontan aku mulai membuka suara. Kaito menatapku tajam sebagaimana pancaran marah orang yang cemburu pada awalnya saat memergoki pacarnya berduaan dengan yang bukan mahramnya. Tapi aku kan bukan lagi pacarnya!

"Aku tadi sengaja mengikutimu diam-diam. Aku membiarkan Len menarikmu tanpa cegahan," ucapnya jujur. "Aku mendengar semuanya. Saat kau curhat dengan si pria playboy ini, sampai fakta tentang kemampuannya yang lain saat kacamatanya dilepas."

"Kaito...," lirih Miku.

"Hng?"

"...kau maho?"

Kaito menatap tajam Miku. Sangat sangar. Miku ketakutan dan reflek bersembunyi di balik punggung Mikuo, lalu mencengkeram jaket biru malam Mikuo seperti bocah yang takut saat melihat orang asing menyapanya.

"Seperti yang kau ucap Rin, aku tidak melakukan sikap aneh terhadap Luka!" Kaito ngotot. "Kau bilang sakit hati saat aku terlihat ciuman bukan? Biar aku jelaskan kalau aku belum sama sekali berciuman!"

"Aku gak mau dengar darimu!" pekikku. "Aku sudah tidak mau percaya ucapanmu! Aku gak mau secara gamblang percaya lagi denganmu!"

Len meregap kedua tangan Kaito yang memeluknya, dan langsung ia regangkan kedua regapan tangan Kaito untuk memberi ruang agar kepalanya bisa lolos.

"Kau sudah dengar ucapannya? Berhenti mengincar Rin!" bilang Len. Kaito melonggarkan tangannya—tak memberi kekuatan sehingga lunglai.

"Tapi aku tidak mau menyerah dulu," kata Kaito. Len menyipitkan kedua matanya marah.

"Kau maunya apa? Menyakiti Rin lebih dari ini?" bentak Len. Untuk pertama kalinya aku melihat Len membela seseorang sampai marah seperti ini. Sepertinya dia patut dihargai.

"Aku tantang dirimu bermain basket terlebih dahulu," tantang Kaito.

"Basket? Heh, aku jago untuk soal olahraga kegemaran cewek ini kau tahu?" Len membanggakan diri. Aku yang berdiri di belakang Len mengepalkan tangan siap meninjunya tiada ampun jika saja Kaito tidak ada di dekat kami sekarang.

"Oh ya? Bagaimana jika kau pakai kacamata?"

Len segera menelan ludah.

"Katanya bisa bukan? Apa bedanya dirimu saat memakai kacamata dengan tidak? Len tetap Len," Kaito tertawa geli. "Hanya omong kosong saja?"

"Tch! Jika aku menang, kau tidak boleh hadir dalam kehidupan Rin kembali!" balas Len yang mungkin sudah terlalu kesal. "Lagian kacamataku tertahan oleh kawanku."

"Tenang, aku membawa kacamata," Kaito merogoh saku celana jeansnya dan mengeluarkan kacamata bergagang hitam yang hanya bagian atas—dan kacamata itu yang biasa digunakan Kaito untuk menyamar jika ada fans yang melihatnya.

"Baiklah aku terima kacamata itu," Len mengambil kacamata Kaito secara kasar, masih dalam raut wajah kesal.

"Jika aku menang, aku ingin kalian semua tidak menghalangi aku untuk berbaikan dengan Rin kembali. Dan Rin harus mendengarkan alasanku," Kaito menatapku tersenyum lembut.

"Sudahlah... kalian berdua jangan ribut hanya karena aku," kataku melerai. Namun percuma, kedua insan tersebut sudah saling memberi tatapan maut pada satu sama lain menandakan mereka akan bertarung.

"Biarin aja kali Rin. Toh kayaknya seru nih," bisik Miku dari belakangku. Mikuo juga ikut-ikutan menyemangati Kaito dan Len untuk saling berkelahi.

"Langka kan Rin yang tidak tertarik kehidupan cinta walau pernah pacaran diperebutkan dua cowok? Love triangle," bisik Mikuo tak mau kalah.

Sepertinya aku harus berdiam saja kali ini.

-oOo-

Kami kini berada dalam lapangan basket yang kebetulan sedang dalam keadaan kosong. Ketika aku; Miku; dan Mikuo; berdiri di tepi lapangan basket, Kaito dan Len saling berdiri berhadapan di tengah-tengah lapangan. Kaito hanya memegang bola basket dengan satu tangan kirinya. Sedangkan Len saat memakai kacamata kelihatan sekali payahnya! Kenapa aku bilang payah? Lihatlah gaya Len dengan pundak bungkuk jua kepalanya menunduk ketakutan seakan bakal digencet sama Kaito.

Saat ini aku ingin menepuk jidat kepalaku dengan kemungkinan menang yang tipis. Err yah, aku mau tidak mau memihak Len sebab perjanjian jika Len menang sangat aku harapkan. Tapi sekarang harapan itu bakalan sirna!

"Mikuo, tolong jadi wasitnya," pinta Kaito. Mikuo mengangguk kecil dan berjalan ke depan. Ia menerima bola jingga bergaris hitam yang diberikan Kaito langsung padanya.

'Len, tolong menang untukku,' pintaku dalam hati saking cemasnya.

"Siap?" ketika Mikuo memberi aba-aba, Kaito dan Len sudah memperlebar jarak kedua kaki mereka masing-masing dan mengangguk. Mikuo menanggapi sikap mereka sebagai permulaan siap, dan ia melambungkan bola basket ke udara dengan jejer lurus. Kaito yang tentu lebih tinggi dari Len, bisa menepak bola basket sekalian melampaui Len dengan enteng. Bola basket terdorong ke depan dari posisi Kaito, dan dengan gesit Mikuo menjauh—menghindari tubuhnya dari area pertarungan.

"Len! Kejar!" teriakku saat aku sadar Len begitu ketakutan—terlihat dari kedua kakinya yang gemetar. Ia hanya diam dari tempat setelah Kaito mencoba berlari menuju ring."Tch! Kaito, kau curang!"

"Haha, aku kan sudah memberi syarat ini. Dia juga terima-terima aja," ejek Kaito yang masih berlari mendribble bola. Larinya sangat gesit walau terlihat masih merupakan amatiran. Ia pun melangkahkan ketiga kakinya dan—

SHACK!

Kaito berhasil melakukan lay up dan mendapat skor pertamanya. Kedua lututku kurasakan emas, hingga terduduk di atas tanah.

"R—Rin?" Miku terlihat khawatir dengan raut wajahku yang sudah ketakutan.

"...tidak ada harap, Miku. Kaito bakal menang."

"Rin..."

Len ikut terduduk dengan kedua lututnya lemas. Mikuo pun menepuk pundak Kaito saat mengetahui sepertinya situasi kali ini sangat mengerikan untuk dilihat.

"Kaito, kau tidak merasa permainan ini jelas menguntungkanmu? Kau bilang kau adalah pria sejati, tapi melawan culun."

Entah aku harus berterima kasih atau bakal menjotos wajah Mikuo nanti.

"Aku hanya bermain sesuai kesepakatan kok. Bukannya Len sudah sepakat?"

"Biar begitu tapi kau kan sudah bisa melihat Len tidak punya kepercayaan diri. Bagaimana dia bisa maju di garis depan?"

"Dia harus bermain sesuai kesepakatan. Dia sendiri yang menginginkannya," Kaito bersikeras. "Kenapa kau juga jadi memihak Len? Kau tidak mau aku berbaikan dengan Rin?"

"Bukan gitu Kaito, hanya saja yang tersiksa bukan saja lawanmu. Tapi Rin juga," ia menunjuk diriku secara poin dengan jari telunjuk kanannya.

"Mungkin sekarang dia akan tersiksa. Tapi peristiwa hari ini akan kuhapuskan saat aku sudah menang," balas Kaito. Mikuo menggeleng kecil lalu mendesah. "Ya deh."

9 menit waktu berlalu. Kaito unggul jauh dibanding Len yang masih memiliki skor 0. Len benar-benar dipermalukan Kaito langsung. Entah Kaito dengan gamblang melalui Len meski dalam melakukan dribble, ataupun saat Kaito dengan mudah melakukan slam dunk tanpa halangan musuh. Len jua tengah berusaha. Ia menahan rasa takutnya dan sesekali bisa merebut bola Kaito yang menggiring. Cuma dia terlalu takut sampai-sampai bola basket bisa lepas dari tangannya saat melakukan dribble.

Kaito berlari sekuat tenaga menuju Len yang kini menghadangnya saat mendribble bola. Terlihat kedua adam berkeringat hebat seakan mandi dengan air keringat sendiri.

Len melirikku sedikit dengan tampang cemas. Aku hanya menghela nafas kecil, lalu menunduk kecil pasrah—sedih. Ia menatapku iba, lalu kembali berkonsentrasi pada Kaito yang sudah 60 cm dari jarak depan Len.

"L—Len benar-benar dipermalukan Kaito," bisik Miku. "Kasihan sekali. Tapi aku jua tidak bisa menyalahkan Kaito. Kaito melakukan ini juga demi kamu, Rin."

"Demi aku ya..."

Aku berlari lesat memasuki area lapangan menuju ke arah Len. Kaito yang terlihat sudah akan melakukan hal buruk dengan Len berupa melabraknya keras sambil mengenggam bola basket, aku halangi segera dengan tubuhku.

"R—Rin?"

BUAKH!

Tubuhku dihantamnya sangat keras dengan pundaknya, dan aku terjatuh dengan pantat mendarat terlebih dahulu.

"K—kenapa kau melindungi a—aku Rin?"

Disaat Len bisa berucap satu kalimat pertanyaan, Kaito hanya diam membisu menyadari aku lah yang ditabraknya. Dia langsung menyetarakan tingginya denganku, memberi bantuan.

"Rin, kau baik-baik saja? Ada luka lecet?" Kaito tiba-tiba memberikan perhatiannya padaku.

"H—hanya luka sedikit..."

"A—aku akan mengambil kotak P3K! K—kebetulan ru—rumahku de—de—dekat s—sini!" Len berlari secepat mungkin mengambil barang yang ia maksud.

"Cie Kaito, Rin kembali jadi gadis polos tanpa sedikitpun bertindak sok kuat setelah dihadapkan Kaito!" Miku mengolok.

"MIKU AHH!"

"Haha kalian ini."

Aku memandang Len yang sempat berhenti. Ia mungkin mencuri pendengaran obrolan dari kami. Dan saat aku sadar raut wajahnya sedih ketika ia kembali lagi berlari, aku juga merasa ikut sedih.

Dia berusaha membelaku, namun aku malah mempermalukannya dengan melindungi dia setelah Kaito nyaris menghabisinya. Serasa aku merasakan jarak antar kami berdua mulai membentang.

'Len...'

-Bersambung-

Padahal mau ngerjain tapi lappy dipake kakak buat soal UAS sekolah (kebetulan kakakku guru) jadilah buatnya cukup lama. Yah walau harus menyita waktu belajar tak apalah. Saya kan anak kece. Oke gak nyambung.

Sesuai rekues yang para pembaca yang review dimana penasaran apakah Kaito masih sayang, mungkin akan dibuat chap depan. Sekalian mengulang flaskback kasmaran mereka. Jadi baru cerita gimana Kaito setelah ditinggal Rin Len deh. MAKASIH BANGET YANG SUDAH MENG-REVIEW SAMPAI MEMBERI IDE! /sujud sembah/

Len: E-etto, capslock mbak.

Oke tak matiin dulu. Doakan mudahan untuk chapter depan bisa diupdate cepat ya! Kebetuan lagi semangat melayani permintaan readers! /cipok readers/ /gak gitu/

December 3, 2014