Kuucapkan terima kasih,
Untuk mengerti aku
Walau cara yang kau lakukan itu tidak patut dihargai sebenarnya
-oOo-
Vocaloid fanfiction © Crypton & Yamaha
Megane Badass
Pairing: Kagamine Len x Kagamine Rin
Genre(s): Romance, Humor, Friendship, etc (tergantung chapter selanjutnya)
Warning! Typo dan segala kesalahan ketika mengetik mungkin akan muncul. Mohon segera tekan tombol 'back' jika anda merasa hal tersebut menganggu mata anda.
-oOo-
Chapter V – I Love You, Baka!
Pelajaran bahasa asing (inggris) membuatku ngantuk sangat. Ketika pak Kiyoteru membaca sebuah cerpen ber-teks inggris, aku hanya bisa bengong memikirkan hal lain. Yah rasanya juga percuma menyimak. Aku tidak megerti sama sekali bahasa asing.
Memang ada satu hal lain yang kini harus kupikirkan sekarang. Memikirkan kenapa pria yang duduk di depan sebelah kanan bangkuku—alias Kagamine Len, tidak menegurku kali ini. Dia dari kemarin menghindari kontak mata denganku melulu. Sama seperti sekarang.
Kemarin dia membawa kotak P3K sambil mengembalikan kacamata Kaito sih. Hanya waktu itu ia hanya menyerahkannya pada Miku saja tanpa mengucapkan salam perpisahan padaku. Ia seakan terburu-buru dikejar waktu.
Aku bukannya berharap kata perpisahan darinya. Susah sekali menjelaskannya. Bagaimana ya? Dia sudah kelihatan mulai menghindariku, memberi jarak antar kami. Mungkin aku baru saja mengalami dua hal (satu yang baru saja kukatakan saat Minggu itu, dan satu lagi ketika pagi hari saat memasuki kelas) dan firasat ini belum saja benar. Firasat bahwa ia ingin memutus kontak 'kawan' denganku.
Eh hei, seharusnya bukannya aku gembira sekarang? Kalau dia tidak menyapaku, aku tidak perlu diledek kawan-kawan Gumi bukan? Seharusnya aku merayakan peristiwa ini dengan joget-joget di atas ranjang. Tapi mengapa rasanya sedih saja ya?
"Rin, baca lanjutan kalimat bapak," tegur pak Kiyoteru. Aku terbangun dari lamunanku dan cengo. Dari tadi aku melamun dan tidak memperhatikan pelajaran beliau.
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Ah kacau!
"A—anu pak, err..."
"Ada apa? Mau ke toilet?" terka pak Kiyoteru. Ampun belum juga ngomong.
"Bukan pak. H—hanya..."
"Hanya?"
"S—S—saya..."
"P—pak bi—biar saya s—saja yang melan—jutkan."
Aku tentu kenal suara sahutan gagap itu.
"Ya sudah. Lanjutkan saja. Tapi yakin bisa?"
"When reindeer want to run again, Santa Claus stop him. "Are you seriously to do work alone with me? I'm fat, reindeer," ask Santa. Reindeer now just can stand silenly, thinking."
Len... menyelamatkanku dari tugas yang nyaris bakal membuat harga diriku jatuh akibat diejek.
Kurasakan ada yang menatap Len begitu tajam. Tanpa kuketahui, langsung saja kugerakkan leherku dan mendapati Kaito menatap Len lekat dari kejauhan sambil menyenderkan punggungnya pada sanggahan kursi. Ia melipat kedua tangannya di depan dada.
Tidak hanya itu. Aku merasa ada yang memandangku lurus saat Kaito bersikap tadi. Ergh lebih baik aku menghilangkan firasat ini dulu.
-oOo-
"Kenapa kau lakukan ini Rin? Kenapa kau tidak menyerah?"
Baik aku jujur. Aku digencet gadis bersurai merah jambu panjang dari suatu sudut lorong sepi seusai jam pelajaran sekolah. Dia tadi mengajakku dengan manis dan berkata dia ingin pulang bersamaku. Nyatanya...
Mau tau dia siapa? Megurine Luka. Gadis yang kulihat berciuman dengan Kaito tepat 4 bulan jika esok hari jua dihitung. Oh ya siapa yang menyangka gadis manis yang selalu jadi juara kelas ini malah menjadi beringas di depan seorang Kagamine Rin.
Ingat ucapanku ketika aku memetik rumput liar saat pelajaran olahraga berlangsung sebelum Len membantuku.
"Eh hei, Kaito itu yang membujukku tahu," utaraku jujur. Gadis bermanik merah muda itu semakin menggeram kesal. Ia memojokkan aku sambil terus menenteng tas selempang putih berbahan kain tersebut.
"Cih! Membujuk tapi sampai membuat dia terus memperhatikanmu. Aku dan dia sudah ciuman, kau masih saja medekatinya!"
"Amit-amit aku mendekati pria duda!"
"Dia belum menikah tahu!"
"Terus tadi bilangnya sudah ciuman. Aku saja belum sama sekali berciuman dengannya!"
"Tapi itu bukan berarti dia duda tahu!"
"Ya terus kenapa? Ciuman kan sudah dalam adab pernikahan saat di altar nanti!"
"Cerewet!" Luka menaikkan lengan kanannya siap menampar. Eh hei seharusnya aku yang marah kan? Aku kan pacar pertama Kaito. Sekalian aku kan orang yang paling dicintainya. Kenapa posisinya jadi kebalik seakan aku yang jadi pihak ketiga antar cinta mereka?
"S—sudah! Jangan ber—berantem d—di—disini!"
Aku dan Luka langsung melihat sang pemilik suara yang kebetulan tidak jauh dari kami. Aku mangap. Keheningan tercipta sementara. Semua orang dalam adegan diam mematung.
Boleh aku jujur? Boleh ya?
ADUH LEN, KAU MAU MENCOBA MENGHENTIKAN PERKELAHIAN INI AJA GAK ADA KEREN-KERENNYA! NYEMPET NYELETUK, BUKANNYA MENGHENTIKAN TINDAKAN LUKA DENGAN MENAHAN TANGANNYA! ARGH AKU STRESS!
Luka malah mendaratkan telapak tangannya bukan lagi padaku, namun ia lesatkan pada Len dengan bengis. Terjadilah adegan dimana mereka berdua seperti habis berantem akibat sang cewek melihat cowoknya selingkuh. Len, sabar ya.
"Gak keren tahu! Ketika membela Rin harusnya kau tahan tanganku! Bukannya seperti izin mau ke toilet sama guru!" marah Luka yang telah sukses membuat Len terkapar di lantai lorong. Len meringis kecil kesakitan. Ia mengelus pipinya yang merah. Kacamatanya... terlontar jauh.
Dan sepertinya ini akan menjadi hal menarik. Bersiaplah Luka.
"Culun sih, nyari gara-gara sama aku," gerutu Luka. Ia berbalik dan kembali mempraktekkan kekerasan padaku berupa ciuman mesra—ralat—tamparan mesra di pipi. "Oh ya kudengar Rin mulai ada hubungan sama culun kita ya? Maluin banget deh."
"Eh hei, kau akan menarik ucapanmu saat menyadari sisi Len sebenarnya tahu!"
"Hmph! Terserahmu lah. Intinya, kuharap ini menjadi pengalaman agar kamu jera mendekati Kaito!"
GREP!
Luka membuka matanya lebar-lebar saat tangannya yang siap ia ayunkan terhenti karena ditahan seseorang. Aku berdeham licik melihat siapa yang membantuku sekarang.
"K—kok Len berani?!" Luka menjerit mendapati Len menahan tangannya. Biarpun Len pendek daripada Luka, tapi lihat saja Len bisa menahan tangannya. Oh ya, sisi kerennya sangat kelihatan.
Mungkin aku akan berteriak dengan wajah memerah setelah ini. Entah sejak kapan aku mengakui bahwa aku mulai menjadi fans Len!
"Tunggu dulu, kau melupakan satu hal untuk dapat menganiaya Rin mengganas." Secara tidak terduga, Len malah memberikan sesuatu pada Luka. Err kalau tidak salah itu cutter.
IYA CUTTER!
"LEN KAMU GILA YA! KUKIRA MEMIHAKKU TAPI MALAH MEMBERI CUTTER PADA LUKA?" sontak aku histeris.
"Orang yang bisa memberi malu orang lain yang membelanya mending mati," jelas Len. Eh? Apa lagi ini?
"Gyahaha benar sekali. Len, akhirnya kau sadar jika anak ini memang perusak hidup," sahut Luka dengan tawa kemenangan. Entah kenapa aku melihat mereka berdua seperti sepasang kekasih pecinta hal pembunuhan.
Luka menaikkan pisau cutter sambil menyerigai tajam. "Tenang Rin, aku akan menggali liang lahat untukmu secara gratis tanpa perlu tahan BPKP motor ayahmu. Selamat tinggal."
Aku reflek mundur. Saat berteriak pun percuma. Adrenalin menuasai tubuhku hingga aku tak sanggup bertindak saking ketakutan mereka bakal mencincang tubuku dengan sadis saat aku mati. Tidak. Aku tidak suka novel ayah dengan rata-rata tema pembunuhan itu tergeletak sembarangan di rumah sampai aku penasaran dan membacanya, dan sampai sekarang aku masih bergidik dengan semua hal yang berhubungan dengan 'potong'.
"BERHENTI KALIAN BERDUA!"
Setelah suara teriakan pencegahan terdengar jelas dari telingaku, seseorang segera melakukan tendangan di hadapanku hanya dengan satu kaki. Ia memutar tubuhnya lalu menendang tubuh Luka cukup keras. Sungguh aku tidak percaya ketika orang yang membelaku itu adalah...
"Rasakan dari tendangan pemimpin klub judo, Gumi."
Adalah rival kelasku sendiri.
"G—Gumi?" Len mundur beberapa langkah.
"Len aku tahu kamu sakit hati, tapi kau tega sekali memihak musuh saat dia membutuhkanmu!" tukas Gumi.
"Kalian saling akrab ya?" tebak Luka yang ternyata sudah ancang-ancang ingin kabur.
"Pergi dari sini, Luka!" suara Gumi menggelegar mengalahkan raungan singa. Luka bergidik dan langsung kabur cepat, meninggalkan kami bertiga dalam kondisi awkward.
"Payah. Aku menyeretmu dalam momen jarang ini untuk menunjukkan bahwa kamu itu laki-laki sejati walau memakai kacamata," mulai Gumi memecah keheningan.
"Eh Gumi ternyata dekat dengan Len?" tanyaku. Gumi mengangguk merespon. "Aku keponakan ayah Lily."
"J—jadi kamu sudah tahu jika kelemahan Len..." aku sengaja menggantung pertanyaanku. Gumi menghela nafas kecil. "Lepas kacamata jadi rada suka gombal kan? Iya aku sudah tahu."
"Jadi kenapa kamu sering menghina aku dari jumat sampai sabtu?" tanyaku sarkasme.
"... panjang ceritanya," lirih Gumi.
"Pantas Len hanya bilang sabar mulu sama aku! Pantas Len tidak ikut menyahut ejekanmu! Pantas! Pantas saja..."
"Cukup Rin," tegur Len muak.
"Len, ceritakan kekesalanmu pada Rin," perintah Gumi.
"Untuk apa? Aku benci gadis seperti dia. Dia tidak pantas mendapat kasih sayang dari orang. Orang yang tidak bisa menghargai kebaikan orang."
"A—apa?" sumpah aku benar-benar bingung dengan ucapan Len yang ngerocos seakan ibu-ibu mengomel karena mendapat jatah banyak cucian.
"Terserah," Len memungut kacamatanya dan langsung pergi dari kami, meninggakan aku dan Gumi yang hanya bisa diam menatap punggung Len.
"... Hhh, Len saat tidak memakai kacamata itu kiamat. Saat dimana kepribadian seenaknya, berpikir negatif, juga sifat pengampunnya sirna, muncul. Beda saat dia memakai kacamata dimana dia polos dan bisa memaafkan," terang Gumi.
"Len ada apa? Dia kelihatannya kesal denganku," tanyaku ragu.
"Dia kesal dengan kejadian kamu menolongnya kemarin," bilang Gumi. "Katanya kamu menginjak harga dirinya untuk kalah secara terhormat."
"Kenapa dia kesal hanya karena itu? Kaito memang unggul, sudah sewajarnya dia menang. Tidak ada hubungannya denganku bukan?"
"Pikir perasaan orang yang gampang sensitif dong. Kamu berkorban tapi saat sudah puncak kamu hancurkan, bagaimana rasanya?"
"Tapi aku hanya menolongnya kan? Apa salah aku?"
"Sebab itulah yang membuat semua orang membencimu, Rin."
DEG!
Serasa jantungku berdetak kencang. Ucapan renungan itu kembali aku dengar secara langsung, seperti dimana terakhir kali kudengar ketika hari sebelum aku putus dengan Kaito. Kaito pernah juga mengatakan hal tersebut padaku. Miku juga.
"Ngerti kan? Tidak semua tindakan senonohmu yang kau anggap baik, juga baik di pandangan orang. "
"Aku mengerti, Gumi..."
-oOo-
Aku kembali mengurung diri dalam kamar, dengan masih memikirkan perkataan Gumi tadi. Memeluk boneka beruang teddy sembari menghela nafas pelan seringkali. Aku bingung ada apa denganku sekarang. Bingung bagaimana ekspresi yang harus ku tampakkan. Bingung haruskah aku sedih dengan ini? Bingung bagaimana aku harus menanggapi situasi kali ini. Untuk pertama kalinya, aku harus meminta maaf lebih dahulu.
Kaito takkan pernah membiarkanku meminta maaf terlebih dahulu, meskipun dia tahu aku yang harusnya meminta maaf paling pertama. Tapi untuk sekarang ini, haruskah aku meminta maaf terlebih dahulu?
"Len bodoh...," makiku dengan mendesis kecil. "Sangat bodoh! Aku benci Len!"
Aku semakin mempererat pelukanku pada boneka beruang teddy. Sekali lagi aku mengeluarkan desahan kecil disamping duduk di atas ranjang.
"Rin, ada temanmu di bawah," terdengar suara Ibu melapor dari luar pintu.
"Temanku? Siapa?" tanyaku.
"Entah. Dia cowok," jawab Ibuku seadanya. Seperti biasa Ibu tidak mau memperhatikan orang secara seksama.
"Kalau Kaito, bilangin aku tidur," kataku dan berpura-pura ngantuk lalu merebahkan badanku pada kasur.
DUAKH!
"Siapa sih yang main lempar batu ke jendela?!" kesalku dan terpaksa bangkit kembali menuju asal suara antar kaca dan batu berhantam barusan. Terlihat seorang pria berbadan ramping melambai dari bawah dengan tampang sok jual mahal yang sangat aku hafal raut wajahnya. Langsung tanpa waktu panjang lagi, aku berlari keluar kamar menuruni tangga dan keluar rumah—mendatanginya.
"Hei Rin," kata pria itu dingin.
"Len, kau tahu darimana rumahku?" kuurungkan niatku membukakan gerbang rumah karena sapaannya yang mampu membuatku kesal.
"Aku tadi diantar Gumi ke sini," jawabnya seadanya. Suasana langsung hening sehabis ia menjawab pertanyaanku. Tidak ada satu diantara kami yang memulai obrolan. Lama sekali.
Muak, aku merasa aku percuma berdiri di luar lama-lama, "Sudah ya, aku mau tidur dulu."
Kuhela nafas kecil, berharap dia akan menahanku—walau aku merasa keinginan ini tipis terwujud. Setidaknya aku tahu diri, karenaku dia menjadi menjaga jarak sikap denganku. Namun aku merasa terhormati karena kehadirannya malam ini.
Rasanya hatiku sesak ketika menyadari ada yang masih mau meladeni si gadis seenaknya sepertiku. Aku patut berterimakasih dengannya.
GREP!
Sesuau aku rasakan melingkar pada leherku. Menahanku untuk berjalan lurus ke depan.
"Bodoh! Untuk apa aku kesini sampai diejek Gumi dan Lily!" Len membentak. Aku enggan berani menatapnya, dan lebih memilih menunduk.
"Rin," panggilnya, merasa aku kelihatan sungkan menatapnya.
"Rin," panggilnya sekali lagi saat waktu semakin lama terlewati tanpa satupun sikap aku membalas tindakannya.
"Kau memaksaku, Rin! Kau memaksaku!" Terasa kedua tangan menahan kedua pipiku untuk berbalik 180 derajat. Len begitu terkejut mendapati wajahku yang hancur dengan jalur air mata yang terlihat juga mata yang sembab.
"Kenapa kau—hiks! Kenapa kau baik? Harusnya—harusnya kita sudahi saja—hiks! Kita sudahi saja hubungan kawan k—kita!" tangisku selagi berucap. Len menutup matanya dan mendengus kesal.
CUP!
Terasa sesuatu mengajak beradu dengan bibirku. Saling beradu melakukan ciuman dengan menghisap. Lima menit, kami melepas ciuman kami. Len menyenderkan dahinya pada dadaku lalu kedua tangannya ia geser untuk mencengkeram kedua bahuku. Ia ikutan menangis, terdengar dari suara isakan kecil samar-samar darinya. Pagar yang menghalangi tubuh kami bahkan tidak menghentikannya untuk terus mengenggam kedua bahuku erat.
"Kenapa kau harus memperlihatkan kelemahanmu dariku? Akibatnya, aku jadi ingin memilikimu dan menjagamu!" ucapnya lantang tanpa selingan isakan.
"Len..." Len pun mendongak, dan aku menggamparnya tanpa alasan. Len memegangi area pipi bekas tamparan cintaku, dan aku hanya tertawa kecil—kejam.
"Rin! Kau itu—" Len tidak jadi protes ketika aku sudah tertawa kencang.
"Bodoh! Len bodoh!" aku tertawa tanpa sebab.
"Sekali saja bilang bodohnya tahu."
-Bersambung-
Berasa pengen end cerita ini. Tapi masalah Rin sama Kaito beum terungkap! Bagaimana ini? Bagaimana! /gegulingan
Makasih buat yang memperjuangkanku agar kembali menulis. Awalnya mau disconnect tapi sayang ya?
December 17, 2014
