Discalimer : Masashi Kishimoto

Pairing : Narusasu

Rated : T

Warning : YAOI, OOC, banyak typo disana sini, gaje abal, dll.

JATUH CINTA, EH?

Naruto menoleh begitu mendengar namanya dipanggil. Seketika senyum sopan tersungging dibibirnya saat melihat orang yang dikenalnya. Seorang pria berumur setengah baya , berambut coklat dan terlihat bekas luka melintang dihidungnya. Umino Iruka, guru Sastra Jepang.

"Ada apa, Iruka Sensei?" Tanya Naruto yang masih mempertahankan senyum sopannya.

"Sedang apa kau disini? Istirahat sebentar lagi selesai. Bukannya setelah ini ada pelajaran ekonomi dari Ibiki Sensei?"

Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Naruto memberikan senyuman tipis untuk menjawab pertanyaan Iruka. "Sebenarnya, Sensei, saya sedang menolong seseorang yang saya tabrak saat didekat perpustakaan."

Seketika matanya melebar dan langsung mengarahkan matanya ke UKS yang dekat dengan tangga. "Apa dia terluka? Hidungnya patah? Tangannya terkilir? Jatuh pingsan? Atau..."

"Maaf, Iruka Sensei. Anda tidak perlu sepanik itu. Dia hanya..."

"Bagaimana mungkin aku tidak panik? Kau menabraknya, Naruto. Bagaimana kalau dia sampai terluka parah?" Iruka melotot kesal mendengar jawaban Naruto. "Kau harus bertanggung jawab, Naruto." Lanjut Iruka lagi.

"Iruka Sensei. Saya menabraknya memakai tubuh. Bukan dengan sesuatu yang membahayakan. Lagi pula saya menabraknya didekat perpustakaan. Yang ada disana hanya koridor dan taman bunga." Jelas Naruto yang merasa frustasi melihat kepanikan Iruka. " Dan lagi saya sudah bertanggung jawab dengan membantunya membawa buku yang sangat tebal walaupun hanya sampai didekat tangga lantai satu." Lanjut Naruto sambil melirik tangga tempat dia berpisah dengan Sasuke.

"O,o, begitu ya?" Iruka hanya bisa tersenyum canggung dan merasa malu karena sifat mudah paniknya dilihat oleh anak didiknya sendiri. 'Hiks, malu sekali aku." Batin Iruka mulai menangis pilu.

"Lalu, kenapa kau masih disini. Cepat kekelas mu. Sebentar lagi..." Belum selesai Iruka bicara, bel tanda istirahat selesai mulai mengalun.

"Ok. Kalau begitu saya pamit, Sensei." Ucap Naruto bergegas pergi. Sedangkan Iruka hanya menggelengkan kepala melihat sikap Naruto.

***/***

Gedung sebelah kanan KIHS terlihat sunyi setelah dering bel terdengar. Dikantin dan perpustakaan tidak terlihat satu orangpun. Hanya dua ruangan yang dekat aula pertemuan saja yang berisi segelintir orang. Kelas spesial, begitulah julukannya.

Kelas spesial dibagi menjadi dua. Kelas M (Male) dan kelas F (Female). Sesuai dengan namanya. Kelas ini memisahkan antara laki-laki dan perempuan. Bukan supaya mereka bisa berkonsentrasi saat belajar. Sudah dijelaskan sebelumnya bukan, kalau yang diterima disekolah ini hanya yang IQ nya tidak jongkok. Kelas mereka dipisah karena mengikuti peraturan yang sudah ada dari dulu.

Dikelas F yang seharusnya tenang karena bunyi bel masuk, malah terdengar ramai seperti dipasar. Itu karena guru yang seharusnya mengajar adalah Kakashi Hatake. Guru Matematika yang selalu telat datang dengan beribu alasan yang tidak masuk akal-padahal sedang asyik baca buku bersampul orange.

Tentu saja itu dimanfaatkan oleh para siswi -yang berjumlah 20 orang- dengan bergosip ria. Tentang apa saja yang bisa mereka jadikan bahan gosip. Termasuk lima orang siswi yang berada disudut kelas paling belakang. Mereka adalah Shion, Matsuri, Karui, Sara dan Tayuya. Mereka bersahabat semenjak masuk KIHS, kecuali Matsuri dan Sara yang sudah lama berteman.

"Shion-chan, apa kau jadi kencan hari ini?" Tanya Matsuri yang merasa aneh melihat Shion yang dari tadi diam. Biasanya kalau membahas masalah fashion, Shion lah yang paling tahu dari pada mereka. Itu karena ibu Shion adalah seorang designer ternama.

"Tidak." Ucap Shion singkat sambil memandang gedung diseberangnya tajam.

"Lho, kenapa? Bukannya tadi kau mau bertemu dengannya untuk kencan nanti sore." Ujar Tayuya sambil memoleskan lip gloss berwarna pink lembut dibibirnya.

"Iya. Padahal kau sudah bersemangat mau melakukan apa saja pada Naruto." Sahut Sara sambil mengernyit aneh memandang Tayuya yang memakai lip gloss. Sedangkan Tayuya tidak ambil peduli dengan pandangan yang tertuju padanya.

"Apa kalian kenal dengan cowok nerd, dengan kaca mata tebal, rambut hitam?" Tanya Shion pelan dengan masih memandang tajam gedung tadi.

"Nggh, memang kenapa, Shion-chan?" Matsuri balik bertanya sambil mengikuti arah pandangan Shion.

"Jawab saja aku!" Perintah Shion sambil memandang tajam Matsuri yang berada disebelahnya. Matsuri yang dipandang demikian hanya bisa menunduk takut.

"Mungkin namanya Sasuke. Aku tidak tahu marganya dan aku tidak mau peduli. Pemuda beasiswa anak kelas XI A, gedung sebelah. Sering dibully oleh kelompok Jirobo anak kelas XII." Jelas Karui singkat sambil memandang Shion.

"Wah, aku tidak menyangka kalau kau bisa mendapat info seperti itu. Dapat dari mana?" Tanya Tayuya penasaran. Begitu juga keempat temannya yang lain.

"Aku kan selalu tahu apapun yang ada dilingkungan sekolah. Bukan seperti kalian yang gemar berdandan." Ujar Karui bernarsis ria.

"Huuuuuu..." Sontak Sara dan Tayuya ber-huu ria mendengar ucapan narsis dari Karui.

"Memangnya ada apa dengan cowok nerd itu, Shion?" Tanya Karui penasaran tidak peduli dengan Sara dan Tayuya yang asyik mencibirnya.

"Kalian masih ingat gosip tentang Naruto?" Tanya Shion sambil memandang keempat temannya. Begitu melihat anggukan mereka. Shion pun melanjutkan. "Aku melihat Naruto menolong cowok itu saat didekat perpustakaan."

"Ya ampun, Shion. Wajarkan Naruto menolong Sasuke. Naruto kan baik, ramah, murah senyum dan tidak sombong lagi. Semua orang ingin menjadi pacarnya. Lalu, apa yang salah, Shion." Ujar Sara yang gemas melihat sikap Shion.

"Masalahnya, Naruto tidak pernah peduli sama anak beasiswa itu. Selama ini dia tidak ambil pusing dengan pembully-an yang terjadi pada Sasuke. Tiba-tiba sekarang dia mau menolong Sasuke. Bahkan membawakan buku Sasuke sampai ke gedung sebelah. Seperti sudah direncanakan sebelumnya."

"Hanya karena gosip itu, kau sampai tidak percaya pada Naruto? C'mon, Shion. Aku tahu Naruto playboy. Tapi, setahu ku dia hanya mau mendekati wanita bukan pria." Jelas Karui yang mersa gusar dengan tingklah Shion yang tidak biasa.

"Kau tahu aku, Karui. Kau tahu juga bagaimana perjuangan ku untuk mendapatkan Naruto. Selama ini aku tahan saat Naruto lebih memilih menemani sepupunya dari pada berkencan dengan ku. Tapi, saat ini tidak. Aku tidak ingin Naruto didekati orang baru, siapapun itu. Termasuk cowok miskin itu. Aku mau kalian melakukan sesuatu untuk ku. Sesuatu yang bisa menyingkirkan si miskin itu." Ucpa Shion dengan seringai tipisnya.

"Astaga, Shion. Jangan bilang kau mau mengeluarkan Sasuke dari KIHS? Itu tidak baik, Shion. Kau tahu sendiri dia anak beasiswa. Jangan buat dia dalam masalah. Cukup Jirobo dan yang lain menyiksanya. Jangan ditambah kau juga." Matsuri yang tadi diam kini mengeluarkan protesnya. Walaupun dia tidak tahu seperti apa Sasuke. Setidaknya jangan menambah beban seorang murid beasiswa seperti Sasuke.

"Tenang saja, Matsuri. Bukan hanya kita saja yang membully cowok itu. Banyak orang lain yang memang tidak suka dengan dia. Dengan adanya perintah dari Shion, yang lain pasti mau bergerak membully-nya. Kita hanya membuat dia tidak betah dan lebih memilih keluar sendiri dari pada dikeluarkan." Jelas Tayuya santai.

"Tapi,..."

"Atau kau yang mau aku keluarkan dari sini?" Desis Shion sambil memandang sinis Matsuri. Dan Matsuri hanya bisa pasrah mengikuti teman-temannya.

'Dan kali ini, bisa aku pastikan Naruto hanya jadi milik ku seorang.' Bisik Shion dalam hati.

***/***

Sementara kelas F ribut tanpa adanya guru. Kelas M malah seperti berada dikawasan pemakaman. Sunyi, sepi dan mencekam. Maklumlah, guru yang mengajar juga sangarnya keterlaluan. Tubuh tinggi dengan wajah dipenuhi bekas luka. Sampai semuanya berpikir apa sensei mereka itu adalah seorang mafia yang nyasar ke KIHS atau sedang menyamar jadi guru. Entahlah, hanya Kamisama yang tahu semuanya.

Ibiki Sensei, itulah guru yang mengajar sekarang. Berjalan dari sisi yang satu ke sisi yang lain. Mengawasi seperti seekor elang berusaha menangkap mangsanya. Hari ini, sedang diadakan test mingguan untuk mereka. Jadi, selama dua jam ke depan, mau tidak mau, mereka harus rela berdiam diri tanpa melakukan gerakan mencurigakan. Sebab, sedikit saja ada gerakan yang menurut Ibiki Sensei mencurigakan. Dia tidak segan-segan menyuruh mereka keluar walaupun mereka belum selesai menjawabnya.

Kring...Kring...

Bunyi bel pertanda pergantian guru dianggap lantunan surga oleh mereka. Hawa mencekam yang terasa tadi sekarang lenyap digantikan hawa kehidupan. Dengan segera mereka mengumpulkan hasil jawaban mereka keatas meja guru dengan masih diawasi oleh Ibiki Sensei. Tanpa mengucapkan apapun lagi, Ibiki Sensei langsung keluar kelas menuju kelas digedung sebelah.

"Hahhh, surga dunia. Akhirnya penjaga neraka keluar dari kelas kita." Ucap Kiba hiperbolis sambil meregangkan tubuhnya yang kaku karena tidak digerakkan selama dua jam.

"Mendokusei." Sahut Shika malas sambil menguap dan langsung menangkupkan kepalanya diatas meja.

"Serangga ku bahkan tidak mau mendekat kalau ada Ibiki sensei disini." Lanjut Shino sambil memandang serangga ditangannya. Sedangkan Kiba hanya bersweatdrop ria. Tapi, segera dihilangkan begitu matanya melihat ke arah Naruto.

"Naruto." Panggil Kiba kencang sambil menuju kearah Naruto yang memang duduk agak jauh darinya.

"Ada apa, Kiba?" Tanya Naruto malas-malasan. Dia tentu tahu apa yang diinginkan Kiba darinya.

"Bagaimana? Apa lancar?" Tanya Kiba penasaran dengan wajah berbinar.

"Aku tidak tahu, Kiba. Yang pasti aku harus memikirkan berbagai macam cara untuk membuat Sasuke jatuh hati pada ku." Bisik Naruto pelan sambil mendesah. "Apa?" Tanyanya lanjut saat melihat tatapan Kiba padanya.

"Bukannya kau itu playboy? Kenapa hanya Sasuke saja kau tidak bisa taklukkan?"

"Masalahnya, Sasuke bukan seorang cewek, tapi, dia cowok. Kalau kau punya ide bagaimana cara membuat cowok sedingin Sasuke jatuh hati pada ku segera beritahu."

"Ck,ck,ck,ck. Naruto, ini tantangan pembuktian untuk mu. Bukan untuk ku. Kau pikirkan saja sendiri bagaimana caranya? Aku hanya ingin kepastian seksualmu. Normalkah? Atau malah menyimpang?" balas Kiba dengan nada main-main.

"Damn it, Kiba. Kita ini seperti taruhan. Taruhan untuk membuat Sasuke jatuh cinta dengan ku dan kau mendapatkan keuntungan dengan alasan seksual ku." Ujar Naruto dengan pandangan menusuk. Tapi, melihat reaksi dari Kiba yang diam dengan memandang lurus kepadanya. Seketika Naruto mendapat jawaban. "Jangan bilang..." Seketika Naruto mendesah lelah melihat anggukan Kiba.

"Aku, Shika dan Shino memasang taruhan pada kelompok Jirobo untuk mempermainkan Sasuke. Kau tahu, Naruto? Jirobo membully Sasuke bukan hanya karena dia miskin. Tapi, karena Sasuke yang seorang gay. Apa kau mau mengetahui kejutan lain, Naru?" Pancing Kiba dengan tatapan serius. Dan entah kenapa perasaan Naruto seketika tidak enak.

"Dia menyukai seorang Namikaze Naruto." Sahut Shino menjawab pertanyaan Kiba yang kini berada disebelahnya.

"Kami sebenarnya tidak mau ikut taruhan itu. Tapi, saat tahu yang disukai Sasuke adalah kau. Kami akhirnya ikut. Kebetulan gosip tentang kau gay sedang muncul. Kami langsung mengajukan tantangan padamu. Berpura-pura itu tantangan dari ku. Lagi pula, ini bukan sebagai pembuktian untuk mu saja. Disini kami ingin membuktikan kalau Sasuke menyukai mu atau tidak. Dan tidak ada yang dirugikan dari taruhan ini"

"Apa maksud mu, Kiba?" Desis Naruto tajam.

"Kalau Sasuke terbukti gay dan menyukai mu. Maka, Sasuke akan dikeluarkan dari sekolah ini. Tapi, kalau sebaliknya, Jirobo dan kelompoknya yang akan keluar dari KIHS." Jelas Kiba santai.

"What the hell, Kiba. Itu sama saja kita mempermainkan Sasuke. Sekarang Sasuke memang tidak menyukai ku. Bagaimana kalau ke depannya? Itu sama saja kita bajingan seperti Jirobo." Geram Naruto pada Kiba.

"Aku tahu. Makanya kami taruhan hanya seminggu. Selama seminggu Sasuke terbukti tidak menyukai mu. Jirobo langsung keluar dari sini. Dan itu berarti kita menyelamatkan Sasuke juga."

"Bagaimana kalau Sasuke malah menyukai ku setelah seminggu? Tetap saja dia keluar, kan?"

"Jangan kau pikir kami bodoh, Naruto. Mulai hari ini sampai seminggu nanti batas yang kami berikan pada mereka. Dalam batas itu bila Sasuke tidak menyatakan cinta pada mu. Itu berarti kita yang menang." Shikamaru yang entah kapan tersadar kini sudah ikut menjelaskan pada Naruto.

Naruto memandang teman-temannya ragu. Ini sangat sulit. Seumur hidup sebagai playboy, baru kali ini dia ragu untuk melakukan hal ini. Dia bisa melihat Sasuke itu baik, walaupun ditutupi dengan muka stoicnya. Dan Naruto tidak tega mengubah muka itu menjadi kesedihan.

"Kita anggap pembuktian mu sudah selesai kalau kau mau ikut taruhan ini. Deal?" Tawar Kiba saat melihat wajah ragu-ragu milik Naruto.

"Hah,,,.Ok. Tapi, pastikan Sasuke tidak keluar dari sekolah ini."

"Aku janji." Ujar Kiba semangat sambil melakukan tos pada Naruto.

***/***

Langit hari ini cerah. Angin bertiup dengan lembut. Suara burung berkicau lebih indah dari biasanya. Bagi semua orang, keadaan ini bisa membuat mereka tentram, tenang, nyaman dan damai. Tapi, tidak bagi Sasuke. Baginya, suasana sekarang tidak dapat menghilangkan pikirannya tentang Naruto. Entah kenapa, suaranya, senyumannya, tatapannya selalu terbayang dibenak Sasuke. Apalagi saat Sasuke menoleh kekanannya. Terlihatlah hamparan langit biru yang semakin membuat Sasuke ingat dengan Naruto.

Tidak ada yang tahu kalau dari tadi Sasuke melamun. Yah, mereka mana tahu kalau peduli padanya saja tidak. Mereka hanya menganggap Sasuke seperti sebuah kutu. Kecil dan tidak dianggap. Dan Sasuke lebih memilih yang demikin dari pada dibully dan hanya menimbulkan luka-luka baru yang akan membuat orang tuanya khawatir. Untuk itulah Sasuke diam, memasang wajah datar, tidak tertarik ikut kegiatan apapun yang akan menimbulkan masalah baru baginya.

Namun, yang diharapkan tidak sesuai kenyataan. Sedang asyik-asyiknya Sasuke melamunkan Naruto. Muncul Jirobo dengan anak buahnya yang hanya badannya saja besar tapi berwajah buruk rupa. Tanpa permisi pada ketua kelas, Jirobo langsung masuk ke dalam dan secara cepat menarik kerah Sasuke kuat untuk ikut dengannya. Sasuke yang tahu apa yang akan dilakukan Jirobo padanya hanya bisa diam. Lebih baik menurut dari pada memberontak. Semakin dia berontak, maka semakin kejam hukuman yang akan didapatkannya.

BRUK

Tubuh Sasuke yang kecil dan kurus dibandingkan Jirobo dihempaskan ke pohon yang ada ditaman belakang gedung kelas mereka. Leher Sasuke segera ditekan kuat oleh Jirobo agar Sasuke tidak kabur.

"Aku mendapatkan laporan dari teman ku, kalau kau berduaan tadi dengan Naruto. Benarkah Uchiha Sasuke?" Tanya Jirobo dengan nada sing a song.

Sasuke hanya diam memandang datar Jirobo. 'Dasar bodoh.' Begitu pikir Sasuke. Dia tahu dari temannya tadi. Untuk apa bertanya lagi padanya?

"Wah,wah,wah. Diam berarti iya. Apa kau tidak tahu dia siapa? Dia adalah Namikaze Naruto. Anak dari Namikaze Minato. Kau yang hanya orang miskin berusaha untuk mendekati Naruto. Sadarlah, Sasuke. Apa kau berpikir dapat kesempatan saat mendengar gosip tentangnya? Cih, jangan berharap. Aku tahu apa yang kau pikirkan. Kau ingin cari perlindungan kan? Agar aku tidak bisa membully mu lagi. Ha...ha... Sasuke, Naruto tidak akan pernah memandang mu. Tidak akan." Desis Jirobo berbahaya.

"Kau takut pada Naruto? Maka dari itu kau menemui ku? Aku tidak menyangka kau takut padanya?" Hina Sasuke. Dia harus kuat. Dia pikir dia kenal dengan Naruto. Sehingga menganggap Naruto sama seperti yang lain. Naruto itu baik. Buktinya dia tadi mau menolong Sasuke.

"Kau sudah berani rupanya, Sasuke. Sepertinya pukulan tenmpo hari membuat otak mu konslet. Bagaimana kalau hari ini kami menyadarkan mu? Mungkin sampai pingsan." Ucap Jirobo memandang remeh Sasuke. Dia lalu melepaskan cekikan pada Sasuke. "Apa yang kalian tunggu, teman-teman. Hajar si miskin ini agar dia sadar seperti apa kedudukannya disini." Lanjut Jirobo lagi sambil mundur beberapa langkah untuk memberi akses pada yang lain agar memukul Sasuke.

BUGH

"Ukh.." Pukulan di pipi kirinya dapat dirasakan oleh Sasuke. Dia hanya bisa mengelus pipinya tanpa mau melawan. Kalau dia melawan beasiswanya akan dicabut dan itu akan mengecewakan orang tuanya.

BAK

BUGH

DUAK

"Apa yang kalian lakukan?"

~~~~TBC~~~~

Thank's banget yg udah pada mau nunggu fict gaje ini. Awalnya agak loyo karena nungguin komentar para readers tentang chapter kemaren. Tapi, tetap lanjut ngetik karena prinsip Ane maju terus tak keder-keder, he...he... Dan terbukti banyak yang review#langsungterbangkelangitnabrakpesawatkontrol. Dan sekarang...

Waktunya balas-balas review...

uzumaki narito : Ini dah muncul wkwkwkwkwkwkw...

rikarika : Niat dihati ingin buat 1 km, apalah daya...

Deichan : Ini dilanjutin teyuc kok. Ahak ahak...

Reza08 : Udah kejawab kan disini

Aicinta : Soalnya amat ngebosani ngelihat Fugaku jadi orang kaya. Kapan bangkrutnya sih tuh bapak-bapak?#dikejarfansfugaku. Akhirnya dengan daya tangkap Ane yang amat luar biasa, Ane buat deh Fugaku turun pangkat jadi cleaning service. Biar Fugaku ngerasain jadinya orang susah. Ini udah Ane panjangin wordnya. Tapi, kalau kurang Ane usahain deh lebih panjang. Dan untuk Sasuke jangan harap hidupnya tenang. Ha..ha...#Ketawasetan# .

Ane berharap ada yang melirik sedikit aja ne fict. Di tunggu ye riview nya...