Discalimer : Masashi Kishimoto

Pairing : Narusasu

Rated : T

Warning : YAOI, OOC, banyak typo disana sini, gaje abal ngebosani, dllllllllll.

JATUH CINTA, EH?

Naruto tidak tahu ini keberuntungan atau kesialan. Awalnya dia hanya ke toilet sebentar untuk memenuhi panggilan alam. Saat keluar malah menabrak guru yang paling hentai disekolahnya. Siapa lagi kalau bukan Kakashi. Dan karena tabrakan itu, lembar jawaban soal yang ada ditangan Kakashi jadi bertebaran. Kakashi yang merasa dirinya di kejar-kejar waktu –padahal ingin cepat-cepat baca buku orange kesayangannya- akhirnya menyuruh Naruto memungut kertas tersebut dan membawanya ke ruang guru. Saat akan memprotes, Kakashi sudah kabur. Dengan terpaksa dia membawa kertas tersebut ke gedung sebelah.

SREG

Pintu geser ruang guru terbuka memperlihatkan kepala dengan helai rambut berwarna kuning. "Permisi." Sapa Naruto sopan saat melihat ada seseorang yang berada di ruangan tersebut.

"Oh, Naruto. Ada yang bisa Sensei bantu?" Tanya orang tersebut yang ternyata Iruka Sensei.

"Saya mengantarkan kertas milik Kakashi Sensei. Dia sepertinya terburu-buru."

"Letakkan saja disana, Naruto." Ucap Iruka sambil menunjuk meja yang agak pojok tertututp rak buku.

"Kalau begitu, saya permisi dulu, Sensei." Pamit Naruto setelah meletakkan kertas milik Kakashi.

"Ya."

Naruto berjalan keluar ruangan guru. Saat dia menoleh ke kiri-dimana tempat terakhir dia bertemu Sasuke, Naruto melihat Jirobo menyeret seseorang yang agak familiar baginya. Entah mendapat ilham dari mana, Naruto yang tidak pernah mau tahu urusan orang lain, memilih mengikuti Jirobo yang sudah berbelok terlebih dahulu menuju taman belakang gedung tersebut yang memang tidak terurus. Saat dekat dengan taman belakang, Naruto mendengar suara datar yang amat dikenalinya.

"Kau takut pada Naruto? Maka dari itu kau menemui ku? Aku tidak menyangka kau takut padanya?"

Suara itu milik Sasuke. Cowok nerd yang dikatakan Kiba menyukainya. Saat mengingat kata-kata itu, ada perasaan kesal yang hinggap dihatinya. Dia bahkan tidak tahu karena apa. Yang pasti perasaan itu langsung muncul secara tiba-tiba.

BUGH

Naruto langsung tersadar dari lamunannya saat mendengar suara pukulan. Begitu dia melihat ke tempat Jirobo. Seketika matanya membola. Disana, diatas tanah. Terlihat Sasuke meringkuk melindungi wajahnya dari pukulan dan tendangan yang diberikan pengikut Jirobo. Tanpa memikirkan apapun lagi, Naruto langsung melesat mendekati tempat kejadian.

"Apa yang kalian lakukan?" Geram Naruto marah. Tanpa aba-aba, Naruto langsung menyerang enam orang pemuda pengikut Jirobo. Fisiknya yang terlatih dan juga seorang alit beladiri, membuat Naruto dengan mudah mengalahkan mereka. Sedangkan Jirobo mengedipkan matanya bingung melihat keberadaan Naruto.

"Na,Naruto-san." Panggil Jirobo gagap. Ada ketakutan dalam nada suaranya. 'Bagaimana bisa dia ada disini? Gawat, dia bukan lawan yang mudah untuk dikalahkan. Aku harus segera kabur.' Batin Jirobo berancang-ancang untuk pergi. Namun, saat mendengar geraman kasar didekatnya membuat Jirobo berdiri kaku bagai patung.

"Apa yang kalian lakukan, hah?" Tanya Naruto sekali lagi dengan diiringi desisan.

"Ka,kami hanya me,memberi pelajaran padanya agar jangan de,dekat dengan mu." Ucap Jirobo dengan takut-takut.

"Dan kau siapa berani mengatur kehidupan ku?"

"Sa,saya bukan si..."

"Lalu, kenapa kau ikut campur?" Potong Naruto langsung begitu tahu jawaban yang akan diberikan Jirobo.

"Ma,mafkan kami, Naruto-san."

"Akan ku maafkan kalau kalian segera pergi dari hadapan ku."

"Ba,baik." Sahut Jirobo cepat lalu berlalu pergi dari sana. Diikuti oleh teman-temannya yang sudah babak belur dihajar Naruto.

Kini hanya tinggal Naruto dan Sasuke. Naruto segera berbalik ke arah Sasuke dan membantunya berdiri. Tapi, niat baik Naruto langsung ditepis oleh tangan Sasuke.

"Sa,sasuke?"

"Kenapa kau menolong ku?" Tanya Sasuke datar dengan kepala menunduk.

"I,itu karena kau perlu pertolongan, Sasuke."

"Apa aku terlihat lemah di mata mu? Sehingga kau menolong ku seperti superhero?" Lanjut Sasuke lagi masih dengan nada datar.

"Bukan begitu, Sasuke. Kau terlihat tidak berdaya saat mereka menghajar mu. Makanya aku menolong mu."

"Dan aku tidak butuh pertolongan mu. Selama ini aku bisa sendiri menghadapinya tanpa bantuan siapapun. Jadi kau sudah telat kalau mau bilang aku butuh pertolongan." Sinis Sasuke dingin.

Naruto mengepalkan tangannya saat mendengar ucapan Sasuke. 'Seharusnya dia mengucapkan terima kasih. Bukannya malah berucap sinis padanya.' Pikir Naruto kesal.

"Kalau kau menolong ku karena kasihan pada ku. Sebaiknya kau pikirkan baik-baik tindakan mu. Aku sudah cukup susah menjadi seorang murid beasiswa. Tidak perlu ditambah rasa kasihan mu yang membuat ku merasa terhina." Lanjut Sasuke dingin masih dengan menunduk.

"Berdiri, Sasuke." Ucap Naruto tegas.

"Tidak."

"Berdiri ku bilang!" Perintah Naruto keras sambil menarik lengan Sasuke ke atas untuk membantunya berdiri. Namun, sasuke masih terlihat menunduk. "Tatap mata ku." Tegas Naruto lagi. Tapi, Sasuke tetap menunduk.

"Ku bilang tatap ma..." Terpotong. Ucapan Naruto terpotong. Bukan karena Sasuke menutup mulutnya, ataupun dia gagu. Namun, obsidian itu menghentikannya. Memerangkapnya dalam sebuah ilusi yang tidak berdasar sama sekali.

"Apalagi? Aku sudah menatap mu. Dan seharusnya kau tahu, aku susah melihat tanpa kacamata. Jadi, lepaskan aku dan biarkan aku mencari kacamata ku."

Ucapan Sasuke akhirnya menyadarkan Naruto dari lamunannya. Dan seketika itu juga dia sadar akan posisinya dengan Sasuke yang akan membuat orang salah paham jika ada yang melihat. Dengan cepat, Naruto melepaskan tangannya dari lengan Sasuke. Lalu membantu pemuda itu mencari kacamata tebalnya yang jatuh akibat dipukul tadi.

Hanya sebentar. Ya, hanya sebentar Naruto mencari kacamata tersebut. Membalikkan tubuhnya, dia malah memandangi Sasuke sembari berfikir, apa ada yang salah dengan otaknya? Kenapa dia malah suka dengan mata Sasuke. 'Aargh, kenapa dengan ku?' Erang Naruto kesal karena tidak menemukan jawaban atas tingkahnya tadi.

"Kenapa dengan mu?" sebuah pertanyaan dengan intonasi datar menyapa telinga Naruto.

Mengerjapkan matanya memandang pemuda nerd dihadapannya, Naruto segera berdiri begitu melihat kacamata Sasuke terpasang apik diwajahnya.

"Sebaiknya aku kembali. Lagi pula, sebentar lagi waktunya pulang. Kau juga cepatlah ke kelas." Memandang Sasuke sebentar, setelah itu, Naruto berbalik pergi menuju kelasnya.

"Terima kasih." Bisikan pelan yang berasal dari belakangnya membuat Naruto segera menoleh.

"Apa?"Naruto ingin memastikan kalau dia tidak salah dengar.

Bukannya menjawab, Sasuke malah pergi meninggalkan Naruto begitu saja. Dan kalau Naruto lebih jeli lagi. Dia akan melihat rona samar yang ada dipipi putih Sasuke. 'Baka.' Umpat Sasuke dalam hati.

"Dia kenapa, sih? Ku tanya malah pergi. Nada bicaranya juga datar seperti tembok. Berharap saja dia tidak melajang seumur hidup." Ucap Naruto sembari berlalu pergi menuju kelasnya.

****/****

Sasuke muncul dari balik tangga begitu melihat Naruto sudah pergi ke arah kelas spesial. Dia memang tidak langsung pergi ke kelasnya. Dia terus disana sampai Naruto tidak terlihat lagi.

Pelan-pelan dia mengangkat tangan dan mengarahkannya ke dada. Rona merah juga tidak ketinggalan mampir dipipinya yang putih itu. Dia tidak menyangka, orang yang selama ini disukainya datang menolongnya. Terlebih lagi menyentuhnya dan berada sedekat itu dengan dengannya. Dia menggigit bibirnya dan memejamkan mata. Rasa bahagia ini tidak boleh hilang. Apapun yang terjadi dia harus...

"Sasuke-san?"

Sasuke tersentak begitu namanya dipanggil. Dia segera menolehkan wajahnya ke asal suara. Terlihat seorang gadis dengan rambut hitam kebiruan dan mata amethys memandangnya penuh tanya.

"Ada apa, Hyuuga-san?" Sasuke tidak tahu nama gadis didepannya. Yang dia tahu gadis itu bermarga Hyuuga dan juga teman sekelasnya.

"Ano, dari tadi aku mencari mu. Soalnya sensei yang seharusnya mengajar tidak datang. Dia memberikan kita tugas yang harus dikumpulkan besok."

"Kau tidak perlu mencari ku, Hyuuga. Orang-orang akan mengira kita dekat. Dan aku tidak ingin di bully dengan alasan seperti itu." Sasuke menatap sinis orang didepannya.

Ya, tanpa sepengetahuan orang lain, sebenarnya ada yang peduli pada Sasuke. Gadis yang dipanggil Hyuuga itu memang selalu menolongnya kalau dia dikerjai oleh yang lain. Bukan dalam hal berkelahi. Sasuke sendiri tidak yakin kalau gadis itu bisa. Dia hanya membantu Sasuke sebatas memberitahu tugas apa yang harus dikerjakan dan kapan pengumpulannya. Karena, Sasuke belum tentu tahu tugas tersebut akibat dari pembully-an yang diterimanya tidak kenal waktu. Guru-guru disini juga kebanyakan tidak peduli. Mereka menganggap pembully-an adalah hal yang wajar. Bagi mereka itu sebagai alat untuk mengetes mental murid beasiswa. Dan Sasuke mengutuk dalam hati peraturan tidak tertulis tersebut.

"Tidak apa-apa, Sasuke-san. Mereka juga tidak akan macam-macam dengan ku." Balas gadis Hyuuga itu sambil tersenyum tipis. "Dari pada itu, kenapa kau tidak ke UKS. Luka mu harus segera di obati." Lanjutnya. Ada nada khawatir yang dilantunkan gadis Hyuuga itu untuk Sasuke.

Sasuke hanya diam. Dia dengan segera pergi ke atas meninggalkan gadis itu. Dia tidak perlu ke UKS karena Shizune Sensei sudah memberikan salep padanya saat terluka beberapa hari yang lalu. Setidaknya salep itu masih ada sekarang. Dari pada telinganya sakit mendengar ceramah dari sensei berambut pendek itu padanya.

"Kau kemana saja, Naru. Dari tadi ke toilet dan baru muncul sekarang?" Tanya Kiba saat melihat Naruto muncul dengan santai seolah tanpa beban.

"Dari ruang guru." Jawab Naruto singkat.

"Untuk apa?"

"Di suruh Kakashi mengantar lembar jawaban." Jawaban seadanya dari Naruto membuat Kiba mengangguk.

"Bagaimana kalu hari ini kalian main ke rumah ku? Kebetulan, Otousan dan Okasan sedang keluar kota." Tawar Kiba kepada tiga temannya.

"Aku tidak bisa." Tolak Naruto secara halus.

"Kenapa?" Ucapan Naruto membuat Kiba kecewa.

"Aku harus ke kantor menemani Tousan sekarang. Membuat proposal, presentasi dan bertemu klien." Tanpa melihat Kiba, Naruto membereskan beberapa bukunya yang berserakan diatas meja. Saat dia kembali tadi, bel sudah berbunyi.

"Wow, sibuknya. Jadi, bagaimana Gaara? Bukannya kau harus menemani dia terus?" Kikik Kiba memberi sindiran secara halus

"Dia akan ke Suna hari ini. Tunangannya masuk rumah sakit." Jawab Naruto tanpa peduli sindiran Kiba.

"Tunangan?" Tanya Kiba memastikan pendengarannya.

"Benar sekali. Sudah satu tahun. Begitu Gaara lulus SMA, dia akan menikah dengan tunangannya."

"Siapa?" Kiba memandang penuh tanya Naruto. Yang ditanya malah mengangkat bahu.

"Entahlah. Waktu itu aku tidak ikut karena sibuk menggantikan Tousan rapat. Saat ku tanyakan Gaara juga dia diam saja."

"Orang tua mu?" Shikamaru yang ikut mendengar sekarang bertanya.

"Sepertinya Gaara sudah mempersiapkan semua. Tousan dan Kaasan bahkan tidak menjawab pertanyaan ku."

Kiba mengerutkan alisnya saat mendengar jawaban Naruto. "Aneh. Kau sepupunya tapi, dirahasiakan. Jangan-jangan tunangannya seorang pria gemuk, janggut lebat, kumis tebal dan suka daun mu..."Belum sempat Kiba menyelesaikan ucapannya, sebuah buku langsung menghantam kepalanya. "...Aduh,duh. Naruto, kau ini apa-apaan sih. Kau tidak lihat buku itu tebal. Sakit tahu." Gerutu Kiba sembari mengelus kepalanya yang terasa bengkak.

"Salah sendiri kau berbicara seperti itu. Gaara itu laki-laki, Kiba. Bukan perempuan." Sungut Naruto kesal.

"Habisnya, sepupu mu enggan memberitahu. Ku kira dia takut memberitahu mu karena tunangannya pria gendut."

"Mendokusei. Kalian heboh sendiri dari tadi. Jadi tidak kami diajak ke rumah mu, Kiba?" Shikamaru yang sudah bosan mendengar pertengkaran Naruto akhirnya menengahi.

"Baiklah. Ayo kita berangkat."

"Tadaima." Sunyi. Itu yang dirasakan Sasuke saat memasuki rumahnya. Ah, bagaimana dia bisa lupa. Sekarang ini ibunya masih dipasar bersama anikinya. Sedangkan ayahnya baru pulang jam sepuluh malam nanti.

Mereka berempat tinggal disebuah rumah kecil layak huni di dekat taman Konoha. Walaupun kecil, rumah itu sangat nyaman untuk dijadikan tempat tinggal. Walaupun hidup mereka pas-pasan. Tapi, bagi Sasuke, asal ada keluarganya, itu sudah lebih dari cukup membuatnya bahagia.

KRUYUK..

Suara perut Sasuke terpaksa menghentikan lamunan singkatnya tentang keluarganya. Perutnya terasa sangat lapar. Dia memang tidak makan setelah dari perpustakaan. Karena dia tadi menabrak Naruto, lebih baik dia memilih kembali ke kelasnya dari pada ke kantin yang akan membuat gempar seluruh sekolah jika dia bersama Naruto.

Sebuah senyum menghiasi wajah manisnya saat mengingat keberuntungan kecil yang didapatnya hari ini. Dengan pelan dia menyentuh lengan yang sudah dipegang oleh Naruto. Mengusapnya lembut. Seolah-olah dia masih merasakan sentuhan yang diberikan pujaan hatinya itu.

KRUYUK...

Suara itu menggema lagi memenuhi telinga Sasuke. Tidak seharusnya dia mengkhayalkan Naruto saat dia kelaparan. Dengan cepat dia menuju kamarnya untuk berganti baju dan cuci muka. Setelah itu mulai memasak untuk makan siangnya. Namun, niat tetaplah niat. Saat melewati cermin kamarnya. Sasuke berhenti dan menatap cermin itu lama. Pelan-pelan dia melepaskan kacamata tebalnya, dan mengerjap pelan saat matanya terasa mengabur. Tapi, setidaknya dia dapat melihat dengan jarak sedekat ini.

Dekat? Wajahnya juga tadi dekat dengan Naruto. Menatap mata, merekam wajah rupawan itu dan merasakan harum nafas yang terhembus dari Naruto. Semua darinya terasa sempurna. Bagaikan melihat pahatan malaikat yang tercipta dari tangan Tuhan.

Pelan-pelan, Sasuke menyentuh bibir merahnya. Ah, bagaimana rasanya bibir Naruto saat mengecupnya? Bagaimana dengan lehernya? Bahkan seluruh tubuhnya? Tidak menunggu lama, nafas Sasuke terasa memburu. Dia seperti membayangkan Naruto ada dihadapannya. Memandangnya penuh nafsu dengan diiringi seringai khas darinya.

"Hah,hah...ngh, Naruto." Desahan penuh nada sensual keluar dari bibir tipis Sasuke. Dia mulai membuka seluruh seragam sekolahnya. Hingga tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun. Perlahan tangannya menuju tonjolan berwarna pink didadanya. Memelintirnya pelan. Berkhayal kalau yang menyentuh tonjolannya adalah Naruto.

Inilah yang biasanya dilakukan Sasuke kalau sedang merindukan Naruto. Ber'solo' ria. Mengeluarkan hasrat terpendamnya akan sentuhan Naruto. Dan sekarang, dia melakukannya lagi karena bisa bersentuhan dengan Naruto. Tangan yang lain juga tidak mau diam. Jari-jarinya yang kurus mulai dilingkarkan ke 'junior'nya yang mulai menegang. Dengan cepat, dia memaju mundurkan tangannya hingga miliknya ereksi sempurna.

"Ngh,,,ngh,,,hah,,,,Na,nh,ruto."

Setelah puas dengan nipple pink nya. Sasuke menghisap kedua jarinya dengan rakus. Seakan jari Naruto yang dihisapnya. Setelah merasa licin, Sasuke mulai memasukkan jarinya ke dalam lubang berkedut miliknya.

"Tadaima."

Mata Sasuke seketika membola mendengar suara yang dihapalnya. Jarinya yang masih di pintu anusnya langsung di tarik. Anikinya sudah pulang. Itu berarti ibunya juga sudah pulang. Dan kebiasaan mereka berdua jika sudah sampai rumah.

"Sasu-chan. Kamu sudah pulang?"

Gawat. Itu suara ibunya. Suara langkah kaki juga terdengar menuju kamarnya. Sasuke yang dalam keadaan telanjang segera mengambil kacamatanya dan mulai memakai pakaian rumah. Tepat ketika dia mengancingkan celananya, suara pintu di buka terdengar.

"Sasuke?" Panggil Mikoto saat membuka pintu kamar Sasuke.

"Okaerinasai." sahut Sasuke cepat. Ada perasaan lega dihatinya saat tubuhnya sudah memakai pakaian secara sempurna. 'Junior'nya juga langsung menyusut saat dia merasa panik tadi.

"Baru pulang, Suke?" Mikoto yang sudah masuk ke kamar Sasuke heran melihat seragam sekolah anaknya tergeletak diatas lantai.

"Hn." Balas Sasuke singkat.

"Sudah makan?" Mikoto tersenyum saat melihat gelengan Sasuke. "...Kalau begitu, Kaasan masak dulu. Nanti Kaasan panggil kalau sudah selesai." Lanjut Mikoto.

Desahan lega keluar dari bibir mungil Sasuke saat mendapati ibunya sudah pergi. 'Hampir saja.' Pikir Sasuke. Dengan tergesa-gesa, Sasuke merapikan seragamnya. Setelah itu, mulai membuka buku untuk mengerjakan tugas sekolah.

"Kau pergi sekarang?" Naruto yang melihat Gaara dengan koper kecil ditangan bertanya saat mereka bertemu di lobby.

"Hn. Aku harus cepat pergi. Kekasih ku harus ada yang menemani." Jawab Gaara. Dia mulai berjalan ke arah mobilnya yang parkir di luar gedung kantor Namikaze Corp.

Naruto melihat jam tangannya. Dia sudah sangat terlambat. Macet di jalan tadi membuatnya harus bergegas ke ruang rapat. Melihat gelagat Naruto. Gaara hanya tersenyum tipis. Dia mengalungkan tangannya ke bahu Naruto yang agak tinggi.

"Tidak usah khawatir. Aku akan di antar supir. Cepatlah ke sana. Aku tadi sudah pamit pada Paman."

"Gomen, Gaara. Kegiatan sekolah yang banyak membuat ku tidak bisa mengantar mu. Ku harap kau hati-hati di sana. Jangan terlalu sibuk mengurus tunangan mu. Jaga kesehatan mu agar kau tidak ikutan sakit." Nasehat Naruto.

"Baiklah. Aku harus segera pergi. Kau juga jaga kesehatan. Bye."

Setelah Gaara tidak terlihat, Naruto bergegas pergi menuju ruangan rapat. Jauh di dalam hatinya, dia sangat khawatir pada Gaara. Dari kecil tubuh Gaara amatlah lemah. Tidak bisa terlalu lelah. Dia hanya boleh keluar kalau di temani oleh Naruto. Sekolah saja harus menjalani home schooling. Makanya, saat mendengar Gaara sudah bertunangan, Naruto berharap orang tersebut dapat menjaga Gaara. Tidak peduli laki-laki ataupun perempuan.

Skip Time

H-2 Taruhan

KIHS terlihat ramai. Apalagi dengan mobil-mobil yang parkir di halaman luas milik KIHS. Semua bercampur baur jadi satu. Jika di lihat, tidak ada yang namanya perbedaan seperti biasa. Tapi, jangan nilai orang hanya dari kulit luarnya. Begitu gerbang KIHS tertutup, di mulailah neraka bagi mereka yang tidak pantas disana.

Sasuke awalnya merasa tenang. Duduk di kelas, menunggu guru, membuka buku yang di pinjamnya dari perpustakaan dan mulai membaca. Yah, awalnya. Itu beberapa menit yang lalu. Sebelum kedatangan Shion dan temannya.

Sasuke tidak kenal dengan gadis itu. Hey, apa yang perlu diketahui dari gadis tersebut. Dia hanya orang miskin. Sedangkan gadis didepannya seperti seorang putri-dilihat dari gayanya-. Melihat dari tatapan tajamnya, hanya satu yang di ketahui Sasuke. Gadis ini datang dengan niat buruk.

Selama ini tidak ada seorang siswi yang membully nya. Mereka hanya mencibirnya, menghujamnya dengan tatapan sinis yang bagi Sasuke sudah biasa. Jirobolah yang selalu bermain fisik dengannya. Tapi, melihat tatapan gasi ini. Sepetrtinya Sasuke tidak sekedar mendapat cibiran dan tatan sinis. Juga kontak fisik yang menyakitkan. 'Hah, luka baru.'b Batin Sasuke kesal. Kemarin, dia memang bisa menyembunyikannya dari orang tuanya. Tidak tahu kalau yang sekarang.

"Uchiha Sasuke?" Tanya Karui mewakili yang lain untuk memastikan dia memang yang dicari oleh mereka.

Melihat anggukan ragu yang di berikan Sasuke. Seketika seringai tipis menghiasi bibir indah Shion. Dia memandang Sasuke dengan intens. Menilai fisiknya dari atas ke bawah. Emastikan apa yang bisa di lihat dari pemuda miskin ini.

"Nama ku Shion." Menjulurkan tangan kearah Sasuke. Shion memandang pemuda itu tajam. Bukan untuk bersalaman. Tapi, langsung menarik kencang rambut Sasuke. Sasuke sampai merasa kalau ada rambut nya yang rontok saat dicengkram kasar oleh Shion. "...Pacar dari Namikaze Naruto. Salam kenal."

'Ini gawat. Benar-benar gawat. Aku harus cepat.' Pemuda dengan rambut jabrik kecoklatan terus berlari kencang menuju kelas M. Kali ini tujuannya adalah pemuda berambut kuning, teman sekelasnya.

SREG

"Naruto." Panggil pemuda itu kencang setelah membuka pintu kelas M. Nafasnya terengah-engah. Matanya mengedar ke penjuru kelas. Mencari sosok yang memang di butuhkannya saat ini.

"Ada apa, Kiba. Kenapa kau berlari seperti di kejar hantu?" Tanya seorang pemuda tampan berambut merah lurus sebahu. Nagato.

"Apa kalian melihat Naruto? Aku sangat membutuhkannya saat ini."

"Kiba?" Kiba menoleh melihat sahabatnya ada dibelakangnya.

"Kebetulan, Shika, shino. Apa kalian melihat Naruto?"

"Dia akan masuk jam ketiga. Dia harus presentasikan proposalnya di kantor. Memang ada apa?" Jawab Shino setelah melepaskan serangga miliknya di dinding yang ada di dekatnya.

"Sial." Umpat Kiba keras saat tidak mendapatkan hasil yang memuaskannya.

"Ada apa?" Shikamaru yang penasaran, akhirnya bertanya.

"Ini amat sangat keterlaluan gawat. Shion menemui Sasuke di kelasnya dan sekarang melakukan aksi pembully-an disana."

'Gawat.'

~~~~TBC~~~~

Akhirnya chapter yang ini selesai juga. Ngomong-ngomong, Ane minta maaf karena menistai simanis Sasuke. Ane g' sengaja. Sungguh. Walaupun akhirnya hanya tertawa ngakak melihat dia g' jadi onani.#wkwkwkwkwkwk. Tenang saja Sasu-chan. Ada saatnya diri mu merasakan kenikmatan yang nyata.#senyummesum.

Btw. Ada yang tahu siapa Hyuuga yang dimaksud dan siapa juga tunangan dari Gaara? Tenang saja. Ada hadiahnya kok. Ciuman mesra dari Orochin. Ha...ha...ha...

Ane bahagia banget karena masih ada yang mau menunggui fict Ane yang satu ini. Syukurlah cara penulisan Ane banyak diterima. Ane memang masih newbie. Tapi, melihat banyak yang review, Ane jadin ngerasa yang paling jago.#digeplak.

Kemaren gomen banget buat midory kun. Ane yang masih newbie g' tahu kalau masih ada lanjutan reviewnya. Sorry bingits deh. Terima kasih juga atas pujiannya. Ane sampai melambung ke langit dan tak tahu cara turunnya. Dan sekarang Ane sudah panjangi chapternya. Terspesial untuk Narusasu day besok. Kalau g' buas nanti Ane buatin yang panjang lagi. Kalau untuk maslah yang ntu tu, tungguin aja terus. Ha...ha...#dilemparpakeduitsegepok.

Onewbiased : Nabrak tembok g'? he...he...

Mizukaze : Ini udah Ane panjangi. Kalau masih kurang Ane usaha-in deh.

Yassir : Makacih, Ane jadi terharu.

Reza08 : Wokelah kalo begitu.

Aicinta : Penasaran, ya? Ane juga.#ditendang.

Rikarika : Iya. Bersakit-sakit dahulu. Bersenang-senang dikasur.#ketawamesum

Thank's a lot of untuk semuanya. Review ya minna. Mau ngasih kritik singkong pedas juga boleh. Dadadadadadadadada...