Discalimer : Masashi Kishimoto
Pairing : Narusasu
Rated : T
Warning : YAOI, OOC, banyak typo disana sini, gaje abal ngebosani, dllllllllll.
JATUH CINTA, EH?
Semua orang di kelas XI A terdiam. Kelas yang biasanya selalu ramai bila tidak ada guru itu sekarang sunyi. Memandang meja tempat Sasuke duduk. Melihat Sasuke yang di kelilingi oleh siswi populer di sekolah mereka membuat rasa puas dan penasaran mendominasi ruangan tersebut. Apa yang dilakukan Sasuke sehingga membuat Shion dan teman populernya yang lain datang? Apa dia akan di bully oleh Shion? Pertanyaan itu terus berkecamuk di kepala mereka. Itu karena Shion tidak pernah menjejakkan kakinya ke kelas biasa seperti mereka. Maka, suatu hal yang aneh, kan kalau dia ada disini. Apalagi, menemui Sasuke dan menarik kasar rambutnya.
Shion terkenal bukan hanya di sekolahnya. Bekerja sebagai model majalah fashion ternama, juga sering membantu ibunya dalam pembuatan design baju terbaru membuat Shion terkenal di beberapa negara. Terkenalnya Shion juga mempengaruhi sikapnya. Sombong, penuh ambisi dan angkuh selalu di padankan dibelakang namanya. Bahkan dalam memilih teman sekalipun.
Shion masih menarik rambut Sasuke dengan kuat. Tanpa peduli erangan kesakitan-walaupun tidak terlihat sama sekali- Sasuke. Wajahnya menunjukkan kemarahan yang luar biasa. Ingatannya tentang Naruto yang menolong Sasuke membuat Shion semakin mengeraskan tarikannya.
"Kau hanya orang miskin yang berusaha mendapatkan pendidikan yang layak disini. Diantara semua orang yang pernah bersekolah di KIHS, bisa dihitung berapa orang yang seperti mu bisa bersekolah disini. Dan diantara mereka semua, hanya kau yang berulah. Apa kau tidak takut kalau beasiswa mu dicabut?" Shion menatap penuh Sasuke. Bibirnya yang manis mendesiskan kata-kata yang membuat semua orang takut. Tangannya yang indah diarahkan ke dagu Sasuke. Mencengkramnya kuat seakan ingin meremukkannya. Bahkan, kuku indah Shion menorehkan luka goresan yang membuat darah Sasuke merembes. "...Kau tahu kan bagaimana rasanya kalau beasiswa mu dicabut?" Lanjut Shion lagi dengan senyuman sinis.
Sasuke hanya diam memandang Shion. Memandangnya tajam seolah ingin menerkamnya.
"Lihat pandangannya, Shion. Ukh,, rasanya menakutkan." Cibir Tayuya pura-pura takut.
Semakin mengeratkan cengkramannya, Shion memandang remeh Sasuke. "Apa? Kau pikir aku takut dengan pandangan mata mu itu? Kau tahu, bahkan dari kecil aku sudah diajari untuk menghadapi pandangan seperti itu."
"Dan apa kalian pikir ini rumah kalian?"
Seketika semua menoleh mendengar suara seorang pria yang berdiri diambang pintu. Tatapan yang tajam dan bekas luka diwajah menyambut mereka.
'Ibiki Sensei.' Entah memang ikatan batin, semua orang menyebutkan nama guru tersebut didalam hati. Tanpa menunggu apapun lagi. Semua murid langsung duduk manis di kursi masing-masing. Mengeluarkan buku yang akan dipelajari mereka dari Ibiki Sensei. Sedangkan Shion dan teman-temannya masih berdiri didekat meja Sasuke.
"Bisa ingatkan aku kalau ini bukan kelas F?" Sindiran Ibiki Sensei segera membuat Matsuri tersadar.
"Gomenasai, Ibiki Sensei. Kami ada sedikit keperluan tadi dengan Uchiha-san." Dengan gugup, Matsuri menjelaskan alasan mereka ada di kelas Sasuke.
"Benarkah? Urusan apa yang kalian maksud? Boleh saya tahu?" Ibiki Sensei segera masuk ke kelas dan meletakkan buku yang dibawanya ke atas meja.
"Hanya urusan kecil. Benarkan teman-teman?" Kali ini Sara yang menjawab. Semua temannya hanya mengangguk kecuali Shion.
"Urusan kecil yang membuat salah satu siswa beasiswa terluka." Pernyataan yang terlontar dari Ibiki Sensei segera membuat mereka terhenyak. 'Gawat' Pikir mereka. "Aku tidak peduli apa urusan kalian pada Sasuke. Ini waktunya kelas ku dimulai. Segera angkat kaki kalian dari sini sebelum ku laporkan pada Kepala Sekolah kalau kalian mengacau di kelas ku." Lanjut Ibiki Sensei dengan tegas.
Dari pada berurusan dengan Ibiki Sensei yang memang terkenal tegas. Shion dan temannya segera melangkahkan kaki mereka keluar kelas. Sebelum keluar, Shion menoleh ke arah Sasuke dan menggerakkan bibirnya dengan pandangan tajam. Lalu, menyusul teman-temannya menuju kelas mereka.
"Sasuke. Pergilah ke UKS dan obati luka mu. Aku tidak ingin salah satu murid yang pandai seperti mu tidak berkonsentrasi saat aku mengajar." Ujar Ibiki Sensei sembari menulis dipapan tulis.
"Baik, Sensei." Balas Sasuke singkat seraya pergi ke UKS diikuti tatapan prihatin dari seorang gadis Hyuuga.
"Nah, anak-anak. Kita mulai pelajaran kita..."
***/***
Kiba, Shikamaru dan Shino duduk gelisah selama pelajaran berlangsung. Sebenarnya hanya Kiba. Karena, terlihat Shino yang masih memandangi serangganya diatas meja. Sedangkan Shikamaru sedang tidur. Kiba menyerapahi temannya. Seharusnya mereka khawatir akan apa yang diperbuat Shion pada Sasuke. Malah mereka asyik dengan kegiatan unik mereka. 'Aaarghhh.' Teriak batin Kiba merana karena dicuekin sahabatnya.
Bukan tanpa alasan Kiba khawatir akan keselamatan Sasuke. Buktinya dia tidak peduli saat Sasuke di bully Jirobo. Dia khawatir karena Shion sudah turun tangan secara langsung untuk menyiksa Sasuke. Shion seorang pencemburu dan posesif. Mendengar gosip tentang Naruto ditambah dia melihat Naruto menolong Sasuke-hal yang tidak pernah dilakukan Naruto sebelumnya- menambah draft panjang penyiksaan Sasuke. Dan itu menghambat aksi taruhan konyol mereka dengan Jirobo. Shion akan semakin mengawasi pergerakan Naruto.
Kiba sebenarnya tidak peduli kalau Sasuke cinta pada Naruto. Toh, kalau terbukti yang keluar juga Sasuke. Begitu juga sebaliknya. Dia tidak akan rugi tentang taruhan ini. Dia dan yang lainnya hanya menganggap ini sebagai selingan saja. Kesibukkan mereka yang tidak mengenal waktu kadang membuatnya bosan. Hingga taruhan dari Jirobo datang padanya.
Flashback On
Kiba, shikamaru dan Shino saat itu duduk diatap sekolah sambil menunggu Naruto yang sedang menelpon ayahnya. Biasalah, masalah bisnis keluarga. Tiba-tiba, handphone milik Kiba berbunyi. Tanpa melihat siapa yang menelponnya, Kiba segera mengangkatnya.
"Inuzuka Kiba?" Tanya seorang laki-laki diseberang telpon.
"Ya." Sahut Kiba malas.
"Aku Jirobo, murid kelas biasa." Ucap orang tersebut yang ternyata Jirobo.
"Hah, mau apa kau menelpon ku?" Mendesah lelah, Kiba menanyakan urusan Jirobo tanpa peduli dari mana laki-laki itu mendapatkan nomornya. Hey, Jirobo juga orang kaya. Dia bisa menyuruh orang kepercayaannya hanya untuk mendapatkan nomor Kiba.
"Aku punya sebuah tawaran untuk mu." Ucap Jirobo tanpa ragu.
Kiba mengangkat alisnya sebelah. Tawaran? Tawaran apa yang bisa membuatnya tergiur? Menoleh ke arah Shika yang tidur dan Shino yang masih bermain dengan serangganya. "...Tawaran apa yang bisa membuat ku tidak merasa bosan."
"Tentang Naruto-san."
Seketika Kiba menendang kaki Shikamaru dan menarik rambut Shino agar dia dapat perhatian dari mereka.
"Aakh, Kiba. Apa yang kau lakukan, hah?" Teriak Shikamaru dan Shino kesal. Tangan mereka mengelus kaki dan rambut yang disakiti oleh Kiba.
"Gomen." Bisik Kiba kecil. Tanpa kata lagi, dia segera mengaktifkan loudspeaker.
"..."
"Lanjutkan." Perintah Kiba pada Jirobo saat tidak mendengar suaranya.
"Apa kalian mengenal Uchiha Sasuke?"
Kiba dan yang lainnya berpandangan. "Bukankah dia anak beasiswa yang sering kau bully." Jawab Kiba heran dengan pertanyaan Jirobo.
"Ya. Aku membully-nya karena dia miskin dan tidak pantas ada disini." Geram Jirobo mengingat wajah Sasuke.
"Dia sudah lulus murni disini. Jadi, tidak ada alasan lain kau menolak keberadaannya." Balas Kiba kesal. Dia pikir ada yang bisa menghilangkan bosannya. Tidak tahunya...
"Ada. Ada alasan lain yang membuat ku benci padanya." seru Jirobo.
"Ya,ya,ya. Itu urusan mu dan bukan urusan..."
"Urusan mu karena ini menyangkut Naruto-san." Potong Jirobo cepat.
"Apa maksud mu?" Shikamaru yang dari tadi diam akhirnya angkat bicara.
"Rupanya ada Shika." Shika memutar kedua bola matanya malas. Jadi, suara teriakannya tadi tidak terdengar? Telinga Jirobo pasti punya kuda nil. Teriakan sebesar itu bahkan tidak didengarnya tadi.
"Jelaskan, Bodoh." Sembur Kiba penasaran.
"Baiklah..." Ada jeda sesaat. "... Sasuke yang ternyata pendiam dan sok dingin itu adalah seorang gay."
Serentak Kiba, Shikamaru dan Shino memutar matanya bosan. Hanya karena itu dia benci. Hey, bung. Pada kenyataannya, Jepang sudah melegalkan hubungan sejenis. Untuk apa dia benci. Ah, Kiba tahu.
"Jadi, dia menolak mu sehingga kau terus membully-nya." Itu bukan pertanyaan, tapi, sebuah pernyataan spontan dari Kiba. Shika dan Shino yang mendengarnya hanya menggeleng miris. Sedangkan Jirobo tersedak ludahnya sendiri. "Pantas saja kau terlihat membencinya. Aku tahu rasanya di tolak-walaupun tidak pernah merasakannya- sehingga kau berbuat seperti itu. Tap..."
"Chotto matte. Bukan karena itu..." Potong Jirobo panik. "Aku bukannya benci karena dia menolak ku. Dan ku pastikan sampai Ibiki Sensei melahirkan anak ular pun aku tetap tidak akan menyukainya. Aku sungguh, amat terasa jijik padanya. Aku tidak suka dengan yang namanya gay. Karena itu aku membencinya." Lanjut Jirobo tanpa peduli Ibiki Sensei bisa mendengar ucapannya tadi.
"Oooooo..." Kiba, Shika dan Shino hanya menganggukkan kepala mereka tanda mengerti. Walaupun Jirobo tidak melihatnya. "Jadi, apa urusannya dengan kami? Kami bukan penggosip." Lanjut Kiba.
" Aku ingin mengeluarkan Sasuke dari sini. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh Naruto-san."
"Ha...ha... Jirobo, percuma kau meminta Naruto mengeluarkan Sasuke. Naruto tidak bisa mengeluarkan Sasuke. Itu tergantung Kepala Sekolah. Bukan dia." Tawa Kiba kencang.
"Seratus persen Naruto-san memiliki akses. Kau pikir aku tidak tahu siapa pemilik yayasan KIHS. Uzumaki, ah, atau ku bilang Namikaze Kushina. Yang pengawasannya dilimpahkan pada Naruto-san."
'Sialan. Sampai mana dia tahu.' Batin tiga sekawan tersebut.
"Lagi pula, ada satu alasan yang bisa membuat Naruto-san mengeluarkan Sasuke."
"Apa itu?" Tanya Kiba cepat.
"Itu karena Sasuke menyukai atau lebih tepatnya mencintai Naruto-san."
Kiba, shika dan Shino terdiam. Mereka saling pandang dengan pikiran yang bercampur aduk. 'Sasuke mencintai Naruto? Sejak kapan?' Begitu pikir mereka.
"Apa untungnya bagi kami?" Kali ini Shino yang bertanya. Memastika Jirobo tidak memanfaatkan mereka karena masalah ini.
"Tidak ada."
"Idiot." Sembur Kiba cepat.
"Kalian mungkin masih ragu dengan ucapan ku. Tapi, aku sering melihat sasuke memandang penuh arti pada Naruto-san dari jauh. Dan aku tahu apa itu." Mereka bertiga masih terdiam. "Begini saja. Kita adakan taruhan. Mulai hari ini sampai seminggu ke depan. Jika Sasuke terbukti mencintai Naruto-san, kalian harus mengeluarkannya dari KIHS. Jika sebaliknya, maka aku dan pengikut ku yang keluar dari KIHS. Deal?"
Shikamaru memandang temannya. "Well, itu cukup adil ku rasa. Bagaimanapun kita tidak dirugikan disini. Anggap saja sebagai penghilang bosan." Bisiknya pelan.
"Bagaimana kalau Naruto tahu? Dia bisa marah nanti." Kiba juga ikut berbisik.
"Kau ingat gosip tentang Naruto gay?" Kiba mengangguk. " Jadikan itu alasan. Bilang kita perlu pembuktian selama seminggu. Dan targetnya mesti Sasuke. Sebisa mungkin kau bersikap wajar. Bukannya kau pintar berbohong?"
"Tapi, ini tentang Naruto. Dia..."
"Kita bisa beri penjelasan yang masuk akal pada Naruto. Menolong Sasuke bisa dijadikan alasan utama." Shino yang dari tadi diam ikut memberikan pendapat.
"Baiklah."
Fashback Off
"...ba."
'Aku harus membuat Shion menjauh dari Sasuke.'
"...iba."
'Kalau dia mengganggu...'
"KIBA."
DUAK
GUBRAK
"Ha...ha...ha..." Tawa seisi kelas memenuhi pendengaran Kiba. Kiba yang dilempar penghapus dan akhirnya terjatuh segera berdiri. Dia langsung menundukkan kepalanya saat melihat tatapan mengerikan dari Asuma Sensei, guru sejarah.
"DIAM." Teriakan Asuma Sensei segera membungkam mulut mereka. Lalu, pandangannya segera beralih kepada Kiba yang masih menunduk. "Apa sebegitu bagusnya cerita ku, Kiba, sehingga kau tidak memperhatikan penjelasan ku? Apa kau mengkhayalkannya? Sampai mana, Kiba?"
GLEK
Suara bel segera menyelamatkan Kiba. Dia menarik nafas yang awalnya lega saat-
"Detensi sepulang sekolah, Kiba."
-Asuma Sensei meninggalkan kata-kata detensi untuknya.
"Hai, Sensei." Jawab Kiba lemas.
***/***
UKS
Sudah dua jam Sasuke berbaring diatas tempat tidur dengan Shizune Sensei yang terus mengawasinya. Dia harus istirahat. Apalagi Shizune Sensei melihat luka yang kemarin di tinggalkan Jirobo. Membuatnya harus melewatkan dua jam penuh pelajaran dari Ibiki Sensei. Semoga saja senseinya itu tidak meninggalkan tugas.
Pelan tangannya terangkat menyentuh bibir bawahnya yang terluka. Daerah itu sudah di tutupi plester luka. Dia tidak tahu apa alasan Shion mengenalkan dirinya dan menyiksanya. Apalagi, kata-kata terakhir yang diucapkannya tadi.
'Kali ini kau selamat.'
Ucapan gadis itu seperti sebuah pernyataan kalau Sasuke akan disiksa lagi olehnya. Apa mungkin berhubungan dengan Naruto? Soalnya tadi ada nama Naruto yang diucapkan gadis itu.
Naruto dan Shion. Siapa yang tidak mengenal mereka berdua. Pasangan serasi, begitu ucapan setiap orang. Sasuke akui Shion cantik, tinggi semampai, menarik dan digilai semua cowok. Tidak sepertinya. Pantas saja Naruto tidak pernah meliriknya. Tak tahukah Sasuke kalau Naruto sudah terkena percikan cinta dari matanya yang indah. Yah, dia tidak tahu. Hanya Kami-sama dan Author lah yang tahu.
Naruto dan Shion sudah pacaran selama sebulan. Rekor terbaru bagi Naruto yang seorang playboy kelas atas. Biasanya dia hanya tahan seminggu. Karin, Sakura, Ino dan masih banyak gadis seksi lainnya yang pernah dipacari oleh Naruto. Bahkan sudah sampai menginap dihotel. Dan selama ini, Sasuke hanya menganggapnya angin lalu. Dia tahu Naruto tidak menyukai mereka. Dan dia masih ada kesempatan untuk membuat Naruto jatuh hati. Walaupun dia tidak tahu kapan waktunya. Dan sepertinya harapan itu harus dipertahankan olehnya saat melihat Shion. Dia harus gencar membuat Naruto jatuh hati padanya. Tapi, melihat kehidupannya yang sekarang. Sepertinya susah untuk membuat Naruto berpaling padanya. Tenanglah Sasuke. Tidak lama lagi akan Author buat hidup mu terasa di surga.
SREG
Suara pintu UKS menyadarkan Sasuke dari lamunannya. Seorang gadis berambut indigo, masuk dengan membawa kantong plastik.
"Ah, Hyuuga-san. Ada apa?" Tanya Shizune saat melihat gadis Hyuuga itu masuk ke ruangannya.
"Saya mau memberikan makanan ini pada Sasuke-san." Jawabnya sambil menunjukkan kantong di tangannya.
Shizune tersenyum lembut mendengar ucapan gadis itu. 'Ternyata masih ada yang peduli pada Sasuke.' Pikirnya.
"Baiklah. Sensei juga harus pergi. Ada urusan sebentar. Tidak apa, kan kalau kau jaga Sasuke sebentar?"
"Tidak apa-apa, Sensei."
"Nah, Sasuke. Sensei ingin kau minum obat ini setelah makan nanti. Setelah itu, kau boleh kembali ke kelas mu. Dan jangan terlibat hal-hal yang aneh lagi." Pesan Shizune sembari meletakkan obat diatas meja kerjanya. Sedangkan Sasuke hanya memutar matanya kesal. "Sensei pergi dulu." Pamitnya.
Sepeninggalnya Shizune, atmosfir ruangan tersebut berubah canggung. Bukan berasal dari Sasuke. Tapi, dari gadis Hyuuga itu.
"Aku sudah pernah bilang pada mu, Hyuuga-s..."
"Hinata. Panggil nama ku Hinata. Itu terdengar lebih baik dari pada kau memanggil dengan nama ku." Potong Hinata saat Sasuke masih memanggilnya dengan marganya.
"Aku tidak peduli siapa nama mu. Yang aku pedulikan adalah jangan dekati aku lagi. Aku tidak ingin dalam masalah kembali." Ujar Sasuke tegas.
Hinata terdiam mendengarkan ucapan sasuke.
"Kau memang mudah berteman dengan siapapun karena kau bukan aku. Aku yang miskin ini akan semakin di bully jika dekat dengan mu. Aku tidak tahu apa masalah mu pada ku. Yang pasti, jauhi aku mulai sekarang. Jangan sok perhatian pada ku. Kalau kau hanya sekadar kasihan, segeralah pergi."
"Apa begitu tanggapan mu pada semua orang?" Tanya Hinata dengan wajah menantang. "Sekeras kepala apapun diri mu Sasuke-san. Aku akan tetap di samping mu. Berteman dengan mu tanpa peduli siapa diri mu. Jangan pedulikan orang lain. Kita semua sama. Makan nasi yang sama, sekolah yang sama, semuanya sama. Yang berbeda hanya takdir dari orang tersebut. Takdir ku menjadi keluarga Hyuuga. Sedangkan diri mu Uchiha. Buktikan pada mereka, kau tidak seperti murid beasiswa lainnya. Kau adalah Sasuke. Uchiha Sasuke. Teman dari Hyuuga Hinata."
Tatapan penuh keyakinan dilayangkan Hinata. Entah kenapa saat mendengar pernyataan Hinata di akhir kalimat, membuat keyakinan di diri Sasuke bangkit. Selama ini Sasuke tidak pernah percaya orang lain selain dirinya dan Naruto. Mereka hanya menganggap Sasuke seorang pemuda miskin yang tidak pantas sekolah disini. Sasuke merasa dirinya kecil dimata mereka. Atau...karena dia merasa seperi itu, makanya mereka tidak menganggapnya.
"Seseorang pernah bilang pada ku. Jangan pernah merasa kecil didepan orang lain. Saat itu yang kau rasakan, orang lain juga ikut merasakan. Tampil menjadi diri sendiri itu lebih baik. Saat itu yang kau lakukan, tanpa sadar orang lain akan terus memperhatikan mu. Dan kau tidak bisa melakukannya tanpa seorang teman." Lanjut Hinata saat melihat Sasuke terdiam. "Itu adalah kata-kata yang diberikan oleh seseorang yang berarti untuk ku. Yang jelas, aku ingin mengajak mu menerapkan kata-kata tersebut." Tambahnya lagi.
"Kenapa kau memilih ku?"
"Karena kita sama."
***/***
Sebuah mobil sport hitam keluaran terbaru memasuki kawasan KIHS. Kegiatan belajar yang masih berlangsung membuat halaman yang biasanya ramai dengan suara perempuan saat mobil itu muncul kini sunyi. Mobil itu menuju ke tempat parkir dan memakirkannya di tempat khusus miliknya. Setelah terparkir secara sempurna, si pengemudi pun turun dengan seragam KIHS nya. Seorang pemuda tampan, bertubuh atletis dan tinggi, rambut pirang, mata sebiru lautan dengan kulit tan-nya yang seksi terlihat keluar dari mobil tersebut. Menuju gedung disebelah kirinya, naik kelantai dua dimana kelas M, berada.
Naruto, nama pemuda tersebut, memasuki kelasnya yang terlihat ramai. Padahal masih ada kegiatan belajar setelah Asuma Sensei. Dia arahkan matanya ke satu tempat. Yakni, tempat tiga sahabatnya.
"Hai, guys." Sapa Naruto begitu dekat dengan mereka.
"Merepotkan." Sudah jelas ini siapa.
"Hidup mu memang merepotkan Shika."
"Naru, kau datang, serangga ku hilang." Nah, ini yang absurd.
"Serangga itu tempatnya di luar. Bukan di dalam."
"..."
"Kenapa, Kiba? Tumben layu seperti Orochimaru." Tanya Naruto saat Kiba tidak membalas sapaan hangatnya.
"Siapa Orochimaru?"
"Banci yang buka salon dekat rumah." Balas Naruto dengan jahil.
"Sialan." Umpat Kiba keras.
"Ok. Aku serius. Kau kenapa?"
"Hah, Asuma Sensei memberikan detensi pada ku." Sahut Kiba malas memasang tampang merana.
"Lho, kenapa?"
"Dia melamun." Kali ini Shino yang menjawab.
"Lho, kenapa?"
"Serius, Naruto. Jangan bertingkah aneh disaat aku lagi kacau." Sungut Kiba saat Naruto mengerjainya.
"Ha..ha..ha... Habis tampang mu sangat aneh. Mirip..."
"Mirip?" Kiba penasaran dengan ucapan menggantung Naruto.
"Mirip Orochimaru. Ha...ha...ha..."
"Sialan kau ini. Aku kacau sekarang. Kau harusnya menghibur ku."
"Jangan diambil hati, Kiba. Paling hukumannya membersihkan toilet." Hibur Naruto masih dengan seringaian lebar.
"Ini juga gara-gara kalian berdua." Tuduh Kiba sambil menunjuk Shikamaru dan Shino.
Mengangkat alisnya, Naruto menyuruh Kiba melanjutkan.
"Aku sibuk berpikir, bagaimana caranya agar Shion tidak membully Sasuke. Eh, mereka malah tidur dan bermain dengan serangganya. Tidak memberitahu aku kalau Asuma Sensei memanggil. Dan sekarang aku terkena detensi. Pokoknya kalian berdua bantu aku."
"Shion membully Sasuke?" Tanya Naruto memastikan pendengarannya tidak salah.
Kiba mengangguk. "Tadi pagi, saat aku melintas di kelas F. Siswi disana mengatakan kalau Shion ke kelas biasa untuk menemui Sasuke. Coba kau tebak? Shion, kelas biasa dan Sasuke. Apa kesimpulan yang kau dapatkan?"
Mata Naruto melebar menanggapi cerita Kiba. Itu berarti hanya ada satu alasan. Shion takut gosip tentangnya benar. Ini benar-benar gawat. Shion mudah cemburu. Kalau melihat...Tunggu dulu.
"Kiba. Kenapa Shion bisa menemui Sasuke? Apa dia tahu tentang rencana ini?"
"Ku rasa tidak. Shion melihat kau menolong Sasuke waktu itu. Yah, kau tahulah seorang yang mudah cemburu sepertinya. Dia pasti memikirkan hal yang tidak-tidak tentang kalian. Apalagi saat mendengar gosip murahan tentang mu itu."
"Shit. Kalau seperti ini semua bisa kacau."
"Sebenarnya ada baiknya juga kalau Shion membully Sasuke." Ucap Shikamaru dengan wajah mengantuk. "Pembully-an itu bisa dijadikan alat untuk membuktikan Sasuke tidak menyukai mu. Dengan begitu, Jirobo akan keluar dari sekolah ini. Yah, walaupun Sasuke yang jadi korbannya."
"Itu tidak bisa Shikamaru. Sasuke akan terluka kalau Shion sudah ikut campur. Dia akan menghasut semua orang untuk melukai Sasuke. Dan itu adalah hal terakhir yang aku inginkan terjadi."
"Lalu kau mau apa?" Sembur Kiba cepat melihat sikap Naruto. "Kalau kau terlalu perhatian pada Sasuke, dia akan jatuh cinta pada mu. Dan hus, dia akan langsung keluar dari KIHS tanpa diterima sekolah manapun di Jepang. Kalau Jirobo, dia bisa pergi keluar negeri dan sekolah disana. Lah, Sasuke. Pakai uang siapa sekolah keluar negeri? Kau mau membiayainya?"
"Bukan begitu juga, Kiba. Aku..."
"Putuskan Shion." Ucap atau perintah Shino dengan mutlak.
"Kau jangan bercanda, Shino. Aku bahkan belum menyentuh Shion sama sekali. Dan kau langsung menyuruh ku memutuskannya. Dimana otak mu Shino? Atau kau tinggal di kandang serangga mu?" Bentak Naruto marah. Syukurlah kelas sedang ramai sehingga tidak mendengar bentakan dari Naruto.
"Naru, kalau kau memilih Shion. Dia akan punya alasan untuk membully Sasuke. Kalau kau putus dengannya. Kau bisa mengancamnya tanpa embel-embel hubungan kalian. Lagi pula, masih banyak wanita cantik dan seksi di dunia ini. Bukan hanya Shion. Perawan seperti Shion bisa kau dapatkan dimana pun dan kapan pun." Jelas Shikamaru hati-hati agar Naruto mengerti.
"Kalau kau memilih Shion. Kau harus rela melihat Sasuke di bully. Dengan begitu Sasuke bisa bertahan disini. Setelah Jirobo keluar, kau bisa melakukan apapun. Termasuk menolong Sasuke dari pembully-an." Lanjut Kiba.
"Jadi, pikirkan keputusan mu? Sasuke atau Shion?" Tambah Shino kemudian.
Jadi, siapa yang harus Naruto pilih?
~~~~TBC~~~~
ALLOOHHAAA
Akhirnya ini selesai juga. Huwa... Oh iya, Ane belum nyanyi buat NaruSasu Day. Ehem, ehem#pegangmicalaSyahroni.
Congratulation and Celebration, na, na, na, na#ditimpuksendalkarenasuarajelek.
Ane bahagia banget. Tidak sia-sia pengorbanan Ane menunggu menahan kantuk hanya untuk mengucapkan NaruSasu Day. Tak apalah. Hasilnya juga setimpal.
BTW, anyway, subway and bajay. Ane bersyukur fict pertama Ane yang ini mendapat sambutan yang hangat. Dari cahapter 1 sampai 4 banyak yang senang. He...he...Ane jadi malu.#dilempar.
Mungkin ada yang penasaran kenapa Ane ga' buat Hinata gagap. Karena...jeng...ji...eng... Ane malas. Lagi pula, pengen banget lihat Hinata yang tegas dan berani. Dan akhirnya kesampaian. Buat readers yang bisa nebak. Ingatkan hadiahnya apa?#ketawasetandenganOrochin.
Wokeh, waktunya balas review.
Guess : Tsundere sih, makanya Ane siksa#dichidori.
Tenang ja, setiap orang pasti da rasa peduli. Walaupun tidak ditunjukkan. Termasuk Ane. Ane siksa terus Suke-chan disini. Ujung-ujungnya dapat Naru, kan? He...he... Pertanyaan mu selanjutnya sudah ketebak kan?#pamergigialaLee.
Yassir : Ng,,,,, ini bukannya T?#garukgarukkepala.
Deichan : Woah, Deichan, un. Terima kasih buat ngingetin Ane. Ane hanyalah bocah umur 10 bulan (?), yang membacapun tidak bisa^.^. Kaih masukkan terus yah Deichan, un.
Xilu : Apanya yang polos.#ngelirikSasulagigituanmaNaru.
Sasu mah, kalau disodori Naru lagi telanjang langsung nangkep.#diamaterasu.
Huwaaa, Xilu. Pantes aja bawang bombay dirumah habis. Ente embat ya?
Reza08 : Tenang aja, Ane g' bakalan memisahkan mereka. Siapapun itu. Cuit, cuit.
Mizukaze naru : Ini udah Ane munculin. He...
Aicinta : Wah, Ente hebat bisa nebak siapa Hyuuga yang diatas. Padahal Hinatanya ga' Ane buat gagap. Nih hadiahnya#langsunglemparOrochinkeAi. Kalau masalah lemonan Ane g' bisa. Setiap keingat lemonan NaruSasu, Ane langsung konslet. Maafin yak...
Kalau ada yang tidak terbalas, Ane minta maaf. Ane hanya manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Kalau ada typo, Ane juga minta maaf. Padahal sudah diulang berapa kali baca. Tetap aja nemuin typo. Weleh,,,weleh...
Niat review, kan?
