Discalimer : Masashi Kishimoto

Pairing : Narusasu

Rated : T

Warning : YAOI, OOC, banyak typo disana sini, gaje abal ngebosani, dllllllllll.

JATUH CINTA, EH?

Shion terlihat duduk dengan gelisah. Menatap gedung di seberangnya dengan tajam. Tadi, dia gagal membully Sasuke. Kehadiran Ibiki Sensei membuat semua berantakan. Seharusnya anak miskin sialan itu langsung saja di siksanya. Tidak perlu memberikan ancaman. Dan saat istirahat nanti, itu akan dilakukan olehnya.

"Shion, apa yang kau lihat?" Matsuri bertanya dengan mata sesekali melirik pada Shion.

"Kau tidak perlu tahu, Matsuri. Yang pasti, saat istirahat kita harus langsung ke sana. Menemui bocah culun itu dan menyeretnya ke taman tidak terpakai."

"Bagaimana kalau Sensei tahu kita membully Sasuke?"

Shion segera mengalihkan matanya pada Matsuri. Tatapan tajam diberikan tanpa menguranginya sedikitpun. "Apa kau bodoh? Sensei tidak peduli apa yang akan kita lakukan pada Sasuke. Jirobo sebagai buktinya." Jelasnya.

Matsuri hanya diam mendengarkan ucapan Shion. Baginya, jangan memancing kemarahan Shion lebih dari ini. Kalau sampai Shion semakin marah, maka dia yang akan di bully oleh Shion.

"Pastikan kalian semua ada di sana. Satu orang tidak hadir dari kalian, rasakan neraka sesungguhnya."Ancaman Shion membuat Matsuri bergidik.

.

.

.

Sasuke dan Hinata melangkah beriringan menuju kelas mereka. Sesekali Sasuke melirik Hinata sembari memikirkan perkataan gadis Hyuuga itu.

"Seseorang pernah bilang pada ku. Jangan pernah merasa kecil didepan orang lain. Saat itu yang kau rasakan, orang lain juga ikut merasakan. Tampil menjadi diri sendiri itu lebih baik. Saat itu yang kau lakukan, tanpa sadar orang lain akan terus memperhatikan mu. Dan kau tidak bisa melakukannya tanpa seorang teman."

Mungkin itu yang di rasakannya sampai saat ini, hingga mereka memandang remeh dirinya. Hingga Naruto tidak pernah meliriknya. Apa dia harus menunjukkan sifatnya yang asli agar mereka mau peduli padanya? Agar Naruto mau melihat sedikit saja padanya. Tidak! Itu tidak akan di lakukannya. Kalau dia melakukannya dan kemudian Naruto peduli padanya. Itu berarti Naruto hanya melihatnya saat berubah.

'Seperti apapun diri ku, Naruto pasti akan melihat ku. Tidak peduli aku kutu buku, jelek, dingin atau apapun. Naruto pasti memandang ku.' Pikirnya penuh tekad.

"Sasuke, kau kenapa?" Hinata yang heran melihat Sasuke dari tadi mengangguk, tersenyum dan cemberut sendiri jadi khawatir.

"Tidak apa-apa Hinata."

"Baiklah. Kalau kau ada masalah, cerita saja pada ku."

"Hn."

Hinata memandang wajah Sasuke. Dia tahu kalau pemuda itu sedang memikirkan sesuatu. Sesuatu yang penting berhubungan dengan ucapannya saat di UKS.

Flashback On

"Kenapa kau memilih ku?"

"Karena kita sama."

"Apa maksud mu?"

Hinata menatap Sasuke sebentar, sebelum mengalihkan perhatiannya ke arah jendela UKS. "Ini bermula dari keluarga ku. Klan Hyuuga adalah salah satu klan yang masih memegang teguh tradisi. Ayah ku, Hiashi Hyuuga adalah ketua klan Hyuuga. Seharusnya dia mempunyai anak laki-laki sebagai penerus klan. Tapi, yang terlahir adalah perempuan. Aku dan adik ku Hanabi Hyuuga. Ibu ku pun meninggal saat melahirkan Hanabi, hingga ayah tidak punya pilihan lain. Akhirnya dia mendidik kami seperti seorang anak lelaki."

"Itu artinya dia tidak mengakui kalian. Kalian berdua adalah perempuan. Seharusnya di didik sebagaimana mestinya." Protes Sasuke tidak setuju.

"Kau benar, Sasuke. Tapi, adakalanya seseorang ingin punya anak yang sesuai harapan. Dan harapan ayah ku adalah anak laki-laki yang tidak bisa di berikan oleh ibu. Kami yang sayang pada ayah mengikuti keinginannya. Melakukan pelatihan sesuai adat klan Hyuuga untuk seorang anak lelaki. Hingga terpilihlah Hanabi."

"Adik mu yang terpilih? Kau anak pertama. Seharusnya..."

"Kau benar. Seharusnya aku yang menjadi ketua klan..." Potong Hinata. "Tapi, tubuh ku yang memang lemah sedari dulu, tidak sanggup mengikuti pelatihan adat yang memang berat. Aku melihat tatapan ayah waktu itu pada ku. Dia merasa kecewa. Aku tahu itu tanpa di ucapkan melalui bibirnya." Lanjutnya.

Sasuke memandang Hinata prihatin. Tidak di akui teman itu lebih baik dari pada tidak di akui oleh seorang ayah.

"Aku iri pada Hanabi. Selalu dia yang mendapat perhatian ayah. Selalu dia yang bisa membuat ayah tersenyum bangga. Aku juga ingin menjadi seperti Hanabi. Tapi, apapun yang aku lakukan sudah membuat ayah kecewa. Hingga membuat ku frustasi dan berniat bunuh diri."

"Astaga, Hinata. Apa kau benar-benar melakukannya?"

"Tidak. 'Sang Penyelamat' keburu datang. Dia menasehati aku tentang segalanya. Apa yang ku katakan pada mu adalah ucapannya tempo hari. Aku mengikuti sarannya. Menjadi diri ku sendiri lebih baik. Rambut ku yang semula pendek seperti laki-laki kini panjang. Aku yang biasa memakai pakaian cowok, kini memakai rok. Pokoknya aku berubah." Jelas Hinata dengan senyuman manis.

"Jadi, siapa 'Sang Penyelamat' mu itu?"

"Sepupu ku, Neji Hyuuga."

Flashback Off

Hinata tersenyum tipis. Memandang Sasuke dengan lembut dan mengucap janji dalam hati. 'Tak akan ku biarkan kau mengalami hal yang sama seperti yang ku rasakan, Sasuke.'

.

.

.

Selama dua jam pelajaran Matematika yang di bawakan oleh Kakashi Sensei tidak membuat Naruto konsentrasi. Pikirannya bercabang entah kemana. Perkataan ketiga temannya masih mengusik.

"Naru, kalau kau memilih Shion. Dia akan punya alasan untuk membully Sasuke. Kalau kau putus dengannya. Kau bisa mengancamnya tanpa embel-embel hubungan kalian. Lagi pula, masih banyak wanita cantik dan seksi di dunia ini. Bukan hanya Shion. Perawan seperti Shion bisa kau dapatkan dimana pun dan kapan pun."

"Kalau kau memilih Shion. Kau harus rela melihat Sasuke di bully. Dengan begitu Sasuke bisa bertahan disini. Setelah Jirobo keluar, kau bisa melakukan apapun. Termasuk menolong Sasuke dari pembully-an."

Naruto memejamkan matanya. Sekelebat wajah Sasuke tanpa kacamata muncul di pikirannya. Mata onix nya membuat Naruto membeku. Membuat dadanya berdebar tidak menentu.

'Kenapa aku tidak mau melihat dia susah?'

'Apa aku kasihan padanya?'

'Atau...'

KRING KRING

Suara bel tanda istirahat mengaget kan Naruto yang memang sedang melamun. Dia segera merapikan bukunya dan bergegas keluar setelah selesai. Ketiga temannya yang melihat hanya tersenyum tipis.

"Ku rasa dia sudah memilih." Ucap Kiba dengan mata masih menatap pintu yang baru di lewati Naruto.

"Hooaamm, aku akan mendukungnya apapun yang terjadi."

"Hn. Ku harap dia tidak menyesal."

.

.

.

SUNA

Gaara memandang bangunan di depannya. Setelah menghembuskan nafasnya pelan, dia mulai beranjak masuk ke dalam bangunan serba putih itu.

Suasana ramai segera menyambutnya. Terlihat orang hilir mudik melewatinya. Yang lebih dominan adalah warna putih khas rumah sakit. Ya, Gaara kini berada di rumah sakit. Menjenguk tunangan yang katanya sakit. Walaupun Gaara tidak percaya seratus persen.

Gaara langsung masuk ke dalam lift tanpa menemui bagian resepsionis. Dia sudah tahu dimana ruangan tunangannya dari orang tuanya. Seharusnya dia menjenguk kemarin. Tapi, karena dia kelelahan, terpaksa hari ini dia menjenguk.

TING

Keluar perlahan dari lift, Gaara segera menuju ruangan sebelah kanannya. Ruangan VVIP 1, tempat tunangannya di rawat. Matanya memandang pintu di depannya setelah sampai. Memantapkan hati untuk bertemu dengan tunangannya.

SREG

"Aah, akhirnya kau datang juga. Aku bosan menunggu mu, Sayang." Ucap seorang pemuda bersurai coklat panjang dengan ujung rambutnya yang di ikat dan mata ametyhs nya.

"Hn. Apa kabar mu sekarang, Neji?" Tanya Gaara setelah memasuki ruangan itu.

"Aku baik. Kau?"

GEPLAK

"Baik juga setelah memukul kepala kosong mu itu." Jawab Gaara setelah memukul kepala Neji dengan kepalan tangannya.

"Sakit, Gaa-chan. Kau tega sekali sih melihat kekasih mu terluka." Ringis Neji menyentuh kepalanya yang terasa benjol.

"Salah sendiri. Kenapa kau seperti orang gila yang ingin segera bertemu dengan ku? Kau tidak tahu aku sibuk, hah?!"

"Ugh, sorry Gaa-chan. Habisnya, kau lebih memilih sepupu mu itu dari pada aku. Aku juga butuh perhatian mu Gaa-chan."

"Jangan manja, Neji. Salah kau sendiri kenapa mau kuliah di sini. Jadi, jangan salah kan aku yang lebih perhatian pada sepupu ku yang memang tampan itu."

"Hiks, kau jahat Gaa-chan." Neji menutup wajahnya pura-pura menangis.

"Sudahlah, Neji. Tidak perlu pakai air mata buaya. Kau sudah buaya dari sananya."

Neji menghentikan aktingnya dan memandang Gaara. "Dia menjaga mu disana, kan?"

"Ya. Dia selalu menuruti keinginan ku. Sampai gosip itu beredar."

"Setelah sembuh, aku akan minta maaf padanya secara langsung. Tidak enak menyembunyikan hal ini padanya. Apalagi, setelah kejadian 'itu'."

"Hn. Aku akan membantu mu. Sekarang, makan yang banyak agar kau sehat. Aku sudah menyiapkan ini dari rumah. Jadi, kau harus makan sampai habis tak bersisa." Ujar Gaara sembari mengeluarkan sebuah bento dari kantong yang di bawanya.

"Ha'i."

.

.

.

Shion kini berada di depan kelas biasa. Tepatnya kelas Sasuke Uchiha. Dia sedang menuggu teman-temannya untuk menyeret Sasuke menuju taman di belakang gedung ini. Sesekali dia melihat arloji ditangan kirinya.

'Kenapa mereka lama sekali?' Gerutu Shion dalam hati

"Ku bilang, lepaskan Sasuke!"

Suara keras dari dalam kelas yang ada di depannya membuat Shion penasaran. Sudah di pastikan kalau suara tadi adalah suara seorang perempuan. Tapi, siapa yang berani menghalangi temannya untuk menyeret Sasuke keluar?

Shion yang penasaran akhirnya masuk ke dalam. Pemandangan di depannya segera membuat dia marah. Disana, di kursi belakang tempat Sasuke duduk. Berdiri seorang cewek bersurai indigo dengan mata amethys menghadang teman-temannya untuk menyeret Sasuke.

"ADA APA INI?" Teriaknya keras.

Keempat temannya menoleh ke arah teriakan yang ada di belakang mereka. Melihat Shion di depan mereka segera membuat mereka senang.

"Kami sudah mau menyeret Sasuke. Tapi, cewek ini dengan beraninya menghalangi kami." Jelas Tayuya sembari memandang sinis Hinata.

"Dan kenapa bisa seorang cewek sendirian sepertinya bisa membuat kalian tidak berkutik?" Geram Shion.

"Dia Hinata Hyuuga, ketua karate putri." Jelas Karui tenang.

Penjelasan Karui membuat Shion semakin berang. "Kenapa kalau dia bisa karate? Kalian bisa keroyok dia."

"Hyuuga. Apa kau tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya, Shion-san?" Tanya Hinata dengan senyuman tipis.

Shion memandang Hinata penuh penasaran. Hyuuga. Sepertinya dia pernah mendengar marga itu. Itu, kan...

"Neji Hyuuga, model terkenal yang sangat susah untuk di ajak bekerja sama. Kau harus menunggu lama baru dia mau bekerja sama dengan mu. Bukankah ibu mu bekerja sama sekarang dengan Neji Hyuuga? Kalau aku tidak salah dengar, Shion-san. Ibu mu butuh setengah tahun baru bisa bekerja sama dengannya. Apa aku salah?" Ucap Hinata dengan nada penuh mengancam.

'Sial.' Umpat Shion dalam hati. Perkataan gadis itu memang benar. Ibunya memang perlu setengah tahun untuk bisa bekerja sama dengan Neji yang seorang model Internasional melebihi dirinya. Jika gadis itu bisa tahu seperti ini. Itu artinya ini bukan sekedar ancaman. Gadis itu bisa langsung membuat ibunya mengulang semuanya dari awal.

"Kali ini kau selamat, Sasuke. Tapi, tidak ada lain kali. Ayo teman-teman."

Hinata memandang tajam Shion dan temannya yang sudah menghilang di balik pintu. Setelah itu, dia juga memandang sekelilingnya dengan penuh ancaman.

"Jangan kalian kira ancaman terselubung ku tadi hanya untuk Shion dan temannya. Kalian juga, jika menyakiti teman ku Sasuke. Akan ku pastikan kalian hanya tinggal nama."

Mendengar ancaman yang pastinya tidak main-main, mereka segera menganggukkan kepala mereka dengan cepat.

"Bagus." Hinata lalu mengalihkan pandangannya pada Sasuke. "Mau ke kantin." Tawarnya.

"Tidak. Aku mau ke perpustakaan." Ujar Sasuke sembari bangkit dari kursinya.

"Mau ku temani?"

"Tidak usah."

"Kalau begitu aku mau ke kantin dulu. Jaa, Sasuke. Beritahu aku kalau kau di bully."

"Hn."

Sasuke terus memandang punggung Hinata sampai menghilang di balik pintu. Tanpa memandang wajah teman-temannya yang lain. Dia segera beranjak dari sana menuju tempat favoritnya.

Kalau di pikir-pikir, Sasuke malu sebenarnya di tolong oleh seorang perempuan. Padahal dia adalah laki-laki. Tapi, mengingat ucapan Hinata yang mengajaknya berteman, membuat Sasuke paham. Kalau teman akan saling melindungi apapun yang terjadi. Dan Sasuke tidak akan membiarkan Hinata yang selalu menolongnya. Dia akan membantu Hinata jika dia butuh pertolongan.

BRUK

Sasuke yang dari tadi melamun tidak sadar kalau dia menabrak seseorang. Matanya segera melihat wajah yang ada di depannya.

"Hai, Sasuke. Merindukan ku?"

'Jirobo.'

"Dan jangan lupakan aku juga, Sasuke."

Sasuke menolehkan pandangannya ke arah belakang Jirobo. 'Shion.'

GREP

Teman-teman Jirobo segera mengangkat Sasuke menuju taman belakang. Sasuke yang tidak suka di perlakukan seperti itu, segera memberontak.

"Lepaskan aku, Jirobo."

"Wah, wah. Semenjak di lindungi oleh Hyuuga itu. Kau semakin berani Sasuke. Tenang saja. Kau tidak hanya dapat salam dari ku. Tapi, dari Shion juga. Benarkan?" Tanya Jirobo pada Shion yang ada di belakangnya.

"Kau benar." Balas Shion dengan seringai tipis.

BRUGH

Tubuh Sasuke yang memang kecil di lempar di atas tanah. Tubuhnya segera di ikat ke pohon dengan tali yang sudah di persiapkan oleh kelompok Jirobo.

"Lepaskan aku. Apa yang mau kalian lakukan?" Dengan panik, Sasuke berusaha melepaskan tali yang terikat kencang di tubuhnya.

Shion menatap Sasuke dengan tajam. Seringai kepuasan terpasang di wajah cantiknya. Beruntung dia bertemu Jirobo tadi. Dengan sedikit kebohongan kecil, dia bisa menyiksa Sasuke tanpa adanya Hinata.

Dengan langkah anggun, dia mendekati Sasuke. Mencengkram kepalanya dengan kuat hingga membuat Sasuke meringis sakit.

"Kau tahu, Sasuke. Kalau kau menjadi anak baik, aku tidak akan menyiksa mu seperti sekarang. Tapi, karena kau berulah. Aku juga tidak akan tinggal diam." Ucap Shion dingin. "Ah, bukankah ayah mu seorang cleaning service di percetakan. Ibu dan kakak mu juga menjual buah di pasar. Bagaimana ya kalau mereka ku buat tersiksa? Kau tentu paham maksud ku kan, Sasuke." Lanjutnya dengan ancaman.

Mata Sasuke seketika membola. "Ku mohon jangan keluarga ku. Mereka tidak tahu apa-apa. Kalau mau memukul ku, pukul saja. Aku terima. Tapi, jangan keluarga ku yang di ganggu. Hiks, hiks." Isakan kecil terdengar dari Sasuke. Runtuh sudah pertahanan dirinya selama ini saat mendengar keluarganya dimasuk kan ke dalam ancaman Shion. Kalau sampai keluarganya tersiksa karenanya, dia tidak tahu apalagi yang harus di lakukan.

"Uuhhhh, kau lihat, Jirobo. Ternyata si cupu ini bisa menangis juga. Ha...ha..." Tawa kesenangan tidak hanya dari Shion. Tapi, dari teman-temannya dan kelompok Jirobo juga ikut tertawa senang. Mungkin hanya satu orang saja yang terlihat sedih. Orang itu adalah Matsuri.

"Kalian dengar tadi katanya. Dia rela di pukuli asalkan keluarganya tidak di ganggu. Jadi, bagaimana kalau kalian buat dia babak belur sekarang." Tawaran itu datang dari Jirobo. Dan tentu saja, pengikutnya tidak akan menyia-nyiakan hal tersebut. Pukulan dan tendangan terdengar memenuhi area taman yang terbengkalai itu.

Sasuke hanya bisa pasrah. Lebih baik dia di pukuli dari pada keluarganya di ganggu oleh Shion. Air mata masih mengalir di wajahnya. Seharusnya, dia tidak sekolah disini. Seharusnya, dia bersekolah di tempat biasa. Seharusnya dan seharusnya. Itulah yang ada dipikiran Sasuke.

"Cukup." Ucapan keras dari Shion menghentikan pembully-an yang dilakukan kelompok Jirobo. Matanya segera memandang Sasuke yang hampir pingsan. "Sepertinya dia sudah sekarat. Tinggalkan saja dia disini dengan tangan terikat. Biarkan dia membusuk disini." Lanjutnya dengan kejam.

"Shion. Dia sudah terluka parah. Setidaknya kita buka ikatannya agar dia bisa pergi send..."

"MATSURI." Panggilan penuh kemarahan menghentikan protes yang di berikan Matsuri. "Jangan sok ikut campur. Atau, kau ingin menggantikan dia. Terikat di sana dengan wajah babak belur." Ancam Shion.

"Ma-maaf kan aku." Cicit Matsuri ketakutan.

"Huh, jangan berani menentang ku, Matsuri. Aku bisa melakukan apapun yang aku ingin kan. Termasuk menyiksa mu."

"Maaf."

Shion kembali memandang Sasuke. "Ini peringatan terakhir, Culun. Jangan berulah di sini kalau kau ingin selamat. Ayo kita pergi."

Mata Sasuke mengabur. Darah sudah melumuri tubuh dan wajahnya. Dia tidak tahu pada siapa minta tolong. Tempat ini tidak pernah di datangi orang selain dirinya semenjak tidak di gunakan lagi. Satu-satunya orang yang di harapkan oleh Sasuke menolongnya adalah Hinata.

'Semoga Hinata tahu aku ada di sini.' Doanya dalam hati.

.

.

.

Naruto sekarang ada di atap. Dia sedang memikirkan alasan tentang kepeduliannya terhadap Sasuke. Tapi, setiap memikirkannya, Naruto selalu terbayang onix Sasuke. Sehingga membuat alasan yang tadinya sudah tersusun kembali hilang.

DRAP DRAP

Suara langkah kaki memenuhi pendengaran Naruto. Pintu yang tertutup rapat kini terbuka menampilkan wajah cantik kekasihnya.

"Naruto-kun. Aku mencari mu dari tadi." Ucap Shion dengan senang. Dia segera memeluk Naruto yang berdiri dekat dengan pagar pembatas atap. "Aku ridu pada mu. Kau selalu sibuk dengan urusan mu." Lanjutnya lagi dengan penuh manja.

Naruto tidak menjawab. Dia hanya mengelus rambut Shion secara perlahan.

"Naruto-kun, bagaimana kalau hari ini kita kencan?"

Naruto masih terdiam. Dia lalu memisahkan tubuhnya dari Shion. Menatap dengan intens sehingga wajah gadis itu memerah malu. Setelah itu, dia dengan cepat mencium Shion. Meraup bibir gadis itu dengan semangat. Shion yang senang dengan perlakuan Naruto segera membalas. Tidak peduli kalau ada yang memergoki mereka.

Mata Naruto terpejam. Berusaha menghayati ciumannya dengan Shion. Namun, wajah Sasuke seketika muncul. Menghalau pikirannya tentang bibir Shion. Naruto lalu melepaskan bibirnya pelan. Dengan jarak yang masih dekat, dia memandang Shion dengan senyuman tipis. Dia yakin dengan keputusannya. Keputusannya untuk-

"Shion, aku mau putus. Dan selamat tinggal." Ucap Naruto santai sembari meninggalkan Shion sendirian di atap.

-putus dari Shion dan melindungi Sasuke.

Shion merasa shock. Apa yang baru saja di dengarnya? Naruto memutuskannya? Bukankah hubungan mereka baru sebulan. Dengan rekor waktu selama itu, Naruto memutuskannya. Ini tidak adil. Bahkan dia belum menikmati indahnya pacaran dengan Naruto.

"Ti-tidak boleh. Naruto tidak boleh memutuskan ku. Tidak boleh." Ucapnya berulang-ulang. Dia segera berlari menyusul Naruto. Dia tidak akan membiarkan Naruto memutuskannya.

"Naruto-kun."Panggil Shion kencang saat melihat Naruto melewati kelas F.

Naruto menolehkan kepalanya pelan. "Ada apa, Shion?"

"Apa maksud mu dengan kata-kata tadi?" Tanya Shion dengan nada bergetar. 'Ku mohon Naruto-kun hanya bercanda. Dia tidak akan meminta putus dari ku.' Doanya dalam hati.

Naruto hanya mendesah lelah. "Dengar, Shion. Jangan terlalu berharap dengan ku. Kita pacaran selama sebulan, bukan berarti aku memilih mu. Jadi, sekarang kau carilah yang lain. Aku juga akan mencari yang lain. Adil, kan?"

"INI TIDAK ADIL, NARU." Raung Shion. Suaranya yang kencang hingga terdengar oleh kelas M dan F. Mereka segera keluar mencari tahu apa yang terjadi.

Terlihat oleh mereka Naruto berdiri dengan santai menghadap Shion yang tengah gusar.

'Ada apa ini?' Pikir mereka.

"Apanya yang tidak adil, Shion? Aku bahkan tidak pernah melakukan hal yang merugikan diri mu. Jadi, apa maksud mu dengan tidak adil?"

"Bagi ku ini tidak adil. Seharusnya kita tidak putus. Kau dan aku adalah pasangan serasi. Kita sama-sama cocok, Naru. Jangan putus kan aku. Aku berjanji akan menjadi pacar yang baik untuk mu. Ku mohon."

"Shion. Kita. Putus. Titik." Setelah mengucapkan hal itu, Naruto langsung meninggalkan Shion.

"Naruuuuu..."

Naruto melangkah santai diikuti tatapan dari kelas M dan F. Dia tidak peduli. Ini sudah menjadi keputusan tetapnya. Apapun yang terjadi, dia akan menjalaninya.

"Jadi, kau mengikuti saran, Shino?" Pertanyaan itu segera menghentikan langkah Naruto saat melewati kelasnya.

"Hn." Balas Naruto singkat.

"Ck, jawab yang jelas."

"Kau sudah dapat jawabannya, Puppy. So, shut up and shut your mouth."

"Mendokusei. Apapun pilihan mu, kami tetap bersama mu." Ucap Shikamaru sembari bersandar di pintu kelasnya.

"He...he... Apapun yang terjadi, kami akan terus mendukung mu." Lanjut Kiba dengan cengiran lebar.

"Hn, aku dan serangga ku berdiri di sisi mu." Ini yang membuat temannya yang lain Sweatdrop.

Naruto senang. Itulah mengapa dia senang berteman dengan mereka bertiga. Walaupun sering menjahili satu sama lain, mereka tetap mendukung keputusan akhir darinya. Dan dia yakin, bisa melewati ini semua jika bersama temannya.

"Ayo ke kantin. Aku yang traktir." Ajak Kiba dengan cengiran gembira.

"Osh."

.

.

.

Gosip Naruto putus dengan Shion menyebar dengan cepat. Bahkan adegan drama yang terjadi antara Naruto dan Shion di rekam oleh seseorang dan menyebarkannya melalui ponsel. Sungguh ke canggihan jaman sekarang membuat hal yang seharusnya tersimpan rapat kini menyebar.

Hinata yang duduk dengan Tenten -wakil ketua karate- mau tidak mau harus mendengarnya. Ada sebuah senyuman kepuasan saat mendengar kabar itu. 'Rasakan itu.' Batinnya menyeringai sadis.

"Kasihan sekali, Shion. Padahal banyak yang setuju Naruto dengannya. Tapi, dia tetap di samakan dengan pacarnya yang lain." Ucap Tenten pelan.

"Begitulah sikap Naruto, Tenten. Seharusnya Shion sudah menyiapkan mental saat pacaran dengan seorang playboy seperti Naruto." Balas Hinata kalem.

"Sepertinya kau masih kesal dengan kejadian tadi?"

"Mau bagaimana lagi. Aku kesal padanya yang mau membully Sasuke."

"Bicara mengenai Sasuke, kemana anak itu?"

"Dia ke perpustakaan."

Pembicaraan mereka terhenti saat mendengar teriakan penuh cinta dari siswi sekolah ini pada empat pangeran yang kini memasuki kantin. Mereka hanya menggeleng maklum melihat tingkah ababil siswi sekolah mereka.

"Tiap hari melihat mereka berempat. Apa mereka tidak bosan mendengar suara jelek siswi itu?" Gerutu Tenten dengan kesal.

"Kalau tidak begitu, bukan idola namanya." Jawab Hinata dengan senyum tipis.

"Terserah pada mu saja."

.

.

.

Kiba, Shikamaru dan Shino kini sudah duduk di tempat favorit mereka yang ada di kantin. Sedangkan Naruto, dia masih berdiri sembari matanya melihat seluruh kantin.

"Oi, Naruto. Kenapa kau masih berdiri? Kau tidak mau makan?" Tanya Kiba yang heran melihat tingkah aneh Naruto.

"Tunggu sebentar, Kiba. Aku sedang mencari seseorang."

Ketiga teman Naruto saling berpandangan. 'Siapa yang dicari oleh Naruto?' pikir mereka dalam hati.

"Hah, sepertinya dia tidak ada." Desah Naruto malas. Dia lalu mengambil tempat duduk di sebelah Shino.

"Kau cari siapa?" Tanya Shikamaru penasaran.

"Sasuke."

BLETAK

"Ittaii~. Kau kenapa pukul kepala ku? Kau pikir ini untuk di pukul?" Tanya Naruto menunjuk kepalanya yang baru di pukul oleh Kiba.

"Kau sih buat aku gemas. Sejak kapan kutu buku itu mau ke kantin saat istirahat? dia pasti ke perpustakaan, bodoh." Sungut Kiba yang merasa gemas melihat sikap Naruto yang terkadang pintar dan terkadang bodoh.

"Ya maaf. Aku kan tidak tahu kebiasaan Sasuke selama ini."

"Aku tidak peduli. Sekarang, kau mau makan atau tidak? Selagi aku mau mengeluarkan uang buat traktir kalian."

"Mendokusei."

"Baiklah."

"Aku ramen jumbo ekstra pedas, Kiba. Dan yakinlah, aku tidak akan makan hanya satu mangkuk." Balas Naruto sambil menggesekkan kedua telapak tanggannya.

"Kau pikir aku tidak sigap. Berapa banyak yang kau makan, akan ku bayar. He...he..."

.

.

.

Hinata dan tenten kini berada di koridor kelas. Setelah selesai dengan urusan perut, kini mereka pergi ke kelas. Sebentar lagi bel akan berbunyi, dia tidak ingin terlambat masuk ke kelas. Apalagi, Kurenai Sensei akan masuk. Mereka tidak ingin di hukum karena telat.

Mereka memasuki kelas XI A yang sudah ramai. Hinata lalu mengedarkan matanya ke sekeliling kelas mencari seseorang. Ada raut heran terukir saat melihat orang yang di carinya tidak ada.

"Aneh." Bisik Hinata pelan tapi, cukup terdengar oleh Tenten.

"Apanya yang Aneh?" Tanya Tenten heran.

"Biasanya dia sudah masuk kelas saat mendekati jam masuk. Tapi, dia tidak ada."

"Siapa?"

"Tentu saja Sasuke. Kau pikir siapa lagi."

"Hm, mungkin dia ke kantin?" Tebak Tenten.

"Kalau pun dia ke kantin, dia tidak pernah diam di sana lama. Dia selalu membawa makanannya ke kelas."

"Mungkin saja dia ke toilet dulu. Lebih baik kita masuk. Nanti orang lain menganggap kita sebagai penjaga pintu karena berdiri di sini."

"Tapi..."

"Nanti kalau sudah bel dia masih belum masuk. Kita bisa minta izin dari Kurenai Sensei untuk mencari Sasuke." Bujuk Tenten.

Hinata hanya bisa pasrah menerima pendapat Tenten. Dia lalu menyusul Tenten untuk duduk di kursinya dengan mata masih mengarah ke tempat duduk Sasuke.

.

.

.

Naruto bersiul-siul senang. Perutnya sudah terisi penuh dengan makanan hasil pengurasan isi dompet Kiba. 'Well, sekali-kali anak anjing itu harus di buat susah.' Pikirnya puas. Dia kali ini sendiri. Dia tadi berpisah di depan tangga menuju kelasnya. Dia sedang menuju ke perpustakaan untuk menemui Sasuke. Entah kenapa, hari ini pikirannya sedang tertuju kepada pemuda onix itu. Ingin cepat-cepat menemuinya dan melihat matanya yang indah itu.

Naruto mengedarkan pandangannya ke penjuru perpustakaan. Setelah yakin tidak melihat orang yang di carinya ada di pantauan matanya, dia lalu menuju ke bagian dalam perpustakaan dan mencari Sasuke. Hasil observasinya adalah...

Sisi kiri : tidak ada

Tengah : sama

Kanan : apalagi.

Naruto merasa heran. Seharusnya Sasuke ada di sini. Membaca buku yang di sukainya. Tapi, kenapa sekarang malah tidak ada? Apa dia sudah kembali ke kelas? Bisa jadi, sih. Soalnya sebentar lagi sudah masuk kelas. Mungkin saja dia sudah ada di sana. Sia-sia saja ternyata ke datangan dia ke sini. Dengan lesu, Naruto memutar langkah. Seharusnya dia tadi tidak makan banyak ramen. Jadi, dia bisa segera bertemu dengan Sasuke.

Tunggu dulu. Untuk apa dia jadi selesu ini hanya karena tidak menemukan Sasuke di perpustakaan. Apa dia sudah membelok? Tidak mungkin. Dia masih lurus, selurus penggaris besi milik Asuma Sensei. Dia pasti lesu karena tidak melihat mata Sasuke yang indah. Lho, memangnya kenapa dengan mata Sasuke. Mata Sasuke sama dengan yang lain. Apalagi kalau tidak pakai kacamata, mata onix nya pasti in...dah. 'Ya, Tuhan. Aku pasti sudah tidak waras lagi.

"Anda yakin, Anko Sensei? Tadi dia pamit pada ku mau ke perpustakaan."

"Saya yakin sekali, Hyuuga-san."

Naruto mendengar jelas perdebatan dua orang perempuan yang tidak jauh darinya. Dia dengan segera menuju ke arah tempat perdebatan. Naeruto melihat penjaga perpustakaan, Anko Mitarashi dan seorang siswi yang ternyata...

"Hinata." Panggil Naruto.

Hinata menoleh saat mendengar suara orang yang memang di kenalnya memanggilnya. "Naruto?"

"Sedang apa kau disini?" Tanya Naruto yang heran melihat Hinata di tempat tersebut.

"Aku sedang mencari teman."

"Siapa?"

"Sasuke."

"Kenapa kau mencarinya?"

"Dia teman sekelas ku. Tadi dia bilang mau ke perpustakaan. Tapi, sudah jam segini dia belum muncul. Ku cari ke toilet tidak ada. Ke kantin juga tidak ada. Tempat ini terakhir yang ku datangi. Tapi, Anko Sensei bilang dia dari tadi tidak ke sini." Jelas Hinata.

DEG

"Apa kau tahu di mana tempat biasanya dia pergi selain di sini?"

Hinata mengingat-ingat tempat favorit Sasuke selain perpustakaan. Dan seketika dia langsung tahu.

"Ah, taman terbengkelai yang ada di belakang gedung kami."

"Kalau begitu, ayo kita ke sana." Naruto segera berlari ke tempat yang di ucapkan Hinata.

"Ah, terima kasih, Anko Sensei." Hinata yang ingin menyusul Naruto, teringat dengan penjaga perpustakaan.

"Sama-sama." Balas Anko dengan senyuman tipis.

Sementara itu...

"Si-siapapun, to-tolong aku."

.

.

.

~~~~~~TBC~~~~~~

Maaf kan Ane yang terlambat nge publish nih chapter. Sekarang ini tempat Ane sering terjadi pemadaman listrik. Jadinya, sekarang Ane baru bisa antar nih chapter buat kalian. Ok Ane tidak bisa balas review dari readers sekalian. Soalnya, Ane takut ke buru mati lampu. Soalnya Ane ngetik di komputer rumah. But, thank's banget yang udah ngeriview. Mungkin lain kali aja Ane balasnya.

Sudikah kiranya ente tinggalkan jejak?