Discalimer : Masashi Kishimoto
Pairing : Narusasu
Rated : T
Warning : YAOI, OOC, banyak typo disana sini, gaje abal ngebosani, dllllllllll.
JATUH CINTA, EH?
Hinata tahu kalau dia harusnya bersabar. Tapi, menunggu adalah satu dari daftar yang paling di bencinya. Jadi, tanpa peduli Kurenai Sensei sebentar lagi masuk. Dia berdiri dari kursinya dan akan mencari Sasuke dari tempat terdekat dulu.
"Hinata, kau mau kemana?" Tenten yang heran melihat Hinata terburu-buru segera bertanya.
"Aku mau mencari Sasuke. Aku takut dia di bully anak kelas lain. Tolong beritahu Kurenai Sensei jika aku telat masuk." Sahut Hinata cepat sebelum bergegas pergi.
"Hati-hati."
Hinata mulai mencari berkeliling. Dari toilet, UKS dan kantin sudah dia datangi. Tapi, Sasuke belum ketemu. Dia akhirnya menuju perpustakaan, tempat yang lumayan jauh dari wilayah pencariannya.
Dia melihat sekeliling ruangan itu. Tapi, tidak terlihat satu makhluk pun di sana. Apalagi, ini sudah mau jam masuk. Pasti anak-anak yang lain kembali ke kelas mereka. Hinata lalu menoleh ke arah kanannya. Di sana terlihat meja pengawas perpustakaan. Gadis itu segera mendekati meja itu. Memastikan kalau Sasuke ada di perpustakaan.
"Selamat siang, Anko Sensei." Sapa Hinata pelan.
Anko yang memang lebih fokus pada bukunya segera menoleh. Di lihatnya seorang gadis dengan amethys indahnya. Hinata Hyuuga, salah satu siswi yang berpengaruh di KIHS.
"Ya, Hyuuga-san?"
"Apa Anda melihat Sasuke?"
"Well, sesungguhnya, aku juga penasaran kemana anak itu. Biasanya dia selalu tepat waktu. Apalagi ada beberapa buku baru yang datang." Jelas Anko.
"Anda yakin, Anko Sensei? Tadi dia pamit pada ku mau ke perpustakaan."
"Saya yakin sekali, Hyuuga-san."
Hinata menggigit bibir bawahnya gelisah. Bingung akan keberadaan Sasuke yang tidak jelas.
"Hinata."
Gadis itu segera menoleh kan kepalanya saat mendengar namanya di panggil. Hinata yakin kepalanya akan terasa sakit nanti karena perbuatannya.
"Naruto?" Gadis Hyuuga itu merasa heran melihat keberadaan pewaris Namikaze itu.
"Sedang apa kau disini?"
'Seharusnya aku yang bertanya seperti itu.' Pikir Hinata. Tapi, dia tetap menjawab pertanyaan dari pemuda pirang itu.
"Aku sedang mencari teman."
"Siapa?"
"Sasuke."
"Kenapa kau mencarinya?"
"Dia teman sekelas ku. Tadi dia bilang mau ke perpustakaan. Tapi, sudah jam segini dia belum muncul. Ku cari ke toilet tidak ada. Ke kantin juga tidak ada. Tempat ini terakhir yang ku datangi. Tapi, Anko Sensei bilang dia dari tadi tidak ke sini." Jelas Hinata.
Mungkin penglihatan Hinata sedang minus. Dia tidak mungkin melihat wajah Naruto penuh rasa khawatir.
"Apa kau tahu di mana tempat biasanya dia pergi selain di sini?"
Hinata mengingat-ingat tempat favorit Sasuke selain perpustakaan. Dan seketika dia langsung tahu.
"Ah, taman terbengkalai yang ada di belakang gedung kami." Hinata merasa bahagia. Akhirnya ingat di mana tempat favorit Sasuke selain perpustakaan.
"Kalau begitu, ayo kita ke sana." Naruto segera berlari ke tempat yang di ucapkan Hinata. Melihat itu, Hinata yakin sekali kalau matanya belum minus. 'Sebaiknya ku susul dia.'
"Ah, terima kasih, Anko Sensei." Hinata yang ingin menyusul Naruto, teringat dengan penjaga perpustakaan.
"Sama-sama." Balas Anko dengan senyuman tipis.
Naruto dengan cepat berlari menuju tempat yang di sebut kan oleh gadis Hyuuga itu. Sedangkan Hinata berusaha menyusul dengan cepat. 'Kenapa dia begitu khawatir pada Sasuke? Apa sebenarnya yang terjadi?' Hinata melihat punggung Naruto dengan penuh selidik.
Naruto terus berlari. Hingga saat sampai di belokan menuju gedung taman belakang, tubuh Naruto berhenti mendadak. "Sa-sasuke." Gumamnya pelan memanggil nama pemuda di depannya.
Hinata yang melihat pemuda pirang itu berhenti mendadak dengan wajah kaget membuat gadis itu cepat menyusul Naruto.
"Hah, hah, Naru. Ada ap... SASUKE." Hinata yang ingin bertanya pada Naruto segera berteriak saat melihat Sasuke.
Hinata dengan cepat menuju tempat Sasuke yang terikat di pohon dalam keadaan babak belur. Dia segera melepas ikatan Sasuke. Namun, ketatnya tali yang mengikat membuat dia sedikit kesusahan. Dia lalu menoleh ke arah Naruto yang masih berdiri mematung di belakangnya.
"Naruto, kenapa kau malah melamun? Sebaiknya tolong aku membuka ikatan ini."
Pemuda pirang itu dengan segera tersadar dari lamunannya. Mendekati gadis itu dan membantunya membuka tali yang mengikat Sasuke.
"Ya, Tuhan. Siapa yang berani melakukan hal sekeji ini pada Sasuke?" Hinata memandang Sasuke iba. Terlebih lagi pemuda onix itu tidak sadar kan diri.
Naruto hanya diam. Setelah ikatan terlepas, Naruto segera membopong tubuh Sasuke menuju UKS. Meninggal kan Hinata yang masih merutuki orang yang menyebab kan Sasuke menjadi seperti sekarang. Hinata yang melihat itu dengan cepat mengikuti Naruto. Tidak ingin ketinggalan untuk menolong Sasuke.
"Hinata. Kau duluan dan buka pintu UKS." Perintah Naruto dingin. Tanpa menunggu perintah selanjutnya. Gadis itu segera berlari ke arah UKS berada.
SREG
Pintu UKS di geser Hinata dengan cepat. Shizune Sensei yang kebetulan ada di sana menoleh kaget saat pintu di buka dengan tidak pelan oleh gadis Hyuuga itu.
"Hinata? Apa yang kau lakukan? Seharusnya..."
"Maaf, Sensei. Saya tahu ini sangat tidak sopan. Tapi, Sasuke sedang terluka parah." Potong Hinata cepat. Tidak lama dari itu, Naruto muncul dengan seorang pemuda onix yang terluka parah.
"Astaga." Pekik Shizune saat melihat kondisi Sasuke. "Naruto. Letak kan Sasuke ke atas ranjang." Lanjutnya sembari mengambil kotak P3K di lemari obat.
Naruto meletak kan tubuh Sasuke perlahan ke atas ranjang. Dia segera melepas kan pakaian pemuda onix itu. Seragamnya sudah berlumuran darah. Sangat tidak layak untuk di gunakan kembali.
"Hinata, tolong ambil kan air hangat dan kain bersih." Perintah Shizune. Dia lalu menuju Sasuke. Mengobati wajah pemuda itu dengan perlahan. Sedangkan Hinata segera mengikuti perintah senseinya.
"Siapa yang melakukan ini, Naruto?" Shizune yang masih mengobati Sasuke bertanya pada pemuda pirang di sebelahnya. Namun, tidak ada jawaban.
"Kami tidak tahu, Sensei. Saat di sana, Sasuke sudah seperti itu." Hinata yang baru keluar kamar mandi langsung menjelas kan. "Letak kan di mana baskom ini, Sensei?"
"Ah, di sini." Balas Shizune menunjuk meja kecil di sebelahnya. "Apa maksud mu, Hinata-chan?" Lanjutnya penasaran.
"Saya berusaha mencari Sasuke, Sensei. Saat di perpusatakaan, bertemu dengan Naruto. Lalu, kami mencari Sasuke di belakang gedung ini. Dan menemu kan Sasuke di sana dalam keadaan terikat." Jelas Hinata dengan di iringi tatapan sendu pada Sasuke. "Dia juga terluka parah." Lanjutnya lagi.
Shizune mendesah lelah. "Ini tidak bisa di biarkan. Jika terus seperti ini, Sasuke akan semakin terluka."
Naruto hanya diam mendengar kan percakapan antara Senseinya dengan Hinata. Matanya terus terarah ke pemuda onix itu. Memandang sendu pada Sasuke yang masih pingsan. Rasa bersalah mulai muncul pada dirinya.
'Apa ini yang kau dapat kan setiap hari?'
'Siapa yang melakukannya?'
'Seharusnya aku segera menemui mu?'
"Naruto?"
Naruto tersentak mendengar panggilan lembut di sebelahnya. Dia menoleh dan melihat Shizune menatapnya khawatir.
"Ada apa, Naruto?" Kali ini Hinata yang bertanya.
Menggeleng kan kepalanya pelan. Naruto memberikan senyum tipis pada dua orang di depannya. "Tidak apa-apa. Aku hanya memikirkan siapa pelaku yang melakukan hal ini pada Sasuke."
Mendengus kasar, Hinata menatap Naruto tajam. "Tidak kah kau sadar siapa yang paling berani melakukan hal sekeji ini pada seorang murid beasiswa. Ah, aku lupa..." Hinata tersenyum tipis sembari mengangguk kan kepalanya. Namun, matanya menatap tajam pemuda pirang di depannya. "...bagi diri mu yang dianggap seorang pangeran di sini. Kau tidak akan pernah peduli pada apapun dan siapapun. Selama Sasuke sekolah di sini, dia selalu di bully. Kapan pun dan di mana pun. Dan tiba-tiba kau yang bahkan tidak pernah menampak kan diri di depan Sasuke, sekarang bertanya siapa yang melakukan ini terhadapnya. Seolah peduli padanya." Lanjutnya dengan sinis.
Naruto terkesiap. Menatap gadis Hyuuga itu dengan ragu. Ucapan gadis itu benar. Seharusnya dia tidak perlu se peduli ini pada Sasuke. Dia bukan siapa-siapa laki-laki itu. Kenapa juga dia harus peduli. Tapi, ada sesuatu yang menarik dia sehingga matanya tidak dapat berpaling dari Sasuke. Selalu memikirkannya seolah hanya ada dia di dunia ini. Selalu memandangnya seolah tidak ada hal lain yang dapat menarik perhatiannya. Ya, semua berpusat pada Sasuke. Tapi, kenapa? Itu yang masih menjadi misteri bagi Naruto.
"Menurut mu siapa, Hinata?" Tanya Shizune lembut. Menghentikan aura berat yang melingkupi kedua muridnya.
"Sudah pasti..."
"Jirobo." Tanpa menunggu jawaban Hinata. Naruto langsung menyebut kan pelakunya.
"Hoh, ku pikir kau tidak tahu, Naruto." Ucap Hinata sinis.
"Ini tidak boleh di biar kan. Aku harus melapor kan hal ini ke Kepala Sekolah." Ujar Shizune tegas. "Apa kalian bisa menjaga Sasuke di sini?" Tanyanya saat akan keluar dari pintu.
"Hm, aku harus pergi, Sensei. Sekarang Kurenai Sensei yang mengajar. Mungkin Naruto saja yang menunggunya." Jawab Hinata kalem.
Segera mata Shizune di arah kan pada Naruto.
"Hah, baiklah." Balas Naruto.
Mendapat balasan yang sesuai, Shizune segera pergi dari sana untuk melapor kan Jirobo.
"Kenapa kau peduli padanya?" Hinata menatap Naruto menuntut jawaban.
"Bukan urusan mu."
"Urusan ku jika itu tentang Sasuke. Dia adalah orang penting bagi ku. Jadi, ja..."
"Bukan kah kau mau pergi?"
"Tsk." Decakan kesal keluar dari bibir merah Hinata. Gadis itu lalu melihat Naruto menuntut. "Jaga dia dan jangan macam-macam." Ancam Hinata sebelum berlalu pergi.
Naruto mengusap wajahnya frustasi. Ucapan Hinata masih terngiang di pikirannya. Menghantam telak sehingga membuatnya gelisah.
"Dia adalah orang penting bagi ku."
Ada satu perasaan tidak rela saat gadis itu menganggap Sasuke penting. Hatinya serasa berdenyut sakit memikir kan hubungan Sasuke dengan gadis itu. Apakah ini yang di nama kan suka? Apakah dia mulai mencintai Sasuke sehingga dia tidak rela gadis itu menganggap Sasuke penting? Apa... Apa Sasuke menyukai gadis itu?
.
.
.
Shion duduk menyendiri di kursi taman. Menangis sangat keras. Tidak peduli ada orang lain yang melihatnya seperti ini. Meratapi nasibnya yang di putus kan oleh Naruto.
"Se-seharusnya tidak seperti ini. Aku yang paling pantas untuknya. Kenapa dia tidak mau melihatnya?" Teriak Shion histeris.
"Berteriak juga tidak ada artinya."
Shion menoleh kan kepalanya. Matanya memandang tajam gadis yang kini duduk di sebelahnya. "Jangan ikut campur, Karui." Geramnya pelan.
"Aku bukannya ingin mengganggu mu. Tapi, melihat seorang gadis populer seperti mu menangis hanya karena di putus kan Naruto membuat ku kasihan. Seharusnya kau memikir kan cara untuk mendapat kan Naruto kembali. Bukan dengan menangisi nasib mu."
Shion menatap Karui lama. 'Dia benar. Seharusnya aku memikir kan cara agar Naruto-kun kembali pada ku.'
"Apa rencana mu?" Tanya Shion tajam.
"Rencana ku..."
.
.
.
Keluar dari UKS, Hinata bukan ke kelas seperti alasan yang di berikan sebelumnya. Dia malah menuju lantai empat dimana kelas XII berada. Dengan cepat dia melangkah kan kakinya ke sana. Tidak berapa lama, dia sampai di kelas yang di inginkannya. Di tatapnya pintu itu lama. Seketika wajahnya berubah keras saat mengingat seseorang yang berada di ruangan itu. Orang yang telah menyakiti temannya. Melukainya hingga pingsan. Dan orang itu tidak akan di maaf kan olehnya.
TOK TOK TOK
Suara ketukan pintu menggema di dalam kelas yang di huni oleh dua puluh siswa. Seorang pria bersurai perak panjang dengan kacamata bulatnya yang sedang berdiri di depan papan tulis segera menggeser pintu.
SREG
Terlihat olehnya seorang gadis bersurai indigo dengan mata amethys berdiri tegak di depannya. Seulas senyum di berikan oleh gadis itu saat dia menatapnya.
"Ada apa?" Tanya pria itu.
"Maaf kan saya kalau mengganggu, Kabuto Sensei. Saya di suruh Kepala Sekolah untuk memanggil Jirobo Senpai. Katanya ada urusan penting." Balas Hinata sopan.
Pria yang ternyata seorang guru yang bernama Kabuto itu memandang Hinata dingin. "Ingat kan aku kalau salah. Setahu ku ini sudah lewat dari dua puluh menit setelah jam istirahat tadi. Seharusnya kau ada di kelas, belajar dan tidak berkeliaran. Dia tidak mungkin menyuruh mu."
Hinata menatap Kabuto. Tanpa ragu dia menjawab "Saya tadi ke ruang guru untuk mengambil buku Kurenai Sensei. Di sana tidak ada orang kecuali saya sendiri. Jadi, Kepala Sekolah meminta saya untuk memanggil Jirobo Senpai ke ruangannya."
Bohong. Semua alasan yang di berikannya pada Kabuto Sensei adalah bohong. Dia harus melakukan hal ini. Jika tidak, Kabuto akan curiga dan tidak membiar kan keinginannya terwujud. Dan lebih beresiko lagi, Kabuto akan melapor kannya ke Kepala Sekolah.
"Baiklah. Sekarang, kembali ke kelas mu."
"Terima kasih, Sensei." Hinata berlalu pergi setelah ke inginannya tercapai. Saat dia mendekati tangga, Hinata mengeluar kan ponselnya dan mengirim kan sms pada teman sebangkunya.
Temui aku di belakang gedung kita. Jangan sampai ada yang tahu.
Setelah mengirimi temannya sms. Gadis itu segera pergi menuju tempat janjiannya. 'Kali ini kau akan menerima akibatnya, Jirobo.' Batin Hinata puas.
Sementara itu di kelas XII tempat Jirobo.
Setelah kepergian Hinata, Kabuto segera kembali ke kursinya dan mengarah kan matanya ke kursi belakang tempat Jirobo duduk. "Jirobo. Kepala Sekolah menyuruh mu untuk menemuinya di ruangannya sekarang."
Jirobo memandang Kabuto heran. "Kenapa, Sensei?"
"Aku bukan peramal, Jirobo. Segera pergi ke sana dan tanya kan kepentingan Kepala Sekolah. Beres kan?" Balas Kabuto kesal.
Jirobo yang mendengar balasan Kabuto terdiam. Dia segera melangkah kan kakinya keluar menuju ruangan Kepala Sekolah. Dia tidak ingin mencari masalah dengan Kabuto. Walaupun Kabuto tampak pendiam, tapi dia lebih berbahaya dari Ibiki.
Dengan langkah mantap, pemuda besar itu pergi ke lantai satu. Sesekali bibirnya mendendang kan secuil lagu yang di hapalnya. Saat di tangga terakhir, suara seorang gadis menghentikan langkah santai Jirobo.
"Jirobo Senpai."
Jirobo memandang gadis itu dengan intens. Seorang gadis bercepol dua dengan wajah oriental memandang Jirobo sembari tersenyum tipis. Pemuda itu menatap takjub gadis di depannya. Sebuah pikiran nakal terlintas di pikirannya."Ya?" Sahutnya dengan senyuman ambigu.
"Aku ingin bicara penting dengan, Senpai. Bisakah?" Tanya gadis itu dengan wajah tersipu malu.
'Keberuntungan buat ku.' Pikir Jirobo senang. "Apa aku mengenal mu?"
"Na-nama ku Tenten. Aku anak kelas XI."
"Baiklah. Apa yang ingin kau bicara kan?"
"Tidak di sini. Aku mau bicara dengan, Senpai di belakang gedung aula."
Pemuda itu terdiam. Dilema segera melandanya. Antara Kepala Sekolah atau gadis cantik yang berdiri malu-malu di depannya.
"Bagaimana, Senpai?"
"Ok. Ayo kita ke sana." Ajak jirobo santai. 'Maaf kan aku, Kepala Sekolah. Ada urusan yang lebih penting di banding kan bertemu dengan mu.' Batinnya licik. Matanya sedari tadi tidak lepas dari pantat Tenten yang berada di depannya.
Jirobo tidak tahu kalau setelah ini dia akan menikmati hal yang lebih menakjub kan dari pada pantat Tenten.
.
.
.
Tenten memandang khawatir kursi sebelahnya. Sudah dua puluh menit Hinata menghilang untuk mencari Sasuke. Tapi, sampai sekarang mereka berdua masih belum muncul.
Drrtt Drrtt
Getaran ponsel di saku rok nya mengaget kan Tenten. Dengan mata berfokus ke papan tulis, gadis itu mengambil ponsel pintarnya. Dia tentunya tidak ingin ketahuan oleh Kurenai sedang bermain ponsel.
Temui aku di belakang gedung kita. Jangan sampai ada yang tahu.
Tenten mengernyit kan alisnya saat mendapat kan sms dari Hinata. 'Untuk apa dia menyuruh ku ke sana?'
"Apa di bawah meja lebih menarik dari pada penjelasan ku, Tenten?"
Gadis itu mendongak kan wajahnya kaget. Di depan kelas terlihat Kurenai menatapnya dengan tajam. "Ma-maaf kan saya, Sensei."
"Kalau memang kau sudah bosan dengan pelajaran ku. Kau boleh keluar sekarang dari pada mengganggu teman mu yang lain."
"Sensei, sebenarnya saya ingin ke UKS. Kepala saya agak pusing." Ucap Tenten pura-pura meringis sembari menyentuh pelipisnya.
"Pergilah ke UKS dan istirahat. Aku tidak ingin murid ku pingsan saat aku mengajar."
"Ha'i, Sensei." Dengan cepat, Tenten pergi keluar kelas. 'Hinata, sebaiknya kau membayar ini.'
Tenten menuju ke gedung belakang sesuai tempat perjanjiannya dengan Hinata. Dia melihat temannya sedang berdiri menghadap sebuah pohon besar.
"Hinata." Panggilnya keras. "Sebaiknya kau punya alasan bagus untuk..."
"Aku punya dan karena itu aku butuh bantuan mu." Potong Hinata cepat. "Aku ingin kau memancing Jirobo ke belakang aula. Pasti kan dia mengikuti mu." Lanjutnya lagi.
"Untuk apa?"
"Kau akan tahu setelah melihatnya. Kau tunggu di dekat tangga. Aku akan menunggu kalian berdua di belakang aula."
"Dia pasti sedang belajar kan?"
Hinata menatap temannya kalem. "Sebentar lagi dia turun."
"Ta-tap..."
Tenten melihat Hinata berlari menuju belakang aula tanpa mendengar protesnya. Walaupun gadis itu masih bingung dengan ucapan Hinata. Tapi, dia tetap melakukan apa yang di perintah kan temannya. Dia segera mengambil posisi di dekat tangga bawah. Memasti kan kalau ucapan Hinata benar. Tidak berapa lama, suara tapak kaki terdengar. Sesosok pemuda yang tadi di bicara kan Hinata sudah muncul. Sesuai skenario, dia harus memancing Jirobo untuk mengikutinya ke tempat Hinata.
"Jirobo Senpai."
Pemuda itu mengarah kan wajahnya ke Tenten. Gadis itu bisa melihat kalau Jirobo terpesona padanya. Hah, tipikal cowok playboy.
"Ya?" Sahut pemuda itu dengan senyuman aneh. Tenten sampai bergidik melihatnya. 'Hinata. Kenapa kau berurusan dengan preman sekolah?' Pikirnya miris.
"Aku ingin bicara penting dengan, Senpai. Bisakah?" Dengan terpaksa, Tenten menunjuk kan wajah malu-malunya pada Jirobo.
"Apa aku mengenal mu?"
"Na-nama ku Tenten. Aku anak kelas XI."
"Baiklah. Apa yang ingin kau bicara kan?"
"Tidak di sini. Aku mau bicara dengan, Senpai di belakang gedung aula."
Gadis itu bisa melihat kalau wajah pemuda di depannya sedang ragu. 'Jangan sampai dia menolak.' Doa Tenten harap-harap cemas.
"Bagaimana, Senpai?"
"Ok. Ayo kita ke sana." Nafas lega di hembus kan gadis itu dengan perlahan. Dia segera berbalik untuk menuntun Jirobo ke belakang aula. Walau pun ada perasaan tidak enak saat Jirobo ada di belakangnya.
.
.
.
Naruto masih betah duduk di posisinya. Memandang wajah pucat Sasuke yang penuh luka. Dia mengulur kan tangannya untuk menyentuh wajah Sasuke. Tapi, segera terhenti saat getaran ponselnya menyadarkannya. 'Shit! Apa yang ku lakukan?'
Dengan segera dia mengambil ponsel mahalnya di saku. Ada sebuah sms dari Kiba.
Drrtt Drrtt
Drrtt Drrtt
Drrtt Drrtt
Drrtt Drrtt
Drrtt Drrtt
Dan di tambah lima sms baru dari orang terdekatnya.
From : Kiba Puppy
Hey, kenapa kau lama sekali? Kau sedang kencan dengan Sasuke ya?
Naruto tersenyum tipis melihat isi sms dari Kiba. Dia memandang wajah di depannya saat Kiba menyebut nama Sasuke. Dia lalu mengetik balasannya pada Kiba.
To : Kiba Puppy
Kau mau ikut kencan dengan ku?
From : Kaa-san
Sayang, ibu harus pergi dengan ayah mu ke Suna. Kami ingin melihat tunangan Gaara yang sedang sakit. Kalau ada apa-apa segera hubungi kami. Love you.
Pemuda pirang itu tersenyum maklum melihat sms yang penuh ke khawatiran itu.
To : Kaa-san
Tidak apa-apa, Kaa-san. Kalian berdua sebaiknya hati-hati. Love you too.
From : Gaara
Kitsune, aku mungkin pulang minggu depan. Mungkin bersama tunangan ku. Aku akan mengenal kan kalian berdua. Ku harap kau bisa baik dengannya.
Sepertinya Gaara mulai membuka diri tentang tunangannya itu.
To : Gaara
Iya. Kau ini cerewet sekali, Gaara. Berharap saja tunangan mu tidak kabur.
From : Shino Insect
Naru, kalau kau mau bolos, bilang pada kami dulu.
"Dasar maniak serangga."
To : Shino Insect
Niat ku tidak ingin bolos. Tapi, terpaksa ku lakukan karena ada urusan penting.
From : Kaa-san
Ada yang harus ibu sampai kan. Mobil Chevrolet Corvette Stingray mu di tabrak ayah mu tadi. Jadi, mobil itu rusak dan tidak bisa di pakai sekarang.
Wajah Naruto seketika berubah. Mobil itu adalah kesayangannya dan ayahnya merusaknya. 'Grrr, tunggu saja nanti.' Ancamnya dalam hati.
To : Kaa-san
Bilang pada ayah untuk hati-hati naik mobil. Sudah tahu tidak bisa masih memaksa bawa mobil. Dan bilang pada ayah untuk beli kan aku mobil yang lain.
From : Shika Mendokusei
Mendokusei!
"Sebaiknya tidak ku balas. Aku bahkan ragu mau balas apa. Dasar Shikamaru."
"Ngh..."
Suara lenguhan terdengar oleh Naruto. Dia yang tadi sibuk dengan ponselnya segera menoleh kan kepalanya kepada pemuda onix di depannya.
"Sasuke." Panggilnya pelan. Dia langsung berdiri tegak saat mata Sasuke mulai bergerak kecil.
Kelopak putih itu perlahan terbuka. Menampil kan iris onix indah yang membuat Naruto menahan nafas sejenak. Bola mata itu begulir melihat sekelilingnya hingga akhirnya terhenti pada Naruto.
"Kau baik-baik saja? Mana yang sakit?" Tanya Naruto panik. Apalagi melihat Sasuke yang terlihat melamun.
Sasuke masih memandang pemuda pirang itu dengan tatapan yang sulit di artikan. Menatapnya mulai dari rambut, mata, hidung dan lainnya. Pemuda itu tentu mengenali Naruto. Sampai sekarang mengaguminya membuat Sasuke hapal bagaimana seorang Naruto. Perlahan dia mengangkat tangan kanannya dan mengarah kannya ke wajah pemuda beriris shappier itu. Namun, belum sempat dia menyentuhnya, suara pintu yang di geser menghenti kan gerakan tangannya. Naruto yang tadi fokus dengan gerakan tangan Sasuke segera tersadar.
"Apa aku mengganggu?" Seorang gadis bersurai indigo muncul setelah pintu itu di geser. Dia segera masuk ke dalam UKS, menyusul seorang gadis bercepol di belakangnya.
"Tidak apa. Sasuke juga baru sadar." Jawab Naruto cepat. Tidak mau mereka berdua salah paham. "Karena kau sudah datang, sebaiknya aku pergi." Lanjutnya kemudian. Dia lalu bergegas pergi dari UKS itu. Tidak mau mengganggu momen Sasuke dan kekasihnya.
Naruto memegang dadanya setelah jauh dari UKS. Ada perasaan sakit saat melihat mata onix Sasuke tidak berfokus padanya. Melain kan pada Hinata yang tadi datang bersama temannya.
'Kenapa aku merasa sakit? Ingat Naruto, Sasuke bukan siapa-siapa bagi mu. Dia hanya seorang pemuda nerd yang mendapat kan beasiswa di KIHS yang akan kau selamat kan dari taruhan konyol Jirobo. Dia bukan orang penting.' Pikir Naruto kalut. 'Tapi, kenapa rasanya sakit saat melihat Hinata lebih perhatian pada Sasuke? Kenapa dia merasa kecewa saat tangan Sasuke tidak jadi menyentuhnya? Apa...dia sudah mulai jatuh cinta pada Sasuke?'
.
.
.
Sasuke memandang datar Hinata dan Tenten. Hinata yang sudah terlampau sering mendapat kan tatapan mata seperti itu tidak menggubrisnya. Dia malah mendekati Sasuke dan duduk di tempat Naruto tadi.
"Bagaimana keadaan mu?" Tanya Hinata pelan.
"Baik. Siapa yang mengantar ku ke sini?"
"Naruto." Mata onix itu membola mendengarnya. "Dia menggendong mu seperti pengantin baru dan membawa mu ke sini dengan raut khawatir." Lanjutnya lagi.
"Bohong." Lirih suara pemuda itu terdengar.
"Aku tidak mungkin berbohong. Selama bersekolah disini, dia tidak pernah menunjuk kan raut seperti itu pada siapapun. Dan tadi adalah sejarah baru bagi KISH melihat pangeran mereka merasa khawatir pada seorang Uchiha Sasuke." Balas Hinata. "Sebaiknya kau istirahat. Kami harus masuk kelas. Sudah hampir satu jam kami keluar. Kami tidak ingin semakin membuat Kurenai Sensei marah."
"Memangnya kalian dari mana?"
"Ra-ha-si-a." Setelah menjawab seperti itu, Hinata pergi dari UKS di ikuti oleh Tenten.
"Kau tidak memberitahu Sasuke? Siapa tahu dia senang dengan perbuatan mu?"
"Tidak bisa. Sasuke berbeda dari yang lain. Walaupun sering di bully, dia tidak pernah ingin membalas perbuatan mereka. Jadi, biar kan saja ini menjada rahasia kita berdua."
Tenten menatap Hinata. Kejadian beberapa saat lalu masih teringat di kepalanya.
Flashback On
Jirobo segera berhenti melangkah saat di depannya berdiri seorang gadis yang sempat di cerita kan Shion padanya. Hyuuga Hinata, ketua karate putri. Melihat tatapan sengit dari gadis itu, Jirobo yakin dia dalam masalah yang serius. 'Apa si culun itu sudah di temukan?' Pikirnya. Tapi, bukan Jirobo namanya jika dengan perempuan saja dia takut.
Dengan tenang, Tenten mendekati Hinata yang masih menatap nyalang pemuda di belakangnya. "Aku sudah membawanya ke sini sesuai pesanan mu."
Jirobo menyeringai tipis saat mendengar ucapan Tenten. "Wah, wah. Sepertinya ini keberuntungan buat ku..." Tatapan menghina di berikan pada dua gadis di hadapannya. "...Dua gadis cantik jadi..."
BUGH
Sebuah tendangan samping di berikan oleh Hinata pada pemuda besar itu. Membuat Jirobo langsung terhempas ke tanah.
"UKH..."
"Jangan pernah berpikir jika aku lemah. Kau pikir kenapa aku menjadi ketua karate kalau menghajar mu saja aku tidak bisa."
Jirobo berdiri menatap murka gadis di depannya. Dia mengepal kan tangannya dan mengarah kannya pada Hinata. Tapi, dengan cepat Hinata menangkisnya dan melayang kan pukulan ke arah perut pemuda itu lalu menendang selangkangannya kuat.
"Auuu...Shit!" Jirobo menunduk memegang selangkangannya yang terasa ngilu.
Belum sempat dia merasa lega akan sakitnya, sebuah tendangan berputar mengenai wajahnya kembali.
"Itu balasan karena kau membully Sasuke. Dan ini..." Dengan keras, Hinata menginjak telapak tangan Jirobo hingga membuat pemuda itu berteriak kesakitan. "...karena kau melukai Sasuke sampai pingsan. Kalau sekali lagi aku melihat mu menyakiti Sasuke kembali. Akan aku pastikan bukan hanya kau yang menderita. Tapi, keluarga mu juga akan merasa kan hal yang sama dengan mu." Ancamnya. Setelah itu dia pergi meninggal kan Jirobo di susul oleh Tenten.
"Se-seharusnya, kau berhati-hati pada Naruto-san."
Hinata membalik tubuhnya cepat. Tatapan menuntut jawaban di berikannya pada pemuda itu. Bisa di lihatnya ada seringai puas terpasang di wajah Jirobo. "Apa maksud mu?"
"Sebaiknya kau harus mempersiap kan diri saat mendengar cerita ini..."
Flashback Off
"Aku tidak menyangka kalau Naruto perhatian pada Sasuke hanya karena taruhan. Apa yang di pikir kan olehnya saat menyetujui taruhan itu?" Hinata menghela napas lelah saat mengingat ucapan Jirobo.
"Tapi, yang sepakat mengenai itu kan hanya teman-teman Naruto. Bukannya dia sendiri." Bela Tenten.
"Apa kau tidak sadar dengan tingkah Naruto saat ini? Dia lebih perhatian sekarang dari pada sebelumnya. Kenapa harus saat ini? Kenapa tidak hari yang lain?"
"Bisa jadi Jirobo hanya membual, Hinata." Hibur Tenten. "Kau tahu kan bagaimana dia. Tipe orang yang berkuasa dan tidak mau kalah."
"Entahlah." Hinata menghenti kan langkahnya saat dekat dengan kelasnya. "Yang pasti aku mau lihat ke depan. Kalau memang benar ucapan cecunguk itu, aku tidak akan pernah memaaf kan Naruto."
"Karena itu kau membiar kan Jirobo tadi?" Menatap prihatin Hinata yang mengangguk. "Jangan tanggung beban mu sendiri. Kalau kau memang butuh bantuan ku, katakan saja. Aku siap menolong mu." Dia tersenyum saat melihat Hinata menatapnya. "Tidak usah ucap kan terima kasih. Sekarang, kita kembali ke kelas dan bersiaplah akan hukuman Kurenai Sensei untuk mu." Lanjutnya jahil.
"Sudah sejam pelajarannya terlewat. Semoga saja hukuman untuk kita ringan."
"Maaf saja. Hukuman itu khusus untuk mu. Soalnya aku sudah izin mau ke UKS tadi."
"Berarti, ini hari sial ku..."
.
.
.
Sasuke menatap langit-langit UKS dengan senyuman tipis. Wajahnya yang tadi pucat kini merona saat mengingat ucapan Hinata tadi.
"Naruto. Dia menggendong mu seperti pengantin baru dan membawa mu ke sini dengan raut khawatir."
"Aku tidak mungkin berbohong. Selama bersekolah disini, dia tidak pernah menunjuk kan raut seperti itu pada siapapun. Dan tadi adalah sejarah baru bagi KISH melihat pangeran mereka merasa khawatir pada seorang Uchiha Sasuke."
'Dia menggendong ku. Dia menyentuh ku. Dia menunggu ku di sini. Apa...apa dia mulai suka pada ku?'
Kata-kata itu terus berulang di pikirannya seperti kaset rusak. Membuat jantungnya berdebar kencang. Seperti ada sebuah lagu yang bernyanyi seolah menunjuk kan seberapa besar kebahagiaannya.
SREG
Pintu geser UKS terbuka pelan menampil kan Shizune dan seorang pria tua yang memakai jas hitam. Sasuke yang tadi melamun segera tersadar dan menatap datar mereka berdua.
"Syukurlah kamu sudah sadar." Kata Shizune dengan senyuman tipis. Dia lalu menoleh kan kepalanya ke belakang lalu kembali menatap Sasuke. "Kepala Sekolah ingin menemui mu. Dia ingin tahu kronologi kau yang di lukai oleh Jirobo."
Kepala Sekolah menduduk kan dirinya di sebelah ranjang Sasuke. Dia menatap Sasuke dengan serius. "Aku ingin mendengar secara langsung kejadiannya dari mu."
Sasuke menatap Shizune dengan kalut. Sang Sensei yang tahu arti tatapan dari pemuda itu mengangguk kan kepalanya ringan. "Tenang. Semuanya akan baik-baik saja. Dia tidak akan menyakiti mu lagi kalau kau mau cerita."
"Shizune Sensei benar. Cerita kan semuanya dan aku akan memutus kan apa yang akan di lakukan selanjutnya." Kepala Sekolah menepuk tangan kanan Sasuke pelan.
'Mungkin aku memang harus memberitahu kan semua yang terjadi pada ku. Mungkin dengan ini aku tidak akan di bully lagi.'
.
.
.
Kelas M terlihat ramai. Itu karena hari ini giliran Iruka yang mengajar. Dan anak-anak tahu, jika Sensei mereka yang biasanya rajin itu datang terlambat. Berarti dia ada urusan dengan si mesum Kakashi. Dan mereka tidak mau tahu urusan apa itu. Sudah hampir sejam Iruka belum juga muncul. Membuat mereka semua bisa bersantai sejenak menghindari aktivitas belajar yang membuat bosan.
Dan di antara siswa yang ramai itu, terdapat tiga orang yang terdiam –ralat, dua memang pendiam dan satu lagi terpaksa diam- memegang ponsel di tangan masing-masing. Seperti menunggu balasan dari seseorang yang biasanya ada bersama mereka.
Kiba –orang yang terpaksa diam- memandangi ponselnya gemas. Tadi dia mengirim sms pada temannya yang entah pergi kemana. Dan sekarang dia sedang menunggu tidak sabar balasan dari Naruto.
"Sudah di jawab, Kiba?" Shino yang duduk agak jauh di belakang Kiba bertanya.
"Belum." Bisik Kiba pelan. Namun, entah bagaimana Shino dapat mendengarnya.
Shikamaru yang melihat itu hanya menggeleng kan kepalanya maklum. "Mungkin..."
TING
Kiba langsung menoleh ke arah ponselnya begitu mendengar nada sms masuk. Segera dia membaca isi sms balasan dari Naruto.
From : Naru Kitsune
Kau mau ikut kencan dengan ku?
"Sepertinya dia sedang bersenang-senang." Kata Shikamaru yang tadi memang sempat mengintip sedikit ponsel Kiba.
"Aku juga baru dapat balasan." Kedua orang itu segera menoleh ke belakang saat mendengar suara Shino.
"Sepertinya, cuma aku yang tidak di balas." Ucap Shikamaru cuek.
"Tidak akan di balas jika kau mengiriminya trademark mu." Sungut Kiba.
SREG
Suara pintu membuat kelas itu menjadi hening seketika. Seorang pemuda tampan bersurai pirang dengan mata shappier yang indah masuk ke dalam ruangan dengan tampang kusut. Begitu tahu siapa yang datang, suasana yang hening tadi kembali ramai seperti taman bermain.
Kiba menatap Naruto yang baru memasuki kelas mereka dengan jenaka. Namun, segera berubah begitu melihat wajah Naruto yang tidak biasanya. "Kau kenapa?"
Naruto memandang Kiba dengan wajah kalut. "Aku bingung, Kiba."
"Bingung kenapa?" Shikamaru yang penasaran juga ikut bertanya.
"Bisakah kita ke atap. Aku ingin bicara pada kalian mengenai hal ini."
"Baiklah."
"Ok."
"Dan jangan lupa kan Shino. Dia terlalu serius pada serangganya."
.
.
.
Sesampainya mereka di atap, Naruto mencerita kan semua hal yang di alaminya saat berada di dekat Sasuke. Sontak membuat Kiba tertawa geli karenanya.
"Ka-kau. Ha...ha... Naru, kau lucu sekali."
"Bisa kau henti kan, Kiba. Aku merasa ini tidak lucu."
"Naru, Naru. Menjadi seorang playboy seperti mu membuat mu menjadi susah memahami kalau kau sedang jatuh cinta." Sahut Shikamaru.
"Apa?!"
"Ya, Naru. Kau sedang jatuh cinta dengan seseorang. Tepatnya dengan Uchiha Sasuke."
.
.
.
~~~~~TBC~~~~~~~~
Hanya sedikit cuap-cuap dari Ane. Thanks banget buat yang udah baca fict Ane yang gaje dan abal ini. Sekarang Ane tidak bisa balas karena lagi bosan ngetik. Tapi, karena ingat ada hutang tetap Ane terusin.
BTW, please di review, ya?
