Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : Narusasu
Rated : T
Warning : YAOI, OOC, banyak typo disana sini, gaje abal ngebosani, dllllllllll.
JATUH CINTA, EH?
Brugh
Naruto melempar tasnya begitu saja ke lantai. Tidak peduli jika psp yang baru di belinya rusak karena terbanting. Pikirannya sedang berkecamuk. Memikirkan beberapa hal yang membuat otaknya bisa tercerai berai. Ok, itu hanya perumpamaan. Otaknya yang sangat berharga itu tidak akan tercerai berai hanya masalah pelik yang melandanya sekarang. Hey, dia Namikaze Naruto. Pemuda tampan incaran banyak orang dan jangan lupakan otaknya yang pintar.
"Kau sedang jatuh cinta dengan seseorang. Tepatnya dengan Uchiha Sasuke."
Demi kakeknya yang sangat ero. Kenapa ucapan tidak masuk di akal Shikamaru muncul di pikirannya? Apa tidak ada hal yang bisa di pikirkannya sekarang ini...
Sasuke
Naruto menarik dengan kuat rambut pirangnya. Hell, jangan katakan otaknya sedang eror sekarang. Kenapa pikirannya tidak pernah lepas dari yang namanya Sasuke?
"Itu karena kau sedang jatuh cinta..."
"...jatuh cinta..."
"...cinta..."
"GYAAAAA. Tuhan, cabut otak ku sekarang!" Teriaknya frustasi.
.
.
.
Sasuke duduk di ranjangnya dengan wajah bingung. Memikirkan setiap menit waktu yang terbuang untuk menceritakan kronologi dia sampai bisa masuk UKS dengan wajah babak belur pada Kepala Sekolah.
"Besok aku ingin bertemu dengan kedua orang tua mu, Sasuke. Ku harap mereka mau datang ke sini walaupun tanpa memakai surat panggilan."
Biarpun Kepala Sekolah mengatakannya dengan lembut. Namun, dia sangat tahu kalau nada yang di gunakannya adalah perintah mutlak yang wajib di ikuti. Dan itulah yang sangat mengganggu pikirannya saat ini.
Bagaimana kalau orang tuanya tahu dia di bully? Bagaimana kalau mereka menyuruhnya keluar dari KIHS? Bagaimana...kalau dia berpisah dengan Naruto?
Tentu dia tidak ingin keluar dari KIHS dan berpisah dengan Naruto.
Sasuke mendesah lelah. Apa yang harus di lakukannya? Selama ini dia selalu menyembunyikan apapun yang terjadi padanya saat sekolah. Jika besok orang tuanya datang itu bisa jadi masalah yang sangat besar.
Sasuke segera tersadar dari lamunannya saat mendengar suara ketukan pintu kamarnya. Setelah itu menyusul suara seorang wanita yang di kenalinya sebagai orang yang telah melahirkannya.
"Sasu-chan. Kau tidak makan malam?" Panggil Mikoto lembut.
Sasuke menatap sendu pintu kamarnya. Dia tidak mungkin keluar sekarang. Luka pukulan Jirobo masih membekas. Tentu saja pukulan itu tidak akan hilang dalam sekejap walaupun sudah di obati Shizune.
"Nanti saja, Kaa-san. Sasu masih kenyang." Sahutnya dengan suara bergetar.
Mikoto terdiam mendengar nada suara anak bungsunya. Dia sangat yakin jika suara anaknya bergetar. Apa anaknya itu sakit?
"Kamu kenapa, Sayang? Apa kamu sakit?"
Sasuke tersenyum pelan saat mendengar nada khawatir ibunya. Ah, insting seorang ibu. Dia tidak mungkin meragukan hal itu.
"Tidak apa, Kaa-san. Nanti Sasu makan kalau merasa lapar."
"Baiklah. Kaa-san akan simpan makanannya di kulkas. Segera keluar jika merasa lapar. Jangan di tahan, Sasu-chan. Nanti kau bisa sakit."
"Hn." Pemuda itu bisa mendengar suara langkah kaki menjauh dari kamarnya. "Maaf kan aku, Kaa-san." Bisiknya pelan.
.
.
.
Fugaku sedang menonton berita saat Mikoto duduk di dekatnya. Dia bisa mendengar helaan nafas berat dari istrinya.
"Ada apa?" Tanyanya pelan tanpa mengalihkan tatapannya dari televisi.
"Apa kau tidak merasa aneh dengan tingkah Sasuke hari ini?"
"Maksud mu?" Tanya Fugaku heran. Kali ini dengan pandangan yang di arahkan ke istrinya.
"Biasanya dia keluar kamar tanpa di panggil saat makan malam. Bisanya juga dia duduk menonton tv sampai jam sepuluh malam. Tapi, kenapa dia malah mendekam di kamar? Seperti ada yang di tutupinya."
Fugaku menghela nafas pelan melihat kelakuan istrinya. Istrinya ini memang sangat sayang pada kedua putranya. Selalu merasa was-was jika tingkah putranya berbeda dari keseharian mereka.
"Kau tidak perlu khawatir. Mereka sudah besar." Dia memeluk istrinya lembut. "Mereka akan merasa terganggu jika kau terlalu ikut campur urusan mereka." Ucapnya menenangkan. Dia mengelus punggung istrinya lembut.
"Aku ini ibunya, Fuga-kun. Wajar saja aku merasa khawatir."
"Mungkin masalah yang dialaminya hanya dia yang bisa menanganinya."
"Masalah apa?" Mikoto menatap suaminya bingung.
"Cinta." Pria itu tersenyum melihat wajah istrinya merona. "Sudahlah. Kau jangan memaksa mereka. Pada waktunya nanti mereka akan bicara sendiri pada kita." Putusnya tegas.
Mikoto hanya mengangguk mendengar putusan itu.
.
.
.
H-3 Taruhan
Mikoto keluar dari kamarnya setelah selesai mandi dan membereskan kamar. Fugaku sedang mandi saat di keluar. Sekarang dia ingin menyiapkan sarapan untuk keluarga tercintanya.
Wanita yang masih terlihat cantik itu membuka kulkas kecil di depannya. Mengambil beberapa bahan makanan yang akan di olahnya. Dia membawa bahan makanan itu ke wastafel dan mencucinya. Dia memotong bahan makanan itu dan merebusnya. Selagi menunggu matang, dia segera menyeduh dua gelas susu dan secangkir kopi. Dia lalu meletakannya di atas nampan dan membawanya ke meja makan. Dengan perlahan, dia meletakan nampan itu. Namun, pergerakannya segera terhenti saat matanya melihat selembar kertas di tengah meja makan. Kertas itu di timpa gelas agar tidak terbang melayang.
Dia mengambil kertas itu cepat. Dan membaca tulisan yang di kenali sebagai tulisan Sasuke.
Kaa-san. Sasu tidak bisa sarapan di rumah. Soalnya Sasu buru-buru. Tapi, bisakah Kaa-san dan Tou-san datang ke sekolah hari ini. Kepala Sekolah ingin bertemu kalian.
Kami-sama. Ternyata instingnya memang benar. Ada apa dengan anaknya?
.
.
.
Naruto berbaring di atap seorang diri. Ketiga temannya sedang ada urusan dengan keluarga masing-masing. Mereka akan datang saat jam keempat nanti.
Naruto menatap langit biru yang sama persis dengan matanya. Semalaman dia tidak bisa tidur karena memikirkan ucapan ketiga temannya terus menerus. Seolah memutar kaset rekaman rusak yang diulang.
KRET
Pintu atap terbuka pelan menghasilkan deritan yang cukup membuat ngilu karena karatan. Naruto menolehkan kepalanya. Muncul seorang gadis cantik dengan surai pirang dan iris violet indah. Gadis itu tersenyum manis saat melihat orang yang di carinya sedari tadi sedang berbaring nyaman di atap.
"Apa mau mu?"
Senyum itu segera pudar saat mendengar nada dingin yang di berikan oleh pemuda itu. namun, senyum itu kembali merekah setelah mengingat kembali rencananya dengan temannya.
"Aku ingin bicara dengan mu."
"Bicaralah!"
"Tidak di sini. Aku ingin bicara di cafe langganan ku. Bisakah?"
"Aku sibuk hari ini, besok dan seterusnya."
"Tap..."
"Shion!" Gadis itu berjengit kaget saat mendengar suara bentakan pujaannya. "Aku sekarang banyak pikiran. Jangan mengganggu ku kalau kau tidak ingin tersakiti." Ujarnya dingin.
Gadis itu terisak pelan. "Apa salah ku?" Teriaknya kalap. Naruto hanya diam melihat Shion mulai menangis. "Kenapa kau menyakiti ku? Aku sudah lama mencintai mu. Apa yang kurang dari ku? Aku cantik, kaya, menarik, semua laki-laki ingin menjadi kekasih ku. Tapi, kenapa kau mencampakan ku? Jawab aku, Naruto!"
Naruto segera berdiri dan menatap Shion dingin. "Ini yang tidak ku suka dari mu. Berteriak pada ku seolah aku tuli. Aku tidak peduli kau cantik karena aku tampan. Aku bisa mendapatkan siapapun yang ku mau. Aku juga tidak peduli kau kaya karena aku lebih kaya dari mu. Aku juga tidak seperti laki-laki yang ingin menjadi kekasih mu karena banyak wanita yang sangat menginginkan ku. Karena itulah aku mencampakan mu. Puas!" Balasnya sinis. Dia lalu pergi dari atap meninggalkan Shion yang masih meraung.
Tidak berapa lama setelah kepergian Naruto...
Karui mendekati Shion yang masih menangis. Dia menyentuh pundak gadis itu perlahan.
"Kenapa...kenapa dia bisa berbuat seperti itu kepada ku? Hiks, aku tahu...sangat tahu kalau aku hanya selingan. Tapi, kenapa dia bisa melakukan hal yang membuat aku setersiksa ini." Adunya pilu.
"Aku sudah mengatakan kepada mu untuk bertahan sebelum rencana ini berjalan. Namun, kau berteriak seperti itu membuat semua hal yang kita bicarakan kemarin gagal." Shion menatap wajah Karui. "Dan aku punya plan B untuk mu." Lanjutnya dengan senyum misterius.
"Apa?"
.
.
.
Sasuke duduk di tempat favoritnya saat di perpustakaan. Bel mulai pelajaran masih setengah jam lagi. Jadi, dari pada duduk di dalam kelas dan membuat semua orang menatapnya aneh. Lebih baik dia duduk di sini dan membaca dengan tenang. Namun, itu yang seharusnya di lakukannya jika tidak mendengar suara yang sudah di hafalnya.
Sasuke menatap datar orang di depannya. Ekspresinya tidak berubah walaupun orang di depannya tersenyum lembut.
"Apa mau mu?" Tanyanya dingin.
Orang itu tertawa pelan. "Mau ku? Kau sungguh-sungguh bertanya? Ya, ampun."
"Aku serius." Ucap pemuda manis itu dingin.
"Ha...ha..." Orang itu malah tertawa kencang saat melihat Sasuke. Syukurlah Anko belum datang. Jika tidak, orang itu pasti di usir keluar. "Baiklah..." Ucap orang itu pelan saat melihat respon Sasuke tidak sesuai harapannya. "Aku memasukan lamaran ku di sini dan wush...aku di terima sebagai penjaga perpustakaan membantu Anko Sensei." Lanjut orang itu senang.
Sasuke menatap nanar orang yang dari tadi bicara dengannya. "Kapan kau memasukan lamaran mu?"
"Aku memasukannya seminggu yang lalu. Dan sengaja merahasiakannya biar menjadi kejutan."
"Kau serius?"
"Aku tidak bercanda, Otouto."
.
.
.
Tiga puluh menit waktu terlewat. Bel tanda pelajaran di mulai sudah berbunyi. Namun, kedua orang itu. Ah, mungkin lebih tepatnya salah satu dari kedua orang itu tetap bertahan di perpustakaan. Tidak peduli sensei sudah masuk untuk mengajar. Yang di pedulikan olehnya adalah ucapan kakaknya beberapa menit yang lalu.
"Hei, apa yang salah dengan aku yang bekerja di sini?"
Sasuke menatap Itachi ganas.
"Ehem. Baiklah, Suke. Jangan berikan aku tatapan mu yang menghancurkan harapan ku kalau aku kakak terburuk di dunia." Itachi menatap adiknya lembut. "Sebenarnya sudah sejak lama aku memikirkan untuk mencari pekerjaan yang layak. Membantu Kaa-san di pasar juga sangat layak. Namun, tidak selamanya aku harus bergantung padanya. Jadi, seminggu yang lalu aku mengirim lamaran kerja ke sekolah mu ini dan akhirnya di terima." Jelasnya dengan senyum lebar.
Sasuke menyipitkan matanya. "Jangan berbohong, Aniki. Aku tahu bukan hanya itu alasan mu."
Itachi mengerucutkan bibirnya. Sungguh hal yang sangat tidak pantas di lakukannya mengingat umurnya sudah berapa.
"..."
"Baiklah, Suke. Selain hal yang ku jelaskan tadi. Alasan ku yang lain adalah agar bisa mengawasi mu sepanjang waktu ku di sini."
Pemuda beasiswa itu mendecak kesal. "Kau tidak perlu melakukan itu, Aniki. Aku sudah dewasa. Tidak perlu di jaga seperti anak kecil." Geramnya.
Itachi terkekeh geli mendengar ucapan adiknya. "Sampai kapanpun, kau tetap adik kecil ku. Sedewasa apapun diri mu, kau tetap butuh kakak mu. Aku akan terus di sisi mu saat kau menuju tingkat kedewasaan yang benar-benar sempurna. Saat waktu itu tiba, aku akan bersama mu, membimbing mu dan melakukan apapun untuk melindungi mu. Hingga akan ada seseorang yang menggantikan tugas ku selanjutnya." Itachi menatap adiknya yang bungkam. "Seseorang yang mencintai dan di cintai oleh mu." Lanjutnya tegas.
Sasuke tertegun mendengar ucapan penuh makna dari kakaknya. Dia tidak tahu kalau kakaknya yang jarang menampilkan raut serius itu bisa mengucapkan hal yang sangat dalam seperti ini.
Biasanya Itachi akan selalu mengganggunya. Membuatnya kesal, bahkan akan tertawa jika dia tertimpa musibah. Tapi, sekarang...
"Hmph..."
Itachi menatap adiknya bingung saat melihat tubuh Sasuke bergetar seperti menahan tawa. "Kau kenapa?"
Sasuke berdehem singkat untuk mengalihkan tawanya. "Aku seperti melihat seorang bapak menasehati anaknya."
"Terserah apa kata mu." Balas Itachi tidak peduli. "Nah, bagaimana kalau kita membahas soal blush on yang ada di wajahmu, ne, Otouto?"
DEG
.
.
.
Naruto duduk di taman belakang kebun sekolah mereka. Wajahnya menampilkan raut merana. Dia tidak sedang memikirkan kejadian yang ada di atap. Sampai matipun hal itu tidak akan di lakukan olehnya. Dia masih bingung akan perasaannya pada pemuda manis bersurai raven dan beriris onix indah. Pemuda yang menghiasi pikirannya sampai hari ini. Kami-sama, apa ini yang namanya jatuh cinta.
Naruto menatap bunga-bunga yang di tanam di belakang gedung kelasnya. Di sana bukan hanya ada taman bunga. Namun, beberapa pohon buah tumbuh subur. Semua orang di KIHS boleh memanennya jika buahnya matang. Itulah yang membuat semua orang senang berada di sana.
Sekarang dia sendirian karena jam masuk sudah berbunyi sedari tadi. Dia lagi malas belajar. Pikirannya yang suka sekali berkelana semenjak bertemu pemuda manis itu membuat dia enggan masuk kelas. Padahal, tanpa masuk kelas pun dia sudah memikirkan Sasuke terus-terusan.
"Sudah ku duga kau di sini."
Naruto tersentak saat mendengar suara seseorang yang sangat di kenalnya. Dia lalu menolehkan kepalanya ke belakang. "Kenapa kau di sini? Bukannya kau ada urusan keluarga?" Raut penasaran di tunjukan olehnya saat melihat salah satu temannya yang paling pemalas muncul di sekolah.
Shikamaru mengambil tempat duduk di sebelah Naruto. Dia segera menguap begitu rasa kantuk menyerangnya. "Aku malas. Lagipula, mereka hanya membahas tentang penebangan hutan liar. Orang tua ku sudah cukup untuk hadir di pertemuan itu." Sahutnya malas.
Naruto menganggukan kepalanya mengerti. Orang tua Shikamaru memang memegang peran penting di pemerintahan. Ayah Shikamaru memang bukan seorang pejabat. Namun, dia di angkat sebagai pengawas hutan di Konoha. Selain karena dia memang mempunyai wilayah sendiri sebagai tempat melestarikan rusa langka mereka, ayahnya juga seorang pelestari lingkungan. Sedangkan ibu Shikamaru seorang peneliti hewan. Untuk itulah mereka di percaya pemerintah untuk menjaga hutan Konoha beserta makhluk hidup di dalamnya.
"Masih memikirkan ucapan kami kemarin?"
Pemuda pirang itu mendengus kasar. "Tidak. Aku hanya memikirkan beberapa alasan yang bisa membuat ku jatuh cinta padanya." Dia melirik sedikit Shikamaru. "Kau tahu sendiri aku stright. Aku masih suka dengan dada wanita. Tidak pernah ada penyimpangan seks untuk ku." Ucapnya arogan.
Shikamaru terkekeh geli. "Ya-ya. Aku tahu kau straight. Sampai sekarang pun kau masih sama. Tapi, saat ini kau Sasukeseksual. Apapun yang berhubungan dengan Sasuke kau suka. Berbeda dengan laki-laki lainnya."
Naruto tertawa terbahak mendengar komentar Shikamaru yang menurutnya aneh.
"Kau mungkin tertawa lucu sekarang. Tapi, aku tahu kau sudah merasakannya saat ini."
DEG
Manis
Raven
Onix
Putih
Sasuke
DEG
DEG
DEG
"Kau sudah jatuh pada pesonanya."
.
.
.
Sasuke menatap kakaknya tajam. "Kau tidak perlu tahu apa yang terjadi pada ku." Sahutnya ketus. Dia segera merapikan buku-buku di atas mejanya dan meletakannya kembali pada rak buku.
"Tentu saja aku harus tahu. Aku Kakak mu. Lagipula, aku tadi heran melihat muka Kaa-san yang sedih." Itachi bisa melihat pergerakan adiknya terhenti. "Dan aku sempat melihat ada selembar kertas yang di genggamnya saat aku pamit." Lanjutnya.
Sasuke membalikan tubuhnya. "Ti..."
"Sasuke."
Kedua bersaudara itu menoleh. Mereka bisa melihat seorang wanita yang menatap mereka marah.
"Anko Sensei." Panggil Sasuke pelan. Sedangkan Itachi segera berdiri dari kursinya.
"Bukankah ini sudah lewat dari jam masuk?"
Sasuke sangat tahu itu bukan pertanyaan. "Maafkan saya, Sensei." Dia menundukan wajahnya tanda menyesal.
Wanita berambut pendek itu mengalihkan tatapannya pada pria muda yang sangat mirip dengan Sasuke. "Apa kau Uchiha Itachi?"
"Hn."
"Bukankah kau yang akan menjadi asisten ku di sini?"
"Hn."
"Jadi, bisa kau jelaskan kenapa kau malah mengajak seorang siswa bicara di perpustakaan? Bukankah kau tahu kalau ini sudah jam masuk?"
"Hn."
"Aku tidak peduli dengan marga mu yang sama dengan Sasuke. Tapi, selama kau menjadi asisten ku di sini. Kau harus ikuti peraturan yang berlaku. Termasuk jangan mengajak seorang siswa bicara di perpustakaan saat jam masuk. Kecuali dia menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan buku. Kau mengerti?"
"Hn."
"Bagus." Anko menganggukan kepalanya puas.
Mungkin beberapa orang akan melihat Anko dengan tatapan aneh. Sebab, dia bisa sangat mengerti dengan ucapan Itachi yang bahkan tidak ada di kamus manapun.
Wanita itu menatap Sasuke. "Kau sekarang pergilah ke kelas. Aku tidak ingin ada yang berkeliaran saat jam masuk ke perpustakaan."
"Terima kasih, Anko Sensei."
"Welcome."
Sasuke beranjak dari sana tanpa menoleh ke belakang. Dia bergegas menuju kelasnya.
"Apa kau kakaknya?" Tanya Anko saat tidak melihat Sasuke.
"Hn."
"Mungkin kalau ada kau di sini, dia tidak akan kesepian lagi." Gumam Anko lirih.
"Apa maksud, Sensei?"
Anko menggelengkan kepalanya pelan. "Sebaiknya kita ke gudang belakang. Ada beberapa buku yang baru sampai kemarin. Kita harus menyusunnya." Ujarnya tanpa menjawab pertanyaan Itachi. Dia segera meninggalkan pria itu tanpa menunggunya.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Sasuke?" Tanyanya lirih entah pada siapa.
Jawabannya akan datang sebentar lagi, Itachi. Bersabarlah...
.
.
.
Sepasang suami istri bergegas masuk menuju ke ruangan Kepala Sekolah. Wajah mereka terlihat sangat cemas. Apalagi ini mengenai perihal anak bungsu mereka. Mereka bahkan tidak peduli jika langkah kaki mereka menggema mengganggu ruangan lain.
Mereka berhenti melangkah saat melihat pintu kayu berkualitas di cat hitam menjulang di hadapan mereka. Sebuah papan nama tertempel dengan apik di bagian atas pintu. Seolah menegaskan kalau di dalam sana adalah orang penting.
"Ada yang bisa saya bantu?"
Orang tua dari Uchiha bersaudara itu mengalihkan pandangan mereka ke arah belakang. Seorang pria paruh baya bersurai cokelat sedang mendekap beberapa map berdiri dengan wajah ramah.
Mikoto tersenyum kikuk saat menyadari kalau mereka menghalangi langkah pria itu untuk masuk ke ruangan Kepala Sekolah. "Maafkan kami." Ucapnya cepat sambil membungkukan tubuhnya sedikit. Sedangkan Fugaku hanya diam tanpa merasa bersalah.
Pria itu hanya tersenyum tipis menanggapi sikap Mikoto. "Ada yang bisa saya bantu? Sepertinya kalian ingin bertemu dengan Kepala Sekolah?" Tanyanya.
"Ah, iya. Kami orang tua Uchiha Sasuke. Kami harus bertemu dengan Kepala Sekolah perihal anak kami." Jelas Mikoto. Dia lalu melihat pintu belakangnya, kemudian mengalihkannya kembali kepada pria di depannya. "Apa kepala Sekolah ada?" Tanyanya selanjutnya.
"Dia ada di dalam. Kebetulan juga saya mau bertemu beliau. Mari ikut saya." Ajak pria itu ramah. "Maaf atas kelancangan saya. Nama saya Umino Iruka, guru Sastra Jepang di sini." Lanjutnya memperkenalkan diri.
Iruka mendekati pintu dengan tenang lalu mengetuknya.
"Masuk." Terdengar suara beratdari dalam.
Guru itu segera membuka pintu dan mempersilahkan kedua orang tua muridnya untuk masuk. Setelah itu dia menyusul ke dalam dan menutup pintu.
Sepasang suami istri itu segera duduk di kursi depan meja setelah di persilahkan oleh Kepala Sekolah.
Iruka meletakan map yang di bawanya ke atas meja dan segera menjelaskan tentang kedua orang yang masuk bersamanya. "Mereka adalah kedua orang tua Uchiha Sasuke. Mereka ke sini untuk bertemu Anda."
Sang Kepala Sekolah tersenyum tipis. "Saya Hiruzen Sarutobi, Kepala Sekolah KIHS. Saya memang sudah menunggu kalian sedari tadi." Ucapnya ramah. Matanya segera di alihkan pada Iruka. "Ku harap kau mau memanggil Uchiha Sasuke ke ruangan ku."
"Baiklah. Saya permisi dulu, Sarutobi-san." Pamit Iruka undur diri.
Setelah Iruka keluar dari ruangannya, Hiruzen berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah meja kecil yang tidak begitu jauh dari mejanya. "Kalian berdua mau minum apa? Teh atau kopi?"
Mikoto tersenyum sopan. "Tidak perlu repot, Kepala..."
"Panggil saya Hiruzen atau Sarutobi. Sangat tidak nyaman saat seseorang memanggil mu dengan jabatan. Bukankah begitu, Uchiha-san?"
Mikoto hanya mengangguk. Sedangkan Fugaku hanya menatap datar pria di depannya.
Hiruzen meletakan dua cangkir berisi teh di hadapan pasangan Uchiha itu. Dia lalu duduk di kursinya dan memandang penuh atensi kedua orang di depannya. "Mungkin kalian berdua merasa heran karena saya memanggil kalian tanpa surat pemberitahuan. Tapi, saya memanggil kalian bukan karena Sasuke berbuat salah. Namun, ada hal yang lain."
Fugaku memandang lekat Hiruzen. "Ada apa dengan anak kami?" Tanyanya datar.
Hiruzen menghela napas pelan. "Ini karena kejadian kemarin..."
Dan ceritapun mengalir...
.
.
.
Suasana di KIHS begitu sepi. Maklum saja, saat ini seluruh siswa/siswi di KIHS sedang dalam proses belajar. Yang terlihat berkeliaran hanyalah beberapa pekerja yang memang harus bertugas dan guru yang harus ke kelas untuk mengajar.
Namun, diantara para guru dan pekerja. Terdapat salah satu siswa berprestasi yang sedang berjalan dengan langkah terburu-buru menuju gedung seberang tempat dia belajar. Suara tapak kakinya menggema. Beruntung di tempat itu tidak ada kelas. Sebab, dia amsih di lantai satu gedung sebelah kanan di mana hanya ada perpustakaan dan kantin. Sedangkan kelas spesial ada di lantai atas.
Saat berbelok menuju gedung aula. Murid itu bisa melihat seseorang yang di sukainya duduk di taman belakang gedung yang baru di lewatinya bersama dengan temannya yang berkuncir nanas.
Sasuke, murid yang tadi terburu-buru segera berputar arah menuju taman itu. Wajahnya menujukan rasa penasaran yang tinggi. Dia berjalan mengendap-endap menuju kedua orang itu. syukurlah mereka berdua terlalu fokus ke arah depan. Jika tidak, dia akan merasa sangat malu jika ketahuan mencuri dengar pembicaraan mereka.
"Kau tidak bisa membantah hati mu sendiri, Naru. Sebuah kenyataan jika kau jatuh cinta padanya."
DEG
Hati Sasuke terasa sakit saat mendengar ucapan Shikamaru tentang perasaan pujaannya. Naruto jatuh cinta pada seseorang? Siapa orang tersebut? Sasuke semakin menajamkan pendengarannya.
"Bisakah kau berhenti mengucapkan kata 'jatuh cinta' dalam setiap ucapan mu. Seolah-olah aku sendiri mudah lupa dengan kata itu." Komentar Naruto ketus.
Sasuke bisa mendengar Shikamaru tertawa kecil.
"Itu tidak akan ku lakukan jika orang yang ku ajak bicara yakin akan perasaannya sendiri." Pemuda malas itu menatap Naruto. "Kau tidak perlu mencari alasan mu jatuh cinta padanya. Cinta menyatukan dua hati yang terpisah. Mereka terikat benang merah dengan kuat sehingga tidak mudah terlepas. Kau akan merasakan apa yang akan di rasakannya. Kau akan bahagia jika dia bahagia. Kau akan sedih jika dia bersedih."
Naruto dan Sasuke terdiam mendengar ucapan Shikamaru.
"Banyak orang bilang cinta itu seperti kuis yang sangat sulit di kerjakan. Namun, penuh rasa penasaran untuk menyelsaikannya. Begitu pula dengan cinta. Kau sibuk memikirkan alasan mu jatuh cinta padanya. Tapi, semakin kuat kau ingin tahu tentangnya, ingin di dekatnya." Shikamaru menghela napas pelan. "Ini sebenarnya bukan gaya ku untuk menjelaskan filosofi cinta. Tapi, karena aku punya teman yang seperti anak TK. Aku terpaksa menjelaskannya." Kelakar Shikamaru.
Naruto meninju lengan teman baiknya." Sialan kau. But, terima kasih atas penjelasan mu, Shikamaru-sama." Balasnya.
"Nama ku semakin bagus jika kau tambahkan akhiran 'sama' di belakangnya."
"Hahaha..."
Mereka sungguh tidak tahu jika ucapan Shikamaru bukan hanya di dengar oleh Naruto. Tapi, juga di dengar seorang pemuda manis yang kini menjadi menjadi pujaan si pirang.
.
.
.
Sasuke melangkahkan kakinya lesu ke arah kelas. Dia tidak peduli pada apapun lagi. Bahkan pada Kabuto yang terkenal dingin dan kejam melebihi Ibiki yang sekarang sedang mengajar di kelasnya. Dia juga bahkan tidakpeduli pada Iruka yang memanggil namanya sedari tadi.
Tunggu!
Memanggil namanya...
'Shit!' Umpatnya dalam hati.
"Ya, Sensei." Sahut Sasuke membalas panggilan Iruka.
Iruka mendekati Sasuke yang berdiri tidak jauh dari kelasnya. "Kau dari mana, Sasuke?" Tanyanya heran melihat muridnya di luar kelas.
Sasuke menundukan kepalanya. "Saya dari perpustakaan, Sensei." Jawabnya setengah berbohong setengah jujur.
"Oh..." Iruka tersenyum tipis mendengar jawaban Sasuke. "Sebaiknya kau ke ruangan Kepala Sekolah. Orang tua mu juga ada di sana." Ujarnya lembut.
Sasuke menatap Iruka tidak percaya. Orang tuanya sudah datang jam segini? Apa mereka tidak bekerja dulu?
Iruka menggoyangkan telapak tangannya di depan Sasuke. "Sasuke?"
Pemuda nerd itu mengerjapkan matanya. Dia menatap wajah khawatir Iruka, kemudian menganggukan kepalanya ringan. "Baiklah, Sensei. Saya permisi." Pamitnya bergegas pergi dari hadapan Iruka.
Iruka menatap Sasuke aneh. "Ada apa dengannya?"
.
.
.
Uchiha Sasuke, pemuda nerd pemegang beasiswa selama tiga tahun penuh itu tidak pernah terlibat masalah. Apapun itu. Dan sekarang, opini itu terpaksa di ubah akibat ulah seorang senpai bernama Jirobo.
Jirobo, seorang siswa kelas XII B. Tubuh tinggi besar, tidak tampan dan juga pintar. Masuk ke KIHS dengan nilai pas-pasan. Yah, tidak kurang dan lebih. Lebih mengandalkan otot dan harta orang tuanya. Terlalu pengecut jika di hadapkan dengan seseorang yang lebih berkuasa darinya. Yah, contohnya takut dengan Naruto.
Awal mula kebencian seorang Jirobo pada pemuda manis bernama Uchiha Sasuke terjadi saat Sasuke sudah tiga bulan berada di KIHS sebagai murid kelas satu. Sebagai salah satu orang kaya di Konoha, Jirobo selalu menindas orang yang memang tidak pantas untuk satu sekolah dengannya. Begitu tahu sang Uchiha mendapat beasiswa di KIHS, Jirobo mulai mem-bully-nya secara terus-terusan.
Namun, penyiksaan terhadap Sasuke semakin extreme saat dia tahu kouhainya itu seorang gay. Sebenarnya, dia mengetahuinya tanpa sengaja. Saat di gedung aula, parkir dan kantin –yang paling sering di amati oleh Jirobo- dia bisa melihat Sasuke sering mencuri pandang ke arah Naruto. Hipotesisnya memang tidak pernah salah. Apalagi, saat melihat rona merah yang menghampiri wajah culun Sasuke jika menatap pangeran pirang itu. Semakin membuat dia yakin jika Sasuke memang seorang gay yang menyukai Naruto.
Dia yang memang tidak menyukai Sasuke berusaha memanfaatkan rahasia itu sebaik mungkin. Dengan cara itu, dia bisa yakin jika murid beasiswa itu bisa keluar dari KIHS.
.
.
.
Sasuke menatap pintu di depannya ragu. Hari ini, sudah dua kali dia merasa gundah. Pertama, tentang pujaannya yang ternyata sedang jatuh cinta entah pada siapa. Kedua, orang tuanya datang secepat ini. Membuat Sasuke tidak yakin untuk masuk ke dalam sana.
Namun, jika dia terlalu lama dalam kebimbangan, masalah ini tidak akan selesai. Dia tidak ingin membuat orang tuanya khawatir. Dia juga ingin merasa tenang selama bersekolah di KIHS. Tanpa memikirkan apapun lagi. Tanpa memikirkan...Naruto.
TOK TOK TOK
Dengan penuh kepastian, dia mengetuk pintu hitam di hadapannya. Suara berat seorang pria yang menyuruhnya masuk membuat Sasuke memutar handle pintu dengan perlahan.
"Ah, ternyata orang yang dari tadi kita tunggu sudah datang. Silahkan masuk, Sasuke." Kata Hiruzen santai.
Sasuke berdiri di dekat pintu masuk. Dia bisa melihat orang tuanya sedang duduk dengan mata mengarah padanya. Dan dia sangat tahu arti tatapan itu.
.
.
.
Sebuah rumah megah, ah, lebih tepatnya mansion mewah berdiri gagah. Rumah bercat putih itu di kelilingi oleh beberapa bodyguard handal kepercayaan si pemilik mansion. Masuk ke dalam mansion, akan tersaji sebuah pemandangan kemewahan yang menghiasi setiap sudut. Bukti dari keberhasilan si pemilik akan usahanya selama ini.
Tapi, kita tidak akan berfokus pada mansion mewah itu. Kita akan melihat ke bagian ruang keluarga yang juga tidak kalah mewahnya. Ruang keluarga itu tidak hanya terisi perabotan mahal. Akan tetapi, ada tiga sosok yang akan kita bahas di sini. Sosok pertama adalah sosok yang paling kita kenal senang membully seseorang. Ya, dia adalah Jirobo. Sedangkan kedua sosok yang bersamanya adalah Gato dan Guren, kedua orang tuanya yang saat ini sedang bertengkar tentang surat panggilan dari Kepala Sekolah KIHS.
Jirobo bersungut-sungut dalam hati. Dia bersedekap tangan dengan tatapan mengintimidasi. Dia bisa melihat orang tuanya saling menyalahkan di depannya. "Bisakah Kaa-san dan Tou-san berhenti mengoceh? Aku tidak bisa tenang jika mendengar ucapan tidak bermutu dari kalian." Ungkap Jirobo kesal.
Gato menoleh. Dia menggeram mendengar ucapan Jirobo. "Tidak bermutu kau bilang?" Teriaknya. "Kau yang tidak bisa menjadi anak yang bermutu. Apa aku menyekolahkan mu hanya untuk menjadi preman? Aku menyekolahkan mu agar menjadi anak yang berguna. Tidak menghamburkan uang kami sembarangan." Dia menoleh ke arah istrinya. "Dan ini semua karena didikan mu. Jika kau tidak memanjakannya sedemikian rupa, dia tidak akan berbuat seperti ini. Mempermalukan nama keluarga kita." Cibirnya sinis.
Guren segera meraung marah. "Kau menuduh ku? Apa kau tidak bercermin, Hah?! Kalau kau lebih perhatian dengan Jirobo. Dia tidak akan senakal ini!"
Pertengkaran kembali terjadi. Jirobo hanya mendengus benci dan berucap. "Dari pada bertengkar sekarang. Akan lebih baik kita segera pergi ke KIHS. Kepala Sekolah pasti menunggu kita."
PLAK
"Jangan mengatur ku, Anak Sialan!" Geram Gato setelah menampar Jirobo. "Jangan harap setelah ini kau akan hidup enak." Ancam pria gemuk itu seraya pergi meninggalkan istri dan anaknya.
Guren mengelus lembut pipi putranya. "Jangan di ambil hati ucapan, Tou-san mu. Dia memang begitu." Hiburnya pelan.
Jirobo menepis tangan ibunya dan berlalu pergi.
"Kenapa anak jaman sekarang tidak tahu adat sama sekali?" Gumamnya menyusul suami dan anaknya.
.
.
.
Tiba-tiba, Naruto menatap wajah Shikamaru skeptis. Pemuda pemalas itu jelas merasa heran dengan tatapan yang di layangkan temannya itu padanya. "Kenapa kau menatap ku seperti itu?"
"Aku heran, kau yang tidak pernah berpacaran selama kita berteman, bisa mengucapkan hal aneh seperti itu."
PLAK
"Hei, kenapa kau memukul kepala ku?" Naruto mengusap kepalanya yang terasa sakit. "Kau tidak tahu, kepala ku ini sangat berharga." Gerutunya kesal. "Sudah banyak hal yang berharga di hasilkan oleh otak pintar ku ini." Ucapnya jumawa.
Kini, giliran Shikamru yang menatap Naruto skeptis. "Kepala yang bahkan tidak tahu tentang cinta itu kau banggakan?" Cibirnya telak. "Aku bahkan tidak tahu seberapa pintar otak mu yang bodoh akan cinta." Sindirnya.
"Hei! Cinta itu menggunakan perasaan, bukan otak." Bela Naruto.
"Ya, ya, ya. Baru kali ini kau mengatakan hal benar." Sindir Shikamaru. Dia lalu berdiri dan merenggangkan tubuhnya.
"Kau mau kemana?"
"Aku mau pulang saja. Lebih enak santai di rumah dari pada di sekolah." Pemuda beriris kuaci itu menatap Naruto. "Mau ikut?"
Pemuda pirang itu tersenyum lebar. "Tentu saja." Dia lalu berdiri dan merangkulkan tangan di pundak Shikamaru. "Beberapa hari ini aku sibuk rapat dengan Tou-san. Jadi, tidak sempat istirahat." Jelasnya singkat.
"Mendokusei." Naruto mendengus mendengar tredmark Shikamaru. "Kita harus telpon Kiba dan Shino. Mereka berdua akan merasa kesal jika tahu kita bolos tanpa memberitahu mereka."
"Kau benar."
Mereka berdua segera melangkah santai menuju tempat parkir. Masuk ke dalam mobil dan mengendarainya ke arah gerbang KIHS. Penjaga gerbang tersenyum dan membuka pintu gerbang setelah melihat siapa yang ada di dalam mobil. Mereka memang sudah terbiasa melakukan ini jika bosan. Apalagi, status mereka yang menjadi pewaris perusahaan yang terkadang membantu orang tua. Membuat mereka mendapat kelonggaran melakukan apapun. Dan itu juga di manfaatkan oleh kedua pangeran KIHS ini jika mereka sedang malas belajar. Dan tanpa mereka ketahui, sebuah mobil mewah berwarna hitam memasuki sekolah.
.
.
.
"Kenapa kau tidak pernah memberitahu Kaa-san?" Sasuke semakin menunduk mendengar perkataan itu. "Apa Kaa-san tidak berhak tahu apa yang terjadi pada putranya?"
"Kaa-san..."
"Kau anggap apa Kaa-san, Sasuke?"
"Maafkan aku."
Fugaku mengusap bahu istrinya. "Sudahlah, Mikoto. Dia hanya tidak ingin membuat mu khawatir." Hiburnya pelan.
Wanita yang masih terlihat cantik itu menghela nafas lelah. "Setidaknya, jangan sembunyikan apapun dari ku." Dia mengalihkan tatapannya pada si bungsu. "Aku seperti tidak di anggap oleh anak sendiri." Sindirnya telak.
"Kaa-san, bukan maksud ku seperti itu." Mendengar sindiran dari ibunya, membuat Sasuke salah tingkah. "Seperti kata Tou-san, aku tidak ingin, Kaa-san terlalu khawatir pada ku. Aku tidak ingin Kaa-san sakit." Ucapnya memelas.
"Dan kau malah membuat ku semkain pusing. Ya ampun, Sasu-chan. Bisakah jangan bertingkah terlalu dewasa? Kau ini masih kecil. Tidak perlu berlagak tua."
"Kaa-san, aku bukan anak kecil lagi." Sanggah Sasuke tidak terima.
"Kau masih kecil di mata ku." Balas Mikoto kalem.
Fugaku mengurut pangkal hidungnya pelan. "Sudahlah. Apa kalian tidak malu dengan Kepala Sekolah?" Tunjuknya pada sang Kepala Sekolah yang sedang menatap mereka penuh rasa humor.
Rona merah langsung menjalar di kedua pipi Mikoto dan Sasuke.
Hiruzen tersenyum melihat tingkah kedua Uchiha di depannya. "Tidak apa, Uchiha-san. Saya tidak merasa terganggu sama sekali." Ucapnya.
Mikoto menundukan kepalanya sedikit. "Kami minta maaf, Sarutobo-san. Tingkah kami pasti sangat mengganggu, Anda."
TOK TOK TOK
Suara ketukan pintu menginterupsi Kepala Sekolah untuk menyanggah ucapan Mikoto. "Masuk."
CKLEK
Seorang pria paruh baya yang memakai seragam penjaga KIHS terlihat saat pintu di buka. "Kepala Sekolah, orang tua Jirobo sudah tiba." Lapornya singkat. Tapi, dapat membuat keluarga Uchiha terkesiap.
Kepala Sekolah segera berdiri dari kursinya. "Persilahkan mereka masuk." Dia lalu memandang keluarga Uchiha dengan ramah. "Waktunya membereskan masalah di antara Sasuke dan Jirobo, Uchiha-san."
Sedangkan Sasuke langsung meremas celananya saat melihat Jirobo yang menyeringai ke arahnya. 'Apa yang harus ku lakukan?'
.
.
.
TBC
Sudah berapa lama Ane belum update nih, fict? Seminggu? Sebulan? Ah, yang pasti tidak setahun. Ane masih sayang ma fict pertama Ane.
Bagaimana menurut kalian chapie sekarang? Semakin baik atau buruk? Well, Ane tidak bisa menerka. Karena kalian lah readers di sini.
Dari awal chapie sampai sekarang, Ane belum sempat ngejelasin tentang Kelas Spesial dan pemain di 'Jatuh Cinta, Eh?' ini. Dan sekarang, Ane akan menjelaskannya.
Seperti yang kita ketahui, Kelas Spesial di bagi menjadi dua sesuai penjelasan Ane sebelumnya -chapie 3-. Sesuai peraturan yang berlaku, Kelas Spesial hanya untuk siswa/siswi yang ikut membantu di perusahaan keluarganya.
Kelas Spesial hanya sampai dua tahun. Seluruh tingkat tergabung dalam ruangan ini. Yang membedakan mereka hanyalah warna kerah baju. Hitam untuk tahun kedua dan putih untuk tahun pertama.
Dan sekarang, Ane akan menjelaskan tentang pemain di fict Ane yang gaje ini.
~Namikaze Naruto
Umur : 17 tahun
TB : 188 cm
Posisi : Kelas Spesial Tahun Ke-2
~Uchiha Sasuke
Umur : 16 tahun
TB : 165 cm
Posisi : Kelas XI A
(Mulai chapie ini, Ane akan memperkenalkan para pemain yang berperan penting pada fict pertama Ane. Kalau ada yang mau bertanya, silahkan tanya di kotak review)
Ane sudah terlalu banyak cuap-cuap. Kesibukan Ane sebagai author yang keren *geplak* membuat waktu Ane banyak tersita. Jadi Ane g' sempat untuk balas.
Special Thanks To :
HimekaruLi, Kuro Rozu LA, Aicinta, Guest 1, Yassir, Suira, .12, Fro Nekota, Alta0sapphire, DINDA red-devil24, Willow Aje Kim, Julihrc.
Yang ini juga di review ya, readers sekalian...
