CHAPTER 2

.

Hari ini adalah hari pertama menjalankan peraturan baru. Kemarin, kepala sekolah Kwon Boa memberitahukan bahwa jam masuk sekolah yang seharusnya pukul 7.30 pagi, kini berubah menjadi pukul tujuh pagi.

Dan, untuk memastikan para siswa tidak melanggar peraturan baru dihari ini. Kwon Boa sudah mengutus beberapa guru untuk memeriksa semua murid digerbang sekolah. Mulai dari rambut, sepatu, hingga barang bawaan.

"Buka tas" ucap Kim Kibum pada seorang siswa. Dia mememeriksa dengan teliti isi tas itu. Lalu ia memeriksa warna rambut, atribut sekolah dan sepatu. "bagus" katanya lalu mengembalikan tas itu pada pemiliknya mempersilahkan murid itu masuk, karena namja itu mematuhi peraturan.

"buka tas" katanya pada seorang siswa berikutnya. "kepala sekolah sudah bilang, 'dilarang membawa ponsel'" kata Kibum seraya mengambil sesuatu dari dalam tas murid tersebut. "kenapa kau malah membawa gagang telepon?" tanya Kibum seraya menunjukkan sebuah gagang telepon berwarna biru didepan hidung murid tersebut.

"aish! Sonsaengnim. Ini botol minum. Lihat" namja itu membuka tutupnya yang berada diantena gagang telepon itu, lalu meminum air didalamnya. Kibum melongo melihatnya.

"kau ini sudah SMA, kenapa masih membawa botol minum semacam itu?"

"sonsaengnim tidak tahu ya? Minum dari gelas yang sama dengan banyak orang bisa menularkan kuman dan penyakit. Maka itu aku membawa botol sendiri. Ini lebih higienis" kata namja itu yang ternyata adalah Lay seraya memasukan kembali botol minumannya kedalam tas. "lagi pula ini botol favoritku" kata Lay lalu melenggang masuk ke area sekolah.

Beralih pada guru yang lain,

Choi Minho. Dia sedang digodai oleh beberapa namja berjiwa uke, membuat Taemin yang berdiri tak jauh darinya cemburu.

"sonsaengnim, minta nomor teleponnya dong~"

"sonsaengnim, foto bersama kita dong~" kata salah satu namja sambil mengambil kamera dari dalam tas nya.

"eh- i-itu, ka-kau tidak boleh bawa kamera kesekolah" kata Minho sambil berusaha menjauhi semua uke genit disekelilingnya.

"kau boleh merampasnya setelah berfoto bersama kami" kata namja itu yang di'iya'kan oleh yang lain. Dan mereka mulai berebut untuk meraih lengan Minho.

"uwaa! Ja-jangan sentuh-sentuh!" ucap Minho pada murid-murid genit itu seraya melirik Taemin yang sedang mengawasinya dengan wajah cemberut. Choi Minho adalah guru bahasa Inggris. Digandrungi oleh banyak siswa karena wajahnya yang tampan, dan dia adalah namjachingu dari Lee Taemin.

Berbeda dengan Minho. Kim Jonghyun, bukannya memeriksa tas muridnya, dia justru sedang menggodai murid-muridnya. "Baekkie~ Kau cantik sekali" ucapnya lalu memberikan wink andalannya pada Byun Baekhyun.

"sonsaengnim bisa saja" ucap Baekhyun dengan rona merah dipipinya. Jonghyun memeriksa tas Baekhyun dan menemukan sebuah ponsel dan cermin.

"maaf Baekkie, aku harus menyita ini" kata Jonghyun sambil mengambil ponsel dan cermin milik Baekhyun.

"ja-jangan.. aku membutuhkannya" kata Baekhyun dengan wajah sedih.

"baiklah.. tidak akan kusita jika kau mau kencan denganku nanti malam" tanya Jonghyun pada Baekhyun.

Hh~ adik dan kakak sama saja.

Lee Jinki, guru pro Murid. "buka tas" ucapnya lalu mulai memeriksa isi tas murid itu dengan asal-asalan. "silahkan masuk" katanya seraya mengembalikan tas itu pada pemiliknya. Padahal didalam sana ada ipod dan komik.

"buka tas" katanya lagi pada seorang murid yang diketahui bernama Oh Sehun. Sehun membuka tasnya. Dan Lagi-lagi Jinki memeriksanya dengan asal-asalan. Padahal didalam tas Sehun ada beberapa CD dan majalah yadong. Jinki menatap sepatu sehun yang berwarna merah lalu beralih pada rambut Sehun yang masih berwarna-warni. "silahkan masuk" katanya. Dan Sehun pun melenggang masuk kesekolah dengan santainya.

"to-tolong buka tasnya" kata Taemin pada Bang Yongguk. "ka-kalau tidak mau ya sudah, silahkan masuk" lanjut Taemin, karena Yongguk malah menatap dingin padanya.

Mereka melakukan pemeriksaan hingga bermenit-menit dan berhasil menyita banyak ponsel dan beberapa pasang sepatu berwarna-warni.

.

"astaga Gyojangnim?! Apa yang anda lakukan?!" ucap Suho tidak percaya. Kwon Boa, kepala sekolahnya yang cantik itu kini sedang membaca 'YAOI magazine' mingguannya tak jauh dari tempat pemeriksaan siswa.

"sudah sana pergi" kata Boa seraya memukulkan majalah itu ke lengan Suho. "jangan mencempuri urusan orang dewasa" lanjutnya sambil membuka halaman majalah itu.

"sebagai ketua organisasi siswa disini saya harus blablablablabla" Suho mulai berkhotbah panjang lebar. Boa tidak mempedulikannya, ia tetap asyik membolak-balik halaman majalah itu.

"Suho? Kau sedang apa disini?" tanya Lay yang tidak sengaja mendengar kekasihnya itu berbicara panjang lebar didepan kepala sekolah.

"eh? Chagi~ kau sudah datang?" ucap Suho tak lupa memberikan senyum malaikatnya yang membuat Lay blushing.

TING!

"'chagi'? Kalian pacaran?" tanya Boa antusias.

Suho menatap Boa dengan (-_-). Tadi aku bicara tidak dihiraukan sekarang malah tanya-tanya. "jangan mencampuri urusan anak muda" kata Suho lalu menggandeng Lay pergi dari depan Boa yang sweat droped.

"YAH! Berani sekali kau! Untung kalian pacaran! Kalau tidak, sudah ku hukum kau!" kutuk Boa.

.

"sudah waktunya gerbang ditutup" ucap Kibum sambil melihat jam tangannya. Ia dan Taemin berjalan menuju gerbang sekolah dan hendak menutup gerbang sebelum sebuah suara menginterupsi mereka.

"TUNGGU!"

Seorang siswa berlari dengan cepat menghampiri mereka. "biarkan aku masuk sonsaengnim. Aku ingin bertemu Xiubaby~~" ucapnya. Taemin dan Kibum hanya menatap malas muridnya itu. Kim Jongdae. Ternyata mengejar Xiumin setiap hari ada manfaatnya juga. Ia jadi terlatih berlari dengan cepat.

"masuklah" kata Kibum. "periksa dulu tas nya" lanjutnya pada guru yang lain.

Lee Jinki memeriksa tas Jongdae. Ada PSP, ponsel, beberapa CD game dan komik-komik. Jinki menutup ransel dan mengembalikannya pada Jongdae. "silahkan masuk" lanjutnya, dan membiarkan Jongdae beserta PSPnya masuk kedalam.

"ayo tutup" kata Kibum yang diangguki Taemin.

Baru selesai menutup gerbang, mereka mendengar suara lagi.

"TUNGGU!"

"hhh~" Taemin dan Kibum menghela nafasnya berat.

"hosh.. hosh..hosh.." Kim Jongin, kini terengah-engah dihadapan dua gurunya itu setelah mengejar kakaknya yang lari duluan dari tempat parkir. Tadi, Jongin dan Jongdae berangkat bersama dengan motor Jongin. Dan saat sudah sampai, Jongdae langsung turun dari motor pergi meninggalkan Jongin yang harus memarkir motornya.

"annyeonghaseyo" katanya dengan sedikit terengah. Tapi ia masih sanggup memberikan wink gratis pada Taemin.

"kau terlambat" ucap Kibum. "tidak boleh masuk" lanjutnya.

"apa? Tapi, Jongdae hyung tadi boleh masuk?!" kata Jongin tidak terima.

"dia hanya terlambat satu detik. Sedangkan kau terlambat satu menit" kata Kibum. Jongin menunjukkan ekspresi yang seolah berkata 'WTF?*what the fun?*'. Jongin menatap Taemin dengan tatapan memohon. Namun Taemin memalingkan wajahnya dari Jongin.

"AARRRGGGHH! INI TIDAK ADIL!" Jongin berteriak frustasi sambil membanting ranselnya. Padahal dia ingin segera membaca majalah yadong yang ada pada Sehun. Semalam ia titip pada Sehun untuk membawa majalah yadong simpanannya.*kamu punya simpanan?*korban iklan.

"Hyung~ bantu aku" rengeknyanya pada Jonghyun yang sedang bercermin dengan cermin milik Baekhyun. Tadi Baekhyun menolak berkencan dengannya dan merelakan cermin kesayangannya disita.

"apa? Apa aku mengenalmu?" ucap Jonghyun lalu tertawa senang. Tidak peduli dengan ancaman yang diucapkan Jongin.

"a-annyeonghaseyo"

Semua orang disana menatap pada seorang namja yang berada diluar pagar bersama Jongin. "eh? Kyungsoo? Kau terlambat?" tanya Taemin.

Namja bernama Kyungsoo itu mengangguk. "ta-tadi ada sedikit masalah dijalan. Cheoseonghamnida" katanya.

"hhh~" Kibum menghela nafasnya. Kyungsoo adalah salah satu murid yang baik. Namanya tidak pernah tercatat dibuku pelanggaran selama ini. Tapi jika ia membukakan gerbang untuk Kyungsoo, itu berarti Jongin juga harus diizinkan masuk. Kibum memang galak, tapi ia tidak mau dibilang guru yang pilih kasih.

"baiklah. Kalian boleh masuk. Tapi kalian akan kami beri hukuman" Jongin menatap Kibum tidak percaya. Baru pertama kali ini dia lihat Kibum berbaik hati pada muridnya.

"gamsahamnida sonsaengnim. Jeongmal gamsahamnida"

.

"hufffh~" Sehun menghela nafas bosan. Sudah jam segini Jongin belum muncul juga. Sehun menopang dagunya. Biasanya jam segini, Sehun dan Jongin akan membolos kelas. Sehun memandang sekeliling kelas. Banyak siswa yang sedang mengobrol. Ck! membosankan!.

Pandangan Sehun berhenti pada seseorang yang baru saja lewat didepan kelasnya. Youngjae keh~keh~keh~. Sehun tersenyum evil.

Dia bangkit dari duduknya dan melesat mengejar Youngjae yang belum jauh berjalan.

"Youngjae, yuhuuu~"*joget bareng Secret.

Youngjae menghentikan langkahnya. Dia sudah tahu benar siapa pemilik suara itu. Dia berbalik dengan senyum manis. "ne.. Luhan Hyung?".

Sehun yang sudah hampir berteriak memanggil Youngjae itu pun mengurungkan niatnya saat ia melihat Youngjae sedang mengobrol dengan seorang namja yang... cantik. Sehun mengintip dari balik tembok kelasnya untuk menguping pembicaraan dua namja itu.

"Wah! Umma pasti senang sekali!" ucap Youngjae kegirangan sambil menerawang sebuah sepatu kaca.

Sehun memekik kecil. "itu kan sepatu Cinderella rancangan Stuart Weitzman(umma Sehun juga punya)". Sehun mengerutkan keningnya, "ah, mungkin itu hadiah. Tidak mungkin umma Youngjae membeli sepatu seharga dua juta dollar. Hahahaha" lanjutnya dengan nada bangga.

"-ah, baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu, ne. Annyeong" ucap Luhan.

"ne, gomawo hyuuuung~" kata Youngjae sedikit berteriak karena Luhan sudah berjalan pergi. Youngjae melirik Sehun yang sedang memandangi punggung Luhan. Ia tertawa kecil, memangnya aku tidak tahu kau ada disitu. Ah! Sebelum ia sadar dan pamer kekayaan lagi, lebih baik aku cepat pergi. Dan Youngjae pun berjalan mengendap-endap meninggalkan Sehun.

"sedang apa kau, Oh Sehun?" ucap Minho yang akan mengajar dikelas Sehun.

"eh? Youngjae mana?" Sehun celingukan mencari-cari Youngjae.

"Youngjae?" Minho ikut-ikutan mencari. "tidak ada Youngjae. Sudah, ayo masuk kelas" Sehun pun masuk kekelas dengan kecewaan. Padahal dia mau pamer sepatu baru.

.

Tao memandang keluar jendela. Matanya fokus menatap sesosok namja yang sedang berada dilapangan. Satu-satunya namja berwajah tampan disana. "sedang melihat Jonghyun sonsaengnim ya?"

Tao menoleh pada Chanyeol yang duduk disampingnya. "a-anio" katanya. Chanyeol menatap menyelidik pada Tao.

"dia tidak melihat Jonghyun sonsaengnim, tapi dia sedang melihat pangeran Wu" goda Daehyun yang duduk didepan mereka. Chanyeol dan Daehyun tertawa bersama.

"ti-tidaak" elak Tao.

"lihat wajahnya memerah" kata Chanyeol sambil menunjuk Tao yang sedang blushing. Dia dan Daehyun kembali tertawa.

"Dengar ya. Kalau kau suka padanya, katakan saja. Sebelum dia diambil orang" ucap Daehyun pada Tao yang diangguki Chanyeol

"kalau ditolak, ya sudah. Cari yang lain saja. Mudah kan?" tambah Chanyeol yang diangguki Daehyun.

"selamat pagi, anak-anak" sapa seorang guru yang langsung dibalas sapa oleh semua muridnya. Daehyun dan Chanyeol mulai fokus pada sang guru(bukan karena niat belajar, hanya agar tidak dihukum saja). Sedangkan Tao kembali menatap keluar jendela. Hhh~ Kalian tidak mengerti...

.

"tampan sekali~" gumam Zelo sambil menatap keluar jendela. Zelo sedang menatap pada Kris Wu yang sedang mengikuti pelajaran olahraga.

Zelo adalah fans dari Kris Wu sang pangeran sekolah. Sejak pertama melihatnya, Zelo(bisa dibilang) langsung jatuh cinta pada Kris. Sudah lebih dari lima bulan dia masuk kesekolah ini, namun sekali pun Zelo tidak pernah berani berhdapan dengan Kris. Ia terlalu takut dan...malu.

"hh~ andai dia tahu jika aku menyukainya" gumam Zelo lagi.

"menyukai siapa?" tanya Choi Minki atau yang biasa dipanggil Ren, teman sebangku Zelo.

"ah, b-bukan siapa-siapa" kata Zelo gugup lalu mulai membolak-balik buku pelajarannya.

"oh. Aku kira kau menyukai pangeran Wu. Jika itu benar, lebih baik lupakan saja. Kau tidak akan pernah bisa bersama dengannya" kata Ren lalu berpaling pada buku pelajarannya. Perkataan Ren barusan langsung menancap dihati Zelo. Membuat Zelo makin salah tingkah dan membalik halaman buku miliknya terlalu keras hingga sedikit sobek.

.

"ffiuuuhh~ Akhirnya selesai juga" ucap Jongin sambil mengelap keringat didahinya. Dia baru saja selesai menyikat bilik terakhir toilet. "kenapa namja tampan seperti aku harus membersihkan toilet?" kata Jongin seraya berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangan.

"ini semua gara-gara Jongdae dan Jonghyun hyung! Awas saja mereka. Akan kuhabisi saat dirumah nanti!" gerutu Jongin sambil mencuci tangannya. Jongin melirik pada namja disampingnya yang juga sedang mencuci tangannya dengan tenang.

Do Kyungsoo. Sejak tadi Jongin tidak mendengarnya menggerutu seperti dirinya. Jangankan menggerutu, mengeluarkan suara pun tidak. Jongin menatapi wajah Kyungsoo lewat cermin besar didepan mereka. keh~ keh~ keh~ manis juga, batin Jongin sambil tersenyum evil. Jongin menggeser tubuhnya hingga berada dibelakang Kyungsoo, lalu memeluk pinggang Kyungsoo.

Kyungsoo yang merasakan pinggangnya dipeluk seseorang pun menatap pada cermin. Dia melihat Jongin yang sedang tersenyum padanya disana. "kalau tidak salah, namamu Kyungsoo kan?" tanya Jongin. Kyungsoo mengangguk.

"kau murid kelas satu juga?" tanya Jongin lagi. "kau cantik juga ya" lanjutnya sambil menempelkan dagunya dibahu Kyungsoo. Kyungsoo membulatkan mata mendengar pujian Jongin.

"a-aku murid kelas dua" jawab Kyungsoo sedikit takut. Kyungsoo tahu jika Jongin adalah adik Jongdae dan Jonghyun. Dan dari mereka bertiga, Jonginlah yang tingkat ke-pervert-annya paling tinggi.

"ah~ Kelas dua. Aku juga suka dengan yang lebih tua dariku" kata Jongin.

"bisakah kau lepaskan tanganmu, Jongin? Aku sedikit tidak nyaman" kata Kyungsoo.

"oh?! Kau tahu namaku juga? Bagus sekali!" ujar Jongin sambil memeluk Kyungsoo lebih erat lagi.

"a-apa maksudmu?" Tanya Kyungsoo takut dan melepas paksa tangan Jongin dari pinggangnya.

Ia lalu mundur menjauhi Jongin yang sedang mendekatinya. Seperti seekor serigala yang akan menerkam mangsanya. #Kai nyanyi dalam hati: geurae Wolf, naega Wolf. Awooo~*plak!*

"maksudku, aku jadi tidak perlu repot-repot memberitahukan namaku" katanya sambil terus mendekati Kyungsoo dengan seringainya. "kau hanya perlu sedikit mengganti nadanya saat menyebut namaku nanti" katanya.

Kyungsoo terus mundur hingga punggungnya menyentuh tembok toilet. Dia terpojok dan Jongin semakin dekat dengannya.

"pasti menyenangkan" katanya sambil mengurung Kyungsoo diantara kedua lengannya. Jongin menyunggingkan senyum kemenangan. Perlahan-lahan ia mendekatkan wajahnya pada wajah Kyungsoo.

Kyungsoo menutup kedua matanya, takut dengan apa yang akan terjadi setelah ini. Ia bisa merasakan hembusan nafas Jongin menggelitik hidungnya...

"terlalu pagi untuk mencari mangsa, Kim Jongin"

Jongin menghentikan aksinya. Kyungsoo membuka matanya. Mereka berdua menatap pada sumber suara. Taeyeon sedang berdiri didepan pintu dan dia sudah melihat semuanya. "hukuman kalian sudah selesai. Kalian boleh kembali kekelas" kata Taeyeon.

Kyungsoo yang sadar duluan langsung mengambil tasnya, "gamsahamnida sonsaengnim" kata Kyungsoo sebelum keluar toilet.

Jongin menatap kecewa kepergian mangsanya. "hh~ aku belum sarapan sonsaengnim" keluh Jongin. Taeyeon memandang malas pada murid mesumnya itu sebelum ia pergi meninggalkannya seorang diri.

.

TENG! TENG! TENG!*suara apa itu hayo? Hiiiii... takuuuuut*plak!*

Jam istirahat sekolah telah tiba, seluruh siswa berhamburan keluar dari kelasnya. Seperti biasa Baekhyun, Kyungsoo dan Jongdae pergi ke kantin untuk makan siang. Kali ini mereka tidak mengambil duduk ditengah kantin lagi. Karena tempat itu terlalu strategis untuk menjadi tempat tontonan. Kali ini mereka memilih untuk duduk dipojok kantin.

BEEP! BEEP! BEEP! BEEP!

Baekhyun, Kyungsoo dan semua orang disana tidak memperdulikan suara PSP Jongdae. Mereka terlalu lapar untuk mempermasalahkannya. "-jadi kau terlambat. Aku kira kau bolos sekolah" kata Baekhyun.

"Tidak. Aku tidak akan bolos jika tidak benar-benar terpaksa" jawab Kyungsoo. Baekhyun hanya mengangguk.

Itu memang benar. Menurut Baekhyun, Kyungsoo adalah manusia ter-rajin yang pernah ia kenal. Tidak pernah terlambat kesekolah. Selalu mengerjakan tugas dengan baik. Patuh pada peraturan. Ditambah lagi dia sangat sopan dan ramah. Lengkap sudah. Semua orang menyayangi Kyungsoo. Termasuk Baekhyun.

"Kyungsoo, apa tampilanku masih oke?" tanya Baekhyun. Dia tidak akan bertanya jika cerminnya tidak disita. Sebenarnya dia punya cermin cadangan yang ada dirautan pensil berbentuk bulat miliknya. Tapi cermin di rautan pensil tidak akan memuat seluruh wajahnya. Lagi pula, cermin kan bukan barang elektronik. Baekhyun curiga jika Jonghyun sonsaengnim menyitanya untuk keperluan pribadi.

"oke" jawab Kyungsoo sambil memberikan dua ibu jarinya.

"masih cantik?" tanya Baekhyun lagi.

"tentu saja" jawab Kyungsoo lagi.

"apa? Cantik?"

Baekhyun dan Kyungsoo menoleh pada seseorang yang tiba-tiba muncul diantara mereka sambil membawa nampan makan siangnya. "HHHHMMMFFFF" namja itu menahan tawanya.

Baekhyun melirik pada tag name namja itu. Park Chanyeol. "apa maksudmu, Chanyeol-ssi?" tanya Bakehyun dingin.

"akan kuberitahu apa itu 'cantik'" kata namja bernama Chanyeol itu. Baekhyun menatap kesal pada Chanyeol.

"cantik itu, seperti dia" kata Chanyeol sambil menunjuk pada seorang namja yang diketahui Baekhyun sebagai flower Boy disekolah ini. Xiao Luhan. "kau mengerti sekarang?"

"Jika ingin menyainginya. Kau harus berusaha lebih giat lagi, nak. Hahahaha" ucap Chanyeol sambil mengacak pelan rambut Baekhyun, sebelum berlalu meninggalkan meja Baekhyun dkk.

"BUAHAHAHAHA!" Jongdae tertawa keras. "aku suka sekali dengannya" lanjut Jongdae sambil menunjuk Chanyeol. Baru kali ini Jongdae mengabaikan PSPnya.

"diam kau!" desis Baekhyun. Dan terjadilah perang mulut diantara mereka.

"loh? Bukannya itu Xiumin hyung?" kata Kyungsoo, menghentikan Jongdae yang akan kembali mengatai Baekhyun 'tidak cantik'.

"hah? Mana? Mana?" tanya Jongdae antusias. Jongdae melihat Xiumin sedang makan siang bersama dua temannya. "apa? kenapa aku tidak merasakan kehadirannya?" tanya Jongdae entah pada siapa.

.

"GYAAAAA!"

"XIUBABY!"

Zelo yang sedang berdiri didepan kelasnya, menatap dua orang yang baru saja berlari dihadapannya hingga menghilang dari pandangan.

"Hey, manis~" Zelo merasakan sepasang tangan menyentuh pinggangnya lalu menuntunnya untuk sedikit bergeser dari ambang pintu. "Biarkan Jongin yang tampan ini lewat" lanjut namja yang ternyata adalah Jongin, sambil memberikan wink andalannya.

Dibelakang Jongin ada Oh Sehun, sahabat karib Jongin. " hai, Zelo. Rambutmu keren" katanya. "tapi tidak semahal rambutku" lanjut Sehun.

Zelo menatap kepergian mereka berdua dengan tampang polosnya. Saat Jongin dan Sehun berbelok dan menghilang dari pandangan, muncullah seseorang dari belokan tersebut. Kris Wu.

Zelo terpaku ditempatnya dengan mata yang tak henti-hentinya menatap Kris. Kris dengan gagahnya berjalan semakin dekat dengan Zelo. Zelo ingin memalingkan pandanganya, namun pesona Kris sangat sulit ditolak

"annyeong" sapa Kris pada Zelo, tak lupa memberi senyum tampannya.

"n-ne, annyeong" balas Zelo dengan gugup. Apakah ini mimpi? Astaga. Apa barusan dia tersenyum padaku? Oh Tuhan~. Zelo menyentuh pipinya yang bersemu merah. Ini pertama kalinya Zelo berhadapan dengan Kris setelah lima bulan lebih lamanya.

"Zelo, kau baik-baik saja?"

Zelo tersadar dari fantasinya. "bisa bantu aku, Zelo?" tanya Ren, Teman sebangkunya.

"oh, ne. Apa?"

"tolong kembalikan buku-buku ini diperpustakaan. Aku harus mengumpulkan daftar absensi siswa ke Lee Sonsaengnim"

"ah, tentu saja" kata Zelo sambil tersenyum manis.

"gomawo, jeongmal gomawo" ucap Ren sebelun ia melesat lari menuju ruang konseling.

.

"HUWAAAAA!"

Xiumin terus berlari. Dia tahu, jika berlari dikoridor adalah hal yang melanggar peraturan. Tapi dia tidak mau tertangkap oleh Jongdae. Jinki sonsaengnim!, batin Xiumin saat melihat Lee Jinki baru saja keluar dari ruang guru.

"Sonsaengnim! Tolong sembunyikan aku" ucap Xiumin saat dia sudah didepan Jinki.

" sembunyi? Masuk saja kesana" kata Jinki sambil menunjuk ruang guru.

" ah, baiklah" Xiumin segera masuk kesana.

Jinki pun kembali melanjutkan perjalanannya. Baru berjalan beberapa langkah, ia kembali dihentikan seorang siswa. "hosh.. Sonsaengnim.. hosh.. apa anda melihat.. Xiubaby?"

"Oh. Dia baru saja masuk kesana" jawab Jinki sambil menunjuk ruang guru.

"gamsahamnida" ucap Jongdae lalu menyusul Xiumin masuk kedalam ruang guru. "mana dia ya?" gumam Jongdae sambil celingukan mencari Xiumin.

"Xiubaby~ eodiga?" panggil Jongdae. Ruang guru sedang kosong. Mungkin guru-guru sedang makan siang bersama, hahaha.

GLUP!. Xiumin menelan ludahnya. bagaimana dia bisa tahu aku ada disini?. Saat ini Xiumin sedang bersembunyi dibalik salah satu meja guru. Aish! Jinki sonsaengnim!.

"xiubaby~ lihat saja jika aku menemukanmu. Tidak akan ku ampuni kau" ucap Jongdae.

Xiumin menutup mulutnya dengan dua telapak tangannya saat melihat siluet sepatu Jongdae dari tempat persembunyiannya. Dia melangkah mundur sambil berjongkok. Berusaha agar tidak menimbulkan suara sedikitpun.

"Xiubaby~" panggil Jongdae lagi. Jongdae menghentikan langkahnya, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "mungkin aku ditipu Lee sonsaengnim! Menyebalkan!" Jongdae menggeram frustasi.

Hehehe.. bagus. Cepatlah pergi, hush.. hush.., Xiumin terlihat senang ditempat persembunyiannya.

KRIET.

BRAK!

Xiumin tersentak mendengar suara pintu yang ditutup dengan kasar. Sepertinya Jongdae sudah keluar. Xiumin mengintip situasi sekitar. Kosong.. Jongdae sudah keluar.

"fiuuhh~" Xiumin menghela nafas lega. Ia keluar dari persembunyiannya. "padahal aku sudah ganti pewangi pakaian. Kenapa masih dikejar-kejar?" keluh Xiumin sambil berjalan menuju pintu keluar.

Xiumin membuka pintu itu, dan

"hai, Xiubaby~ Kau tahu kan, kau tidak akan bisa lepas dariku"

Ternayat Jongdae masih menunggunya didepan pintu.

.

"Seohyun-ssi, aku mau mengembalikan buku-buku ini" ucap Zelo pada penjaga perpustakaan.

"oh? Bisakah kau membantuku mengembalikan pada tempatnya?" Zelo menatap Seohyun dan beberapa tumpuk buku dimejanya. Nampaknya Seohyun sedang sibuk.

"baiklah" kata Zelo.

"ah, gomawo. Susun yang rapi di rak F23" kata Seohyun sambil menunjuk letak rak F23. Zelo mengangguk dan segera mengangkat tumpukan buku itu kesana.

Setelah menemukan rak yang dimaksud, Zelo segera menyusun buku-buku itu dengan rapi. "selesai~" katanya.

"Eunghh... eunghhh~."

Zelo menajamkan indera pendengarannya. Sayup-sayup ia mendengar sebuah suara yang aneh. "aku merindukanmu baby~"

Zelo membulatkan matanya. Ia merasa mengenal suara barusan. "apa yang sedang dia lakukan?" bisik Zelo. Zelo menggeleng, mengusir pemikiran negatif dari otaknya. "tidak mungkin" lanjutnya dengan nada getir. Untuk memastikan kebenarannya, Zelo pun mulai mencari-cari asal suara itu. Ternyata suara itu dari balik rak buku tempat Zelo berada.

Zelo menutup mulutnya. Dia tidak percaya, pikiran negatifnya ternyata positif*baca:benar. Suara itu adalah suara Kris Wu, pangeran sekolah yang ia idolakan selama ini. Zelo tidak kuat menahan air matanya lagi saat melihat Kris sedang mencium seorang namja disana.

Zelo memilih untuk pergi dari tempatnya. Ia berlari keluar dari perpustakaan, tidak mempedulikan panggilan Seohyun. "ZELO-SSI, KAU BELUM TANDA TANGAN!".

"SSSSHHHTTTTTT!" seluruh orang disana menyuruh Seohyun diam seperti bagaimana Seohyun menyuruh orang-orang diam setiap harinya. Seohyun cemberut, "itu kan bagianku".

.

"hentikan gege~, ingatlah ini disekolah" Tao mendorong tubuh Kris yang sedang memeluknya erat.

"wae? Lagipula bilik ini sudah tidak dipakai, tidak akan ada yang datang baby~" ucap Kris lalu berusaha mencium bibir Tao.

"hentikan. Bagaimana kalau ada fansmu yang melihat" ucap Tao sambil mendorong tubuh kekasihnya itu.

Ya, Tao adalah kekasih rahasia Kris. Bukan selingkuhan, bukan juga pacar gelap. Tao satu-satunya orang yang mengisi hati Kris. Mereka sudah menjalin hubungan selama delapan bulan tanpa ada seorang pun yang mengetahuinya. Sekali lagi, TIDAK ADA seorang pun YANG TAHU. Mereka BACKSTREET booo~

Mereka backstreet karena permintaan Kris. Kris takut jika Tao akan diteror oleh fans-fans nya sehingga membuat Tao tidak nyaman.

"hh~ baiklah kalau itu maumu baby~" Kris menghela nafas berat. Padahal dia sudah rindu sekali dengan panda kesayangannya itu.

.

"UWAAA~"

Xiumin terus berlari mengitari ruang guru dengan Jongdae yang mengejar dibelakangnya. "sudahlah, jangan mengejarku lagi. Aku lelah~ hosh..hosh.." ucap Xiumin sambil berlari.

"tidak mau. Aku tidak akan berhenti sampai aku dapat apa yang aku inginkan!" jawab Jongdae dan menambah kecepatan berlarinya.

"uwaaaaa~"

Xiumin terus berlari mengitari barisan meja-meja disana. Sampai Xiumin sadar jika Kibum sonsaengnim sudah berada didepannya. Xiumin mengerem kakinya sampai ia terpeleset dan berhenti dihadapan Kibum.

Kibum menjewer telinga kanan Xiumin dengan wajah garang. "dilarang berlari dikoridor, malah berlari-larian diruang guru, eoh?".

"akh! A-appoyo, sonsaengnim" rintih Xiumin saat Kibum memaksa dirinya berdiri dengan menarik telinganya.

"Yah! Sonsaengnim. Jangan menyakiti Xiubaby!" Ucap Jongdae seraya berusaha melepaskan jeweran tangan Kibum ditelinga Xiumin.

"kau juga, kemari!" ucap Kibum pada Jongdae, lalu menjewer telinga kiri Jongdae. "kalian berdua, ikut kekantor kepala sekolah sekarang!" kata Kibum sambil menyeret keduanya menuju kantor kepala sekolah dengan menjewer mereka.

.

"hiks.. hiks.. Apa salahku? Hikss.."

Zelo menangis seorang diri dihalaman belakang sekolah. Dibawah sebuah pohon Cherry yang teduh.

Hatinya terasa sakit setelah melihat Kris diperpustakaan tadi. "Kris jahat! jahat! Jahaaaatt!" katanya sambil mencabuti rumput(?) didekat kakinya.

"hiks.. hiks.. HUWEEEEEEE~" tangisan Zelo meledak. Sungguh menyakitkan. Baru pertama kali merasakan yang namanya jatuh cinta, sudah harus patah hati secepat ini.

"hiks.. hiks.."

"HAISH! Kau ini berisik sekali!"

Zelo terlonjak kaget. Ia mendengar sebuah suara yang sangat mengerikan. "nu-nuguseyo?" tanya Zelo, sedikit takut. Tidak ada yang menjawab. Zelo bergidik. Pasalnya suara yang Zelo dengar tadi mirip dengan suara karakter Monster Tidur, musuh Papa Zola di film kartun favoritnya. Suara yang berat dan... menyeramkan.

Zelo menghapus air matanya lalu berdiri untuk mencari si pemilik suara. Saat mengintip ke sisi belakang pohon, Zelo melihat seorang namja tengah duduk disana sambil memejamkan matanya dengan earphone putih yang terpasang manis dikedua telinganya.

"ma-maaf sudah mengganggu" kata Zelo.

Tidak ada jawaban..

Apa dia sedang tidur ya?, pikir Zelo. "sekali lagi maaf ya" kata Zelo sambil membungkuk. Lalu ia berlari pergi.

Namja dibawah pohon itu membuka matanya perlahan, lalu menatap pada punggung Zelo yang semakin jauh berlari.

.

"kalian lagi. Apa kalian tidak dengar kemarin aku bilang 'dilarang berlari dikoridor sekolah'?" kata Boa sambil menatap kedua murinya yang hobi lari itu.

Xiumin, masih sama seperti saat terakhir kali dia diseret keruang kepala sekolah. Xiumin duduk sambil menunduk. Sedangkan Jongdae duduk disampingnya sambil menatapi Xiumin. "ini gara-gara dia gyojangnim. Dia yang mengejarku" kata Xiumin sambil menujuk Jongdae. Jongdae yang ditunjuk hanya senyum-senyum saja*gila!

Boa beralih pada Jongdae, "kenapa kau mengejarnya Jongdae-ssi?", tanyanya.

"karena aku menyukainya" jawab Jongdae sambil tetap memandangi pujaan hatinya. Astaga, dia ini manis sekali. Pipinya.. rasanya ingin sekali kugigit!, pikir Jongdae gemas sambil senyum-senyum sendiri.

"ta-tapi aku tidak menyukainya" kata Xiumin.

"bukankah kalian bilang, kalian sudah pacaran?" tanya Boa.

"ti-tidak gyojangnim. Jongdae bohong, kami tidak pernah pacaran" kata Xiumin dengan gesture 'tidak'.

"oh, begitu" gumam Boa kecewa. "Maaf. Tapi aku akan memberi surat peringatan pada orang tua" lanjut Boa.

"n-ne?" Xiumin membulatkan matanya lucu. Aigoo~ΒΈ batin Jongdae sambil menggigit kuku jarinya. "ja-jangan gyojangnim. Jebal.. jangan" kata Xiumin.

Boa tersenyum tipis. "kenapa? Orang tua kalian harus tahu jika kalian tidak cocok bersekolah disini. Lebih baik masuk sekolah olahraga saja, mengingat kalian suka lari" kata Boa.

"ja-jangan gyojangnim. Umma akan membunuhku nanti" kata Xiumin. "akan kulakukan apa saja, asal jangan sampai berurusan dengan orang tua" kata Xiumin.

"tidak ada cara lain Minseok-ssi" kata Boa.

"saya mohon gyojangnim. Apa saja, asal jangan surat peringatan...hiks" Xiumin hampir menangis mengingat hubungannya dengan sang umma tidak baik.

"ada jalan pintas... kau yakin mau melakukannya?" tanya Boa sambil tersenyum evil.

TBC.

HUWEEEE T.T

Jelek banget ni FF. Gantung diri aah~. Astojim, kagak deh. Kalo bunuh diri, ntar g bisa reinkarnasi. Lagian g lucu kalo besok pagi di koran ada berita 'GANTUNG DIRI KARENA KARANGAN FANFICTION JELEK'. Idih! -_-'

Kalo diantara kalian ada yang tanya, kenapa XiuChen moment-nya banyak. Itu karena saya suka sama couple mereka dan Chen adalah bias saya. HOHOHO ^0^.

Oh iya. BTW, makasih ya buat yang udah jawab pertanyaan tentang official pair B.A.P nya. Tapi saya masih bingung, ada yang bilang (BangHim, DaeJae, JongLo), ada yang bilang(BangHim, DaeLo, YoungUp), ada yang bilang (BangLo, DaeJae, JongHim). Mane satu nih?*ala upin-ipin. GRAAAAHHH!*Cakar Youngmi.

Ya wes, jadi saya putuskan untuk couple B.A.P nya menurut selera saya saja, oke? Oke dong.

Big Thank's:

Mitatitu, ichizenkaze, cacing kawat, Tania3424, HyunieKyungie, Izca RizcassieYJ, babyelf, Brigitta Bukan Brigittiw, Azura Lynn Gee, Jang Taeyeoung, Zitao99, Ryeolu89, I'm Dee, sayestoyaoi, Latitude1420EXOtic, ajib4ff, , , 7D, Julie Namikaze, Guest, Qhia503, Imeelia, BunnyPoro, Ruka17, Riyoung Kim.

Review(lagi) juseyo...