CHAPTER 5

.

"APA?!" Daehyun memekik tidak percaya.

"ha-hatchooo!"

Jinki dan Daehyun menoleh pada Youngjae yang tiba-tiba bersin. "maaf, aku alergi matematika" kata Youngjae sambil mennggosok-gosokan jari pada hidunganya.

Daehyun menatap datar Youngjae, lalu beralih pada Jinki. "tapi bagaimana caranya? Aku belum pernah menbuat surat cinta. Apalagi yang bernuansa matematika".

"haatchoooo!" Youngjae kembali bersin membuat Daehyun dan Jinki menatapnya lagi.

"terserah kau saja. Yang jelas aku ingin kalian membuat surat cinta bernuansa matematika. Kalau perlu bawa buku matematika kalian. Pokoknya aku mau surat cinta matematika!" kata Jinki frustasi.

"haatchooo! haatchooo! haatchooo!" Youngjae mengusap-usap hidungnya. "tolong jangan sebut kata itu lagi(matematika)".

"aku akan keluar. Kalian cepat selesaikan surat itu. Dan jangan berani keluar dari sini jika surat itu belum selesai!", itu adalah kata-kata terakhir Jinki sebelum ia keluar ruang guru.

.

"hey tiang, kau baik-baik saja?" Baekhyun terus saja menepuk-nepuk pipi namja yang sedang terbaring diatas rumput itu. Park Chanyeol, dia pingsan akibat lemparan batu dikepalanya.

"YAH! CHANYEOL! IRREONA!" kata Baekhyun sambil mengguncang-guncang tubuh Chanyeol. Tidak ada tanda-tanda dia akan sadar.

"kau tidak apa-apa, kan? Kau pasti baik-baik saja. Kau tidak mungkin pingsan. Itu hanya batu kecil,Chanyeol-ah!" kata Baekhyun panik.

"Chanyeol! bangun! Jangan bercanda!" Baekhyun kembali menepuk-nepuk pipi Chanyeol kali ini dengan sedikit tenaga. Namun tetap saja, Chanyeol tidak bergerak.

"Sial! Bagaimana ini!?" kata Baekhyun panik sambil memegang kepalanya dengan kedua tangan.

"Bangunlah, jebal" kata Baekhyun. Dia terus berusaha membangunkan Chanyeol tanpa memperdulikan tatapan curiga dari murid-murid yang lain.

"Chanyeol, bangunlah! Aku mohon!"

Baekhyun merunduk, "habis sudah aku" gumamnya. Bagaimana ini? Apa yang harus dia lakukan? Jika ternyata Chanyeol tidak akan sadar lagi, bagaimana nasibnya? Apa ia akan berakhir dipenjara? Tidak! Dia tidak akan mau dipenjara. Dipenjara itu banyak debu dan pengap sekali. Lagi pula makanan disana tidak sehat. Nanti kulitnya bisa rusak jika makan sembarangan.

"andwae~ kulitku yang cantik... hiks" Baekhyun menutup wajahnya dengan kadua tangannya. Ia benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana nasib kulit cantiknya nanti.*yaelah kirain nangisin Chanyeol bang.

"HHHHHHPPPPPPMMMMFFFFF-BUAHAHAHAHAHAHA" Baekhyu membuka kedua tangan yang menutup wajahnya dan sontak menatap pada sumber suara.

Ternyata Park Chanyeol sudah duduk dan tertawa keras sambil memegangi perutnya. "Kau seharusnya lihat wajahmu saat panik. HAHAHAHAHA".

Baekhyun menatap Chanyeol dengan wajah bingung dan sesaat kemudian wajahnya berubah menjadi ekspresi marah.

"HYAAAAAA!" Baekhyun berteriak membuat Chanyeol berhenti tertawa. Chanyeol membelalakan matanya saat Baekhyun sedang menerjang kearahnya dan-

BRUK!

Baekhyun duduk diatas perut Chanyeol. Dan dia mulai memukul-mukuli dada Chanyeol. "Sialan! Sialan! SIALAN KAU CHANYEOL!". Ia terus memukuli Chanyeol tanpa ampun.

"akh! AW! APA? Hey! Aku hanya bercanda! AKH! YAH! Hentikan! Baek-Ugh!". Baekhyun berhenti membuat Chanyeol heran. "Apa aku baru saja mengucapkan mantra?" tanyanya pada Baekhyun.

Baekhyun mendengus lalu bangkit dari posisinya dan berjalan meninggalakan Chanyeol yang sedang memegangi dadanya yang sakit. "Hey! Tunggu! Baekhyuuuuuuun!"

.

Kini Jongdae dan Xiumin sedang duduk diatap sekolah. Mereka berdua pindah kesana karena tadi Kibum sonsaengnim mengusir mereka dari bawah pohon dihalaman. Jongdae yang mengajak Xiumin ke atap. Diatas sini lebih tenang dan juga ada tempat berteduhnya.

"Hyung, kenapa diam saja?" tanya Jongdae. Tadi dia bilang ingin ditemani, tapi sejak tadi Xiumin hanya diam saja. "Hyung, kau baik-baik saja?" tanya Jongdae.

"kenapa tadi kau diam saja saat Kyungsoo menyentuhmu?" tanya Xiumin dingin. Jongdae mengerutkan keningnya tidak mengerti. Kapan Kyungsoo menyentuhnya?

"maksudmu, hyung? A-aku tidak mengerti" kata Jongdae.

"Tadi. Dia menyentuh pipimu dan kau malah tersenyum padanya. Jangan mengelak ya! Aku melihatnya sendiri!" kata Xiumin. Sedikit terkesan 'emosi', hingga membuat Jongdae kaget. Jongdae berusaha mengingat-ingat, kapan Kyungsoo pernah menyentuh pipinya.

Apakah saat Kyungsoo membersihkan pipiya yang terkena tanah tadi? "oh, yang tadi. Dia hanya membantukan membersihkan noda dipipiku" jelas Jongdae.

"oh" respon Xiumin.

"kau cemburu ya, hyung?" goda Xiumin memerah seketika. Apakah dia cemburu?

"Ti-tidak" jawab Xiumin. Jongdae tahu Xiumin gengsi mengakuinya.

"mengaku saja. Aku malah senang jika kau cemburu, hyung" kata Jongdae. Sedetik kemudian Xiumin malah menghujaninya dengan pukulan-pukulan kecil dilenganny sambil berkata 'tidak, tidak, tidak, tidak,tidaaaaaaak'. Kenapa hari ini banyak sekali yang suka memukul?

"AW! Ampun, Hyung. Xiumin Hyung-AW!" Jongdae berusaha menghentikan tangan-tangan Xiumin yang terus memukulinya seperti yeoja. Tadi pagi Bakhyun, sekarang Xiumin yang memukulnya-tapi Jongdae lebih suka pukulan Xiumin. "hentikan hyung!" dan Jongdae berhasil menahan kedua tangan Xiumin. Membuat mereka terlibat adu tatap mata satu sama lain.

Xiumin menatap Jongdae yang juga sedang menatapnya. Apa benar namja dihadapannya ini adalah Jongdae? Namjachingunya? Ia tidak pernah menyadari jika Jongdae memiliki wajah setampan itu.

"kenapa, hyung? Aku tampan ya? Haha.." tanya Jongdae. Xiumin mendengus lalu membuang muka. Jongdae tertawa kecil melihat wajah Xiumin yang sedang kesal dari samping. Lalu-

CUP.

Satu kecupan sukses mendarat dipipi cubby Xiumin, membuat pipi itu merona seketika. Xiumin menoleh pada Jongdae dengan wajah penuh tanya. Tapi Jongdae malah melihat arah lain sambil bersiul-siul, pura-pura tidak terjadi apa-apa.

BREAK TIME

.

Tao sedang berjalan menuju kantin. Perutnya terasa lapar setelah bekerja membersihkan kelas. Yang benar saja, yang membersihkan kelasnya tadi hanya lima orang saja-termasuk dia. Murid yang lain, mereka semua kabur dari pekerjaan mereka.

"huuffhhh" Tao menghela nafas panjang.

"KYAAAA~". Tao mengerutkan keningnya. Samar-samar ia mendengar sebuah ramai dari belakangnya semakin lama semakin dekat. Dia berbalik untuk melihat suara -suara itu. Dan pipinya memerah seketika. Kris sedang berjalan kearahnya bersama dengan banyak fanboy yang mengikutinya berjalan dibelakang.

Kris terlihat paling bersinar diantara siwa-siwa yang lain-tentu saja. Tao bergeser sedikit untuk memberi orang-orang itu jalan. Dan Kris memberikan wink-nya saat ia melewati Tao, membuat Tao meleleh.

Suara-suara fanboy perlahan-lahan menghilang, menyadarkan Tao dari acara terpesona-nya lalu mengusap wajahnya. Ia ingin pergi ketoilet dan mencuci mukanya, namun suara perutnya yang keroncongan mengingatkan dia untuk segera melanjutkan perjalanan kekantin.

.

Kris terus saja berjalan menuju kantin dengan banyak fanboy yang mengikutinya dibelakang. Sedikit risih juga diikuti seperti itu. Tapi hal ini selalu terjadi setiap harinya, jadi mau tak mau Kris harus terbiasa.

"Kris, duduklah bersamaku" kata salah satu fanboy saat mereka sudah memasuki area kantin.

Kris hanya tersenyum tipis. Walaupun tipis tapi mampu membuat banyak jeritan histeris. "aku akan duduk dengan temanku" kata Kris. Lalu ia berjalan menghampiri satu meja. Dimana sudah ada beberapa orang yang duduk disana.

Kris menepuk bahu salah satu temannya dan ikut duduk bersama mereka. "oh, kau" kata namja cantik itu.

Kris hanya mengangguk. Ia memperhatikan, dua orang temannya sedang bersama dengan seorang namja berambut pelangi yang tidak Kris kenali. "siapa dia?", tanya Kris.

"Oh Sehun, dia fans Luhan" kata salah satu namja bertag name Kim Himchan. Kris menatap namja yang sedang sibuk memandangi Luhan itu.

"hei, kau. Kelas berapa?" tanya Kris.

"jangan berisik" jawab Sehun tanpa mengalihkan pandangannya dari Luhan. Himchan tertawa sedangkan Kris, dia mendengus.

Kris memandang sekeliling kantin. Masih ramai seperti biasa. Tapi ada sesuatu yang menarik. Tao baru saja memasuki kantin dan segera mengantri makan siang dan hal itu membuat Kris senang.

.

"Baekhyun-ah, maafkan aku. Aku hanya bercanda" Ucap Chanyeol sambil terus mengikuti Baekhyun. "aku tidak tahu kau khawatir sampai menangis seprti itu" katanya.

Aku bukan menangisimu! Aku menangisi nasib kulit cantikku, bodoh!, Batin Baekhyun. Baekhyun menaiki tangga untuk menuju kelasnya.

"aku minta maaf. Maaf Bakhyun-ah, aku hanya bercanda. Sungguh!" Kata Chanyeol sambil mengikuti Baekhyun menaiki tangga. Ia tidak enak hati pada Baekhyun yang marah seperti itu, dia benar-benar tidak tahu jika Baekhyun akan panik sampai menangis seprti itu.

"Baekhyun-ah!", Chanyeol menarik lengan Baekhyun hingga Baekhyun hampir jatuh dari tangga. Untung ada dirinya yang menahan tubuh Baekhyun.

Baekhyun melepaskan genggaman tangan Chanyeol pada lengannya dengan kasar. "pergilah! Aku membencimu!" kata Baekhyun lalu ia mendorong Chanyeol dengan keras.

"UWAAAA!" Chanyeol hilang keseimbangan dan ia pun berguling-guling jatuh dari tangga. Baekhyun membulatkan matanya dan buru-buru menghampiri Chanyeol yang sudah tergeletak dibawah sana.

"Chanyeol?" Baekhyun menepuk pipi Chanyeol lagi. Tidak ada jawaban. Tapi dia tahu bahwa kali ini Chanyeol sedang tidak pura-pura pingsan.

"tidak... kulit cantikku yang malang"

.

Saat ini meja Kris, Luhan dan Himchan+Sehun, sedang ramai dikelilingi oleh fanboy mereka masing-masing. Himchan yang sebenarnya tidak menyandang gelar Ullzzang menjadi mendadak punya banyak Fans karena berteman dekat dengan dua idola sekolah itu.

"Himchan hyung. Aku bawa ini untukmu" kata seorang Fanboy sambil menyodorkan sebuah kotak yang bisa dipastikan berisi wafer dengan rice crispy dibalut karamel dan coklat asli. 4 kelezatan sekali gigit*plak!

"ah, gomawo.." kata Himchan sambil menerima pemberian fanboynya. Selama pemberian fansnya adalah berupa makanan, maka dengan senang hati Himchan akan menerimanya.

Sehun cemberut. Karena posisi duduknya yang seharusnya berada disamping Luhan kini beralih menjadi jauh dari Luhan. Para fans Luhan tadi dengan semena-mena menggiringnya menjauh dari Luhan dan memposisikannya menjadi dibarisan paling belakang gerombolan.

"YAH! JANGAN SENTUH! DIA MILIKKU!" teriak Sehun saat salah seorang fans Luhan tidak sengaja bersentuhan dengan Luhan. Ucapan Sehun barusan mengundang protes dari banyak Fanboy itu.

"Memangnya kau ini siapa?!"

"Dasar namja aneh!"

"Luhan itu milik kami!"

"Jangan berani mendekati dia atau kau akan mati!"

"COBA SAJA KALAU BERANI!" tantang Sehun. Dan sedetik kemudian dia bergumam "uh-oh!" karena tampang fanboy itu sudah seperti banteng yang siap menyeruduk(?).

"SERANG DIA!" komando salah satu Fanboy dan seketika mereka semua langsung mengejar Sehun.

"huuufffh~ Akhirnya mereka pergi juga" kata Luhan lega. Dikelilingi fans seperti itu membuatnya sulit bernafas juga.

Beralih pada Kris yang paling banyak memiliki fans. Fanboy-fanboy nya selalu menanyakan yang hal yang sama setiap harinya, yaitu 'apakah Kris sudah punya pacar?'. Lama-lama Kria bosan juga mendengarnya.

"Kris, apa kau tidak berniat mencari pacar?"

"aku masih virgin loh"*nyeeh.. -_-

"aku ini uke idaman loooh"

"Kris, kau belum punya pacar kan?"

Kris menghela nafasnya. "aku sudah punya" katanya. Semua fanboy disekelilingnya langsung kecewa. Bahlan Luhan dan Himchan pun mengalihkan perhatian mereka pada Kris. Mereka tidak pernah tahu Kris sudah punya pacar. Dia tidak pernah mengatakannya selama ini.

"Jjinjja?!" tanya Luhan.

"Kau serius?" tanya Himchan. Kris menunjukkan tampang seriusnya.

Para Fans pun tidak bisa terima..

"tidak mungkin!"

"kau pasti bohong!"

"aku tidak percaya!"

"Lah, tadi kalian sendiri yang tanya. Aku sudah punya pacara atau belum" kata Kris. "sekarang malah tidak percaya. Bagaimana sih?" gumamnya pelan.

Hening seketika. Para fanboy itu langsung terdiam mendengar Idola mereka sudah mempunyai pacar. Kecewa dan tidak ikhlas tentunya. Kris tersenyum jahil saat melihat Tao sedang mencari-cari meja yang kosong sambil membawa nampannya.

"kalian tidak ingin tahu siapa pacaraku?" tanya Kris. Semua fanboy nya langsung mendekat dan menatap penasaran pada Kris.

"siapa dia?" tanya mereka semua penasaran. Kris kembali tersenyum jahil.

"itu dia" kata Kris sambil menunjuk Tao yang baru saja menemukan meja yang kosong. "namanya Tao. Manis, kan?"

Para Fanboy langsung menatap lurus pada sosok Tao dari meja Kris. Membuat Tao mengehentikan kegiatannya yang hampir menggigit roti isinya. "ada apa?" gumam Tao bingung sambil menatap bergantian pada fanboy itu. Kenapa mereka melihatku seperti itu? Mengerikan!.

"KYAAAAA! MANIS SEKALIIII~"

Tao membulatkan matanya. Sedetik setelah kalimat itu terdengar, para fanboy yang sedang mengelilingi meja Kris langsung menyerbu mejanya. Mereka langsung berebutan duduk disamping Tao dan saling menyodorkan tangan mereka untuk berkenalan.

"Kau manis sekali Tao"

"Mulai hari ini aku adalah fans mu"

"Ya! Mulai hari ini aku adalah fans mu juga" kata yang lain menyetujui.

Tao kewalahan menjabati tangan mereka bergantian. Tak jarang tangan-tangan mereka menggapai-gapai untuk berusaha menyentuhnya. Hal itu membuat Tao risih, dia tidak terbiasa dikelilingi oleh banyak orang seperti itu.

"ma-maaf. A-aku.. A-aku mau ketoilet. Uwaaa! Tolong jangan pegaAAAA! Tidak! Tidak! Permisi-" Ucap Tao sambil berusaha keluar dari kepungan fanboy yang mulai menyentuh-nyentuh tubuhnya.

Dan setelah berhasil keluar dari gerombolan. Tao segera berlari keluar kantin dengan diikuti oleh fans-fans itu.

Sementara itu, dimeja Kris..

Kris terlihat sweatdroped melihat kejadian barusan. Ia tidak menyangka Fans nya yang banyak itu kini beralih fandom( jadi ngefans sama Tao). Luhan dan Himchan terlihat tertawa senang.

"UWAHAHAHAHA!"

"apa-apaan itu?" kata Kris tidak percaya. " Fanboy ku. Hilang..(ala iklan rokok)"

"Salahmu sendiri.." kata Luhan sambil mengelap setitik air matanya yang keluar akibat tertawa. Kris mendengus.

"Yah, tidak apa-apalah. Paling tidak telingaku bisa istirahat sebentar dari teriakan mereka" kata Kris menghibur diri.

.

Zelo sedang menenteng skateboardnya. Dia sudah berjanji dengan teman barunya, Jongup, untuk mengajarinya main skateboard lagi hari ini.

DRAP! DRAP! DRAP! DRAP!

Zelo menengok kebelakang saat mendengar suara langkah kaki seseorang yang sedang berlari. Dan nampaklah seorang namja yang Zelo ingat betul wajahnya. Dia adalah kekasih Kris.

Namja itu menghampiri Zelo dan mencengkeram kedua lengan Zelo. "tolong sembunyikan aku" kata namja itu dengan wajah horor.

Zelo terlihat bingung dengan permintaan namja bermata panda itu. Tapi karena dia mendengar banyak suara yang terus saja meneriakan 'TAO!' yang Zelo yakin itu adalah nama dari namja bernama panda itu. Ia mau tidak mau mengangguk dan menyeret namja itu kehalaman belakang untuk sembunyi.

Zelo mengajak namja itu bersembunyi dibalik pohon karena murid-murid yang mengejar-ngejarnya tadi mencarinya sampai kehalaman belakang sekolah. Zelo tidak tahu kenapa namja bernama Tao ini sampai dikejar-kejar. Apa karena dia sudah ketahuan bahwa dia adalah pacar Kris. Atau mungkin dia punya masalah dengan namja-namja itu. Molla..

Zelo mengintip situasi. Sepertinya sudah aman. Ia menengok pada namja disampingnya. "mereka sudah pergi" katanya.

Namja bernama Tao itu menghela nafas lalu merosot duduk dirumput. Zelo pun ikut duduk dirumput. "Kau pacar dari Kris Wu, kan?" tanya Zelo. Membuat Tao terkejut dan sontak menoleh padanya.

Melihat tatapan polos dari Zelo, Tao menganggukkan kepalanya. "dari mana kau tahu?" tanyanya.

"A-Aku melihat kalian berduaan" kata Zelo. "diperpustakaan" tambahnya. Wajah Tao langsung memerah mendengarnya.

"be-benarkah?" tanya Tao lagi. Zelo mengangguk dan hal itu membuat Tao tersenyum canggung.

Hening sejenak... Sebelum sebuah suara menginterupsi mereka.

"lebih baik kalian cepat pergi"

Suata berat itu mengejutkan keduanya. Tao dan Zelo menengok bersamaan ke sumber suara. Seorang namja disamping Tao(posisi mereka: namja itu-Tao-Zelo) sedang menatap keduanya dengan tampang datarnya. Namja yang selalu duduk dibawah pohon dihalaman belakang sekolah.

"KYAAAAAAAAA!"

Keduanya menjerit lalu bersamaan bangkit dari duduknya dan berlari menjauhi namja itu. Menurut mereka, tampang namja itu tadi sangat menyeramkan. Mereka berlari menuju tempat Zelo bermain skateboard kemarin.

"hosh.. hosh.. mengerikan..hosh" komentar Tao tentang namja itu.

"dia memang penghuni pohon itu-hosh" kata Zelo. Mereka terdiam sejenak mendengar ucapan Zelo, dan sedetik kemudian mereka meledak tertawa.

"memangnya dia hantu, hahahaha" kata Tao disela-sela tawanya.

"tidak. Hanya wajahnya saja yang seram" jawab Zelo. Dan Tao kembali tertawa lagi.

Zelo menatap Tao yang sedang tertawa. Tidak tega juga kalau dia merasa kesal namja bermata panda itu karena telah merebut Kris Wu darinya. Wajahnya sangat manis dan ramah. Pantas Kris Wu memilihnya. "hhh~" Zelo menghela nafasnya, membuat Tao berhenti tertawa.

"kenapa?"

"ah, ti-tidak kenapa-kenapa. Hehe" jawab Zelo canggung.

"oh iya. Siapa namamu?" tanya Tao. "aku, Huang Zi Tao" lanjut Tao sambil menyodorkan tangannya.

"panggil saja Aku Zelo" kata Zelo sambil menjabat tangan Tao. Tangannya pun halus begini. Kris pasti suka sekali memegang tangannya, kata Zelo dalam hati.

"umh, ehem. Bisa kau lepaskan tanganku, Zelo?"

"Ah! N-ne. Ma-maaf" kata Zelo seraya melepaskan tangan Tao dari genggamannya. Tao hanya tersenyum dan menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.

"hai, Zelo"

Tao dan Zelo-terutama-menengok pada sumber suara. Ternyata Jongup sedang berjalan menghampirinya dengan senyum andalannya yang bersinar. Jongup terlihat berbeda hari ini.

Tao menyikut lengan Zelo, "pacarmu ya?" bisiknya. Zelo tidak menjawab, tapi entah kenapa Tao malah tersenyum senang. Apa wajahnya memerah?

"baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu" kata Tao dengan senyum cerah. Dia tidak ingin mengganggu acara dua namja manis itu. "terima kasih sudah menyelamatkanku, Zelo" katanya sambil mengacak rambut Zelo. Zelo hanya mengangguk dan kemudian Tao langsung berjalan pergi.

Zelo beralih pada Jongup yang sudah berdiri dihadapannya, "kau bawa skateboar sendiri?" tanya Zelo. Jongup hanya tertawa malu.

"hehehe...bagus tidak? Kemarin aku baru beli" tanya Jongup sambil memperhatikan skateboard barunya.

"Keren sekali!" Seru Zelo sambil menyentuh skateboard baru Jongup.

"kalau begitu, ayo ajari aku lagi"

.

Himchan menghentikan langkahnya saat melihat ada dua namja yang sedang bermain skateboard tak jauh dari tempat Yongguk berada. Ia tersenyum saat melihat salah satu dari mereka terjatuh dari papan seluncurnya dan segera ditolong oleh namja lainnya, lalu mereka berdua tertawa bersama, "manis sekali" gumam Himchan. Ia jadi teringat masa kecilnya bersama Yongguk.

Lalu ia beralih pada namja yang sedang duduk dibawah pohon tak jauh dari sana. "aish! Anak itu!" katanya. Lalu kembali melanjutkan perjalanannya untuk menemui Yongguk.

"Hey, pemalas. Ayo bangun!" kata Himchan setelah sebelumnya ia mencabut earphone yang dipakai Yongguk. Membuat namja itu membuka matanya.

"bisakah kau tidak mengagetkanku seperti itu, ahjumma? Aku baru saja akan mendapatkan uangku tadi" protes Yongguk karena mimpi indahnya telah diganggu.

Himchan langsung menjitak kepalanya hingga Yongguk meringis kesakitan. "berhenti memanggilku ahjumma!" kata Himchan sambil duduk disamping Yongguk. "jelas-jelas aku ini namja" lanjutnya.

"benarkah?" kata Yongguk sambil menatapi wajah Himchan. "aku tidak pernah melihat namja berwajah cantik seperti ini" katanya lagi dengan suara beratnya yang langsung membuat pipi Himchan merona.

"sikkeuro!" desis Himchan sambil memakai satu earphone milik Yongguk dan menyandarkan kepalanya pada pohon dibelakangnya. Yongguk memang sering mengatainya cantik dan dia selalu marah. Tapi sejujurnya dia malu dan , dia senang dibilang 'cantik'oleh Yongguk.

"oke, aku akan diam" kata Yongguk sambil ikut memakai satu earphone lainnya. Dan dia ikut menyandarkan kepalanya, tapi dibahu Himchan.

Satu tangan Himchan bergerak untuk menepuk-nepuk pelan pipi Yongguk. Ia tahu, namja disampingnya itu sangat lelah karena bekerja sampai larut malam untuk membiayai sekolahnya dan sekolah adiknya. Itulah sebabnya Yongguk sering tidur di sekolah dan selalu bermimpi punya banyak uang.

"aku tidak suka kau bekerja di Club malam itu" kata Himchan.

"aku hanya seorang pelayan" kata Yongguk sambil menyamankan posisi kepalanya. "aku tidak akan macam-macam" lanjutnya.

"aku tahu.. Tapi kau jadi kurang tidur". Yang benar saja, berangkat kerja pukul enam sore dan pulang pukul tiga pagi?

"kau khawatir padaku ya, ahjumma?" tanya Yongguk dan sedetik kemudian ia meringis kesakitan saat Himchan menepuk pipinya dengan keras. Dia tahu Himchan khawatir, dia hanya tidak ingin mengatakan kekhawatirannya. "gomawo".

.

Boa menutup Laptopnya sambil tersenyum. Dia baru saja menonton film YAOI terbaru di laptopnya. Ia berdiri dari duduknya lalu meregangkan badannya yang agak kaku karena terlalu lama duduk. Lalu ia berjalan menuju pintu kantornya untuk melihat keadaan sekolah yang sudah dibersihkan. Sambil bersenandung kecil, Boa melangkahkan kaiknya menuju balkon dan menatap pemandangan halaman sekolahnya. Matanya membulat seketika.

Daun kering, botol mineral,peralatan kebersihan dan banyak benda-benda tidak jelas lainnya berserakan dimana-mana, lumpur berceceran bahkan ada yang mengenai tembok sekolah. Keran air masih menyala. "tanamanku" ucap Boa sambil memegangi kepalanya saat melihat tanamannya kini berbentuk menyerupai gajah. Dia menarik nafas dalam-dalam dan-

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

Seluruh penghuni sekolah mengehentikan kegiatan mereka saat mendengar dua teriakan dari dua tempat yang berbeda

.

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

Suho menutup telinganya. Ini semua salahnya, seharusnya ia tidak mengajak Lay berdiri dibalkon kelas dan menyaksikan semua kekacauan halaman itu.

Suho buru-buru membungkam mulut Lay dengan tangannya. "hentikan, Chagi. Jangan berteriak seperti itu". Dan Suho buru-buru membawa Lay masuk kembali kekelas mereka.

Back to BoA-

Setelah puas teriak tadi, Boa langsung masuk kedalam kantor, mengunci pintu dan duduk kembali dikursinya. Ia membenamkan wajahnya diantara lipatan tangannya.

"Habis sudah. Aku tidak akan bisa memenangkan penghargaan itu" lirihnya. "padahala hanya tinggal satu bulan lagi. Kenapa siswa-siswaku tidak ada yang mematuhi peraturan, huhuhu T.T"

KRIIIIIIIIIING*cupu banget suaranya.

Boa mengangkat kepalanya saat telepon kantornya berdering. Ia menerima telepon itu dengan malas. "yeoboseyo, dengan kepala sekolah TSM School".

"Halo, Kwon Boa"

Boa menegakkan duduknya saat mendengarsuara dari telepon itu. "Choi Sooyoung?"

"hahaha, benar. Kau masih ingat denganku ternyata"

"ada perlu apa kau menelponku?" tanya Boa sinis.

"hanya ingin mengingatkanmu bahwa satu bulan lagi adalah penentuan sekolah terbaik se-Korea selatan?"

"lalu?"

"Kau ingat kan, sekolahku sudah menjadi juara satu selama tiga kali berturut-turut, jadi kau tidak perlu repot-repot berusaha. Karena sudah jelas bahwa sekolahku lah yang akan menang."

Tentu saja Boa ingat. Sudah tiga kali pula TSM School berada diperingkat sebelas. "Baiklah kalau begitu. sampai jumpa dua bulan lagi. Bye~" dan sambungan pun terputus.

Boa meletakan gagang telepon kantornya dengan kasar. "Hiks.. Hiks.. HUWEEEEEEEE T^T" Boa kembali membenamkan kepalanya. Ia tahu bahwa dia tidak akan menang pada penilaian itu, mengingat siswa-siswanya yang absurd saja sudah membuatnya stress apalagi mencoba untuk mengajak mereka bekerja sama agar sekolah ini menang.

"Aku tidak akan berusaha.. hiks.. Aku menyerah!"

"AKU MENYERAAAAAAHH!"

Dan kembali, seluruh warga TSM School menghentikan kegiatan mereka sejenak karena mendengar teriakan Boa.

.

SKIP TIME

Pukul lima sore. Namja tua yang bertugas menjaga sekolah mulai mengunci setiap ruangan yang ada di sekolah. Hari ini tidak ada kegiatana Ekstra apapun disekolah, dan dia yakin sekolah sudah kosong sejak dua jam yang lalu dan ia juga terlalu malas untuk memeriksa satu persatu ruangan. Ia mengunci semua kelas, toilet, ruang guru, kantor kepala, pintu masuk sekolah dan yang terakhir gerbang sekolah. Dan setelah itu ia benar-benar pulang kerumahnya yang berada tidak jauh dari sekolah itu.

Pukul tujuh malam...

Youngjae bergerak dalam tidurnya karena gangguan dari nyamuk, kemudian ia perlahan-lahan membuka kedua matanya dan mendapati wajah Daehyun yang tepat berada didepan wajahnya sedang memejamkan matanya. Sontak ia langsung menegakkan tubuhnya dengan diiringi teriakan kecil "Uwaaaa!" yang membuat Daehyun ikut terbangun.

"se-sedang apa kau disini?" tanya Youngjae bingung sambil menunjuk Daehyun. Daehyun menepis tangan Youngjae yang sedang mennjuk kearahnya seraya menatap malas pada Youngjae.

"sedang apa? Tentu saja sedang dihukum!"

"dihukum?" Youngjae menatap sekelilingnya. Ternyata dia masih diruang guru. Lalu ia beralih pada jam dinding, "jam tujuh?!"

"aku harus pulang. Nanti Umma bisa marah" kata Youngjae lalu segera berlari kearah pintu. Daehyun memandang malas pada Youngjae.

"loh? Kok tidak bisa dibuka?!" gumam Youngjae. Dia memutar-mutar kenop pintu ruang guru dengan panik. "apa pintunya rusak?". Daehyun mendengus lalu berjalan menghampiri Youngjae.

"Yah! Kau ini bodoh atau apa?" kata Daehyun. Youngjae tidak mempedulikan Daehyun dan tetap menggedor-gedor pintu itu sambil berteriak minta tolong. Daehyun menahan satu tangan Youngjae, "pintu ini dikunci, nona" katanya.

"apa? Dikunci? Tidak! Umma, aku mau pulaaaang..." ucap Youngjae sambil kembali menggedor-gedor pintunya. Daehyun hanya menatap ( -_- ) pada Youngjae.

"percuma kau teriak-teriak. Mereka akan buka pintunya dua hari lagi"

"apa?! Dua hari lagi?!". Youngjae berpikir sejenak. Benar juga, ini adalah hari sabtu dan hari sekolah masih dua hari lagi. "Siapa saja, tolong buka pintunyaaaaaaaa! Tolooooooong!" Tetiak Youngjae sambil kembali menggedor-gedor pintu itu.

"Sudah, lebih baik kita segera menyelesaikan surat matematikanya" kata Daehyun seraya meraih satu tangan Youngjae menggandengnya menuju meja Jinki sonsengnim. Tidak mempedulikan Youngjae yang kembali bersin.

"duduk!" Kata Daehyun, menyuruh Youngjae duduk. Youngjae pun duduk, "nah, ayo kita mulai" kata Daehyun saat mereka sudah duduk dan mengatur posisi kertas menjadi dihadapan mereka.

Satu menit berlalu, namun mereka masih belum menulis apa-apa diatas kertas itu.

Tiga menit..

Lima menit..

Sepuluh menit.. Youngjae menepuk nyamuk yang menggigit lengannya lalu menatap Daehyun yang sedang menatap kosong kertas yang ia pegang.

Tiga belas menit...

Lima belas menit..

"HUAAAAAAAAAAA!" Daehyun berteriak frustasi sambil merobek-robek kertas yang dipegangnya "SEBENARNYA SURAT CINTA MATEMATIKA ITU YANG SEPERTI APAAAAAA?!".

"HAATTCHOOOOOOOO!" Youngjae bersin lagi.

Mereka terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Yang jelas mereka sedang memikirkan surat matematika itu. Jinki sonsaengnim sedikit aneh juga. Mana ada surat seperti itu. Surat cinta matematika. Kau bercanda?

"haaaatchoooo!". Bahkan memikirkan namanya saja, Youngjae jadi bersin.

Daehyun merasakan lengan seragamnya ditarik-tarik. Ia menoleh dan mendapati Youngjae dengan hidungnya yang memerah sedang menatap kearahnya. "aku lapar" kata Youngjae.

Benar juga, sejak siang tadi mereka belum makan apa-apa. Daehyun juga merasa sedikit lapar, sebenarnya. Beruntung, ruang guru ini memiliki fasilitas lemari es, televisi dan toilet. Paling tidak mereka tidak benar-benar merana terkunci didalam sana.

"ayo kita lihat isi kulkas. Siapa tahu ada sesuatu disana" kata Daehyun yang diangguki Youngjae. Lalu ia memimpin Youngjae berjalan mendekati benda kubus yang kalau dirumah Youngjae pasti isinya full dengan makanan-makanan enak.

Mereka membuka pintu kulkas dan mata mereka langsung berbinar-binar. Sesuai dengan apa yang mereka harapkan.

Didalam sana, ada beberapa snack kentang, biskuit, jus, dan beberapa kaleng minuman bersoda. Air putih juga ada. Dan ada seperempat kue tart berukuran besar yang diduga adalah sisa kue ulang tahun Taemin(karena ada tulisan 'Taemin' disana).

Mereka mengambil sisa kue itu dan beberapa snack kentang dan tidak lupa jusnya. Dan mereka membawanya ke meja Jinki sonsaengnim. Tak lupa Daehyun menyambar dua gelas plastik kecil yang ada disamping kulkas.

Youngjae memotong agak besar kue itu lalu segera melahapnya sampai mulutnya penuh. Dia benar-benar kelaparan sekarang. Sedangkan Daehyun hanya membuka botol jus, menuangnya pada gelas dan meminumnya. Ia bisa tahan lapar tapi tidak kuat menahan haus.

Daehyun menatap Youngjae yang makan dengan sangat lahap dan terkekeh kecil saat melihat ada krim kue menempel disudut bibir Youngjae.

Tangannya terulur untuk membersihkan noda krim itu seraya berkata, "pelan-pelan saja. Aku tidak akan merebutnya(kue) darimu". Ia lalu menjilat krim dijarinya itu, membuat Youngjae membulatkan mata.

"kau...". Sebenarnya Youngjae ingin bilang jika mereka baru saja berciuman secara tidak langsung.

"eh? aahaha, maaf. Hanya refleks" kata Daehyun canggung, tentu saja. Ia kembali meneguk jus untuk menghilangkan rasa gugupnya. Namun sial, dia malah tersedak.

Youngjae hanya mengangguk dan kembali melanjutkan makannya dengan satu tangan. Tangan kirinya bergerak iseng membuka laci meja Jinki. Youngjae berdecak kagum saat melihat isi laci itu tersusun dengan rapi. Youngjae menutup laci itu dan beralih pada satu laci dibawahnya. Sedikit sulit dibuka, namun dengan sedikit tenaga akhirnya Youngjae bisa membukanya.

Youngjae mengerutkan dahinya. Laci itu kosong. Hanya ada sebuah album foto biru disana. Karena penasaran pun Youngjae mengambil album itu.

"Hei, lihat ini" kata Youngjae pada Daehyun. Daehyun pun mendekatkan dirinya pada Youngjae. "tidak apa kan kalau kita buka ini?" tanya Youngjae dengan wajah berbinar-binar dan senyum manis, membuat Daehyun merona. Daehyun mengangguk meng'iya'kan. Padahal dia baru saja mau bilang 'jangan lancang!'. Habisnya wajah Youngjae mendadak manis dimatanya. Aish! Ada apa dengan mataku!, pikir Daehyun.

Youngjae membuka album itu dengan hati-hati, dan mereka berdua terkejut saat melihat foto dihalaman pertama. Foto Kim Kibum-Guru paling galak disekolah-sedang menghukum salah satu muridnya didepan tiang bendera. Youngjae dan Daehyun saling pandang lalu Youngjae buru-buru membalik ke halaman berikutnya.

Foto Kibum sedang mengajar.

Foto Kibum sedang menjewer murid.

Halaman berikutnya...

Foto Kibum sedang mengarahkan penggaris kayu ke arah murid dengan wajah menyeramkan.

Foto Kibum yang sedang menyeret dua orang Murid yang terkenal suka maraton disekolah.

Halaman berikutnya...

Foto Kibum sedang membenarkan poninya, Foto Kibum yang sedang menulis, Foto Kibum yang sedang tertidur dimejanya, dan banyak sekali foto Kibum lainnya. Dan foto terakhir adalah foto Kibum yang sedang tersenyum.

Daehyun dan Youngjae sampai terperangah melihat senyum Kibum. Kibum terlihat sangat cantik saat tersenyum, berbeda dengan saat dia akan menghukum murid-muridnya.

Youngjae menutup album foto itu dan mengembalikannya ketempat semula. "sepertinya kita sudah tahu siapa yang akan menerima surat cinta matema-haaatchooo!- ini" katanya.

.

.

.

Sudah satu jamsejak mereka dengan lancang membuka album foto milik Jinki sonsaengnim. Namun satu inspirasi kata pun belum muncul diotak mereka.

Daehyun kembali merasakan lengan seragamnya ditarik-tarik, dan dia sudah tahu jika Youngjae lah pelakunya. "ada apa?" tanya Daehyun.

"aku bosan. Boleh kunyalakan televisinya?"

"nyalakan saja" kata Daehyun cuek, berusaha menyembunyikan rona diwajahnya. Karena Youngjae kembali menatapnya dengan wajah yang berbinar-binar. Dengan semagat Youngjae menyalakan televisi itu dan mulai menonton film kartun.

Diam-diam Daehyun memperhatikan wajah Youngjae dari samping. Dan saat Youngjae tertawa, entah kenapa wajah Daehyun terasa memanas. Daehyun mengusap wajahnya. "kemarikan remotenya" kata Daehyun seraya merebut remote TV yang dipegang Youngje lalu mengganti saluran TV menjadi acara music.

"YAH! Aku ingin menonton film kartun!" kata Youngjae dan kembali merebut remote TV dan mengganti acaranya menjadi film kartun lagi. Daehyun kembali merebut remote itu dan kembali mengganti menjadi acara music. Youngjae kembali merebut dan mengganti menjadi film kartun lagi. Dan Daehyun akan kembali merebutnya, namun Youngjae sudah terlebih dulu menjauhkan remote itu dari Daehyun.

"weeeeeek~" Youngjae menjulurkan lidah untuk mengejek Daehyun. Daehyun pun kesal dan berusaha kembali merebut remote itu namun Youngjae namun Youngjae malah bangkit dari tempatnya dan menjauh dari Daehyun dengan remote ditangannya.

"Hey! Mau kemana kau?" kata Daehyun saat Youngjae malah berlari menjauhinya. Daehyun pun ikut bangkit dari duduknya untuk mengejar Youngjae. Namun setiap Daehyun mendekat, Youngjae terus menjauh sambil tertawa-tawa senang. Daehyun pun mau tidak mau ikut menikmati acara kejar-kejaran itu. Mereka terus kejar-kejaran sambil tertawa. Sepertinya mereka sudah lupa jika mereka dihukun sampai terkunci disana itu karena sebelumnya mereka habis berkelahi.

Sampai akhirnya Daehyun berhasil meraih bagian belakang jaket Youngjae namun Youngjae melah melepas jaketnya. Namun sebelum kembali berlari, Daehyun sudah terlebih dulu menarik lengan Youngjae dan memeluknya. Tapi karena tidak seimbang mereka pun terjatuh dengan Daehyun berada diatas Youngjae.

Youngjae terus saja tertawa, tidak sadar akan Daehyun yang sedang memandanginya. "manis..." gumam Daehyun.

"huh? Apa?" tanya Youngjae karena dia tidak mendengar dengan jelas gumaman Daehyun.

"bukan apa-apa" kata Daehyun dingin seraya bangun dari posisinya. "ambil saja remote itu. Aku mau ketoilet" lanjutnya seraya meninggalakan Youngjae yang masih berbaring dilantai dengan wajah bingungnya.

BRAK!

Daehyun menutup pintu toilet dengan kasar. Ia berjalan mendekati washtafel dan menatap pada cermin. "apa yang kau pikirkan!? Apa yang kau pikirkan!?" katanya sambil menepuk-nepuk pipinya dengan keras berkali-kali.

"dia sama sekali tidak manis. Ingat itu Jung Daehyun!" kata Daehyun sambil menunjuk dirinya yang ada dicermin.

"tapi, kalau dia sedang tertawa...", Daehyun menggeleng kasar dan memilih untuk tidak memikirkan kelanjutna kalimatnya. Ia menyalakan keran air dan membasuh mukanya berkali-kali.

.

.

Daehyun keluar dari toilet dan mendapati Youngjae sudah tertidur dimeja Jinki Sonsaengnim dan televisi sudah dalam keadaan mati. Apa dia terlalu lama merenung ditoilet ya?. Daehyun memungut jaket Youngjae yang tadi ia lempar sembarangan lalu membawanya mendekati Youngjae. Dengan hati-hati ia menyelimuti Youngjae dengan jaket itu. Ia mengusap kepala Youngjae namun sedetik kemudian ia mengusap wajahnya dengan frustasi.

"ini gila" gumamnya. Lalu ia kembali duduk disamping Youngjae dan mengambil selembar kertas dari laci meja Jinki Sonsaengnim dan mulai menulis surat cinta ma-oopss!, aku lupa jika Youngjae sedang tidur. Aku tidak akan membangunkannya hanya sekedar untuk bersin.

.

Pukul sebelas malam..

Daehyun melipat kertas itu menjadi empat. Hukumannya dan Youngjae sudah selesai ia kerjakan. "hoaaaaaaam" Daehyun menguap panjang. Kelamaan menulis membuat tangannya pegal dan matanya mengantuk juga. Ia menyimpan surat itu diatas meja, lalu ia ikut meletakkan kepalanya diatas meja dengan menghadap ke Youngjae.

Tangannya bergerak memainkan poni Youngjae dan matanya sibuk memandangi wajah Youngjae yang sedang tidur. Ia terus melakukannya sambil tersenyum sampai dia ikut tertidur.

.

.

.

Setelah meminjam kunci dari penjaga sekolah, Kibum tergopoh-gopoh berlari dikoridor untuk mengambil daftar nilai yang lupa ia bawa pulang kemarin. Padahal dia baru saja akan mengoreksi ulangan harian murid-muridnya.

Kibum membuka kunci pintu ruang guru dengan tidak sabaran, untung saja kuncinya tidak patah. Dan dengan sabaran dia membuka pintu itu lebar-lebar dan buru-buru berjalan menuju mejanya. Ia mebuka laci mejanya dan menemukan benda yang ia cari dan setelah itu ia buru-buru keluar dan mengunci pintu.

Namun baru beberapa langkah berjalan ia menghentikan langkahnya. Kibum buru-buru kembali dan membuka kunci pintu. Ada sesuatu yang aneh diruangan itu. Kibum kembali membuka pintu lebar-lebar.

Matanya pun ikut melebar saat menyaksikan ada dua orang murid yang tertidur dimeja Jinki dengan saling berhadapan. "astaga! Sedang apa mereka disini?" katanya seraya menghampiri dua murid itu.

"hey, bangun!" katanya sambil menepuk-nepuk salah satu dari mereka.

.

Youngjae bergerak tidak nyaman saat merasakan punggungnya ditepuk-tepuk seseorang. Ia membuka matanya dan mendapatai Daehyun sedang tertidur dengan menghadap kearahnya.

Daehyun pun ikut terbangun saat merasakan Youngjae bergerak. Ia membuka matanya dan tersenyum saat mendapati Youngjae sudah bangun dan sedang menatapnya, rasanya menyenangkan sekali.

"umh.. bisa kau singkirkan tanganmu?" tanya Youngjae. Daehyun yang sadar bahwa satu tanganya sedang merangkul bahu Youngjae pun buru-buru menyingkirkan tangannya dan bergumam 'maaf'. Mereka berdua menegakkan posisi mereka dan bersama-sama terkejut saat mereka sadar ada seseorang berada didekat mereka.

"Kibum sonsaengnim?" ucap mereka bersamaan.

"sedang apa kalian disini?" tanya Kibum bingung. Dia ingat sekali dua anak dihadapannya ini sedang dihukum disini kemarin. "jangan bilang kalian..."

"ne, sonsaengnim. Kami terkunci disini" kata Youngjae.

"astaga! Kalian baik-baik saja kan?" tanya Kibum panik. Daehyun dan Youngjae hanya mengangguk. "hh~ ambil barang-barang kalian. Aku akan antar kalian pulang" lanjutnya.

"tidak perlu sonsaengnim. Aku dan Youngjae bisa naik bus" kata Daehyun. "kalau begitu kami pulang dulu. Annyeonghigeseyo" kata Daehyun dan Youngjae bergantian lalu mulai berjalan keluar.

Daehyun menghentikan lagkahnya dan kembali berjalan menuju meja Jinki sonsaengnim untuk mengambil secarik surat diatas meja itu lalu menyerahkannya pada kibum. "ini untuk anda, dari Jinki Sonsaengnim" kata Daehyun. Dan setelah itu ia benar-benar keluar dari ruang guru itu.

.

Kibum membuka surat itu dan mulai membacanya..

Untuk Kim Kibum

Lima tahun yang lalu Untuk pertama kalinya kulihat kau berdiri tegak lurus di lantai sekolah. Kulihat alismu yang berbentuk setengah lingkaran dengan diameter 4 cm. Saat itulah kurasakan sesuatu yang lain dari padamu Kurasakan cinta yang rumit bagaikan invers matriks berordo 5×5

Semakin hari kurasakan cintaku padamu bertambah. Limit cintaku bagaikan limit tak terhingga Dan aku semakin yakin, hukum cinta kita bagaikan hukum kekekalan trigonometri sin +cos = 1. Kurasakan pula kasihku padamu, bagaikan grafik fungsi selalu naik yang tidak memiliki nilai ekstrim. Hanya ada titik belok horizontal yang akan selalu naik.

Namun aku bimbang. Kau bagaikan asimtot yang sulit bahkan tidak mungkin kucapai. Aku bingung , bagaikan memecahkan soal sistem persamaan linear yang mempunyai seribu variabel dan hanya ada 100 persamaan. Bahkan ekspansi baris kolom maupun metode Gauss Jordan pun tak dapat memecahkannya.

Jika 1+1=2.. Bagiku 1+1=Kita.

Jinki+Kibum= Cinta

Maukah kau menjadi angka 1 untukku. Menjadi yang pertama dan satu-satunya..

Would You be mine?

Kibum melipat kembali kertas itu dan meraih ponselnya dan menghubungi Jinki.

"ne. Apa kau sedang sibuk?"

"..."

"Bisa kau temui aku di Cafe dekat sekolah sekarang?"

TBC

Haiiii ^0^

Update lama ya? Mangap yaaa...

Mengecewakan ya? Mangap lagi yaa..

Hehe..

Big Thank's To:

I'm Dee, HyunieKyungie, yongchan, Azura Lynn Gee, Jang Taeyoung, RezaCWarni1, siscaMinstalove, ajib4ff, Vicky98Amalia, BunnyPoro, BLUEFIRE0805, ichizenkaze, , ruka17, Brigitta Bukan Brigittiw, virnaulisam, 13ginger, Tania3424, Strawberry'Lawllipop, Riyung Kim, Kopi Luwak, hatakehanahungry, sayestoyaoi, Kim Mika, HyunChan, matokeke.

Review Lagi Juseyo...