CHAPTER 8
.
Daehyun sedang berjalan menuju kelasnya dilantai dua. Namun saat hendak menginjak anak tangga pertama, seseorang menyeretnya menjauh dari tangga dan membawanya bersembunyi dibalik pohon terdekat.
"Hei! Apa-apaan ini!" katanya.
"sssstttttt! Jangan berisik!" kata Orang itu yang ternyata adalah namja yang senasib dengannya. Luhan, anak kelas tiga.
Daehyun menatap aneh Luhan, dia membawa sebuah teropong bergambar Hello Kitty ditangannya. Lalu Luhan mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan menyerahkannya pada Daehyun. Sebuah walkie talkie. "itu untukmu" kata Luhan.
"hello kitty?" tanya Daehyun pada Luhan. Dia menatap jijik Walkie talkie ditangannya itu.
"sudah jangan protes! Aku pinjam semua ini dari adik perempuanku" kata Luhan lewat walkie talkie-nya dan terdengar keras sekali dari walkie talkie Daehyun.
"kita tidak butuh semua ini" kata Daehyun pada Luhan yang sedang asyik meneropong ke arah gerbang sekolah. "apalagi Hello Kitty. Aku tidak mau! Ambil kembali" kata Daehyun seraya mengembalikan walkie talkie itu. Daehyun mulai berpikir jika dia salah telah menerima tawaran bekerja sama dengan Luhan.
"sudah diam! Cepat lihat ini!" kata Luhan seraya memberikan teropong pada Daehyun. Dia menyuruh Daehyun untuk meneropong kearah gerbang sekolah.
Daehyun sebenarnya terpaksa. Namun dia lupa saat melihat objek yang dilihatnya. Di gerbang sana ada Youngjae dan Sehun yang sedang berjalan bersama. Daehyun mendengus melihat mereka saling melempar senyum. Dia tidak suka!
"bagaimana? Bukankah Youngjae itu milikmu? Kau harus bisa merebutnya dari Sehun" kata Luhan memprovikasi Daehyun.
"tapi bagaimana?" tanya Daehyun tanpa melepas teropongnya.
"tentu saja kau harus mendekatinya. Kau harus membuat dia memperhatikanmu!" kata Luhan dengan penuh semangat sambil ikut menatap HunJae yang sedang berjalan.
Mereka terlihat sangat serasi. Apalagi Sehun selalu memandang Youngjae dengan tatapan yang hanya Seme saja yang tahu apa artinya. Daehyun jadi pesimis.
"ehem!". Daehyun dan Luhan tersentak kaget saat seseorang menginterupsi misi mereka. Mereka berbalik dan mendapati Kibum Sonsaengnim sudah berdiri dibelakang mereka dengan tangan yang terlipat didadanya. "sebenarnya kalian ini sedang apa?" tanyanya lagi.
"kami sedang menjalankan misi!" kata Luhan penuh semangat yang dihadiahi tatapan malas oleh Daehyun.
"misi apa?" tanya Kibum lagi. "sudah sana kembali kekelas kalian! Pelajaran dimulai sepuluh menit lagi" kata Kibum.
Tidak habis akal, Luhan kini beralih memprovokasi Kibum. "Sonsaengnim, coba anda lihat dia" kata Luhan sambil menunjuk Sehun. "lihat rambutnya, warna warni. Padahal dia sudah diperingatkan berkali-kali" kata Luhan. Kibum melihat kearah rambut Sehun.
"dan lihat sepatunya, masa kesekolah memakai sepatu berwarna orange begitu? Bukannya kita hanya diperbolehkan memakai sepatu warna hitam saja, ya?", Kibum melihat kearah sepatu Sehun.
"Dan lihat-"
"cukup!" kata Kibum, memotong omongan Luhan. "kau ingin memprovokasiku, eoh?" tanya Kibum. Luhan menutup mulutnya dan menunduk.
"tidak perlu kau beritahu, aku juga akan mengurusnya. Sudah! Kalian kembali kekelas, serahkan semuanya padaku" kata Kibum.
Luhan tersenyum tidak percaya dan lebar, haha. Dia mengangguk dan menyeret Daehyun menuju tangga sekolah. Namun bukannya naik, dia malah bersembunyi dibalik tembok untuk mengintip Kibum yang akan memarahi Sehun.
"hei, mau kemana kau?" katanya sambil menarik seragam Daehyun yang akan menaiki tangga. "jangan coba-coba pergi, ya" lanjutnya sambil menyuruh Daehyun ijut mengintip lalu ia mengeluarkan teropong(adik)nya dan mulai meneropong Kibum yang sudah mencegat Sehun.
.
"STOP!" kata Kibum sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Bermaksud menghentikan Sehun. Sehun dan Youngjae pun berhenti tepat didepannya dan memasang tampang 'ada apa?'.
"Sepatu" kata Kibum. Sehun melihat kebawah, kepada sepatunya. "kenapa warnanya orange?" lanjutnya.
"oh, ini? Ini sepatu baru, sonsaengnim. Edisi terbatas. Tapi tidak mahal, yaa cuma dua ratus ribu dollar" kata Sehun. Kibum hanya memandang malas pada sepatu Sehun.
"lalu bagaimana dengan rambutmu? Kau tahu kan, peraturan gyojangnim yang baru. Dilarang memiliki warna rambut lebih dari satu" kata Kibum.
"come on! Ini style masa kini, sonsaengnim" kata Sehun. Padahal dia sudah susah-susah mengecat rambutnya hingga sedemikian rupa. Sebenarnya sih Hairstylistnya yang mengecat. "tidak bisa, sonsaengnim. Rambutku ini mahal harganya" kata Sehun lagi.
"Aku tidak peduli, pokoknya kau harus mengubah warna rambutmu! Atau aku akan-"
"LARI!"
Kibum melongo. Belum selesai ia bicara, Sehun sudah lebih dulu lari sambil menggandeng tangan Youngjae.
"YAH! KEMBALI KAU, OH SEHUN!" teriak Kibum marah.
.
"apa-apaan itu?!" tanya Luhan pada Daehyun. Masa Sehun bisa kabur seperti itu? Pakai acara bergandengan tangan dengan Youngjae pula?
"Yah! Kau ini dari tadi diam saja! Kau niat memisahkan mereka tidak sih?" protes Luhan lalu menaiki anak tangga untuk masuk kelas. Sebelum menghilang dia berteriak pada Daehyun yang masih diam diposisinya, "saat waktu istirahat nanti kita bertemu lagi" katanya lalu dia benar-benar menghilang.
Daehyun masih diam. Haruskah dia memisahkan Sehun dan Youngjae? Masalahnya, mereka terlihat bahagia saat bersama-sama seperti tadi. Tapi, dia juga tersiksa jika melihat kedekatan keduanya. Intinya Daehyun bingung.
"hey, bel sudah berbunyi. Cepat masuk kelas" kata Taemin yang kebetulan melewati Daehyun.
Daehyun mengangguk lalu mulai menaiki anak tangga untuk menuju kelasnya dilantai dua.
.
Seperti biasa, keadaan dikelas Himchan sangat bising. Dia sudah terbiasa dengan hal itu. Tapi hari ini ada yang tidak biasa. Yongguk. Entah kerasukan setan apa, yang jelas dia sedang duduk diam di single table-nya, didalam kelas. Dibelakang Himchan.
Entahlah, Himchan tidak tahu apakah Yongguk akan mengikuti semua pelajaran hari ini. Tapi yang jelas, kehadiran Yongguk dikelas membuatnya semangat.
Yongguk menatap datar pada Himchan yang sedang menatapinya dari bangkunya. Sepertinya temannya itu sudah gila. Lihat saja, dia sedang senyum-senyum sendiri.
"Yo! Ada apa denganmu?" tanya Yongguk sambil melambaikan tangannya didepan wajah Himchan.
"ani" Himchan menggelengkan kepalanya. "apa kau akan ikut pelajaran sampai sekolah usai?" tanya Himchan.
"mungkin" jawab Yongguk datar. "wae?", tanya Yongguk sambil menatap Himchan. Himchan menggeleng sambil tersenyum.
"kau baik-baik saja kan?" tanya Yongguk lagi dengan nada cemas. "kau sedang sakit ya?" katanya lagi sambil mengecek suhu dikening Himchan. Siapa tahu Himchan sakit sampai dia senyum-senyum sendiri seperti itu.
"Yah! Aku baik-baik saja kok" kata Himchan seraya menepis tangan Yongguk. Membuat Yongguk terkekeh.
"cieee~ pasangan baru"
Humchan dan Yongguk menoleh pada sumber suara. Ternyata Luhan sudah berdiri di antara mereka sambil terkikik geli. Lalu sedetik kemudian ia diam saat melihat tatapan mata Yongguk.
"hehe, mianhae" katanya, lalu segera duduk dibangkunya, diseberang bangku Himchan.
Luhan mengambil walkie talkie-nya dari dalam saku celananya lalu mulai bicara menggunakan walkie talkie itu "Deer to Rabbit. Deer to Rabbit. Over".
.
"Deer to Rabbit. Deer to Rabbit. Over!"
Tao dan Daehyun, bahkan Baekhyun yang sedang duduk didepan mereka ikut menoleh pada sebuah suara yang aneh.
"Yah! Rabbit! Over!"
Daehyun mencari-cari asal suara itu. Sepertinya dia pernah dengar suara yang seperti itu. Dia memandang sekeliling kelas. Tidak ada yang bicara. Malah seluruh murid dikelas sedang menatapnya.
"Daehyun! Over!"
Daehyun membulatkan mata. Ternyata suara itu bicara padanya? Tapi dari mana asalnya?
"Didalam tas mu, bbabo! Aku tidak akan membiarkanmu meninggalkan benda itu ditopi jaketku! Cepat jawab! Over!"
Darhyun ingat sekarang. Itu adalah suara Luhan, namja yang mengklaim dirinya sebagai partner misi 'pemisahan HunJae'. Bagaimana Luhan bisa tahu jika tadi Daehyun memang sengaja menaruh walkie talkie itu didalam topi jaket Luhan yang sedang tidak dipakai.
Daehyun menbuka tasnya dan, ta dah! There is it! Walkie Talkie hello kitty. Seandainya bukan Hello Kitty, mungkin Daehyun mau membawanya. Mungkin.
Dia menatap seluruh teman-temannya dikelas yang sedang mentertawainya lalu dengan ragu ia menjawab panggilan Luhan.
"ne?"
"YAH! BUKAN BEGITU CARA MENJAWABNYA! KAU INI BISA TIDAK-"
Daehyun buru-buru mengecilkan volumenya. Gila, suaranya melengking juga. Untung telinga Daehyun tidak sakit.
"-JIKA SUDAH SELESAI BICARA KAU HARUS BILANG 'OVER. OVER"
"jangan aneh-aneh. Kita bukan pasukan perang" kata Daehyun Ia menatap sekeliling. Sepertinya dia sudah tidak diperhatikan lagi oleh seisi kelas. Hanya Tao saja yang masih terlihat penasaran dengan kegiatannya saat ini. "kau mau bilang apa? Cepat katakan. Dan jangan hubungi aku lagi. Setelah ini aku ada pelajaran Kibum sonsaengnim" kata Daehyun.
"Over?"
Daehyun memandang malas walkie talkie itu. Heran. Sudah kelas tiga, tapi tingkahnya seperti anak kecil. "ne, Over" jawab Daehyun malas.
"Bagus. Nanti kita bertemu di kantin, oke? Baiklah. Aku tidak akan menghubungimu sampai jam istirahat. Bye~ mumuumumumu. Hoek!" Dan sambungan terputus.
Daehyun buru-buru meng-off-kan walkie talkie itu, bahkan mencabut baterainya. Jaga-jaga, siapa tahu Luhan lupa kalau dikelasnya itu ada Kibum Sonsaengnim dan tiba-tiba bicara lewat walkie talkienya. Daehyun menghela nafas.
"sedang main apa sih? Dengan yeoja ya?" tanya Tao penasaran.
"m-mwo?" Daehyun membulatkan matanya. "yeoja mana? Tidak kok" lanjutnya.
"tadi kau bicara dengannya dan benda itu-" Tao menjeda kalimatnya hanya untuk menatap walkie talkie itu. "-kenapa bergambar Hello Kitty?" tanyanya.
"ah, ini. Aku dipaksa membawanya" kata Daehuun. "oleh namja" tambahnya buru-buru.
Tao hanya bergumam 'oh' dan kembali menatap buku matematikanya. Dia sedang belajar, karena Kibum Sonsaengnim suka sekali memberi pertanyaan kuis untuk mendapat nilai tambahan. Hey! Meskipun dia berteman dengan Chanyeol dan Daehyun yang jahil, mereka selalu berlomba untuk mendapat nilai tambahan paling banyak. Dan yang paling pandai matematika adalah Daehyun.
"Annyeong haseyo"
Kibum pun datang. Setelah mengucap salam, ia meletakkan buku bawaannya diatas meja guru lalu dia mengambil posisi berdiri di depan papan tulis dan pelajaran pun dimulai.
.
"... Kesimpulannya adalah bahwa sesungguhnya setiap manusia diciptakan dengan beraneka ragam kepribadian. Manusia membutuhkan pendamping, pendamping yang dekat adalah pasangannya sendiri. Tetapi di dalam hubungan pacaran pertengkaran itu selalulah ada. Jadi kita harus menyelesaikan masalah kita bersama pasangan-"
"diatas ranjang" sela salah satu murid. Dan langsung terdengar sorakan ramai dari seisi kelas.
Jongin mengangkat tangannya. "jadi, kalau begitu kapan kita selesaikan masalah kita, Taeminnie~" katanya dengan wajah mesum, lalu tos dengan Sehun.
"b-bukan begitu. Maksudnya, kita harus menyelesaikannya dengan kepala dingin" jelas Taemin, dan semua siswa dikelas nampak kecewa mendengarnya.
"sejauh ini, ada yang mau ditanyakan?" tanya Taemin. Sehun mengangkat tangannya. "ne, Oh Sehun?"
"Sonsaengnim, apakah anda tidak merasa lelah?" tanya Sehun.
"tidak, aku baru mengajar selama dua puluh lima menit"
"ah, masa sih? Bukannya sedari tadi anda berkeliling tanpa henti?"
"tidak. Aku sedari tadi berdiri disini. Sebenarnya kau ini sedang bicara apa?" tanya Taemin bingung.
"habisnya sonsaengnim tidak bisa diam sih. Sedari tadi berputar-putar dipikiran saya~" kata Sehun lalu tos dengan Jongin. Kembali, kelas menjadi ricuh karena semua bersorak 'eaeaea' secara bersamaan. Bahkan ada yang bersiul-siul tidak jelas.
"Y-Yah! A-aku ini guru kalian!" kata Taemin dengan wajah yang memerah malu.
"SSSSHHTTT!" Jongin menenangkan seisi kelas sambil berdiri. Dan dalam sekejap kelas kembali tenang. "kalian ini bagaimana sih. Taemin Sonsaengnim kan dari tadi hanya diam ditempatnya" kata Jongin. Teman-temannya hanya diam.
"diam dihatiku" lanjutnya sebelum dia kembali tos dengan Sehun. Dan kembali terdengar suara sorakan-sorakan dan suara siulan dari kelas itu. Bahkan lebih ramai dari sebelumnya.
"YAH! APA KALIAN TIDAK BISA DIAM?!"
Seluruh penghuni kelas menoleh pada suara yang bersumber dari pintu. Dan mereka semua menelan ludah dengan kompak saat melihat siapa yang sedang berdiri diambang pintu dengan wajah yang garang.
Kibum Sonsaengnim.
"Suara kalian terdengar sampai lantai dua" lanjut kibum. Itu memang benar, mungkin karena kelas mengajarnya tepat diatas kelas Taemin sekarang, jadi suara ribut mereka sampai terdengar dikelasnya. Dilantai atas.
"kalian ini mengganggu!" katanya lagi. Dia sampai harus repot-repot turun dari lantai dua untuk memarahi kelas 1B.
Jika Kibum sedang berada dibawah dan marah-marah. Lalu bagaimana keadaan kelas 2B?
.
Ternyata keadaan kelas 2B masih tenang. Semua siswa masih asyik dengan buku tugas masing-masing. Mungkin karena ini adalah pelajaran Kibum Sonsaengnim makanya mereka tertib.
Tapi Chanyeol tidak. Dia sedang menatapi teman sebangkunya yang sedang mengerjakan tugas miliknya. Byun Baekhyun.
"apa?!" tanya Baekhyun judes. "jangan mengganggu konsentrasiku dengan senyuman konyolmu itu!".
"masa tersenyum saja tidak boleh. Pelit!" kata Chanyeol. Lalu dia menjulurkan lidahnya, mengejek Baekhyun. Baekhyun hanya mendengus lalu memilih kembali mengerjakan tugasnya-tugas Chanyeol sebenarnya.
Chanyeol tetap menatapi Baekhyun. Jujur saja dia merasa besalah karena membuat Baekhyun harus mengerjakan semua yang seharusnya dia kerjakan. Tidak tega, tapi mau bagaimana lagi. Dan mungkin karena terlalu lama bersama-sama dengan Baekhyun, Chanyeol jadi merasa jika dia menyukai namja berwajah cantik itu.
"B-Baekkie" panggilnya. "Whoa, santai saja kawan" lanjutnya saat Baekhyun malah menatap sinis padanya.
"apa?!" Baekhyun kembali pada tugas matematikanya. Tidak mempedulikan Chanyeol yang sepertinya sedang kebingungan mau bicara apa.
"umh, i-itu-" Chanyeol menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "t-tidak jadi. Nanti sajalah" kata Chanyeol. Dia sedikit ragu-ragu untuk mengatakannya, dia takut Bakehyun malah akan memarahinya. Atau lebih parahnya lagi Baekhyun akan menjauhinya. OH NO!
.
PLUK
Himchan baru saja melemparkan sebuah gulungan kertas diatas meja Yongguk. Yongguk memungut dan membukanya. Ternyata itu adalah surat dari Himchan. Yongguk hampir saja tertawa saat melihat isinya.
Ppsstt, ppsstt. Ck, ck, ck*wink
Yongguk tidak membalasnya. Dia malah mengembalikan kertas itu pada meja Himchan. Dan sesaat kemudian Himchan mengembalikan kertas itu diatas mejanya. Kembali, Yongguk membaca isinya. Benar dugaannya, Himchan kesal. Hahaha..
Yah! Balas suratku, bbabo!
Yongguk tersenyum lalu mulai membalas surat itu-
Mwo?
-lalu mengirimnya kembali dengan meletakkannya ditengkuk seragam Himchan. Dan dengan semangat Himchan mengamblnya. Pelajaran Minho sonsaengnim sedikit membosankan untuknya. Makanya dia mengirimi Yongguk surat. Tapi dia kecewa saat membaca balasan Yongguk yang singkat itu.
Hehehe, aku bosan. Kita ngobrol saja, ne?*puppy eyes
Yongguk terkekeh membacanya. Dan mulai membalas surat itu dan menaruhnya lagi ditengkuk seragam Himchan. Dan begitu seterusnya, saling membalas surat yang isinya sebebarnya tidak penting.
Yongguk yang hanya membalas surat Himchan dengan singkat dan Himchan yang terus merengek agar Yongguk memanjangkan balasan suratnya.
Yongguk senang saat Himchan bertingkah seperti ini. Merajuk padanya. Itu berarti Himchan membutuhkannya.
Selama ini Yongguk mengira jika dia hanya beban bagi keluarga Himchan yang sudah banyak membantu hidupnya dan adik perempuan Yongguk yang masih SMP. Bang Yongmi*peace broh (^0^)\/
Selama tiga tahun belakangan ini, keluarga Himchan sudah menganggapnya seperti saudara sendiri. Mengurus mereka jika sakit, memberi makanan, pokoknya baik sekali. Mungkin karena mereka sudah berjanji pada Ibunya untuk menjaga Yongguk dan Yongmi.
Mereka sudah menjadi tetangga yang akrab sejak kecil. Saling membantu bahkan sudah seperti saudara sendiri. Sampai suatu saat ibu Yongguk sakit keras dan sejak saat itu pula ayah mereka pergi, tidak mau mengurusi mereka lagi. Yongguk bersumpah tidak akan pernah memaafkan ayahnya. Dia sungguh marah sekali.
Tidak ada yang mau membantu pengobatan keluarga Himchan saja yang membantu mereka dan itu pun belum cukup, karena mereka tidak selalu punya uang banyak. Maka dari itu Yongguk mulai menjadi pelayan di Club malam.
Sampai ibu Yongguk kritis. Ibunya sempat menitipkan Yongguk dan adiknya pada keluarga Himchan. Dan memang pada dasarnya mereka punya hati yang baik, akhirnya mereka berjanji untuk menjaga Yongguk dan adiknya. Dan setelah itu ibu Yongguk tidak bisa diselamatkan lagi.
Yongguk kembali membalas surat Himchan untuk yang kesekian kalinya. Namun surat itu jatuh ditangan orang lain.
Minho sonsaengnim.
Minho membaca surat kecil mereka. Lalu menatap keduanya. Sedikit kesal karena dua muridnya sedari tadi tidak memperhatikan pelajarannya dan malah asyik sendiri.
"dari pada kalian bosan disini. Lebih baik kalian berdiri diluar sampai pelajaran saya selesai" kata Minho. Himchan dan (tumben-tumbennya)Yongguk menelan ludah mereka.
"silahkan" kata Minho sambil menunjuk pintu keluar.
Himchan dan Yongguk berdiri dari tempat mereka dan mulai berjalan keluar kelas. Malu, karena seisi kelas menyoraki mereka 'huu~'. Dan mereka hanya bisa pasrah, ini salah mereka sendiri sih.
.
Kibum hendak kembali ke kelasnya. Dia baru saja selesai memarahi seisi kelas 1B, kecualu Taemin. Dia tahu, Taemin tidak mungkin melakukan keributan seperti itu. Malah Taemin pasti yang jadi korbannya.
Saat hendak menaiki tangga, dia beretemu dengan Jinki yang baru saja turun dari lantai atas. Jinki tersenyum lembut saat melihat Kibum, membuat Kibum gugup.
"hai" sapa Jinki sambil melambaikan tangan.
"hai" balas Kibum.
"mau kembali mengajar?" tanya Jinki. Kibum mengangguk lucu membuat Jinki terkekeh. Dia mengacak pelan rambut halus Kibum. "Aku juga. Baiklah, selamat mengajar kalau begitu" lanjutnya dengan tersenyum, sebelum ia berjalan pergi.
Kibum memang galak pada muridnya, tapi jika berhadapan dengan Jinki dia jadi lupa jika dia adalah guru yang galak. Jinki sangat baik dan lembut padanya, sangat cocok menjadi pawang . Apalagi selama seminggu pacaran ini, Jinki semakin terlihat perhatian padanya. Kibum sendiri juga sampai bingung pada dirinya sendiri.
Kibum berdehem dan membenarkan kaca mata yang dia pakai, lalu segera menaiki tangga untuk segera kembali mengajar. Kalau memikirkan Jinki terus bisa menghabiskan waktu yang lama. Karena tidak akan ada habisnya, hahaha.
.
Disinilah Himchan dan Yongguk sekarang, berdiri didepan kelas mereka. Dihukum. Tapi paling tidak sekarang mereka benar-benar bisa mengobrol dengan leluasa kan? Namun sejak tadi mereka hanya diam saja, tidak biasanya.
Himchan terlihat sedang mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya pada lantai. Sedangkan Yongguk, dia hanya diam bersandar pada tembok. Mereka bergelut dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya Himchan membuka pembicaraan.
"umh, kau marah ya?" tanya Himchan. Yongguk menoleh dan memasang tampang datar yang terlihat bingung.
"ani, wae?"
"tidak. Hanya saja, kita dihukum begini kan karena aku" kata Himchan. Benar, dia kan yang memulai permainan surat-suratan itu. Dia jadi merasa bersalah. Yongguk baru saja mengikuti kelasnya hari ini, tapi Himchan membuatnya harus keluar kelas. "mianhae" lanjutnya.
"gwaenchanha" kata Yongguk sambil tersenyum. "senang dihukum bersamamu" lanjutnya. Himchan mengembangkan senyumnya lalu tertawa kecil.
"Ahjumma" panggil Yongguk. Himchan menoleh dan memasang tampang lucu sambil bergumam "hmm?".
"apa menurutmu, aku akan menjadi suami yang baik?" tanya Yongguk.
Himchan terkejut dengan pertanyaan Yongguk. Suami yang baik? Entah mengapa dada Himchan menjadi sesak mendengarnya. Dipikirannya sudah terbayang-bayang, Yongguk menikah dengan seorang yeoja berparas cantik, bertubuh seksi dan berambut panjang. Berbeda jauh dengan dirinya.
Himchan berdehem kecil sebelum bicara dengan nada yang seolah dia baik-baik saja, "tentu saja. Kau kan namja yang baik. Kau bertanggung jawab dan pekerja keras. Kau pasti bisa jadi suami yang baik" kata Himchan sambil tersenyum.
"begitu" gumam Yongguk. Dia tanya seperti itu karena takut jika dia akan sama seperti ayahnya yang tega meninggalkan ibunya saat sakit. Bagaimana pun juga Yongguk adalah anaknya, darah ayahnya pasti mengalir dalam dirinya. Mungkin saja dia sama pengecutnya dengn ayahnya.
Tapi mendengar jawaban Himchan barusan membuat dia senang. Paling tidak Himchan bilang dia namja yang bertanggung jawab, itu sudah cukup baginya.
"memangnya kenapa? Kau mau menikah muda?" tanya Himchan penasaran. Jika benar Yongguk ingin menikah muda, lantas bagaimana dengannya? Himchan kan sudah menyukai Yongguk sejak lama, masa dia harus merelakan Yongguk menikah dengan orang lain. Itu pasti sulit.
"tidak. Aku akan menikah jika aku sudah sukses dan punya banyak uang". Jawaban Yongguk sedikit melegakan hati Himchan. Paling tidak itu masih lama, dia masih punya banyak waktu untuk menyiapkan mental dan hatinya.
"kau mau kan, menungguku sampai aku punya banyak uang?" tanya Yongguk.
Himchan terbelalak. "m-mwo?". Himchan berusaha mencerna ucapan Yongguk barusan, meskipun dia mendengar dengan baik apa yang baru saja dikatakan sahabatnya itu. "apa... maksudmu?" tanya Himchan lagi.
"tidak ada pengulangan" kata Yongguk jahil. Himchan menatap Yongguk, masih terlihat bingung dan masih berusaha mencerna ucapan Yongguk meskipun dia sudah tahu apa artinya.
Yongguk mendekatkan wajahnya pada Himchan, "tapi yang jelas, kau harus mau menungguku sampai aku benar-benar menjadi orang kaya. Ara?".
.
BREAK TIME
.
"Annyeong"
Daehyun yang baru saja keluar kelas terkejut saat mendapati seseorang sudah menghadangnya didepan kelas. Dan tampang Daehyun langsung berubah malas saat melihat siapa orangnya.
"kau" ucapnya datar.
"mana walkie talkienya?" tanya namja itu yang ternyata adalah Luhan. Luhan tidak melihat Daehyun membawa walkie talkienya.
"ada di tas ku" jawab Daehyun datar.
"ambil" kata Luhan sambil menunjuk kelas Daehyun. "ayo ambil!" lanjutnya lagi dengan meninggikan suaranya.
"ck! Iya. Iya" kata Daehyun sebelum ia berbalik kekelasnya untuk mengambil walkie talkienya.
"dasar. Dia itu niat atau tidak sih?!" gumam Luhan sebal. Dia mengintip Daehyun yang sedang mengambil walkie talkienya. "nah, kkajja!" Luhan langsung menyeret Daehyun saat dia keluar kelas saat Daehyun sudah kembali.
"untuk apa sih kita membawa ini?" tanya Daehyun saat menuruni tangga. Dia benar-benar malas membawa walkie talkie itu. Kurang kerjaan sekali.
"kau harus membawanya kemanapun kau pergi. Untuk berkomunikasi jika kita terpisah" kata Luhan masih sambil terus menarik Daehyun untuk mencari Sehun dan Youngjae. Kaki mereka melangkah menuju kantin, Luhan berpikir jika Sehun dan Youngjae ada disana.
"itu mereka disana" kata Luhan seraya menunjuk Sehun dan Youngjae yang sedang duduk disalah satu meja berbentuk lingkaran kantin. "ayo!" lanjutnya penuh semangat dan kembali menarik tangan Daehyun. Namun Daehyun menahannya.
"haruskah kita kesana?" tanyanya. Dia menatap bergantian Luhan dan HunJae.
"wae? Kau ragu, huh? Sudahlah, serahkan semuanya padaku. Kau hanya perlu ikut saja" kata Luhan. Dan dia kembali menyeret Daehyun menuju meja HunJae.
"Annyeong" sapa Luhan pada HunJae yang sedang mengibrol. "boleh kita gabung?" tanya Luhan lagi.
"Luhan hyung? Tentu saja boleh" kata Youngjae semangat. Dia menatap sesorang yang sedang berdiri bersama Luhan, senyumannya semakin melebar saat tahu Daehyun orangnya.
Luhan menyuruh Daehyun duduk diantara Sehun dan Youngjae. Sementara dia mengambil duduk disamping Sehun.
Sehun yang merasa dipisah duduk dari Youngjae pun memilih untuk duduk diantara Daehyun dan Youngjae. Membuat Luhan sebal.
"Yah, Sehun! Aku ingin duduk didekat Daehyunnie hyung" protes Youngjae. Lalu dia bangkit dan duduk diantara Sehun danDaehyun. Astaga, membingungkan. Yang jelas, posisi duduk mereka sekarang adalah Daehyun-Youngjae-Sehun-Luhan.
"Annyeonghaseyo, Daehyunnie hyung" kata Youngjae sambil tersenyun lucu. Belum apa-apa, Daehyun sudah gugup saja melihat senyuman Youngjae.
Luhan terlihat melakukan kontak dengan Daehyun melalui matanya. Luhanan menyuruh Daehyun untuk membalas sapaan Youngjae.
"n-ne, Annyeong" jawab Daehyun. Luhan menepuk keningnya. Kenapa harus pakai acara gugup segala sih?!
Sehun mendengus lalu menghadapkan wajah Youngjae padanya. "Jae, kita pindah tempat saja yuk" ajaknya.
"Ih! Tidak mau, aku ingin duduk disini" kata Youngjae seraya melepas paksa tangan Sehun dari wajahnya. "Hyung~ Aku ingin lihat hadiahnya. Boleh ya?" jata Youngjae pada Daehyun sambil mengedip lucu.
Daehyun mulai berkeringat dingin. "Ti-tidak" tolak Daehyun. Dia tidak akan menunjukan hadiahnya pada Youngjae. Tidak akan!
Youngjae mempoutkan bibirnya. Membuat Daehyun maupun Sehun gemas. "Jae. Kau melupakan aku" kata Sehun sambil menarik-narik lengan Youngjae.
"Aish! Kau ini. Aku sedang sibuk" kata Youngjae lalu kembali merayu Daehyun agar menunjukan hadiah yang diberikan Jinki sonsaengnim padanya. Youngjae masih penasaran.
"kalau aku bilang 'tidak', ya tidak!" ucap Daehyun sedikit membentak Youngjae.
"Hey! Jangan kasar begitu!" ucap Sehun dan Luhan bersamaan pada Daehyun. Daehyun tidak bermaksud membentak Youngjae. Dia tidak sengaja, sungguh!
"ciee~" kata Youngjae sambil menyipitkan matanya dan tersenyum jahil dengan kedua jari telunjuknya yang masing-masing mengarah pada Luhan dan Sehun. "kalau jodoh memang tidak kemana" goda Youngjae lagi.
"diam!" desis Sehun. Apanya yang jodoh? Yang tadi itu hanya kebetulan saja. Sehun melihat sekilas kearah Luhan. Masih sama cantiknya seperti pertama kali dia melihatnya.
.
"ayo, buka mulutmu"
Jongdae dan Xiumin berusaha menahan tawa mereka. Terutama Jongdae, lagi-lagi dia disuguhi sebuah tontonan menarik dihadapannya. Kali ini bukan Baekhyun yang sedang disiksa oleh Park Chanyeol. Melainkan, Jongin yang sedang disuapi bekal milik Kyingsoo.
Bukan bekal sekotak makan penuh sayuran hijau. Jongdae tahu betul vegetarian macam apa Kyungsoo itu, dan dia juga tahu betul sebenci apa Jongin pada sayuran. Apalagi sayuran hijau, Jongin punya pengalaman buruk dengan sayuran hijau. Hingga sampai sekarang dia tidak bisa jika harus memakan sayuran-sayuran itu.
Jongin tersenyum dan membuka paksa mulutnya. Dan Kyungsoo langsung menyuapkannya pada Jongin. "enak tidak?" tanya Kyungsoo dengan polosnya.
Jongin hanya menjawab dengan memberikan dua ibu jarinya pada Kyungsoo. Padahal dia ingin sekali muntah.
"telan saja. Telan" kata Jongdae sambil menepuk-nepuk punggung Jongin. Wajahnya gembira sekali melihat adiknya tersiksa seperti itu.
Jongin memejamkan matanya, berusaha men-sugesti pikirannya jika dia akan baik-baik saja jika menelan sayuran itu. Dia tidak akan mual. Tidak akan mual. Tidak! Tidak! Dia mual! Dia butuh kantung muntah sekarang!
"Cinta butuh pengorbanan, Jongin-ah", kata Xiumin seraya terkekeh.
Benar, cinta butuh pengorbanan. Dan dengan satu kalimat sugesti itu, Jongin berhasil menenelan sayuran didalam mulutnya. Walaupun tetap saja dia ingin muntah. Dia melirik Kyungsoo yang sepertinya masih berharap agar Jongin menghabiskan bekal sayuran bersamanya.
"lagi?" tawar Kyungsoo.
Jongin mau tidak mau mengangguk dan melahap sayur-sayuran itu lagi, membuat wajah Kyungsoo terlihat cerah dan bersinar dimatanya. Ugh! Kalau saja bukan karena namja manis itu, dia tidak akan rela mengisi perutnya dengan sayuran.
.
Chanyeol menatapi Baekhyun yang sedang menyalin tugas temannya. Mereka tidak kekantin hari ini. Mereka hanya duduk dikelas, karena Baekhyun harus mengerjakan tugasnya sendiri yang belum sempat dia kerjakan.
Chanyeol memaklumi, dan mengijinkan. Bagaimanapun juga dia adalah orang yang membuat tugas sekolah Baekhyun menumpuk. Oh andai saja dia bisa jujur dengan Baekhyun, jika-
"oh, iya" Baekhyun menatap Chanyeol sekilas sebelum kembali menatap tugas-tugasnya. "tadi kau bilang mau mengatakan sesuatu. Ada apa?" kata Baekhyun.
Mati sudah. Ternyata Baekhyun masih ingat. Aish! Masa Chanyeol harus mengatakan yang sejujurnya sekarang? Tapi nanti bagaimana jika Baekhyun malah membencinya.
"ck! Cepat katakan" desak Baekhyun. Penasaran juga dia.
Chanyeol berdehem kecil, lalu membuka mulutnya. Tapi kemudian ia menutupnya lagi. Dia bingung cara mengatakannya. Sungguh dia tidak ingin Baekhyun jadi membencinya. Chanyeol suka pada Baekhyun. Dan dia tidak akan sanggup jika harus dibenci oleh namja cantik itu.
"lama sekali sih! Sebenarnya kau mau mengatakan apa, eoh?" tanya Baekhyun. "Oh! Aku jadi curiga dengan apa yang ingin kau katakan" lanjutnya sambil menatap dengan pandangan menuduh pada Chanyeol.
Chanyeol membulatkan mata, "a-apa? K-kenapa begitu? A-aku-"
"Kalau begitu cepat katakan!" Kata Baekhyun sambil kembali menulis pada bukunya. "bikin penasaran saja" gumamnya.
Chanyeol menghela nafas. Baiklah, Chanyeol pasrah. Dia akan mengatakannya sekarang juga. "Sebenarnya..."
Baekhyun menghentikan kegiatannya dan mulai menatap Chanyeol. Sebenarnya tiang listrik ini mau mengatakan apa sih?
"Sebenarnya..." Chanyeol mengulur perkataannya. Dia bingung sekarang.
"Sebenarnya..."
"Sebenarnya..."
"Jika kau mengatakannya lagi, buku sejarahku akan melayang kekepalamu" kata Baekhyun sambil mengangkat sebuah buku berukuran tebal. "cepat katakan!" kata Baekhyun tidak sabaran.
"Sebenarnyatangankusudahsembuh" Chanyeol menutup matanya setelah mengatakannya.
"huh?" tanya Baekhyun bingung. Dia kurang jelas mendengar ucapan Chanyeol.
"hhuuffhh~" Chanyeol menghela nafas. "sebenarnya, tanganku sudah sembuh" katanya. Dan Baekhyun bisa mendengarnya dengan jelas kali ini, sangat jelas. Baekhyun mengerutkan keningnya dan menatap Chanyeol.
"Sebenarnya tanganku hanya terkilir saja saat itu. Dan sudah sembuh tiga hari kemudian" Chanyeol menatap Baekhyun dengan penuh penyesalan. "tanganku tidak patah, Baekkie" katanya sebelum dia menunduk.
"mworago?" tanya Baekhyun. Dia paham betul apa yang dikatakan Chanyeol. "Apa yang baru saja kau katakan?!" lanjutnya dengan meninggikan nada bicaranya.
"m-mianhae" ucap Chanyeol. Dia menatap takut pada Baekhyun yang wajahnya sudah merah seperti banteng yang marah.
"kau jahat Park Chanyeol!" desis Baekhyun dengan mata yang menatap tajam Chanyeol. Tangan-tangannya bergerak merapikan barang-barangnya diatas meja dan memasukkannya kedalam tasnya. Dia merasa sangat marah sekarang. "aku benci padamu!" katanya sebelum dia memakai tasnya dan keluar dari kelas Chanyeol.
Jadi selama ini Chanyeol sengaja ingin menjadikan Baekhyun asistennya? Astaga.. Tega sekali. Memangnya Baekhyun salah apa padanya?
Tidak mengertikah Chanyeol jika Baekhyun rela menghabiskan waktunya untuk membantunya mencatat pelajaran hingga dia tidak sempat mencatat untuknya sendiri?
Tidak mengertikah Chanyeol jika Baekhyun rela datang setiap malam kerumahnya untuk membantunya mengatur barang-barang sekolahnya untuk besok?
Tidak mengertikah jika Baekhyun sudah lelah dengan kegiatan itu? Dia butuh istirahat. Dia butuh refreshing. Kulitnya butuh treatment!
"Baekkie!"
Baekhyun terus berjalan keluar kelas tanpa memperdulikan Chanyeol yang terus-terusan memanggil-manggil namanya. Dia sangat sangat marah pada tiang listrik itu sekarang.
BRAK!
Baekhyun menutup kasar pintu kelas yang seharusnya dibiarkan terbuka. Membuat Chanyeol dan beberapa murid dikelas terkejut sekaligus bingung.
"Bbaboya! Bbaboya!" ucap Chanyeol berulang-ulang sambil membentur-benturkan kepalanya diatas meja.
.
Lay menatap bosan pada Suho yang sedari tadi terus saja menulis dibuku catatannya. Jam istirahat sudah dimulai sejak sepuluh menit yang lalu, dan sejak saat itu pula Suho mendiamkan Lay.
"Hyung" panggil Lay, dan hanya dijawab oleh gumaman Suho. "sedang menulis apa sih?" tanya Lay. Dia yang awalnya sedang duduk didepan Suho kini beralih mengambil duduk disamping Suho. Dan saat Lay baru saja duduk, Suho berdiri dan berjalan tergesa keluar kelas.
Lay cemberut sambil menatap kepergian Suho. "dia kenapa sih?", gumamnya. Dia menopang dagu dan menatap sekeliling kelas. Disudut sana ada Kris dengan pacarnya yang berwajah manis itu. Sepertinya mereka sedang bercanda, terbukti dari keduanya yang sedikit-sedikit tertawa. Lay menghela nafasnya. Dia jadi iri melihat pasangan itu.
Dia kembali menatap pintu. Wajah Lay berubah cerah saat melihat Suho kembali memasuki kelas mereka, "Hyung" panggilnya. Suho hanya membalasnya dengan senyuman. Suho duduk disamping Lay lagi dan mulai mencari-cari sesuatu didalam loker mejanya. "sedang mencari apa?" tanya Lay.
Suho tidak menjawab. Tapi yang jelas dia baru saja menarik keluar sebuah map berwarna biru . Lay kebingungan melihat Suho mulai membolak-balik isinya. "apa itu, Hy-"
Belum selesai bertanya, Suho sudah kembali bangkit dari tepatnya dan kembali keluar kelas lagi dengan membawa selembar kertas dari dalam map itu. Lay mendengus. Apa kertas-kertas itu lebih menarik darinya? Dia menendang kaki meja.
Suho terus saja keluar-masuk kelas. Tak jarang juga Lay melihatnya mondar-mandir didepan kelas. Pasti sedang sibuk. Kalau sudah seperti ini, pasti Lay akan tidak diperhatian dalam waktu yang lama. Mungkin seminggu atau lebih.
Lay bangkit dari duduknya dan berniat untuk mencari Xiumin saja. Sebelum pergi, dia sempat membawa beberapa sampah kertas yang tergeletak begitu saja dilantai untuk dibuang diluar.
.
"Wah, kau semakin mahir saja! Daebak!" kata Zelo saat Jongup baru saja menyelesaikan atraksi papan seluncurnya.
"benarkah?" tanya Jongup lalu tersenyum. "coba lihat ini" lanjutnya sebelum ia melakukan sebuah trik seperti menendang papannya ketika berada di udara hingga berputar 360 derajat dan kemudian kembali lagi ke daratan dengan posisi awal.
"Woah! Kau bisa kickflip?! Hebat!" kata Zelo penuh bersemangat. Padahal Zelo belum mengajarinya.
"aku menontonnya di youtube" jawab Jongup sambil meluncur mengitari Zelo yang sedang berdiri.
Zelo tersenyum. Matanya mengikuti Jongup yang sedang mengitarinya. Dia suka pada Jongup yang sekarang. Tidak sepemalu sebelumnya. Bahkan sekarang Zelo yang sering tersipu malu dengan perilaku Jongup yang manis padanya. Seperti sekarang ini.
"Zelo~ Zelo~ Zelo~" Jongup menyenandungkan namanya saat dia meluncur mengitarinya. Membuat Zelo tertawa kecil. "I think I love you keuron-gabwayo. Cause I miss you-"
Zelo menghentikan tawanya saat mendengar Jongup mesenandungkan sebuah lagu romantis sambil terus mengitarinya. Pipinya memanas. Dia jadi tidak berani melihat kearah Jongup.
"- I'm falling for you nan mullatjiman, Now I need you-"
Apa maksudnya? Apakah Jongup menyenandungkannya untuk Zelo? Tidak! Tidak mungkin lah. Mereka hanya teman.
"-kipeun gose aju keuge jarichameun keudaeye moseubeul ijen boayo"
Dan Jongup berhenti didepan Zelo. Zelo menatap Jongup yang sedang tersenyum, senyuman yang sama seperti yang Zelo lihat biasanya. Bersinar.
"lagu favoritku" ucap Jongup dengan wajah yang lucu. Membuat Zelo tertawa. Lalu ia kembali meluncur mengitari Zelo sambil bersenandung kecil lagi. Membuat Zelo kembali merona.
.
Saat ini Himchan dan Yongguk sedang berjalan menuju halaman belakang sekolah. Yongguk berjalan didepan dan Himchan berjalan dibelakangnya. Wajah Himchan terlihat bahagia sekali sekarang. Sepertinya dia masih terbayang-bayang ucapan Yongguk yang tadi.
"siapa yang menyuruhmu berjalan dibelakang?" tanya Yongguk. "kemarilah" lanjutnya seraya menarik Himchan untuk berjalan disampingnya.
Mereka mulai memasuki area halaman belakang. Dan mata Himchan langsung tertuju pada dua orang namja yang selalu saja bermain papan seluncur disana.
Dia menghentikan langkahnya. Dia jadi teringat masa kecilnya dengan Yongguk. Dulu mereka sering sekali bermain papan seluncur seperti itu.
Yongguk yang baru sadar jika Himchan tertinggal dibelakangnya pun berbalik. Dia menatap Himchan yang sedang melamun sambil memandang kearah dua namja yang sedang bermain papan seluncur tak jauh dari tempat mereka berada. Yongguk menatap bergantian pada Himchan dan anak-anak itu.
Setelah itu Yonghuk melangkahkan kakinya mendekati anak-anak itu. Membuat Himchan tersadar dari lamunannya.
Himchan mengerutkan keningnya saat melihat Yongguk berbicara pada mereka. Lalu salah satu dari mereka memberikan papan luncurnya pada Yongguk. Himchan semakin mengerutkan keningnya saat Yongguk mulai menaiki papan seluncur itu.
Himchan tersenyum saat Yongguk melakukan beberapa trik yang membuat dua anak itu bersorak kagum.
"hahaha.. Hebat! Hebat!"
Zelo menepuk-nepuk pundak Yongguk yang langsung dihadiahi tatapan datar dari empunya. "maaf" guman Zelo.
"Kau hebat sekali Hyung!" kali ini Jongup yang bicara.
"tidak. Ada yang lebih hebat dariku" jawab Yongguk. Zelo yang senang karena Yongguk merespon dengan baik langsung sok akrab.
"jjinjja? Siapa? Siapa?" tanya Zelo antusias.
Yongguk teraenyum kecil. "dia", kata Yongguk sambil menunjuk seseorang yang sedang berdiri tak jauh dari mereka. Jongup dan Zelo ikut menatap pada arah yang ditunjuk.
Himchan yang merasa dirinya dipandangi oleh ketiganya pun menunjuk dirinya sendiri, "aku?". Himchan bisa lihat Yongguk mengangguk lalu memberi isyarat padanya untuk mendekat.
Himchan tertawa kecil sebelum menuruti Yongguk untuk mendekat. Dia tahu jika Yongguk menantangnya untuk main skateboard. Jadi dia berjalan mendekati Yongguk dengan gaya yang sok.
Yongguk menendang skateboard dikakinya pada Himchan yang sudah hampir dekat dengannya, hingga meluncur dan berhenti tepat dikaki Himchan.
"tunjukkan kehebatanmu, ahjumma" kata Yongguk.
.
"hei, Sehun. Kenapa kau tidak mengganti warna rambutmu? Bukankah, ada peraturannya. 'dilarang mempunyai warna rambut lebih dati satu'" kata Luhan.
"apa pedulimu? Biar aku sendiri yang mengurusi warna rambutku. Jangan ikut campur" jawab Sehun datar. Dia beralih pada Youngjae yang masih sibuk berusaha membuat namja bernama Jung Daehyun itu bicara padanya.
"aku kan hanya memberi tahu" kata Luhan.
"aku tidak perlu diberitahu. Aku sudah tahu" kata Sehun tidak peduli.
"Yah! Bicaralah yang sopan pada sunbaemu!" kata Luhan. "lagi pula itu untuk kebaikanmu sendiri kan" kata Luhan.
"aku tidak mau mengubah warna rambutku" kata Sehun, memberi penekanan pada setiap kata-katanya.
Luhan mendengus lalu memandang kearah lain. Sepertinya sia-sia saja dia mendekati Sehun. Dia keras kepala!
"tapi lebih baik kau ganti warna rambut saja", Sehun dan Luhan bersamaan menoleh pada Youngjae yang bersuara.
"apa?" tanya Sehun.
"rambutmu. Ganti saja menjadi satu warna saja. Apapun warnanya, aku rasa kau cocok-cocok saja. Karena wajahmu sudah oke" kata Youngjae. Perkataan Youngjae membuat Daehyun tidak senang. Wajahnya juga Oke kok.
"begitukah?" tanya Sehun. Youngjae mengangguk. "apakah kau akan senang jika aku mengubahnya?" tanya Sehun lagi. Dan Youngjae mengangguk lagi.
Sehun teraenyum. "Apapun untukmu, Youngjae" kata Sehun.
Luhan dan Daehyun memasang tampang 'WTF?!' mereka. Apa-apaan itu? Sehun langsung menurut jika Youngjae yang meminta? Tidak adil! Lihat, sekarang Sehun malah minta pendapat warna rambut yang cocok untuknya.
"bagaimana kalau seperti warna rambut Luhan hyung? Aku suka warnanya" kata Youngjae. Sehun menatap Luhan-sebenarnya rambut Luhan-sejenak, lalu tersenyum.
"Baiklah. Sepulang sekolah, kita pergi ketempat Hairstylist-ku, oke?" kata Sehun.
Luhan dan Daehyun saling bertukar pandang. Sebelum mereka memilih untuk pergi meninggalkan keduanya.
"aku tidak suka! Aku menyerah saja ah!" ucap Luhan. Dia menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Daehyun. "Kau juga! Kenapa kau tidak membantuku?! Kau ini sebenarnya ingin memisahkan mereka atau tidak?!"
Daehyun hanya diam saja. Benar, sebenarnya dia ingin memisahkan mereka atau tidak?. Dia saja bingung.
"AAAAAAAAA! Aku menyerah!" ucap Luhan frustasi sebelum dia pergi berjalan cepat entah kemana.
Daehyun hanya terdiam memandang punggung Luhan lalu menatap walkie talkie hello kitty ditangannya. Ada apa dengannya? Bukannya dia yang paling bersemangat sebelum ini? Tapi, kalau Luhan saja sudah menyerah bagaimana dnegannya? Apa yang harus dia lakukan? Apa dia juga menyerah saja?
.
TAP!
Prok! Prok! Prok! Prok!
Yongguk, Zelo, dan Jongup yang sedang duduk di jalan aspal itu bertepuk tangan penuh kagum saat Himchan selesai melakukan aksi papan seluncurnya. Zelo dan Jongup nampak berbinar-binar menatapi Himchan. Berbeda dengan Yongguk yang hanya tersenyum.
Himchan menghapus keringat yang membasahi dahinya. Lalu ia membuka almamaternya yang dimata Yongguk terlihat slow motion. Membuat Yongguk tidak bisa melepaskan pandangannya dari Himchan.
Himchan mengambil duduk dihadapan ketiganya. Dia melonggarkan dasi dan membuka satu kancing kemejanya. Biasa saja sebenarnya. Tapi bagi Yongguk, Himchan terlihat... errr... apa yang kupikirkan?, Yongguk menggeleng, mengusir fantasi liarnya.
"Ahjumma, kau hebat! Ajari kami dong" kata Zelo. Dia memang yang paling fanatik dengan hal-hal berbau skateboard.
"Aish! Pasti anak ini yang mengajarimu memanggilku'Ahjumma'" kata Himchan sambil menendang kecil kaki Yongguk. Yongguk hanya tersenyum sambil menatap Himchan saja.
Zelo dan Jongup memandangi keduanya yang sedang terlibat saling tatap satu sama lain. Dan apa itu? Himcan terlihat merona.
"kalian pacaran ya?" tanya Zelo dengan polosnya.
Himchan tersentak, dia buru-buru menengok pada Zelo. "huh? Apa? Ti-tidak. Kami hanya berteman" jawab Himchan seraya tertawa canggung. "kau ini ada-ada saja" lanjutnya sambil mencubit pipi Zelo gemas. Zelo hanya bisa pasrah saja pipinya ditarik-tarik oleh Sunbaenya itu.
"Astaga, kau ini imut sekali" kata Himchan. "Yonggukkie, lihat dia. Manis sekali kan?" lanjutnya tanpa melepaskan cubitannya dipipi Zelo.
"memang kenapa? Kau ingin kita mengadopsinya?" tanya Yongguk datar. Membuat Himchan sontak melepaskan tangannya dari pipi Zelo.
"ne?" Himchan membulatkan matanya. Mengundang tawa dari Zelo dan Jongup, dia terliat lucu sekali. Sedangkan Yongguk, dia sedang melayangkan wink-nya pada Himchan.
.
AFTER SCHOOL
Youngjae dan Sehun sedang jalan berdua di koridor sekolah. Mereka akan pulang bersama lagi. Dan hari ini Youngjae akan mengantar Sehun untuk mengganti warna rambutnya.
Dari kejauhan, Youngjae melihat Daehyun baru saja turun dari tangga. Dia sudah bersemangat untuk menghampirinya untuk menyapa. Namun dia mengurungkan niatnya saat ada seseorang yang tiba-tiba datang dan langsung memeluk lengan Daehyun dengan manja.
"L-Luhan hyung" irih Youngjae. Namja yang bergelayut manja dilengan Daehyun adalah Luhan. "kenapa-". Entahlah, hatinya terasa sakit sekali melihatnya.
"Kau ini kenapa?" tanya Daehyun pada Luhan. Aneh, tiba-tiba saja dia memeluk lengannya seperti ini. "kerasukan?" lanjutnya. Bukannya tadi dia marah-marah padanya.
"Enak saja!" Luhan mempotkan bibirnya. "tidak. Hanya ingin seperti ini saja" lanjutnya, semakin memeluk erat lengan Daehyun.
"Eh, Youngjae" kata Luhan saat Youngjae dan Sehun berjalan kearahnya.
"hai Hyung" sapa Youngjae malas. "hai" sapanya pada Daehyun.
Daehyun terlihat mencoba melepaskan tangan Luhan dari lengannya. Dia tidak ingin terlihat mesra denga orang lain didepan Youngjae. Karena memang sebenarnya dia tidak sedang mesra-mesraan.
Daehyun merasa Youngjae menatapnya dengan aneh. Apa dia marah?
"Sudah ya, kami mau pulang dulu. Annyeong~" ucap Luhan sebelum dia menyeret Daehyun pergi dari sana.
Youngjae memandang tidak suka peda keduanya. Dia tidak suka dengan Luhan yang memeluk-meluk Daehyun seperti itu. Youngjae juga tidak suka pada Daehyun yang diam saja dipeluk seperti itu.
Hey, kau kenapa? Cemburu, eoh? Hahaha..
TBC
HUAAAAHH!*teriak frustasi.
Kenapa kok makin gaje aja nih FF?! Udah Updatenya lama pula. Maaf ya, author lagi galau sih :P. Kata NavyDilla sih begitu, hehe..
Maaf ya kalo mengecewakan*bow. Saya janji deh, Chap depan lebih memuaskan dari yang ini.
Buat nama adiknya Yongguk saya pake nama Yongmi, namdongdaeng author. Hehehe, broh maaf ya. Gw jadiin lo sebagai yeodongsaengnya Yongguk disini.
Oiya, sekali lagi saya mau promosi. Yoohoo~*joget bareng Secret.
Add Facebook saya: xyliapark94 / Xylia Park.
Id Kakaotalk: Xyliapark94(ini Id baru)
Yang mau SMS ato Whatsapp-an sama saya PM aja*wink.
Itu buat yang mau aja. Kalo nggak ya sudah, abaikan saja.
Udah pada liat teaser Exo Growl belum? Keren Ya? ^^. Jadi g sabar buat tahu lagu selengkapnya*ngiler~
Maaf karena g bisa bales Reviewan. Saranghaeyo*kisseu satu-satu. Tetap berikan revieq kalian. Karena saya jadi semangat klo baca reviewan kalian. Oke?
Big Thank's to:
Pinoya, Riyoung6398, yongchan, ajib4ff, awlia, kim ryeosa wardhani, HyunieKyungie, Tania3424, Kopi Luwak, , 7D, MamaFreeze99, imspecially3, maiqui-shaa, riraly, chairun, Imeelia, siscaMinstalove, jenny, ichizenkaze, Guest, dewilololala, Brigitta Bukan Brigittiw, fzhdryn*bacanya gimana coba?, Yui the devil, Kim Mika, NavyDilla, Jang Taeyeoung, matokeke, WireMomo, Vicky98Amalia, BLUEFIRE0805, wyda joyer, ruka17, Jung Sungra, Albert Said, hatakehanahungry, Time to Argha, BunnyPoro, Swag Joker, SapphireGirl, Amazing KaiSoo, rachel suliss.
Review(lagi) Juseyo
