CHAPTER 9

.

TSM School saat ini sedang dalam keadaan hening. Seperti biasa, ini masih pagi. Jadi semua murid masih semangat untuk mengikuti pelajaran pertama mereka. Mereka masih fokus pada setiap ucapan guru didepan papan tulis yang sedang menjelaskan pelajaran. Tapi tidak untuk Youngjae.

Youngjae sedang menatap keluar jendela. Meskipun dia duduk dibarisan tengah, tapi dia masih bisa melihat dengan jelas kegiatan olah raga yang sedang berlangsung di lapangan berumput hijau sekolah. Seharusnya dia sedang mendengarkan penjelasan Minho sonsaengnim.

Tapi Youngjae lebih tertarik dengan pemandangan dilapangan. Disana ada seseorang yang sedang bermain sepak bola bersama teman-temannya. Seseorang yang entah kenapa membuat Youngjae ingin terus memandanginya. Jung Daehyun.

Kalau dilihat terus menerus, Daehyun semakin tampan saja dimata Youngjae. Entahlah. Youngjae suka dengan bagaimana cara Daehyun bermain bola disana. Dan dia juga suka dengan cara Daehyun mengibaskan poninya. Membuat pipinya memanas.

Daehyun terlihat sedang berjalan ketepi lapangan. Sepertinya sedang tukar pemain. Lalu duduk diatas rumput bersama dua orang temannya yang bertubuh tinggi.

Mereka tertawa. Sepertinya sedang bercanda. Youngjae jadi ikut tersenyum saat melihat Daehyun tertawa seperti itu. Karena wajahnya terlihat semakin tampan.

"oh?!" , Youngjae tak percaya. Dia baru saja melihat seseorang masuk kelapangan itu dan langsung memeluk leher Daehyun dari belakang. "Luhan hyung!", desisnya kesal.

Dia tidak suka. Ini sudah seminggu. Dia bosan dan sangat tidak suka jika Luhan menyentuh-nyentuh 'Daehyunnie hyung'nya.

Youngjae sadar jika Daehyun bukan miliknya. Tapi entahlah, dia sangat tidak suka jika Daehyun dekat dengan orang lain. Apalagi Luhan.

Mata Youngjae semakin terasa panas saat melihat Luhan memberikan botol minuman pada Daehyun dan bahkan dia mengelap keringat didahi Daehyun menggunakan handuk miliknya. Seharusnya yang melakukan semua itu adalah Youngjae. Youngjae menggeram marah, dan-

BRAK!

"ANDWAE!" teriaknya seraya menggebrak meja dan bangkit dari duduknya. Membuat semua mata tertuju padanya.

"ne, Yoo Youngjae?" tanya Minho sonsaengnim. "ada yang kau tidak mengerti dari penjelasanku?" tanyanya lagi.

Youngjae menatap Minho, lalu Jongup dan sekelilingnya. Semua orang menatapnya dengan tatapan aneh. "uhm, i-itu, a-aku.. Hanya.." Youngjae terlihat berpikir. Semua orang menunggu jawaban darinya.

"hehe, aku hanya digigit semut. Ya, aww!" Youngjae pura-pura menggaruk kakinya. Lalu ia tersenyum kikuk.

Semua orang nampak tidak puas dengan jawaban Youngjae. Mereka kira Youngjae berteriak seperti itu karena ada sesuatu yang seru atau apa. Ternyata hanya gigitan semut. Mereka ber'oh' ria dan kembali pada pelajaran.

Youngjae duduk dan menatap Jongup yang sedang mentertawainya. "kau bohong" kata Jongup. "kau tidak digigit semut" lanjutnya sambil beralih pada bukunya.

"maksudmu?" tanya Youngjae sambil mengerutkan keningnya. Jongup menatap Youngjae sambil memberikan senyumannya yang khas itu.

"kau cemburu" katanya.

"apa?" Youngjae terperanjat. Bagaimana Jongup tahu kalau dia cemburu? Wait! Apa dia cemburu?

"kau kira aku tidak lihat apa yang kau lihat?" kata Jongup sambil menulis pada bukunya. "Luhan Hyung dan Daehyun Hyung, kan?" katanya lagi dengan nada mengejek.

Youngjae diam. Dia menghela nafas berat sebelum dia menoleh lagi keluar jendela. Saat ini Luhan dan Daehyun sedang duduk bersama dipinggir lapangan. "kau memang sahabatku Jongupie" lirihnya, tapi masih bisa Jongup dengar.

Jongup tersenyum. Benar. Dia adalah sahabat Youngjae. Dia tahu apa yang Youngjae rasakan. Dia menepuk-nepuk pundak Youngjae dan memberi senyumannya saat Youngjae menatapnya.

.

"Yah! Sonsaengnim curang!"

"apa? Aku tidak curang! Dadu ku memang menunjukkan angka kembar!"

Sehun hanya tertawa melihatnya. Seharusnya mereka sedang belajar bersama Jinki sonsaengnim sekarang. Tapi karena tugas mereka sudah selesai sepuluh menit yang lalu-karena Jinki hanya memberikan tugas yang mudah-, akhirnya kelas ini berubah menjadi ramai.

Lihat saja, ada murid yang sedang bercanda. Ada yang sedang membaca majalah. Ada yang sedang bercermin dan membetulkan tatanan rambutnya. Dan ada beberapa yang mengobrol saja.

Sedangkan Jongin dan Jinki sonsaengnim, serta dua orang murid lainnya sedang bermain ular tangga. Dan Jongin sedang sibuk protes tentang sebuah kecurangan yang Jinki lakukan. Sehun tidak ikut main. Dia sedang tidak mood untuk main. Jadi dia hanya menonton saja.

"Ne. Ne. Baiklah, aku mundur dua petak. Puas?" kata Jinki seraya memundurkan dua petak pion hijau kerucut miliknya. Jongin tersenyum puas.

Sehun tertawa sekali lagi. Matanya tak sengaja melihat kearah luar jendela. Disana ada Luhan dan namja bernama Jung Daehyun sedang duduk bersama. Sehun menatap mereka lama sekali.

"Aha! Sebentar lagi aku akan menang!"

Sehun mengalihkan perhatiannya pada Jonhin yang bersorak senang. Dia ikut tertawa. Lalu ia kembali beralih pada Luhan dan Jung Daehyun diluar sana. Entah kenapa dia merasakan sesuatu yang aneh pada dadanya saat melihat Luhan tertawa bersama Jung Daehyun. Apa dia iri?

Tidak! Dia tidak iri. Tapi... Kenapa Jung Daehyun bisa dengan mudahnya membuat Luhan tertawa? Sedangkan Sehun sudah berusaha mati-matian, namun yang ia dapat hanyalah kata sindiran dari Luhan.

"Yah! Kau curang, Jongin-ah!"

Kali ini suara Jinki sonsaengnim yang sedang protes. Mengalihkan perhatian Sehun lagi. Dia kembali tertawa saat Jinki menjitak kepala Jongin karena curang. Lalu ia berhenti tertawa dan kembali menatap keluar jendela.

Entah kenapa kedekatan Luhan dan Jung Daehyun mengganggu pikirannya. Dia ingin melihat, tapi dia juga tidak terlalu peduli, tapi hatinya ingin Sehun melihat, tapi otaknya ingin Sehun tidak peduli. Duh.. Sehun jadi bingung sendiri.

Sehun terlihat kebingungan. Luhan dan Jung Daehyun sudah tidak ada diluar sana. Dia mencari-cari dua orang itu dengan matanya. Namun tidak ada. Sepertinya mereka sudah pergi dari lapangan olahraga.

Sehun menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Dia menghela nafas dan memejamkan matanya. Sehun tidak tahu apa yang sedang dia rasakan. Apa dia iri?

.

"Hey, sudah jangan ikuti aku terus. Aku mau ganti baju" kata Daehyun seraya menghentikan langkah Luhan yang mengikutinya masuk ke toilet. Daehyun mau mengganti baju olahraganya dengan seragam. Kenapa Luhan tidak juga berhenti mendekatinya.

"wae? Kau ganti saja. Aku mau kedalam juga" kata Luhan.

"aish! Kau ini" Daehyun melepaskan Luhan dan membiarkannya masuk ke toilet. Itu adalah toilet siswa, tidak mungkin Daehyun melarang Luhan memakai toilet siswa. Luhan juga seorang siswa disini seperti dirinya. Daehyun menghela nafas lalu menyusul Luhan.

Dia menatap Luhan yang sedang mencuci tangannya diwastafel sebelum dia masuk kesalah satu bilik dan mulai mengganti pakaian olah raganya menjadi seragam formal sekolah. Dan setelah itu dia keluar lagi. Luhan sudah tidak ada disana, mungkin sudah keluar.

Daehyun menghela nafas lagi. Akhirnya Luhan pergi juga. Daehyun mendekati wastafel dan mulai mencuci tangannya. Dia merasa aneh dengan Luhan yang selalu mengikutinya seminggu belakangan ini.

"masa bodoh" gumam Daehyun. Dia mengibas-ngibaskan tangannya yang basah seraya menatap dirinya dicermin. Merapikan seragamnya lalu melangkah keluar toilet.

"kau ini lama sekali!"

Daehyun terkejut. Ternyata Luhan masih menunggunya didepan toilet. Apa yang ada diotak Luhan sebenarnya? Kenapa dia suka sekali mengagetkan Daehyun? Untung Daehyun tidak jantungan.

"kau- kenapa tidak kembali kekelasmu?" tanya Daehyun. Dia berjalan mendahului Luhan.

"aku menunggumu" kata Luhan dari belakang Daehyun. Dia mempercepat langkahnya dan menyamakan langkah kaki panjang Daehyun. Dia meraih lengan Daehyun dan memeluknya.

"Yah! Jangan begini! Aku tidak suka, tahu!" kata Daehyun seraya melepas paksa tangan Luhan dari lengannya. Bagaimana nanti kalau ada yang melihat? Kalau fans Luhan yang melihat, bisa dikeroyok dia. Lebih parah lagi kalau Youngjae yang melihat. Bisa mati dia!

"tapi aku suka" kata Luhan, tangannya kembali meraih lengan Daehyun dan memeluknya lagi.

"Lepas!" Daehyun melepas paksa tangan Luhan lagi.

"shirreo!" Luhan kembali memeluk lengan Daehyun.

"Lepaskan!"

"Shirreo!"

"Lepas!"

"Shirreo~" Luhan mengatakannya dengan nada yang dibuat imut. "boleh ya?" tanya Luhan sambil mengedipkan matanya. Daehyun terdiam melihatnya.

"Bbuing~ bbuing~". Luhan pun mengeluarkan jurus andalannya. Aegyo. Daehyun tidak menjawab, tapi dia membiarkan Luhan memeluk lengannya lagi. Jujur Daehyun, tanpa aegyo pun wajah Luhan sudah imut. "antar aku ke kelasku" kata Luhan. Daehyun hanya bisa pasrah saja diseret Luhan. Toh kelas mereka berada dilantai yang sama.

.

Chanyeol dan Tao sedang jalan bersama. Mereka baru saja selesai mengganti seragam. Tadi Daehyun meninggalkan mereka dan pergi bersama Luhan, si Ulzzang sekolah itu.

Entahlah, Chanyeol dan Tao tidak tahu, ada hubungan apa antara Daehyun dengan namja cantik itu. Tapi kalau dilihat dari kedekatan mereka, Chanyeol dan Tao beranggapan jika Daehyun dan Luhan lebih dari sekedar teman.

Sedang asyik mengobrol, tiba-tiba Tao menyikut lengan Chanyeol. Gips sudah tidak lagi membungkus tangan Chanyeol, untuk apa mengunakannya jika tanganmu tidak sakit. Kecuali jika kau ingin melakukan sebuah 'modus'. Seperti Chanyeol. Tapi dia sudah ketahuan. Haha..

Chanyeol menatap Tao yang sedang menunjukkan sesuatu dengan kedikan kepalanya. Dia mengikuti arah tunjuk Tao, dan dia langsung salah tingkah. Disana ada Baekhyun yang sedang kesusahan membawa setumpuk buku. Sepertinya baru pinjam dari perpustakaan.

"aku duluan ya?" kata Tao. "sini aku bawakan pakaianmu" kata Tao seraya menyambar baju olahraga yang ada ditangan Chanyeol dan membawanya menuju kelas mereka.

Chanyeol kebingugan. Dia mendekati Baekhyun yang sepertinya tidak menyadari keberadaannya. Baekhyun sibuk mengawasi buku-buku yang hampir menutupi matanya itu agar tidak terjatuh. Chanyeol tersenyum geli melihatnya.

"perlu bantuan?" tanyanya.

Baekhyun menoleh, dan ekspresi wajahnya langsung berubah tidak bersahabat saat melihat Chanyeol ada disampingnya. Sepertinya dia masih marah pada Chanyeol. "tidak" jawab Baekhyun ketus.

Chanyeol hanya diam saja namun dia mengambil buku-buku itu dari tangan Baekhyun dan hanya menyisahkan tiga buku untuk Baekhyun bawa. Baekhyun mendongak dan menatap Chanyeol yang tidak menatap padanya.

"Mana rambut keritingmu?" tanya Baekhyun. Kemarin Baekhyun lihat Chanyeol masih dengan rambut kritingnya. Tapi sekarang rambutnya sudah berubah menjadi rapi dengan warna hitam (bayangin Chanyeol yg di mv Growl)

"wae? Kau merindukannya?" goda Chanyeol tanpa memandang Baekhyun.

"apa? Aku? Merindukan rambut konyolmu itu?" dengus Baekhyun. "tidak akan!" lanjutnya lagi.

Chanyeol tertawa kecil. "Baekkie" panggilnya. Baekhyun hanya bergumam saja. "maafkan aku sudah membohongimu" kata Chanyeol.

Baekhyun menghela nafas. "tidak mau" jawabnya.

Chanyeol ikut menghela nafas. "aku melakukannya karena aku ingin dekat denganmu" kata Chanyeol.

"untuk apa kau mendekatiku? Bukannya kau bilang-"

"Baiklah, Baekkie. Aku mengaku. Aku termakan ucapanku sendiri" ucap Chanyeol. Dia menghentikan langkahnya. Baekhyun ikut berhenti juga.

"Aku suka padamu, Baekkie" kata Chanyeol sambil menatap Baekhyun disampingnya. "Kau cantik" lanjutnya.

Baekhyun terkejut mendengarnya. Dia tidak bisa tidak tersenyum mendengarnya. Dia sangat dan selalu senang jika ada yang bilang bahwa dirinya cantik.

"kulitmu, rambutmu, matamu, bibirmu, senyummu" kata Chanyeol. Dia mendekatkan wajahnya pada Baekhyun. "semuanya. Kau cantik" katanya lagi.

Barkhyun merona. Tersenyum senang namun malu-malu. Dia merentangkan tangannya dan memeluk erat Chanyeol beserta tumpukan buku ditangan Chanyeol. Untung saja buku-buku itu tidak jatuh.

"aku tahu. Aku memang cantik" kata Baekhyun terharu.

"jadi, apa kau juga menyukaiku?" tanya Chanyeol. Baekhyun sontak melepaskan pelukannya.

"apa? Tentu saja tidak" kata Barkhyun ketus lalu berjalan mendahului Chanyeol menuju kelasnya.

"ta-tapi. Baekkie! Yah! Tunggu aku!"

.

TOK! TOK! TOK!

Kibum menghentikan kegiatannya menulis dipapan tulis dan berjalan menuju pintu kelas. Dia membuka pintu dan terkejut saat melihat sesosok wanita berwajah pucat pasi, dengan ekspresi datar.

"G-Gyojangnim? Anda sudah sembuh?" itulah kata pertama yang Kibum ucapkan.

Di depannya sudah ada Boa. Tampilannya memang menunjukkan jika dia sedang sakit. Syal yang melilit dileher, wajah polos tanpa make up, mantel tebal. Astaga, ini belum musim dingin.

"aku ingin bertemu Junmyun-ssi" kata Boa dengan nada datar khas orang sakit.

Kibum menoleh pada Suho yang sudah menatap kearahnya, "Junmyun-ssi" panggil Kibum. Dan dengan cekatan Suho langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Kibum dan Boa.

"ne?" tanya Suho dengan senyum ramahnya.

"Kibum-ssi, aku pinjam Junmyun. Tidak masalah kan?" tanya Boa masih dengan nada datar.

"Ne. Silahkan" kata Kibum mempersilahkan. Lalu setelah pamit pada Kibum, Suho ikut berjalan disamping Boa.

Dia menatapi kepala sekolahnya yang cantik itu. "Gyojangnim, anda terlihat pucat sekali. Anda yakin sudah sembuh betul?" tanya Suho.

"aku baik-baik saja Junmyun" kata Boa tanpa menatap Suho. "hanya kelelahan saja" lanjutnya. Mereka berbelok dan beberapa langkah kemudian sampai dikantor Boa. Boa membuka pintu lalu masuk duluan. Suho mengikuti Boa dan duduk dikursi yang sudah biasa dia duduki. Dihadapan Boa.

"baiklah. Kau sudah urus semua untuk upacara penyambutannya?" tanya Boa.

"sudah, Gyojangnim. Nanti akan ada sambutan dari anda, Wakil kesiswaan, Lalu saya. Disusul dengan penyambutan wakil dari para Juri" kata Suho, "setelah itu, Taeyeon sonsaengnim dan kami berencana akan mengadakan jamuan untuk para Juri. Setelah pemeriksaan tentunya" kata Suho lagi.

Boa hanya mengangguk mengerti. "umh, sebenarnya ada satu masalah lagi yang aku belum berhasil melakukannya, Junmyun-ssi" kata Boa.

"apa itu, Gyojangnim?" tanya Suho antusias.

Boa kebingungan, bagaimana cara menjelaskannya pada Suho. Ini adalah tugas yang berat dia sendiri belum tentu mampu mengerjaannya. "aku ingin kau-"

Belum selesai berbicara, telepon kantor Boa berdering. Boa megangkatnya dengan malas, "ne, dengan Kepala sekolah TSM School" katanya.

Suho bisa lihat tubuh Boa menegang sedetik kemudian. "kau. Mau apa lagi?". Suho beranggapan jika si penelepon itu adalah seseorang yang Boa tidak sukai. Terlihat dari bagaimana raut wajah Boa dan nada bicaranya yang ketus.

"Aku tidak sakit. Dan aku tidak menghindarimu" kata Boa ketus.

Suho hanya diam mendengarkan ucapan Boa yang ketus itu. Boa memang pernah memarahi siswa-siswanya, tapi tidak sampai seketus yang barusan itu. Yang ini terkesan membenci. Apakah kepala sekolahnya yang cantik itu membenci si penelepon?

BRAK!

Suho tersentak kaget saat Boa menutup teleponnya dengan kasar. Dia menatap Boa yang langsung menelungkup diatas mejanya. "tutup pintunya" kata Boa. Dan Suho langsung menurut dan menutup pintu kantor Boa.

Dia kembali duduk di tempatnya sambil mentap pada kepala sekolahnya itu. Bahu Boa bergetar dan terdengar seperti suara isakan disana. Apakah Boa menangis?

"Gyojangnim? Anda baik-baik saja?" tanya Suho.

Tangan Boa bergerak meraba-raba meja hingga kahirnya berhenti dikotak tissue yang ada disana. Dia mengambil selembar, dua lembar, tiga lembar, dan membawanya kebawah meja, lalu-

SROOOOOTTT!

Suho berjingkat ditempat duduknya. Jangan bilang yang barusan itu, Boa baru saja membuang ingus? Iiiyyyuuuuwwwhhh!. Suho mengelus dadanya. Kalau Lay yang melihat ini, Suho yakin Lay akan pucat dalam sekejap.

"Junmyun-ssi. Aku mohon bantu aku" kata Boa sambil menatapn Suho dengan wajah super suram. Seperti orang putus asa. "untuk sehari saja" lanjutnya.

.

BREAK TIME

.

"Hyung" panggil Lay senang saat akhirnya Suho kembali kekelas mereka. Dia menghampiri Suho yang sedang berjalan dengan gontai kearahnya. Tunggu! Gontai?

Lay mengerutkan keningnya. Ini aneh. Lay tidak pernah melihat Suho berjalan gontai galau seperti itu. Biasanya, sehabis dari kantor Gyojangnim, Suho pasti bersemangat sekali. Bahkan bisa sampai melupakannya. "Hyung? Gwaenchanha?"

Lay semakin khawatir saat dia sudah dekat dengan Suho. Wajah Suho pucat, dan tatapannya kosong.

"Yixing" lirih Suho. Dia berpegangan pada bahu Lay sebelum dia-

BRUK!

Jatuh pingsan.

.

Jongin terdiam menatap aneh pada sahabat sekaligus teman sebangkunya itu. Sehun dengan rambut barunya yang pirang, Ah! Jongin jadi pingin punya rambut dengan warna seperti Sehun.

*Back to the story.

Sejak tadi Sehun tidak juga berhenti mentapi dirinya, dari atas ke bawah, ke atas lagi lalu kebawah lagi. Begitu seterusnya.

"Yah! Kau kenapa? Suka padaku?" tanya Jongin. Menyeringai dipertanyaan terakhir.

"tidak" Sehun menggeleng. "aku hanya mau memastikan saja".

Jonuin ikut menatapi tubuhnya. Memang apa yang salah dengannya?

"mataku yang sudah mulai rusak atau memang kulitmu yang makin cerah?" tanya Sehun. Dia mengucek-ngucek(?) matanya sebelum kembali menatap Jongin.

Jongin menatap kulit tangannya. Dia tidak merasa kulitnya cerah atau semacamnya. "masa?" tanya Jongin. Lalu dia terkekeh.

"kau sedang merayuku ya?" tanyanya sambil menyeringai. Dia mendekatkan wajahnya pada Sehun. "Sehunnie~ Kau menyukaiku ya?" tanyanya dengan suara sexy nya.

PLOK!

Sehun mendorong wajah Jongin menjauh dengan buku sejarahnya yang tebal. Membuat Jongin sedikit meringis karenanya.

"mimpi saja kau" kata Sehun sambil tersenyum mengejek sebelum dia pergi keluar kelas.

Jongin menatap Sehun yang semakin jauh pergi lalu beralih pada tubuhnya. Dia menatapi kulit tangannya yang kata Sehun, semakin cerah. "apa iya?".

Dia tersenyum. Apa mungkin karena dia selalu makan sayuran hijau bersama Kyungsoo Hyung selama seminggu ini? Jongin tertawa kecil. Baguslah kalau begitu.

Lalu ia berhenti tertawa. Tapi dia jadi bingung kenapa dia rela makan sayuran-sayuran hijau itu. Apa benar karena dia suka pada Kyunhsoo? Atau karena dia masih mengincar bibir seksi namja manis itu?

Apa iya dia hanya mengincar bibir Kyungsoo?

.

"Weits!"

Sehun mengerem langkahnya saat hampir menabrak seseorang didepan pintu kelasnya. Jongup.

"mencari Zelo ya?" tanya Sehun. Jongup tetsenyum seraya menaik-turunkan alisnya. "mana Youngjae?" tanyanya lagi.

"dia bilang mau kekantin" kata Jongup sambil lalu. Dia sudah tidak sabar ingin beretemu dengan Zelo.

Sehun pun mulai melangkahkan kakinya untuk menyusul Youngjae. Namun baru beberapa langkah saja Sehun tersenyum. Dia mempercepat langkahnya saat melihat Youngjae yang sedang berjalan cepat tak jauh didepannya.

GREP

Dia memeluk pinggang Youngjae dari belakang. Membuat Youngjae terkejut. "kau mau kemana? Kenapa tidak menyusulku dulu?" bisik Sehun ditelinga Youbgjae.

"Yah! Jangan sembarangan memeluk orang" protes Youngjae seraya melepas tangan Sehun dari pinggangnya.

Sehun hanya tertawa saja lalu ikut berjalan disamping Youngjae. Dia menahan tangan Youngjae agar tidak berjalan dengan cepat. "Hey! Mau kemana sih? Kenapa terburu-buru?"

"mau ke kantin" kata Youngjae. Dia terus berjalan cepat meskipun tangannya ditahan oleh Sehun.

"tapi tidak petlu berjalan secepat itu. Seperti sedang kerasukan saja" kata Sehun yang langsung dibalas oleh deathglare manis(menurut Sehun) dari Youngjae.

"jangan bercanda ya. Ini adalah situasi genting. Kalau aku tidak buru-buru, nanti aku akan kalah" kata Youngjae. Lalu ia segera berlari pergi meninggalkan Sehun dengan berbagai pertanyaan.

.

"Sudahlah, Lay"

Xiumin hampir kehilangan kesabarannya. Sejak tadi Lay tidak juga berhenti mondar mandir disamping ranjang Suho, di ruang kesehatan. Dia pusing melihatnya "Kau harus tenang. Aku pusing melihatmu mondar-mandir terus!" kata Xiumin.

Lay menatap Xiumin lalu memegang kedua bahu Xiumin. "mworago?" dia menatap Xiumin tajam. "tenang?" tanyanya. Xiumin mengangguk pelan. Sedikit mengerikan juga si Lay kalau seperti itu.

"bagaimana aku bisa tenang jika Suho Hyung belum sadar juga?" tanya Lay. "Bagaimana kalau dia kenapa-kenapa?"

"Tapi, dia baru pingsan selama dua menit" kata Xiumin. Lay mendngus lalu melepas kedua tangannya dari bahu Xiumin.

"ya, dia baru pingsan dua menit" kata Lay. "tapi bagaimana jika dia menjadi pingsan selama tiga menit? Lima menit? Satu jam? Atau dia tidak sadar lagi untuk selamanya?" tanya Lay. "nanti aku menikah dengan siapa?" tanyanya Dramatis. Xiumin hanya bisa sweatdroped mendengarnya.

"Jangan-jangan..."

Xiumin menatap Lay yang sedang menatap horor adanya. "Jangan-jangan apa?" Dia jadi ikutan ngeri juga.

"Jangan-jangan Suho Hyung..."

"Suho kenapa?" tanya Xiumin gemas. Dia kan jadi penasaran. Apalagi wajah Lay yang horor seperti itu mendukung rasa penasarannya.

"Jangan-jangan Suho Hyung kena serangan jantung! HUWAAAAA!" Lay berteriak dramatis. Lebih dramatis dari yang sebelumnya.

Xiumin memasang tampang datar. Yang Dramatis kan seharusnya Xiumin, bukan Lay!. Oke, Xiumin akui jika dia sedang berpikiran bahwa Lay sudah mulai terpengaruh sinetron yang baru-baru ini tayang ditelevisi.

Dia membekap(?) mulut Lay dengan tangannya. "Kalau kau berisik, nanti Suho tidak sadar-sadar" kata Xiumin. Mereka sontak saling pandang. Bukannya kalau berisik malah akan cepat sadar?

Xiumin melepaskan tangannya. "Aish! Terserah lah! Aku mau mencari ChenChen saja" kata Xiumin.

"ha? ChenChen?" tanya Lay kebingungan. "Nugu?". Dia tidak pernah dengar ada murid bernama ChenChen disekolah. Dia menatap pada Xiumin yang sedang tersenyum malu-malu didepan pintu ruang kesehatan.

"rahasia." katanya sebelum dia melangkah pergi.

Lay menatap kepergian Xiumin. Lalu beralih menatap pada Suho yang terbaring lemah di ranjang. Dia menghela nafas lalu duduk disamping ranjang Suho.

Dia menggenggam satu tangan Suho yang ada didekatnya. "Sebenarnya kau ini kenapa, Hyung?" gumamnya.

Lay hanya bisa berdoa semoga Suho segera sadar dari acara pingsannya.

"jangan-jangan..." Lay menatap curiga pada Suho. "...Kau tidak sadar-sadar karena sedang bermimpi tentang namja yang lebih cantik dari aku?!"

"Yah! Suho Hyung! Irreona!"

-_-สน

.

"Jae, sudahlah. Kakiku sudah tidak kuat lagi" kata Sehun.

Sedari tadi dia sudah mengikuti Youngjae berkeliling sekolah ini untuk sesuatu yang kata Youngjae 'genting'. Memang apa yang genting? Youngjae tidak menjawab setiap Sehun bertanya seperti itu.

"Lagi pula siapa yang menyuruhmu ikut?" kata Youngjae seraya melirik Sehun yang sedang membungkuk memegangi lututnya. Wajahnya memang menunjukan jika dia sedang lelah.

"kalau aku tidak ikut denganmu, nanti aku sama siapa?" tanya Sehun. Youngjae menghela nafasnya.

"Kau kan bisa sama Jongin" jawabnya.

"Apa? Sama si mesum itu?" tanya Sehun tidak percaya.

PLAK!

Tiba-tiba seseorang memukul kepala Sehun dari belakang. Dia menoleh mencari si pelaku dan setelah ketemu dia hanya bisa nyengir kuda. Karena orang yang memukul kepalanya adalah Jongin.

"kau juga mesum, bodoh" kata Jongin sambil lalu.

"Sorry, bro. Just kidding" kata Sehun. Dia kemvali menatap Youngjae. "memang siapa sih yang kau cari?" tanyanya

Youngjae terdiam. "umh, aku sedang mencari..."

.

"kenapa kau mengajakku kesini?"

Luhan menoleh pada Daehyun yang tidak juga berhenti menanyakan hal yang sama. Dan Luhan hanya bisa menjawabnya dengan jawaban yang sama. "hanya ingin saja".

Daehyun mendengus. Saat ini mereka sedang duduk ditepian atap sekolah sambil menatap kearah taman belakang.

Saat bel istirahat berbunyi tadi, Luhan tanpa bubibu*nyanyi bareng A Pink, langsung menculiknya dan menyeretnya menuju atap sekolah. Entah apa yang sedang direncanakan Luhan.

Sejak seminggu yang lalu. Sejak dia berkata 'menyerah' untuk mendekati Sehun. Luhan terus dan selalu menempel padanya. Bahkan tak jarang pula dia datang kerumah Daehyun. Dari mana Luhan tahu alamat Daehyun? Heran.

"Dae. Nanti aku datang kerumah ya. Aku sudah berjanji pada Jung ahjumma untuk belanja bersama" kata Luhan. Daehyun menatap Luhan dengan mata membulat kaget, membuat Luhan tertawa.

"Yah! Kenapa kau seenaknya saja melakukan semua ini?! Apa yang kau rencanakan?!" tanya Daehyun. Luhan hanya tertawa melihatnya.

Menurutnya ekspresi wajah Daehyun sangat lucu saat marah. "Ah, Dae. Kau ini menggemaskan sekali~" katanya seraya mencubit satu pipi Daehyun.

Daehyun berontak. Dia tidak suka diperlakukan seperti itu. Mencubit pipi sembarangan. Memangnya Daehyun anak kecil?! Anak kecil saja marah jika kau mencubit pipinya.

Daehyun memegangi pipi yang habis dicubit Luhan dengan wajah cemberut. Luhan hanya bisa tertawa saja melihatnya.

"katakan padaku, apa yang sedang kau rencanakan?" kata Daehyun. Dia tahu dan dia bisa merasakan ada yang tidak beres dengan tingkah Luhan akhir-akhir ini.

"aku tidak merencanakan apa-apa" jawab Luhan enteng.

"kau bohong" tuduh Daehyun. "Kau ingin membuat Sehun cemburu dengan cara berjalan disampingku setiap saat?" tanya Daehyun lagi.

"Dae. Bisakah kau berhenti bertanya seperti itu?! Aku tidak suka mendengarnya" kata Luhan.

"maka jawablah. Agar aku berhenti bertanya seperti itu" kata Daehyun sambil menatap mata Luhan. Dia tidak akan marah jika Luhan mengakui jika mendekatinya adalah rencana Luhan untuk merebut Sehun.

"tidak" jawab Luhan. Dia menatap langsung pada mata Daehyun. "aku tidak sedang merencanakan apa-apa. Aku hanya ingin dekat saja denganmu" kata Luhan mantap.

Daehyun menghela nafas. Sepertinya Luhan jujur. Matanya tidak menunjukan jika dia sedang berbohong.

"wae? Kau tidak suka aku dekat denganmu?" tanya Luhan.

"bukan. Aku hanya..." Daehyun tidak tahu bagaimana harus melanjutkan kalimatnya. Bukannya dia tidak senang, hanya saja... apa ya? Yang jelas, dia tidak ingin Youngjae berpikir yang tidak-tidak tentang kedekatannya dengan Luhan.

CHU~

Daehyun terbelalak. Dia menyentuh pipinya dan menatap Luhan yang baru saja mencium pipinya. Apa-apaan itu? Dia malah tertawa setelah mencium pipi Daehyun.

"Y-Yah! Kau ini!" protes Daehyun. Dia memandang sekeliling. Youngjae lihat tidak, ya? Huffhh~ Untung tidak ada yang lihat.

Dia menatap Luhan lagi yang sedang tersenyum padanya. "awas ya kalau kau melakukannya lagi!" ancam Daehyun. Dan sekali lagi Luhan tertawa karenanya.

.

Himchan terdiam sambil menatap kearah atap gedung sekolah. Disana ada Luhan yang sedang duduk bersama seseorang ditepian gedung. Dan yang membuat Himchan heran, selama dia menjadi teman Luhan. Dia tidak pernah melihat Luhan segenit itu. Sembarangan mencium pipi orang.

Tapi melihat Luhan seperti itu, membuat Himchan pengen juga. Dia mencuri pandang pada Yongguk yang sedang mengangguk-angguk karena mendengarkan musik dari satu earphone yang dia pakai. Mereka sedang berbagi earphone untuk mendengarkan musik dibawah pohon seperti biasa.

Himchan juga tidak tahu, sebenarnya hubungan mereka ini sudah lebih dari sahabat atau belum.

Kalau belum, kenapa Yongguk selalu mengatakan kalau Himchan harus bersabar menunggu Yongguk sampai kaya raya. Memang kalau Yongguk sudah kaya, apa dia benar-benar akan menikahi Himchan?

Kalau sudah, Kenapa Yongguk tidak pernah mencium pipinya seperti yang Luhan lakukan tadi? Oh, ayolah.. Himchan ingin tahu bagaimana rasanya dicium seperti itu.

Himchan melirik Yongguk. Atau aku saja yang menciumnya duluan?. Lalu dia menggeleng cepat. Tidak! Itu memalukan.

Dia menggigit bibirnya sambil melirik pada Yongguk yang masih mengangguk-abgguk. Lalu dia menoel-noel(?) lengan Yongguk.

"hmm?" respon Yongguk. Dia masih asyik mengangguk-angguk.

Himchan mempoutkan bibirnya sebal. Ck! Yongguk nggak asyik! Dia mencoba mencolek lengan Yongguk lagi.

"ada apa?" kali ini Yongguk menoleh pada Himchan. Namun hanya sekilas.

Himchan mempoutkan bibirnya lagi. Dia mulai menggerutu dalam hati. Masa hanya begitu saja respon Yongguk. Sama sekali tidak mesrah!

Akhirnya dia ikut menikmati lagu saja. Bahkan mulai ikut mengangguk-angguk kecil seperti Yongguk.

Lagu-lagu di playlist Yongguk kebanyakan adalah lagu-lagu hip hop. Memang tidak salah jika Yongguk sampai mengangguk-angguk begitu saat mendengarnya. Karena lagu hip-hop memang enak untuk didengarkan. Membuatmu tidak tahan untuk tidak joget(?).

Sampai akhirnya lagu itu selesai, digantikan oleh lagu yang membuat Himchan merasa aneh jika Yongguk punya lagu itu di playlistnya.

Kiss me darling kiss me kiss me tonight

Kiss me darling kiss and you'll be alright

Kiss me darling kiss

Your kiss is so wonderful

My love you'll always be

My love you'll always

BLUSH~

Pipi Himchan memanas mendengarkan lagu itu. Dia yakin, pasti wajahnya sudah merah sekarang. Duh, malu sekali dia. Kenapa lagu ini muncul saat Himchan sedang memikirkan tentang ciuman.

Jantungnya berdegup tidak karuan. Dia melirik Yongguk perlahan. Dan dia terkejut saat tahu ternyata Yongguk tengah menatap intens padanya. "m-mwo?" tanya Himchan gugup. Yongguk tidak menjawab. Dia malah mendekatkan wajahnya pada Himchan.

Himchan menjauh dari Yonghuk. Oke, dia mungkin menginginkan ciuman itu. Tapi Yongguk saat ini terlihat menakutkan. "k-kenapa menatapku seperti itu?"

Yongguk tidak menjawab lagi. Dia terus mendekatkan wajahnya. Matanya menatap lekat pada bibir Hinchan.

"Y-Yonggukkie?" panggil Himchan.

Kenapa Yongguk tidak berhenti mendekatkan wajahnya? Tidak tahukah dia jika Himchan sedang malu saat ini. Ugh~ Himchan tidak kuat menatap Yongguk yang sedang seperti itu.

Himchan gelagapan saat punggungnya sudah menyentuh rumput. Dan Yongguk masih saja mendekatkan wajahnya. Sial! Kenapa lagu ini berhenti?

"Hime.."

Himchan membeku saat mendengar suara berat Yongguk yang memanggilnya seperti itu. Dia merasa seperti terseghat listrik. Dia merinding. Oh! Eotteohke?

"n-ne?" jawab Hinchn gugup.

"bersabarlah. Tunggu aku sampai aku kaya. Lalu aku akan membahagiakanmi" Itulah kalimat yang setiap hari dikatakan oleh Yongguk padanya. Dia semakin mendekatkan wajahnya.

Himchan pasrah. Dia memilih untuk memejamkan matanya. Biar saja Yongguk melakukan apa yang dia ingin lakukan. Himchan pasrah dan sedikit... menginginkannya.

CHU~

Himchan bisa merasakannya. Dia merasakannya. Bibir Yongguk menempel dibibirnya. Ini lebih dari apa yang dia inginkan. Bahkan terlalu lebih saat Yongguk mulai melumat bibirnya.

Dan semakin lama, Yongguk semakin ganas saja. Dia melumat habis bibir Himchan. Himchan sampai sulit bernafas. Mereka berciuman sambil mendengarkan musik melalui earphone yang mereka pakai.

Himchan hanya bisa berharap. Semoga saja tidak ada yang melihat hal ini. Dan kenapa lagu ini tidak berhenti juga?

.

"Astaga! Lihat itu!" kata Luhan pada Daehyun sambil menunjuk dua orang namja yang sedang berciuman dibawah pohon di halaman belakang sekolah.

Daehyun mengikuti arah yang ditunjuk Luhan dan wajahnya memanas seketika saat melihatnya. "bukankah itu Himchan dan Yongguk? Astaga! Mereka benar-benar pacaran?", kata Luhan. Dia terlihat senang sekali melihatnya.

"Hey, sudah" Daehyun menutupi mata Luhan. "ayo kita ke bawah" lanjutnya seraya menuntun Luhan bangkit berdiri, karena dia tidak melepaskan tangannya dari mata Luhan.

Sepertinya harapan Himchan tidak terkabul. Ada dua orang yang sudah melihat kegiatannya dan Yongguk, yaitu Luhan dan Daehyun.

Dan ada dua orang lagi..

.

Zelo dan Jongup terpaku dengan mulut terbuka. Didepan mereka sedang ada adegan french kiss Live.

Awalnya mereka berniat untuk main skateboard ditempat biasa. Namun Zelo memaksa ingin mendekati dua sunbae mereka, Bang Yongguk dan Kim Himchan.

Tapi setelah mereka mendekat. Mereka malah disuguhi tontonan yang seharusnya mereka belum boleh melihatnya.

Jongup sadar lebih dulu. Dia menatap Zelo yang masih melihat kedua sunbae mereka dengan mulut terbuka. Dan apa itu? Wajahnya terlihat senang sekali.

"A-Andawe!" Dia menjatuhkan skateboardnya dan berusaha menutup mata Zelo yang tubuhnya lebih tinggi darinya. Jongup harus sedikit berjinjit untuk itu.

Namun Zelo menyingkirkan tangan Jongup dari matanya. Dia masih ingin melihat kedua namja itu yang masih belum menyadari keberadaannya dan Jongup disana. Jarang-jarang kan, dia bisa melihat hal yang seperti itu.

"jangan lihat!" kata Jongup sambil kembali menutup mata Zelo. Aduh! Susah sekali menutup mata namja tinggi ini. Apalagi Zelo terus-terusan menyingkirkan tangannya.

Dia menyerah. Hanya ada satu cara untuk menghentikan semua ini.

"EHEM!"

Mereka bertiga sontak menoleh pada Jongup yang baru saja berdehem. BangHim menatapnya dengan wajah memerah malu. Sedangkan Zelo menatapnya kesal karena kesenangannya diganggu. Namun hanya sebentar karena melihat ekspresi tidak suka dari Jongup.

"e-eh? K-kalian sejak kapan ada disana?" tanya Himchan gugup.

"Sejak, lima menit yang lalu" jawab Jongup datar.

"cih! mengganggu saja". Semua orang disana bisa mendengar gumaman Yongguk.

"ayo, Zelo. Kita main skateboard saja" ajak Jongup. Dia mengambil skateboardnya dan segera menarik Zelo menjauhi dua sunbaenya itu.

"Bye, Ahjumma" kata Zelo sambil melambai pada Himchan. Dia terus mengikuti Jongup berjalan menuju tempat mereka biasa main skateboard.

Himchan menghela nafas. Dia dan Yongguk saling menatap satu sama lain. Yongguk terlihat mulai memajukan wajahnya lagi pada Himchan. Namun Himchan menendorong wajahnya menjauh dengan telapak tangannya.

"jangan lagi. Ini disekolah" kata Himchan. Dia menunduk. Jujur saja dia malu sekali. Yang mereka lakukan tadi memang tidak pantas untuk dilakukan disekolah. Jika ketahuan Kim Junmyun, ketua organisasi siswa mereka. Bisa-bisa dia tidak akan berhenti ceramah.

"Baiklah. Kita lanjutkan dikamarku saja nanti" kata Yongguk.

Ya Tuhan. Jantung Himchan hampir copot mendengarnya. "sejak kapan kau semesum itu?" tanya Himchan. Yongguk tidak menjawab. Dia hanya terkekeh mendengarnya.

.

"Aku kenapa? Aku dimana? Aku siapa?"

Lay memandang datar pada Suho. -_- "jangan aneh-aneh, Hyung" katanya.

Setelah pingsan kurang lebih selama lima belas menit.*lama amat ya?. Akhirnya Suho sadar juga. Dan sepertinya ingatannya sedikit terganggu. Hehe.. Bercanda. ^^

"Hyung, apa yang terjadi? Aku khawatir sekali saat kau tiba-tiba jatuh pingsan dikoridor" kata Lay setelah membantu Suho duduk. Dia menatap Suho yang masih terlihat pucat dan lemah itu mendadak memasang tampang horor setelah mendengar pertanyaannya.

Suho menatap Lay. " Yixing" panggilnya. Wajahnya terlihat kacau sekali.

"ne, Hyung?"

"Boa gyojangnim..." Suho mengambil nafas sejenak. "Gyojangnim memintaku untuk..." dia menjeda kalimatnya lagi dan menatap Lay yang nampak menunggu kata-katanya.

"untuk membuat seluruh siswa disekolah ini tertib dan mematuhi peraturan saat penilaian berlangsung" katanya dengan nada yang tidak semangat.

"MWO?!" Lay terkejut. "apa dia gila? Apa itu tidak keterlaluan? Maksudku, tugas itu terlalu berat untuk dilakukan. Kau tahu kan, murid-murid disekolah ini seperti apa?" kata Lay cemas. Dia tidak tega pada Suho.

Dia memijit keningnya. Mendengarnya saja kepalanya sampai terasa pening. Pantas Suho sampai pingsan begitu. "lalu apa rencanamu?" tanya Lay. Dia menatap pada Suho yang terlihat bingung dan pucat. Suho menggeleng pelan.

"untuk saat ini, aku masih belum bisa memikirkan rencana apapun" katanya.

"bagaimana kalau kau pidato saja. Bukankah itu keahlianmu? Kau motivasi saja mereka untuk menjadi murid yang mematuhi aturan" kata Lay.

Suho menggeleng. "itu tidak akan mempan melawan murid-murid sekolah ini" katanya. Dia kembali tiduran diranjang. "Aku mendadak tidak enak badan" katanya seraya menutupi dirinya dengan selimut.

Lay mengulurkan yangannya untuk menyentuh kening Suho. Dia terkejut, "OMO. Badanmu panas sekali, hyung" katanya. Dia sungguh tidak tega pada Suho. Tugas itu pasti sangat membebani pikiran Suho saat ini.

"tidurlah hyung" katanya. Dia mengusap rambut Suho. "Jangan khawatir, akan kubantu kau memikirkan semua ini" lanjutnya.

.

TAP!

Zelo menghentikan permainan papan seluncurnya. Dia terlihat memikirkan sesuatu. Mungkin itu yang membuatnya tidak fokus main sejak tadi.

"ada apa?" tanya Jongup. Dia menghampiri Zelo yang duduk ditempatnya berdiri tadi. Dan dia ikut duduk dihadapan Zelo. "ada apa?" tanyanya lagi.

Zelo menatapnya. "Bagaimana ya rasanya?" Dia bertanya tiba-tiba.

"rasa apa?" tanya Jongup tidak mengerti.

"yang seperti Himchan hyung dan Yongguk hyung lakukan tadi" kata Zelo. Dia menerawang kelangit sambil memegangi bibirnya.

Jongup gugup. Bagaimana ini? Apa yang harus dia katakan?

"E-Eh? Kau mau apa?" tanya Jongup gugup saat Zelo mendekatkan wajahnya sambil mengerucutkan bibirnya lucu.

"seperti Himchan hyung dan Yongguk hyung" kata Zelo masih sambil mengerucutkan bibirnya. Dia menegakkan tubuhnya lagi. "aku ingin tahu rasanya" katanya.

"ayo" katanya lagi pada Jongup. Apa itu? Dia menyuruh Jongup menciumnya?

"k-kita ini masih kecil, Zelo. Shirreo!" tolak Jongup.

"kita sudah enam belas tahun. Sudah boleh kan?" tanya Zelo. "ayolaah~" lanjutnya lagi dengan wajah imutnya.

"Shirreo!" kata Jongup.

"wae?" tanya Zelo. Dia kan ingin tahu rasanya. Sudahlah Jongup, lakukan saja. Kau tidak akan menyesal. Keh.. Keh.. Keh..

Jongup mengusir pikiran buruknya barusan. Dia menatap Zelo dan berkata, "Shirreo!", sekali lagi.

"Ck! Ya sudah lah. Aku minta pada pada Yongguk hyung saja" katanya seraya berdiri.

"E-eh? Apa? Jangan macam-macam ya!" kata Jongup. Dia menarik Zelo kembali duduk ditempatnya. Namun Zelo berdiri lagi.

"Aku bilang, jangan macam-macam!" kata Jongup, menarik lagi Zelo untuk lembali duduk. Zelo mungkin belum menjadi pacarnya. Tapi tetap saja dia tidak rela jika orang lain yang mencium Zelo. "baiklah, baiklah. Aku akan melakukannya" kata Jongup.

Zelo terlihat senang. "Jinjja?" tanyanya. Dia mendekatkan wajahnya pada Jongup dan bibirnya mengerucut lucu lagi.

"tapi tidak sekarang" kata Jongup. Zelo terlihat kecewa. "Umh, beri aku waktu" kata Jongup.

"sampai kapan?" tanya Zelo.

"Satu minggu" kata Jongup.

"Aish! Itu terlalu lama" kata Zelo tidak sabar. Sepertinya otak polosnya sudah terkontaminasi.

"L-Lima hari" tawar Jongup. Zelo memalingkan wajahnya. "tiga hari?", tanya Jongup. Zelo menatap tidak suka padanya.

Jongup berpikir dan menggigit bibirnya sebelum dia berbicara ragu-ragu dengan suara lirih. "satu hari?".

"Deal!" kata Zelo dengan wajah senang. "jangan bohong, ya?" tanyanya lagi. Dan Jongup mengangguk menhi'iya'kan. Mati sudah Jongup. Dia sudah berjanji.

Jonguppie, kau pasti tahu kan. Ada kalimat yang mengatakan 'jangan menjanjikan hal yang tidak bisa kau lakukan'? Haha..

.

.

Jam terakhir sekolah. Daehyun, Chanyeol dan Tao sedang duduk dikantin. Pasalnya, guru fisika yang seharus mengajar dikelas mereka tidak hadir. Jadilah anak-anak kelas 2B memilih untuk memanfaatkan jam kosong tersebut untuk bermain-main. Seperti mereka bertiga ini. Mereka memilih untuk mengobrol dikantin sambil menikmati orange juice dingin.

Daehyun terlihat memutar-mutar gantungan kunci pemberian Jinki sonsaengnin. Sejak tadi yang dia lakukan hanya memandangi gantungan kunci itu saja. Bahkan dia tidak menyentuh orange juice nya sama sekali.

"Kau kenapa?" tanya Chanyeol dengan suara bass nya. Daehyun menatap Chanyeol lewat sudut matanya. Lalu dia menggeleng.

"coba aku lihat" kata Chanyeol seraya merebut gantungan kunci itu dari tangan Daehyun. Chanyeol menatapi gantungan kunci itu lalu mengedikkan bahu. Dia mengembalikannya lagi pada Daehyun. "apa istimewanya?" tanyanya.

"Tentu saja istimewa" Tao merebutnya saat gantungan kunci itu hampir diterima Daehyun.

"lihat ini" Tao menunjukkan gantungan kunci itu pada Chanyeol. Dia menelusuri tepian gantungan kunci itu dengan jari telunjuknya. "ini bentuk setengah hati" "kata Tao menjelaskan.

"Gantungan kunci ini punya pasangan" kata Tao. "Daehyun sedang mencari pasangannya" goda Tao seraya mengembalikan gantungan kunci itu pada Daehyun.

Daehyun terdiam mendengarnya. Kedua temannya tidak tahu yang sebenarnya. Daehyun tidak mencarinya. Dia sudah menemukan pasangan dari gantungan kunci itu. Namun dia menjauhinya. Karena menurut Daehyun, si pasangan itu sudah punya pasangan yang lainnya. Jadi... Ya begitu lah..

Daehyun memandang kedua temannya yang sedang membicarakan dirinya dan gantungan kunci miliknya. Lalu dia beralih pada gantungan kunci itu.

"Kalian sih enak. Tao sudah punya Kris dan Daehyun sudah punya pasangan-meskipun tidak diketahui keberadaannya" kata Chanyeol. Dia meminum orange juice nya.

"Sedangkan aku, orang yang ku suka..." Chanyeol terlihat murung.

"Aku tahu, dia pasti bilang kalau dia tidak suka padamu kan?" kata Daehyun. Meskipun diam, tapi dia mendengarkan apa yang sedang Chanyeol katakan.

Daehyun dan Tao tertawa. "Ya, ya. Silahkan saja kalian tertawa" dengus Chanyeol. Dia sudah biasa menjadi bahan tertawaan kedua sahabatnya itu. Sebagi Happy Virus profesional, dia harus mau ditertawakan seperti itu.*WTH?

"Kau serius menyukai Byun Baekhyun? Dia kan galak sekali" kata Tao.

"benar. Kau lihat tidak matanya itu?" Daehyun menyipitkan matanya dan menatap tajam pada Tao dan Chanyeol bergantian. Menirukan cara Baekhyun saat menatapnya "sinis sekali" lanjutnya.

"Ya.. Tapi dia cantik" jawab Chanyeol sambil tersenyum. Daehyun dan Tao saling melirik. Mereka ikut tersenyum. Ini adalah pertama kalinya mereka melihat Chanyeol jatuh cinta. Lucu sekali tingkahnya. Kadang tersenyum-senyum sendiri, kadang dia tidak bersemangat.

Daehyun menghela nafasnya. Dia melirik Tao. Siapa sangka, temannya yang pendiam itu ternyata adalah kekasih Kris Wu si Pangeran sekolah. Daehyun bahkan tidak akan pernah tahu kalau saja tidak mendengar beritanya.

Lalu dia melirik Chanyeol. Meskipun dia ditolak Baekhyun, yang penting dia sudah menyatakan perasaannya. Berbeda dengan Daehyun.

Dia merasa menjadi yang paling bodoh diantara ketiganya. Dia tidak pernah menyatakan perasaannya pada Youngjae. Dan malah merelakan Youngjae untuk Sehun, meskipun dia tahu jika hatinya akan sakit.

"kau tidak minum? Untukku saja ya" kata Chanyeol seraya mengambil alih orange juice Daehyun dan meminumnya tanpa persetujuan. Tapi Daehyun membiarkannaya, dia memang sedang tidak ingin meminumnya.

TENG! TENG! TENG!

Suara bel tanda sekolah usai berbunyi. Tapi mereka masih asyik dengan kegiatan mereka. Daehyun dengan gantungan kuncinya dan Chanyeol dengan orange juice Daehyun. Kecuali Tao,

"aku pulang dulu ya. Aku sudah janjian dengan Kris" katanya seraya memakai ranselnya. Ya, dia harus segera pulang. Kalau tidak, dia bisa diserbu fans nya. Haha, gaya sekali dia sekarang.

Daehyun dan Chanyeol mengangguk. Lalu Tao segera berjalan keluar kantin.

"enak sekali jadi dia" gumam Chanyeol sambil menggigiti sedotan orange juice nya. "sudah punya pacar" lanjutnya.

"aku iri padanya" tambahnya.

"aku tidak" sahut Daehyun. Lalu mereka tertawa.

"haish, sudahlah. Aku mau pulang saja" kata Chanyeol sambil memakai tas nya. "kau tidak pulang?" tabyanya saat menyadari Daehyun tidak bangkit dari duduknya.

"oh? Kau ingin pulang bersamaku? Baiklah" Daehyun bangkit, memasukan gantungan kuncinya pada saku jaketnya lalu memakai ranselnya. Chanyeol mendengus mendengarnya. Dia bertanya seperti itu kan bukan karena ingin pulang bersama. Dia hanya tanya saja.

"Ayo" Daehyun menyodorkan lengannya untuk Chanyeol. Membuat Chanyeol mendengus lagi.

"apa-apaan itu?" tanyanya. "aku lebih tinggi darimu, bodoh" katanya seraya menjitak kepala Daehyun.

"ayo" kali ini Chanyeol yang menyodorkan lengannya dengan wajah sok pangeran. Giliran Daehyun yang menjitak kepala Chanyeol. "Oh? Berani sekali kau!" kata Chanyeol seraya memegangi kepalanya.

Lalu dia menepuk pipi Daehyun. Lalu Daehyun balik menepuk pipi Chanyeol dan begitu seterusnya. Mereka terus begitu sampai dua belas kali tepukan di pipi masing-masing(?).

"Haish! Sudah. Seperti orang gila saja" kata Daehyun.

"Ayo pulang" kata Chanyeol seraya menarik tas Daehyun sehingga Daehyun berjalan mundur. Tapi dia tertawa. Mereka berdua tertawa.

.

Youngjae tergesah-gesah menaiki tangga. Setelah bel berbinyi, dia adalah murid pertama yang keluar dari kelas. Dia harus bisa mencapai lantai atas sebelum terlambat.

Dia berbelok dan berlari menelusuri koridor penuh murid yang baru saja keluar kelas. Dia harus segera mencapai kelas Daehyun sebelum-

"Luhan hyung?" gumannya sambil mengerem kakinya. Dia melihat Luhan keluar dari kelas Daehyun dengan wajah ditekuk.

"Jae? Sedang apa kau disini?" tanya Luhan.

"aku mencari Daehyun hyung" jawabnya dengan nada sinis. "kau sendiri sedang apa disini?" tanya Youngjae tak kalah sinis.

"aku juga sedang mencari Daehyun" jawab Luhan santai.

"mana Daehyun hyung?" tanya Youngjae.

Luhan menghela nafas. "Dia tidak ada. Kelasnya kosong". Mereka saling menatap satu sama lain dan mereka sama-sama diam. Bergelut dengan pikiran masing-masing.

"baiklah. Aku pergi" kata Youngjae. Dia berbalik dan mulai berjalan meninggalkan Luhan, namun sedetik kemudian dia berlari cepat.

Luhan yang melihatnya ikut berlari tak kalah cepat. Sepertinya Youngjae memikirkan hal yang sama dengannya. Dia tidak akan membiarkan Youngjae menemukan Daehyun terlebih dulu.

Mereka berlari sepanjang koridor, kadang Youngjae memimpin kadang Luhan yang memimpin. Dan saat mereka bersampingan, mereka saling melempar tatapan sengit. Tidak ada yang mengalah.

Lalu mereka menuruni tangga. Kali ini Luhan yang didepan. Dan Youngjae hanya bisa pasrah dan terus berusaha saja agar Luhan tidak menemukan Daehyun duluan.

DRAP! DRAP! DRAP! DRAP!

Selesai dengan tangga, mereka terlihat kebingungan. Mereka celingukan didepan tangga. Sampai akhirnya mata Youngjae yang mendapatkan Daehyun lebih dulu. Daehyun sedang berjalan bersama temannya dikoridor.

Dia berlari mendahului Luhan. Tidak peduli sudah menabeak berapa orang. Yang penting dia harus bisa mendapatkan Daehyun duluan. Bahkan dia sampai melewati Sehun yang sedang menyapanya begitu saja.

"kenapa dia?" Sehun menatap Youngjae yang semakin menjauh. Lalu-

BRUK!

Seseorang menabraknya dan menindihnya. Dia hendak protes namun tidak jadi karena melihat siapa pelakunya.

Luhan.

Mereka saling tatap beberapa saat. Sehun bahkan sempat mencium wangi parfum Luhan sebelum namja cantik itu menyingkir dari atas tubuhnya dan pergi berlari. Wangi sekali.

Dia bangkit dari duduknya dan menatap punggung Luhan yang semakin jauh. Berpikir sejenak. Lalu dia berdiri dan ikut menyusul Youngjae dan Luhan.

.

"hahaha" Daehyun tertawa saat mendengar lelucon Chanyeol. Temannya itu memang paling pintar membuat orang tertawa.

DRAP! DRAP! DRAP! DRAP!

"HYUUUUNG! DAEHYUNNIE HYUUUUNG!"

"DAEHYUN!"

Daehyun yang merasa dipanggil pun menoleh pada sumber suara. Dan matanya membulat seketika saat melihat Youngjae dan Luhan yang tengah berlari dengan sangat cepat kearahnya.

"a-ada ap-"

BRUK!

BRUK!

Belum selesai bicara dua orang namja itu sudah terlebih dulu menabrak dan menindihnya. Dia bahkan belum sempat mencerna apa yang baru saja terjadi. Yang dia rasakan hanya rasa berat.

"Aku dulu yang menyentuhnya!"

"Tidak! Aku yang menyentuhnya!"

Chanyeol terkejut melihat Daehyun yang sedang dijadikan bahan rebutan itu. "wah, dia populer juga" gumamnya. Dia jongkok dan berteriak. "Bro! Aku duluan ya. Sepertinya kau sedang sibuk. Sampai jumpa!" kata Chanyeol sebelum melangkah pulang.

"Ti-Tidak! Chan-Chanyeol! Tteonajima! Jangan pergi!" Teriak Daehyun seraya mengulurkan tangannya sela-sela tubuh Youngjae dan Luhan. Namun Chanyeol malah tertawa sambil melambai padanya. Dia bisa lihat itu dari celah yang ada.

Youngjae dan Luhan bangkit dan menarik masing-masing tangan Daehyun-kanan dan kiri-hingga Daehyun bisa bangun dari posisinya.

"Luhan hyung! Lepaskan Daehyunnie hyung sekarang juga!" kata Youngjae seraya menarik Daehyun kearahnya.

"Shirreo! Kau yang lepaskan dia!" kata Luhan. Menarik Daehyun kearahnya.

"H-Hey! Ada apa ini?!" tanya Daehyun disela-sela pertarungan Youngjae dan Luhan.

"Dae~, ayo kita pulang" kata Luhan sambil menatap Daehyun.

"Andwae! Daehyunnie Hyung~ aku ingin bicara padamu" kata Youngjae seraya menarik Daehyun. Dia bisa lihat Daehyun tak berhenti menatapny. Yongjae teraenyum senang.

"Jangan dengarkan dia, Dae~. Ayolah, Umma mu sudah menungguku" kata Luhan. Menarik Daehyun.

Youngjae yang mendengarnya hanya bisa diam. Sedekat itukah Hubungan mereka? Tenaganya serasa habis karena mendengarnya. Akhirnya Luhan mendapatkan Daehyun dan langsung menyeretnya pulang. Meninggalkan Youngjae yang terdiam.

Sehun yang juga melihatnya ikut terdiam. Apalagi saat dia melihat Youngjae dan Daehyun saling menatap, meskipun Daehyun sedang diaeret oleh Luhan. Mereka berdua nampak sedih. Terlihat jelas dati bagaimana cara mereka memandang. Apa itu berarti Youngaje menyukai Daehyun?

"Jae.. Gwaenchanha?" tanyanya seraya menepuk bahu Youngjae.

Youngjae menunduk, tapi kepalanya mengangguk-angguk. Bukan berarti dia baik-baik saja. Dia mengangguk hanya untuk memberikan jawaban saja.

"eh?". Youngjae mengerutkan keningya saat melihat sesuatu yang ada dilantai koridor. Benda yang familiar dimatanya. Dia memungutnya dan dia termenung menatapnya.

"I-ini kan..." gumamnya. Lalu sebuah senyum penuh kemenangan terukir diwajahnya.

TBC.

Big Thank's:

wyda joyer, Ajib4ff, Navy Dilla, Nada Lim, Jang Taeyeoung, Kopi Luwak, dewi lololala, Kim Mika, Vicky98Amalia, Qhia503, awlia, RaeMii, 7D, Tania3423, Brigitta Bukan Brugittiw, ichizenkaze, enchris 727, 13ginger, maiqui-shaa, Deer Panda, hatakehanahungry, wolfsu, Sisca MinstaLove, BLUEFIRE0805, HNiken Y65, A Y P, Virnaulisam, Catch your Crayon, Jung Sungra, Me Moon JH, Imeelia, Oh Sehan, Swag Joker, Yui the devil, Sapphire girl, SonExotics Wu Fan, Baekki Chan, Kim Panda, sayyestoyaoi, Guest, Andini Taoris.

Review(lagi) Juseyo..