CHAPTER 10
.
TAP TAP TAP
Suara langkah kaki menggema di lorong sekolah yang masih sepi.
Benar-benar sepi karena masih pukul enam pagi. Tapi Jung Daehyun sudah datang untuk mencari benda miliknya yang menurutnya hilang.
Sebuah gantungan kunci pemberian Jinki sonsaengnim miliknya menghilang dan tidak bisa ditemukan didalam tas maupun dirumahnya. Dia tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan benda kecil itu.
Dia hanya berharap jika gantungan kunci itu bisa dia temukan disekolah. Semoga gantungan itu tertinggal disuatu tempat dan belum ada seorang pun yang melihatnya. Terutama, jangan sampai Youngjae yang melihatnya.
Daehyun baru saja dari kelasnya untuk mencari gantungan kunci itu. Namun dia tidak bisa menemukannya disana. Sekarang, dia sedang menuruni tangga untuk pergi ke kantin. Seingatnya, terakhir kali gantungan kunci itu bersamanya adalah pada saat jam terakhir yang kosong. Dia dan dua temannya, Chanyeol dan Tao duduk di sana. Dan kedua temannya itu juga meributkan masalah gantungan kunci itu.
Daehyun mendekati meja dimana dia dan dua temannya duduk kemarin. Mencarinya dibawah kolong meja, kursi, bahkan sampai berkeliling satu kantin dia lakukan. Namun tidak ada. Dan dia baru sadar jika kantin sudah dalam keadaan bersih. Dia berpikir sejenak sebelum memutuskan untuk bertanya pada petugas kantin.
"permisi, noona" katanya pada yeoja petugas kantin yang diketahui bernama Hyorin.
"ne? ada apa?" kata Hyorin. Dia menghentikan aktifitasnya menata makanan di etalase dan menatap Daehyun.
"apa kau melihat ada gantungan kunci tertinggal disini?" tanya Daehyun.
"Oh? Ne, aku lihat. Tunggu sebentar" kata yeoja cantik dan seksi itu sebelum pergi kedalam dapur kantin.
Rasa khawatir akan kehilangan gantungan kunci itu hilang dari hati Daehyun. Dia lega. Untung saja, Hyorin noona menemukannya. Setelah ini, dia akan menjaga gantungan kunci itu dengan baik agar tidak hilang lagi.
Tak lama kemudian, Hyorin kembali dengan sebuah box plastik berwarna merah berukuran sedang. Dia membuka tutupnya didepan Daehyun lalu menuangkan isinya keatas etalase makanan. Seketika itu, banyak gantungan kunci terpampang dihadapan Daehyun dengan berbagai jenis dan bentuk.
"Nah, yang mana milikmu?" tanya Hyorin noona. Dia kembali pada pekerjaannya menata makanan dietalase dan membiarkan Daehyun memilih gantungan kuncinya.
Di lain sisi, Daehyun menatap setumpuk gantungan kunci itu dengan tatapan tidak percaya dan mulut terbuka. Ternyata banyak juga yang kehilangan gantungan kunci disekolah ini. Atau mereka memang sengaja meninggalkannya. Ck! Dasar! Tidak menghargai barang!
Meskipun tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, tapi Daehyun tetap menggerakkan tangannya untuk mencari gantungan miliknya. Dia mulai memilah-milah gantungan-gantungan itu. Banyak sekali macamnya. Ada yang bentuknya lucu, ada yang bentuknya rumit, berwarna-warni, bahkan ada yang bentuknya tidak berbentuk(?).
Dia menghela nafas kecewa. Dari sekian banyak gantungan kunci yang diberikan, dia tidak bisa menemukan miliknya disana.
"bagaimana?" tanya Hyorin noona.
"tidak ada" kata Daehyun sambil tersenyum miris. Dia mengembalikan gantungan kunci yang banyak itu kedalam box lalu menutupnya.
"gamsahamnida. Maaf merepotkan" kata Daehyun sambil menunduk hormat sebelum pergi keluar kantin dengan kecewa.
Dia berjalan dengan langkah berat. Dia mulai mengingat-ingat. Saat jam terakhir, waktu dia dikantin bersama dua temannya. Gantungan itu masih ada.
"lalu setelah itu..." gumanya sambil mengingat-ingat. Setelah keluar dari kantin, dia berjalan bersama Chanyeol dan dia meletakkan gantungan kunci itu disaku jaketnya. Dan saat itu Daehyun juga masih menggenggamnya didalam saku jaket.
"lalu..." Daehyun kembali mengingat-ingat hal selanjutnya. Dan matanya membulat saat dia ingat bahwa kenarin dia diterjang oleh dua namja berwajah cantik hingga terjatuh. "OH!" pekiknya. Dia berlari menuju tempat dimana dia diterjang oleh Youngjae dan Luhan kemarin.
Dia mulai mencari disetiap jengkal lantai koridor. Bahkan dia juga memeriksa sampai ke rumput taman. Dia terus mencari. Memeriksa sampai berkali-kali ditempat yang sama. Sampai merangkak pun dia lakukan. Apapun yang penting dia harus menemukan benda kecil itu sekarang juga.
Daehyun menghela nafas sambil memegangi pinggangnya yang sakit. Dia lelah. Dia menyesal karena tidak menggantungkan benda berharga itu pada tasnya.
"sedang apa?"
Daehyun berjengit saat seseorang dibelakangnya menepuk bahunya. Daehyun menoleh dan mendapati Luhan ada disana dengan senyumannya yang menawan. "Sedang mencari sesuatu ya?" tanyanya.
Daehyun buru-buru bangkit dari posisinya dan berdiri menghadap Luhan. Dia menggeleng cepat, "a-ani, tidak mencari apa-apa" bohongnya. Dia tidak mungkin memberi tahu Luhan, apa yang sedang dia cari sekarang.
"Sedang apa kau disini?" tanya Daehyun.
Bukannya menjawab, Luhan malah tertawa. Ah, dia cantik sekali jika sedang tertawa. "sedang apa?" dia mengulangi pertanyaan Daehyun diselingi tawa.
"Jung Daehyun~ Kau ini lucu sekali" katanya sambil mencubit kedua pipi Daehyun. "tentu saja aku mau sekolah. Sama sepertimu" katanya sambil melepas cubitan dipipi Daehyun.
Daehyun menepuk keningnya. "jam berapa ini?" tanyanya.
"Jam tujuh" jawab Luhan santai. Sedangkan Daehyun, dia membulatkan matanya tidak percaya. Berarti dia sudah mencari gantungan kunci itu selama satu jam. Lama juga, yaa.
"kau ini sebenarnya sedang apa? Kenapa seragammu sampai kotor begini?" kata Luhan sambil menepuk-nepuk celana seragam bagian lutut Daehyun yang kotor
"sudah, biarkan saja" kata Daehyun. Dia menarik Luhan dari lututnya. "ayo, aku antar kau ke kelasmu" lanjutnya.
Dan dengan senyum senang, Luhan mengangguk dan menggandeng tangan Daehyun. Tumben sekali dia mau mengantar Luhan ke kelasnya.
.
"ini apa? Bukannya sudah diberi tahu untuk tidak memakai sepatu selain hitam?"
Youngjae menghela nafas. Untuk yang kesekian kalinya, dia harus menunggu Sehun yang terkena razia sepatu berwarna, oleh Kibum sonsaengnim.
"ayolah, sonsaengnim. Sepatu ini mahal sekali. Dirancang khusus-"
"aku tidak peduli! Sekarang serahkan sepatu hijau itu padaku" kata Kibum sonsaengnim sambil menunjuk sepatu yang Sehun pakai.
"Shirreo!" tolak Sehun. Dia menggandeng tangan Youngjae dan segera membawanya lari dari amukan Kibum sonsaengnim. Tidak mempedulikan teriakan Kibum yang sedang mengutuk dirinya.
Dan setelah lumayan jauh, mereka berhenti dan mulai berjalan normal. "Ck! Kenapa kau tidak pakai sepatu hitam saja sih?" tanya Youngjae. Lebih terdengar seperti sedang protes. Karena dia memang sudah bosan untuk menunggu Sehun yang harus ditahan digerbang karena tidak mematuhi aturan baru sekolah. Terlebih lagi jika Sehun selalu mengajaknya berlari menghindari guru. Itu perlu tenaga.
"Youngjae yang manis, sepatu hitam itu sudah kuno" kata Sehun. "lagi pula sepatu ini baru beli" lanjutnya.
"Aih! Kau ini" Youngjae menepuk lengan Sehun. "kalau kau terus begini, aku juga yang repot" katanya.
"sudah, ayo ke kelas" lanjutnya.
Mereka melanjutkan perjalanan mereka yang tertunda. Namun mereka serempak menghentikan langkah saat melihat dua orang namja yang baru saja melintas di depan mereka.
Daehyun dan Luhan yang sedang bergandengan tangan.
Sehun menatap Youngjae. Kemarin setelah Daehyun diseret pulang oleh Luhan, wajah Youngjae nampak sedih. Sehun khawatir jika Youngjae akan sedih lagi. "Jae?" panggilnya.
Youngjae menatap padanya. "ne?" jawabnya.
Sehun terdiam sesaat. Youngjae nampak baik-baik saja. Masa iya? Masa dia tidak merasa sedih atau cemburu, melihat Daehyun dan Luhan yang bergandengan tangan seperti itu?
"yah, kau mau bicara apa, hmm?" tanya Youngjae, menyadarkan Sehun dari pikirannya.
"ah? Ani" jawab Sehun. Dia memasang senyum tampannya, "ayo kita kekelas" mengangguk, lalu mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka.
.
"Oh! Kau sudah datang? Baiklah, aku akan mengambilnya sekarang"-PIP.
Chanyeol buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam saku almamaternya sebelum dia melesat lari keluar kelas.
Baru saja dia menelpon(dengan sembunyi-sembunyi) maidnya untuk membawakan tugas matematikanya yang tertinggal diatas meja belajarnya. Dan untung, maidnya sangat cekatan dalam bekerja. Sekarang saja dia sudah berada didepan sekolah Chanyeol. Chanyeol sedang menuju kesana untuk mengambil tugasnya.
Hari ini ada kelas Kibum sonsaengnim. Kalau sampai dia tidak membawa tugas itu, sudah bisa dipastikan dia akan berdiri diluar kelas sampai jam mengajar Kibum sonsaengnim selesai.
Chanyeol berbelok dan mulai menuruni tangga dengan cepat. Namun saat sudah tinggal lima anak tangga lagi, dia berhenti. Karena dia berpapasan dengan seorang Byun Baekhyun.
Mereka saling tatap sejenak sebelum saling memalingkan pandangan. Lalu mereka bergeser untuk memberi jalan, namun mereka malah bergeser kearah yang sama.
Mereka melakukannya lagi, bergeser ke arah yang sebaliknya dengan bersamaan. Dan mereka terus seperti itu hingga beberapa kali. Membuat mereka berdua sama-sama bingung.
Chanyeol menatap Baekhyun bertepatan dengan saat Baekhyun menatapnya. Lalu mereka memalingkan pandangan lagi. Mereka hendak bergeser lagi sebelum,
"bisakah kalian hentikan itu? Kami mau lewat!" kata seseorang di belakang Baekhyun. Membuat Baekhyun dan Chanyeol menepi ke dua arah yang berbeda agar dua orang namja itu bisa lewat ditengah-tengah mereka.
"Kurang kerjaan sekali" gumam salah satu dari mereka yang diketahui adalah Luhan, saat melewati keduanya.
Dan berbeda dengan Daehyun yang sedang bersama Luhan, dia memberikan senyuman yang seolah mengatakan 'Ciee~' pada Chanyeol.
Dan setelah dua orang pengganggu itu lewat. Chanyeol kembali menatap Baekhyun. "kalau begitu, aku lewat sini" katanya sambil menunjuk jalan kosong didepannya.
Tanpa jawaban dari Baekhyun, mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan mereka. Chanyeol sedikit merasa kecewa karena harus secepat itu berpisah dengan Baekhyun.
"Chanyeol-ah"
Chanyeol menghentikan langkahnya dengan sedikit terkejut. Itu suara Baekhyun. Dia berbalik dan nenatap Baekhyun yang menengok padanya dari atas tangga.
"ne?" jawab Chanyeol. Jujur saja dia sedang senang saat ini. Hanya saja dia berusaha tidak menunjukkan wajah sumringahnya.
"tali sepatumu belum diikat" kata Baekhyun sebelum dia kembali menaiki tangga.
Chanyeol terdiam. Dia sangat senang mendengarnya. Apakah Baekhyun memperhatikannya? Dan apakah tadi Chanyeol melihat senyuman di bibir Baekhyun? Aigoo~ Bukan main senangnya.
Chanyeol menunduk untuk mengikat tali sepatunya. Namun dia baru ingat kalau sepatunya tidak memiliki tali.
"YAH!" teriak Chanyeol. Dia baru sadar kalau dia baru saja dikerjai. "dasar" gumamnya, dan anehnya sambil tersenyum. Dia tidak kesal sama sekali. Dia segera berdiri untuk melanjutkan perjalanan mengambil tugasnya.
.
TAP. TAP. TAP.
Kibum sedang mondar mandir sambil memukul-mukul pelan penggaris kayu pada telapak tangannya. Matanya menatap pada tiga orang yang sedang berdiri didepan ruang guru. Tiga orang yang sudah terlambat datang ke sekolah.
"Kim Jongin" panggilnya saat dia berdiri didepan Jongin.
"Kim Jongdae" panggilnya pada Jongdae yang berdiri disamping Jongin.
"Kim Jonghyun!" panggilnya pada Jonghyun dengan nada yang ditinggikan dan menatap Jonghyun dengan tatapan tajam.
Kibum memijit keningnya. Kesabarannya hampir habis. Ini sudah yang kesekian kalinya ketiga bersaudara ini terlambat kesekolah.
Kalau Jongin dan Jongdae yang terlambat sih tidak masalah. Karena mereka adalah murid. Kibum bisa saja memberikan mereka hukuman untuk itu. Tapi kalau Jonghyun, dia adalah guru disekolah ini.
"kau ini!" kata Kibum seraya memukul kaki Jonghyun dengan penggaris kayunya. Membuat Jonghyun memegangi kakinya dan sedikit melompat kesakitan.
"guru macam apa yang terlambat datang kesekolah? Seharusnya kau bisa memberikan contoh yang baik pada murid-muridmu. Terlebih lagi adik-adikmu juga bersekolah disini" kata Kibum.
"betul itu" kata Jongdae dan Jongin bersamaan sambil mengangguk-angguk setuju. Namun segera mereka hentikan karena Kibum menatap tajam kearah mereka. Rasanya seperti ada laser yang keluar dari matanya. Sungguh membuat Jongdae dan Jongin bergidik.
"kalian juga sama saja!" kata Kibum. Dia kembali mondar-mandir didepan tiga bersaudara itu. Sedang memikirkan hukuman apa yang akan dia berikan untuk mereka sambil memukul-mukulkan penggaris kayunya ditelapak tangan.
"Sonsaengnim" Jongin mengangkat tangannya. Dia mulai berbicara saat Kibum menoleh padanya. "Biarkan aku kembali kekelas. Aku belum mengerjakan tugas untuk jam pertama" katanya.
"Apa? Kau- Astaga! Ya Ampun, tekanan darahku" Kibum memijit kedua pelipisnya. Sungguh tidak bisa dipercaya, Jongin mengatakan hal semacam itu didepan guru. "Tugas rumah, harusnya dikerjakan dirumah. Sudahlah, lagi pula kau tidak akan mengikuti pelajaran pertama" kata Kibum. Jongin memekik kecil. Terlihat sekali jika dia sedang senang.
"Siapa guru yang mengajar dikelasmu saat jam pertama?" tanya Kibum. "Aku akan memberitahukan jika kau akan mengikuti hukuman karena terlambat" lanjutnya.
"hehehe..." Jongin tertawa canggung. Tapi jarinya menunjuk kearah Kibum, "...anda. Sonsaengnim" lanjutnya dan diakhiri dengan cengiran dan menggaruk belakang kepala.
"Apa!?" pekik Kibum. "Kau keterlaluan! Dasar murid nakal!" Dia mulai memukuli kaki Jongin dengan penggaris kayunya. Dan sebelum penggaris itu sampai kebadan atau bahkan ke kepala Jongin, Jonghyun dan Jongdae berusaha menjauhkan Jongin dari Kibum.
"Kalian bertiga!" Kibum menunjuk mereka bergantian dengan penggarisnya. "Kalian harus berdiri didepan tiang bendera sampai jam istirahat!" kata Kibum. Dia sudah tidak tahan lagi. Biarkan saja mereka kepanasan. Biar mereka bertiga kapok dan tidak akan berani melanggar aturan lagi.
"Yeah! Sudah lama tidak berjemur" Jonghyun dan Jongin ber'high five'. "kulit kita akan semakin seksi".
"Apa? SHIRREO!" Jongdae merapatkan jaket yang dipakainya. "aku tidak mau hitam seperti mereka!" lanjutnya lagi.
"Sonsaengnim hukum saja mereka berdua, lagi pula kami bertiga terlambat itu semua gara-gara Jonghyun hyung yang mandinya lama" kata Jongdae. Dia mulai memakai ranselnya dan melenggang pergi. Namun sebelum jauh, Kibum sudah lebih dulu mengancanya.
"jangan macam-macam! Jalankan hukumanmu atau aku akan memotong nilaimu sebagai gantinya" katanya.
Jongdae menoleh dan memberikan senyumannya. "Potong saja. Aku tidak terlalu peduli, ahahahaha" katanya sebelum ia berlari kencang meninggalkan ketiganya.
.
Bel tanda jam pelajaran dimulai sudah berbunyi sejak lima belas menit yang lalu. Semua siswa sedang fokus belajar dan mendengarkan penjelasan dari guru mereka masing-masing. Tapi tidak untuk Zhang Yixing. Sejak tadi dia nampak tidak tenang.
Berkali-kali dia menengok ke bangku kosong yang terletak diseberang bangkunya. Itu adalah bangku milik Suho. Dia menghela nafas berat.
Hari ini Suho tidak masuk sekolah. Semalam Umma Suho menelponnya dan bilang kalau Suho demam tinggi. Dia harus istirahat untuk beberapa hari agar bisa kembali kesekolah. Ini adalah pertama kalinya, Suho tidak masuk sekolah.
Lagi-lagi dia kesepian. Biasanya Suho selalu sibuk dengan tugasnya sebagai ketua organisasi siswa sampai-sampai melupakan Lay. Tapi dia masih bisa melihat Suho yang mondar-mandir dikelas.
Tapi sekarang dia lebih kesepian lagi karena dia tidak bisa bertemu Suho. Ya, meskipun ada Xiumin sahabatnya. Tapi tetap saja dia tidak bersemangat kalau tidak ada Suho.
Lay jadi ingat sesuatu yang membuat Suho sampai sakit begitu. Dia harus membantu Suho untuk membuat para siswa tertib saat penilaian berlansung.
Tapi bagaimana? Dia tidak bisa memikirkan ini sendirian. Nanti bisa-bisa tumbuh jerawat diwajahnya karena memikirkan hal seberat itu.
Lay menoleh pada Xiumin yang duduk disampingnya. "Umh..Xiu" panggilnya. Dan yang dipanggil hanya bergumam saja, karena dia sedang sibuk dengan bukunya.
"ada..sekumpulan monyet liar" kata Lay.
"dimana?!" tanya Xiumin terkejut.
"aku sedang cerita" kata Lay dengan tampang -_-สน. Dan Xiumin langsung kecewa. Dia kira memang benar ada monyet liar disini.
"ada sekumpulan monyet liar" ulang Lay sambil bergesture seolah menunjukkan sebuah kelompok dengan tangannya. "mereka sangat liar. Sangat-sangat liar" tambahnya.
Xiumin mulai berhenti menulis. Dia menatap wajah sahabatanya sambil mencerna ucapannya barusan.
"sedangkan, dua bulan lagi mereka harus tampil di sirkus" Lay melanjutkan ceritanya. "Nah. Menurutmu, apa yang harus sang pelatih lakukan agar monyet-monyet liar itu mau menurut dan latihan?" katanya lagi.
Xiumin menatap langit-langit kelasnya, dia sedang berpikir. "Beri saja mereka pisang. Monyet kan suka pisang. Mereka pasti menurut" jawab salah satu murid yang duduk didepan mereka. Ternyata temannya itu juga ikut mendengarkan cerita Lay.
Xiumin dan Lay menatap namja bertag name Kim Sungkyu yang menjabat sebagai ketua kelas mereka. Setelah mengangguk meyakinkan pada Lay dan Xiumin, dia kembali menghadap depan lagi.
Merasa tidak puas dengan jawaban Sungkyu, Lay memanggil Sungkyu dengan mencolek punggungnya.
"ada apa lagi?" tanya Sungkyu dengan wajah datar.
"masalahnya, 'monyet' yang kuceritakan ini tidak benar-benar monyet" kata Lay. "apa ada saran lain, selain memberi pisang?"
"lalu 'monyet' yang kau ceritakan itu monyet apa?" tanya Sungkyu lagi. Lay terlihat berpikir untuk menjawab pertanyaan ketua kelasnya itu. Merasa Lay terlalu lama untuk menjawab pertanyaannya, Sungkyu memutuskan untuk kembali menghadap depan.
Lay menyandarkan punggungnya dan menghela nafas. "selain memberi mereka pisang. Apa lagi yang bisa membuat monyet-monyet itu menurut?" tanya Lay pada Xiumin.
Kali ini Xiumin berpikir sambil menatap pintu kelasnya. "Di sirkus tidak hanya ada monyet" jawab seseorang yang duduk dibelakang mereka. Kris Wu.
Lay dan Xiumin menatap Kris yang duduk dibelakang mereka. "Disirkus juga ada gajah, beruang. Singa juga. Tidak hanya monyet" kata Kris.
"dari pada melatih monyet-monyet liar. Lebih baik pakai hewan lain saja" katanya. Lay kembali tidak puas dengan jawaban yang diberikan. Dia hendak kembali bertanya, namun ada yang menyela-
"bagaimana kalau dikurung saja jika tidak menurut!" kata seseorang yang duduk diseberang bangku Kris.
"Bius saja mereka, lalu suntik mereka dengan ramuan ajaib yang bisa membuat mereka menurut"
"Ah! Atau dihipnotis saja" kata seseorang yang duduk dibangku paling belakang.
"Dicuci otak saja!"
"YAH! Kalian ini kejam sekali!" teriak Xiumin yang membuat dirinya ditegur oleh guru yang sedang mengajar. Sedangkan Lay hanya bisa mengalap keringat didahinya dan menghela nafas.
Mereka semua yang menjawab pertanyaannya sama sekali tidak tahu bahwa 'monyet-monyet liar' yang dia maksud itu adalah mereka sendiri. Murid-murid sekolah ini. Tidak mungkin dia melakukan semua itu pada murid-murid disekolah ini. Bisa dituntut dia nanti.
Tidak membantu!
.
BEEP BEEP BEEP BEEP
Jongin mengelap keringat didahinya. Ini masih lima belas menit dari total empat jam waktu hukuman mereka. Dia menatap pada Jongdae yang sedang duduk berteduh dilantai koridor sekolah sambil memainkan PSP kesayangannya.
Tadi Kibum sonsaengnim berhasil menangkapnya dan menyeretnya kembali ketempat semula. Dan mengancam tidak akan meluluskan Xiumin, kekasihnya dalam mata pelajarannya jika tidak mau dihukum.
"Haish! Sebenarnya apa yang kulakukan disini!" Jonghyun berteriak frustasi. Dia menatap Jongin yang nampak kaget dengan teriakannya. "Seharusnya aku sedang mengajar kelas Jino sekarang" katanya. Dia ingin menemui kekasih barunya yang adalah muridnya sendiri itu.
"Lagi pula aku ini kan guru. Mana ada guru yang dihukum oleh guru?!" katanya lagi. Wajahnya saat kesal nampak konyol dimata Jongin.
BEEP BEEP BEEP BEEP
"Bisakah kau kecilkan suaranya?! Itu mengganggu sekali!" kata Jonghyun kesal.
BEEP BEEP BEEP BEEP
Jongdae tidak menjawab dan terus memainkan PSPnya. "HAAH! Kenapa hari ini aku sial sekali!" rutuknya. Dia mengacak-acak rambutnya gemas.
"Hyung, kau terlihat seperti orang gila" kata Jongin. "sudahlah, dari pada berjemur disekolah. Lebih baik kita duduk saja." ajak Jongin. Dia melangkahkan kaki mendekati Jongdae dan ikut duduk disampingnya. Jongin meraih ponsel disaku celananya dan mulai sibuk sendiri.
"aku tidak mau. Aku mau mengajar saja" kata Jonghyun. Lalu dia mulai berjalan meninggalkan kedua adiknya yang tidak peduli padanya.
"Eh, Hyung. Kita ke kantin saja, yuk" ajak Jongin pada Jongdae.
BEEP BEEP BEEP BEEP
"haish! Terserah kau sajalah, Hyung" katanya sebelum dia meninggalkan Jongdae yang asyik sendiri disana.
BEEP BEEP BEEP BEEP
BEEP BEEP BEEP BEEP
.
.
Setelah bel istirahat berbunyi, Lay melesat keluar dari kelasnya. Dia pergi menuju ruang konseling. Dia ingin bertemu dengan Taemin sonsaengnim untuk meminta saran, kalau perlu sekalian minta bantuannya untuk mengatur siswa-siswa disekolah ini. Hehe..
Taemin memang punya ruang khusus, karena dia adalah guru konseling. Supaya para murid yang ingin bercerita tentang masalah pribadi mereka bisa nyaman dan terjaga privasinya. Seperti biasa, pintu ruang konseling tidak pernah ditutup. Lay mengintip ruangan Taemin. Disana terlihat Taemin yang sedang menulis dimejanya.
TOK TOK TOK
"Annyeonghaseyo" sapa Lay.
"Oh? Yi Xing. Masuklah" kata Taemin dengan senyum ramahnya. Lay masuk dan langsung duduk setelah dipersilahkan. "ada apa? Tumben sekali kau kemari. Ada masalah?" lanjut Taemin.
"ne. Aku ingin membicarakan sesuatu" kata Lay. Wajah Taemin nampak bersemangat mendengarnya. Tapi Lay yakin. Pasti saat Lay membicarakan masalahnya, Taemin pasti tidak akan se-semangat itu lagi.
"ceritakan" kata Taemin.
Dan tanpa ragu, Lay mulai bercerita. Dia bercerita mulai dari Suho jalan terhuyung dikoridor sampai jatuh pingsan. Dan Suho yang demam tinggi hingga tidak bisa sekolah untuk beberapa hari. Lay menceritakan alasan kenapa Suho sampai seperti itu. Dan tentang dia yang bertanya pada Xiumin tentang 'monyet liar' namun malah dijawab oleh Sungkyu, Kris, bahkan sampai teman sekelanya ikut memberi jawaban yang 'ekstrim'.
"...begitu kira-kira ceritanya" Lay menyudahi ceritanya. Dia menatap Taemin yang sedang melepas kaca mata dan mengelap dahinya yang berkeringat. Wajahnya pucat dan nampak shock. Apa tadi Lay bilang, Taemin sonsaengnim pasti tidak akan sesemangat itu mendengarnya.
"Baiklah..." Taemin membuka suara. Sungguh dia tidak tahu harus memberi komentar apa untuk cerita Lay.
"Taeminnie~"
Lay dan Taemin menoleh pada Taeyeon yang baru saja memasuki ruangan, dengan sebuah map merah ditangannya. "ini data siswa yang kau minta" katanya sambil menyerahkan map itu pada Taemin.
"Hey, ada apa dengan kalian? Apa aku datang disaat yang tidak tepat?" tanya Taeyeon setelah melihat wajah Lay dan Taemin.
"Tidak, tidak. Noona datang disaat yang tepat" kata Taemin segera menyeret Taeyeon untuk duduk dikursi disamping Lay.
Sepertinya mereka butuh bantuan Taeyeon untuk memikirkan masalah 'ekstrim' ini.
.
Jongin celingukan. Kantin sudah hampir penuh, Tapi dia sama sekali belum melihat Kyungsoo disana. Biasanya dia akan datang bersama kakaknya yang meyebalkan dan temannya yang cantik itu. Tapi kenapa dia tidak datang juga.
Dari pada menunggu sesuatu yang mungkin tidak akan menghampirinya. Jongin memutuskan untuk mencari Kyungsoo dikelasnya. Dia memakai ranselnya(sedari tadi dia masih belum kembali kekelas) dan berjalan keluar kantin.
Sebenarnya dia juga tidak tahu kenapa dia harus menunggu Kyungsoo. Acara makan sayuran hijau itu sudah berhenti sejak tiga hari yang lalu-atas permintaan Jongin sendiri. Dan setelah itu, dia jadi tidak pernah bertemu dengan Kyungsoo lagi. Dia tidak punya alasan untuk menemui Kyungsoo.
Tapi kalau tidak bertemu dengan Kyungsoo, dia merasa ada yang aneh dengan dirinya Apa dia merindukan Kyungsoo? Dua hal yang mungkin membuatnya rindu, mata Kyungsoo yang indah dan tentu saja bibir Kyungsoo yang seksi. Hahaha..
Ditengah perjalanan, Jongin berpapasan dengan Sehun dan Youngjae. Jongin masih bingung. Sehun dan Youngjae sangat dekat, tapi Sehun tidak pernah bilang pada Jongin kalau mereka berdua pacaran atau semacamnya. Sahabatnya itu tidak pernah terbuka tentang masalah percintaannya. Padahal Jongin sering sekali bercerita tentang masalah apapun pada Sehun.
Jongin mengangkat tangannya, hendak menyapa Sehun. Namun sepertinya Sehun tidak ingin disapa olehnya. Dia memang melihat kearah Jongin, namun dia malah mengejek Jongin dengan wajah yang jelek sekali dan malah merapat pada Youngjae.
"Berani sekali dia!" ucap Jongin kesal. Dia memutuskan untuk kembali berjalan menuju kelas Kyungsoo. Menaiki tangga dan kembali berjalan beberapa langkah sampai akhirnya dia benar-benar sampai.
Dia mengintip kedalam kelas Kyungsoo. "waah! Banyak namja manis disini" gumamnya. Dia tersenyum senang. Mungkin penghuni kelas ini memang memiliki wajah yang manis-manis. Kecuali Jongdae, tentunya.
"ah, itu dia" gumamnya lagi. Dia bisa lihat jika Kyungsoo sedang asyik mengobrol dengan temannya dibangkunya. Pantas dia tidak keluar kelas, dia sedang seru sendiri. Jongin tersenyum sebelum akhirnya melangkah masuk.
"Annyeong Kyungie Hyung~~" serunya. Membuat semua pasang mata yang ada dikelas menatap padanya.
"Jongin? Duduk sini" kata Kyungsoo sambil menepuk-nepuk bangku disampingnya. Dengan senyum senang, Jongin menurut. Dia langsung duduk disamping Kyungsoo. "Kenapa kau bawa ransel?" tanya Kyungsoo.
Ah, Jongin senang sekali jika Kyungsoo perhatian padanya. "oh, ini. Hehe, aku baru selesai dihukum. Aku terlambat lagi, Hyung" katanya.
"Aish, kau ini. Kenapa kau suka sekali terlambat, eoh?" tanya Kyungsoo. Jongin hanya tersenyum saja mendengarnya. Diperhatikan Kyungsoo adalah salah satu hal yang paling dia suka.
"Jongdae juga terlambat?" tanya Kyungsoo lagi. Jongin hanya mengangguk saja. Ih! Kenapa jadi menanyakan Jongdae? Kenapa tidak menanyakan tentang Jongin saja. Menyebalkan.
"Yah! Kau ini mengganggu saja" sela Baekhyun. Dia kesal, Jongin tiba-tiba datang dan langsung merebut perhatian Kyungsoo darinya.
"wae? Shirreo?" tanya Jongin jahil. "kau seharusnya bersyukur, ada namja tampan yang datang kesini" lanjutnya.
Baekhyun mendengus. Namja tampan apanya? "Sudahlah, aku pergi saja" kata Baekhyun seraya bangkit dari duduknya dan mulai berjalan keluar kelas.
Dia menggerutu. Kalau Kyungsoo direbut Jongin sedangkan Jongdae entah sedang berada dimana. Lalu dia harus sama siapa? Lebih baik dia kekantin dan pesan jus buah saja. Itu lebih bermanfaat untuk kulitnya.
Saat kakinya mencapai pintu kelas, dia melihat seseorang sedang berjalan kearahnya. Baekhyun segera mundur dan bersembunyi dibalik tembok kelasnya. Lalu sedetik kemudian, Park Chanyeol nampak lewat didepan kelasnya.
Baekhyun memegangi dada kirinya. Jantungnya berdegup tak karuan. Kejadian berpapasan ditangga dengan Chanyeol tadi pagi, terputar diingatannya. Baekhyun tahu ini salah. Jantungnya seharusnya tidak berdebar-debar saat melihat orang yang dia benci. Dia seharusnya merasakan sesuatu yang seolah ingin menonjok wajah Chanyeol.
"tidak. Tidak. Aku tidak mungkin menyukainya" kata Baekhyun sambil memegangi kepalanya dan menggeleng cepat.
Baekhyun mengintip keluar kelas, dia tidak mendapati Chanyeol disana. Dia kembali pada posisi sembunyinya dan menghela nafas lega. "Oi! Kau baik-baik saja, Baekkie?" teriak Kyungsoo dari bangkunya. Baekhyun tidak menjawab, dan malah pergi keluar kelas. Dia masih kesal dengan Jongin.
.
"Bagaimana kalau Suho pidato saja" usul Taeyeon.
Lay menggeleng, "Suho bilang, pidatonya tidak akan berhasil melawan murid-murid disini" katanya. Taemin dan Taeyeon merosot diatas meja untuk yang kesekian kalinya. Semua ide yang mereka usulkan sepertinya sia-sia saja.
"bagaimana kalau kita denda saja mereka yang melanggar aturan"
Semua orang diruangan itu tersentak kaget saat mendengar suara lain diruangan itu. Mereka menolah dan mendapati Minho sudah duduk diantara mereka.
"Hyung, apa yang kau lakukan disini?" tanya Taemin. Dia tidak menyadari kehadiran Minho disana.
Minho mengedikkan bahu. "untuk bertemu denganmu, mungkin?" katanya. "kalian sedang membicarakan sesuatu tentang penertiban siswa?" tanyanya.
Mereka bertiga mengangguk. "bagaimana kalau kita denda saja" Minho mengulangi idenya.
Mereka semua mendongak keatas...
"Kau terlambat lima menit, denda seribu Won" kata Taeyeon pada Jongin yang terlambat datang.
Jongin mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dan menyerahkannya pada Taeyeon, "ini. Seratus ribu Won. Untuk beberapa hari kedepan aku akan terlambat juga" katanya, dia memberikan wink nya pada Taeyeon.
"memakai sepatu berwarna hitam. Denda seribu Won" kata Minho pada Sehun.
Sehun mengeluarkan dompet bermerk terkenal miliknya dan menarik keluar sebuah kertas. Mengambil bolpoint yang entah kenapa ada disaku seragamnya. Menulis sesuatu diatas kertas itu sebelum menyerahkannya pada Minho.
Minho membaca tulisan dikertas itu. Ternyata kertas itu adalah sebuah kertas Cek. Dan Sehun mengisinya dengan nominal sepuluh juta Won. Minho sampai terbelalak membacanya.
"aku akan pakai sepatu selain warna hitam sampai aku lulus nanti, Sonsaengnim" kata Sehun. "Karena sepatu hitam itu kuno" lanjutnya.
"me-membawa benda elektronik kesekolah. Denda se-seribu Won" kata Taemin pada Bang Yongguk yang baru memasuki gerbang sekolah. Dan yang dia dapat hanya tatapan tajam yang dingin dan menusuk.
Mereka semua tersadar dari imajinasi mereka. "tidak akan berhasil" kata Taemin dengan tatapan kosong.
Tentu saja. Murid-murid mereka adalah orang kaya dan berani melawan. Walaupun tidak semuanya. Tapi tetap saja, denda bukan ide yang baik.
"tentu saja tidak akan berhasil" kata Kibum yang tiba-tiba sudah ada diantara mereka.
"sejak kapan kau ada disitu?" tanya Taeyeon.
"lumayan lama" jawab Kibum santai. "umh.. bagaimana kalau langsung kita skors saja mereka" kata Kibum menggebu-gebu.
"justru mereka akan semakin senang kalau hukumannya semacam itu" kata Taeyeon lemas. Yang lain juga ikut lemas.
"ini tidak akan berhasil"
.
Jongup berjalan dengan ragu-ragu. Padahal beberapa langkah lagi dia akan mencapai halaman belakang. "eotteohkke?" gumamnya. Hari ini dia tidak membawa papan seluncur. Lebih tepatnya dia lupa.
Permintaan Zelo itu sangat membebani pikirannya. Dan waktu yang diberikan hanya satu hari. Bahkan hari ini Jongup belum siap mental untuk mencium Zelo. Tapi kalau tidak dituruti, Jongup takut jika Zelo akan marah padanya, bahkan mungkin menjauhinya. Ayolah, kalian semua tahu jika Jongup menyukai Zelo. Mana bisa dia tahan berjauh-jauhan dengan Zelo.
Jongup mulai memasuki area halaman belakang, dan dia bisa lihat Zelo sudah duduk ditempat mereka biasa main skateboard. Pasti Zelo sudah menunggunya. Jongup menghela nafas.
"sudahlah. Kulakukan saja. Toh aku tidak rugi" gumamnya. Terdengar tidak peduli memang. Tapi sebenarnya dia sangat malu untuk melakukannya. Zelo menyadari kedatangan Jongup disana. Dia bangkit dari duduknya dan tersenyum senang.
"beberapa langkah lagi, Jongup" gumam Jongup kalut. Dan beberapa langkah kemudian, akhirnya Jongup sampai. Tepat dihadapan Zelo.
"Annyeong" sapa Jongup.
"Annyeong" jawab Zelo malu-malu. Ada apa dengannya? Berbeda sekali dengan yang kemarin., pikir Jongup. Jongup memasang wajah datar untuk menutupi kegugupannya.
"sudah lama menunggu?" tanya Jongup dengan tampang datar dan hanya dijawab gelengan malu-malu oleh Zelo. "aku tidak bawa skateboard. Aku lupa" kata Jongup masih dengan tampang datar. Dia berjalan untuk duduk ditempat dimana Zelo duduk sebelumnya.
Saat melewati Zelo, dia bisa mencium aroma wangi. Jangan bilang kalau Zelo memakai parfum hari ini? Dia menatapi Zelo yang masih berdiri "Kau juga tidak bawa, ya?" tanyanya. Ingat, Jongup sedang pura-pura bersikap dingin.
"ne" jawab Zelo singkat. Jongup menghela nafas dan bangkit dari duduknya.
"kalau begitu untuk apa kita disini? Lebih baik kita makan dikantin. Aku lapar" katanya seraya mulai melangkah.
"eh?", Zelo memegangi tangan Jongup. Membuat hati Jongup mencelos. Mati aku. Jongup berbalik dan menatap datar Zelo.
"apa?" tanyanya.
"u-umh, k-kau tidak lupa dengan janjimu kan?" kata Zelo dengan suara pelan, namun masih bisa didengar oleh Jongup. "aku tidak bisa tidur semalaman karena memikirkannya" lanjut Zelo.
Jongup mulai berkeringat dingin. Pasti Zelo bisa merasakan tangannya yang basah sekarang. Namun dengan wajah datar yang masih terpasang diwajahnya. Jongup menarik Zelo untuk duduk ditempat yang didudukinya tadi.
"baiklah, Zelo". Dia harus serius sekarang. "kau ingin aku menciumu kan?" tanya Jongup. Zelo mengangguk dengan pipi merona. "kau tidak boleh menyesalinya, ya?" kata Jongup.
"tidak akan" kata Zelo mantap dengan pipi yang masih merona.
Jongup menghela nafas. "pejamkan matamu" kata Jongup.
Zelo mengangguk dan segera menutup matanya. Jantungnya berdebar-debar. Sebenarnya semalam Zelo sudah browsing di internet dan mencari tahu semua hal tentang 'berciuman'. Dan hasilnya, dia malah tidak bisa tidur karena membaca semua artikel itu.
Jongup mulai menangkup wajah Zelo. Jujur saja, dia juga ingin mencium bibir pink Zelo itu. Tapi, dia sedikit ragu atau sebut saja dia takut untuk melakukannya. Entahlah. Mungkin kalau dia sudah setua Himchan hyung dan Yongguk hyung, dia akan dengan senang hati melakukannya. Bahkan mungkin juga dia akan menciumi Zelo setiap hari. Ha-ha-ha.
Oke!
Jongup mulai mendekatkan wajahnya pada Zelo. Bahkan dia sudah mengerucutkan bibirnya seperti ikan. Namun dia menghentikan kegiatannya dan menjauhkan wajahnya.
Aku tidak bisa! . Jongup mengepalkan tangannya dengan gemas.
Dia memejamkan matanya sejenak. Lalu mengambil nafas dalam-dalam. Dia menatap Zelo.
Baiklah! Aku akan melakukannya.
Dia kembali mendekatkan wajahnya lagi pada Zelo. Namun sedetik kemudian dia menjaukan wajahnya. Bahkan dia menjauhkan tubuhnya. Dia berdiri dan menjambak rambutnya frustasi.
Dia menatap Zelo lagi. Jongup menghela nafas. Oke, dia akan melakukannya sekarang. Jongup kembali duduk pada tempatnya. Dia menghela nafas agar tenang sebelum mendekatkan wajahnya pada wajah Zelo secara perlahan-lahan. Jongup tidak pernah membayangkan akan benar-benar melakukan ini.
Dia memandangi wajah Zelo dan tetap mendekatakan wajah mereka. Zelo memang manis sekali kalau dilihat dari jarak sedekat ini. Jongup bisa mencium wangi parfum yang Zelo pakai. Aduhaii wanginya~*tsah.
Mereka bisa merasakan saat hidung mereka saling bersentuhan. Ini artinya tidak lama lagi mereka akan-
"a-a-a-aduh!" Jongup mengaduh kesakitan saat merasakan telinganya sakit. Seperti ditarik seseorang. Pekikan Jongup membuat Zelo membuka matanya. Dan Zelo terkejut saat melihat adegan didepannya. Jongup yang sedang dijewer telinganya oleh Himchan.
"Apa yang kalian lakukan?!" tanya Himchan dengan wajah galak. Dia menjewer telinga Jongup seperti menjewer seseorang yang seolah ingin melukai anaknya. "berani-beraninya kau melakukan ini. Kau mau menciumnya? Apa yang kau pikirkan? Kalian masih kecil!" katanya. Lalu dia melepas jewerannya dari telinga Jongup.
Jongup memegangi telinganya yang sakit dan terasa berdenyut itu. Dia yakin sekali, pasti telinganya merah sekarang. Duh, Sakit! T.T
"Yah! Ahjumma, kenapa kau menjewer Jongup?! Kejam sekali" ucap Zelo. Dia mengusap-usap punggung Jongup.
Himchan menatap Zelo. "apa?! Kau juga sama saja! Kenapa kau tidak menjauh darinya?" tanya Himchan. "Kau ingin dia menciumu? Kalau sampai ketahuan oleh Suho atau Kibum seonsaengnim, bisa mati kalian. Siapa yang mengajari kalian berciuman disekolah, eoh?" lanjutnya. Himchan mengambil nafas banyak-banyak setelah berbicara panjang lebar. Dia tidak percaya dengan hal yang baru saja dilihatnya.
Dia menatapi kedua bocah yang sedang menatapinya. "Apa?" tanyanya sinis.
"Kau yang mengajarinya. Kau tidak ingat? Kemarin kau juga melakukannya bersama Bang Yongguk disana" kata Jongup sambil menunjuk pohon dimana terjadinya adegan french kiss antara Himchan dan Yongguk kemarin.
"Aish, sudahlah. Ayo kita pergi saja" ucap Jongup sambil menarik Zelo pergi. Meninggalkan Himchan yang mematung karena terkena skak mat! dari Jongup.
"haha" Jongup tertawa. Dia tersenyum puas, membuat Zelo bingung. "ada apa? Kenapa tersenyun seperti itu?" tanya Zelo.
"huh? Oh, tidak ada" kata Jongup. "hanya saja kau lihat wajah Himchan hyung tadi kan? Lucu sekali" katanya dan mulai kembali tertawa. Zelo pun menyetujui dan ikutan tertawa. Padahal dia tidak tahu jika Jongup sedang berbohong.
Dia tertawa, bukan karena Himchan. Tapi karena dia tidak jadi mencium Zelo. Untung saja Himchan datang dan memarahi mereka. Hhh~ Sepertinya Jongup harus berterima kasih pada Himchan. Dia menatap Zelo, "kau lapar tidak? Kita ke kantin, ne?".
.
Luhan sedang menopang dagunya diatas meja kantin. Bibirnya sedang tersenyum dan matanya menatap lekat pada namja yang sedang makan siang didepannya. Ya, siapa lagi kalau bukan Jung Daehyun. Sudah seminggu lebih dia selalu dan terus saja bersama dengan Jung Daehyun. Semakin diperhatikan, Daehyun memang semakin tampan saja.
Dia tahu, Daehyun terganggu dengan kedekatan mereka. Dia juga tahu jika Daehyun tidak menyukainya. Tapi Luhan tetap mendekatinya. Terkesan murahan memang, tapi Luhan suka seperti ini. Apalagi jika orang yang dia dekati adalah Daehyun.
"apa?"
Suara Daehyun dengan mulut penuh makanan itu menyadarkan lamunan Luhan. "tidak" kata Luhan sambil tersenyum. "Aigoo~ pelan-pelan saja makannya", Luhan menyodorkan minumannya pada Daehyun.
"tidak usah" kata Daehyun sambil mendorong kembali gelas minuman milik Luhan. Lalu dia minum dari gelasnya sendiri dan melanjutkan makan siangnya lagi. Luhan hanya bisa manyun menatapi gelasnya lalu dia meminumnya sedikit.
"kau sudah coba jaket yang kubelikan kemarin?" tanya Luhan. Mencoba membuka obrolan. Dia bosan. Sedari tadi, Daehyun tidak mengajaknya bicara apapun. Dia lebih menyukai makanannya ketimbang Luhan.
"aku tidak suka warnanya" jawab Daehyun datar. Dia kembali menyuapkan nasi kedalam mulutnya.
"tapi itu cocok untukmu. Aku yang memilihnya sendiri" kata Luhan.
"Makanya jangan sok tahu. Aku tidak suka warna putih" kata Daehyun.
Luhan diam. Kemarin dia belanja bersama Ibu Daehyun. Kata Ibunya, Daehyun suka warna putih. Makanya Luhan pilihkan yang berwarna putih.
"baiklah kalau begitu" ucap Luhan.
Daehyun berhenti mengunyah. Dia menatap Luhan yang wajahnya nampak sedih itu. Apa dia keterlaluan? Sebenarnya, Daehyun sangat suka warna putih. Hanya saja dia tidak suka kalau Luhan membelikan sesuatu untuknya.
"paling tidak ukurannya pas" kata Daehyun. "terima kasih, ya" lanjutnya.
Luhan tersenyum. Dan Daehyun lega. Meskipun menyebalkan, Luhan sangat baik dan perhatian padanya. Seharusnya dia bersikap sama baiknya dengan Luhan.
"Oh, iya. Apa nanti malam kau ada acara?" tanya Luhan.
"Ani. Wae?" tanya Daehyun.
"Bagaimana kalau nanti malam kita nonton film?" tanya Luhan.
.
Sehun melirik sebal pada pasangan yang duduk disamping mejanya. Daehyun dan Luhan. Selain sebal, dia juga khawatir dengan Youngjae yang sedang asyik dengan makan siangnya. Dia takut Youngjae jadi sedih lagi.
Sehun menatap Youngjae. Dia nampak baik-baik saja. Apa dia tidak dengar percakapan antara kedua namja itu? Heran. Apa mereka tidak tahu jika ada Youngjae didekat mereka?
"kita pindah meja saja" kata Sehun sambil menarik tangan Youngjae. Dia tidak tahan mendengar rencana kencan mereka nanti malam.
"hei! Aku sedang makan. Kau saja yang pindah, sana" ucap Youngjae. Dia tidak suka acara makannya diganggu.
Sehun hanya menghela nafas saja. "sudah. Jangan didengarkan" kata Youngjae.
"kau mendengarnya?" tanya Sehun.
"tentu saja. Dia mengeraskan suaranya" kata Youngjae. "tapi... Biarkan saja" kata Youngjae.
"ini, makan" Youngjae menyuapkan sesendok salad pada mulut Sehun.
"Rambutmu keren" kata Youngjae sambil menatapi rambut Sehun. "Saat SMP, rambutku juga blonde sepertimu. Mengikuti trend 'Warrior' saat itu" kata Youngjae lalu tertawa.
Sehun menatapi Youngjae. Dia merasa bodoh. Dia tahu jika Youngjae menyukai Daehyun, dia tidak rela jika Youngjae sedih karena Daehyun dan Luhan yang semakin hari semakin mesrah saja.
Menurutnya, Daehyun seharusnya berhenti berdekatan dengan Luhan dan mulai mendekati Youngjae. Meskipun dia tahu kalau dia juga tidak rela jika Youngjae tidak menjadi miliknya. Dia membohongi perasaannya sendiri. Atau membodohi perasaannya sendiri?
.
BRAK!
Chanyeol menatapi dua orang yang sedang duduk dibangku belakangnya dengan cengiran aneh yang tidak bisa diartikan.
Sepasang kekasih ini sedari tadi terus saja meributkan hal yang itu-itu saja. Membuat Chanyeol merasa bahwa hal itu lucu dan perlu untuk ditonton.
"dia bilang, dia adalah mantan kekasihmu" kata namja berparas tampan. Sebut saja dia Kris.
"lantas kenapa kalau dia adalah mantan kekasihku?" tanya namja berwajah manis, sahabat dari Park Chanyeol. Tao.
"kau bilang belum pernah pacaran dengan siapapun selain aku" kata Kris dengan wajah menuntut.
"memang benar. Kau memang pacar pertamaku" jawab Tao dengan santai. "Kau saja sudah berkali-kali pacaran. Tapi aku tidak pernah membahasnya" lanjutnya.
"I-Itu berbeda..." kata Kris dengan suara lirih. Dia menggaruk pelipisnya dengan jari telunjuknya. Lalu sedetik kemudian dia menggebrak meja lagi. "Tapi kau membohongiku" katanya.
"Bohong soal apa?" tanya Tao.
Nah, ini dia. Inilah awal mulanya mereka berdebat. Saat Kris menuduh Tao berbohong. Chanyeol sudah mendengar 'bohong soal apa?' kurang lebih sudah lima kali. Dia menepuk tangannya sekali sebelum meledak tertawa. Chanyeol tahu, apa yang akan Kris katakan selanjutnya.
"Soal gadis itu, Jia" kata Kris dan Chanyeol bersamaan. "Kau diam!" kata Kris sambil menunjuk Chanyeol.
Chanyeol memasang tanpang 'oke' sambil menutup mulutnya dengan tangan. Dia kembali menonton adegan drama kelas itu.
Menurut yang Chanyeol dengar, pertengkaran mereka terjadi karena seorang gadis yang kebetulah bertemu dengan Kris dan Tao yang sedang kencan kemarin. Saat Tao pergi ke toilet dan meninggalkan mereka berdua, mungkin gadis itu mengatakan sesuatu tentang Tao yang membuat Kris marah.
"aku bukan mantan pacarnya" kata Tao. "apa yang dia katakan padamu?" tanyanya.
"Dia bilang, kalian sudah bersama sejak kecil. Kalian juga pernah tidur bersama. Dia juga bilang kalau dia pernah melihat ABSmu" kata Kris dan meninggikan suaranya dikalimat terakhir.
"aku bahkan belum pernah melihat ABSmu!" Kata kris lagi. "Sini! Perlihatkan padaku!" lanjut Kris sambil mendekatkan tangannya pada perut Tao dengan wajah kesal. Membuat Chanyeol membulatkan matanya senang. Namun dia kecewa saat Tao menajuhkan tangan Kris.
"tentu saja kami bersama sejak kecil. Kami tidur bersama hanya kalau kami sedang berlibur dirumah nenek karena rumah nenek hanya memiliki tiga kamar. Dan dia pernah lihat ABSku karena kami sering berenang bersama" kata Tao.
Kris memukul meja lagi lalu menunjuk Tao. "Nah! Akhirnya kau mengaku juga! Kau-"
"itu karena dia sepupuku" kata Tao. Dia menyela kalimat Kris sebelum dia bicara yang aneh-aneh.
Chanyeol yang mendengar itu pun meledak tertawa. "konyol sekali. Hahahahahaha!" katanya disela-sela tertawa.
"a-apa?" Kris terdiam. Dia menggaruk pelipisnya lagi. "Ta-Tapi dia bilang...", Kris kebingungan.
BRAK!
Kris menggebrak meja lagi. "Ah! Molla!", katanya. Dia memasukan sebuah penghapus karet yang ada dimeja Tao kedalam mulut Chanyeol yang sedang tertawa lebar itu agar diam. Lalu dia keluar dari kelas Tao dengan wajah tidak berdosa.
"YAH!" teriak Chanyeol setelah mengelurakan penghapus dari mulutnya. "Seenaknya saja memasukan benda kemulut orang!" kata Chanyeol kesal. Dia mengusap mulutnya berkali-kali. Dan sekarang giliran Tao yang tertawa.
"apa?!" tanya Chanyeol pada Tao. Dan Tao cuma menggeleng saja. Sial!
.
Sehun dan Youngjae sedang berjalan keluar kantin. Saat hampir keluar area kantin, mereka berdua berpapasan dengan Daehyun dan Luhan. Mereka berempat sama-sama menghentikan langkah.
Sehun menatap pada Daehyun dan Luhan bergantian. Daehyun nampak menatapi Youngjae. Lalu dia beralih pada Youngjae yang juga sedang menatapi Daehyun.
Dia beralih pada Luhan. Luhan nampak meraih lengan Daehyun dan memeluknya. "ayo pergi" katanya sebelum menyeret Daehyun keluar kantin.
Sehun menatap Youngjae. Dia nampak mematung. Sehun meraih tangan Youngjae untuk digandeng namun Youngjae melepasnya.
Youngjae menatap Sehun sambil tersenyum. Apa dia tidak cemburu melihatnya?
"kau masih menyukainya kan?" tanya Youngjae. Sehun mengerutkan dahinya. Senyuman Youngjae itu nampak mengerikan sekarang.
"apa maksudmu?"
"akan kubuat dia kembali padamu"
.
TBC.
Hehe..
Annyeong*dadahdadah tanpa dosa.
*dikeroyok
Maaf ya Update lamaaaaaaaa banget.
Aku lagi sibuk sayaang~*nyanyi bareng Wali. Hehe..
Sekali lagi maafkan saya*bow.
Big Thank's To:
yongchan. ajib4ff. Brigitta Bukan Brigittiw. Jang Taeyoung. Qhia503. Vicky89Amalia. Ichizenkaze. Kim Panda. Kim Mika. BLUEFIRE0805. Imeelia. Kopi Luwak. Nada Lim. enchris.727. banghimdaisuki. riraly. Wyda Joyer. OhSooYeol. Raemi. Swag Joker. 7D. Navy Dilla. Reza C Warni W. Sisca Minstalove. gingerbread124. byunri-chan. Leader Kwon. Sweety Yeollie. Udel Myungsoo. Andini Taoris. rachel suliss. Me Moon JH. matokeke. awlia. Happy Do Bi. Mrs. EvilGameGyu. Chenma. alysasparkyuelfshawol. Park Dobi maknae bbuing bbuing. Almighty Vict. matokinite 76. Sapphire girl. Cyber Ayumu-chan.
Review(lagi) Juseyo.
