CHAPTER 11

.

Youngjae sedang berdiri didepan sekolah. Wajahnya nampak bersemangat hari ini. Senyum tak pernah luput dari bibirnya.

Setelah tas nya diperiksa, dia tidak segera masuk ke dalam sekolah dan memilih untuk berdiri di luar. Menunggu seseorang.

Seseorang yang spesial..(menurutnya).

"Annyeong... Menungguku ya?"

Youngjae menoleh pada sumber suara. "Tidak" jawab Youngjae singkat pada Sehun yang baru saja menghampirinya, lalu kembali menatap lurus kedepan. "aku sedang menunggu orang yang lain" lanjutnya.

Sehun tersenyum miris. Sepertinya dia tahu, siapa orang yang sedang Youngjae tunggu. "Kenapa kau tidak mau berangkat bersamaku tadi?" tanya Sehun. Mencoba mengalihkan pembicaraan.

"hanya ingin saja" jawab Youngjae. "aku harus datang lebih dulu sebelum mereka" kata Youngjae sambil menatap dua orang namja yang sedang diperiksa isi tasnya oleh Taeyeon sonsaengnim.

Sehun ikut menatap kepada arah pandangan Youngjae. Dan benar apa dugaannya. Youngjae sedang menunggu Jung Daehyun. Sehun merasa kalah dari Jung Daehyun.

Sekeras apapun dia mendekati Youngjae. Itu akan sia-sia. Karena dihati Youngjae hanya ada Jung Daehyun. Dia sudah menyadari hal itu sejak lama. Dia menghela nafas.

"Selamat pagi" sapa Youngjae dengan senyum manisnya saat Luhan dan Daehyun mendekati mereka.

"sedang apa kau?" tanya Luhan. Dia memeluk lengan Daehyun posesif. Kalau Youngjae sudah memasang senyum mengerikan seperti itu, berarti ada sesuatu yang akan terjadi.

Ingat, dia adalah teman dekat Youngjae sejak lama. Dia tahu betul arti senyuman mengerikan berkedok manis itu.

"aku sedang menunggu Daehyunnie hyung~" kata Youngjae seraya tersenyum pada Daehyun.

"A-aku?" tanya Daehyun tidak percaya. Dia menunjuk dirinya sendiri dengan wajah menahan senyuman.

Youngjae mengangguk sambil tersenyum manis. "aku ingin memberikan sesuatu padamu" katanya pada Daehyun.

"kalau begitu cepat berikan, kita sedang buru-buru" kata Luhan sambil mengeratkan pegangannya pada lengan Daehyun. Dia menatap kesal pada Youngjae yang masih memasang senyum manis menyebalkannya.

Youngjae melangkah mendekati Daehyun. Dia meraih satu tangan Daehyun dan menggenggamnya. Lalu...

CHU~

Luhan dan Sehun terbelalak melihatnya. Bahkan beberapa siswa yang melewati mereka menghentikan langkah kaki mereka untuk ikut melihat adegan Youngjae mencium Daehyun.

Sehun mematung. Dia mengepalkan tangannya. Apa yang Youngjae lakukan? Dia tidak bisa melihat ini lebih lama lagi. Itu membuat dadanya sesak. Sehun mundur perlahan. Dan setelah itu dia berlari menjauh dari sana.

Back to DaeJae,

Ini seperti mimpi untuk Daehyun. Dia terkejut, namun tidak bisa dipungkiri jika dia menyukai apa yang Youngjae lakukan.

Youngjae melepaskan ciumannya lalu menatap Daehyun. "morning kiss" katanya. "kita bertukar hadiah, ne?" katanya sambil tersenyum manis sebelum dia berlari masuk kesekolah.

Daehyun mengerutkan keningnya tidak mengerti. Dia hendak bertanya 'apa maksudmu?'. Namun Youngjae sudah keburu jauh berlari.

Daehyun menatap kepergian Youngjae dengan wajah bahagia. Dia hendak menyentuh bibirnya, namun dia merasa menggenggam sebuah benda ditangannya.

Dia menatap tangannya sendiri dan membulatkan matanya saat dia mendapati gantungan kunci berbentuk setengah hati dengan tulisan 'Jae' ada ditangannya.

Jangan bilang kalau Youngjae yang menyimpan gantungan kunci miliknya sejak kemarin.

Daehyun tertawa kecil. Daehyun ingat, dia hampir putus asa karena gantungan kunci itu tidak bisa dia temukan di tas maupun kamarnya. Ternyata ada pada Youngjae.

Dia menghela nafas. Kalau mereka bertukar gantungan kunci, apa itu berarti Youngjae sudah tahu perasaannya? Dia tersenyum.

Daehyun menoleh pada Luhan. Namun dia tidak ada disana. Luhan tidak ada disampingnya. "kemana dia?" gumamnya. Dia mengedikkan bahu dan melangkah masuk kesekolah dengan wajah cerah dan sekali lagi...bahagia.

.

Suho baru saja datang. Dia masih dalam keadaan sakit, tapi dia harus masuk sekolah. Dia tidak tahan berlama-lama berada dirumah. Dia terus kepikiran dengan ucapan Gyojangnim untuk membuat semua muridnya menjadi 'jinak'.

"Jangan pedulikan mereka, Suho" gumamnya pada dirinya sendiri saat melewati gerombolan siswa yang sedang menonton adegan ciuman dipagi hari. Dia bisa lihat itu, dan kepalanya menjadi semakin terasa pusing karenanya.

"Oh, Astaga..." gumamnya lagi saat melewati koridor lantai bawah. Terjadi perang bola kertas antar anak kelas satu, dan Suho lewat ditengah-tengah mereka. Suho tahu mereka hanya main-main. Tapi tetap saja itu membuat banyak timbunan kertas mengotori lantai koridor. Dan mereka juga membuang-buang kertas.

"bisakah kalian hentikan itu?" ucap Suho pada anak-anak itu dengan nada lemas karena dia masih sakit. Namun ternyata tidak digubris oleh mereka. Dan mereka terus saja berteriak dan semakin melempar banyak kertas-Hey! Kalian dapat dari mana kertas-kertas itu?!

Suho hanya menghela nafas dan memilih melanjutkan perjalanannya. Dia menutup kepalanya dengan topi hodie hitamnya. Baru saja tidak masuk satu hari dan sekolahnya jadi semakin tidak tertib seperti ini.

"Ya Tuhan..." keluhnya.

.

"Yah! Tunggu!"

Luhan berlari kecil mengikuti langkah panjang kaki Sehun. Luhan lihat, Sehun tadi pergi saat Youngjae mencium Daehyun. Luhan tau, Sehun sedang tidak baik-baik saja sekarang. Oleh karena itu dia mengejarnya.

"Yah! Sehun-ah. Tunggu aku!"

Namun sejak tadi Sehun tidak juga menghentikan langkahnya, meskipun Luhan sudah berteriak-teriak memanggilnya. Dia terus saja menaiki tangga. Hey! Bukannya kelas Sehun ada dibawah? Kenapa dia menaiki tangga menuju atap?

"Sehun-AWW!"

Luhan salah menginjak tangga. Dan hasilnya kakinya terkilir. Dia duduk dianak tangga. Dia tidak bisa jalan lagi. Kakinya sakit sekali.

"hhh~ Kau ini menyusahkan saja"

Luhan menoleh pada orang yang ikut duduk disampingnya. Dan dia tidak percaya jika itu Sehun. "kenapa kau kembali lagi? Bukannya kau tadi tidak mempedulikanku?" sindir Luhan.

"Mana tega aku meninggalkanmu dengan kaki terkilir seperti itu" kata Sehun. "coba aku lihat" lanjutnya seraya meraih satu kaki Luhan yang sedari tadi terus dipijit oleh Luhan.

"Gwaenchanha. Gwaenchana. Hanya terkilir biasaAAAAAAAAA!"

Luhan menjerit saat Sehun memijit pergelangan kakinya. "YAH! Appo!" katanya. Dia menatap pada Sehun yang sedang menatapnya dengan tatapan 'Shut Up!'. "hehe, baiklah. Aku diam" katanya sambil menutup mulutnya dengan tangan.

Luhan mencuri pandang pada wajah Sehun yang sedang serius memijit kakinya. "Kau pasti sedih melihat mereka".

Kata-kata Luhan membuat Sehun menghentikan pergerakan tangannya. Dia diam. Membuat Luhan jadi merasa bersalah. "mianhae" lirih Luhan.

Dia tahu, Sehun menyukai Youngjae. Pasti saat ini Sehun sedang sedih karena melihat pemandangan tadi. Dasar Youngjae Bbabo!

Tangan Sehun mulai bergerak lagi memijat kaki Luhan. "tidak" jawab Sehun.

"kau tidak sedih?" tanya Luhan hati-hati. Dia tidak ingin salah bicara. "benarkah?" gumamnya pada diri sendiri.

"aku tidak sedih. Aku tahu, sejak awal Youngjae tidak memiliki perasaan apapun padaku" jawab Sehun sambil terus memijat lembut kaki Luhan. Dia tersenyum. "aku hanya teman baginya" lanjutnya.

Luhan menatap wajah Sehun yang sedang bicara. Sehun berbicara seolah dia ikhlas menerima semuanya. Luhan tidak menyangka, namja yang selama ini dia kira manja adalah namja yang sebenarnya berhati besar*tsah!

"kau sendiri, tidak sedih melihatnya? Aku lihat kemarin, kau dan Youngjae saling merebutkan Jung Daehyun" kata Sehun, masih fokus dengan kaki Luhan. "beruntung sekali dia" gumamnya. Tapi Luhan bisa mendengarnya.

Luhan menghela nafas. "aku juga tidak sedih" katanya. Dia menatap Sehun. "sudah. Kakiku sudah tidak sakit. Gomawo" katanya sambil menyingkirkan kakinya dari tangan Sehun.

"Ayo kita kembali. Sebentar lagi, pelajaran akan segera dimulai" kata Luhan. Dia bangkit dari duduknya untuk turun kekelasnya.

"aku masih ingin disini. Kau pergilah" kata Sehun.

"kau yakin?" tanya Luhan. Dia menatap curiga pada Sehun, "Kau tidak ingin bunuh diri kan?" tanya Luhan lagi.

Sehun tertawa kecil sebelum dia kembali menaiki tangga. Luhan menatapi punggung Sehun sampai dia benar-benar menghilang. Kemudian dia pergi kekelasnya sambil berharap kalau Sehun tidak berniat bunuh diri.

.

"GYAAAAA!"

Beberapa murid kelas 3A yang sudah datang, ikut bersembunyi dibalik punggung Kris Wu yang bertubuh tinggi.

Ini semua karena Xiumin yang berteriak ketakutan dan dengan seenaknya, dia bersembunyi dibalik punggung Kris lebih dulu.

Dia takut pada seseorang berwajah pucat bermata merah dengan kantung mata hitam dan berhoodie hitam yang barus saja masuk dikelasnya. Yang dengan seenaknya langsung mengambil duduk dikursi Suho.

"kalian ini apa-apaan?" tanya Kris malas pada semua teman-teman yang ada dibelakangnya itu.

"Kris, apa kau tidak takut padanya?" kata Xiumin sambil menunjuk namja dihadapan mereka itu. "Menyeramkan!" katanya lagi sambil memeluk erat pinggang Kris dan menyembunyikan wajahnya dipunggung Kris.

"Yah! Jangan seperti itu!" Ucap Kris risih sambil berusaha melepas pelukan Xiumin pada pinggangnya.

"X-XiuBaby?"

Semua pasang mata dikelas termasuk namja bertudung hitam itu menoleh pada suara yang berasal dari pintu kelas.

Dia sana ada Jongdae yang sedang menatap tidak percaya pada kekasihnya yang sedang memeluk namja lain.

"C-Chenchen?". Xiumin buru-buru melepas pelukannya pada Kris. Dia berjalan cepat untuk menghampiri Jongdae yang sudah berlari pergi.

Saat melewati namja berhoodie hitam itu Xiumin melangkah dengan hati-hati dan takut. "permisi" katanya sebelum melesat lari.

"CHENCHEN!"

Seisi kelas bisa mendengar suara teriakan Xiumin diluar sana. Dan wajah mereka nampak malas mendengarnya.

"Kalian cepat menyingkir dari sana" ucap Kris pada siswa yang masih berdiri dibalik punggungnya. Dan berrtepatan dengan itu, Lay datang.

"Wah, ada apa ini?" tanyanya sambil menatap murid-murid dibelakang Kris. Matanya beralih pada namja dengan hoodie hitam itu. "Oh?! S-Suho Hyung?" katanya dengan nada terkejut.

Dia menghampiri namja itu yang ternyata adalah Suho. Lay mengambil duduk dikursi didepan Suho.

"Yixing" kata Suho sambil tersenyum lemah. Dan setelah mendengar suara Suho memanggil nama Lay, seluruh siswa yang bersembunyi dibalik punggung Kris terdengar kecewa. Mereka langsung kembali ketempat masing-masing saat tahu jika namja yang mereka takuti itu adalah Suho.

Lay kembali menatap Suho. Dia membuka topi Hoodie Suho lalu menyentuh dahinya. Badan Suho masih panas. "Kenapa kau sekolah? Kau kan belum sembuh, Hyung" kata Lay. Lay tidak tega. Suho nampak pucat dan lemah sekali.

"Yixing" kata Suho lagi. Dia meraih tangan Lay didahinya dan menempelkannya pada pipinya. Suho memejamkan matanya, merasakan tangan Lay yang terasa dingin di pipinya.

Dia memakai tangan Lay dipipinya sebagai bantalan kepalanya yang tiduran diatas meja. Dia menyamankan kepalanya diatas tangan Lay. "Yixing~".

"N-ne?" jawab Lay gugup. Ada apa ini? Kenapa Suho jadi manja begitu? Lay merasakan wajahnya memanas karena sikap Suho.

"Yixing~"

"ne? Apa?" tanya Lay.

"Yixing~"

"Yixing~"

Lay terkikik geli. Dia menepuk pelan kepala Suho dengan tangan yang lain. "ada apa? Jangan memanggilku seperti itu terus. Menggelikan" katanya. Namun Suho malah semakin memanggil-manggil nama 'Yixing' berkali-kali dengan manjanya.

.

"Chenchen, tunggu!"

Xiumin terus mengejar Jongdae yang berjalan dengan langkah lebar didepannya. Dia harus berlari untuk mengejarnya. "Chenchen! Yah! Tunggu!"

Namun Jongdae tidak juga menghentikan langkahnya. "Yah! Kim Jongdae! Berhenti disitu!".

Jongdae menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan menatap datar pada Xiumin. "apa?" tanyanya datar.

Xiumin mendekat sambil menggaruk tengkuknya. Dia bingung. Sebenarnya dia mau menjelaskan kesalah pahaman yang Jongdae melihat sikap dingin Jongdae sekarang dia jadi takut.

"yang kau lihat tadi..." Xiumin menatap takut pada Jongdae. "...itu..." dia melanjutkan kalimatnya. "jangan tatap aku seperti itu!" katanya. Dia tidak tahan melihat tatapan menusuk Jongdae.

Jongdae mendengus. "baik" katanya. Lalu dia berbalik dan kembali berjalan.

Sebelum jauh, Xiumin sudah lebih dulu menghadang langkah Jongdae, dengan berhenti didepannya dan merentangkan kedua tangan. "yang kau lihat tadi tidak seperti apa yang kau pikirkan" ucapnya cepat.

"lalu, apa yang aku lihat tadi?" tanya Jongdae.

"tadi aku hanya, blablablablablabla" Xiumin menceritakan apa yang terjadi dengan lengkap dan cepat. Dia tidak ingin Jongdae salah paham. "...jadi begitu" dia mengakhiri ceritanya tanpa menatap Jongdae. Dia takut. "kau jangan salah paham".

"oh. Baiklah" kata Jongdae datar. Dia menggeser tubuh Xiumin yang menghalangi jalannya, lalu dia mulai berjalan kembali kekelas dan meninggalkan Xiumin seorang diri dikoridor.

"Jongdae" gumam Xiumin seraya berlutut lalu menunduk. Xiumin memegangi dada kirinya. "kau tidak percaya padaku? Hiks.. Hiks.." ucapnya dengan gaya yang mendramatisir.

Sampai-sampai Minho sonsaengnim yang melewatinya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah absurd muridnya yang satu itu.

.

Chanyeol memandangi kedua temannya yang duduk dibelakangnya itu dengan wajah heran.

Daehyun. Sejak masuk kelas, dia tidak berhenti tersenyum. Dan dia juga tidak berhenti menyentuh bibirnya.

Dan saat ini Daehyun sedang tersenyum sambil menatap buku catatan yang kosong sambil menopang dagunya, masih sambil menyentuh bibirnya dengan jari tangannya. Padahal mereka sedang disuruh mencatat oleh sonsaengnim.

Wajah Daehyun nampak bahagia dan cerah. Seperti ada sinar yang mengelilinginya. Astaga, aura kebahagiaannya terasa sekali. Chanyeol sampai hampir muntah melihatnya.

Sedangkan Tao. Wajahnya terlihat kesal sejak dia masuk kelas. Sama hal nya dengan Daehyun. Tao sedang menopang dagu, tapi dia sedang menatap keluar jendela. Mungkin dia sedang kesal pada Kris, mengingat kemarin mereka beradu mulut.

"kalian kenapa?" tanya Chanyeol. Dia merasa dilupakan oleh keduanya, dia jadi kesal juga.

Tao dan Daehyun meliriknya bersamaan. "tidak kenapa-kenapa" jawab keduanya bersamaan. Daehyun dengan nada bahagia yang memuakkan dan Tao dengan nada kesal.

Chanyeol menghela nafas. Kedua temannya ini memang sama-sama pendiamnya. Pendiam dalam hal mencurahkan isi hati mereka. Mereka pandai memendamnya. Tidak seperti dirinya yang ceplas-ceplos dalam bicara.

"yah, Daehyun. Kau kenapa?" tanya Chanyeol sambil mencolek lengan Daehyun.

Daehyun menatap Chanyeol dengan senyum yang sama. "kau ini, mau tahu saja urusan orang" katanya dengan wajah yang sumringah.

Chanyeol mencibir Daehyun. Dia beralih pada Tao. "yah, Tao. Kau kenapa?". Dia juga mencolek lengan Tao. Namun, Tao tidak menjawab. Dia malah menelungkup diatas meja.

Chanyeol mendengus tidak percaya "dasar! Aku kan teman kalian. Masa tidak ada yang mau cerita!" kata Chanyeol.

"Park Chanyeol. Apa kau sudah selesai mencatat?" tanya Sonsaengnim yang sedang berdiri didepan papan tulis.

"b-belum, sonsaengnim. Cheosonghamnida" katanya. Dan Chanyeol memutuskan untuk kembali menghadap depan. "menyebalkan", gumamnya.

.

Luhan nampak tidak tenang duduk dikursinya. Dia terus bergerak-gerak tidak nyaman. Kadang menopang dagu, kadang menelungkup diatas meja, lalu menatap ke kanan dan ke kiri. Dia juga menggerak-gerakkan kakinya sampai mejanya berderit.

Sampai-sampai, Himchan yang duduk dibelakangnya tidak tahan mendengar suara derit meja Luhan. Dia menendang kursi Luhan dari belakang. Membuat Luhan menoleh padanya.

"bisa kau diam? Aku jadi tidak fokus" kata Himchan. Dia harus mencatat pelajaran supaya bisa meminjamkan catatannya pada Yongguk.

Luhan hanya berdecak dan berkata 'maaf''. Dan sebisa mungkin tidak bergerak lagi. Tapi tidak bisa. Kakinya kembali bergerak-gerak tidak tenang.

Dia merasa khawatir pada Sehun. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Sehun di atap. Semoga saja dia tidak bunuh diri. Sepertinya Luhan harus melihat sendiri keadaan Sehun.

"Sonsaengnim" Luhan mengangkat tangannya.

"ne, Luhan?" kata Kim Sonsaengnim.

"minta ijin ke toilet" kata Luhan.

Setelah dipersilahkan. Luhan langsung melesat lari ke-bukan ketoilet melainkan ke atap sekolah. Dia ingin tahu apa yang sedang Sehun lakukan.

.

Sehun duduk diam diatas atap sekolah. Dia tidak peduli pada sinar matahari yang menyengat kulit putihnya. Dia juga tidak peduli pada keringat yang sudah membanjiri wajah dan tubuhnya karena kepanasan.

Aksi Youngjae tadi pagi benar-benar membuatnya pusing. Dia senang, akhirnya Youngjae dan Daehyun bisa bersatu. Tapi dia juga sedih dan kecewa karena dia tidak bisa bersama Youngjae.

Tapi Sehun tidak bisa menyalahkan Youngjae. Sejak awal, Sehun lah yang menyukai Youngjae. Jadi semua ini adalah salahnya sendiri.

"hhh~" Sehun menghela nafas.

"eh?" Sehun merasa tempat duduknya yang panas, berubah menjadi teduh. Dia mendongak dan mendapati ada sebuah payung biru yang melindunginya diatas.

Saat dia menengok, dia mendapati Luhan sudah duduk disampingnya. Ternyata, Luhan yang memayungi Sehun agar tidak kepanasan.

"kau dapat dari mana?" tanya Sehun sambil menyentuh payung di atas kepalanya.

"di gudang sekolah ada banyak. Entah milik siapa" kata Luhan. Sehun hanya ber'Oh' ria saja. "aku khawatir. Aku kira kau bunuh diri" kata Luhan.

"aku tidak segila itu" ucap Sehun diiringi tawa kecil.

Mereka terdiam untuk beberapa saat yang lumayan lama. Bergelut dengan pikiran masing-masing.

Tiba-tiba Luhan terbatuk karena tersedak ludahnya sendiri. Memecah keheningan dan membuat Sehun menoleh kearahnya.

Sehun menatapi Luhan yang terbatuk-batuk sampai wajahnya merah. Lalu dengan satu tangan, dia memukul pelan punggung Luhan.

Namun Luhan tidak berhenti batuk. Alhasil, Sehun harus memukulnya dengan sedikit tenaga. Beberapa kali, sampai akhirnya Luhan berhenti.

"gomawo, uhuk" kata Luhan. Duh~ Dia malu sekali. Lagi-lagi Sehun menolongnya setelah kakinya terkilir ditangga tadi.

"dasar bodoh" gumam Sehun sambil menatap lurus kedepan. Luhan yang mendengarnya hanya bisa mempoutkan bibirnya.

Hening sejenak(lagi).

"kau suka pada Youngjae, ya?" tanya Luhan.

Sehun menghela nafas. "menurutmu?" tanyanya, tanpa menatap Luhan.

"kau menyukainya" jawab Luhan.

Lalu hening sejenak(lagi).

Lalu Luhan kembali bicara. "memang apa yang kau suka dari Youngjae?" tanya Luhan.

Ekspresi wajah Sehun berubah. "kau boleh tidak menjawabnya kok. Hehehe" kata Luhan. Dia takut Sehun akan marah dengan ucapannya barusan.

"aku..." Sehun menjeda kalimatnya. "aku suka bagaimana cara dia menuruti kata-kataku" katanya. "Meskipun dia tidak selalu menurutiku" tambahnya dengan tertawa miris.

Luhan menunduk. Entah kenapa dia merasa dadanya sesak saat mendengarnya.

"dia selalu merespon ucapanku"

"dia selalu tertawa saat aku menceritakan lelucon yang tidak lucu padanya" kata Sehun. "Meskipun pada akhirnya dia mengejek leluconku"

"dia tidak pernah mengabaikanku"

Semua kata-kata Sehun membuat Luhan tersinggung. Semua itu seolah-olah Sehun katakan untuk menyindirnya. Apa Sehun sedang membalas perbuatannya saat itu? Rasanya Luhan ingin sekali menangis sekarang.

"dan satu lagi yang paling aku suka darinya..."

Luhan tidak mengangkat wajahnya. Dia tidak ingin menunjukkan wajahnya yang menyedihkan itu pada Sehun. Tapi dia menunggu Sehun melanjutkan ucapannya.

"aku suka sekali saat melihatnya tersenyum dan tertawa" kata Sehun sambil tersenyum. "dia semakin manis jika sedang tersenyum".

"begitu" kata Luhan. Dia tersenyum. Senyum miris.

"lalu bagaimana denganmu. Kau menyukai Jung Daehyun kan?" tanya Sehun.

"menurutmu?" tanya Luhan. Ucapan Luhan membuat Sehun menatapnya. Dia meniru pertanyaan Sehun tadi.

"kau menyukainya" kata Sehun. "lalu apa yang kau suka darinya?" lanjut Sehun.

Luhan terlihat berpikir. Kemudian dia mengedikkan bahu. "tidak tahu" katanya.

Sehun menoleh. Dia menatap Luhan heran. "kau tidak tahu?" tanya Sehun.

Luhan menghela nafas. "aku tidak tahu kenapa aku menyukainya" kata Luhan. "padahal dia tidak suka padaku. Dia selalu terganggu dengan kehadiranku. Dia juga selalu menolak perhatianku"

Sehun mengerutkan keningnya. "aneh" gumamnya.

"menurutku tidak aneh", jawab Luhan.

"Kau yang aneh. Dia tidak suka padamu, tapi kau malah senang" kata Sehun.

"menurutku itu sangat manis" kata Luhan. "semua orang selalu menperhatikanku. Mereka selalu menyukaiku. Baru kali ini aku ditolak oleh seseorang. Ini adalah sesuatu yang baru untukku. Aku menyukainya" kata Luhan dan diakhiri senyuman manis.

Deg!

Sehun terpaku melihat senyuman Luhan. Itu adalah senyuman yang sudah membuat Sehun menyukainya dulu. Seharusnya dia tidak lagi berdebar-debar saat melihatnya, mengingat dulu Luhan tidak peduli padanya.

.

.

Saat yang paling ditunggu para siswa pun tiba. Apa lagi kalau bukan saat istirahat sekolah. Begitu bel berbunyi, tidak peduli pada guru yang masih ada didalam kelas mereka. Semua murid langsung saja berhambur keluar.

Kim Jongin contohnya. Jangan ditanya. Dia malah yang memimpin teman sekelasnya untuk keluar kelas lebih dulu. Bukan karena itu memang kebiasaannya. Tapi dia sedang kesal sekarang.

Dia kehilangan Oh Sehun. Sahabatnya itu tidak masuk dua mata pelajaran. Jangan bilang kalau Sehun lebih terlambat dari Jongin tadi pagi.

Jongin kesal sekali. Dia jadi bosan didalam kelas karena tidak punya teman untuk menggoda Lee Sonsaengnim yang cantik namun galak, yang hanya luluh dengan gombalan Sehun. Alhasil yang dia lakukan adalah duduk dan (terpaksa) mencatat pelajaran. Jongin jadi bingung mau kemana. Dia sedang bimbang didepan kelasnya.

Tak sengaja matanya menangkap Taemin Sonsaengnim yang sedang berjalan kearahnya. Senyum jahil muncul diwajah Jongin. Dia merapikan rambutnya sebelum berjalan mendekati Taemin dengan gaya sok cool.

"hai, manis" Jongin mencolek dagu Taemin sonsaengnim saat mereka sudah dekat.

"J-Jongin? Kau masih hidup?" ucap Taemin sonsaengnim. Jongin hanya tertawa saja mendengarnya.

"Kau ini lucu juga ya~" kata Jongin sambil mencubit kedua pipi Taemin sonsaengnim dengan gemas.

Saat hendak kembali menggoda Taemin sonsaengnim, Jongin melihat ada tiga orang manusia yang sedang berjalan kearahnya diiringi suara 'BEEP BEEP BEEP'.

Mata Jongin melebar senang. Sepertinya yang satu itu lebih menarik dari Taemin. "sampai jumpa~" katanya pada Taemin sonsaengnim. Dia berjalan menghampiri ketiga namja itu dengan gaya yang lebih sok cool dari sebelumnya.

"wah, wah, wah. Lihat dua namja manis ini" katanya sambil merangkul dua orang namja yang memang berwajah manis yang sedang asyik ngobrol. Baekhyun dan Kyungsoo. "apa kalian punya waktu? Maukah kalian menemaniku? hm?" lanjutnya sambil menatap bergantian, Baekhyun dan Kyungsoo. "Terutama kau, manis~ Arrrwww" tambahnya pada Kyungsoo.

Baekhyun menyingkirkan tangan Jongin dari bahunya dengan wajah malas. "jangan sembarangan ya" katanya. Jongin sudah terbiasa dengan sikap judes Baekhyun.

BEEP BEEP BEEP BEEP

Jongin beralih pada Jongdae yang sedang bermain PSP. Dia heran, ada dua namja manis disampingnya. Tapi dia tetap memilih PSP bututnya itu? Apa dia tidak tertarik dengan-Ah! Jongin lupa. Hyungnya itu hanya tertarik dengan 'XiuBaby'nya.

Dia beralih pada Kyungsoo. Jongin menatapi namja yang sama sekali tidak protes dengan keberadaan tangan Jongin dibahunya. Sepertinya dia sudah tidak takut lagi pada Jongin.

Jongin tersenyum senang. Bukankah ini bagus?

.

Daehyun menatapi namja yang sedang duduk dihadapannya. Yoo Yougjae. Akhirnya dia bisa makan siang bersama Youngjae. Wooohooo! Dia senang sekali. Dan dia juga gemas dengan tingkah Youngjae yang malu-malu.

Sejak tadi dia makan dengan pipi yang merah, dan dia juga tidak berhenti tersenyum. Youngjae juga mencuri-curi pandang padanya. Apa dia malu? Kenapa berbeda sekali dengan tindakannya tadi pagi?

Daehyun menggerakan kakinya dibawah meja itu untuk menyenggol kaki Youngjae. Dan Youngjae langsung menatap padanya dengan penuh tanya yang masih terkesan malu. Daehyun ingin sekali mencubit pipinya itu. "kenapa kau diam saja?" tanya Daehyun.

"kalau makan tidak boleh sambil mengobrol" kata Youngjae dengan senyum malu yang tertahan. Lalu dia kembali menunduk, menatap makanannya.

"tidak juga" kata Daehyun. "jangan diam saja. Aku jadi bosan. Atau..." dia tersenyum jahil. Daehyun menatap curiga pada Youngjae "kau malu ya?" tanyanya.

Youngjae terkejut dan menatap Daehyun. Daehyun yakin sekali, Youngjae memang malu. "ti-tidak" kata Youngjae, dia buru-buru melahap makanannya sampai dia tersedak.

Daehyun tertawa. "kau lucu sekali" katanya. Youngjae terkejut mendengarnya, Daehyun juga sama terkejutnya. Mereka berdua sama-sama membulatkan matanya. Mereka saling tatap untuk beberapa detik. Entah kenapa suasana menjadi canggung. Mereka hening sebentar sebelum Youngjae mengeluarkan suara.

"katakan kau menyukaiku!"

Daehyun terbelalak. "apa?", tanyanya pada Youngjae. Apa yang baru saja Youngjae katakan?

"katakan jika kau menyukaiku! Aku.. Aku... Ingin mendengarnya" katanya dengan wajah menuntut namun dengan pipi yang merona.

Ya Tuhan, bolehkah Daehyun menggigit namja menggemaskan itu?

Saat Daehyun membuka mulutnya dan hendak mengucapkan kata yang ingin Youngjae dengar, dia merasakan pundaknya ditepuk bertepatan dengan suara bass yang sering sekali dia dengar.

"A-YO!"

Daehyun menatap -_- pada namja yang baru saja duduk disebelahnya yang tidak lain adalah Park Chanyeol.

"apa aku ketinggalan acara?" tanya Chanyeol tanpa dosa. Dia menatap bergantian Daehyun dan Youngjae. "kalian sedang pacaran ya?" tanya Chanyeol lagi.

"kenapa kau tidak bersama Tao?" kata Daehyun. Dia merasa terganggu dengan kehadiran Chanyeol. Kenapa dia mengganggu momentnya bersama Youngjae.

"Tao sedang bersama pacarnya" kata Chanyeol, lalu menyeruput minuman Daehyun tanpa ijin. Dia menatap Daehyun yang terlihat tidak nyaman dengan kehadirannya. "aku mengganggu ya?" tanya Chanyeol.

Dia menatap Daehyun dan Youngjae bergantian. "baiklah. Aku pergi", kata Chanyeol sambil bangkit dari duduknya.

Dia berjalan tanpa semangat, entah mau kemana. Kedua temannya punya urusan masing-masing dengan pacar mereka. "huh! Menyebalkan!".

Dia merasa diabaikan oleh kedua temannya hari ini. "mentang-mentang sudah punya pasangan. Aku dilupakan" keluhnya.

BRUK.

Seseorang didepan Chanyeol menabraknya dengan keras hingga Chanyeol terjatuh. Untung saja dia jatuh-duduk diatas kursi yang kosong. "YAH! HATI-HATI!" teriaknya pada siswa yang menabraknya tadi.

Suasana kantin memang sedang ramai, hampir tidak ada ruang bebas untuk bergerak. "tidak tahu apa kalau dia baru saja menabrak namja tampan!" ucap Chanyeol lagi sambil merapikan seragamnya.

"Apa?"

Chanyeol menoleh saat mendengar suara orang yang duduk tepat disampingnya. "tampan?" kata namja itu.

Chanyeol terkejut saat tahu jika namja disampingnya itu adalah Baekhyun. "akan kuberi tahu apa itu 'tampan'" kata Baekhyun.

"tampan itu, seperti dia" katanya sambil menunjuk Kris Wu yang sedang duduk bersama Tao dan bersama beberapa fans mereka.

"...seperti dia" kata Baekhyun sambil menunjuk teman sekelas Chanyeol yang bernama Kim Myungsoo.

"...seperti dia" kali ini Baekhyun menunjuk teman sekelasnya yang bernama Kim Seokjin.

"atau seperti..." Baekhyun menatap ragu pada orang yang ingin dia tunjuk. Dia menghela nafas malas dan mungkin dia akan menghukum dirinya sendiri karena memilihnya. "..dia" Baekhyun menunjuk Jongin yang duduk dihadapannya dengan malas.

"Aku tahu itu. Aku memang tampan" celetuk Jongin senang.

Chanyeol menatapi semua namja yang Baekhyun tunjuk. Sepertinya dulu dia hanya menunjuk Luhan saja saat Baekhyun mengatai dirinya sendiri 'cantik'. Kenapa sekarang dia balas dengan menunjuk banyak orang? Chanyeol kan juga tampan!

"kau balas dendam ya?" tanya Chanyeol.

"Jika ingin menyaingi mereka. Kau harus berusaha lebih giat lagi, nak" ucap Baekhyun sambil mengacak pelan rambut Chanyeol yang bertubuh lebih tinggi darinya.

Chanyeol bangkit dari duduknya. "kenapa hari ini aku sial sekali!?", teriaknya sebelum dia pergi meninggalkan Baekhyun yang sedang tertawa geli.

.

Di salah satu meja dikantin, duduklah Kris dan Tao serta banyak fans mereka. Mereka duduk berhadap-hadapan dimeja berbentuk persegi panjang itu. Kris duduk disalah satu sisi dengan banyak fansnya yang duduk dikanan-kirinya.

Sama halnya dengan Kris. Tao duduk dihadapan Kris bersama dengan fansnya yang sepertinya lebih banyak dari fans Kris.

Tapi anehnya, para fans itu tak nampak heboh seperti biasanya. Mereka nampak serius saat ini.

Di ujung meja, ada seorang yang sepertinya sedang menengahi mereka. "...Jadi, ini hanya salah paham?" kata namja yang menengahi mereka itu. Jung Hoseok.

"kalau begitu, lebih baik kalian saling minta maaf agar masalah segera selesai" kata Hoseok.

BRAK!

Fans Kris menggebrak meja. "tidak bisa" katanya. "Tao, sudah membohongi Kris"

Fans Tao tidak terima. "Tao tidak membohonginya. Kris saja yang tidak mau kalah. Tao kan sudah menjelaskan yang sebenarnya" katanya yang di'iya'kan oleh teman-temannya.

"Kau ini bagaimana, sebagai Seme kau seharusnya yang bisa mengerti Tao. Kenapa malah kau yang bertingkah seperti anak kecil?" kata Fans Tao yang lain pada Kris.

"Yah! Kau pikir, kau sedang bicara dengan siapa? Jaga ucapanmu" kata Fans Kris.

"Kenapa kau yang marah? Apa masalahmu?!" sahut Fans Tao.

Terjadilah percekcokan antar fans. Bahasa gaulnya sih Fanwar. Semakin lama, kedua fandom itu saling mengejek idola. Dan fans yang merasa idolanya diejek, tidak terima dan balas mengejek idola yang lain.

Tidak hanya adu mulut dan adu tatapan sengit. Kini mereka mulai merambah kedunia pukul-pukulan. Hingga Hoseok, si penengah itu kewalahan merelai mereka semua.

"hentikan! Yah! Jangan bertengkar!" Hoseok mencoba merelai mereka. Namun nampaknya fans tidak peduli. Dia malah diseret dan menjadi sasaran kemarahan para fans.

"J-jangan! Jangan rambutku!" terdengar teriakan Hoseok diantara fanwar itu. "Stop! Jangan! Aww! Yah!".

"STOP!" Hoseok berteriak sambil merentangkan kedua tangannya. Dan hebatnya fanwar itu berhenti. Hoseok nampak kesal, selain karena dia tidak didengarkan dia juga menjadi sasaran mereka.

"kalian bertengkar tanpa memperdulikan sekitar!" katanya. "Lihat, KrisTao sudah pergi!" katanya lagi.

Semua fans melihat sekitar. Benar, KrisTao sudah tidak ada ditempat mereka. "kemana mereka?" tanya mereka kebingungan.

"ah, kalau mereka tidak ada, untuk apa kita disini? Aku mau kembali kekelas" kata salah satu fans yang disetujui oleh semuanya.

Setelah itu, satu per satu dari mereka menyingkir. Meninggalkan Hoseok seorang diri dengan tampilan yang berantakan.

.

Sementara itu, Kris nampak menggandeng Tao menuju perpustakaan. Dia menggenggam tangan Tao dengan erat. Terlalu erat malah, sampai Tao harus menahan tangannya yang sakit.

Tao tidak protes atau mengeluh. Karena sepertinya Kris sedang marah padanya. Kenapa Kris tidak juga mengerti bahwa dia hanya salah paham saja? Tao juga sudah merasa bosan menjelaskan semuanya. Sampai-sampai dia hafal urutan kata yang dia katakan setiap menjelaskannya.

Kris membawa Tao menuju bilik perpustakaan yang tak terpakai. Tempat yang sering mereka datangai saat masih backstreet dulu.

Dia melepas genggamannya pada tangan Tao dengan kasar. Dia juga menatap Tao dengan tatapan dingin. Tao sampai takut melihatnya. Semarah itukah Kris padanya?

Kris menatap Tao lama sekali. Entah apa yang dipikirkan Kris saat menatapnya seperti itu. Tao tidak tahu. Meskipun takut Tao tetap membalas tatapan Kris dengan tatapan biasa.

Semakin lama mereka saling pandang dengan tatapan yang berbeda. Kris nampaknya semakin tidak tahan untuk melepas tatapannya yang dingin itu. Akhirnya tatapan Kris melembut.

"mianhae" katanya. Kris menundukkan kepalanya. Dia tidak menatap pada Tao lagi dan hanya menunduk dalam waktu yang lumayan lama.

Tao mendekati Kris dan memeluknya. "gwaenchanha" katanya. Dia mengusap-usap punggung Kris. Dia tersenyum. Walaupun belum genap setahun berpacaran, Tao tahu sifat-sifat Kris.

Kris punya gengsi yang tinggi. Dia sulit mengakui kesalahannya dan dia juga ingin menang sendiri. Maka dari itu Tao hanya diam saja jika Kris marah. Karena dia tahu. Meskipun nampak ingin menang sendiri. Didalam hati, Kris menyesali perbuatannya.

Tao menepuk-nepuk halus punggung Kris. Kemudian memeluknya erat sambil tersenyum. "kau ini!" katanya. Dia gemas sekali pada kekasihnya yang tampan itu.

.

SRET~

Tak ada angin tak ada Hujan. Xiumin tiba-tiba sudah ada disamping Jongdae. Dia menggeser duduknya hingga dia benar-benar menempel pada kekasihnya itu. "chenchen~" panggilnya dengan nada manja sambil menyenggolkan bahunya pada bahu Jongdae.

BEEP BEEP BEEP BEEP

Xiumin mempoutkan bibirnya karena Jongdae tidak merespon. Dia menatapi teman-teman Jongdae yang sedang duduk bersamanya dikantin lalu kembali pada Jongdae yang sedang main PSP. Dia menarik-narik lengan seragam Jongdae. "Chenchen~" panggilnya lagi.

BEEP BEEP BEEP BEEP

Jongdae tidak mempedulikannya. Xiumin makin sebal. Xiumin menutup layar PSP Jongdae. Dan ternyata berhasil! Jongdae menoleh padanya. Langsung saja Xiumin memasang senyumannya yang paling manis. "apa?" tanya Jongdae datar.

Jongdae menyingkirkan tangan Xiumin dari layar PSPnya, lalu kembali bermain dengan benda kecil itu.

BEEP BEEP BEEP BEEP

Xiumin mendengus kesal. Sepertinya dia harus pakai cara lain. "Chenchen, aku lapar~ Pesankan aku makanan" kata Xiumin sambil memegangi perutnya.

BEEP BEEP BEEP BEEP

Nampaknya tidak berhasil. Xiumin akan pakai cara lain. "Chenchen~ Kepalaku sakit sekali. Antarkan aku ke ruang kesehatan. Aku sudah tidak kuat lagi. Pusing sekali~" kata Xiumin sambil berakting pusing yang berlebihan.

BEEP BEEP BEEP BEEP

Jongdae terkekeh dalam hati. Dia memang sengaja mengabaikan Xiumin. Hehehe.. Hanya ingin tau saja, bagaimana reaksi Xiumin jika dia sedang marah.

"Hiks.. Chenchen~ Jangan campakkan aku. HUWEEE~"

Jongdae terbelalak dan langsung meletakkan PSPnya diatas meja saat mendengar Xiumin menangis. "X-Xiubaby? Aku hanya bercanda. Jangan menangis" katanya.

"baiklah, maafkan aku. Aku tidak akan mencampakkanmu, Baby. Jangan menangis, ne?" kata Jongdae sambil mengusap lengan Xiumin. Xiumin mengangguk sambil mengusap pipi tembamnya yang (sebenarnya tidak-)basah.

Jongdae memeluk Xiumin. "cup~ cup~ Baby~" kata Jongdae sambil menepuk-nepuk Xiubaby-nya. Padahal dia tidak tahu jika Xiumin juga hanya pura-pura menangis. Lihat saja, sekarang dia sedang tersenyum penuh kemenangan tanpa ketahuan Jongdae. Keh keh keh~

Jongin yang menyaksikan pasangan dihadapannya itu rasanya mau muntah. "Seperti nonton drama saja" komentarnya.

"mereka memang seperti itu" kata Kyungsoo.

Mendengar suara merdu Kyungsoo, Jongin langsung menoleh pada namja manis itu. "Kyungie Hyung. Apa nanti malam kau ada acara?" tanya Jongin.

Kyungsoo nampak berpikir. Dia menerawang ke atas sambil mengerucutkan bibirnya dan menunjuk dagunya. Jongin yang melihat bibir Kyungsoo mengerucut seperti itu jadi tergoda. Dia sampai ikut-ikutan mengerucutkan bibirnya. Dia ingin sekali menyentuh bibir Kyungsoo dengan bibirnya.

"nanti malam aku harus mengerjakan tugas dan belajar" jawab Kyungsoo. Membuyarkan fantasi Jongin.

"B-belajar?" tanya Jongin tidak percaya. "untuk apa kau melakukannya? Lebih baik kita kencan saja nanti malam. Kita makan malam romantis" kata Jongin sambil menaik turunkan kedua alisnya

"tidak bisa" kata Kyungsoo. "kalau kau mau belajar bersama, kita bertemu nanti malam" kata Kyungsoo lagi.

Secerca harapan muncul. Diotak Jongin, dia sudah membayangkan untuk mengajak Kyungsoo belajar bersama dikamarnya sampai larut malam dan setelah itu, perlahan-lahan dia akan mendekati Kyungsoo dan setelah itu mereka berdua akan...Ahhhayyy!

"Kau datang saja kerumahku. Aku akan bilang Umma agar masak enak untuk makan malam" kata Kyungsoo.

Seperti tertimpa batu besar. Harapan Jongin hancur. "d-di rumahmu?" tanya Jongin.

Kyungsoo mengangguk. "Kenapa tidak dirumahku saja? Supaya kita bisa bebas" kata Jongin. Kebetulan Jongin hanya hidup bertiga saja dengan kedua hyungnya. Orang tuanya tinggal diluar negeri dan jarang pulang ke Seoul.

"itulah sebabnya. Kalau aku yang datang kerumahmu, aku tidak yakin akan selamat. Nanti yang ada, aku malah menginap dan tidur di bath tub kamar mandimu" kata Kyungsoo sambil menatap curiga pada Jongin.

Jongin mendengus tidak percaya. "kau curiga padaku, Hyung?" tanyanya.

"wajahmu mencurigakan" kata Kyungsoo dengan wajah polos, tanpa beban dan tanpa dosa. "kalau tidak mau ya sudah" tambahnya.

"Eh! Siapa bilang aku tidak mau" kata Jongin ragu-ragu. Dia menghela nafas, "baiklah. Aku akan datang" kata Jongin dengan lemas. Dia merosot diatas meja. Oh, dia sungguh tidak suka belajar. Tapi tidak apa lah. Yang penting nanti malam dia bisa bertemu Kyungsoo lagi.

.

.

Jam pelajaran terakhir memang kebalikan dari jam pelajaran pertama. Jika jam perlajaran pertama, para siswa pasti nampak semangat karena pikiran masih segar. Seperti flashdisk kosong yang siap untuk diisi.

Sedangkan kalau jam pelajaran terakhir, pikiran mereka sudah terisi penuh dengan berbagai materi pelajaran. Membuat mereka lemas bahkan mengantuk.

Dikelas Xiumin, semua murid nampak lemas dan tidak semangat mendengarkan penjelasan Taeyeon sonsaengnim tentang 'manfaat virus bagi kehidupan'.

"...Beberapa virus dapat dimanfaatkan untuk kombinasi genetika. Blablablablabla"

Xiumin menguap diatas mejanya. Dia menatap Lay disampingnya yang masih giat mencatat ucapan sonsaengnin. Meskipun sesekali dia menguap. Dia melakukan itu untuk Suho. Supaya Suho bisa menyalin catatannya nanti.

Xiumin menatap pada Suho yang sedang menelungkup diatas mejanya. Ini pemandangan langka. Suho yang tidak semangat melakukan apapun adalah hal yang langka. Xiumin jadi kasihan pada temannya yang sedang sakit itu.

"...Melalui terapi gen, gen jahat penyebab inveksi yang terdapat didalam virus dapat diubah menjadi gen baik" Selesai membaca, Taeyeon menutup bukunya.

"apa ada yang ditanyakan?" tanyanya pada sebagian siswa yang masih duduk tegak dibangku mereka masing-masing(sebagian lainnya sudah berlabuh dialam mimpi).

Xiumin mengangkat tangannya. "kapan kami bisa pulang?" tanya Xiumin.

Taeyeon memasang tampang -_-. Apa-apaan muridnya yang satu itu?

Taeyeon hendak menjawab, namun sudah didahului oleh suara 'TENG! TENG! TENG!', bel tanda sekolah berakhir berbunyi. Dan semua siswa yang sebelumnya nampak lemas kembali menjadi semangat.

"Baiklah, sekian pelajaran dari saya. Jangan lupa, kerjakan tugas dari saya. Annyeong" kata Taeyeon, mengakhiri pelajaran Sains dikelas.

Dia menata barang bawaannya dan mulai berjalan keluar kelas. Saat dia hendak keluar pintu entah kenapa perasaannya menjadi tidak enak. Dia berbalik.

Benar saja semua siswa dikelasnya berlari kearahnya-sebenarnya kearah pintu. Kaki Taeyeon terasa kaku, dia tidak bisa bergerak untuk menghindar. Alhasil dia dilewati oleh para siswa itu hingga badannya terpental kesana-kemari.

"UWAAA!" Taeyeon terjatuh dengan rambut acak-acakan. Kepalanya pusing dan punggungnya terasa sakit.

"Dasar anak-anak kurang ajar!" umpatnya.

Dia merapikan rambutnya. "hiks.. Rambutku.." katanya sedih. Dia menghabiskan waktu setengah jam untuk blowing rambutnya tadi pagi. Kemudian dia merapikan buku-buku bawaannya yang berserakan dilantai sambil menggerutu kesal. Dan setelah itu dia segera bangkit.

"eh? Kalian belum pulang?" katanya saat melihat ada dua orang siswa masih ada didalam kelas. Lay dan Suho. "kalian memang malaikat" kata Taeyeon terharu.

Bayangkan saja jika Lay dan Suho ikut menabraknya tadi. Mungkin dia akan terpental lebih lama lagi. Karena ada tambahan dua orang.

"kami tidak se-anarkis itu" kata Lay. "lagi pula aku tidak mau berhimpitan seperti itu. Nanti keringat mereka bisa menempel padaku" kayanya sambil bergidik.

"oh. Oke" respon Taeyeon. Hening sejenak sebelum dia kembali bicara. "baiklah kalau begitu. Aku pulang dulu. Cepat sembuh untukmu, Joonmyun-ssi" katanya sebelum keluar kelas

.

Daehyun menuruni tangga dengan semangat. Wajahnya sumringah. Dia berjanji untuk pulang sekolah bersama Youngjae. Ah, ini menyenangkan sekaligus membahagiakan untuknya.

Bahkan dia menyenandungkan lagu cinta karena terlalu bahagia. Dia berjalan menuju kelas Youngjae.

Disana, ternyata sang pujaan hatinya sudah menunggu didepan kelasnya.

"hai" sapa Daehyun.

"hai" balas Youngjae.

"pulang sekarang?" tanya Daehyun. Youngjae mengangguk. "baiklah kalau begitu" katanya.

Daehyun dan Youngjae berjalan bersama. Daehyun tersenyum karena sikap canggung Youngjae.

Youngjae menatap Daehyun saat merasakan tangannya digenggam oleh Daehyun. Dan hanya diberi senyuman tampan saja. Ah~ Youngjae meleleh melihatnya.

"aku pulang naik bus" kata Daehyun. "tidak apa, kalau kau naik bus?" tanyanya.

"bukankah kita pernah naik bus bersama?" balas Youngjae.

"ah, kau benar" kata Daehyun. Dia lupa, saat itu mereka pulang bersama karena terkunci diruang guru.

"baiklah kalau begitu" kata Daehyun. Dia mengeratkan genggaman tangannya pada Youngjae.

"kau adalah namjachinguku mulai sekarang!" kata Youngjae. Memutuskan sendiri.

Daehyun terkekeh. Dia gemas sekali dengan Youngjae. Dia bicara seperti itu, padahal pipinya memerah. "setuju" kata Daehyun.

Lalu mereka berjalan pulang sambil bergandengan tangan. Membuat banyak yang menatap iri pada mereka. Termasuk teman Daehyun sendiri, Park Chanyeol.

"menyebalkan!" katanya sambil menatap Daehyun dan pacar barunya. Dan dijauh sana ada Tao dan kekasihnya sedang berjalan bersama. "jadi tinggal aku saja diantara mereka, yang tidak punya pacar?" tanyanya pada diri sendiri. Dia mendengus.

"kasihan sekali kau"

Chanyeol menoleh saat mendengar suara. Awalnya dia kesulitan mencari. Namun akhirnya dia sadar kalau yang bicara adalah Baekhyun. Chanyeol harus sedikit menunduk agar bisa melihat Baekhyun.

"lalu, bagaimana denganmu? Apa kau punya pacar?" tanya Chanyeol. Kemudian dia melangkah pergi.

Baekhyun menatap kepergian Chanyeol. Dia merasa kesal sekaligus sedih, Chanyeol bicara seperti itu. Kenapa Chanyeol bersikap dingin begitu padanya? Bukankah Chanyeol menyukainya?

Jangan bilang kalau Chanyeol sudah tidak menyukainya lagi. "oh, tidak" kata Baekhyun sambil memegang kepalanya.

"eh?" Dia tersadar. "apa yang kupikirkan? Memang kenapa kalau dia tidak menyukaiku lagi?" tanyanya pada diri sendiri.

"Bukankah itu bagus" gumamnya. Dia terus merutuki dirinya sendiri sambil berjalan pulang.

.

.

Sehun melihat jam tangannya. Sudah hampir pukul tiga. Seharusnya dia pulang sejak dua jam yang lalu. Dia terlalu asyik duduk sendiri diatap sambil mendengarkan musik lewat i-podnya yang mahal.

Luhan hanya menemaninya sampai jam istirahat sekolah selesai. Dia bilang dia harus mencatat pelajaran untuk dia pelajari. Hhhh~ Sehun saja tidak masuk kelas hari ini, sama sekali. Dia pasti dianggap bolos sekolah oleh semua guru yang mengajar dikelasnya. Padahal dia ada disekolah.

Dia mendongak dan menatap payung yang masih melindunginya dari sinar matahari. Luhan yang membawakan payung ini untuknya.

Sehun mengambil ponsel dari dalam tasnya. Dia sengaja me-non-aktifkan ponselnya agar tidak ada seorang pun yang mengganggunya. Dan saat dia mengaktifkan ponselnya, dia disambut dengan banyak missed call dan pesan dari Ibunya.

Sehun mengedikkan bahunya, lalu menyimpan ponselnya didalam kantong celananya. Sehun rasa, sudah waktunya dia pulang. Dia sudah terlalu lama duduk disini. Bisa-bisa dia terkunci disekolah.

Sehun melipat payung yang sedari tadi dia pegang("Pakai ini supaya kau tidak kepanasan"kata Luhan dengan senyumnya). Entah kenapa dia menurut saja dengan apa yang Luhan katakan. Sepertinya dia punya kekuatan yang bisa membuat orang menurut padanya.

Dia memakai tas mahalnya lalu bangkit berdiri. Dia mulai melangkah keluar dan mulai menuruni tangga. Saat Dia berpindah tangga, dia melihat ada seorang siswa yang sedang duduk di anak tangga paling bawah. Namja itu menyandarkan tubuh dan kepalanya pada dinding tangga. Dari rambutnya yang blonde itu, sepertinya Sehun tahu siapa dia.

Sehun melanjutkan menuruni tangga. Dan benar apa dugaannya saat dia sudah sampai dibawah. Namja itu adalah Luhan. "Apa yang dia lakukan disini?" gumannya. Padahal dia melihat dengan jelas jika Luhan sedang tidur. "bukannya sekolah sudah usai sejak tadi?".

Sehun menusuk-nusuk kecil ujung payung yang dia bawa pada lengan Luhan. Mencoba membangunkan namja itu. "Yah!".

"Yah! Irreona!" ucapnya sambil terus menusuk-nusuk kecil ujung payungnya. Namun Luhan tidak bangun-bangun.

Sehun berlutut didepan Luhan, menatapi namja yang sedang tidur itu. Siapa tahu saja dia sedang tidak baik-baik saja. Mungkin saja dia terkena bius atau semacamnya sampai dia tidak bisa dibanguni.

Sehun menepuk-nepuk lengan Luhan berkali-kali, "Yah! Irreona" katanya. Namun Luhan tidak bangun-bangun juga. Sehun sampai gemas. Kalau terlalu lama disini bisa-bisa mereka terkunci disini.

Sehun menepuk pelan pipi Luhan. "Irreona" katanya.

"ummhh?"

Luhan bangun, wajahnya memerah dan matanya kentara sekali jika dia baru bangun tidur. Dia gelagapan saat melihat ada Sehun didepannya. Dia refleks merapikan rambutnya, padahal rambutnya baik-baik saja. "kau sudah turun?" tanyanya.

"kau menungguku?" tanya Sehun.

"a-a-a-ani" kata Luhan sambil menggeleng gugup. "A-aku hanya..." dia menggaruk lehernya yang tidak gatal.

"ka-kalau begitu. Aku pulang dulu ya, annyeong" kata Luhan. Dia bangun dari duduknya dan melewati Sehun begitu saja.

Dia berjalan melewati koridor dengan jantung yang berdebar-debar, antara kaget karena dibanguni saat masih asyik tidur dan gugup karena melihat Sehun yang berlutut didepannya. Jarak mereka sangat dekat.

Luhan menuruni tangga dengan cepat, kemudian berjalan menuju gerbang. Untung sekolahnya belum ditutup. Dia berdiri didepan gerbang dan menengok kesana-kemari. Seharusnya mobil jemputannya sudah datang. Kenapa tidak ada?

"ah! Aku kan belum telepon!" katanya sambil menepuk keningnya.

Luhan hendak mengambil ponsel disaku celananya. Namun sikunya menyentuh sesuatu dibelakangnya. Luhan berbalik untuk melihat apa yang baru saja dia sentuh tadi. Dan- "Uwaaa!"-dia terkejut saat Sehun dengan pocker face-nya sudah ada dibelakangnya.

"kau, kan-tadi kau-bagaimana?-umh?" Luhan bicara sambil menunjuk Sehun dan sekolah bergantian. "kenapa kau ada disini?" tanya Luhan.

"aku mau pulang" kata Sehun datar.

Luhan tersenyum bodoh, "ah, benar" katanya. "Ya sudah, pulanglah. Hati-hati ya" lanjutnya.

Bukannya pulang, Sehun malah terus menatap datar pada Luhan. "apa? Cepat pulang sana" kata Luhan lagi.

"eh? Eh? Eh?", Luhan memekik kaget.

Sehun menarik Luhan "aku akan mengantarmu. Aku bawa mobil" katanya sambil terus menyeret Luhah, sepertinya menuju tempat parkir kendaraan sekolah.

Jujur saja. Luhan juga merasa jika perhatian yang dia berikan pada Jung Daehyun sepertinya hanya sebatas Hyung dan Dongsaeng saja . Maka dari itu, dia sama seklai tidak sedih saat Daehyun dan Youngjae berciuman tadi pagi. Dia malah mencemaskan Sehun.

Entahlah. Apakah dia boleh mencemaskan Sehun atau tidak. Dia merasa bersalah pada Sehun atas apa yang dia lakukan dulu. Apakah Sehun membencinya? Sepertinya iya, tapi kenapa dia masih mau menolongnya hari ini?

Luhan mencoba untuk menghentikan Sehun menariknya menuju mobil. "Sehun-ah. A-aku-"

"Aku tidak menerima penolakan!" kata Sehun, membungkap Luhan yang hendak protes. Dia tersenyum sekilas pada Luhan. Dan jantung Luhan kembali berdebar-debar.

"ah, baiklah" kata Luhan menurut.

Apa boleh buat?

TBC

What The Hell is that?!

Mianhaeyo~ T.T.. Semoga tidak mengecewakan.

Big Thank's:

Iren Rimuna(maaf ya, aku mesti lupa tulis nama kamu disini*bow). Thepaendeo. Chenma. Hatakehanahungry. Mumu. Cbstan. Yongchan. Raemii. Exmato. OhSooYeol. Jang Taeyeoung. NAVYDILLA UNEW BINGIT. Brigitta Bukan Brigittiw. Hannie mato. Sapphire Girl. Chindrella cindy. Nada Lim. Swag Joker. Ajib4ff. Enchris.727. sweetyYeollie. Wyda joyer. Banghimdaisuki. Guest. Alysasparkyuelfshawol. Andini taoris. Leader Kwon. Imeelia. Rachel suliss. Mel. Riraly. Kim Mika. Mrs. EvilGameGyu. siscaMinstalove. Awlia. ParkOhSeLay. Qhia503. almightyVict. Cyber Ayumu-chan. Me Moon JH. Matokinite76. Ichizenkaze.

Review(lagi) Juseyo~ ^^