Chapter 13

.

Pukul Delapan malam. TSM School nampak sepi dan tentu saja gelap. Semua lampu sudah dimatikan oleh penjaga sekolah. Kecuali satu ruangan yang lampunya masih menyala. Lab kimia.

Ada sekitar lima orang didalam sana, duduk mengitari meja. Mereka nampak serius mencampur-campur bahan yang sudah disiapkan dan memasukkannya kedalam panci besar yang ada diatas kompor(sebenarnya hanya satu orang yang membuat, yang lain hanya serius melihat).

"..kaldu.." ucap Yeoja yang diketahui adalah Lee Sunkyu a.k.a Sunny. Guru kimia di TSM.

"..kaldu.." keempat orang yang lain mengikuti dengan nada yang sama seriusnya dengan Sunny. Taeyeon, Taemin, Suho dan Lay.

Mereka berlima disana sedang mendiskusikan, bagaimana cara agar siswa-siswa bandel disekolah ini bisa patuh selama hari penilaian berlangsung(seharusnya Kibum sonsaengnim ikut dalam diskusi rahasia itu, namun dia ada janji kencan dengan Jinki sonsaengnim-_-)

Hari penilaian sudah tinggal tiga hari lagi. Hal itu membuat Suho yang merasa diberi tanggung jawab penuh oleh Boa menjadi kalut. Untung saja Sunny dengan berbaik hati memberinya solusi yang sebenarnya Suho agak ragu untuk menerimanya. Ramuan jampi-jampi.

Paman Sunny adalah seorang ahli ramuan. Begitu pula dengan Sunny, dia juga ahli dalam membuat ramuan. Sunny menjamin jika ramuan yang akan diberikan pada siswa-siswa itu aman. Karena itulah Suho mau menerimanya.

"...jamur..." Sunny, dengan serius memasukan sepiring Jamur yang sudah dipotong-potong kedalam panci.

"dia berkeringat! Mana tissue? Tissue?" kata Lay panik. Dan saat Taeyeon memberinya sekotak tissue, Lay langsung melesat mendekati Sunny dan menghapus keringat dipelipis guru kimianya itu. Dia tidak ingin rebusan didalam panci itu terkontaminasi oleh setetes keringat.

"tolong sendoknya" kata Sunny sambil menjulurkan tangan meminta sendok. Dan dengan sigap Suho memberikan sendoknya. Sunny mengaduk-aduk isi panci itu beberapa putaran dengan sendok. Lalu dia menoleh pada keempat orang disana dan memberikan senyum cerah sambil mengangguk. Memberi tanda jika dia sudah selesai.

"Yeeaaahh!" mereka berempat bersorak senang. Sementara Sunny mengangkat panci itu dengan hati-hati dan meletakkannya ditengah-tengah meja mereka.

"This is it. Krim soup jamur ala Sunny" kata Sunny sambil tersenyum bangga.

"udara dingin, paling enak makan sup hangat" kata Taeyeon. Dan tannpa perlu menunggu lama. Kelima orang disana langsung menyerbu sup itu.

*buset kirain bikin apaan 0.0

.

"aah~ Enak sekali masakan Sunny Noona" ucap Taemin yang di 'iya'kan oleh yang lain.

"hahaha, gomawo. Ibuku yang mengajariku memasak" kata Sunny. "Oh, iya". Sunny bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju rak laboraturium yang terdapat banyak botol dengan cairan warna-warni didalamnya.

Sunny kembali dan duduk ditempatnya. "ini" katanya sambil meletakkan sebuah botol bening kecil yang sebesar jari kelingking tangan itu ditengah-tengah meja.

"ini...?" Suho yang penasaran ingin menyentuh botol itu namun tangannya dipukul pelan oleh Taeyeon. Jadi dia menjauhkan tangannya dan hanya melihat dari jauh saja.

"ya. Itu ramuannya" kata Sunny. Dan keempat orang disekitarnya langsung mendekatkan wajahnya pada botol bening itu. Menatapnya dengan antusias walau pun wajah mereka berhimpit-himpitan.

"...kosong?" tanya Taemin.

"tidak. Isinya bening seperti air" ucap Sunny. "Pamanku yang membuatnya karena ada beberapa bahan yang tidak aku punya. Bahan yang langka dan sulit dicari" ucapnya sambil menyeruput teh nya.

"bahan langaka? Seperti apa?" tanya Taeyeon tanpa mengalihkan pandangannya dari botol itu.

"Tanduk Unicorn..."

Lay menegakkan tubuhnya. Entah kenapa dia merasa ngeri mendengar 'Tanduk Unicorn' dijadikan bahan ramuan.

"...dan air liur naga" kata Sunny. Dan mendengar bahan yang terakhir membuat keempat orang disana mengernyit jijik.

"aku tidak mau meminumnya" ucap Lay shock.

"kau tidak perlu meminumnya, sayang. Ini untuk siswa yang bermasalah" kata Suho sambil mengusap kepala Lay. Tidak peduli pada tiga orang lainnya yang merasa iri dengan kemesraan mereka.

"bagaimana cara menggunakannya, Sonsaengnim?" tanya Suho.

"ini hanya perlu dicampurkan kedalam makanan atau minuman saja" ucap Sunny dan semua orang ber'oh'ria.

"dengarkan aku baik-baik" Sunny bersuara diantara kesibukkan empat orang disana "Ramuan ini hanya bereaksi selama dua jam saja".

"APA?!" Keempat orang disana memekik tiba-tiba. Membuat Sunny harus menutup telinganya dengan wajah shock. Dia tidak suka dengan sesuatu yang mengejutkan seperti itu. Dan lagi ada sesuatu yang basah menempel dipipinya. "Tidak perlu sampai muncrat begitu" kata Sunny sambil mengusap jijik pipinya yang entah terkena ludah siapa.

"Aku kira kita akan membuat mereka patuh selamanya" gumam Taeyeon yang diangguki Taemin. Mereka merasa yang paling banyak dirugikan oleh para siswa.

"Tidak bisa. Itu bisa membahayakan mereka" jawab Sunny. "ramuan ini akan membuat pikiran mereka kosong untuk sementara. Jika dipakai berkepanjangan maka akan merusak ingatan mereka."

Taeyeon dan Taemin menghela nafas kecewa. Lalu Taeyeon mengambil botol kecil itu.

"baiklah. Walaupun tidak selamanya juga tidak apa-apa... paling tidak hidupku bisa tenang selama dua jam. HAHAHAHAHAHA!" kata Taeyeon dengan diakhiri tawa evil. Tidak peduli dengan keempat orang lainnya yang takut melihatnya seperti itu.

.

Dua hari kemudian(H -1)

.

Sekolah sudah selesai. Murid-murid sudah pulang dan sekolah sudah sepi sejak dua jam yang lalu. Ini adalah saat yang tepat bagi Taeyeon, Taemin dan Kibum untuk menjalankan misi mereka.

Ketiga makhluk cantik itu*plak!-maksudnya-Ketiga guru itu berjalan menuju kantin sekolah dengan buru-buru. Mereka harus bertemu dengan Hyorin, orang yang memasak makanan untuk siswa. Mereka sangat bersemangat melakukan misi ini. Sangking semangatnya, Taeyeon yang memimpin jalan didepan sampai tidak sadar jika didepannya ada pilar.

BRUK!

"Aww!" Taeyeon mengaduh sambil memegangi hidungnya yang sakit.

"Noona!"

"Noona! Gwaenchanha?"

Taemin dan Kibum membantu Taeyeon yang hampir terjatuh karena menabrak pilar. "I'm okay, I'm okay" ucap Taeyeon dengan sok baik-baik saja. Lalu dia lanjut memimpin perjalanan mereka. Yang benar saja, hidungnya terasa sakit dan dia juga malu sekali dengan dua temannya itu.

Setelah melewati beberapa tikungan, halangan, rintangan membentang, tak jadi masalah dan tak jadi beban pikiran. Akhirnya mereka pun sampai di kantin.

Disana nampak Hyorin yang sedang merapikan etalase makanannya. Tanpa basa-basi lagi, mereka bertiga mendatanginya.

"Permisi. Maaf mengganggu" Taemin menyapa Hyorin.

"Ne, Sonsaengnim?" jawab Hyorin.

"umh, begini. Kami ingin menyampaikan jika besok kami..." belum selesai bicara Taeyeon mengambil alih tugas.

"kau terlalu lama-_-. Serahkan padaku" katanya sambil menggosok hidungnya yang sakit. Lalu beralih pada Hyorin dan memandanginya dari atas kebawah.

"Apa-apaan kau ini? Ini sekolah, jangan pakai pakaian yang seksi seperti itu. Kau jangan sok cantik ya" katanya dengan nada sinis. Padahal Hyorin tidak memakai pakaian seksi sama sekali. Dia hanya memakai seragam seperti biasanya.

Kau hanya iri, Noona-_-. Pikir Taemin dan Kibum.

"AISH! Sini, biar aku saja" Kibum mengambil alih karena Hyorin nampak bingung pada sikap Taeyeon. Jika Taeyeon yang mengatakan tujuan mereka, bisa-bisa terjadi pertengkaran disini.

"kami ingin, besok kau masakan sarapan untuk para siswa. Bisa?" kata Kibum.

"oh, baiklah" jawab Hyorin dengan sopan. "memangnya ada acara apa, sonsaengnim?"

"sudah jangan banyak tanya"

"dan kami ingin kau mencampur ini dimakanan mereka" kata Taeyeon sambil menyodorkan botol ramuan yang mereka dapat dari Sunny.

Hyorin nampak shock menatap botol bening itu. "i-itu... apa?" tanyanya.

"kalian ingin meracuni mereka?" tanya Hyorin dengan wajah pucat. "Aku tidak mau! Makanan harus memberikan manfaat. Apalagi makanan yang kumasak. Aku. Tidak. Mau" Hyorin menolak mentah-mentah. Lalu dia pergi meninggalkan ketiga guru itu masuk kedalam dapur.

"heeey!"

Ketiga guru itu mengikuti Hyorin memasuki dapur dengan tergopoh.

"ini demi kebaikan sekolah. Kami mohoooon~" kata Taeyeon. Hyorin memandang sebal pada Taeyeon yang sedang memohon padanya*Tadi marah-marah, sekarang mohon-mohon-_-, piye toh mbake?

"ayolah~"

"Kami mohooon~"

Hyorin menatap geli pada ketiga guru itu yang mulai mengeluarkan air mata*lebay!. "baiklah! Baiklah! Katakan padaku jika benda itu tidak beracun" kata Hyorin sambil menunjuk botol ditangan Kibum.

"siapa bilang ini racun? Ini adalah serum vitamin" kata Kibum meyakinkan meskipun Hyorin menatap tidak percaya padanya. "kau tidak tahu? Dinas pendidikan membagikan satu botol serum vitamin pada setiap sekolah di Seoul"

"Memangnya ada yang seperti itu?" tanya Hyorin. Seingatnya, waktu dia masih sekolah dulu tidak ada pembagian serum vitamin seperti ini.

"iya. Percayalah pada kami. Atau kau ingin kami menelepon Dinas pendidikan agar mereka sendiri yang menjelaskannya padamu?" kata Kibum lagi. Dia menoleh pada Taeyeon yang sedang memelototinya seolah berkata 'bodoh' dan Taemin yang menatapnya dengan tatapan 'apa yang kau katakan?'. Dan dia hanya membalas tatapan mereka dengan 'mari kita berdo'a saja'.

Haah~ Hyorin menghela nafas. "baiklah" katanya sambil mengambil botol itu dari tangan Kibum. Dan ketiga guru itu bersyukur sekali. Terlebih-lebih Kibum yang sebenarnya khawatir kepalanya akan dipenggal oleh Taeyeon.

"kalau sampai terjadi sesuatu. Kalian yang harus bertanggung jawab!"

.

Next Day

.

Semua berjalan sesuai dengan rencana. Suho mempersiapkan semuanya dengan baik. Sekolah sudah bersih dan rapi. Tidak ada cacat sama sekali. Tentu saja bukan kerjaan para siswa, Suho tidak percaya pada mereka. Dia membayar tenaga kebersihan untuk membersihkan dan menata sekolahnya.*Suholangkaya.

Sebenarnya para siswa tidak tahu mengenai penilaian yang akan dilaksanakan hari ini. Dan itu bagus. Dengan begitu maka tidak akan ada yang curiga jika hari ini ada rencana licik dibalik sarapan gratis.

Ya. Hyorin bilang, dia sudah mencampur ramuan jampi-jampi itu kedalam bubur gandum. Bagus! Sekarang tinggal menunggu para siswa datang dan memakan bubur gandum itu.

"HAHAHAHAHAHAHA!" Suho tertawa evil untuk yang pertama kalinya. Membuat beberapa orang menatap aneh sekaligus takut padanya.

"Wah! Ini adalah moment langka, kita harus mengabadikannya" ucap salah satu teman satu organisasi Suho sambil mengarahkan handycam yang dia pegang kearah Suho yang sedang tertawa evil.

Suho(akhirnya) berhenti tertawa karena merasa diawasi dan menatap satu per satu orang yang sedang melihatnya. "Apa yang kalian lihat? Urusi saja urusan kalian!".

"Kau! Siapa yang menyuruhmu membawa handycam ke sekolah, ha?! Cepat serahkan padaku!" dan Suho pun merampas handycam itu tanpa tahu jika didalamnya ada video dirinya yang sedang tertawa. Hahahaha...

.

.

"Lalalalalalala~~"

Kibum terpesona oleh suara Jinki yang sedang bersenandung. Sejak tadi yang da lakukan hanya memandangi Jinki yang sedang memeriksa barang bawaan siswa. Dia bahkan sampai melupakan tugasnya sendiri.

"Cieee~ Ada yang sedang kasmaran"

Kibum menghentikan kegiatan 'tersepona'nya dan menatap pada seorang murid berbadan tinggi dan senyum gigi putihnya yang sudah berdiri dihadapannya.

"apa kau bilang?" tanya Kibum sinis. Dia tahu murid yang satu itu. Park Chanyeol, salah satu murid terbaiknya namun sangat jahil.

"haha"

Lihat kan? Kepada guru sendiri dia berani mentertawai. "Aku lihat ada spanduk sarapan gratis didepan. Apa benar?" tanya Chanyeol.

Wajah sinis Kibum berubah menjadi senyuman. "Ne! Benar sekali!" jawab Kibum dengan semangat. "Kau bisa mendapatkannya dikantin, se-ka-rang." Kata Kibum sambil menghadapkan tubuh Chanyeol kearah dimana kantin sekolah berada.

"Wow! Tidak perlu begitu, sonsanegnim. Kebetulan aku juga belum sarapan. Aku akan pergi kesana" kata Chanyeol. Dia melambai kepada Kibum dengan senyum giginya. Dan kibum membalasnya...

...dengan senyum licik. "HAHAHAHAA!" dan tawa evil. Tidak peduli pada banyak pasang mata yang sedang menatapinya.

"Astaga. Ada apa dengan warga sekolah ini? Kenapa suka sekali tertawa seperti itu?" ucap Minho yang kebetulan berjaga diseberang Kibum dan Jinki.

Dia sudah melihat dua orang yang tertawa menyeramkan sejak pagi tadi. Kim Junmyun, saat dia sedang dalam perjalan menuju gerbang sekolah dan satu lagi Kibum. "mengerikan" gumamnya.

Kibum tidak membalas ucapan Minho sebab Minho tidak tahu apa-apa. beberapa guru yang tidak diberi tahu tentang rencana pagi ini, seperti Minho, Jinki dan Jonghyun. Karena mereka tidak akan bisa diajak bekerja sama untuk hal seperti ini.

.

"Selamat pagi~~"

Taemin yang sedang asyik memeriksa barang bawaan siswa menoleh pada sumber suara. Dan raut wajahnya yang awalnya cerah mendadak suram karena melihat Kim Jongin lah yang menyapanya.

"ne, selamat pagi" Taemin balas menyapa. "buka tas mu" lanjut Taemin.

"tentu, sayaaang~ Apapun untukmu" Jongin menyerahkan tasnya dengan senyuman yang menyebalkan bagi Taemin.

Dia mulai mengobrak-abrik(?) isi tas Jongin. Taemin menaikan satu alisnya lalu menatap Jongin.

"Apa? Kau mulai sadar jika aku tampan?" tanya Jongin dengan bangga. -_-

"Kau tidak membawa majalahmu?" tanya Taemin. Heran. Biasanya majalah dewasa milik Jongin tidak pernah absen dibawa.

"Bukankah kau yang menyuruhku untuk tidak membawanya, manis" jawab Jongin sambil mencolek dagu Taemin. Taemin sudah terbiasa dan yang bisa dia lakukan hanya memasang tampang datar. Jongin selalu saja mengada-ada.

Wajah datar Taemin berubah menjadi tersenyum. Tersenyum jahil.

"Umh, Jongin. Apa kau lihat pemberitahuan didepan? Sekolah sudah menyiapkan sarapan gratis untuk murid-murid" katanya. "Apa kau sudah sarapan?".

"ah, kebetulan sekali aku belum sarapan" jawab Jongin.

"Bagus! Kalau begitu cepat kau kekantin, sebelum kehabisan" ucap Taemin penuh semnagat dan mendorong Jongin.

"aku mau jika kau yang ambilkan untukku". Jongin hendak mencolek dagu Taemin lagi, namun tidak jadi karena dia melihat seseorang yang baru saja memsauki area sekolah.

"Kyungsoo Hyung!" panggilnya. "kemarikan tasku. Aku sarapan bersama Kyungsoo hyung saja" dan dengan tidak sopan dia mencabut(?) tasnya yang masih Taemin pegang lalu berlari pergi.

Tapi Taemin tidak marah. Dia malah tersenyum. "Bagus. Makanlah yang banyak Jongin-ah. HAHAHAHAHAHAHAHAHAH!"

"OMO! Baby? Kau ikut-ikutan juga?" seru Minho tidak percaya. Kekasihnya juga ikut-ikutan tertawa mengerikan seperti Kibum dan Junmyun. "Astaga, ada apa dengan kalian sebenarnya?".

.

"Aish! Sonsaengnim, aku tidak mau! Lepaskan aku!"

Sehun meronta dalam cengkraman tangan Taeyeon. Itu semua salahnya sendiri. Siapa suruh dia kabur dari kantin dan bilang tidak lapar?

"lapar tidak lapar, kalian harus tetap memakan sarapan yang sudah dibuat!" kata Taeyeon sambil terus menyeret Sehun menuju kantin sekolah.

"aku sudah sarapan, sonsaengnim. Astaga!" Sehun tetap berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Taeyeon karena kini mereka sudah hampir memasuki area kantin sekolah. "lagi pula aku harus mengerjakan tugas matematika, bisa mati aku kalau harus dihukum berdiri dipojok kelas"

"APA? Jadi kau belum mengerjakan tugas yang kuberikan?"

SREEEET~

"Dasar anak nakal-_-"

Sehun memegangi telinganya yang dijewer oleh Kibum yang ternyata sudah berdiri didekat pintu masuk kantin. Kini, selain tangannya diditarik oleh Taeyeon sonsaengnim, telinganya pun juga ditarik oleh Kibum sonsaengnim.

Mereka berdua membawa Sehun menuju tengah-tengah kantin dan menyuruhnya duduk disalah satu meja.

"Kalian berdua, jaga dia. Jangan sampai kabur" kata Taeyeon sambil menunjuk dua murid yang duduk dimeja itu(lebih tepatnya, Sehun sedang membelakangi mereka sekarang). "aku akan segera kembali"lanjutnya.

Taeyeon sonsaengnim dan Kibum sonsanegnim pun akhirnya pergi. Sehun bernafas lega dan mulai bangkit dari duduknya, namun seseorang menahannya.

"Mau kemana kau? Kau tidak boleh pergi"

Tubuh Sehun menegang. Dia mengenal suara itu walaupun tidak melihat siapa yang bicara. Dan Sehun berharap dia salah, jika orang itu benar-benar seperti yang ada dipikirannya.

Dia berbalik untuk menatap dua orang yang sedari tadi dia belakangi itu. Dan Sehun memang benar-benar mengenal dan Jung Daehyun.

Sial-_-

"aku tidak pergi. Aku mau pindah tempat" Sehun beralasan. Dan seandainya dia tidak sedang beralasan untuk kabur, dia tetap tidak mau duduk didekat dua orang ini. Kalian tahu sendiri apa yang terjadi diantara mereka.

Sehun menyingkirkan tangan Youngjae yang sedang menarik seragamnya itu dan pergi tanpa permisi. Dia tidak ingin berlama-lama berada dikantin. Menurutnya atmosfer dikantin saat ini sangat mencurigakan. Sehun berjalan cepat, perasaannya tidak enak. Entahlah, feelingnya mengatakan padanya untuk segera keluar dari kantin.

SRET~

Lagi-lagi seseorang menarik tangannya. Lama-lama bisa copot juga tangannya. Haha..

"Hey, kawan! Kau mau kemana?"

Ternyata Jongin. Dia menarik Sehun duduk disebelahnya dan merangkul bahu Sehun. "akhir-akhir ini aku jarang melihatmu. Kau kemana saja?"

Sehun memasang tampang malas. "bukankah kau yang menghilang? Kau terus-terusan menghampiri sunbae itu, siapa namanya? Kyung...? Kyung... ?"

"Apa panggil-panggil namaku?"

Sehun dan Jongin menoleh dan mendapati seseorang yang sedang duduk tepat dibelakang mereka. Itu anak kelas dua yang sering dipanggil 'timun' oleh teman-temannya. Park Kyung. Dia juga salah satu anak yang sering dihukum bersama dengan Jongin dan Sehun. Bukan karena membolos, tapi karena dia suka sekali web surfing ketika sedang pelajaran.

"Tidak, tidak ada apa-apa" jawab Jongin dan Sehun bersamaan.

"Namanya Do Kyungsoo" kata Jongin pada Sehun.

"Hey! Namaku Park Kyung!" Protes Si Timun-umh-maksudku, Kyung.

"Kami tidak sedang membicarakanmu -_-" kata mereka bersama-sama. Waah, sahabat yang kompak~^^. Dan Park Kyung hanya ber'oh' dan kembali menghadap kearah yang benar(?).

"Jongin~"

Wajah Jongin berubah cerah sampai warna keempat, seperti habis memakai pelembab wajah multivitamin ABCD(1,2,3,4! 1,2,3,4! *korban Iklan)*plak!. Sehun sampai mual melihatnya. Ternyata, namja yang sedang mereka bicarakan itu datang dengan dua mangkuk bubur gandum dengan banyak buah diatasnya.

"oh? Ada temanmu juga. Aku hanya bawa dua" kata Kyungsoo sambil mengambil duduk disamping Jongin. Jadi Jongin sedang berada diantara Sehun dan Kyungoo.

"Gwaenchanha, Hyung. Aku sudah sarapan dirumah" jawab Sehun dan dijawab senyum manis oleh kekasih Jongin itu.

Sehun lebih memilih menatap berkeliling sekitar kantin dari pada melihat Jongin yang mulai genit pada Kyungsoo. Tak jauh dari tempatnya duduk ada Luhan yang sedang menguap sambil menutupi mulutnya dengan satu tangan. Sehun terkekeh dan tanpa sadar dia berpikir bahwa Luhan sangan lucu saat menguap.

Dia beralih pada teman sekelasnya, Zelo yang sedang tidur diatas meja berhadap-hadapan dengan wajah Jongup yang juga sedang tidur diatas meja. Sehun tertawa dalam hati, apa sekiranya yang mereka lakukan bersama tadi malam hingga bisa tertidur bersama seperti itu. "pasangan baru" gumamnya.

Lalu dia tak sengaja melihat Jung Daehyun yang sedang menguap juga sambil menepuk-nepuk pipi Youngjae yang sedang tertidur diatas meja. Sehun merasa ada yang aneh dikantin ini. Dia kembali menatap Luhan yang ternyata sudah tertidur.

Lalu dia menengok kebelakang, dimana Park Kyung yang sempat berbicara dengannya tadi berada. Dan membuatnya semakin bergidik karena Kyung juga sudah tertidur.

"ada apa ini?" gumamnya.

DUK!

Sehun terkejut mendengarnya. Suara itu berasal dari dekatnya, dan betapa terkejutnya dia saat melihat Jongin dan Kyungsoo sudah tertidur.

"ada yang tidak beres" gumam Sehun panik. "Sudah kuduga, ada yang aneh dengan kantin hari ini" ucapnya dengan jantung yang berdegup kencang. Sejak awal memasuki kantin, perasaan sehun memang tidak nyaman.

Tap! Tap! Tap!

Mendengar suara langkah kaki, Sehun memutuskan untuk ikut membaringkan kepalanya diatas meja dan memejamkan saat mendengar langkah sepatu yang semakin dekat. Dia yakin sekali jika itu adalah suara sepatu hak tinggi Taeyeon sonsaengnim.

Langkah kaki itu semakin terdengar jelas dan terasa semakin mendekat dan pada akhirnya berhenti. Sehun bisa mencium dengan jelas aroma parfum milik Taeyeon sonsaengnim.

"huh! Dasar. Dia bilang tadi tidak mau. Ternyata dimakan juga"

Sehun merasa kepalanya dijitak pelan, dan dia yakin sekali jika Taeyeon sonsaengnim yang melakukannya.

"sudah semuanya. Sekarang tinggal panggil yang lainnya"

Tap! Tap! Tap!

Suara sepatu Taeyeon terdengar semakin menjauh. Ini kesempatan yang bagus. Sehun sedikit membuka matanya, dia ingin mengintip keadaan sekitar. Ternyata semua ini sudah direncanakan? Pantas Sehun merasa ada yang tidak beres saat Taeyeon sonsanegnim memaksanya untuk sarapan dikantin. "ternyata bubur itu penyebabnya" gumam Sehun.

Satu-satunya yang bisa dia lihat adalah kepala berambut Jongin. "Yah" bisik sehun sambil menginjak kaki Jongin. Tentu dia tidak ingin ketahuan jika dialah satu-satunya orang yang tidak memakan bubur gandum itu.

"Jongin, irreo-". Sehun buru-buru membungkam mulutnya dan kembali memejamkan mata. Dia mendengar langkah kaki dan suara percakapan dari beberapa orang. Dan salah satunya, dia bisa dengar suara Kim Junmyun. Dia hafal sekali suara si tukang ceramah itu.

"Uwah? Ramuan itu benar-benar bekerja?"

Suara Kim Junmyun terdengar sangat senang. Ramuan? Jadi semua ini ulah dia!.

.

"Astaga! Apa yang kalian lakukan pada mereka?!" tanya Minho.

"adik-adikku juga kalian racuni?" tanya Jonghyun dengan tampang tak terima. "Jongin!" Dia menggoyang-goyangkan tubuh Jongin. Namun Jongin tidak bangun, lalu dia berjalan cepat kearah Jongdae dan menggoyang-goyang tubuh Jongdae, "Jongdae!" panggilnya.

Jinki yang hendak membuka mulut untuk bertanya sudah lebih dulu di'stop' oleh Kibum. "kau jangan bertanya. Ini semua demi kebaikan mereka dan sekolah" kata Kibum.

"Yah! Awas kalau terjadi sesuatu pada mereka, aku akan menuntut kalian!" kata Jonghyun karena Jongdae adiknya juga tidak kunjung bangun meskipun dia sudah mencabut satu rambut Jongdae.

"tenanglah, ini hanya..." Taeyeon mencoba menjelaskan. Namun Jonghyun menyela dengan berteriak histeris.

"AAAAAA! Apa yang harus ku jelaskan jika orang tuaku menanyakan mereka!?"

"Jangan khawatir Jonghyun-ssi, ini hanya..." Taeyeon kembali disela oleh Jonghyun.

"Jongin... Jongdae... Jangan tinggalkan aku..." Jongin mulai menangis.

"Jonghyun-ssi..."

"huhuhu... Jongin, nanti siapa yang akan mencucikan pakaian dan merapikan kamarku?" Jonghyun menangis sedih. "Jongdae, kau belum bayar hutang lima ratus ribumu. Huhuhu T.T"

Krik. Krik. Krik. Krik.

"Sudahlah, ayo kita lanjutkan saja rencananya" ucap Taeyeon.

.

.

Boa berjalan memasuki area sekolah dengan langkah tidak semangat. Sungguh, seandainya dia bisa ijin tidak masuk kerja hari ini, dia akan segera melakukannya. Namun tidak bisa, dia sudah seminggu tidak hadir disekolah. Dia hanya tidak bisa, bahkan tidak sanggup jika harus melihat murid-muridnya membuat onar dihari penilaian ini.

Sejauh kaki melangkah, Boa merasakan atmosfer yang berbeda pada sekolahnya. Boa menengok kekiri dan kekanan dengan tidak semangat.

"Ini terlalu sepi" gumamnya. "Ya, biarkan saja. Mungkin mereka terlambat atau bahkan bolos sekolah" Boa terus bergumam sepanjang perjalanannya melewati halaman sekolah hingga dia mulai menginjakkan kakinya dikoridor sekolah.

"Biarkan saja, lebih baik jika mereka tidak masuk sekolah" gumaman Boa masih berlanjut. "Tapi bagaimana sekolah ini bisa dinilai jika tidak ada muridnya?! Oh Ya Tuhan!" Boa menggeram frustasi dengan suara pelan.

Boa terus berjalan melewati kelas-kelas dilantai dasar. Tanpa sengaja, Boa melihat suasana yang aneh pada kelas-kelas dilantai dasar. Semua siswa dikelas itu sedang belajar dengan tertib dan tenang. Sangat-sangat tenang.

Huh?

Boa menegakkan kepalanya yang sedari tadi dia tundukkan itu. Masih sambil berjalan, Boa menatap setiap kelas yang dia lewati.

Suasana yang tenang, tertib dan rapi pada setiap kelas. Semua murid duduk dan memperhatikan guru yang sedang menjelaskan didepan papan tulis. Boa hanya menatap datar setiap kelas hingga dia sampai pada tangga.

"Mereka gila" gumamnya sebelum mulai menaiki anak tangga. "mungkin aku hanya berhalusinasi" lanjutnya.

"..juara.."

"..tidak juara.."

"..juara.."

Boa menghitung setiap anak tangga yang diinjak untuk menentukan nasibnya sendiri, apakah dia akan juara atau tidak. Boa terus menghitung hingga anak tangga terakhir dan dia tiba dilantai dua, dimana ruangannya berada.

"..tidak juara.."

"..juara.."

Boa membulatkan matanya lalu menatap turun kebawah anak-anak tangga yang sudah dia lewati tadi. Setiap tahun dia melakukan itu untuk menentukan nasibnya tapi selalu mendapat 'tidak juara'.

"Apa aku melewatkan satu anak tangga?"

.

Ditengah keheninghan yang (tumben) terjadi di TSM School. Nampak sebuah Limousine hitam mengkilat melaju diluar area sekolah.

Dengan mulus dan tanpa suara, mobil mewah itu berbelok memasuki gerbang sekolah. Hingga tidak ada yang menyadari keberadaannya. Tidak ada yang tahu , kecuali Sang Gyojangnim yang sedari tadi sedang menatap keluar jendela. Dan dia semaki kalut karena kehadiran mobil mewah itu.

"Omoͺ itu pasti mereka" ucapnya panik sambil menggigiti kuku ibu jarinya. "bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Astaga, kakiku gemetaran"

Sementara itu. Mobil mewah hitam itu terus melaju. Semakin lama semakin mendekat pada pintu masuk sekolah, namun...

CIIIIIT

BRUM

JSSSSSSSSHHHJ!

Mobil itu berhenti berjalan dan mengeluarkan asap dari kap mesinnya. Disusul dengan keributan dari dalam mobil.

"Aish! Pak supir ini bagaimana?!"

"Ma-maafkan saya nona"

"Kyaaaa! Poniku berantakan!"

"Eonnie, kau menginjak kakiku!"

"softlensku jatuh T^T"

"apa yang terjadi? kalian siapa? aku siapa? dimama ini? "-_-

"blahblahblahblablah~~~~"

Boa jadi ragu dengan orang-orang yang berada didalam mobil itu adalah para Tim Penilai yang akan menilai sekolahnya. Namun keraguan itu hilang saat penumpang mobil itu keluar satu per satu.

Lima orang wanita dengan pakaian serba hitam dengan style yang berbeda-beda yang menurut Boa sangat-sangat keren. Mungkin empat, karena yang satu nampak seperti laki-laki.

Mereka berjalan menuju pintu masuk sekolah dengan langkah serempak. Seperti gerakan slow motion dimata Boa. Mereka benar-benar sempurna dan penuh kharisma. Tidak salah lagi, mereka adalah para Tim Penilai yang akan menilai sekolahnya-

BRUK!

Salah satu diantara mereka yang berkulit paling putih terjatuh entah karena apa.

"HUWEEEEEE~ T^T"

-Entahlah, Boa tidak sepenuhnya yakin pada mereka.

.

.

"Kami berlima adalah Tim Penilai yang baru yang dikirim oleh dinas pendidikan untuk menilai TSM School"

Saat ini kelima orang tim penilai itu sudah duduk didalam ruangan Boa. Benar. Sebelumnya memang bukan mereka yang mengunjungi sekolahnya untuk menilai. Boa duduk dimejanya dengan gemetaran.

Kalau tim penilai yang dulu saja TSM selalu gagal mendapat juara, bagaimana sekarang dengan tim penilai yang baru. Bisa-bisa TSM tidak dapat juara tiga belas lagi. Atau lebih parahnya lagi, dia akan tersingkir tanpa dipertimbangkan.

"kami akan menilai setiap tempat disekolah ini dengan ditemani oleh seorang guru sebagai pemandu kami"

"Baik. Kami sudah menyiapkan seorang guru untuk menemani Tim penilai berkeliling. Dia akan segera datang"

"baik. Terima kasih" jawaban singkat dari salah satu dengan rambut berponi. Membuat Boa gugup dan berkeringat saja.

"umh, a-apa mau kupesankan minuman?" tanya Boa.

"Tidak perlu"

GLUP!

Jawaban singkat itu sudah cukup membuat Boa diam. Benar-benar tidak berperasaan. Boa yakin akan kalah telak tahun ini.

Ruangan menjadi hening dan canggung. Boa ingin mati saja rasanya. Lebih baik dia menangani puluhan siswa bermasalah dari pada harus duduk bersama dengan orang-orang yang membuatnya mati kutu seperti saat ini. Dia harus mengatakan sesuatu untuk mencairkan suasana,

"uhm, tim penilai yang sebelumnya selalu terdiri dari lima orang yeoja. Belum pernah ada yang namja seperti sekarang" kata Boa.

"maaf, tapi aku ini yeoja" ucap penilai yang berpakaian seperti pria itu.

"oh? M-maaf. Saya kira anda... maafkan aku"

Apakah ada jurang disekitar sini? Boa ingin sekali terjun kebawahnya. Benar-benar MEMALUKAN.

"Ngomong-ngomong, softlensmu bagus..Amber-ssi" lanjut Boa sambil membaca tag name namja-maksudnya-yeoja itu. Dia melihat yeoja bernama Amber itu menggunakan satu soflens warna biru pada mata kirinya dan warna coklat dimata kanannya.

"benarkah?" jawab Amber. "Yaa, walau agak aneh karena warnanya tidak sama tapi ini trend terbaru tahun ini" lanjutnya dengan wajah bangga.

"oh, benarkah?" Boa merespon antusias. Dia kira dirinya harus loncat kedalam jurang karena malu. Dia tertolong. Terima kasih kepada softlens trend terbaru milik Amber-ssi.

"Apanya yang trend terbaru?"

"eh?" Boa menatap pada sumber suara. Keempat oeang lainnya sedang menatapi Amber-ssi dengan tatapan mengejek.

"katakan saja jika softlensmu jatuh dimobil"

"Ya, dan tidak sengajak diinjak oleh Luna eonni hingga rusak"

"Trend terbaru ya? Hmmpphhfff..."

"HAHAHAHAHAHAHA"

Mereka semua meledak tertawa dan terus mem-Bully Amber-ssi. Sedangkan Boa hanya bisa mematung ditempatnya.

"Ibu kepala sekolah, anda tahu" seorang yeoja berambut panjang dan berwarna merah menyenggol lengan Boa. "tadi dia menangisi softlensnya yang jatuh itu"

"Ya, anda harus lihat wajahnya. Lucu sekali. Hahahaha.."

"Hey!-Jangan dengarkan mereka Ibu kepala sekolah. Itu tidak benar" kata Amber-ssi membela diri. "awas kalian nanti ya!"

Boa hanya bisa diam dengan mulut sedikit terbuka. Dia tidak percaya, kantornya kini ramai dengan aksi pem-bullyan(?). Padahal awalnya Boa ingin lompat ke jurang karena sikap mereka yang dingin. Tapi ini..ah sudahlah :v

TOK TOK

Pintu kantor Boa terbuka dan nampak sosok Taeyeon disana. Dan saat itu pula ruangan langsung hening. Hebat..

"Selamat pagi, maaf aku terlambat" Taeyeon mendekati semua orang yang sedang duduk ditengah ruangan itu.

"Tidak apa-apa. Baiklah, kalau begitu kita mulai sekarang saja" kata ketua pengawas. "Ibu kepala sekolah, kami permisi dulu" katanya. Lalu pergilah mereka semua keluar dari ruangan Boa.

Ruangan menjadi sunyi, akhirnya Boa sadar dari lamunannya dan baru menyadari jika ruangan sudah kosong. Dia bergegas menuju meja kerjanya dan memutuskan untuk menyibukkan pikirannya.

.

"Jadi, anak-anak...blablablabla..."

Sehun merasakan tangan dan kakinya kesemutan. Heran, bagaimana bisa semua siswa disini menatap lurus kearah Taemin sonsaengnim yang sedang bicara didepan. Tanpa mengalihkan pandangan kearah lain? Damn! Sehun ingin buang air kecil karenanya.

Sehun ingin mengangkat tangannya untuk minta ijin. Tapi sejauh ini belum ada satu pun siswa dikelas yang mengacungkan tangannya untuk minta ijin. Jangankan mengacungkan tangan, bicara saja TIDAK ADA SATU PUN. Mereka semua duduk rapi dengan tangan terlipat manis diatas meja. Bahkan Jongin pun sama tertibnya dengan murid lain.

Oh tidak, dia hampir ngompol.

"S..s-s-songsaengnim..."

Taemin berhenti mengoceh dan mulai memperhatikan satu muridnya yang nampak aneh, "Ya, Oh sehun?" katanya dengan dahi berkerut heran.

"Aku.. ingin ke toilet"

Taemin terdiam menatapi Sehun untuk beberapa saat. Sepertinya berpikir. Dan Sehun masih memasang wajah patuh(?) seperti teman-temannya. Berusaha. Dia juga berdoa agar Taemin tidak menaruh curiga padanya walaupun dia memang mencurigakan.

"biklah. 5 menit" kata Taemin akhirnya.

Sehun segera bangkit dari duduknya dan berjalan cepat keluar kelas. Walaupun kakinya masih kesemutan dia tetap memaksa berjalan cepat. Hasrat ini sudah tidak bisa ditahan! ;A;

.

"Hoaaaaaam..."

Taeyeon yang berjalan didepan untuk memimpin Tim penilai pun membulatkan mata. Dia baru saja mendengar seseorang menguap. Jangan bilang jika...

"Ini membosankan"

"Ya, tidak ada yang menarik"

"Satu jam lagi. Kenapa lama sekali?!"

"Aku ingin pulaaaaang.."

Sudah satu jam mereka berkeliling dan mengunjungi setiap tempat disekolah ini. Taeyeon kira mereka akan berhasil karena dari tadi tidak ada yang mengeluh. Namun sepertinya itu tidak mungkin karena baru saja dia mendengar beberapa KELUHAN.

Ini gawat. Ini tidak boleh terjadi. Aku harus berbuat sesuatu atau semua rencana ini akan sia-sia. Tapi bagaimana caranya. Ayo Taeyeon, berpikirlah lebih keras lagi. Berpikir.. Berpikir.. Berpikir.. AHA!

Taeyeon menjentikkan jari lalu berbalik pada para Tim penilai yang berjalan dibelakangnnya. "Loh? Mereka kemana?" Taeyeon tidak mendapati kelima wanita itu dibelakangnya. "Nona-nona..?"

.

Setelah selesai dengan 'urusan'nya. Sehun memutuskan untuk tetap tinggal didalam toilet(lebih tepatnya dia masuk kesalah satu bilik dan duduk diatas closet).

Dia sedang memikirkan cara untuk membuat teman-temannya sadar kembali. Tidak. Sebenarnya dia malas kembali ke kelas yang membosankan itu. Tidak. Sebenarnya dia takut ketahuan. Tidak. Baiklah, semuanya itu benar.

Sehun takut ketahuan.

Tapi, memang apa yang akan mereka lakukan jika mereka tahu jika Sehun adalah satu-satunya siswa yang masih sadar?

"hhhh~" Sehun menghela nafas sambil menopang gadunya dengan tangan yang bertumpu pada lutut.

Tiba-tiba dia tersentak. Sehun mendengar ada suara langkah sepatu. Suasana sekolah yang sepi ini membuat suara itu terdengar sangat jelas ditelinga Sehun.

Ini aneh. Semua siswa sedang serius memperhatikan guru mereka dikelas. Lalu siapa yang sedang berada didalam toilet siswa?

Sehun menutup mulutnya yang hampir berteriak dengan kedua tangan. Jangan bilang orang itu adalah Kim Junmyun dia masih sama sadarnya dengan Sehun. Oh tidak! Sehun buru-buru mengangkat kakinya supaya tak telihat dari luar. Tapi Junmyun tidak pernah meninggalkan kelasnya selain pada jam istirahat. Jangan-jangan itu Taemin yang sedang mencarinya!

Terdengar suara keran yang terbuka. Sepertinya orang itu sedang mencuci tangan. Sehun berinisiatif untuk mengintip.

Dia membuka sedikit pintu biliknya dengan hati-hati. Hatinya mencelos melihat seseorang yang sedang berdiri di depan wastafel sana.

"..tidak mungkin.."

Tanpa membuang waktu lagi, Sehun langsung membuka pintu dan menghampiri orang tersebut yang hendak keluar dari toilet. "t-tunggu!.."

Sehun segera menghentikan langkah orang itu dengan menahan lengannya. "..Luhan hyung. Apa yang kau lakukan disini?"

Orang yang ternyata Luhan itu menatap Sehun dnegan tatapan polos dan tidak mengerti. "..Bagaimana bisa?" tanya Sehun lagi. Dan dia masih saja diberi attapan yang sama.

"bagaimana caranya menyadarkan dia..?" gumam Sehun.

"Hyung.." panggil Sehun sambil menggerak-gerakkan tangan Luhan. Dia merasa aneh sekali ditatap seperti itu oleh Luhan. Biasanya Luhan selalu menatapnya dengan senyuman.

Sehun tersentak teringat akan sesuatu. Adik sepupunya. Gadis kecil itu selalu bercerita tentang putri yang cantik yang tertidur dan seorang pangeran tampan yang menciumnya dengan ciuman cinta sejati. Dan Sehun selalu mengejeknya dan berkata tidak percaya karena hal itu tidak lebih dari sebuah dongeng belaka.

Lalu dia menatap Luhan. Sepertinya hal itu-ciuman cinta sejati-perlu dicoba. Karena Luhan nampak dia sehat jika dalam keadaan seperti ini.

Apa itu akan berhasil padanya?

"hyung.. Jangan berpikiran buruk. Aku hanya ingin menolongmu karena.. karena kau terlihat aneh jika seperti ini. Aku hanya... aish!" Merasa terlalu lama bicara, Sehun langsung mendaratkan sebuah ciuman tepat dibibir Luhan.

CHU~

"hyung? Kau sudah sadar?" Sehun melepaskan ciumannya dan menatap kembali pada Luhan. Nampaknya tidak ada yang berubah, Luhan masih menatapnya dengan tatapan kosong.

CHU~

Sehun kembali mencium Luhan. Namun tidak ada tanda-tanda kesadaran. Luhan masih sama linglungnya seperti tadi.

CHU

CHU

CHU

CHU

CHUUUUUUUUU~~~~~

Sehun memberikan ciuman bertubi-tubi dan mencium Luhan lama di ciuman terkahirnya. "Hyung.. Kau masih tidak sadar juga?"

"Sepertinya sia-sia saja" gumam Sehun lalu menunduk.

"WOOOOW!"

"eh?" Sehun menatap pada sumber suara. Dan suara itu adalah milik.. "Luhan hyung! Kau sudah sadar?" ucap Sehun antara senang dan tidak percaya.

"Woow, kau menciumku?" ucap Luhan dengan tatapan yang sama seperti saat dia belum sadar "enam kali? *0*"

"a-aku.. i-itu, itu hanya..." Sehun menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal. "aku tadi sudah minta ijin padamu" Sehun mengelak.

"benarkah?" tanya Luhan polos. "tidak ijin juga tidak apa-apa. Hehe.."

"Apa?" Sehun mengangkat satu alisnya sebelum Luhan menerjangnya hingga jatuh kelantai toilet siswa dan memeluknya seperti sebuah boneka beruang besar.

Sehun mulai memutar drama didalam otaknya, dimana dia adalah sang pangeran yang telah membuat putri Luhan sadar dari tidurnya.

Tapi jika dia pangerannya, apakah dia harus mencium semua 'putri' disekolah ini supaya mereka sadar? Oh no..

.

Himchan melepaskan earphone yang ada terpasang ditelinga kirinya lalu mengangkat kepalanya dari bahu Yongguk. "Cuma perasaanku saja atau sekolah ini memang sepi?", katanya.

Saat ini, dirinya dan Yongguk sedang berbaring dan memejamkan mata dibawah pohon dihalaman belakang sekolah. Dia heran sejak tadi pagi dia datang kesekolah, suasana sangat sepi. Himchan pikir dia datang terlalu pagi karena dia tidak melihat satu orangpun disana, maka dari itu dia memutuskan untuk kehalaman belakang. Dan tidak disangka ternyata Yongguk sudah ada disana. Wah, Jackpot :p

Dia menatap namja tampan disampingnya itu. "Hey, Yonggukkie?"

Himchan berdecak kesal karena tidak mendapat respon apa-apa dari Yongguk. Himchan yakin sekali jika Yongguk sedang tidur. "Dasar tukang tidur -_-".

Dia memutuskan untuk kembali memakai earphonenya dan kembali menyandarkan kepalanya pada bahu Yongguk.

Tiba-tiba terdengar suara Yongguk berkata dnegan suara khas orang bangun tidurnya, "hanya perasaanku saja, atau sekolah ini memang sepi?"

Himchan sweatdroped mendengarnya, "sudah, sudah. Kembali tidur saja -_-" jawabnya sambil menutup wajah Yongguk dengan tangannya.

Tanpa mereka sadari, ada dua orang yang sejak tadi sibuk mengabadikan moment kebersamaan mereka berdua.

"wow, ini benar-benar fantastis!"

"Ya. Tapi lebih baik kita segera pergi sebelum ada yang curiga".

.

.

Hyorin meletakkan lima gelas jus berwarna merah muda diatas meja kantin "silahkan.. ini adalah jus strawberry ala koki sekolah Hyorin. Sehat, manis tanpa pemanis buatan, dan yang penting tanpa serum apapun" kata Hyorin dengan kesal. Dia sudah diberi tahu, serum macam apa yang sudah dia campurkan kedalam bubur untuk sarapan itu. "Dasar penipu!" umpatnya. Dia kesal karena dibohongi.

. "tanpa serum?" tanya salah satunya yang memiliki style seperti seorang namja sambil mengaduk-aduk jusnya dengan sedotan.

"aneh" ucap salah satu wanita pemensan itu lalu meminum jus pesanannya.

"memang" sahut yang lainnya.

Baiklah, aku sedikit kesulitan untuk menjelaskan sosok mereka. Mari kita sebut kedua wanita itu dengan, Victoria dan Amber.

Kedua inspektor ini dilanda bosan saat sedang bertugas. Menurut mereka, sekolah yang sedang mereka inspeksi ini terlalu sempurna. Mereka sudah tau harus memberi nilai apa. Jadi mereka memutuskan untuk duduk dikantin dan memesan minuman sambil menunggu dua rekan mereka yang hilang entah dimana. Mungkin tersesat disekolah ini.

"ini membosankan. Semua siswa hanya duduk dan fokus pada guru mereka" keluh Victoria.

"ya, dan saat aku memberikan sebuah pertanyaan pada salah satu siswa. Dia tidak menjawab dan hanya diam saja. Aneh sekali" tambah Amber lalu kembali meminum jusnya.

Tap! Tap! Tap!

Sebuah suara langkah kaki mengalihkan perhatian mereka. Terlihat dikejauhan, salah satu seorang rekan mereka sedang berlari dengan wajah bersemangat menuju tempat dimana mereka duduk.

Victoria dan Amber menahan nafas melihat kecepatan lari rekannya yang bernama Luna itu. Ditambah lagi dia memasang tampang tersenyum yang aneh sambil melambai-lambaikan tangannya yang sedang memegang ponselnya.

"EONNI!"

Dari arah yang berbeda, muncul dua orang teman mereka yang juga sedang berlari dengan kecepatan maximum. Victoria dan Amber seolah ingin berteriak 'Awas!' pada ketiga teman mereka itu agar tidak saling menabrak. Namun.. Jangankan berteriak, melihat pemandangan itu saja membuat mereka sulit bernafas.

Akhirnya, apa yang dikhawatirkan Victoria dan Amber pun terjadi. Mereka bertiga saling bertabrakan dan jatuh saling menindih. Padahal jarak hanya tinggal satu meter dari tempat duduk Victoria dan Amber. Ponsel Luna pun sampai terlepas dari genggaman tangannya. Bagai dalam mode slow motion, kelima wanita itu bisa melihat bagaimana ponsel itu melayang diatas dan melewati Victoria dan Amber, dan...

BYUR!

Masuk kedalam panci berisi menu makan siang buatan Hyorin yang baru saja mendidih.

Senyap beberapa detik dan semua pandangan tertuju pada panci yang tak berdosa-yang tak sengaja menelan sebuah ponsel-sebelum Luna berteriak, "AAAAAAAAAAAAAAA!"

Disusul oleh Hyorin yang akhirnya sadar bahwa masakannya sudah terkontaminasi, "AAAAAAAAAAAAAAA!"

Dan tak lupa, Taeyeon yang terkejut mendengar teriakan-teriakan itu saat memasuki kantin. "AAAAAAAAAAAAAAA!" *Oke sip. Main vocal teriak semua :3

"AAAAAAAAAAAAAAA! Ponselku ㅠ.ㅠ"

"AAAAAAAAAAAAAAA! Sotoku ㅠ.ㅠ"

"AAAAAAAAAAAAAAAda apa ini? :3"

Luna buru-buru bangkit dari posisinya dan segera berlari mendekati dimana panci itu berada. "ponselnya! Cepat ambil ponselnya!" katanya pada Hyorin dengan panik.

Dan dengan panik juga, Hyorin mengaduk-aduk masakannya untuk mengambil ponsel tersebut. Dan saat dia merasakan sebuah benda yang berat dan keras tersentuh oleh sendoknya, dia langsung mengangkatnya hingga akhirnya ponsel itu muncul kepermukaan.

Dengan penuh pemaksaan, Luna mengambil ponselnya itu dengan tangan meskipun tangannya kepanasan. *nampaknya ponselnya jauh lebih penting dari tangannya -_-

"tunggu.." Luna menatap pada sumber suara, yaitu Hyorin. "untuk apa aku membantumu. Jelas-jelas kau sudah membuat sotoku terkontaminasi dengan ponselmu" kata Hyorin. Wajahnya yang awalnya bingung, lama-kelamaan meerengut menjadi wajah kesal.

"YAH! KAU HARUS BERTANGGUNG-HEY! JANGAN KABUR KALIAN! KEMBALI!"

Terlambat. Luna dan keempat temannya bahkan Taeyeon sudah lari dari area kantin. Tidak ada yang lebih mengerikan dari pada koki sekolah yang marah. Bisa-bisa ada panci melayang kalau tidak segera kabur.

.

"hiks.. ponselku" Luna meratapi nasibnya. Pasalnya, ponselnya sudah mati TOTAL.

"sudahlah. Aku akan belikan yang baru untukmu" kata Victora. Dia sudah bosan mendengarkan Luna menangisi ponselnya yang sudah mati itu.

"Kau tidak mengerti, eonnie. Didalam ponselku ada ..."

.

.

.

"Terima kasih atas kerja samanya. Kami permisi dulu"

"Sama-sama. Terima kasih sudah menyempatkan waktu. Mari saya antar" ucap Boa.

Kelima inspektur itu nampak murung. Entah apa yang terjadi selama penilaian tadi. Boa hanya berharap, sekolahnya memberi kesan yang baik supaya mereka bisa mendapat nilai yang baik.

Boa mengantarkan mereka hingga mereka masuk kedalam mobil. Dan salah satu dari mereka, sepertinya yang tertua berhenti dan menoleh pada Boa.

"Satu lagi, bu kepala sekolah. Sekolah ini butuh suasana baru" katanya sambil memandangi sekolah itu. "disini membosankan" lanjutnya sebelum benar-benar masuk kedalam mobil.

Bagai tertimpa batu yang besar. Kepala Boa mendadak berdenyut tidak nyaman. Setelah melambaikan tangan dan memastikan mobil hitam itu menghilang bersama kelima wanita itu. Boa memutuskan untuk kembali kekantornya.

Dia sudah tahu. Tahun ini tidak akan ada harapan bagi sekolahnya untuk naik satu peringkat saja.

.

SEMENTARA ITU...

SREET

Muncul kepala dari balik Tembok*awalan yang buruk -_-

Baiklah. Itu kepala Sehun. Dia sedang melihat situasi sekitar, apakah aman atau tidak. Disusul oleh satu kepala lagi yang muncul dibawah kepala Sehun. Luhan.

Mereka mempunyai misi untuk menyelamatkan teman-teman mereka dari kutukan-maksudnya-entah apa, yang jelas sesuatu yang membuat teman-teman mereka seperti terhipnotis.

Luhan bilang bahwa Sehun harus mencium semua murid disekolah ini. Yang benar saja, bisa dower bibirku nanti. Itu adalah kalimat yang Sehun ucapkan saat berunding dengan Luhan di toilet tadi. Namun karena bukti, bahwa pangeran Sehun berhasil menyadarkan Putri Luhan dengan ciuman. Luhan terus memaksa Sehun agar mau melakukannya. Ayolah, Sehun. Demi teman-teman. Meskipun kita semua tahu, Luhan tidak benar-benar rela jika harus melihat Sehun mencium orang lain.

Akhirnya, dengan terpaksa Sehun menurut. Tapi mereka ingin mencoba dulu untuk menyelamatkan sesorang. Seseorang yang nggak banget untuk Sehun cium(menurut Sehun sendiri). Kim Jongin. Tapi Sehun berpikir jika Jongin akan berguna untuk membantu mereka nantinya.

Merasa situasi aman. Sehun dan Luhan buru-buru berlari menyusuri lorong sekolah. Sebisa mungkin mereka tidak menimbulkan suara. Sehun melakukan roll dilantai untuk efek dramatis*-_-. Diikuti oleh luhan yang melakukan hal sama dibelakang Sehun. Sepertinya mereka sangat menjiwai misi ini. Berjalan mengendap-endap dan bersembunyi di balik semak-semak jika ada seseorang yang lewat. Mendaki gunung, lewati lembah. Sungai mengalir indah kesamudera. Bersama teman berpetualang*plak!

Dan akhirnya mereka sampai didepan kelas Sehun. Sekali lagi, mereka mengintip kedalam sebelum memutuskan masuk kesana. Nampaknya tidak ada guru didalam kelas itu, itu berarti situasi aman. Dan mereka masuk.

Semua siswa disana nampak linglung ditempat duduk mereka. Luhan tidak percaya, sebelumnya dia juga bernasib seperti semua murid dikelas itu. Untung saja Sehun segera menolongnya.

"hyung"

Luhan tersadar saat mendengar panggilan Sehun, dan dia segera menghampiri Sehun yang sedang berdiri disamping meja salah satu murid. Mungkin murid itu adalah Kim Jongin yang dimaksud oleh Sehun.

Sehun sedang memandangi Jongin dengan tatapan tidak yakin dalam waktu yang lama.

"Tunggu apalagi? Ayo cepat, cium dia" kata Luhan.

"Aku harus siap mental untuk itu, hyung" kata Sehun. "ini tidak semudah yang kau kira" tambahnya.

Luhan memukul lengan Sehun. "apanya yang tidak mudah? Tadi kau kan sudah menciumku" kata Luhan.

"Itu beda, Hyung. Aku melakukannya dengan sepenuh hati" jawab Sehun reflek. Oops! Sehun keceplosan. Dia melirik pada Luhan yang wajahnya memerah malu. Dan dia sendiri juga merasakan pipinya memanas.

"A-ayo cepat! Sebelum ada yang datang" kata Luhan dengan salah tingkah. Karena Sehun hanya diam saja, Luhan mendorong paksa kepala Sehun agar wajah Sehun mendekat pada wajah Jongin.

Dengan gusar dan mungkin agak kasar, Sehun melepaskan tangan Luhan dari kepalanya."Hyung! Sabar Hyung! Kau kira ini mudah?!". Sehun kesal sekali. Mencium Jongin tidak sama dengan mencium Luhan. Seharusnya Luhan tahu itu.

"Ya, benar. Sabar saja, hyung"

Dua orang itu terkejut dan menatap pada orang yang baru saja bersuara.

"Biarkan si cantik ini menciumku dengan penuh perasaan. Jangan dipaksa" lanjut orang itu sambil menyeringai.

Sehun dan Luhan membulatkan mata tak percaya. "J-Jongin? Kau sudah sadar?" tanya Sehun.

"Aku sudah tahu, kau diam-diam menyukaiku sejak lama, manis" kata orang itu yang ternyata adalah Kim Jongin. Sambil mencolek-colek dagu Sehun dan memasang tampang mesum andalannya.

"Jongin. Kau benar-benar sadar?" tanya Sehun dengan wajah senang.

"tentu saja. Siapa yang bisa menolak pesonaku. Aku tampan dan seksi" jawab Jongin dengan penuh percaya diri. Jangan lupa, dia juga menyisir rambutnya dengan jari.

Seketika ekspresi Sehun berubah menjadi '-_-'. Lalu dia menoleh pada Luhan yang hanya mengedikkan bahu. Sehun menatap sekeliling kelasnya. Semua siswa kebingungan, dan ada beberapa yang memegangi kepalanya.

"Kepalaku pusing sekali" keluh salah satu siswa.

"Aku juga. Rasanya seperti baru bangun dari tidur yang lama"

"apa yang terjadi? Seingatku aku tadi ada dikantin" kata Zelo.

Sehun membulatkan mata. Namja manis itu, cepat sekali dia menyadarinya. Sehun hendak memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi ada sebagian dari dirinya yang merasa akan lebih baik jika dia diam saja.

"Annyeong haseyo!"

Sehun tersentak dan menatap kearah pintu. Ternyata Taemin sonsaengnim memasuki kelas mereka.

"Ne, Annyeong haseyo" jawab semua murid dengan lemas.

"Aku punya pengumuman-Umh, Sehun. Silahkan kembali ketempatmu" kata Taemin sonsaengnim. Sehun menurut. Dia meminta Jongin untuk bergeser, agar dia bisa duduk. Seteklah Sehun benar-benar duduk, Taemin pun melanjutkan. "Baiklah. Sekarang kalian-"

Taemin menghentikan kalimatnya saat melihat ada hal yang janggal dikelas itu. "Luhan-ssi. Sedang apa kau disini?" Tanyanya.

Oh iya! Pantas Sehun merasa ada sesuatu yang dia lupakan.

"Umh, a-aku. A-aku hanya..." Luhan menggaruk kepalanya karena salah tingkah. "Maaf, aku permisi" katanya sebelum dia berjalan cepat keluar kelas.

Taemin tertawa kecil. "Dia manis sekali, bukan?" ucapnya. Tanpa sadar Sehun setuju dengan apa yang Taemin katakan. Apa yang kupikirkan?

"Sampai mana kita tadi?-Ah iya. Sekarang kalian boleh bersiap untuk pulang. Karena dewan guru harus mengadakan rapat mendadak" Kata Taemin. Dan dalam sekejap, murid-murid itu melupakan apa yang mereka rasakan. Dengan penuh semangat mereka mengemasi barang-barang mereka dan bersiap pulang.

"Sampai jumpa besok" pamit Taemin sebelum keluar kelas. Disusul oleh semua murid yang bertampang bahagia. Sehun sampai bertanya-tanya. Apakah wajahnya juga memasang ekspresi seperti teman-temannya saat mendengar sekolah pulang lebih awal? Mungkin. Tidak ada yang lebih indah selain mendengar kalimat 'pulang sekolah lebih awal'.

"hey, manis" Lamunan Sehun buyar saat mendengar suara jelek itu. "Kau tidak mau pulang?" tanya Jongin. Sehun hanya memasang tampang -_- sebagai jawaban.

"Ah, aku tahu. Kau ingin berduaan saja dengaku disekolah kan? Hm? Hm?" Kata Jongin sambil menaik-turunkan alisnya.

Sehun menempelkan jari telunjuknya pada kening Jongin lalu mendorongnya. "Sudah. Aku mau pulang. Lebih baik kau antar kakak kelas manis itu pulang sebelum dia diculik orang" kata Sehun sambil berjalan keluar kelas.

Jongin menepuk keningnya lalu buru-buru memakai tasnya- "Kyungsoo hyung, tunggu aku. Aku akan melindungimu!"-lalu berlari keluar kelas.

:3

TBC

*ngintip dari balik laptop.

Hehehe, jangan gebukin saya pliss T.T . iya iya, saya tahu saya telat update pake bingitz. Dan mungkin chap ini sedikit aneh dan tidak memuaskan. Mau alesan apaan ya enaknya :p *beneran digebukin

Saya sibuk. Gitu aja deh alesannya :p

Sibuk apa? Mau tau aja atau mau tau banget? :p

*dikeroyok *bonyok

Pas buka laptop buat lanjut ff apapun, mood saya langsung down. Apalagi ngelanjut 'School?'. Feel rada ilang, gara-gara Kris out dari Exo. :3

Tapi akhirnya saya nulis karena kalian para reader terus mengingatkan saya buat ngelanjut ff ini. Ternyata banyak yang nungguin. Saya jadi terharu T.T *Hiks..

Apalagi yang pm author, terima kasih banget . Ada yang pm pake English juga loh. Author sampai meneteskan air mata bacanya. Dalam hati author berkata 'Iki artine opo? Aku gak ngerti, EMAAAAAK BELIIN ALFALINK T^T'

Hehehe :p

Author minta maaf yang sebesar-besarnya atas keterlambatan update semua ff. Dan author berterima kasih pada kalian readersku, cintaku, sayangku :*-masih nungguin author.

I Love you All. Muuuuaaaaach *kecup basah :*

Terus berikan semangat ya Buat yang mau temenan sama author di facebook bisa add Vashatizy94 / search by name: Vasha Tizy Amanah(buat yang mau aja. Yang g mau ya udah, abaikan aja. Huhuhu T^T)

Btw, Author turut berduka atas kecelakaan yang menimpa Ladies code #RIPEunB #RIPRiSe :'(. Semoga amal dan ibadah mereka diterima, Amin. Mereka itu always together forever :')

Thanks To:

Riraly, Chenma, Nada Lim, Jang Taeyoung, yongchan, Liaohuan, Brigitta Bukan Brigittiw, ajib4ff, Wu Xinlian, Imeelia, Awlia, mumu, Deer Panda, sycarp, Udel Myungsoo, Swag Joker, wyda joyer, enchris.727, egsuoppa, OhSooYeol, hunhanaddicted, baekai, alysaexostans, exmato, hatakehanahungry, banghimdaisuki, chindrella cindy, rachel suliss, cyber Ayumu-chan, matokinite76, Reza C Warni W, BLUEFIRE0805, zyxxyzlay15,AlmightyVict, ruka17, Qhia503, Byunri-chan, A Y P, Darmata, JungPabo, Mrs. EvilGameGyu, Yuyuchan EXO, Sonewbamin, Kaisooppa, Yui the devil, Pandaqt, andini taoris, dewikhukhu98, fyyongje, Dobi Thehun, chachachue, NAVYDILLA UNEWWWW, daejae Loevrz, Purnagara Desi, sweetyhunhan, unique fire, aira, HoneyWatermelon, Banghim emakbapakna Zelo, kim minrin, daisydeda, Jung Sara, giestha, Kim Hunnie, suholicious, mokythatha, yerizel98, lanjut, Kim XiuXiu Hunnie, putri Jung, Dea, dk1317, dokyungdosoo, lalaaa, guest, IchaByun, KT CB, hwangjie, zchoi61, Dira, IchaByun, kyungkyung.

Opps!

Himchan dan Yongguk sedang berjalan menyusurin lorong sekolah. Ini pukul sebelas. Biasanya bel tanda istirahat sekolah berbunyi. Tapi hari ini tidak. Himchan yang merasa lapar memaksa Yongguk untuk menemaninya kekantin.

Tapi, saat diperjalanan. Mereka sama sekali tidak menemukan seorangpun disekolah ini. Sekolah juga masih bersih dan rapi. Tidak ada tanda-tanda kerusuhan seperti hari-hari biasanya.

Himchan menoleh pada Yongguk. "Sepertinya sekolah sedang libur", katanya. "Lalu untuk apa kita disini dari tadi?" Tanyanya pada Yongguk. Dan yang ditanya hanya mengedikkan bahu.

"ah, sudahlah. Kita pulang saja dan makan dirumahku" kata Himchan sambil menyeret Yongguk menuju pintu gerbang.

Namun Yonggung berhenti, membuat Himchan menatapnya dan bertanya-tanya. "kita makan diluar saja" kata Yongguk.

Himchan bengong. "Aku yang traktir" lanjut Yongguk sambil menaik turunkan alisnya dan tersenyum manis. Tanpa mau menunggu, Yonggung langsung menggandeng tangan Himchan dan melanjutkan perjalanan keluar gerbang.

Himchan tersenyum cerah. Apakah ini kencan? Ini pertama kalinya Yongguk mengajak Himchan makan siang bersama-selain dirumah mereka. Apakah ini pertanda baik untuk hubungan mereka? Himchan harap begitu. Rasanya dia ingin berteriak senang sekarang :)

Sepertinya, mereka tidak tahu apa yang sudah terjadi hari ini disekolah mereka. Ah, sudahlah. Lebih baik mereka tidak tahu. Haha..

TBC.