CHAPTER 14

.

Lima orang Yeoja sedang berdiri didepan gerbang TSM School. Salah satu sekolah khusus namja terpopuler di Seoul karena murid-muridnya yang tampan *0*. Padahal hari sudah malam dan gedung sekolah sangat gelap. Tapi niat mereka sama sekali tidak bisa dihalangi.

Mereka menatapi sekolah itu dengan mata mereka yang berhias eyeliner dan maskara. Seolah-olah gedung sekolah yang gelap itu adalah sebuah bull's-eye, dan mereka adalah anak panah yang siap untuk menyerang.

Mereka membawa ransel dan juga senter ditangan mereka masing-masing. Apa yang sebenarnya ingin mereka lakukan disana?

Salah satu dari mereka-yang berdiri ditengah-tengah-, menjulurkan tangannya. Menodongkan tangannya yang membentuk seperti pistol kearah gedung itu.

"Are you ready girls?", katanya. Mendapatkan senyuman persetujuan dari teman-temannya, dia pun ikut tersenyum.

"Lets Do it!". Dia menembak gedung sekolah itu dengan tangannya.

.

.

Seminggu berlalu semenjak hari dimana Sehun harus menjadi saksi mata atas perbuatan Kim Junmyun. Hhh~ kenapa juga Sehun harus terlibat dalam masalah ini. Kalau dipikir-pikir, lebih baik dia makan saja bubur gandum itu kemarin. Ini masalah yang rumit bagi Sehun.

Saat melangkah memasuki gerbang sekolah, Sehun merasa seharusnya hari ini adalah hari yang berbeda. Namun tidak ada yang berubah sama sekali. Sekolahnya tercinta masih sama membosankan seperti sebelumya.

Tas nya masih saja digeledah didepan gerbang. Untung saja, Jinki sonsaengnim yang memeriksa tasnya. Jadi tidak ada barangnya yang tersita.

Tapi Sehun tidak melihat Taeyeon sonsaaengnim, Taemin Sonsaengnim dan juga Kibum sonsaengnim belakangan ini.

Begitu pula dengan Kim Junmyun, orang yang ingin Sehun temui. Dia juga menghilang semenjak kejadian hipnotis seminggu yang lalu.

Ini aneh. Sehun curiga jika semua orang yang menghilang itu terlibat dalam kasus ini. Terutama Taeyeon sonsaengnim yang memaksanya untuk makan sarapan gratis waktu itu. Sehun semakin mencurigainya terlibat.

Sehun berdecak sebal. Sudah hampir seminggu Sehun datang pagi-pagi, namun orang yang dicarinya tidak pernah terlihat batang hidungnya. Sia-sia Sehun mengurangi satu jam waktu tidur paginya untuk datang kesekolah.

Jangan-jangan Kim Junmyun tahu kalau Sehun adalah saksi mata. Maka dari itu dia melarikan diri. Hah! Pengecut. Pikir Sehun.

"Sehun"

Langkah Sehun terhenti saat seseorang memanggil namanya. Dia terkejut sekali saat melihat siapa orang yang memanggilnya tadi. "A-apa?", tanya Sehun.

"Wah, kau ini galak sekali" Orang itu, Yoo Youngjae. Dia menyikut lengan Sehun. "Eh, tumben kau datang pagi-pagi sekali. Kau ada piket kelas? Atau kau mau mengerjakan PR disekolah? Atau kau mau bertemu ketua osis?", tanya Youngjae panjang lebar.

Sehun tertohok. Bagaimana Namja itu bisa tahu. "U-urus saja urusanmu sendiri", katanya sambil lalu. Dia haus segera menjauh dari Youngjae. Sepertinya Youngjae mematai-matainya.

Namun sialnya, Youngjae malah ikut berjalan disampingnya. "Eh, Sehun. Kenapa kau selalu menjauhiku? Kau marah padaku ya?"

"Tentu saja tidak. Aku tidak mungkin marah padamu". Setelah berkata seperti itu, Sehun mengutuk dirinya habis-habisan. Ah, apa yang kukatakan?! Cinta bertepuk sebelah tanganku sudah usai.

"Jinjayo? Wah, Sehun. Kau pasti menyukaiku ya? Hahaha.."

Youngjae berlonjak senang. Dan Sehun harus mati-matian menaha dirinya agar tidak bertanya 'bagaimana kau tahu?'.

Mereka terus berjalan, ditemani oleh ledekan-ledekan Youngjae padanya. Dia terus menuduh Sehun jatuh cinta padanya-walaupun memang benar adanya.

Sudah lama mereka tidak berjalan bersama. Itu karena Sehun selalu berusah menjauhi Youngjae. Bukan karena marah, Sehun tidak mungkin marah pada Youngjae. Dia menjauh karena dia ingin melindungi dirinya sendiri.

"Tuh, kan. Benar. Kau memang terpesona olehku. Hahaha..."

Kalimat Youngjae mmebuat Sehun tersadar bahwa dia baru saja memandangi namja manis itu. "Tidak benar!"

Mereka terlibat dalam sebuah perdebatan kecil. Mereka tidak sadar bahwa mereka berdebat dengan jarak yang lumayan dekat. Dan sebelum mereka samakin dekat lagi. Seseorang sudah menjauhkan keduanya.

"Wah, wah. Ada apa disini?"

Orang itu menjauhkan Youngjae dan memberi sebuah lirikan sinis pada Sehun. "hhh~ Namjachingu-nya datang" gumam Sehun.

"Daehyunie Hyung. Kau datang pagi-pagi sekali. Kau ada piket kelas? Atau kau mau mengerjakan PR disekolah? Atau kau mau bertemu ketua osis?".

Sehun terdiam. Dia mulai berpikir bahwa Youngjae tidak memata-matainya. Sepertinya Youngjae memang suka menanyakan hal itu pada semua orang.

"Tidak, untuk apa aku bertemu ketua osis? Aku memang selalu datang pagi" kata Jung Daheyun. Dia menatap sinis pada Sehun sekali lagi sebelum berkata, "Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu. Ayo", katanya. Lalu dia menyeret Youngjae pergi.

"Eh? Sehun. Sehun. Annyeong!"

Sehun membalas lambaian tangan Youngjae dari jauh. Sepasang kekasih itu membuat Sehun hampir lupa tujuannya datang pagi-pagi hari ini.

.

Youngjae menatapi Daehyun sambil tersenyum. Saat ini mereka sedang berjalan berdampingan menuju kelas Youngjae. "Hyung, memang kau ingin menunjukkan apa padaku?", Tanya Youngjae.

Bukankah Daheyun bilang ingin menunjukkan sesuatu? Tapi kenapa malah mereka berjalan kearah kelas Youngjae?

"Tidak ada"

"Apa? Tadi kau bilang mau menunjukkan sesuatu" Youngjae berhenti. Dia menghentakkan kakinya dengan kesal.

"Aku hanya ingin menjauhkanmu dari Oh Sehun saja", jawab Daehyun enteng sambil terus berjalan.

Youngjae tersenyum. Apa Daehyun cemburu? Waah, Youngjae senang sekali jika itu benar.

"Hyung, Tunggu akuuuu~". Youngjae pun berlari mengejar Daehyun.

.

Hal yang paling menyebalkan adalah ketika kau ingin sendirian saja, tapi malah ada beberapa orang yang berusaha mengajakmu bicara terus menerus.

Itulah yang dirasakan Kris Wu saat ini.

Yang dia inginkan hanyalah berjalan menuju kelasnya dengan tenang. Tanpa otak yang panas dan tanpa telinga yang panas karena harus mendengar pertanyaan yang sama dari para Fansnya yang entah kenapa suka sekali menggerombolinya(?).

"Kris, mana Tao?"

"Kau sendiri saja? Tao mana?"

"Kau tidak berangkat bersama Tao?"

"Tumben kau tidak bersama Tao? Mana Tao?"

"Mana Tao?"

"Mana Tao?"

"Mana Tao?"

"Mana Tao?"

"Mana Tao?"

'SHUT UP!' Kris berteriak frustasi dengan keras-didalam hatinya. Dia tidak mungkin melakukan itu kepada fans-fansnya. Dia harus menjaga harga dirinya sebagai pangeran sekolah yang berkharisma. Jadi, yang bisa dia lakukan hanyalah menjawab dengan ramah ditambah dengan senyuman mautnya. "Tao ada piket kelas. Jadi dia berangkat duluan".

Beberapa diantara mereka merespon jawaban Kris dengan 'oh' saja. Dan yang lainnya berpamitan untuk pergi kekelas karena mereka ada piket kelas juga. Yang benar saja -_-.

Satu per satu fanboy yang berjalan bersama Kris pun masuk kekelas masing-masing. Dan akhirnya Kris kembali berjalan sendiri.

Dia melihat dua orang murid yang sedang bergandengan tangan dikoridor. Kris yakin, mereka pasti berpacaran. Kris menatap kedua murid itu dengan suram dan tidak suka.

"Kenapa orang-orang bisa bergandengan tangan dengan mudahnya?", gumamnya. Dia juga ingin menggandeng tangan Tao dan berjalan menyusuri koridor seperti sepasang kekasih itu. Kenapa hal itu tidak mudah untuk Kris dan Tao lakukan?

Sejujurnya Kris tidak tahu, apakah Tao sudah berangkat atau belum. Dia sudah berkata bohong pada fans-fansnya. Maka dari itu, Kris berbelok untuk mengunjungi kelas Tao. Dia ingin lihat, apakah Tao sudah datang atau belum.

Tapi Kris harus menelan kekecewaan saat dia mendapati kelas Tao masih kosong. Namun kekecewaan itu tidak berlangsung lama saat mata Kris menangkap sosok sang pujaan hati sedang berdiri didipan pintu kelas.

Seperti mendapatkan hadiah besar, Kris tidak bisa tidak tersenyum senang. "Tao", panggilnya dengan lembut.

Dia baru bertemu Tao kemarin malam. Tapi Kris merasa sangat merindukan Tao pagi ini. Dia ingin memeluk Pandanya itu.

"Tao". Kris melangkah mendekati Tao. Tapi sebaliknya, Tao malah melangkah mundur, perlahan-lahan lalu akhirnya dia berlari menjauhi kelasnya.

Tidak ada yang tahu bagaimana cara menggambarkan perasaan Kris saat ini. Kris sadar, ini memang salahnya sehingga membuat Tao lari seperti itu. Tapi, Kris juga tidak bisa berbuat apa-apa.

Dengan kepala tertunduk. Kris pun memutuskan untuk pergi dari depan kelas Tao agar pandanya itu bisa kembali kekelasnya. Padahal dia rindu pada Tao.

.

.

Kepala sekolah Kwon Boa sedang membaca majalah favoritnya, ditemani oleh secangkir teh dan biskuit diet kesukaannya.

"Tidak ada yang lebih baik dari membaca majalah ini" gumamnya dengan pipi yang bersemu.

Boa membaca setiap artikel dan memperhatikan gambar yang ada disetiap halaman majalah itu dengan teliti. Memekik girang jika ada foto Uke yang manis atau Seme yang tampan dan seksi.

"Khusus untuk Seme... Tips kencan romantis" Boa membaca judul artikel dengan suara pelan. Dia membaca sambil menunjuk kata per katayang ditulis disana.

"Wah, ini cocok untuk Kim Jumnyun. Kulihat cara dia dan Uke-nya pacaran sangat membosankan" lanjutnya setelah selesai membaca artikel tersebut. Bertepatan dengan itu, telepon kantornya berdering.

"Yeoboseyo.. iya, saya sendiri" Boa menjawab telepon masih sambil membaca majalahnya. Namun tidak berlangsung lama karena ucapan orang diseberang sana membuatnya terkejut setengah hidup. "APA?".

"B-Baik, aku akan segera kesana"

Buru-buru dia menyambar mantelnya dan berlari keluar ruangan. Boa berlari dengan panik dan berdebar-debar. Bahkan tak ragu dia menabrak orang-orang yang menghalangi jalannya di koridor sekolah.

"Kepala sekolah, anda mau kemana?"

Boa menghentikan kakinya dan menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang bertanya. Lalu dia berjalan mundur mendekati orang itu, seorang murid yang bertanya tadi.

Boa memegang kedua bahu murid itu dan menatapnya penuh harap. "Xiumin, aku titip sekolah ya. Aku akan segera kembali. Kau yang bertanggung jawab selama aku tidak ada disini. Oke?" kata Boa sebelum dia kembali melesat lari.

Xiumin terdiam. Kepala sekolahnya itu bicara dengan kecepatan LTE. Dia masih mencerna apa yang kepala sekolahnya itu katakan. Dan setelah dia mengerti...

"A-APA? AKU?"

.

Baekhyun mendengus pada setumpuk buku ditangannya. Namja cantik itu merasa kesal. Lagi, lagi dan lagi. Dia dan Kyungsoo mendapat tugas untuk mengembalikan buku keperpustakaan.

"Menyebalkan. Memang tidak ada murid lain yang bisa disuruh mengembalikan buku-buku ini?!"

Kyungsoo yang berjalan disampingnya hanya bisa tersenyum maklum. Sahabatnya yang satu itu hobi sekali mengeluh. "Gwaenchanha. Ini kan perbuatan baik" hibur Kyungsoo.

"Huh. Perbuatan baik apanya. Blahblahblah". Baekhyun masih tidak terima.

Perjalanan mereka menuju perpustakaan terasa berat karena keluhan-keluhan yang Baekhyun lontarkan. Seandainya, jika Kyungsoo bukan sahabat yang baik hati. Dia pastilah sudah memindah tangankan buku yang dia bawa pada Baekhyun lalu berlari kabur menuju kantin untuk makan siang.

"Lihat siapa yang aku temukan"

Suara itu terdengar bertepatan dengan sepasang tangan yang memeluk leher Kyungsoo dari belakang. Membuat buku bawaan Kyungsoo hampir terjatuh.

"dia lagi" gumam Baekhyun saat melihat Jonginlah pelakunya. Kali ini dia hanya memeluk Kyungsoo seorang dan tidak memeluk bahu Baekhyun juga. Entahlah, mungkin Jongin jatuh cinta pada Kyungsoo.

"Hyung. Ayo kita kekantin" Jongin berseru sambil menuntun Kyungsoo berjalan kearah kantin.

"Eh? Aku harus kembalikan buku dulu". Alasan Kyungsoo berhasil menghentikan langkah Jongin.

"Oh. Itu mudah saja" ucap Jongin sambil menjentikkan jari. Dia mengambil setumpuk buku ditangan Kyungsoo.

Awalnya Baekhyun kira Jongin akan membantu mereka mengembalikan buku-buku itu. Namun sial yang dia dapat malah kebalikannya.

Jongin menumpuk buku itu diatas tangan Bakehyun yang sudah penuh lalu menyeret Kyungsoo lari entah kemana, Baekhyun tidak bisa lihat karena pandangannya tertutup oleh buku yang tertumpuk tinggi ditangannya.

"HEY! KEMBALI KAU!" teriak Baekhyun. "Ish! Kurang ajar!"

.

"Jongin. Berhenti!"

Kyungsoo menghentikan langkah Jongin agar tidak menyeretnya lagi. "Jongin. Kau tidak boleh seperti itu. Aku harus kembali untuk membantu Baekhyun. Kau pergilah sendiri, nanti aku akan menyusul"

"Ah, tidak mau. Ayo kita pergi sama-sama, Hyungku yang manis" jawab Jongin sambil mencolek-colek dagu Kyungsoo.

"Sonsanegnim menyuruh kami untuk mengembalikan buku-buku itu" kata Kyungsoo sembari berjalan, namun Jongin menahannya.

"Kau lebih mementingkan dia dari pada aku? Aku kelaparan Hyung." kata Jongin. Dia memegangi perutnya dan jatuh berlutut dilantai. "Ahh, perutku sakiiiit~" rintih Jongin sambil memasang wajah kesakitan.

Kyungsoo menatapi Jongin dengan tatapan 'apa kau bercanda?'. Kyungsoo tahu Jongin sedang berakting. Hello! Itu nampak jelas sekali.

Jongin menghentikan aksinya saat dirasa Kyungsoo tidak menatapinya seperti yang dia harapkan. Dia bangkit berdiri dan memegang tangan Kyungsoo.

"Sudahlah Hyung. Jangan khawatir. Pasti ada seorang pangeran yang akan menolongnya" kata Jongin.

Kyungsoo memberikan tatapan datarnya. Itu tidak mungkin. Murid-murid di TSM School kurang memiliki rasa simpati. Yang ada malah sebaliknya. Seperti Jongin tadi. Mana ada yang akan menolong sahabatnya-Eh? Tunggu!

Kyungsoo mengangkat alisnya saat melihat seseorang bertubuh tinggi sedang membantu Baekhyun, sahabatnnya.

Lalu dia beralih menatap Jongin yang sedang berpose bangga. "Apa aku bilang, percayalah padaku. Dunia ini tidak sekejam yang kau pikirkan, Hyung manis" katanya sambil sekali lagi mencolek dagu Kyungsoo sebelum menyeret namja manis itu pergi.

.

Baekhyun kesulitan berjalan. Dia tidak bisa melihat jalan karena pandangannya terhalang buku. "Awas kau, Kim Jongin.. hiks.."

Terasa seperti hari yang paling sial. Ingin menangis tapi tidak mungkin. Kenapa tidak ada seorang pun yang mengerti posisinya. Yang dia inginkan hanya mengembalikan semua buku ini keperpustakaan dan segera kembali kekelasnya.

Beberapa kali kaki Baekhyun terperosok kejalan yang lebih rendah dan beberapa kali pula dia menabrak pilar dan murid yang jalan. Dia sampai lupa dimana letak perpustakaan sekolah berada.

Sekali lagi dia menabrak sesuatu. Dia yakin yang dia tabrak adalah seorang murid karena dia bisa lihat sepatu diabawah sana. "maaf" katanya, lalu berusa mencari jalan yang benar(?).

Tiba-tiba pandangannya sudah tidak terhalang lagi. Seseorang bertubuh tinggi sudah mengambil buku-buku dan hanya menyisakan beberapa buku saja ditangan Baekhyun.

"Aku heran. Kenapa kau yang selalu mengembalikan buku-buku ini?" tanya namja itu. Namja yang pernah membantunya dalam hal yang sama. Park Chanyeol.

Setelah berkata begitu, dia berjalan mendahului Baekhyun dengan mudah. Tidak seperti Baekhyun sebelumnya yang pandangnnya harus terhalang. Baekhyun harus berjalan cepat untuk menyusul langkah panjang Chanyeol. Memiliki tubuh mungil ternyata menyusahkan juga.

"gomawo" ucapnya. Tapi namja tinggi itu hanya diam saja.

.

Sehun mengintip kedalam kelas Kim Junmyun. Namun sepertinya dia juga tidak masuk sekolah hari ini. Ini aneh sekali. Apa dia sedang sakit parah?

"permisi" . Sehun menghentikan seorang murid yang baru saja keluar dari kelas itu. "maaf, apa Kim Junmyun ada?", tanyanya.

Murid itu menatap Sehun dengan dahi yang berkerut heran. "Kalau tidak salah, kau Oh Sehun kan?"

Sehun tidak heran mendengarnya. Dia memang terkenal di sekolah ini. "Ne. Apa Kim Junmyun tidak datang hari ini?", tanya Sehun.

"Junmyun tidak ada. Dia ijin untuk beberapa hari" jawab murid itu. "untuk apa kau mencarinya?".

"memang kenapa? Aku tidak boleh mencari ketua osis?" tanya Sehun.

"Tidak. Hanya tidak biasa saja, murid bermasalah sepertimu mencari ketua osis"

Kata-kata yang tidak enak. Sehun hanya memberikan senyumannya saja. Sebenarnya dia kesal juga dikatai 'murid bermasalah'.

"Ada yang ingin kubicarakan dengan ketua osis. Terima kasih" Sehun pun pergi meninggalkan kelas itu, ambil bergumam 'menyebalkan'.

Dia menghela nafas kecewa. Hari ini pun dia tidak bisa menemukan Kim Junmyun. Apa yang sebenarnya terjadi? Ini membuat Sehun bingung. Kenapa Junmyun menghilang?

Memikirkan semua ini membuat Sehun mual dan pusing. Mencari tahu bukan keahlian Sehun, tapi dia ingin tahu. Sepertinya Sehun butuh minuman yang bisa menyegarkan otaknya. Sehun akan pergi ke kantin saja.

.

Selesai mengembalikan buku-buku itu, Baekhyun memutuskan untuk tidak menyusul Kyungsoo kekantin. Percuma saja. Lagi pula dia juga akan diabaikan kalau ada Jongin disana.

Baekhyun berjalan tepat dibelakang Park Chanyeol. Bukan bermaksud untuk mengikuti namja berkaki panjang itu. Ini hanya kebetulan mereka berjalan melewati rute yang sama.

Chanyeol... apakah dia marah pada Baekhyun? Dari tadi dia tidak bersuara. Bahkan untuk menjawab ucapan terima kasih dari Bakehyun pun tidak. Setidaknya dia harus bilang 'sama-sama' atau 'tidak masalah'. Dengan begitu Baekhyun tidak perlu merasa sungkan.

Baekhyun menjulurkan tangannya untuk menepuk pundak Chanyeol yang tinggi. Tapi dia ragu-ragu. Berpikir lagi. Untuk apa dia melakukan itu?

Tiba-tiba Chanyeol berhenti. Membuat tangan Baekhyun yang menjulur itu akhirnya menyentuh punggung Chanyeol. Baekhyun menelan ludah gugup saat Chanyeol berbalik dan menatapnya.

"Apa?" tanya Chanyeol.

Baekhyun menggeleng cepat. "t-tidak. Hehehe.. tidak ada apa-apa" katanya. Baekhyun mengusap tengkuknya. "gomawo", lanjutnya. Lalu segera berlari meninggalkan namja tiang listrik itu.

"uh..apa ini? Kenapa aku berdebar-debar?" katanya sambil menyentuh dadanya yang memang berdebar-debar. Dia menggelengkan kepalanya, mengusir sesuatu tentang Chanyeol dipikirannya. "Ini tidak benar" lanjutnya, sambil menambah kecepatan larinya.

"INI TIDAK BENAR!"

.

"INI TIDAK BENAR!"

Chanyeol terkekeh mendengar suara nyaring itu. Dia menoleh kebelakang untuk melihat namja dengan kaki kecil itu berlari. Dia sangat lucu dimata Chanyeol.

Pandangannya beralih pada seekor panda-eh? Maksydnya-Seorang namja bermata panda yang sedang berjalan dengan suram sendirian. Kepalanya menunduk dan nampak tidak bertenaga.

"Itu pasti karena virus cinta" gumam Chanyeol sambil terkekeh geli pada ucapannya sendiri.

Dia mendekati sahabatnya itu dengan cengiran. Dengan merentangkan kedua tangannya, dia berdiri dihadapan Tao . Berniat menghalangi jalan Tao.

Namun, mungkin karena Tao sudah terbawa suasana suram jadi dia tidak sadar jika temannya yang tinggi dan bergigi putih itu sudah berdiri dihadapannya. Alhasil, kepala Tao yang menunduk itu menempel pada dada Chanyeol.

Mereka terdiam dalam waktu yang singkat tapi lama sedikir*plak!.

"Chanyeol-ah" panggil Tao.

"Wah, hebat. Kau bisa tahu kalau ini aku. Hahahaha.." Chanyeol tertawa heboh. Tao tetap suram.

"Bau pepsodent"

Chanyeol speechless mendengar jawaban Tao. Dia punya penciuman yang tajam rupanya.

"y-ya, aku memang baru sikat gigi. Haha..", Chanyeol mencium nafasnya sendiri. "Memang kau bisa menciumnya ya?"

Tao menggeleng didadanya. "Tidak. Ada pasta gigi diseragammu", jawab Tao.

"Apa?", Chanyeol ingin menyingkirkan Tao agar dia bisa melihat pasta gigi yang menempel diseragamnya. Namun Tao tidak mau menyingkir dan kepalanya malah menempel dengan kuat.

"Oh, astaga. Sahabatku ini ingin kupeluk ternyata. Ohohohoh.." kata Chanyeol. Lalu dia memeluk Tao dengan gemas, seperti memeluk anak kecil. "Oh, Cayang. Cayang. Cayang", kata Chanyeol sambil bergerak kekanan-kekiri dengan gemas.

"EHEM!" Seseornag berdehem dengan keras disamping Chanyeol dan Tao. "Bisa lepaskan pelukan kalian?".

Chanyeol melepaskan pelukannya pada Tao. Dan mereka berdua terlihat kebingungan. "Siapa yang bicara?", tanya Chanyeol. Tao mengedikkan bahunya sebagai jawaban 'tidak tahu'.

"Aku disini"

Chanyeol dan Tao mencari-cari sumber suara. Menoleh kekakan-kiri dan kebelakang. Tapi tidak ada siapapun kecuali murid-murid yang sibuk sendiri.

"Hey, aku disini"

Akhirnya mereka tahu siapa yng bicara saat salah satu telinga mereka ditarik dengan keras sampai mereka membungkuk. "Aku disini, woy!"

Seorang namja yang tingginya kalah jauh dengan Chanyeol dan Tao. "maaf, aku tidak melihatmu dibawah situ", celetuk Chanyeol.

"Apa katamu?!" teriak murid itu dan memberi satu pukulan dikepala Chanyeol.

Tao membaca name tag murid itu. "Kim Minseok. Kau terlihat seperti pacarnya Jongdae" kata Tao. Dia menyikut Chanyeol. "Siapa itu namanya? Umin..Umin.. Siapa?"

"Umin dan Imin sepertinya" jawab Chanyeol.

"HEY!" namja bernama Minseok itu berteriak. Sampai Chanyeol dan Tao berjingkat kaget. "X.I.U.M.I.N. Xiumin" katanya. Chanyeol dan Tao mengangguk-angguk sambil ber'oh' ria.

Tersadar akan sesuatu. Xiumin menggunakan bolpoin yang dibawanya untuk menunjuk Chanyeol dan Tao bergantian.

"Hey. Apa yang kalian lakukan? Kalian bermesraan disekolah?" tanyanya.

"Memang apa urusanmu?" tanya Chanyeol sambil merangkul Tao kembali. Tapi Xiumin buru-buru memisahkan mereka dengan berdiri diantara keduanya.

Xiumin merangkul kedua namja itu, tidak peduli jika mereka lebih tinggi hingga membuat kakinya berjinjit. "Aku adalah polisi sekolah" kata Xiumin.

Suara tawa terdengar dari mulut mereka. Dan itu membuat Xiumin sebal. "memang ada yang seperti itu? HAHAHAHA"

Xiumin menapakkan kakinya kembali(?). "Aku yang bertanggung jawab selama kepala sekolah pergi".

Rupanya penjelasan seperti itu tidak membuat kedua namja dihadapannya itu berhenti tertawa. Tidak ada cara lain selain mengeluarkan buku catatannya.

"Park Chanyeol. Huang Zi Tao" dia membaca tag name kedua namja itu dan mencatatnya dibuku. "Bermesraan disekolah" lanjutnya sambil menulis. Dan hal itu membuat Chanyeol dan Tao berhenti tertawa.

"Kalian boleh pergi. Tunggu saja sampai kalian berdua dipanggil kekantor kepala sekolah". Setelah berbicara seperti itu, Xiumin pergi dengan wajah puas.

Chanyeol dan Tao saling bertatapan. "Apa katanya tadi?" tanya Chanyeol. Dan Tao hanya mengedikan bahu sebagai jawaban 'tidak tahu'.

.

Sementara itu. Tak jauh dari tempat Chanyeol dan Tao. Terlihat Kris yang memandang sedih Tao yang akrab dengan namja lain, meskipun Kris tahu itu adalah sahabat Tao.

"Hii, kau jelek sekali jika sedang sedih".

Feel sedih Kris langsung hilang dalam sekejap karena sebuah suara. "diamlah", timpal Kris. Si pemilik suara itu, Luhan.

Dia tertawa. Dia mengikuti Kris berjalan. "Kau ini terlalu berlebihan. Dia itu hanya sahabat Tao. Tidak perlu sedih. Blahblahblah..."

Telinga Kris terasa memanas. Kenapa hari ini banyak sekali orang yang membuat telinganya panas. Apa Luhan tidak sadar, sudah sampai mana dia mengikuti langkah Kris?

Kris menghentikan kakinya dan memegang kedua pundak Luhan. "Dengarkan aku, aku mau ke toilet. Kau tidak perlu ikut"

Luhan berhenti bicara. Dia menatap sekeliling dan terkejut. Dia tidak sadar jika dia sudah mengikuti Kris sampai kedalam bilik toilet.

"Benar. Baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu", dengan salah tingkah Luhan melambaikan tangannya.

Dia keluar toilet laki-laki dengan wajah bebek. Hari ini dia merasa benar-benar kesepian.

"Eh? Tidak juga" Luhan bergumam pada dirinya sendiri. Senyum mengembang diwajahnya dan matanya berbinar-binar melihat Himchan temannya yang sedang berjalan kearahnya.

"Himchaaaan~" sapanya.

Luhan ikut berjalan disamping Himchan. "Kris menyebalkan sekali. Masa dia menyuruhku pergi. Iya, memang sih dia mau ke toilet. Tapi-"

Belum selesai bicara, Himchan sudah lebih dulu menyela sambil memegang kedua pundaknya. "maafkan aku, aku sedang buru-buru. Ada janji dengan seseorang"

Sambil berlari, dia melambai pada Luhan. "Nanti kita bicara lagi" katanya.

Luhan menatap tidak percaya. "Semuanya meninggalkanku. Jahat sekali. Aku kan teman mereka". Luhan berjalan tidak bersemangat. "Kalau semuanya sibuk. Lalu aku main sama siapa?" tanyanya entah pada siapa.

"Hyung. Kau disini?"

Luhan berbalik saat pundaknya ditepuk seseorang. Dan betapa senangnya dia saat melihat siapa orang itu. "Sehunie! Oh, betapa senangnya aku saat kau memanggilku" kata Luhan lebay.

Sehun tersenyum bingung. "Memangnya kenapa Hyung?"

"Tidak kenapa-kenapa. Ayo kita berkeliling" kata Luhan sambil mengajak Sehun berjalan.

.

"MWO? PINDAH SEKOLAH?!-AWWW!"

Setelah berteriak terkejut, Chanyeol langsung mendapat satu pukulan dikepalanya. Buru-buru dia menutup mulutnya saat melihat wajah Tao yang seperti siap membunuhnya.

Tao baru saja bercerita tentang hubungannya dengan Kris. Ternyata Tao sedang sedih karena Kris akan pindah sekolah.

Tao dan Chanyeol sekeliling kelas. Nampaknya, teman-temannya tidak peduli dengan kehebohan Chanyeol tadi.

"Tapi sebentar lagi kan ujian?" tanya Chanyeol dengan suara pelan. Tao hanya diam tidak menanggapi.

"Tapi, kalau memang dia mau pindah, kenapa kau malah menjauhinya?" tanya Chanyeol. "Bukankah lebih baik kalau kau berada disampingnya sebelum dia pergi?"

Tao mengangguk. "Ya, aku pikir juga begitu"

"Lantas, kenpa kau malah menjauhinya?" tanya Chanyeol lagi.

"itu karena..." Tao memikirkan kata-kata yang tepat sambil menggigit bibirnya. "aku tidak tahu... Huwaaaaaa~" Tao menelungkup diatas meja. Membuat Chanyeol menggaruk kepalanya bingung.

.

Luhan mendengus, "dia bilang dia ada janji dengan seseorang. Janji menemui pacarnya ternyata". Dia menatap kesal dua orang namja yang sedang duduk dibawah pohon dibelakang sekolah.

Saat ini Luhan dan Sehun sedang berada diatas atap sekolah. Tapi sejak tadi mereka belum membicarakan sesuatu. Luhan menatap seseorang yang sejak tadi bersamanya itu. "Kenapa kau diam saja? Kau sedang memikirkan sesuatu?" tanyanya pada Sehun.

Sehun menghela nafas sebelum berbicara. "beberapa hari terakhir, aku mencari Kim Junmyun"

"Kim Junmyun? Untuk apa kau mencarinya?"

"Aish, Hyung. Tentu saja untuk membuat perhitungan dengannya tentang kejadian waktu itu" jawab Sehun menggebu-gebu. "Tapi dia menghilang. Aku rasa dia melarikan diri dan tidak mau bertanggung jawab"

Kali ini Luhan yang menghela nafas. "kau tidak perlu melakukan itu" kata Luhan sambil menepuk pundak Sehun yang lebih tinggi darinya.

Dia duduk ditepi atap. "Aku beri tahu ya, Kim Junmyun adalah orang yang bertanggung jawab" katanya.

"Hyung. Apa kau membela Kim Junmyun?" tanya Sehun.

"Hhh~ Dasar anak muda" gumam Luhan. "Tanpa kau membuat perhitungan, Kim Junmyun pasti sudah menghukum dirinya sendiri. Aku yakin itu" lanjutnya.

Sehun mentap Luhan, antara yakin dan tidak yakin dengan apa yang dikatakan namja cantik itu.

"Apa?", tanya Luhan karena merasa dirinya sedang dipandangi.

"Apa itu benar, Hyung?"

Luhan mendesah, "inilah susahnya kalau bicara dengan anak dibawah umur" katanya. Dan Wajah Sehun nampak tidak senang. Tapi Luhan tidak peduli, dia melanjutkan ucapannya. "Kusarankan agar kau melupakan kejadian hari itu. Pura-pura tidak tahu saja lah. Aku yakin, Junmyun punya alasan untuk melakukannya"

"Kenapa kau jadi membela dia? Seharusnya kau membelaku" titah Sehun.

Luhan meloncat turun dari pinggiran atap, lalu merangkul bahu Sehun yang lebih tinggi. "Kim Junmyun punya video kita", bisiknya.

Dahi Sehun berkerut. "Video? Video apa?"

"Video kita. Ditoilet..." Luhan mengisyaratkan adegan ciuman dengan kedua tangannya dan terdengar bunyi 'chu. Chu. Chu' dari mulutnya yang dipoutkan.

"Kau sudah menemui Junmyun? Kenapa kau tidak mengajakku, Hyung?" tanya Sehun. "Apa dia mengancammu dengan video?"

Luhan menggeleng. "Tidak. Hanya aku yang takut jika Junmyun menyebarkan videonya" jawabnya "Dia Cuma berkata kalau dia melihat kita waktu itu. Dan apa yang kita lakukan adalah melanggar aturan".

"Lantas kenapa? Biarkan saja dia sebarkan. Biar semua orang tahu kalau aku sudah menciummu, Hyung" kata Sehun jahil.

Luhan sampai bungkam mendengarnya. Dan wajahnya nampak lucu sekali dimata Sehun.

"Oh, jadi kalian berciuman disekolah"

Sebuah suara menginterupsi mereka. Dan Luhan mengenali siapa yang bicara itu. "Minseok?" panggil Luhan. Minseok adalah siswa kelas tiga juga sepertinya. "Apa yang kau lakukan disini?"

"Jangan panggil aku seperti itu. Panggil aku Xiumin" kata Xiumin. Dia berjalan mendekat pada dua murid itu.

"Oh Sehun. Xi Luhan..." dia mencatat nama Sehun dan Luhan didalam bukunya. "...berciuman disekolah" lanjutnya.

Sehun dan Luhan terdiam mendengarnya. Bahkan saat Xiumin mencatat nama mereka. Jujur saja, mereka tidak mengerti apa yang sedang Xiumin lakukan disini. Yang bisa mereka lakukan hanya menatapi setiap pergerakan Xiumin.

"Ya ampun. Lihat mereka berdua dibawah sana. Mereka juga berduaan. Aku juga akan mencatat nama mereka" kata Xiumin setelah melihat Himchan sedang duduk bersama seseorang dibawah pohon. Lalu dia berlari keluar dari pintu atap.

Sehun dan Luhan hanya bisa diam menatapi kedatangan dan kepergian Xiumin yang tiba-tiba itu.

"Apa itu tadi?" tanya Sehun. Dan Luhan hanya mengedikkan bahunya.

Suara dering terdengar. Luhan yang merasa memiliki ponsel yang berdering itu pun segera mengambilnya dari dalam sakunya. Sebuah notifikasi dari akun media sosialnya. Seseorang telah menandai namanya dalam sebuah postingan.

Dan bertapa terkejutnya Luhan saat membaca berita yang mengejutkan. "Ini tidak mungkin!"

.

"Aduh, kenapa dia menatapku seprti itu. Jangan-jangan dia marah"

Himchan menyembunyikan wajahnya dibalik lengan Yongguk. Wajah Luhan saat marah benar-benar menyeramkan.

"Memang apa yang keu perbuat?"

Himchan menegakkan tubuhnya lagi. "hanya sedikit berbohong", jawabnya. "Oh, iya. Ibu menyuruhmu mampir setelah pulang sekolah nanti. Kau mau kan?"

"Memangnya ada apa? Mau membicarakan tentang pernikahan?"

Himchan tersedak. Apa yang baru saja Yongguk katakan? "Terlalu dini untuk memikirkan pernikahan. Uhuk.. uhuk.. Aku belum siap untuk itu", kata Himchan sambil terbatuk-batuk.

"Siapa yang mau menikahkanmu?"

Batuk-batuk Himchan hilang. "Lalu maksudmu tadi apa?"

Yongguk tersenyum gemas. Dia mencibit pipi Himchan samapi pipi itu memerah dan Himchan protes. Dia sangat menggemaskan.

"Bukankah sepupumu yang tinggal di Busan akan menikah?" kata Yongguk.

"Oh, iya" gumam Himchan. Dia sampai lupa ada hal penting seperti itu. Dia tertawa canggung sambil mengibas-ngibas wajahnya yang terasa panas karena malu. Dan itu membuat Yongguk terkekeh dan malah ingin mencubit pipinya lagi.

"Ibumu memintaku untuk mengabadikan moment pernikahan mereka. Semacam video dokumenter" lanjut Yongguk. Dan Himchan hanya ber'oh' ria saja. Dia masih merasa malu.

"Ah, kau ini terlalu percaya diri"

Himchan dan Yongguk terkejut merasakan bahu mereka dirangkul oleh seseorang.

"Minseok?" panggil Himchan. Dia terkejut sekali. Bagaimana bisa Xiumin sudah duduk diantara Yongguk dan Himchan tanpa mereka sadari?

Xiumin menghela nafas. "Kenapa semua orang memanggilku seperti itu?", gumamnya. Dia memberikan senyuman pada Yongguk yang menatap datar padanya.

"Bukankah itu namamu yang sebenarnya?" kata Himchan.

Xiumin menangkup wajah Himchan. "Himchan yang manis..." Dia menjeda ucapannya untuk memberi senyuman manis pada Yongguk yang menatap datar padanya. "...tutup mulutmu." Lanjutnya dengan penuh tekanan.

"Menyebut Xiumin saja apa susahnya" gumanya. Dia mempersiapkan bolpoin dan bukunya lagi.

"Bang Yongguk. Kim Himchan.." katanya sambil menulis. "...akan menikah dekat-dekat ini" lanjutnya.

"Sudah. Kalau begitu aku permisi. Annyeong". Setelah itu Xiumin melenggang pergi dengan wajah tanpa dosa.

"Apa maksudnya?" Himchan bertanya. Dna Yongguk hanya diam saja.

Suara dering terdengar. Yongguk dan Himchan mengambil ponsel mereka masing-masing dari saku mereka. Sebuah notifikasi yang sama seperti yang diterima oleh Luhan. Dan itu membuat keduanya terkejut, lebih-lebih lagi Himchan.

.

Kantin sekolah tiba-tiba ramai setelah ponsel beberapa murid berdering. (sebagian kecil dari murid tidak membawa ponsel untuk menaati peraturan). Mereka semua mendapat notifikasi dari sumber yang sama. Dan mereka langsung heboh setelah membaca berita.

Daehyun yang sedang menikmati makan siangnya bersama Youngjae jadi penasaran. Kenapa murid-murid itu terlihat sibuk dengan ponsel masing-masing.

"Ada apa sih?" Youngjae terlihat kebingung. Melihat itu, Daehyun memanggil seseorang yang duduk didekat mereka untuk bertanya.

"Hey, apa yang terjadi?"

"Kau tidak tahu? Apa kau tidak mendapat notifikasi juga?" tanya murid itu.

Daehyun menggeleng. "Aku tidak bawa ponsel. Memangnya ada apa?".

Murid itu tidak menjawab, tapi dia menyerahkan ponselnya supaya Daehyun bisa membacanya sendiri. Youngjae mendekati kekasihnya itu dan ikut membaca berita.

Seperti murid-murid yang lainnya. Mereka berdua sama terkejutnya. "Apa? Ini tidak mungkin", kata Youngjae.

Daehyun mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya dan menggandeng tangan Youngjae. "Ayo kita pergi" katanya. Dan tanpa persetujuan Youngjae, Daehyun terus menyeret namja manis itu kelar dari area kantin.

Mereka berlari dikoridor sambil bergandengan tangan dengan kecepatan maximum. Daehyun harus cepat sampai dikelasnya untuk menemui sahabatnya.

.

Xiumin sedang sibuk mencatat nama-nama siswa dalam buku catatannya. Dia sudah mencatat lima puluh lebih siswa yang menurutnya melanggar peraturan.

"Hey!" Xiumin menghentikan seorang siswa yang terlihat menjatuhkan sebuah kertas dilantai koridor. "Siapa namamu?" Dia bertanya, lalu dia menjawabnya sendiri setelah melihat name tag murid itu. "Kim Namjoon, membuang sampah sembarangan" katanya sambil mencatat.

Namja itu memungut kertas yang jatuh tadi. "Sampah? Ini adalah rangkuman materi yang akan diujikan nanti" katanya. Lalu dia menyingkir dari hadapan Xiumin.

"Apa? Aish! Anak ini!". Xiumin mencoret-coret tulisannya barusan dengan kesal dan mengganti keterangannya. "...membuat kertas contekan".

Lalu perhatiannya beralih pada dua orang murid. "Hey! Kalian" Xiumin meghentikan dua orang murid itu. Dia menatapi kedua murid itu dengan teliti. "kalian sudah melanggar aturan sekolah", katanya.

"Siapa nama kalian. Moon Jongup dan Choi Junhong." Dia mulai mencatat nama kedua murid itu dalam buku catatannya. "...membawa skate board kesekolah. Maka dari itu. Aku akan menyita skate board kalian"

"Apa?" Namja bernama Moon Jongup terlihat bingung.

"Tidak boleh", Choi Junhong menolak dengan berani.

"Lagi pula kami tidak memainkan ini dikoridor sekolah. Kami bermain dilapangan" kata Moon Jongup.

"Sejak kapan ada aturan yang melarang siswa bawa skateboard kesekolah?" tambah Junhong. "Sunbae ini, aneh-aneh saja" lanjutnya.

Xiumin terdiam. "oh? Tidak ada ya?", tanyanya tanpa dosa.

Kedua murid itu menggeleng dengan polosnya. Dari tatapan mata mereka yang bersinar, sepertinya mereka memang tidak bersalah.

"Ya sudah. Kalian boleh pergi" kata Xiumin sambil mencoret-coret catatannya barusan. Dia menggaruk balakang kepalanya yang terasa gatal. "Memangnya tidak ada ya?"

DRAP! DRAP! DRAP!

Xiumin menoleh saat mendengar suara langkah kaki yang bergemuruh ditelinganya. Dan matanya membulat seketika saat melihat dua orang siswa sedang berlari kearahnya.

"GYAAAA!"

Tangan kedua murid yang bergandengan itu menabrak Xiumin hingga membuat namja itu terjatuh dilantai. "Oh, astaga", Xiumin memegangi dadanya yang berdebar-debar karena shock.

"Aku tahu siapa mereka. Jung Daehyun dan pacarnya. Berlari dikoridor" kata Xiumin sambil mencatat dibukunya. "Seenaknya saja berlari dikoridor. Mereka pikir ini lapangan lari apa?" cibir Xiumin yang sepertinya sudah lupa dengan masa lalunya.

"Hai, manis. Butuh bantuan?"

Seseorang mengulurkan tangannya untuk membantu Xiumin. Dia adalah Jongdae. Tanpa malu-malu, Xiumin menerima ulurang tangannya dan membantunya berdiri.

"kau dari mana saja? Sepertinya kau sibuk seharian ini" tanya Jongdae.

"Aku sedang ada misi penting" jawab Xiumin. Dia membersihkan celananya yang kotor.

Bertepatan dengan itu, ponsel Jongdae berdering. Dia mengambilnya dari dalam sakunya. Namun yang dia ambil malah PSP kesayangannya.

Dengan sigap Xiumin mengambil PSP itu dari tangan ongdae. Dan Jongdae menganggap itu sebagai bantuan. Lalu dia kembali merogoh saku lainnya dan mengeluarkan ponselya dan mulai menekan-nekan ponselnya itu. Tak sadar jika Xiumin sedang mencatat namanya dalam daftar pelanggar aturan.

"Kim Jongdae. Membawa ponsel dan PSP" katanya. "Maafkan aku. Tapi aku harus menyita ini" kata Xiumin sambil menggoyangkan PSP ditangannya.

"Dan juga ponselmu" lanjutnya sambil mengambil posel dari tangan Jongdae. "Kau dialarang bawa ponsel kesekolah kan?" katanya.

Jongdae terkekeh tapi dia mengangguk membenarkan. "baby, apa nanti malam kau ada acara?" tanya Jongdae.

Xiumin menggeleng. "Tidak. Kenapa?"

"Bagaimana kalau kita kencan?" Jongdae bertanya sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Xiumin. Membuat Xiumin mundur sedikit. "kita nonton film. Biar aku yang ijin pada ibumu"

Wajah Xiumin bersemu melihat wajah Jongdae yang dekat itu. Dia mengangguk mengiyakan dengan malu-malu. "nanti aku telepon ya?", kata Jongdae. Xiumin mengangguk lagi.

"Tapi aku tidak bisa telepon kalau tidak ada ponsel. Hm?"

Xiumin menatap Jongdae yang sedang menadahkan tangannya untuk meminta ponselnya kembali sambil memasang senyum tampan yang membuat Xiumin harus tahan nafas. Jadi, mau tidak mau Xiumin mengembalikan ponsel itu ketangan Jongdae.

"nanti aku telepon ya?" Jongdae berkata sambil dan mempertahankan senyumannya dan juga memberikan kedipan mata. Xiumin mengangguk anggun lagi.

"Kau tahu. Kau sangat manis, XiuBaby" lajut Jongdae masih dengan jarak wajah yang dekat. Otomatis membuat Xiumin serasa melayang dilangit-langit koridor. "Kau itu lebih manis dari gula ataupun madu. Didunia ini, tidak ada yang bisa mengalahkan pesonamu"

Lalu dia menadahkan tangannya lagi. "PSPku" kata Jongdae sambil tersenyum. Dengan suka cita dan hati berbunga-bunga, Xiumin menurut. Dia menyerahkan PSP pada Jongdae.

"Coret namaku..." kata Jongdae. "...baby" tambahnya dengan wajah yang dimanis-maniskan(?). Seperti terhipnotis. Tangan Xiumin bergerak sendiri untuk mencoret nama Kim Jongdae dari daftar pelanggar aturan.

"Saranghae.." kata Jongdae. "Aku sedang ada urusan. Nanti kutelepon. Annyeong" Jongdae memberikan fly kiss sebelum dia pergi meninggalkan Xiumin ditempatnya dengan perasaan bahagia yang membuncah.

Dan saat Jongdae sudah jauh pergi. Dia baru sadar bahwa dia sudah tertipu oleh rayuan Jongdae. "Hey! ChenChen. Kembali!"

.

Daehyun tiba dilantai dua, dimana kelasnya berada. Tapi disana sudah penuh sesak seperti lautan manusia. Para murid memenuhi sepanjang koridor lantai atas dengan ponsel ditangannya. Dan mereka berteriak-teriak didepan kelas Daehyun.

"Minggir. Beri jalan" Daehyun menerobos lautan siswa itu sambil menggandeng tangan Youngjae. "Tolong beri jalan". Untung saja tidak butuh waktu lama bagi Daehyun menerobos siswa-siswa itu. Akhirmya dia mencapai pintu kelasnya yang tertutup. Pantas saja koridor penuh sesak.

Murid-murid yang berkerumun itu tak henti-henti meminta dibukakan pintu. Yang Daehyun lihat, didalam kelas ada beberapa murid saja dan juga Tao. Sedangkan didepan pintu ada Chanyeol.

"Chanyeol. Buka pintunya. Biarkan aku masuk". Daehyun mulai berteriak seperti murid-murid lainnya agar dibukakan pintu. "Hey. Buka pintunya!"

"tidak bisa. Nanti mereka masuk!", jawab Chanyeol dari dalam. Daehyun kecewa. Sudah susah payah dia menerobos kerumunan ini, tapi dia tidak bisa masuk.

"Hey. Minggir. Minggir. Minggir"

Sebuah suara yang sangat keras terdengar diantara kerumunan itu. "Ada apa ini? Cepat minggir atau kucatat nama kalian. Kalian tau ini buku apa? Blablablablabla.."

Muncul sesosok bakpau-maksudnya, sesosok namja yang sedang mengacung-acungkan buku dan bolpoinnya pada setiap siswa. Namja itu terus bicara bahwa dia yang diberi tanggung jawab oleh kepala sekolah untuk hari ini.

Dan perhatian para murid pun teralihkan. Ini menjadi kesempatan. Chanyeol membukakan pintu dan akhirnya Daehyun dan Youngjae bisa masuk kedalam kelas. Tidak ada yang sadar selain murid yang ada didalam kelas.

"Tao. Apa berita itu benar?" tanya Daehyun seraya berjalan menghampiri Tao. "Apa benar kau dan Kris putus?"

"Apa benar Kris Wu akan pindah sekolah?" kali ini Youngjae yang bertanya.

"Beritanya menyebar dengan cepat. Siapa yang membuat berita itu?" tanya Daehyun. Dia khawatir pada temannya itu. Semenjak dikabarkan menjadi pacar kris Wu, hari-harinya jadi berubah. "Itu tidak benar kan?"

Daehyun melihat Tao sedang menatap sebal pada Chanyeol. Daehyun pun ikut beralih menatap Chanyeol.

"I-itu kecelakaan. Aku tidak sengaja" Chanyeol menjelaskan dengan gugup. Daehyun menatapnya kesal. "Maafkan aku", tambah Chanyeol.

"Gwaenchana. Itulah yang sebenarnya terjadi. Untuk apa disembunyikan" kata Tao.

Daehyun, Youngjae, dan Chanyeol menghela nafas mendengarnya. Tao bicara seolah-olah dia menerima semuanya. Padahal wajahnya nampak sedih sekali.

Pintu terbuka dengan keras. Semua orang yang ada didalam kelas terkejut. Lebih mengejutkan lagi saat melihat Kris sedang memasuki kelas mereka.

Daehyun, Youngjae dan Chanyeol memberi kris jalan untuk mendekati Tao.

"Ayo kita bicara"

Suasana menjadi canggung saat mendengar suara Kris. Semua murid yang ada didalam kelas bahkan yang ada diluar menjadi hening.

"Ayo.." Kris mengulurkan tangannya. "...kita bicara" lanjutnya.

Tao nampak ragu-ragu. Namun kemudian dia mengulurkan tangan dan menyambut tangan Kris. Dia berdiri dan ikut Kris berjalan. Sebelum Jauh Kris menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan menatapi murid-murid disana. "Jangan ada yang mengikuti kami" katanya dingin. Lalu dia menggandeng Tao keluar kelas.

"Ini seperti drama saja" gumam Xiumin. Sadar bahwa semua murid menatapinya, dia pun teringat apa tujuannya. "kalian dengar, kan? Tidak ada yang boleh mengikuti mereka. Kalau sampai ada yang melanggar, akan kucatat namanya disini" katanya sambil memukuli buku catatanya dengan bolpoin.

"Apa lagi? AYO CEPAT BUBAR! BUBAR!"

Murid-murid langsung berebut lari untuk meninggalkan tempat kejadian perkara dengan patuh karena takut namanya dicatat.

.

Kris membawa Tao Kesuatu tempat. Bukan bilik tua diperpustakaan tempat favorit mereka. Melainkan dihalaman belakang sekolah. Kata Himchan, tempat ini adalah tempat yang jarang dikunjungi.

Mereka masih terdiam semenjak sampai disini. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Tao sih berharapnya Kris yang memulai, karena Kris yang mengajaknya untuk bicara.

"Aku..." Kris membuka suara.

Tao berusaha untuk tidak memasang tampang kesal. Walaupun didalam hatinya dia kesal setengah mati.

Kemarin namja pirang dan tampan itu mengajaknya kencan. Pantas saja semua yang Tao inginkan langsung dikabulkan oleh Kris. Ternyata saat pulang dia malah bilang kalau dia akan pindah sekolah dalam waktu dekat.

Bukannya memberi kesenangan, Kris malah membuat Tao bersedih setelah kencan. Hal itu sangat membuat Tao kesal.

"Sebenarnya aku..". Kris kembali menghentikan kata-katanya.

"Kau ini niat tidak sih? Kalau tidak lebih baik aku kembali kekelas" kata Tao sambil melipat tangannya.

.

Junhong dan Jongup yang sedang main skateboard ditempat yang sama jadi tidak nyaman semenjak Kris dan Tao datang.

"Apa kita hentikan saja ya?" tanya Jongup.

"padahal baru main sebentar" kata Junhong. Dia menunduk, "ya sudahlah. Ayo kita kembali kekelas saja"

"Sepertinya mereka butuh privasi" kata Jongup.

"Haaah~ kenapa dari tadi banyak orang yang mengganggu kita" kata Junhong.

"Sudahlah. Ayo kita pergi saja"

Akhirnya mereka memilih untuk kembali kekelas. Walaupun sebenarnya mereka belum puas main skateboardnya. Atau mungkin mereka belum puas untuk melihat wajah satu sama lain. Haha..

Saat sampai dipintu halaman, mereka melihat beberapa murid sedang bergerombol disana.

"Eh? Jongup?", panggil salah satu dari mereka. "Apa yang kalian lakukan disini? Sini, sini". Zelo dan Jongup mengenalinya sebagai Youngjae.

Mereka menghampiri Youngjae. "Kami biasa main disini. Tapi tadi ada Kris Wu dan Tao Hyung. Karena takut mengganggu jadi kami pergi" kata Jongup.

"Apa kalian dengar apa yang mereka bicarakan?" tanya Kim Himchan yang entah kenapa bisa bersama dengan Youngjae.

"Tidak. Dari tadi mereka diam saja" kata Junhong.

"Tolong kau bawa ini ya" Himchan menyerahkan sebuah benda pada Junhong dan Jongup. "Tolong bantu kami ya. Hari ini kami..."

.

"Kau buang-buang waktu saja" kata Tao. "Untuk apa mengajakku bicara kalau kau dari tadi Cuma diam?" Tao semakin kesal karena Kris tidak juga bicara.

"Sudahlah. Aku mau kembali kekelas. Aku mau mengerjakan PR", kata Tao.

"Bukannya PR seharusnya dikerjakan dirumah ya?" tanya Kris.

"Memangnya penting membahasnya sekarang?" tanya Tao judes. Dia sudah terlalu kesal. Tao pun akhirnya berjalan meninggalkan Kris.

"Eh, tunggu!" Tapi Kris menghentikannya. Dia memegang tangan Tao. Tapi Tao menepisnya.

"Kau kan bilang mau pindah? kenapa sampai sekarang tidak pergi-pergi juga?" kata Tao sambil menunjuk enatk kemana lalu dia kembali berjalan.

"Aku akan pergi setelah memberimu ini"

Tao berbalik lagi. "memberi apa?" tanya Tao. Pura-pura tidak tahu. Jelas-jelas Kris sedang menunjukkan sebuah kotak dihadapannya. "apa itu? Aku tidak mau diberi kenang-kenangan" kata Tao.

"Ini hadiah kok" jawab Kris.

Tao mengerutkan dahinya. "Hadiah?"

Kris menaik turunkan alisnya. "Kau tidak tahu ya? Hari ini kan..."

"HARI ULANG TAHUNMU. SELAMAT ULANG TAHUUUUUN!"

Tao terkejut karena beberapa orang yang dia kenal muncul dibelakangnya. Dengan suara konveti yang meletus dikanan kirinya disertai kertas warna warni yang berjatuhan di rumput. Nampak Chanyeol sedang membawa sebuah kue coklat ditangannya dnegan lilin-lilin yang menyala.

"Apa ini?" Tanya Tao bingung.

Semuanya ada disini. Chanyeol, Daehyun dan Youngjae, Luhan ge, Himchan Hyung, bahkan Junhong dan Jongup. Semuanya ada disini.

"Begini, baby" Kris mencoba menjelaskan sambil meraih tangan Tao. "Sebenarnya... aku pindah itu hanya bercanda saja. Itu hanya untuk.. umh..mengerjaimu saja. Hehehe.." katanya.

Hening sesaat. Semua yang ada disana sedang menunggu respon Tao.

"MWO?!"

Semua orang disana terkejut mendengarnya. Untung saja Chanyeol tidak menjatuhkan kue ulang tahunnya.

"Semalaman aku menangis karena kau mau pindah ke Cina. Ternyata hanya sebuah gurauan saja?" tanya Tao dengan nada tidak terima. Kris mengangguk dan memberikan cengirannya. "APA KALIAN BERCANDA?!" lanjutnya. Membuat semua yang ada disana mundur selangkah.

"Eh, baby. Baby. Tenanglah. Lebih baik kau buka hadiahmu" kata Kris.

"Oh, benar juga" Dalam sekejap, amarah Tao hilang. Dia jadi bersemangat membuka hdaih yang Kris berikan. Sebuah beanie rajut berbentuk kepala panda, disertai telinga dan juga mata pandanya.

Tao memakainya dan langsung mengundang decak kagum dari teman-temannya.

"Dia lucu sekali"

"Topinya cocok untukmu"

"Wah, lucunyaaa.."

"Tao. Ayo foto. Nanti aku upload di SNS", kata Luhan. Dia sudah mempersiapkan ponselnya untuk mengambil gambar Tao dan Kris. Setelah itu dia mengunggah foto itu disertai dengan penjelasan bahwa rumor Kris yang akan pindah sekolah dan putusnya hubungan Tao dan Kris tidak benar. Hanya untuk mengerjai Tao yang sedang ulang tahun. Tidak lupa dia juga menandai semua teman dan fansnya, agar gosip tidak berlanjut.

"Terima kasih Kris ge. Aku suka ini" kata Tao. "Kau beli diamana?" tanya Tao.

"Aku merajutnya sendiri selama tiga bulan. Nenekku yang mengajarkannya. Aku hebat kan?"kata Kris sambil menaik-turunkan alisnya.

Teman-teman yang lain berdecak kagum. Sedangkan Tao, wajahnya sudah bersemu malu.

"Ya ampun. Aku tidak tahan melihat ini" kata Himchan. "Ini terlalu manis. Membuatku iri" katanya. Dan teman-temannya tertawa. Mereka semua tahu Himchan berkencan dnegan namja seperti apa.

"Ayo kita potong kuenyaaa~" seru Chanyeol. Dan mereka semua memulai pesta kecil mereka dihalaman belakang sekolah.

Tiba-tiba...

Muncul seseorang dintara mereka. Dengan sebuah buku catatan dan bolpoin yang selalu dibawanya kemana pun dia pergi.

"Mengotori halaman belakang" kata seseorang itu sambil menulis dibuku catatannya. "Aku akan mencatat nama kalian semua".

Semua yang hadir disana menatap pada orang itu, Xiumin. Mereka membulatkan mata. Bahkan Chanyeol sampai menjatuhkan sepotong kue ditangannya. Kalau sampai namanya ditulis, itu berarti dia sudah dicatat sebanyak dua kali.

"Kabuuuuur!", seru Chanyeol. Lalu semua yang ada disana langsung melarikan diri sambil menutupi name tag mereka masing-masing.

"Hey! Jangan kabur kalian! Aduh, siapa saja tadi ya.. Kris, Luhan... HEY! BERHENTI!" Xiumin pun ikut berlari untuk mengejar mereka.

TBC.

Tanpa banyak bicara.

Big Thank's to:

Chinderella cindy. Ruka17. Babyln9090. Chenma. Kim XiuXiu Hunnie. Yongchan. Ajib4ff. Mrs. EvilGameKyu. Brigitta Bukan Brigittiw. .9. mokythatha. Gies02l. N-yera48. A Y P. Maplefujhosi2309. Suholicious. Sapphiregirl. XanDC09. Guest. Nur991fah. Alysaexostans. Uozumi Han. DaeLove28. Ichabyun. KT CB. HappyHeichou. himekaruLI. ri-shippe-raly. andini taoris. Hwangjie. KyungKyung. YJ. She3nn0. . jngnvy. Honeykai. Ayukaizelo.

Review(lagi) juseyo...

:*