.
.
.
Story by Chess Sakura
Disclaimer © Koge Donbo
Pair: Kazune x Karin
Warning: OOC, AU, Miss Typo(s), no EYD, Fluffy (Maybe)
For Kamichama Karin Event #Drabble A-Z
This Drabble F-K
Sisanya nanti menyusul .
.
.
.
Selamat membaca
.
.
Feeling.
Warning: T /Romance/
.
"Karin mengapa aku harus membawa payung? Hari ini cuara cerah Karin." Kazune tampak mengomel kala Karin bersikeras agar dia membawa payung lipat berwarna biru itu.
"Aku mempunyai firasat akan turun hujan Kazune-kun, bawa saja untuk jaga-jaga."
"Hujan? di musim panas? Yang benar saja Karin. Cukup! aku tidak mau membawanya." Kazune kembali mengeluarkan payung itu dari tas kerjanya dan menyerahkan benda itu pada Karin.
"Tapi-"
"Ittekimasu." Kazune langsung berangkat setelah tadi mencium terlebih dahulu dahi Karin, dia segera kabur dari istrinya yang tampak masih tetap ingin agar dia membawa payung itu. Dia terlalu malas berdebat dengan Karin di pagi hari.
"Kazune-kun tunggu." Perkataan Karin hanya di anggap angin lalu karena suaminya itu terus berjalan tanpa menoleh kebelakang.
Dengan menghela nafas panjang Karin kembali menyimpan payung biru itu dan masuk kedalam rumahnya. "Semoga tidak terjadi hal buruk," doanya.
...
ZHARRRT
Sore harinya Hujan turun dengan begitu deras mengguyur wilayah tokyo, Kazune tampak mengumpat kesal melihat air hujan yang bercampur dengan angin itu, ternyata perkataan istrinya benar hujan akan turun hari ini dan dia sangat menyesali telah menyangkal perkataan istrinya. Jika saja pagi tadi dia menuruti ucapan istrinya, mungkin saja sekarang Kazune tidak akan terjebak di pinggiran toko menunggu hujan reda.
"Kuso!" Entah ini sudah keberapa ribu kali umpatan yang keluar dari pria dengan surai pirang yang tampak lepek itu, gigi-gigi Kazune tampak bergemelutuk menahan dinginnya udara, sesekali dia mengulurkan tangannya, menengadah pada tetesan air hujan.
"Cepatlah berhenti," ucap Kazune yang terdengar gemetar, sunggu dia amat tidak suka pada udara dingin seperti ini, tubuhnya tidak bisa tahan pada udara dingin yang di perkirakan suhunya sudah di bawah 20 derajat celcius.
Kepala pirang Kazune menunduk, kedua tangannya mengerat memeluk dirinya sendiri. Dia benar-benar sudah tidak kuat menahan hawa dingin.
"Kazune-kun?"
Seorang wanita memanggilnya, suara yang amat dia kenal dan benar-benar dia rindukan saat ini. Tampak Kazune tidak mengangkat kepalanya. Dia berkeyakinan jika suara itu hanyalah ilusinya saja.
"Kazune-kun, kau kah itu?" Makin lama suara itu semakin jelas di dengarnya dan di ikuti juga suara langkah kaki yang mendekat. Kazune memberanikan diri mengangkat kepalanya, irisnya tampak berusaha fokus melihat sesosok wanita dengan mantel hijau yang tengah berlari menerjang hujan.
"Ka-karin?" Kazune masih belum mempercayai jika wanita itu adalah istrinya, tapi semakin dekat wanita itu, semakin jelas sosoknya.
Grep
Hangat, Kazune merasakan tubuhnya menghangat saat wanita itu memeluknya dengan begitu erat.
"Aku mengkhawatirkanmu, kau baik-baik saja kan Kazune-kun?" tanya Karin yang semakin mengeratkan pelukannya, dia juga dapat merasakan tubuh dingin suaminya yang bergetar.
"Ka-kamu pasti kedinginan Kazune-kun." Kekhawatiran sangat terlihat jelas di wajah Karin, di lepaskan pelukannya dan tampak menggenggam tangan Kazune yang sedingin es, meniup tangan itu dengan udara panas dari mulutnya. Tangan Karin juga tampak beralih membingkai wajah Kazune.
"Ka-kazune-kun?" Karin mulai merasa takut, suaminya sejak tadi tidak bersuara masa sekali.
"Ka-kazu-"
"Maafkan aku,"
Grep!
"Maafkan aku, karena tidak mendengar perkataanmu Karin dan maafkan aku karena membuatmu khawatir." Kazune memeluk Karin dengan begitu erat, membenamkan wajahnya pada bahu Karin. Ini bukan khayalannya ini kenyataan, wanita yang di peluknya ini benar-benar istrinya.
Hampir lima belas menit mereka dalam posisi berpelukan, Kazune tampaknya masih enggan melepaskan pelukannya, dia tampak tengah menikmati hangatnya tubuh sang istri yang mampu membuatnya tenang.
"Karin, bagaimana kau bisa tahu jika hari ini akan hujan dan juga yang membuatku semakin bingung, kenapa kau bisa mengetahui keberadaanku?"
"Feeling seorang istri selalu tepat Kazune-kun," jawab karin singkat dan jawaban itu malah membuat Kazune semakin mengeratkan pelukannya, dia benar-benar beruntung memiliki istri seperti Karin.
"Arigatou to Aishiteru, Karin"
.
.
.
Girlfriend
Warning: T / Friendship/Romance/
.
.
"Karin mulai sekarang kau adalah kekasihku,"
'Kekasih?'
"..."
'Aku... kekasih Kazune-kun?'
Langkah Karin tampak begitu pelan, bahkan iris emerald itu terlihat kosong menatap jalan di depannya, pikiran gadis itu terus melayang ke kejadian sore kemarin. Kejadian saat Kazune menyatakan perasaannya dan menjadikan dia kekasih.
"Aku masih tidak percaya," guman Karin yang tampak menepuk-nepuk kedua pipinya.
"Karin-chan!"
Grep!
Karin langsung terdorong kebelakang saat tubuhnya di peluk Miyon, dia juga dapat melihat teman-temannya yang langsung mengelilingi dirinya.
"Karin-Karin-Karin.." Dengan semangatn, Miyon mengguncang tubuh Karin dan sukses membuat gadis itu pusing.
"Miyon hentikan kau dapat membunuh Karin," seru Michiru yang berlebihan. Pemuda dengan warna rambut hampir sama dengan Karin itu tampak menarik Karin ke sisinya.
"A-ada apa ini?" seru Karin kaget sekaligus bingung.
"Karin-chan, apa benar kamu berpacaran dengan Kazune?"
Deg!
Pertanyaan Himeka mampu membut jantung Karin berdetak dua kali lipat. Bagaimana mereka bisa tahu?
"E-etoo..." Dia bingung mau menjelaskannya.
"Katakan jika berita yang kami dengar ini bohong, Karin?" Tuntut Jin yang terlihat kesal.
"A-ano..." wajah Karin memerah, dia mulai gugup.
"Karin?"
"..."
"Karin, kenapa kau hanya diam saja. Jawab Karin?"
Karin benar-benar terpojok, terlalu bingung untuk menjelaskannya. Ya walau dia ada niat akan memberitahukan hubungannya ini –yang masih belum Karin percayai-tapi tidak secepat ini juga.
"Hentikan!" Semua tampak langsung terdiam, secara serempak menoleh kebelakang dan melihat sosok Kazune dengan kedutan amarah di kepalanya.
"Apa yang kalian lakukan, Hah?!" Pemuda itu berjalan mendekati Karin dan kemudian dengan Kasar merebut Karin dari Michiru.
"Lihat! kau membuat dia ketakutan." Kazune tampak menoleh kearah Karin yang masih belum bersuara juga.
"Kau baik-baik saja, Karin-chan?"
"EEHHHH? –Chan..." Secara serempak semua terkejut akan panggilan Kazune pada Karin, mereka tahu Kazune tidak pernah memanggil nama perempuan dengan sulfix –chan, dan sekarang telinga mereka mendengar pemuda itu memanggil seorang gadis dengan tambahan –chan. Tidak salah lagi jika mereka benar-benar.
"Kalian benar-benar sudah pacaran?!"
Kazune tampak tidak memperdulikan pertanyaan itu, dia langsung berjalan seraya menarik Karin bersamanya.
"Woi Kujyo, jawab pertanyaannya!" Teriak Jin yang emosi.
"Kalau kami memang pacaran, kalian mau apa?" Dan perkataan Kazune benar-benar mampu membuat orang-orang yang mendengarnya terkejut dan mambuat beberapa fansgirlnya langsung sakit hati.
Oh jangan lupakan Jin Karasuma yang sudah membatu dengan hati yang retak.
.
.
Indecisive
Warning: T /Romance.
.
.
Karin tampak memutar-mutar kotak yang terbungkus kertas kado berwarna biru dengan pita merah yang melingkarinya, sesekali iris emerlandnya beralih kesosok pemuda yang tangah berlatih memanah.
"Berikan? Tidak?" Dia benar-benar bimbang untuk memberikan coklat buatannya ini pada kekasihnya itu. Karin takut jika coklat buatannya tidak enak dan yang lebih parah coklat ini malah meracuni Kazune.
"Apa yang harus kulakukan?" Karin tampak berjongkok dengan kepala yang menunduk dalam, tangannya tampak mengetuk-ngetuk tanah yang di lapisi rumput hijau itu.
"Aku takut rasanya tidak enak. Tapi jika aku tidak memberikannya, Kazune tidak akan tahu jika aku juga mencintainya." Sudah dua hari dia berpacaran dengan Kazune dan selama dua hari itu juga pemuda itu belum mengetahui perasaan dia yang sesungguhnya. Karin berniat mengungkapkan perasaan cintanya dengan coklat ini, tapi dia begitu takut jika coklatnya tidak di terima.
Karin benar-benar bimbang.
"Karin, apa yang kau lakukan disini?" Tubuh Karin tersentak, dengan buru-buru langsung di sembunyikannya kotak itu di balik badan dan segera berdiri di hadapan Kazune.
"Se-selamat siang Kazune-kun," sapa Karin dan tak menjawab pertanyaan Kazune. Jantungnya benar-benar berdebar-debar saat ini. Takut jika Kazune melihat kotaknya-
"Apa yang kau sembunyikan?" Iris sapir itu tampak melihat kearah tangan Karin.
"Bu-bukan apa-apa."
"Coba ku lihat."
"Ah jangan!" Karin langsung mundur kebelakang, saat tangan Kazune hendak memegang tangannya yang sedang menyembunyikan kotak biru itu.
"Karin, jangan sembunyikan sesuatu dari ku!"
"A-aku tidak sembunyikan apapun," elak Karin dan berusaha tersenyum pada Kazune. Namun tatapan curiga yang di berikan Kazune mampu membuatnya berkeringat dingin.
"Perlihatkan padaku!" perintah Kazune tegas. Karin sudah tidak bisa mengelak, dengan takut-takut gadis itu mengeluarkan kotak yang dia sembunyikan dan menyodorkannya pada Kazune.
"Ini apa?"
"I-ini adalah co-coklat buatanku, a-aku sengaja membuatnya untukmu. Ta-tapi, aku takut jika rasanya tidak enak."
Kazune tampak membuka ikatan pita merah yang melingkar di kota itu, membuka tutupnya dan mengeluarkan coklat berbentuk hari dari dalamnya.
"A-aku membuat ini. Ka-karena aku ingin memberitahumu, ka-kalau aku juga mencintaimu, Ka-kazune-kun." Oh sungguh kedua kaki Karin benar-benar lemas, dia begitu gugup.
Kazune tertegu mendengar penuturan kekasihnya, terlihat juga rona merah menghiasi wajah pemuda itu.
Tak!
Karin tampak membulatkan matanya saat Kazune mamakan coklat buatannya.
"Ka-kazune-kun, jika rasanya tidak enak, kau boleh memuntahkannya," ucap Karin yang terlihat khawatir akan rasa coklat buatannya itu, Karin melihat cemas pada Kazune yang terus menguyah coklat buatannya.
"Ini enak."
"Eh?!"
"Coklat yang dibuat dengan penuh rasa cinta, rasanya pasti akan enak," ucap Kazune seraya tersenyum pada Karin dan senyuman itu sukses membuat warna merah menguasai wajah Karin.
"Kau harus mencobanya." Tanpa aba-aba Kazune langsung memasukan sepotong coklat kemulut Karin. Karin tampak hanya terdiam dengan sebagian coklat yang masuk kemulutnya.
Tak!
Cup
Dan tindakan selanjutnya mampu membuat jantung Karin serasa berhenti berdetak, Kazune dengan tiba-tiba memakan sebagian coklat yang tidak masuk kemulutnya dan tentu saja itu membuat bibirnya dan bibir Kazune menempel.
"Maniskan?"
Wajah Karin benar-benar terasa panas. First kissnya sudah di rebut.
.
.
Just say I love you
Warning: T /Romance/
.
.
"Cepat katakan perasaanmu, Kazune." Michiru tampak mendorong-dorong tubuh Kazune untuk keluar dari rumah.
"Jangan sampai dia pergi tanpa mengetahui perasaanmu," seru Michi.
"Apa kau ingin di dahului oleh Artis muda itu? melihat Karin bersama Jin dan menerima cinta Jin kuga?"
"Tentu saja aku tidak mau!" Kazune tampak diam seraya menoleh pada sahabatnya.
"Aku tidak akan membiarkan Artis bodoh itu, merebut Karin." Serunya emosi. Michiru tampak tersenyum menanggapi.
"Kalau begitu tunggu apa lagi, cepat susul Karin ke bandara dan nyatakan Cintamu." Michiru dengan semangatnya, kembali mendorong Kazune. Dia benar-benar gereget pada kelambatan Kazune. Sudah lebih dari lima tahun pemuda blonde itu memendam rasa cintanya pada Karin. Dia tak pernah berani untuk mengungkapkan, asalannya satu -Dia takut Karin tak mencintainya. Padahal sudah jelas jika gadis itu, mencintai Kazuna. Di lihat dari sikap Karin yang begitu perhatian pada Kazune.
"Baiklah, aku akan mengatakannya." Sesaat Kazune menarik nafas dan setelahnya melesat dengan kecepatan tinggi menuju bandara.
Hari ini adalah hari keberangkatan Karin ke Australia, gadis itu akan melanjutkan pendidikan di universita terkemuka di sana.
...
"Kazune-kun?" Karin tampak melihat bingung pada sosok Kazune, nafas pemuda itu tampak memburu dengan beberapa keringat di dahinya.
"Ka-karin, ada yang ingin aku ucapkan." Raut wajah serius dari Kazune membuat Karin menatapnya lekat. Entah mengapa dia jadi berdebar.
"Apa?"
"Ikut aku!" dia langsung menarik tangan Karin, mengajak gadis manis itu ke tempat yang di rasanya cukup nyaman.
"Tu-tunnggu Kazune-kun, lima belas menit lagi aku akan berangkat."
"Sepuluh menit, Aku hanya minta waktu sepuluh menit saja." Tak bisa menolak, akhirnya Karin memutuskan untuk menuruti permintaan Kazune. Karin dapat merasakan ada sedikit getaran di tangan Kazune.
'Apa yang mau dia bicarakan? Dan kenapa aku begitu gugup.'
...
Iris emerald dan sapir itu tampak saling mengunci, tangan Kazune terlihat menggenggam erat kedua tangan gadis didepannya. Dia harus mengatakannya sekarang, harus bisa mengungkapkan perasaannya.
'Ayo Kazune.' Batinnya menyemangati.
"Ka-karin-" Oh sungguh kenapa debaran jantung ini semakin mencepat, Kazune merutuki dirinya yang begitu gugup saat ini. Tampak tarikan nafas di lakukan pemuda blonde itu.
"A-ada yang i-ingin aku katakan?"
Karin masih menunggu kelanjutan kalimat Kazune dengan harap-harap cemas. Mungkinkan Kazune akan-
"A-aku... A-aku... A-aku..."
'Tenangkan dirimu Kazune.' Sekali lagi menyemangati dalam hati.
"I-iya Kazune-kun?" Dan Karin pun sepertinya tertular kegugupan Kazune.
"A-aku..." Tampak genggaman tangan itu semakin mengerat. Ini benar-benar sangat sulit.
"Kepada para penumpang, pesawat dengan tujuan Sydney-Autralia akan segera berangkat. Di mohon untuk bersiap." Pemberitahuan itu membuat Karin melihat khawatir kearah jamnya.
"Kazune, cepatlah. Pesawatnya akan segera berangkat. Apa yang ingin kau katakan?"
Mendapat desakan dari Karin dan juga mendengar pemberitahuan itu, kegugupannya semakin bertambah.
"A-aku hanya ingin mengatakan. Kalau A-aku-"
"Karin ayo cepat, Pesawat kita akan segera berangkat." Karin tampak menoleh pada Kazusa dan kembali menatap pada pemuda di depannya.
"Maaf, Kazune-kun. Aku harus segera berangkat." ucapnya seraya melepaskan genggaman tangan Kazune dan perlahan mulai berjalan menyusul Kazusa.
"HANAZONO KARIN, AKU MENCINTAIMU!" Pernyataan cinta yang begitu lantang, bahkan sampai menyedot perhatian pengunjung bandara. Dengan nafas yang terengah-engah, Kazune melihat kearah Karin yang terdiam di tempat.
Karin berbalik dan tampak masih belum percaya dengan apa yang didengarnya.
"A-apa yang kau katakan, Kazune-kun?" tanyanya memastikan.
Kazune berjalan mendekat, "Kubilang, Aku mencintaimu Karin" dan langsung memeluk Karin.
.
.
Kiss
Warning: T/ Romance/
.
.
Karin terlihat memandangi Skenario di tangannya, pipi gadis itu tampak merona setelah membaca deretan kalimat itu.
"Kau sudah membaca Skenariomu, Karin-san?" tanya seorang pria tua pada Karin.
"Sutradara, apa kau yakin? Aku harus melakukan ini?" tanya Karin.
Sutradara itu hanya tersenyum dan tampak duduk disamping artis muda itu. "Tentu saja," ucapnya yakin.
"Ta-tapi, dalam Skenario ini aku harus melakukan Kiss dengan Kazune-kun, a-aku-"
"Kenapa memang, bukannya kalian sudah pacaran."
"Kami memang pacaran, tapi kami belum pernah melakukan Kiss." Nada suara Karin kian mengecil saat mengatakan itu.
"Bagus dong. Dengan begitu ini First kiss mu. Dan benar-benar sesuai dengan Skenarionya."
"Ta-tapi-"
"Bersikap profesional Karin-san. Kau adalah artis, maka sudah seharusnya kau melakukan apa yang ada dalam Skenario. Jangan campuri urusan pribadi dengan pekerjaan." Setelah mengatakan itu, sutradara langsung pergi meninggalkan Karin.
"Kau benar sutradara. Tapi masalahnya, aku tidak tahu bagaimana caranya melakukan Kiss." Tampak tangan itu menarik surai coklatnya, adegan ini benar-benar adegan tersulit yang pernah dia lakukan -selama lima tahun menjadi artis.
...
"Karin, kau melamun lagi." Kazune mengibaskan tangannya di depan wajah Karin –untuk yang ketiga kalinya. Dia tampak bingung melihat sikap Karin hari ini.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanyanya.
Tampak Karin melihat kearah Kazune, memperhatikan wajah pemuda itu dan warna merah langsung menghiasi kedua pipinya saat dia melihat kearah bibir Kazune.
"Karin, kau kenapa?" Lagi-lagi Kazune harus menyadarkan Karin.
"A-ah! a-aku tidak apa-apa." jelas Karin dan tampak sangat gugup.
"Apakah kau, sudah membaca Skenario yang baru? Aku belum membacanya. Adegan apa yang harus kita lakukan nanti?" Dan mendengar pertanyaan Kazune, jantung Karin kian berdebar.
"E-etoo..." Wajah gadis itu kian memerah.
"Kau baik-baik saja, Karin? Hari ini kau sangat aneh. Apa kau sakit?" Melihat sikap yang tidak biasa dari pacarnya, sering melamun dan terkadang wajah manis itu tampak merona, membuat Kazune khawatir pada keadaan Karin.
Tangan Kazune terulur dan menyentuh dahi Karin "Hangat." Ucapnya.
"A-aku baik-baik saja. O-oh ini, sebaiknya Kazune membacanya se-sendiri. Ah! A-aku mau ketoilet." ucap Karin –sangat gugup-, gadis itu segera melesat pergi setelah memberikan Skenario pada Kazune.
"Dia kenapa?" Masih dengan kebingungan akan sikap Karin, Kazune tampak membaca Skenario yang di berikan padanya. Membaca dengan teliti dan tampak berhenti sesaat, sebelum senyuman mistrius tampak terukir di wajahnya.
"jadi, ini penyebabnya."
...
"Terimakasih sudah mau mengantarku, Kazune-kun." ucap Karin seraya membungkuk. Setelah kembali dari toilet, Karin langsung pamit untuk pulang lebih dulu -Padahal dia melakukan itu hanya ingin menghindar dari Kazune. Awalnya dia ingin pulang sendiri, namun Kazune langsung menolak. Pemuda itu segera berdiri dan mengantar Karin pulang.
"Karin, aku sudah membaca semua Skenarionya." Langkah Karin tampak berhenti, gadis itu mematung di tempat.
"Dan ku rasa kita harus latihan untuk adegan 'itu'?" ucapnya seraya memeluk tubuh Karin dari belakang.
Karin tak bisa berbuat apa-apa, syaraf-syaraf tubuhnya tiba-tiba tidak berfungsi. Tampak perlahan Kazune membalikan tubuh gadis itu.
"Agar nanti tidak ada pengulangan lagi dan agar kau terbiasa." Seringaian dari Kazune, iris sapir itu menatap luruh ke iris emerald Karin.
"Aku mengingat dialognya, setelah aku mengucapkan ini. 'Aku mencintaimu, sanga mencintaimu dan aku ingin memilikmu' " Kazune mengucapkan dialog yang ada dalam Skenario.
"Dan kau hanya terdiam dan menatap ku. Lalu-" Tangan Kazune tampak meraih dagu Karin, sedikit mengangkat wajah gadis itu dan kian mempersempit jaraknya.
"Kita-"
Cup
Dan akhirnya Karin tahu bagaimana cara Kiss.
.
.
.
.
Fin
HOHOHOHOHOHOHOOHO Drabble F-K selesai. Alhamduliah. Sepertinya fluffynya kurang ya? :-D hehehehehe.
Gomen ne minna, aku lama melanjutkan fic ini. Kemarin kan semesteran, jadinya aku fokus pada ulangan dan sepertinya waktu Event ini akan segera berakhir, tapi tenang aku akan berusaha menyelesaikan ini sampai Z . :D semoga di beri kemudahan.
Yo wis yang sudah baca, jangan lupa REVIEW yaaa... ;-) agar aku semangat lagi.
#Arigatou
Chess Sakura 16/13/2014
