[CHAP 2]
ENJOY STORY!
[Don't Like? Want To Bash Me? HUSH!]
LullabyDik
Presents
.
.
2 tahun kemudian…
Sepulangnya Kyuhyun dari gedung kuliah tempat nya mengajar seni suara, Kyuhyun menyempatkan diri mendatangi kantor suami tercintanya –Kim Kibum. Berdiam diri dirumah bukanlah tipe Kyuhyun. Dia mempunyai ijazah yang bisa digunakan dan didukung oleh kecerdasan Kyuhyun yang tidak bisa dianggap enteng.
Pukul 10.00 malam dan Kyuhyun yakin Kibum belum pulang sebab namja tampan itu telah berpesan akan pulang larut malam.
Disela dia berjalan, pesan masuk datang dari Seunghyun, salah satu siswa yang dia ajari. Kyuhyun menghela berat. Sudah berapa kali siswa keras kepala ini mengganggu kehidupan Kyuhyun. Seunghyun sudah tahu akan status pernikahan Kyuhyun tetapi namja populer itu tetap saja memaksakan dirinya mendekati Kyuhyun.
"Seunghyun, jika kau masih menghubungi saya. Nilaimu akan benar-benar saya buat E." Kata Kyuhyun langsung. Tidak ada sahutan dari seberang. Alis Kyuhyun bertaut bingung. Biasanya ocehan tidak jelas Seunghyun akan langsung terdengar.
"Jangan bermain-main dengan saya, Choi!" pekik Kyuhyun memanggil marga Seunghyun –tandanya dia benar-benar marah. Belum ada juga sahutan dari seberang. Hening dan diam. "Saya tutup."
"Seosang… Cho seosang…" lirih suara yang diyakini Kyuhyun adalah milik Seunghyun.
"Margaku Kim, Choi!"
"Tell me goodbye." Suara itu semakin lirih dan terdengar putus asa. Bulu kuduk Kyuhyun meremang. Disatu sisi dia ingin sekali memaki Seunghyun namun satu sisi lain, dia khawatir dengan siswanya. Pasti ada alasan yang membuat Seunghyun begitu terdengar menyedihkan.
Pikiran-pikiran negatif mulai berkeliaran tentang Seunghyun.
"Seunghyun, jika kau bercanda aku tidak akan membiarkanmu hidup setelah ini! Tapi, YAKK! Katakan padaku kau kenapa?" omel Kyuhyun. Melupakan tata krama sebagai dosen dengan murid. Keringat dingin mulai bercucuran. Deru nafas berat darisana membuat jantung Kyuhyun berdetak cepat. Demi Tuhan! Dia sangat cemas. Bahkan langkah kakinya telah memutar balik menuju pintu keluar gedung.
"Seunghyun! Seunghyun! Jawab aku!" teriak Kyuhyun panik.
"Katakan, kau dimana!" teriak Kyuhyun lagi. Orang-orang yang berlalu lalang mulai memperhatikan Kyuhyun namun namja manis itu tidak memperdulikannya.
"Seosang… mianhae. Saranghae…" sambungan terputus sepihak.
"YAKK! YAKK!" Kyuhyun tidak hentinya meneriaki ponsel yang sudah mengeluarkan bunyi 'tutt… tutt' itu.
"Astaga! Aku harus ke apartemennya." Dipinggir jalan Kyuhyun memberhentikan sebuah taxi. Dia pernah ke apartemen pribadi Seunghyun, terpaksa akibat suruhan pihak petinggi tempatnya kuliah untuk menjemput namja bebal itu. Seunghyun merajuk saat mengetahui Kyuhyun sudah menikah. Namja berbadan atletis itu mengurung diri selama seminggu persis seperti bocah ingusan.
Beruntung appanya adalah orang berpengaruh di Universitas tersebut. Bersalah atau tidak, Kyuhyunlah yang harus menanganinya.
Lengan Kyuhyun yang akan ikut masuk bersama tubuhnya didalam taxi ditarik paksa oleh seorang namja dari luar. Sehingga Kyuhyun keluar kembali. Amarah Kyuhyun memuncak begitu menemukan namja penarik dirinya adalah namja yang sama membuat Kyuhyun cemas –seperti orang stress.
"CHOI BRENGSEK! SIALAN! MATI SAJA KAU!" tas tangan Kyuhyun beralih menjadi pemukul sementara yang dihempas kasar ke tubuh Seunghyun berulang-ulang. Teriakan sadis meraung-raung milik Kyuhyun menggema dipinggir jalan kota Seoul itu. Seunghyun membiarkan Kyuhyun memukuli dirinya. Tetapi, lama kelamaan itu terasa sakit juga.
Secepat kilat dan penuh pemaksaan, Seunghyun meraih tubuh Kyuhyun dan mendekapnya erat. Membuat namja mungil itu tidak bisa memberontak lagi.
"Maaf seosangnim. Aku tidak berniat menjahilimu. Tapi saat aku melihat kau, ide itu tiba-tiba muncul. Aku tidak tahu seosangnim akan secemas ini."
"LEPAS! Aku tidak bisa bernafas bodoh!" tangan Kyuhyun mendorong keras dada bidang Seunghyun. Meraup oksigen yang dia perlukan. "Dengar! Siapa juga yang tidak cemas mendengar kau seperti orang yang akan mati! Tentu saja aku cemas. Pakai otakmu sekali-kali bodoh!" umpat Kyuhyun tiada hentinya.
Seunghyun hanya tersenyum manis. Kyuhyun lebih baik mengomel daripada berbicara lugas dan tegas yang sama saat dia mengajar. "Mian nde."
"Ya sudahlah. Lama-lama aku seakan kebal terhadap kelakuan anehmu! Aku pergi."
"Tunggu. Seosangnim ada urusan apa disana?"
Kyuhyun mendelik tidak suka dengan perilaku Seunghyun yang meremas bahunya kasar. Namun, ide setan baru saja melewati saraf otaknya. "Ah, presdir disana adalah suamiku. Kim Kibum. Kau mengenalinya kan?" seringai Kyuhyun.
Ekspresi Seunghyun berubah datar. "Aku harus segera pergi. Mungkin Kibum sudah menunggu pelukanku disana." Lanjut Kyuhyun tersenyum remeh dan melangkah meninggalkan Seunghyun.
Tidak lama, seringai Seunghyun keluar. Mata tajamnya menatap punggung Kyuhyun yang menjauh. "Vasta la Vista, Kyu baby."
[~KIHYUN~]
"Dimana Yoona?" heran Kyuhyun begitu tidak melihat keberadaan Yoona dikursinya. Kyuhyun mengecek jam analog dipergelangan tangannya. Pukul 10.45 malam. "Apa sudah pulang?" Kyuhyun menggeleng sedikit kemudian memilih melanjutkan langkah menuju ruangan Kibum.
Pintu dibuka, Kyuhyun menyembulkan kepalanya sedikit terlebih dahulu. Dimeja kebesaran presdir disana juga tidak ada Kibum. "Aneh. Apa Kibum juga sudah pulang? Tetapi, katanya dia lembur." Mengangkat bahu, Kyuhyun akan menutup kembali pintunya sebelum suara keras pintu tertutup dari dalam menahan pergerakan Kyuhyun.
"Kibum…" lirih Kyuhyun.
Perlahan-lahan Kyuhyun memasuki ruangan. Menjelajahi setiap sudut ruangan itu.
BRAKK
Kyuhyun melompat kecil. Suara itu begitu dekat dengan tempat berdirinya sekarang. Hanya ada satu ruangan yang patut dicurigai yaitu kamar mandi. Meski takut menjalari hatinya, Kyuhyun memberanikan diri memegang gagang pintu itu dan mulai memutarnya secara hati-hati.
"Kibum?" panggil Kyuhyun.
Kyuhyun melangkah memasuki kamar mandi lalu tiba-tiba berhenti saat melihat pemandangan yang membuat jantungnya berdegup cepat, keringat dingin mengalir begitu saja, terkejut, Kyuhyun sangat terkejut sampai rasanya dia ingin muntah ditempat sekarang.
"Kyu… ini tidak seperti yang kau pikirkan…"
"BERHENTI!" panik dan bingung. Kyuhyun meluruskan kedua tangannya ke depan menyuruh Kibum untuk tidak mendekat barang seinchi pun. "Berhenti… berhenti bicara dan berhenti melangkah. Ak-aku, ak-aku…" pandangan Kyuhyun mulai berputar-putar. Dia tidak bisa merasakan berat tubuhnya lagi. Lalu, ambruk begitu saja dilantai kantor Kibum yang dingin.
"KYU!" teriak Kibum merengkuh tubuh istri manisnya itu cepat. Tangannya yang berlumuran cairan merah kental menepuk pipi putih Kyuhyun sehingga cairan yang berbau anyir itu ikut menempel dipipi Kyuhyun.
"Angkat tangan!" kerumunan polisi tiba-tiba saja memasuki paksa ruangan Kibum. Namja yang terbiasa datar itu menatap datar para polisi. Tidak gentar sedikitpun meski pistol yang siaga ditangan masing-masing pihak bisa saja melukai tubuhnya yang berlumuran darah.
"Angkat tangan!" seru satu polisi yang merupakan pimpinan –lantang kepada Kibum.
"Aku akan ikut ke kantor polisi dan kalian, bawa istriku ke rumah sakit segera." Titah Kibum. Polisi itu menggeram marah mendengar perintah Kibum yang sangat tidak pantas diucapkan oleh tersangka pembunuhan. Namun, mengesampingkan semua itu, polisi yang bernama lengkap Wu Yi Fan memberi isyarat agar anak buahnya segera menahan Kibum dan melakukan seperti yang dia minta.
Sementara yang lain mengevakuasi tempat pembunuhan.
"Kris!" panggil salah satu anak buah Yifan dari kamar mandi. Wu Yi Fan atau dipanggil Kris segera mengunjungi TKP. Mendecak marah saat melihat tubuh yeoja yang terdapat luka tusukan disekujur tubuhnya –rambut yeoja itu digunting asal, tubuhnya sudah membiru dibeberapa bagian, apalagi kelopak matanya yang terbuka memperlihatkan aliran darah yang menguar dari bola mata itu.
"Sial. Pembunuh berdarah dingin." Kris menyuruh agar tubuh korban segera ditutup.
"Hukuman mati paling pantas untukmu, brengsek." Bisik Kris ditelinga Kibum.
Kibum bergeming. Rahangnya mengeras. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Berusaha menahan emosi yang meluap-luap sedaritadi. Merutuki pelaku sebenarnya dari pembunuhan Yoona –sekretarisnya.
[~KIHYUN~]
Pintu ruangan Kibum diketuk, sekretarisnya –Yoona meminta izin untuk masuk. Kibum mengangguk singkat sebagai jawaban.
"Presdir Kim. Nyonya Kim menunggu anda dilantai 1." Yoona menyampaikan pesan.
Kibum mengernyitkan alis, "Kyu tidak datang ke ruanganku?"
Yoona menggeleng singkat, "Saya tidak tahu, begitulah pesan yang saya terima."
"Pesan?"
Yoona mengangguk ragu, antara mengatakan yang sebenarnya dan tidak. "Pesan nyonya Kim langsung."
Kibum mengangguk dan Yoona segera undur diri. Merasa ada yang janggal, Kibum berinisiatif menghubungi ponsel Kyuhyun, sayang sekali, ponsel Kyuhyun sedang sibuk.
Merasa percuma hanya menduga, Kibum meninggalkan pekerjaannya dan keluar menemui Kyuhyun.
"Dia dimana?" Kibum melihat-lihat sekeliling lantai 1. Tapi tidak tampak sosok Kyuhyun disana. Kibum menghubungi Kyuhyun lagi, masih sama –tetap sibuk.
Firasat Kibum langsung tidak enak, sangat janggal dan pasti ada sesuatu yang salah. Kibum berjalan cepat menuju ruangannya kembali. Dia menemukan keanehan lain, Yoona tidak ada ditempat.
"Kamar mandikah?" Kibum menggeleng kuat.
Keanehan lain datang. Pintu ruangan Kibum terbuka. Presdir berwajah dingin itu segera mengambil sikap hati-hati. Perlahan Kibum memasuki ruangannya, kosong. Tapi, pintu kamar mandi diruangan itu terbuka.
Kibum melangkahkan kaki masuk ke kamar mandi, masih dengan langkah yang hati-hati. Mata Kibum tertuju pada potongan rambut yang berserakan, rambut berwarna coklat terang. Rambut yang selalu ia lihat –tidak salah lagi, itu adalah rambut Yoona.
Rambut itu tercecer dilantai, Kibum mengikuti arah rambut itu berserakan dan itu menuju belakang pintu kamar mandi. Segera ia menutup pintu kamar mandi dan menemukan…
Setumpuk rambut lebih banyak disudut sana.
Masuk lebih dalam, Kibum tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya akan genangan darah berbau anyir dimana-mana. Terlebih darah itu masih mengalir dari lantai tempat bilik toilet. Kamar mandi Kibum memakai toilet yang memakai pintu pembatas.
Kibum membuka pintu itu lalu…
BRAKKK
Dari atas, sesosok tubuh manusia jatuh tepat menimpa Kibum. Tubuh yeoja berpakaian kantor yang mati menggenaskan.
Belum sempat Kibum mengambil sikap, suara pintu terbuka dan panggilan lirih dari suara yang sangat dikenalinya membuat Kibum langsung mengerti semua ini.
Dia sedang dijebak.
[~KIHYUN~]
"Ini suntikan terakhir mu Kyu. Kau senang?" ujung jarum menembus kulit putih pucat itu, membiarkan cairannya memasuki tubuh lemah Kyuhyun. Tidak ada ringisan atau penolakan oleh Kyuhyun –yang biasanya paling anti terhadap berbau alat kedokteran terutama suntikan. Tatapan matanya kosong. Bibir keringnya tidak bergerak sedikitpun.
Namja berseragam serba putih yang bertanggung jawab merawat Kyuhyun sejak dua minggu yang lalu itu, menghela nafas panjang. Pasiennya tidak pernah mengeluarkan suara. Diam dan tenang. Persis mayat hidup.
"Kyu, kau ingin sarapan apa pagi ini?" tanya namja itu lagi. Tidak ada respon dan dia sudah menduga itu. "Bagaimana jika es krim? Kau menyukainya bukan? Kau boleh memakannya!" seru namja itu riang. Berharap respon yang diberikan Kyuhyun ada meski itu hanya sebuah tolehan kepala.
Nihil.
"Hah… baiklah. Aku pergi dulu."
"Byun Uisa…"
Namja mungil yang sempat kecewa itu menoleh pada pasiennya, matanya berbinar senang mendengar suara Kyuhyun untuk pertama kali. "Nde?" Byun Uisa atau Byun Baekhyun mendekati Kyuhyun cepat-cepat. Menunggu perkataan apa lagi yang akan dikeluarkan.
"Kau tidak cocok menjadi dokter. Kau seperti anak sekolah." Jawab Kyuhyun datar namun tersirat kejenakaan didalamnya. Baekhyun mengerucutkan bibir, menambah kadar keimutannya dan oh –sangat tidak pantas dengan seragam kedokterannya.
"Kenapa kalimat pertama mu begitu menyakitkan?! Usiaku sudah 27 tahun!" rajuk Baekhyun.
"Ya. Aku tahu. Ah, terimakasih kau sudah merawatku begitu baik."
"Eum! Aku senang mengetahui pasienku kembali lebih hidup. Dan, gerangan apa yang membuatmu tiba-tiba kembali hidup? Yang sebelumnya seperti mayat hidup?" oceh Baekhyun, sekarang namja mungil itu sudah mengambil tempat untuk duduk disamping Kyuhyun.
"Aku perlu waktu berpikir. Kau pasti tahu masalahku, bukan?"
"Tahu. Dan aku tidak meminta kau membahas itu lagi. Aku hanya ingin tahu, kesimpulan apa yang kau ambil? Aku berpikir, kau akan mengalami depresi berat."
"Panggil aku hyung, Baek. Aku setahun lebih tua."
"Astaga! Baiklah, baiklah. Aku lupa kita tidak seusia." Baehyun menepuk dahinya sendiri.
"Aku… aku memutuskan mempercayai Kibum. Meski wajah, tingkah nya dingin dan itu membuatnya tidak diragukan bisa membunuh –aku paling tahu, Kibum bahkan tidak bisa membunuh seekor kecoa dan laba-laba. Kibum pasti membuangnya tanpa membunuhnya." Terawang Kyuhyun pada keseharian mereka. "Pasti ada sesuatu dibalik ini semua, aku akan mencari tahu." Baekhyun menggenggam tangan Kyuhyun erat. Menggigit bibir bawahnya kuat.
"Ada apa?"
"Hyung belum tahu bahwa Kibum…" tatapan Baekhyun mencoba berpaling dari mata selelehan karamel milik Kyuhyun. "Kibum…" Baekhyun kembali menatap Kyuhyun lekat, memberi sugesti bahwa Kyuhyun akan baik-baik saja mendengar berita ini.
Kyuhyun menatap Baekhyun tanpa ekspresi, dia memang sudah menyiapkan kekuatan hatinya saat mendengar keadaan suami tercintanya.
"Kibum sudah bebas seminggu yang lalu."
"Mwo?!"
"Ah, Kibum membeli hukum, jabatan dan segalanya mempermudah Kibum untuk bebas. Dan sekarang, tidak ada yang tahu keberadaan suamimu. Kabar terakhir ku dengar, Wu Yi Fan, polisi yang pertama menangkap Kibum, sedang mengejarnya. Yi Fan berjanji akan kembali menangkap Kibum."
Kyuhyun tidak perduli lagi akan kejahatan yang dilakukan Kibum. Cukup dia berpikir selama 2 minggu. Cukup Kyuhyun merutuki kebodohannya yang langsung drop menghadapi situasi seperti ini, namun, sekarang yang menjadi gangguan dipikiran Kyuhyun,
"Dia tidak mendatangiku?" Kyuhyun meremas selimut nya kuat. Cairan bening mulai berkumpul dipelupuk matanya. Setelah mati-matian melawan akal sehatnya, mempertahankan Kibum, sekarang namja itu bagai hilang ditelan bumi.
"Seorang pembunuh berdarah dingin memang tidak akan bisa sembunyi lagi, Seosangnim." Dari ambang pintu, sesosok namja berperawakan tinggi besar –Choi Seunghyun masuk dengan senyum penuh arti dibibirnya. Membungkuk hormat kepada Seosangnim tercintanya juga dokter mungil Baekhyun.
Merasa akan mengganggu privasi, Baekhyun pamit undur diri.
Seunghyun menggantikan tempat Baekhyun, tangannya beralih menggenggam erat tangan dingin Kyuhyun. "Seosangnim, akhirnya kau berbicara. Aku sangat senang."
Kyuhyun balas tersenyum buat Seunghyun. Meskipun menyebalkan tetapi Seunghyun lah yang selalu mengunjungi dirinya disini –setiap hari. Biasanya Seunghyun akan bercerita mengenai kuliah dan hal menarik lainnya, tidak pernah sedikitpun menyinggung persoalan Kibum.
Ryewook juga beberapa kali datang. Sama seperti eomma, appa, dan teman lainnya, tidak ada satupun yang membahas tentang Kibum. Membuat Kyuhyun benar-benar buta tentang keadaan suaminya itu. Ditambah dia yang memang tidak mau mengeluarkan suara.
"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku, seminggu lalu Kibum sudah keluar bukan?"
"Aku tidak mau seosangnim mengingat pembunuh itu lagi." Kyuhyun menepis tangan Seunghyun kasar. Memalingkan wajah, menyembunyikan aliran bening yang lepas dari pelupuk matanya.
"Kibum bukan pembunuh…" lirih Kyuhyun.
Menghela nafas berat, Seunghyun berdecih tidak suka, "Lihat aku Kyu! Bagaimana bisa kau masih membela sialan itu! Jelas-jelas dia membunuh sekretarisnya sendiri! Bahkan dia membayar kepolisian agar dia bebas, bukankah dia begitu licik?!"
"Tidak. Kibum tidak punya alasan membunuh Yoona." Keukeh Kyuhyun.
"Alasan? Apa mantan kekasih yang sedang mengandung belum cukup?!" bentak Seunghyun.
"Mengandung?"
Seringai Seunghyun keluar, "Yoona sedang hamil saat itu, bulan kedua. Mungkin mereka melakukan hubungan badan, dan Yoona meminta pertanggung jawaban lantas, Voila! Kibum tidak ingin itu terjadi."
"Tidak. Tidak mungkin! Kibum sudah berjanji tidak melakukan itu lagi kepada Yoona." Suara Kyuhyun berubah parau, ucapannya diselingi oleh isakan yang semakin menjadi.
"Tidak mungkin? Ayolah, Kyu. Kau dan Kibum tidak bertemu dari pagi hingga malam. Tidak usah menghindar."
"HENTIKAN!" deru nafas Kyuhyun tidak teratur. Kepalanya mulai kembali terasa berat. Wajah Seunghyun mengabur dan berputar-putar dihadapannya. "Aku ingin Kibum…" lirihnya sebelum tubuh Kyuhyun terjatuh lemas tidak sadarkan diri.
-To Be Continued-
Note's : -
[Thanks For Review]
Important!
Make A Review Please?
Anggap review itu hadiah buat FF abal-abal Dik.
[Thanks For Reading]
Jja!
