[CHAP 3]


ENJOY STORY!

[Don't Like? Want To Bash Me? HUSH!]

LullabyDik

Presents

.

.

"Si brengsek itu belum ketemu?!" gelas wine berisi cairan memabukkan berwarna merah darah bergoyang keras ke kiri dan ke kanan hingga keluar dari tempatnya. Seunghyun terus menggoyangkan gelas wine nya sampai semua cairan itu berserakan dilantai.

"Dia benar-benar tidak terdeteksi, hyunie…" sahut seorang namja blasteran yang duduk ditangan kursi yang diduduki Seunghyun. Namja itu melingkarkan tangannya mesra ke leher Seunghyun, menyelusupkan wajah ke ceruk leher Seunghyun.

"Begitu? Kerjamu sepertinya bertambah buruk Kris." Seunghyun menjauhkan paksa kepala Kris. Menatap namja itu dingin.

Kris menggeram marah, "Kau tidak berhak menilai kerjaku bocah! Aku sudah…"

Suara ketukan pintu terpaksa memberhentikan pertikaian yang sebentar lagi akan mulai antara mereka. Seunghyun menyuruh Kris diam. "Siapa?" suara berat Seunghyun menggema.

"Ini hyung."

Kris mengepalkan tangan begitu sadar orang yang datang ke kamar Seunghyun. Dengan segera ia bersembunyi dibalik dinding yang membatasi tempat tidur Seunghyun dengan ruang kerjanya.

"Masuk hyung, tidak dikunci." Sahut Seunghyun. Namja bertubuh atletis memasuki kamar Seunghyun –lengkap dengan lesung pipinya.

"Kau sedang sibuk?"

Seunghyun duduk diatas tempat tidur, tersenyum kecil kepada satu-satunya saudara kandung yang ia miliki. "Siwon hyung. Sesibuk apapun aku, kedatanganmu sangat spesial bagiku. Tidak mungkin aku mengacuhkanmu." Siwon balas tersenyum singkat. Paling tahu maksud Seunghyun yang sebenarnya, dongsaeng kesayangannya itu sangat kesepian. Dirumah mewah mereka, Seunghyun hidup sendiri.

"Baguslah. Hyung ingin membicarakan sesuatu kepadamu." Atensi Siwon mengarah pada lantai berceceran cairan merah dibawahnya –ia baru sadar setelah duduk dikursi panjang Seunghyun. "Apa ini?"

"Aku menumpahkan wine ku tadi. Tertidur tanpa sadar." Jawab Seunghyun singkat. Tidak melepas perhatiannya kepada Siwon. "Jadi, apa yang hyung bicarakan?

Siwon mengangguk kecil, "Semalam hyung melihatmu dirumah sakit xxx. Apa kau sakit?"

"Tidak. Aku mengunjungi Kyuhyun seosangnim. Hyung tahu dia kan?"

"Yah…seosangnim yang membuatmu tergila-gila. Ada apa dengan Kyuhyun?"

Seunghyun mulai berganti tempat, menyandarkan punggung ke kepala tempat tidur king size nya. "Sudah dua minggu Kyuhyun dirawat. Dia tidak sakit apa-apa. Hanya shock berat yang ia dera. Mengapa hyung bisa melihatku?" tatapan Seunghyun menyelidik.

"Biasa. Hyung sedang mengobservasi korban pembunuhan beberapa waktu lalu. Hyung mendapat kabar, sang korban sudah boleh ditanyai." Seunghyun manggut-manggut mengerti. Tidak mengherankan bila mengingat pekerjaan hyungnya adalah polisi.

"Kyuhyun shock? Hyung boleh tahu kenapa?"

"Aku tidak tahu hyung. Tidak ada yang menjelaskan kepadaku, baik eomma dan appa Kyuhyun, atau pihak kepolisian."

"Kenapa kau berbohong Seunghyun." Nada suara Siwon tiba-tiba berubah datar. Mata Seunghyun memandang remeh ke hyungnya.

"Karena aku tahu, hyung tahu."

Rahang Siwon mengeras. Satu-satunya orang yang tidak pernah berhasil ia terka jalan pikirannya –adik manisnya yang mempunyai sejuta rahasia –Choi Seunghyun.

"Yah…Kris pasti memberitahunya padamu. Apa kau melihat Kris?"

"Tidak. Aku sibuk dengan Kyuhyun. Beruntung semalam Kyuhyun sudah mau berbicara. Aku sangat senang hyung."

Hati Siwon berdesir, menatap sendu wajah Seunghyun yang tersenyum asli. Senyum asli tanpa dipaksakan. Wajah ceria setiap berbicara mengenai Kyuhyun. Tapi, Siwon sudah bersumpah diatas alkitab saat menjadi polisi. Sumpah yang pantang ia langgar.

"Janin yang dikandung Yoona positif punyamu."

Senyum Seunghyun sirna seketika, "Kau merusak kesenanganku saja hyung."

"Jawab pertanyaan hyung, Seunghyun!"

"Ya. Aku memang menjalin hubungan dengan yeoja itu. Hanya sebagai hiburan hyung! Lantas, apa kau mencurigaiku?! AKU TIDAK MEMBUNUHNYA!"

Siwon bangkit dari duduknya, "KAU BRENGSEK SEUNGHYUN!" Siwon meremas kerah baju Seunghyun, menarik kuat tubuh Seunghyun yang selonjoran ditempat tidur hingga tubuh dongsaengnya itu terpaksa turun.

"APA HYUNG PUNYA BUKTI!"

Deru nafas Siwon memelan, melepas lemah cengkramannya pada kerah baju Seunghyun. "Hyung harap, kau tidak terlibat pembunuhan itu." Siwon menunduk. Berjalan perlahan meninggalkan kamar Seunghyun.

Melihat Siwon pergi, secara brutal Seunghyun menendang kursi dan barang-barang yang berada didekatnya.

Kris keluar dari persembunyian, menatap miris keadaan Seunghyun yang persis orang gila. "CEPAT TEMUKAN SI BRENGSEK ITU KRIS!" Seunghyun berteriak keras.

Membuat Kris tidak ada pilihan selain bekerja lebih keras mencari Kibum.

Kris benar-benar kehilangan jejak Kibum begitu namja berwajah dingin itu tiba-tiba keluar dari penjara sementara. Kibum memang belum dijatuhkan hukuman sebab bukti-bukti pembunuhan belum ditemukan kecuali, keberadaan Kibum yang menjadi tersangka utama.

CCTV, sidik jari, saksi, semua sudah beres dilakukan Kris. Tapi, "Kepolisian sialan!" umpatnya.

Uang dan kekuasaan. Apalagi yang mengalahkan itu didunia fana ini?

[~KIHYUN~]

"Kau yakin tidak ingin ditemani?" Ryewook memapah tubuh Kyuhyun sampai ke sofa apartemen Kyuhyun. Meletakkan barang-barang Kyuhyun dari rumah sakit.

"Aku ingin sendiri." Jawab Kyuhyun, matanya terkatup rapat. Ryewook menghela nafas panjang. Jika begini dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kyuhyun bersikeras kembali ke apartemennya, bukan ke rumah orangtuanya atau setidaknya Ryewook dengan senang hati merawat Kyuhyun.

"Baiklah. Hyung pergi nde. Bubur nya diatas meja." Pesan Ryewook. Mengenakan jaket tebalnya lalu pergi.

Air mata Kyuhyun jatuh. Namja yang semakin pucat itu tidak menghentikan air matanya mengalir deras. Dia mulai terisak. Kyuhyun serasa berada disatu titik gelap yang tidak mempunyai jalan keluar. Peristiwa ini, sangat menguras batin dan pikirannya.

Merogoh saku, Kyuhyun mengeluarkan ponsel pemberian Kibum. Tangannya bergetar menghubungi nomor sosok yang entah dimana sekarang dan Kyuhyun juga tidak yakin apa nomor Kibum masih aktif atau tidak.

Nada tersambung terdengar. Jantung Kyuhyun berdegup kencang. Takut dan cemas.

Setelah sekian lama tidak ada sahutan, Kyuhyun akan menjauhkan ponselnya sebelum akhirnya suara berat dari seberang line berhasil membuat tubuh namja ringkih itu menegang.

"Kibum…" isak Kyuhyun. Jujur, dia merasa bersalah meninggalkan Kibum dan memilih menutup diri selama 2 minggu lamanya. Seharusnya Kyuhyun mempercayai Kibum –meski benar pembunuh sekalipun. "Kibum…" panggil Kyuhyun lagi.

"Mianhae…" lanjutnya.

"Gwenchana." Tangan kekar hangat yang sangat disukai Kyuhyun tiba-tiba saja melingkari lehernya dari belakang. Kyuhyun menjatuhkan ponselnya. Menggenggam lengan yang melingkar itu erat.

"Kibum…" panggilnya lagi. Dia sadar, dia sangat merindukan sosok suaminya, sosok Kibum.

"Aniya. Harusnya aku yang meminta maaf padamu Kyu." balas Kibum. Nada suaranya berat penuh penyesalan. "Tapi, sekarang semua sudah jelas. Kau cukup mempercayaiku, Kyuhyun."

"Tentu saja." jawab Kyuhyun lemah. Membenamkan wajahnya dilengan hangat Kibum yang sangat ia rindukan.

BRAKKK

Pintu apartemen dibuka paksa.

"ANGKAT TANGAN!"

Namja berseragam hitam yang dilapisi jaket kulit berwarna senada, menodongkan pistol ke arah Kibum. Dia Wu Yi Fan. Polisi keras kepala yang mati-matian mencari keberadaan Kibum.

"Ternyata benar, kau terus memantau 'istri'mu. Aku tidak akan membiarkanmu kabur kali ini, Kibum-ssi. Aku tidak perduli kau bisa membeli hukum semudah itu, kau akan ku selesaikan dengan caraku sendiri." Kris menarik pelatuk nya. Tatapannya tajam bagai mata elang.

Kyuhyun segera bangkit, membentangkan kedua tangan didepan Kibum. Namja yang bahkan masih keadaan lemah itu berusaha melindungi suaminya.

Sedangkan Kibum bergeming ditempat. Memberi tatapan datar yang berhasil membuat Kris muak dan ingin muntah.

"APA KAU GILA?! KAU POLISI! KAU TIDAK BISA MEMBUNUH KIBUM!" pekik Kyuhyun kacau.

Kris menyeringai, "Aku memiliki wewenang membereskan penjahat yang lepas dari sarangnya. Tidak perduli itu Si. A. Pa. Demi keadilan!"

"TIDAK! Kau bisa ku penjarakan!"

"Kau tidak kenal dunia perpolisian nona! Dan minggirlah! Atau kau yang diluan ku habisi!" gigi Kibum saling bergemelutuk. Berani sekali polisi yang ia anggap sialan itu mengancam 'istri'nya.

Namun, detik kemudian seringai itu terganti oleh sebuah senyum remeh.

"Apa benar demi keadilan?" kali ini Kibum angkat bicara.

"Tch. Tentu saja brengsek."

"Kau bukan Tuhan, Yi Fan." Kibum berujar dingin.

"Aku tidak memerlukan pendapatmu Kibum-ssi." Desis Kris. Pistol AK48 yang masih siap sedia ditangan Kris tidak berpindah tempat seinchipun.

"Bukan hanya aku yang memantau Kyuhyun tetapi, pembunuh sebenarnya." Sontak Kyuhyun menoleh bingung ke arah Kibum. Pembunuh sebenarnya? Kibum membalas tersenyum teduh.

"Percaya padaku, Kyu." Satu kecupan singkat diterima Kyuhyun didahinya. Hembusan berat Kibum menerpa ujung hidungnya. Kyuhyun mengangguk pasti. Dia memang tidak perduli apa dan bagaimana peristiwa itu. Yang dia inginkan hanya satu, Kibum.

"Apa maksudmu?!" hardik Kris. Tangannya mulai tidak kokoh memegang pistol.

Seseorang masuk ke apartemen Kibum, sosok itu menyentuh bahu Kris dari belakang.

"Siwon hyung?" heran Kris.

Setelah melihat polisi senior dikelompok yang sama dengannya dan yang paling dia segani sekaligus kakak dari orang yang dia cintai.

Siwon menggeleng pelan kepada Kris, memberi isyarat agar juniornya itu menurunkan pistol.

"Ada apa?" tanya Kris merasa tidak mendapat jawaban apa-apa.

"Bukan Kibum pembunuhnya." Siwon menatap Kibum, menurunkan pistol yang bergetar akibat pemegangnya itu perlahan.

Dia sudah mendapatkan kejadian yang sebenarnya ditambah bukti-bukti yang kuat. Namun, ada gurat lelah dan kesedihan diwajah tegas Siwon atau Choi Siwon. Tangan kekarnya menepuk dan meremas kuat kedua bahu Kris.

Kris bisa melihat mata Siwon berkaca-kaca.

"Hyung?" suara Kris mulai melemah. Cemas –tentu saja.

Kibum beralih mengangkat tubuh Kyuhyun yang dia tahu pasti masih lelah, menggendongnya ala bridal. Kyuhyun sempat memberontak, tidak habis pikir dengan kelakuan Kibum, bagaimana mungkin suaminya itu berbuat mesum sementara ada dua polisi disana apalagi masalah itu belum jelas.

Dan semua itu harus ditelan Kyuhyun karena Kibum pada dasarnya tidak menerima penolakan. Kibum melangkah mendekati tempat Siwon dan Kris, mempertahankan tubuh Kyuhyun digendongannya.

Kyuhyun memutar bola mata, 'Setidaknya letakkan aku disofa face flat.' –namun hanya gerutuan dalam hati. Sesungguhnya Kyuhyun tidak mempermasalahkannya juga. Kibum sering melakukan hal bodoh tanpa mengenal situasi apapun.

"Hyung kecewa padamu. Perasaanmu membutakan mata hatimu sebagai seorang penegak keadilan. Kau Wu Yifan. Kau pembunuhnya." Meski terselip nuansa sedih dan getar disuara Siwon, namja berwajah tampan itu tidak meninggalkan ketegasan dalam kalimat nya.

Kris mematung.

Tatapan mata Siwon seakan melumpuhkan seluruh tenaganya. Tatapan itu sarat akan kekecewaan mendalam yang membuat pikiran Kris kacau dan kembali pada saat-saat ia berteriak girang setelah masuk divisi yang dipimpin Siwon.

Tidak lama, beberapa polisi berseragam memenuhi tempat. Memberi hormat kepada Siwon sebelum akhirnya memborgol kedua tangan Kris dan membawa namja yang tidak memberontak sedikitpun itu keluar ruangan.

Siwon saling pandang dengan Kibum. Tersenyum kecil kepada namja berwajah dingin itu lalu memberi penghormatan yaitu membungkuk.

Kibum balas tersenyum. Siwon pun pergi menyusul anak buahnya.

"Sebenarnya ada apa hyung? Jadi, benar polisi bernama Kris itu pembunuhnya? Tapi mengapa? Mengapa dia menjebakmu?" pertanyaan penuh tuntutan yang dilontarkan Kyuhyun.

Kibum mengelus rambut Kyuhyun, "Tidak untuk malam ini Kyu. Setelah makan bubur, tidurlah. Besok, hyung akan membawamu ke tempat dimana kau mengetahui segalanya. Tidak ada penolakan."

Kyuhyun menghela panjang. "Aku memang tidak bisa membantah eoh?!" rajuk Kyuhyun. Tidak tahan melihat bibir yang dikerucutkan lucu, Kibum mencium dan sedikit melumat bibir merah penuh yang dirindukannya itu. "Hyung buat buburmu dulu."

-To Be Continued-


Note's : -

[Thanks For Review]

Important!

Make A Review Please?

Anggap review itu hadiah buat FF abal-abal Dik.

[Thanks For Reading]

Jja!