Title : Crush In Rush

Cast :

Xi Luhan (girl) - Oh Sehun, etc.

Warning : Genderswitch, typo(s), etc

Rated : T

Disclaimer :

Cerita ini sepenuhnya milik Santhy Agatha dari novel yang berjudul sama. dan saya hanya meremakenya dengan mengganti cast dan mengedit sedikit alurnya. So don't call me a plagiator, ok?!

.

Summary : Sehun dan Luhan. Dua mahluk yang bertolak belakang, yang seharusnya tidak pernah bersinggungan. Tetapi kehidupan mempertemukan mereka ke dalam pusaran nasib yang tidak terelakkan.

.

Don't Like

.

Dont'read

.

.

Enjoy

Sehun menahan keinginannya cafe itu lagi. Perempuan pelayan cafe itu, di luar dugaannya sungguh sangat menarik perhatiannya. Membuatnya ingin melihatnya setiap hari.

Sehun sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya dia rasakan kepada perempuan pelayan itu.

Dia berhati dingin, jiwanya yang kejam adalah pembawaannya, sehingga dia cenderung tidak peduli kepada orang lain. Tetapi perempuan pelayan itu begitu mungil, begitu tak berdaya dan harus menjalani pekerjaan yang begitu berat.

Sehun bertanya-tanya apakah perempuan itu punya keluarga atau orang lain yang bisa mengurusnya.

Diluar kebiasaannya juga, Sehun memberikan uang kepada perempuan pelayan itu. Dia mengangkat bahunya dan sedikit merasa lega, mungkin perempuan itu bisa menggunakan uang itu untuk memenuhi kebutuhannya. Uang sebesar itu hanyalah recehan bagi Sehun, tetapi dia tahu uang itu sangat berarti bagi perempuan itu.

Tiba-tiba Sehun tersadar. .. kenapa dia terus menerus memikirkan perempuan itu?

Dengan marah Sehun meremas kertas pekerjaannya yang dari tadi tidak bisa diselesaikannya, dia menatap nanar ke arah bawah, ke arah pemandangan malam kota dari jendelanya.

Tiba-tiba pikirannya melayang ke ayah kandungnya di luar sana. Dia menahan napas gusar. Rencana balas dendamnya sepertinya sangat menarik untuk dilakukan, dia hanya tinggal mengatur beberapa rencana, lalu semua akan terlaksana dengan baik.

Sehun melirik jam tangannya, -tanya dalam hatinya, sudah dua malam dia tidak mengunjungi cafe tempat gadis pelayan itu bekerja, ini sudah hampir jam lima pagi, bukankah biasanya shift perempuan itu selesai jam lima pagi?

Sehun tahu karena dia selalu berada di cafe antara jam dua sampai jam lima pagi, dan ketika sudah menjelang jam lima pagi, selalu terjadi pergantian shift pelayan.

Sedetik dia berpikir, kemudian dengan gerakan cepat. Sehun meraih jaketnya dan melangkah keluar dari apartemen mewahnya itu.

.

.

.

.

Luhan merasakan kepalanya pening, dia menghela napas panjang. Gawat sepertinya virus salah satu pengunjung yang dari tadi bersin-bersin di dekatnya telah menularinya. Daya tahan tubuh Luhan sedang lemah sehingga dia mudah tertular.

Sekarang selain pening di kepalanya, di bagian matanya terasa berdenyut-denyut dan seluruh permukaan kepalanya terasa nyeri.

Luhan menunggu dengan lunglai di pinggir jalan. Udara pagi hari yang dingin terasa menerpa kulitnya, menyiksanya karena terasa menusuk sampai ke tulang. Luhan merapatkan jaketnya yang terbuat dari bahan wol, jaket itu sudah menipis karena terlalu sering dipakai dan dicuci sehingga tidak membantunya mengatasi hawa dingin.

Dia masih berdiri di tepi jalan yang masih lengang itu, hanya ada beberapa kendaraan pribadi yang lalu lalang, dan taxi yang beberapa diantaranya memberi isyarat pada Luhan, membuat Luhan harus menggelengkan kepalanya. Dia tidak mampu pulang naik taxi, ongkosnya tidak akan cukup.

Di pagi hari setelah shiftnya dari cafe, berjalan ke jalan besar sejauh dua ratus meter dan menunggu angkutan umum yang lewat untuk mengantarkannya ke dekat tempat tinggalnya.

Oh ya ampun, dan dia harus berdiri di dingin ini selama beberapa lama, angkutan yang melewati sekitar jalan ini biasanya baru datang jam enam pagi, membawa barang-barang milik pedagang pasar pagi, Luhan juga harus siap berdesak-desakan dengan para pedagang dan barang bawaannya nanti, sementara dia sudah merasa ingin pingsan.

Dengan langkah tertatih, Luhan berjalan menuju ke tempat duduk di halte tak jauh dari situ, dia sudah tidak kuat berdiri lebih lama lagi. Demamnya makin terasa, membuatnya hampir limbung, dan Luhan merasa cemas.

Dia tidak boleh sakit... dia tidak boleh izin dari pekerjaan karena itu bisa menjadi alasan Yongguk untuk memecatnya...

Mata Luhan mulai berkunang-kunang membuatnya berpegangan pada salah satu tiang halte itu, menyandarkan tubuhnya di sana.

Sampai kemudian sebuah tangan yang terasa kuat menyentuh pundaknya, membuat Luhan hampir terloncat karena kaget.

"Kau tampak tidak sehat."

Itu lelaki penyendiri di cafe itu...tiba-tiba Luhan teringat, dia merogoh-rogoh sakunya dan mengeluarkan selembar uang seratus ribuan berwarna merah yang sudah lecek tidak karuan.

Entah berapa ratus kali Luhan tergoda untuk menggunakan uang itu. Kadang dia menaruhnya di pangkuannya dan menatapnya beberap lama, berpikir apa yang akan dia lakukan dengan uang sebanyak itu.

Luhan ingin mencicipi tenderloin steak menu andalan cafe tempatnya bekerja, tetapi kemudian dia mengurungkan niatnya, harga steak itu sendiri lima puluh ribu, dia akan menghabiskan setengah uang itu hanya untuk makanan.

Lalu Luhan akan memikirkan

cara lain, dia membayangkan membeli gaun yang sangat indah di toko baju yang sering dilewatinya kemarin... tetapi lagi-lagi Luhan membatalkan niatnya, dia masih belum butuh gaun, meskipun dekil dan jelek, gaun-gaunnya masih pantas dipakai, lagipula Luhan bekerja mengenakan seragam yang disediakan untuk cafe dan dia juga tidak punya teman yang akan mengajaknya keluar-keluar, jadi Luhan tidak membutuhkan gaun yang bagus.

Pada akhirnya, Luhan akan membatalkan semua niatnya untuk menggunakan uang itu dan akan melipat uang itu, lalu meletakkannya dengan hati-hati di saku bajunya. Dia harus mengembalikan uang ini. Luhan tidak mengenal lelaki itu, yang memberinya uang ini.

Siapa tahu apa maksud di baliknya? Jangan-jangan nanti lelaki itu kembali dan menagih uang ini atau meminta tubuhnya seperti di film-film itu?

Luhan begidik ngeri, jangan sampai dia berakhir dengan menjual tubuhnya, semiskin apapun Luhan, dia akan menjaga tubuhnya tetap suci, untuk pangeran impiannya nanti... yang dia tidak tahu siapa dan sekarang entah berada di mana.

Luhan melewatkan dua malam ini dengan menunggu lelaki penyendiri itu datang dan

menghabiskan waktunya di cafe seperti biasanya, tetapi dua malam berlalu dan lelaki itu tidak datang. Untunglah sekarang dia bisa bertemu lelaki itu di sini, jadi dia bisa mengembalikan uangnya.

"Apa?" lelaki itu menatapnya galak dan menatap uang lecek di telapak tangan Luhan.

"Kau tidak datang ke cafe jadi aku tidak ..." Luhan menahan peningnya, mendongakkan kepalanya menatap lelaki yang berdiri di depannya itu, "Ini uangmu."

"Bukankah sudah kubilang untuk tidak mengembalikannya?"

"Aku tidak mau menerimanya." Luhan menatap lelaki itu dengan tatapan keras kepala, mencoba membantah, tetapi tiba-tiba rasa pening yang amat sangat menerpanya, membuatnya mengerang kesakitan.

"Kau kenapa?" Lelaki itu menyentuh dahinya dan mengernyit, "Astaga, kau panas sekali!"

Itu adalah kata-kata terakhir yang didengar Luhan sebelum dia limbung dan kehilangan kesadarannya.

.

.

.

"Dia terjangkit flu dan kelelahan..."

Dokter pribadi Sehun menemui Sehun setelah memeriksa perempuan pelayan itu, yang sekarang masih terbaring pingsan di atas ranjangnya, di dalam apartemen mewahnya.

Sehun terpaksa membawa perempuan itu ke apartemennya karena dia tidak tahu harus membawanya ke mana.

"Oke, terimakasih dokter." Sehun menjawab sopan dan mengantar dokter itu ke pintu. Sampai di pintu, dokter itu menghentikan langkahnya sebelum pergi,

"Di mana kau menemukan perempuan itu, Sehun?" dokter itu sudah mengenal Sehun cukup lama karena dia dulu menjadi dokter keluarga sejak orang tua Sehun masih hidup, karena itu dia menganggap Sehun hampir seperti anaknya sendiri.

"Memangnya kenapa dok?"

Dokter itu menghela napas panjang, "Tubuhnya lemah, jadi daya tahan tubuhnya lemah hingga mudah terjangkit penyakit... dan juga sepertinya dia kurang gizi."

Hati Sehun terenyuh mendengarnya. Pantas saja perempuan itu begitu kurus, ternyata dia kurang makan.

"Dia temanku, sayangnya nasibnya memang tidak beruntung, jangan kuatir dok, aku akan merawatnya." gumam Sehun sambil tersenyum.

.

.

.

.

Ketika Luhan membuka matanya, dia terperanjat menyadari bahwa dirinya berada dalam kamar yang tidak dikenalnya.

Kamar itu indah dan semua barang di dalamnya mahal. Luhan mengernyitkan dahinya bingung, di mana dia?

Ingatan terakhirnya adalah bertatapan mata dengan lelaki penyendiri langganan Cafe tempat dia bekerja itu. Setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi.

Luhan menatap sekeliling lagi dengan waspada dan menghembuskan napas lega ketika yakin bahwa dia sendirian di dalam kamar ini.

Kamar siapa ini? Apakah lelaki penyendiri itu yang membawanya ke mari?

Luhan melirik tubuhnya dan mendesah lega sekali lagi karena menemukan dirinya berpakaian lengkap di balik selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Yah, dia benar-benar demam ternyata, Luhan mendesah kecewa atas ketidakmampuan tubuhnya menahan virus yang menyerangnya.

Kepalanya pening dan sekujur tubuhnya terasa nyeri, dia memijit kepalanya, berusaha meredakan rasa seperti berdentam-dentam di sana.

Tiba-tiba saja pintu terbuka, dan refleks, Luhan beringsut menjauh di atas ranjang ketika melihat lelaki penyendiri itu memasuki kamar, dengan nampan berisi air dan teko kaca besar di tangannya.

"Kau sudah bangun rupanya." Sehun meletakkan nampan itu di meja di sebelah ranjang, "Aku terpaksa membawamu ke sini, maafkan, kau pingsan di jalan begitu saja."

Lelaki ini menolongnya. Tiba-tiba saja Luhan merasa malu telah berprasangka buruk kepadanya,

"Terimakasih." suaranya serak dan pelan, sepertinya tenggorokannya juga terserang virus karena sekarang terasa panas dan menyakitkan, terutama ketika dia menelan ludahnya.

Sehun menganggukkan kepalanya, lalu mengulurkan tangannya,

"Kita belum sempat berkenalan, aku Oh Sehun."

Luhan meragu sejenak. Kenapa lelaki kaya macam Sehun merasa penting untuk berkenalan dengannya? tetapi dia kemudian membalas uluran tangan Sehun,

"Aku Xi Luhan."

"Luhan." Sehun mengulang nama Luhan lambat-lambat lalu tersenyum, "Kau harus minum obatmu, dokter memeriksamu tadi." Lelaki itu mengedikkan bahunya ke arah obat-obat yang diletakkan di meja yang sama dengan nampan berisi gelas air.

Luhan menoleh ke arah obat itu lalu menatap Sehun kembali. "Terimakasih, maafkan aku sudah merepotkanmu."

"Sama sekali tidak repot kok." Sehun menjawab tenang, masih tetap berdiri dan menatap Luhan dengan tatapan mata penuh arti, "Minumlah obatmu dan beristirahatlah."

Mata Luhan melirik ke arah jam dinding. Jam enam... "Apakah itu jam enam pagi, atau jam enam sore?"

Sehun mengikuti arah pandangan Luhan ke jam dinding itu, "Jam enam sore. Dokter menyuntikmu dengan obat dan itu membuatmu tertidur pulas, bagus untuk penyembuhanmu katanya karena kau butuh tidur dan beristirahat untuk pemulihanmu."

Sehun memandang sekeliling kamar, "Memang susah membedakan pagi dan malam di kamar ini, kamar ini memang sedikit gelap karena aku menutup jendela dan gordennya, aku pikir kau bisa beristirahat lebih nyaman kalau suasana kamar temaram."

"Oh Astaga." Luhan malahan terlompat dari posisi tidurnya, hampir tidak mendengar kalimat terakhir Sehun, dia mulai panik, melemparkan selimutnya dan berusaha berdiri, "Aku harus masuk kerja, bosku akan memarahiku kalau aku terlambat."

Luhan berusaha berdiri, tetapi kakinya terasa lemah seperti agar-agar dan rasa pening yang amat sangat menyerangnya dengan begitu kuat, membuatnya kembali limbung. Sehun yang berdiri di dekatnya langsung menopangnya,

"Kau ini bodoh atau apa? kau demam tinggi dan flu berat, bagaimana mungkin kau bisa bekerja dengan kondisi seperti ini? Shift malam pula! "

dengan marah tetapi tetap berusaha lembut, Sehun setengah mendorong Luhan hingga tubuh perempuan itu kembali terbaring di ranjang. Luhan mengerutkan keningnya, masih merasa panik meskipun di dera pusing yang amat sangat,

"Bosku akan memecatku kalau..."

"Shhh.." Sehun menghentikan kalimat Luhan, "Minum obat dan tidurlah, biarkan aku yang mengurus bos-mu. Ok?"

Luhan menahan air matanya karena merasa begitu tidak berdaya, "Ok."

Lalu dia membiarkan Sehun membantunya meminum obatnya dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang nyaman itu, lelaki itu menyelimutinya sebelum melangkah pergi.

Luhan masih merasa panik atas pikiran pekerjaannya. Yongguk pasti akan marah sekali kalau dia tidak muncul untuk bekerja malam ini...

tetapi kemudian pengaruh obat membelit otaknya, membuatnya mengantuk dan kembali terseret ke alam mimpi.

.

.

.

.

Sehun setengah mengutuk dirinya sendiri -maunya melibatkan dirinya dalam urusan merepotkan menyangkut Luhan.

Kenapa dia jadi mengurusi Luhan? Kenapa pula perempuan itu pingsan tepat di depannya?

Sehun mendengus marah, sekalian saja kalau begitu! perempuan itu telah mengetuk nuraninya, membuat Sehun merasa asing kepada dirinya sendiri.

Dia tidak boleh terus-terusan didikte oleh nuraninya, dia harus melakukan sesuatu. Yang pertama dilakukannya adalah menemui lelaki yang bernama Yongguk, manager restoran itu. Sehun setengah mengenalnya karena dia langganan cafe ini, dan lelaki pemarah itu selalu memperlakukannya dengan sikap menjilat yang memuakkan.

"Kenapa anda ingin menemui saya, tuan Sehun?".

Yongguk tentu saja tahu kalau Sehun adalah lelaki kaya salah satu penghuni apartemen mewah di area dekat mereka. Pelanggan kaya adalah raja, mereka harus diperlakukan dengan baik.

"Ini menyangkut Luhan."

Luhan? Yongguk mengernyitkan keningnya. Perempuan pelayan tak becus itu sepertinya terlambat datang lagi malam ini, dasar perempuan tak becus, Yongguk sebenarnya sudah lama ingin menyingkirkan Luhan, dia selalu menganggap Luhan lemah dan tak kompeten, dan sekarang Luhan menunjukkan betapa pemalasnya dirinya karena terlambat datang lagi.

Luhan pasti ketiduran lagi! Awas saja! Yongguk sudah memikirkan hukuman berat untuk Luhan, mencuci seluruh piring dan peralatan masak kotor rupanya belum cukup berat bagi Luhan, mungkin dia akan menyuruh Luhan mengepel seluruh lantai cafe dengan tangan dan menggosok seluruh kamar mandi di area cafe.

Mata Yongguk bersinar jahat, membayangkan kepuasan yang diperolehnya dengan menyiksa Luhan.

Sehun menatap sinar jahat di mata Yongguk dan tiba-tiba merasa marah. Lelaki ini adalah penindas perempuan pelayan cafe itu. Sungguh Luhan pasti tidak akan bisa melawan si jahat ini. Mungkin Sehun lah yang harus membantu Luhan untuk membalas,

"Luhan tidak akan datang lagi." Sehun bergumam dingin, "Dia sekarang bekerja untukku."

Tanpa kata lagi, Sehun membalikkan badan dan meninggalkan Yongguk yang terperangah bingung dengan apa yang dikatakan oleh Sehun.

.

.

.

Luhan terbangun beberapa lama kemudian, dan mengerjapkan matanya. Obat itu seperti , membuatnya tidurnya amat pulas, tetapi juga membuat tubuhnya agak terasa enak.

Ternyata Sehun sudah ada di dalam kamar itu, lelaki itu menatap Lujan dengan tatapan tak terbaca.

Apakah lelaki itu benar-benar pergi untuk menemui bosnya?

"Bagaimana bosku?" Luhan bergumam pelan, dia berusaha duduk, "Maafkan aku merepotkanmu, terimakasih sudah merawatku, aku akan pergi sekarang, mungkin bosku masih mau menerima permintaan maafku karena terlambat datang... sekali lagi terimakasih, aku akan pergi..."

"Kau tidak akan pergi kemana-mana, Luhan."

Suara Sehun tenang dan pelan, tetapi mampu membuat Luhan menghentikan kata-katanya dan menatap Sehun sambil mengernyitkan dahinya.

"Apa maksudmu?" Luhan bertanya, bingung.

Sehun menatap Luhan dalam-dalam, "Kau sudah dipecat dari pekerjaanmu di restoran itu. Bosmu memang jahat dan kau harusnya bersyukur bisa terlepas darinya."

Luhan langsung panik kembali. Dia dipecat?

Dipecat?

Oh ya Ampun, bagaimana dia bertahan hidup tanpa pekerjaan itu? Bagaimana dia makan nanti? bagaimana dia membayar sewa tempat tinggalnya?

Sehun mengawasi reaksi panik dan cemas Luhan, lalu bergumam, "Tetapi kau tidak perlu cemas memikirkan hidupmu, ada pekerjaan baru untukmu."

"Pekerjaan baru?" ada secercah harapan di sana, Luhan menatap Sehun penuh harap, mungkin lelaki ini menemukan koneksi baru tempat dia bisa masuk sebagai pelayan?

Luhan akan sangat berterimakasih kalau lelaki ini benar-benar melakukannya.

"Ya pekerjaan baru, di sini , sebagai pelayanku."

Sehun melemparkan kata-kata itu dengan tenang, seolah menawarkan permen kepada anak kecil, yakin akan disambar secepat kilat.

Hening...

Luhan ternganga kaget mendengar perkataan lelaki itu sampai tidak bisa berkata- kata...

.

.

.

.

.

A/N

.

Maaf karna telat update. Soalnya di kampus saya ngadain event mendadak dan saya terlibat dalam event itu jadinya selama seminggu ini saya sangat sibuk.. huft..

.

Next chapter akan saya update antara hari minggu atau senin.

.

Saya akan jawab pertanyaan beberapa dari kalian.

ada yang nanya saya buka ffn lewat apa? Saya lebih sering ngepublish fanfic lewat laptop. Dulu juga saya kena internet positif, tapi saya download aplikasi kalo gak salah namanya hola. dan taraaaa... jadi bisa lagi buka ffn... hehe.

Untuk couple lain saya gak ngejamin bakal ada di fanfic ini.

.

Kali ini saya gak sempet nyebutin semua nama yang ngereview ff ini. Maaf yaa? :(

.

.

Terakhir, Review?