Title : Crush In Rush
Cast :
Xi Luhan (girl) - Oh Sehun, etc.
Warning : Genderswitch, typo(s), etc
Rated : T
Disclaimer :
Cerita ini sepenuhnya milik Santhy Agatha dari novel yang berjudul sama. dan saya hanya meremakenya dengan mengganti cast dan mengedit sedikit alurnya. So don't call me a plagiator, ok?!
.
Summary : Sehun dan Luhan. Dua mahluk yang bertolak belakang, yang seharusnya tidak pernah bersinggungan. Tetapi kehidupan mempertemukan mereka ke dalam pusaran nasib yang tidak terelakkan.
.
.
Don't Like
.
Dont'read
.
.
Enjoy
.
.
.
.
Menjadi pelayan?
Luhan mengerutkan keningnya dan seketika itu juga wajahnya pucat pasi, menjadi pelayan ini apakah menjadi pelayan seks dari Sehun? Luhan sering melihat kisah-kisah drama dan film dimana tokoh wanita yang miskin pura-puranya ditolong oleh lelaki kaya, tetapi kemudian dia disekap dan dijadikan budak seks... Ya Ampun!
Luhan harus menyusun rencana melarikan diri dari rumah ini!
Sehun yang melihat perubahan ekspresi Luhan langsung merasa geli. Dia sudah pasti bisa menebak pikiran apa yang lalu lalang di benak Luhan, ekspresi wajah Luhan yang polos mengungkapkan semuanya karena perempuan itu benar-benar seperti buku yang mudah dibaca. Sehun memutuskan akan menggoda perempuan ini,
"Jadi sebagai pelayanku kau harus berlatih untuk memuaskanku." Sehun tersenyum lebar sampai barisan gigi putihnya yang rapi terlihat, setengah mati menahan geli melihat ekspresi shock dan pucat pasi di wajah Luhan.
"Apa?" Luhan setengah berteriak, panik. Pandangannya mengukur jarak dari kasur ini ke pintu kamar. Bisakah dia melarikan diri dengan cepat tanpa ditangkap poleh Sehun?
Tetapi kemudian Sehun terbahak, membuat Luhan menatap lelaki itu dengan waspada, Kenapa lelaki itu tertawa? Apanya yang lucu? Mata Sehun tampak tajam meskipun masih berlumur rasa geli,
"Sebaiknya kau buang semua pikiran bodoh yang ada di otakmu itu. Aku sama sekali tidak tertarik padamu secara seksual." matanya menelusuri tubuh Luhan dengan mencemooh, "Kau terlalu kurus, dan bukan termasuk tipeku, jadi kau bisa tenang."
Meskipun merasa tersinggung atas penghinaan terang-terangan dari Sehun itu, Luhan merasa sedikit tenang, setidaknya lelaki itu tidak tertarik padanya, jadi tidak mungkin lelaki itu memperkosanya. Kalau begitu, apakah istilah 'pelayan' yang dipakai oleh Sehun adalah 'pelayan' yang sesungguhnya?
"Aku ingin mempekerjakanmu sebagai pelayan." Sehun mengangkat alisnya, "Pelayan sungguhan yang bersih-bersih rumah dan memasak."
"Apakah kau tidak punya pelayan sebelumnya?" Luhan mengedarkan pandangannya ke kamar tempat dia ditempatkan. Ini hanya satu kamar, tetapi luasnya mungkin lima kali dari kamar yang Luhan sewa saat ini, belum lagi bagian-bagian lain seperti ruang tamu, dapur dan kamar mandi, Tidak mungkin bukan Sehun membersihkan semuanya sendiri?
"Sudah kupecat." Sehun bergumam enteng, tidak menjelaskan bahwa sebenarnya dia memperoleh jasa kebersihan kamar gratis sebagai pelayanan VIP dari pihak apartemen. Baru saja dia menelepon pihak apartemen dan mengatakan dia tidak membutuhkan pelayanan gratis itu lagi.
"Kau pecat?" Luhan menghela napas, "Kau tidak memecatnya karena aku bukan?"
Tatapan Sehun tampak dingin dan mencemooh, "Jangan besar kepala, mana mungkin aku memecatnya karenamu?"
Pipi Luhan langsung merah padam, Betapa malunya dia, lagipula seharusnya dia sadar kalau Sehun tidak mungkin melakukan itu. Luhan hanya berada di waktu yang tepat di saat Sehun kehilangan pelayannya, sekarang Luhan kehilangan pekerjaannya, jadi betapa baiknya Sehun karena menawarkan pekerjaan ini padanya...
"Bagaimana? Kau mau mengambil pekerjaan sebagai pelayanku? Aku tinggal sendirian di sini tanpa keluarga, dan tanpa pengurus rumah yang membersihkan apartemen dan memasak aku sedikit kerepotan."
Luhan menatap Sehun, masih ragu, "Jam berapa aku harus datang dan bekerja?"
"Datang dan bekerja? Tidak... kau tinggal di sini, itu akan lebih mudah bagiku."
"Tinggal di sini?" Luhan setengah berteriak, "Tidak! Aku tidak bisa!"
"Kenapa?" Sehun bersedekap dan mengangkat alisnya, "Bukankah sudah biasa seorang pelayan tinggal di rumah majikannya? jadi dia bisa melaksanakan tugasnya dari pagi sampai malam, memastikan seluruh rumah bersih dan seluruh kebutuhan majikannya terpenuhi. Dan tentu saja aku akan membayarmu dengan harga yang pantas."
Luhan mengerutkan keningnya.
Tetapi kebanyakan yang mempekerjakan pelayan yang menginap itu bukanlah seorang bujangan yang tinggal sendirian seperti yang dikatakan oleh Sehun tadi. Bagaimana mungkin Luhan tinggal berdua dengan seorang laki-laki dalam satu rumah tanpa ada orang lain?
"Jangan berpikir yang tidak-tidak." Sekali lagi Sehun bisa membaca apa yang berkecamuk di dalam benak Luhan, "Setiap orang yang melihat aku dan kau tidak akan melihat kita sebagai pasangan, mereka pasti bisa melihat bahwa aku adalah majikan dan kau pelayannya, jadi kau tak perlu cemas akan pandangan orang-orang."
Dengan sinis lelaki itu memandang Luhan, "Segera setelah kau bisa jalan, akan kuantar kau ke rumahmu dan mengemasi barang-barangmu."
Luhan tercenung tidak bisa berkata apa-apa tertohok oleh kalimat penghinaan lelaki itu. Dan ketika lelaki itu beranjak pergi dan meninggalkan kamar itu, Luhan berpikir keras tentang hidupnya.
Dia terjepit, sekarang dia pengangguran dan tidak punya apa-apa. Tawaran kerja dari Sehun amat sangat dibutuhkannya saat ini dan sangatlah bodoh kalau dia tidak mengambil kesempatan itu...
Benaknya berkelana, kalau dia tinggal di sini sebagai pelayan, yang pasti dia bisa menumpang tempat tinggal gratis. Dan Sehun bilang tentang pekerjaan memasak, mungkin saja Luhan bisa menumpang makan.
Luhan menghela napas panjang, mungkin semua ini sudah diatur, mungkin ini adalah anugrah baginya, setidaknya Luhan jadi bisa menabung untuk perbaikan hidupnya kelak.
Luhan menguatkan dirinya, Kalau memang Sehun menginginkannya menjadi pelayan, maka Luhan akan berusaha menjadi pelayan yang terbaik, dia akan berusaha sekuat tenaga untuk melakukan pekerjaannya sebaik-baiknya.
.
.
.
.
.
"Jadi kau menyewa kamar yang sedemikian jauhnya dari cafe tempatmu bekerja?"
Ketika kondisi Luhan sudah baikan, keesokan paginya Sehun menjalankan mobilnya keluar dari tempat parkir apartemen, dia hendak mengantarkan Luhan dengan mobil hitam besarnya itu ke kamar kontrakannya untuk mengemasi barang-barangnya.
Semula Luhan menolak Sehun mengantarnya dan mengatakan akan menaiki kendaraan umum saja, tetapi Sehun mematahkan pendapatnya dan mengatakan akan lebih praktis kalau dia mengantar Luhan. Dan di sinilah Luhan, duduk dengan gugup di kursi empuk mobil yang terbuat dari kulit asli, merasa takut mengotorinya.
"Kenapa kau tidak memakai sabuk pengamanmu?" Sehun melirik, membelokkan mobilnya menuju ke jalanan.
Luhan menunduk dan melihat sabuk kulit yang terjuntai di bagian atas, dia menariknya
kemudian kebingungan. Bagaimana memasang sabuk pengaman ini? Pipinya memerah, merasa sangat malu dan bingung. Sehun pasti menertawakannya dalam hati mungkin mencemooh betapa udiknya Luhan.
Tetapi di luar dugaan, Sehun meminggirkan mobilnya,
"Kau belum pernah memakai sabuk pengaman sebelumnya ya." gumamnya lembut, penuh pengertian, lalu mencondongkan tubuhnya dan membantu memasangkan sabuk pengaman Luhan.
Luhan terdiam dengan pipi merona, menatap rambut tebal Sehun yang tertunduk di dekatnya.
Aroma parfum Sehun menyentuh indera penciumannya dengan lembut, begitu maskulin, dan tiba-tiba saja membuat Luhan bergetar. Mungkin Sehun selalu mengejek dan mencemoohnya, tetapi Luhan tahu-
.
-Lelaki ini adalah penyelamatnya.
.
.
.
"Jauh sekali."
Entah sudah berapa kali Sehun mengomel sepanjang jalan. Kamar yang di sewa Luhan memang benar-benar berada di pinggiran kota... sangat jauh.
Sehun membayangkan bagaimana Luhan harus menempuh perjalanan berjam-jam hanya untuk mencapai tempat kerjanya. Hidup perempuan ini benar-benar keras, Sehun membatin tiba-tiba perasaan iba memenuhi nuraninya ketika melirik ke arah tubuh mungil yang sekarang sedang meremas-remas jemarinya sendiri dengan gugup.
"Maafkan aku.." Luhan bergumam lemah, merasa bersalah karena berkali-kali Sehun mengeluh bahwa tempat tinggalnya begitu jauhnya, lelaki ini pasti sangat jengkel karena harus menempuh kemacetan dan perjalanan panjang hanya untuk mengantarkan Luhan pulang.
"Aku memilih tempat di pinggiran kota karena harga sewanya murah... di sini ada banyak pabrik, yang berarti ada banyak buruh yang membutuhkan tempat tinggal. sehingga selalu tersedia kamar murah..."
Sehun mengernyitkan keningnya, "Bukankah sama saja kalau ongkos transportnya mahal?"
"Ongkos transportnya tidak mahal, kebetulan ada bus sekali jalan.. aku hanya tinggal berjalan kaki ke ujung sana..."
Luhan menundukkan kepalanya ketika Sehun melemparkan tatapan iba kepadanya. Dia tidak mau dikasihani. memang keadaannya pasti terlihat menyedihkan bagi
lelaki kaya seperti Sehun. Tetapi inilah hidupnya, inilah yang dijalani Luhan, dan Luhan hidup dengan berjuang untuk masa depannya yang lebih baik.
Sehun masih mengernyitkan keningnya, dia sedikit mengerem ketika Luhan bergumam, "Itu berhenti di situ."
Luhan menunjuk ke area parkir di bawah pohon besar, di sekitarnya banyak ruko-ruko dengan berbagai macam usaha, ada penjual makanan di sana, pangkas rambut laki-laki, apotek dan beberapa yang digunakan seperti kantor.
"Dimana tempat tinggalmu?"
Luhan menunjuk ke sebuah gang kecil di sebelah kompleks ruko itu, "Harus masuk ke sana, mobil tidak bisa masuk... kau tunggu di sini yah."
"Aku ikut." Sehun membuka pintu mobilnya
"Jangan!" Suara Luhan yang setengah berteriak itu membuat gerakan Sehun terhenti, dia menoleh dan menatap Luhan dalam,
"Kenapa Jangan?" tanyanya singkat.
Pipi Luhan memerah, " Di sana kotor dan mungkin tidak menyenangkan untuk orang sepertimu."
Lelaki ini akan mengotori sepatu kulit mahalnya yang berkilau, gumam Luhan dalam hati, belum lagi pakaian lelaki ini yang tampak mahal serta penampilannya yang pasti akan membuat orang-orang di sekitar tempat tinggal Luhan terpukau... yang pasti sosok seperti Sehun bukanlah sosok yang cocok untuk berada di sekitar tempat tinggal Luhan karena dia akan tampak berbeda dan terlalu mencolok.
Sehun mengamati Luhan kemudian bergumam keras kepala, "Aku akan mengantarmu Setidaknya aku bisa membantumu membawakan barang-barangmu, jadi kau tidak perlu bolak-balik."
Lelaki itu memang tidak bisa dibantah, Luhan mendesah dan kemudian menganggukkan kepalanya, terserah kalau Sehun ingin memaksa masuk, tanggung sendiri akibatnya nanti.
.
.
.
Jalanan becek sehabis hujan semalam, dan semakin membuat gang sempit tempat masuk ke kamar yang Luhan sewa terasa kumuh, anak-anak kecil dengan pakaian kumal seadanya tampak bermain-main di tanah, tampak ceria dan seolah tidak terpengaruh oleh keadaan mereka.
Luhan berjalan hati-hati melewati rumah-rumah kecil dengan ahjuma-ahjuma yang sibuk menjemur pakaian.
Tentu saja kehadiran Sehun yang berjalan di belakang Luhan tampak begitu mencolok, semua mata memandang ke arah Sehun, beberapa bahkan tak bisa melepaskan pandangannya dari lelaki itu, Luhan tiba-tiba merasa geli melihat seorang ibu yang ternganga dan seakan lupa mengatupkan bibirnya ketika melihat Sehun.
Mungkin ibu itu mengira Sehun adalah artis yang menyasar ke tempat ini.
Anak-anak kecil juga tampak tertarik dengan penampilan Sehun, mereka berbisik sambil cekikikan satu sama lain dan menatap Sehun penuh ingin tahu, membuat ekspresi Sehun tampak masam.
Akhirnya mereka tiba di tempat tinggal Luhan setelah berjalan menembus perkampungan itu, Sehun mengernyit melihat penampilan kamar yang di sewa Luhan yang reyot. Ketika Luhan membuka pintu kamarnya, kerutan di dahi Sehun semakin dalam. Bagian dalamnya bahkan lebih reyot lagi.
Kamar itu bersih, tampak sekali Luhan sangat rapi. Spreinya licin tanpa cacat, semua pakaiannya terlipat rapi di sebuah keranjang kecil di sudut. Dan kamar itu sangat sempit, dengan langit-langit yang rendah, membuat Sehun harus setengah menundukkan kepalanya di sini. Di sebuah sudut di meja kecil samping ranjang, ada sebuah pot bunga kecil yang berwarna ungu yang cantik.
Sebuah usaha menyedihkan untuk membuat tampilan kamar ini lebih baik, dan ternyata kurang berhasil karena memang suasana kamar ini sudah tidak dapat diselamatkan.
"Silahkan duduk." Luhan bergumam gugup dan canggung, menyadari bahwa Joshua sedang mengamati kamarnya yang sangat sederhana itu.
Ya ampun, lelaki itu pasti sekarang sedang merasa sangat kasihan kepadanya. Tetapi sekali lagi, Luhan tidak suka dikasihani, meskipun sederhana, Luhan sangat bersyukur dengan tempat tinggalnya ini, setidaknya dia punya tempat untuk pulang setiap malam, tidak kebasahan ketika hujan, dan bisa berlindung untuk beristirahat di malam hari.
Sehun memandang sebuah kursi kayu yang tampak lapuk, lalu mengangkat bahu dan menariknya, dia duduk dan mengamati Luhan mengambil tas kain besar dari bawah tempat tidur dan mulai mengisinya dengan pakaiannya.
Setelah selesai, Luhan mengemas barang-barang lainnya, beberapa buah buku, beberapa kosmetik standar sederhana, dan juga beberapa peralatan makannya, dua buah cangkir dan piring dari bahan melamin berwarna biru.
"Tinggalkan itu." Sehun yang sejak tadi hanya duduk diam dan mengamati kegiatan Luhan tiba-tiba bergumam.
Luhan mendongakkan kepalanya, kegiatannya memasukkan peralatan makan itu berhenti karena perkataan Sehun,
"Apa?"
"Peralatan makan itu, kau tidak memerlukannya." Sehun melirik ke arah piring dan gelas melamin milik Luhan.
Demi Tuhan, buat apa Luhan membawanya? di apartemenya penuh dengan peralatan makan kualitas terbaik, piring dan gelas kristal serta sendok garpu dari perak murni memenuhi lemari dapurnya, beberapa bahkan belum pernah dipakai sejak di beli,
Sejenak ekspresi Luhan tampak terhina dan ingin membantah. Tetapi lalu perempuan itu menarik napas panjang dan menurut. Diletakkannya peralatan makan itu, lalu berdiri dan menutup resleting tasnya.
"Baiklah, semua sudah siap."
Sehun melirik tas kain Luhan dan menatap takjub. "Hanya itu barangmu?"
Sehun pernah punya kekasih yang memiliki banyak sekali pakaian dengan berbagai warna, parahnya mantan kekasihnya itu bahkan menyesuaikan warna pakaiannya dengan tas dan sepatunya, jadi koleksi tas dan sepatunya sama banyaknya dengan pakaiannya hingga membutuhkan beberapa lemari dan rak khusus. Melihat Luhan yang bisa mengemas pakaiannya hanya dalam satu tas kain berukuran sedang membuat Sehun merasa miris.
"Hanya ini." Luhan melangkah keluar dari kamar
itu, dan Sehun mengikutinya.
Luhan lalu mengunci pintu kamarnya, "Tunggu ya, aku akan mengembalikan kunci kamar pada ibu pemilik kamar."
Luhan menunjuk sebuah rumah yang hampir menempel dengan kamar kontrakannya, ibu pemilik kontrakan pasti akan terkejut karena Luhan keluar tiba-tiba, Tetapi Luhan akan menjelaskan kalau dia mendapatkan pekerjaan baru di luar kota.
"Aku perlu ikut?" Sehun menggumam.
Luhan langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Bisa gawat kalau Sehun ikut, yang ada ibu pemilik kamar akan berpikir macam-macam,mungkin dia akan berpikir kalau Luhan menjual dirinya, mana mungkin ibu pemilik kamar akan percaya jika Luhan menjelaskan bahwa Sehun adalah majikannya?
Majikan mana yang mau mengantar calon pelayannya sampai ke tempat tinggalnya yang jauh dan kumuh semacam ini.
"Aku akan ke sana sendiri. Tunggu di sini saja ya." Luhan langsung membalikkan badan dan berlari-lari kecil menuju rumah ibu kontrakannya, takut kalau Sehun mengikutinya.
.
.
.
Dalam perjalanan pulang, ponsel Sehun berbunyi, dia mengernyitkan keningnya ketika melihat itu adalah nomor dari pengacara ayahnya.
"Ada apa?" Sehun langsung menjawab dalam bahasa ayahnya, dengan nada gusar seperti biasa. Pengacara ayahnya seperti biasanya sudah kebal dengan nada suara Sehun yang tidak menyenangkan itu,
"Ayahmu. Beliau ingin bicara langsung denganmu, Saat ini dia menunggu di sebelahku."
"Kenapa dia tidak menghubungiku saja langsung?"
Pengacara ayahnya menarik napas panjang, "Kau tahu kenapa Sehun..kalau dia menghubungimu langsung, kau tidak akan mengangkatnya."
Sehun mendengus, "Memang. Dan katakan padanya aku tidak tertarik."
"Sehun." suara pengacara ayahnya terdengar sabar, "Kau harus mendengarkan. Ini menyangkut masalah warisan gelar ayahmu. Beliau sudah mengatur pernikahanmu dengan seorang perempuan dari keluarga bangsawan yang sederajat denganmu."
Luhan hanya bisa mengerti sepatah-patah dari percakapan Sehun dalam bahasa inggris itu, Tetapi dia bisa melihat setelah lawan bicaranya berkata-kata, wajah Sehun tampak sangat geram dan marah. Begitu marahnya sampai nyaris menakutkan.
Luhan melirik ke arah Sehun dengan takut-takut, mendadak merasa tidak nyaman berada di dalam mobil itu, apalagi ekspresi Sehun tampak sangat marah, sedikit menakutkan. Lelaki itu mencengkeram kemudi kuat-kuat dan kemudian sedikit mengebut, untunglah mereka ada di jalan tol yang lengang, sehingga mereka sedikit aman.
Tetapi walaupun begitu, jantung Luhan serasa berpacu ketika Sehun semakin dalam menginjak gas mobilnya, membuatnya berpegangan pada sabuk pengamannya dan berdoa dalam hati karena ketakutan. Kalau gaya Sehun menyetir seperti ini, dia tidak akan mau pergi semobil berdua dengan laki-laki itu lagi. Luhan berjanji dalam hati, melirik ekspresi lelaki itu yang sangat gusar.
Kenapa Sehun tampak begitu marah? Telepon siapa itu tadi?
.
.
.
.
.
Mereka sampai di apartement Sehun dan lelaki itu masih membisu, membuat suasana tidak enak, lelaki itu lalu membuka pintu apartemennya dan mempersilahkan Luhan masuk,
"Silahkan, anggap seperti rumah sendiri." Sehun bergumam memecah keheningan, dia lalu masuk di belakang Luhan dan membanting tubuhnya di sofa, menyalakan televisi.
Lama kemudian suasana tetap hening sehingga Sehun menoleh ke belakang dan mengangkat alisnya ketika melihat Luhan masih berdiri di sana dengan gugup di dekat pintu sambil meremas-remas jemarinya.
"Kenapa kau masih berdiri di situ?" Sehun tampak terkejut menatap Luhan.
Pipi Luhan merah padam, dia tampak malu, "Eh... aku... aku tidak tahu harus kemana..."
Sehun menghela napas panjang menghadapi kepolosan Luhan, perempuan ini luar biasa polosnya hingga Sehun merasa menjadi serigala yang sedang berusaha menerkam gadis kecil bertudung merah yang tidak tahu apa-apa.
Dengan sedikit gusar Sehun berdiri, merasa agak menyesal karena suasana hatinya yang buruk membuat Luhan terkena imbasnya. Ya, Telepon pengacaranya tadi benar-benar merusak moodnya. Sehun langsung menutup telepon setelah mengucapkan penolakan yang kasar, tidak memberi kesempatan pengacara ayahnya untuk berbicara.
Dasar lelaki tua yang kurang ajar .
Meskipun tahu itu salah, Sehun terus menerus mengutuki ayahnya. Seenaknya saja dia berusaha kembali mengatur kehidupan Sehun setelah dulu dia meninggalkan Sehun dan ibunya, apakah dia pikir Sehun adalah manusia yang tertarik dengan gelar dan harta?
Tidak! Lelaki tua itu seharusnya tahu betapa puasnya Sehun karena menolak permintaannya, Sehun bahkan akan sangat senang kalau lelaki itu memohon dan menyembah-nyembahnya dan dia akan tetap menolak permintaan lelaki tua itu dengan puas.
Setelah menghela napas panjang, Sehun menatap Luhan yang tampak kebingungan dengan ekspresinya yang berubah-ubah. Kasihan juga gadis ini. Harinya sudah buruk dan Sehun yakin demamnya masih belum begitu reda, sekarang harus menghadapi emosinya pula.
"Sini, kutunjukkan kamarmu. Sebenarnya ini kamar yang sama yang kau tempati ketika sakit tadi." Walaupun begitu Sehun tidak bisa menahan suaranya yang terdengar ketus,
"Lain kali jangan bersikap canggung di sini, kita hanya berdua dan sikap canggungmu membuat suasana tidak enak. Lakukan apa yang kau suka, anggap saja rumah sendiri, kalau kau ingin menonton televisi silahkan, kalau kau ingin membuat makanan silahkan, lakukan apa saja yang kau suka, nanti kita akan membahas beberapa aturan, apa yang boleh dan tidak boleh di rumah ini, tapi sekarang kau boleh beristirahat dulu. Aku juga lelah, mau tidur siang."
Sambil terus berbicara, Sehun mendahului Luhan yang terbirit-birit mengikutinya melangkah ke kamar kedua di apartemen yang cukup luas itu, Sehun membuka pintu kamar itu dan melirik ke arah Luhan.
"Masuklah dan istirahatlah dulu, nanti sore kita bicara." Setelah itu, tanpa melirik sedikitpun pada Luhan, Sehun berlalu.
"Te...terimakasih..." Luhan berseru gugup, entah Sehun mendengarnya atau tidak karena lelaki itu sudah melenggang kembali ke ruang tengah.
.
.
.
.
.
Luhan memasuki kamar itu, kamar yang sama tempatnya di rawat ketika demam.
Dia terperangah ketika melihat luasnya kamar itu.
Semuanya lengkap, dari ranjang busa yang besar di tengah, lemari berwarna krem yang elegan dan meja rias yang dilengkapi dengan kaca minimalis yang begitu bening. Ada sebuah televisi besar di dinding, televisi layar datar yang hanya pernah Luhan lihat di televisi...
Dan juga AC...tentu saja kamar ini ada ACnya, Luhan tersenyum merasa malu karena sadar dia benar-benar kampungan.
Di kamar sewanya tidak ada AC, bahkan kipas anginpun tidak ada karena Luhan tidak mampu membelinya. Pernah dia membawa tabungannya yang berhasil disisihkan dari uang makannya ke sebuah supermarket yang di dalamnya juga menjual barang-barang elektronik. Pada akhirnya Luhan keluar dengan tangan kosong, menggenggam uang tabungannya itu di tangannya.
Ketika sudah melihat-lihat berbagai merek kipas angin, dia mendapati bahwa yang termurah, dengan ukuran paling kecil dan merk menengah harganya melebihi uang tabungannya.
Tetapi bukan hanya harga yang membuat Luhan batal membeli, benaknya tiba-tiba memutuskan bahwa dia bisa bertahan tanpa memakai kipas angin, bahwa uang itu sebaiknya disimpan untuk keperluan lain yang lebih penting, seperti membeli sabun mandi atau shampo dan berbagai keperluan rumahan lainnya.
Alhasil Luhan harus melalui lagi malam-malam di panasnya Seoul dengan udara lembab dan lengket, dengan nyamuk yang tak kalah galaknya. Tetapi setidaknya hatinya tenang karena dia masih memegang uang simpanannya sebagai pegangan di kala perlu.
Dan sekarang, melihat AC itu Luhan tidak bisa menyembunyikan senyum lebarnya, dia mengucapkan selamat tinggal kepada malam-malamnya yang panas dan penuh keringat.
Dengan ingin tahu, Luhan menyalakan AC itu, memencet tombol ON. Luhan tahu cara menyalakan AC karena dia sering menyalakan dan mengatur suhu AC di cafe tempatnya bekerja dulu. Dan kemudian, ketika AC itu menyala, udara sejuk langsung menghembusnya. Membuat senyumnya makin lebar.
Setelah yakin pintu kamarnya tertutup dan Sehun tidak bisa melihatnya, Luhan duduk di ranjang itu, menepuk-nepuknya dan sekali lagi tersenyum senang, ranjangnya empuk. Tidak seperti ranjang lembek dan keras entah dengan usia berapa lama di kamar sewanya yang penuh dengan serangga tak terlihat, kadang terasa menggigit kulitnya dan menimbulkan ruam-ruam di kulitnya. Ranjang yang ini pasti tak ada serangganya... pikir Luhan sambil menepuk-nepuknya lagi, dan ranjang ini empuknya luar biasa.
Puas menikmati empuknya ranjang itu, Luhan meraih tas-nya dan mulai berbenah. Di bukanya lemari empat tingkat berwarna krem itu dan mulai memindahkan pakaiannya ke dalam lemari, ketika selesai dia tersenyum masam dan merasa malu, keseluruhan pakaiannya bahkan tidak bisa memenuhi satu tingkat yang paling atas di lemari itu, lemari itu jadi tampak kosong dan menyedihkan.
Tetapi tidak apa-apa, Luhan tidak malu dia hanya punya sedikit pakaian, setidaknya dia masih bisa berganti pakaian setiap hari dan bersih serta wangi, biarpun pakaiannya sedikit, Luhan tidak pernah memakai pakaian yang sama selama beberapa hari, setiap dia memakai baju, ketika mandi, dia selalu mencuci pakaiannya sehingga ketika keesokan harinya pakaiannya sudah kering dan wangi lagi.
Untuk menyeterika dia bisa meminjam seterika ibu kontrakannya, dan membayar biaya listriknya dengan sekalian menyeterika cucian ibu kontrakannya yang setumpuk banyaknya, karena ibu kontrakan selain memiliki suami yang berbadan besar, juga memiliki empat anak yang masih kecil-kecil. Bisa dibayangkan Luhan membutuhkan waktu seharian penuh di hari liburnya untuk menyeterika semuanya.
Luhan lalu mengatur kosmetiknya dimeja rias yang besar dan lagi-lagi meja itu tampak kosong dan menyedihkan karena Luhan hanya punya satu bedak tabur, satu lipstick, deodoran dan satu splash cologne murahan yang dibelinya di minimarket, serta satu sisir kecil, Luhan menambahkan sambil tersenyum, kosongnya meja rias itu tidak mengganggunya, malahan membuatnya terkikik geli, menertawakan dirinya sendiri.
Ya ampun. Kamar ini begitu bagusnya, terlalu bagus dan sempurna untuk dirinya!
Setelah puas memandang suasana kamarnya yang sejuk, Luhan melongok ke arah kamar mandi. Ada kamar mandi pribadi di dalam kamar ini! Lagi-lagi Luhan membayangkan ketika tinggal di kamar kontrakan dimana dia harus berbagi kamar mandi dengan ibu kontrakan dan keluarganya, serta empat orang penyewa kamar kontrakan lainnya.
Luhan melihat sabun, shampoo yang telah tersedia dalam wadah khusus di dinding, dia menambahkan sikat giginya dan tersenyum bahagia.
Sambil bersenandung, Luhan membanting tubuhnya di ranjang matanya tersenyum menatap langit-langit kamar itu... bahkan langit-langit kamarnyapun indah... hatinya dipenuhi rasa syukur. Alangkah baik hatinya Sehun memberkan tempat tinggal untuknya, tempat seindah ini yang sama sekali tidak dibayangkannya.
.
Luhan berjanji dia akan menjadi pelayan yang terbaik untuk Sehun.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue
.
.
A/N
.
Duhh telat update lagi -_- . Sebenarnya saya mau mengupdate kemarin tapi tiba tiba masalah menampakan diri membuat saya harus menghadapinya /?
.
Maaf jika ada kata2 yang tidak pas atau terkesan aneh karna saya bingung mau ngegantinya dengan kata apa. Makasih buat Arvita . kim yang udah ngasih saran, sebenernya kemarin saya ngeditnya terburu-buru jadi gak sempet negeganti kata 'Seratus ribu' dalam nominal korea. Huft...
.
Maaf ya kali ini gak bisa bales review. Tapi jangan kapok yaa buat ngereview fanfic ini (dan semua fanfic saya. #plakk)
.
Sampai jumpa di chapter depan.
