Title : Crush In Rush

Cast :

Xi Luhan (girl) - Oh Sehun, etc.

Warning : Genderswitch, typo(s), etc

Rated : T

Disclaimer :

Cerita ini sepenuhnya milik Santhy Agatha dari novel yang berjudul sama. dan saya hanya meremakenya dengan mengganti cast dan mengedit sedikit alurnya. So don't call me plagiator, ok?!

.

Summary : Sehun dan Luhan. Dua mahluk yang bertolak belakang, yang seharusnya tidak pernah bersinggungan. Tetapi kehidupan mempertemukan mereka ke dalam pusaran nasib yang tidak terelakkan.

.

.

Don't Like

.

Dont'read

.

.

Enjoy

.

.

.

.

Ketika terbangun, mata Luhan langsung terarah ke arah jam besar di dinding, dia sedikit terperanjat dan langsung duduk. Rupanya dia ketiduran akibat suasana kamar yang begitu nyaman. Dan sekarang sudah jam lima sore.

Astaga... betapa malunya Luhan, dia telah berjanji dalam hati akan menjadi pelayan yang baik, tapi yang dilakukannya malahan tidur begitu lama.

Setengah melompat, Luhan masuk ke kamar mandi, dan mandi. Merasa takjub bahwa air di kamar mandi itu bisa disetel panas ataupun dingin. Setelah selesai, Luhan memakai pakaiannya dan membuka pintu kamar dengan hati-hati.

Suasana tampak lengang, ruangan apartemen remang-remang, dan hanya terdengar suara TV yang sayup-sayup, Luhan melangkah ke ruang tengah dan mendapati Sehun sedang tidur tengkurap di sofa, lelaki itu telanjang dada, hanya mengenakan celana panjang santai dan tampak sangat lelap. Pipi Luhan memerah ketika mengamati punggung telanjang Sehun yang berotot, dia melangkah dengan sangat hati-hati melewati Sehun dan kemudian melangkah menyeberangi ruang tengah menuju dapur.

Luhan akan memasak makan malam dan membuat teh hangat, setidaknya ketika Sehun bangun, makanan sudah tersedia. Di dapur, Luhan melihat sebuah kulkas besar berwarna hitam, dengan hati-hati Luhan membuka kulkas itu dan sedikit merenung melihat isinya.

Sehun rupanya tidak suka memasak, yah dia kan lelaki bujangan yang tinggal sendirian, buat apa repot-repot memasak kalau bisa membeli atau pesan antar makanan?

Luhan melihat bahan makanan yang seadanya di sana. Ada sosis di freezer, dan di kotak sayuran di bagian bawah ada wortel dan brokoli. Luhan memutuskan membuat sup sederhana. Karena tidak ada kaldu, Luhan merebus sebagian sosis dengan potongan besar hingga airnya berminyak, lalu memasukkan bawang yang sudah ditumisnya dengan mentega ke sana –untunglah Sehun mempunyai beberapa siung bawang putih yang sudah setengah mengering di kulkasnya – Aroma harum langsung tercium ke seluruh penjuru dapur.

Luhan lalu memasukkan wortel yang sudah di potong-potongnya, sementara brokolinya akan dimasukkan belakangan setelah air mendidih. Setelah itu, Luhan membumbui supnya dan mencicipinya. Rasanya lumayan, meskipun dengan bumbu dan bahan yang lebih lengkap, sup ini akan terasa lebih enak.

Tidak ada nasi, tetapi ada kentang di kulkas, Luhan memutuskan membuat kentang tumbuk. Beberapa kentang yang sudah dikupas, di kukus

sampai empuk, lalu dihancurkan dengan dicampur sedikit garam, krim kental dan susu tawar kental. Selain itu Luhan membuat scramble eggs sebagai lauknya. Dan jadilah masakannya itu.

Ketika Air mendidih dan Luhan menyeduh teh, tiba-tiba sosok Sehun sudah berdiri bersandar di ambang pintu dapur.

"Baunya enak."

Luhan memekik, hampir menjatuhkan teko teh-nya. Untunglah dia sigap menahannya, kalau tidak Luhan mungkin harus masuk rumah sakit karena tersiram air panas yang baru mendidih.

Dengan gugup Luhan menatap Sehun dan tersenyum, "Aku memasak dengan bahan seadanya di kulkas, kuharap kau tidak marah karena aku lancang."

Sehun mengangkat bahunya, masih bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana santainya yang sedikit melorot di pinggang, dia tampaknya tidak terganggu dengan pipi Luhan yang memerah karena penampilannya, lelaki itu duduk di kursi tinggi di meja dapur, dan bertopang dagu,

"Sini ambilkan aku makanan, aku lapar."

Luhan langsung mengambil mangkuk dan menyendokkan sup yang masih panas di sana, dia juga mengambil kentang tumbuk di piring bersebelahan dengan scramble eggs yang dia buat.

Dengan was-was Luhan mengamati Sehun makan, takut kalau lelaki itu memuntahkan makanannya karena tidak menyukai rasanya. Tetapi yang ditakutkan Luhan tidak terjadi, lelaki itu makan dengan lahap dan cepat, dan ketika di tengah makan, Sehun mengangkat kepalanya dan mengernyit,

"Kenapa kau tidak ikut makan?" Tanyanya.

Luhan meremas-remas kedua tangannya, kebiasaannya jika merasa gugup dan bingung, "Aku... eh... bukankah pelayan tidak makan bersama majikan? Biasanya seperti di drama-drama, pelayan makan di dapur setelah majikannya makan."

Sehun terkekeh, tawa yang mencairkan wajah dinginnya yang tampan, "Memangnya kau hidup di jaman feodal apa? Lain kali kurangilah nonton drama yang penuh intrik palsu itu, Luhan. ayo makanlah!"

Karena perintah Sehun terdengar begitu tegas, Luhan akhirnya menyerah dan memutuskan makan bersama Sehun, dia lalu mengambil makanannya, tak henti-hentinya berucap syukur atas makanan yang tersedia begitu mudah untuknya tanpa perlu mencemaskan hari esok lagi. Dan kemudian melahap makanannya dengan senang, ternyata dia lapar.

Sehun hanya tersenyum menatap Luhan, mereka lalu menyelesaikan makannya dan Sehun melompat berdiri, melirik ke arah teko teh yang sudah disiapkan Luhan. Teh melati yang harum mengepul dengan aroma yang menggoda selera.

Sehun sebenarnya lebih memilih kopi. Tetapi sepertinya Luhan harus diajari untuk menggunakan mesin kopi, menggiling bijinya dan menciptakan takaran kopi hitam sesuai seleranya, perempuan itu pasti hanya bisa membuat kopi instan.

"Bawa teh-nya ke ruang tengah, ayo kita bicara sambil minum teh." Gumamnya sambil berlalu.

Dengan segera, Luhan mengambil nampan dan meletakkan teko teh beserta beberapa cangkir di sana, lalu mengikuti Sehun ke ruang tengah. Sehun sudah duduk di sofa, matanya mengarah ke televisi besar yang sedang menayangkan pertandingan basket, dia lalu menatap Luhan yang meletakkan nampan itu di meja, dan berdiri ragu-ragu di sana,

"Duduklah, kau tidak akan duduk di lantai seperti pelayan-pelayan di jaman feodal bukan?"

gumam Sehun ketika lama Luhan tidak juga duduk, dalam hati dia menggeleng-gelengkan kepala. Pantas saja gadis ini ditindas oleh atasannya yang jahat itu, dia benar-benar lemah dan polos.

Luhan duduk di ujung sofa dengan ragu, menatap Sehun yang bersila dengan santai sambil sesekali mengarahkan pandangannya ke televisi,

"Kau mungkin perlu berbelanja, di lantaibasement apartement ini ada supermarket yang

menjual sayuran dan bahan makanan, kau bisa memenuhi kulkas dengan berbelanja di sana, belilah apapun yang kau perlukan untuk memasak, aku akan memberimu uang belanja."

Luhan menganggukkan kepalanya, menyimpan rasa kagumnya pada apartemen ini yang bahkan mempunyai fasilitas supermarket di lantai bawahnya.

Orang kaya memang selalu dimudahkan dalam segala hal... batinnya.

"Dan kita akan tinggal bersama di sini, aku sebenarnya tidak punya aturan ketat, hanya ada beberapa yang harus dihormati. Pertama, aku tidak begitu suka suara bising, jadi kalau kau mau menyalakan televisi atau apa, atur suaranya supaya tidak berisik. Kedua, aku tidak suka susu putih, kecuali di campur dengan kopi, jadi jangan memberikanku itu... Ketiga aku biasanya bekerja di malam hari, mulai jam sembilan malam, dan karena itu aku membutuhkan tidur yang lama di pagi harinya, biasanya aku bekerja jam sembilan malam sampai jam lima pagi lalu aku akan sarapan dan tidur jam sembilan pagi sampai sore dan aku tidak suka diganggu..."

Sampai di situ Luhan mengernyit, berusaha memahami gaya hidup Sehun tetapi tetap saja tidak paham. Lelaki ini seperti vampir, bekerja di malam hari dan tidur ketika ada matahari.

"Kau mendengarkan?" Sehun menegurnya, membuat Luhan tergeragap.

Ketika sudah mendapatkan perhatian Luhan, Sehun melanjutkan, "Sampai di mana tadi? Hmm Oh ya.. keempat..."

Tiba-tiba terdengar suara bel di pintu, membuat Sehun mengernyit karena merasa terganggu.

"Siapa yang bertamu tanpa pemberitahuan itu?" gerutunya, melangkah ke arah pintu dan mengintip.

Ketika tahu siapa yang berdiri di depan pintunya, Sehun mendesah kesal, tetapi tetap membuka pintunya itu,

"Apa yang kau lakukan di sini, Kai?"

Seorang lelaki yang amat sangat tampan melangkah dengan senyum lebar, memasuki ruangan.

Luhan terpesona.

Karena lelaki itu...sungguh terlalu tampan. Ada sesuatu di tangannya, lelaki itu memegang wadah biola dari bahan kulit kaku berwarna cokelat gelap. Lelaki itu pemain biola?

Dan kemudian, Kai masuk menatap Sehun masih dengan senyumannya, tidak mempedulikan tatapan kesal Sehun,

"Aku butuh bantuanmu teman. Ada seorang perempuan yang dijodohkan ibuku untukku dan dia terus memaksa meskipun aku menolaknya mentah-mentah. Ibuku mengatakan karena adikku Taemin sudah menikah dengan si brengsek Minho yang beruntung itu, aku tidak boleh terlalu lama menunda pernikahan. Parahnya... perempuan yang dijodohkan oleh ibuku itu mengejar-ngejarku sampai nyaris menakutkan."

Kai mengangkat bahunya,

"Jadi aku melarikan diri dari rumah, mengatakan harus menjalani pelatihan intensif yang tidak bisa diganggu, dan sepertinya aku harus merepotkanmu, aku tahu kau punya apartemen tiga kamar dengan dua kamar yang masih kosong, jadi izinkanlah aku menumpang sementara di sini."

.

.

Tampan Sekali.

Luhan hampir saja tidak bisa menutupi rasa kagumnya akan ketampanan lelaki yang baru masuk itu.

Luar biasa.

Kai tampak maskulin dan sinar matanya tampak sedikit bandel, seperti anak lelaki kecil yang nakal.

Detik ketika Kai masuk itulah dia menyadari kehadiran Luhan di sana, duduk di sofa ruang tengah, lelaki itu langsung melemparkan pandangan berganti-gani penuh arti ke Luhan dan Sehun,

"Ah, maaf, aku tidak tahu kau sedang ada tamu." Kai tersenyum ramah, senyum yang mempesona kepada Luhan.

"Sehun biasanya tidak pernah menerima tamu di apartmennya, kecuali tamu yang memaksa seperti aku." Lelaki itu terkekeh sendiri, lalu melangkah mendekat, "Kau pasti perempuan istimewa."

"Jangan ganggu dia, Kai. Dia pelayanku."

Kai langsung tertegun. Wajahnya tampak tak percaya, dia melemparkan tatapan mencela ke arah Sehun, "Kau memang tidak pandai bercanda. Mana mungkin kau memakai pelayan di rumahmu? Kau dengan kehidupanmu yang introvert itu?"

Kai melemparkan pandangan menyelidik kepada Sehun, menunggu lelaki itu tersenyum dan mengatakan bahwa dirinya sedang bercanda, tetapi ekspresi wajah Sehun sama sekali tidak berubah, membuat Kai akhirnya mengambil kesimpulan.

"Oh astaga, kau tidak sedang bercanda ya?" jemarinya menunjuk ke arah Luhan, "Gadis ini pelayanmu?"

"Tentu saja." dengan santai Sehun melangkah melalui Kai dan duduk kembali di sofa tempatnya duduk, "Duduklah dan ceritakan pelan-pelan, apa yang terjadi padamu sampai kau harus mengemis tempat tinggal kepadaku? bukankah kau punya apartemen sendiri di tengah kota? kenapa kau tidak kesana?"

Kai ikut duduk, di dekat Luhan yang terpaku, masih terpesona.

"Mereka akan bisa melacakku kalau aku ke sana, kau tahu, ibu angkatku dan perempuan yang dijodohkan denganku itu sangat gigih mengejarku." Tanpa dipersilahkan,Kai menuang teh di meja dan menyesapnya, "Hmm enak sekali, kau yang buat yah?" lelaki itu menoleh tiba-tiba ke arah Luhan, membuat Luhan gelagapan,

"Eh... iyaa... saya yang buat."

Sementara itu Sehun menatap ke arah Luhan dan mengernyit, perempuan itu terpesona tentu saja.

Semua perempuan pasti akan terpesona kalau melihat Kai dan ketampanannya yang luar biasa. Tetapi penampilan bisa menipu, di balik sikap ramah dan baik hatinya kepada perempuan, Kai menyimpan racun yang menakutkan.

Lelaki itu adalah penghancur perempuan, dalam arti yang sebenarnya.

Entah sudah berapa perempuan yang dipermainkannya, diberi harapan, kasih sayang dan perhatian dengan begitu indahnya, lalu dilemparkan dan dibuang dengan kejam,

Ya. Kai cukup menakutkan kalau berhubungan dengan perempuan, entah kenapa Sehun berpikir kalau Kai membenci perempuan, tentu saja mama angkatnya dan adik kesayangannya yang baru dijumpainya setelah sekian lama itu tidak termasuk kategori yang dibencinya.

Sekarang Luhan terpesona dengan Kai, dan Kai secara alami langsung menebarkan pesonanya pada Luhan. Sehun harus menghentikannya segera, sebelum semua berlanjut. Luhan adalah pelayan yang bekerja untuknya, dia harus menjaganya.

"Kau bisa masuk Luhan." gumam Sehun tiba-tiba.

Luhan merasa lega atas perintah Sehun itu, dia merasa canggung duduk di sofa di tengah percakapan kedua laki-laki yang sepertinya bersahabat itu, dengan cepat dia berdiri dan mengucap salam, "Saya permisi dulu." dengan tak kalah sopan dia mengangguk ke arah Kai kemudian melangkah tergesa meninggalkan ruang tengah itu, masuk ke kamarnya.

.

.

.

.

Kai terus mengamati sampai Luhan menghilang dari pandangan, kemudian melemparkan tatapan penuh ingin tahu ke arah Sehun,

"Kau? Membawa seorang pelayan untuk tinggal di rumahmu?" dia masih mengungkapkan pertanyaan yang sama, "Rasanya itu tidak mungkin terjadi, Sehun. itu bukan Sehun yang kukenal."

Ya. Sehun yang dikenal Kai adalah seorang penyendiri. Lelaki itu selalu menghabiskan waktunya sendirian dan kebanyakan menutup hatinya dari hubungan apapun. Bahkan Kai sempat ragu meminta pertolongan Sehun agar mau menampungnya sementara, mengingat sikap Sehun yang cenderung introvert itu.

"Aku menolongnya, karena dia butuh pertolongan, sama sekali tidak ada alasan lain." Mata Sehun menyipit, "Dan jika kau memang akan tinggal di sini, kau tidak boleh mengganggunya."

Kai terkekeh mendengar nada ancaman di balik suara Sehun itu, "Oke. Sepakat, aku tidak akan mengganggunya, tetapi aku tidak bisa mencegah kalau dia yang menggangguku."

Tawanya malahan makin keras ketika menerima tatapan membunuh yang langsung dilemparkan Sehun kepadanya.

"Aku bercanda Sehun, gadis itu aman. Jadi kesimpulannya, kau mengizinkan aku tinggal di sini sementara?"

.

.

.

.

.

Keesokan paginya, Luhan bangun pagi-pagi sekali, dia ingin menyiapkan makanan untuk Sehun, lelaki itu bilang dia bekerja larut malam dan kemudian sarapan dulu di pagi hari sebelum tidur.

Ruang tengah tampak terang benderang, dan Sehun sedang duduk, berkutat dengan wajah serius menggambar sesuatu seperti denah atau entahlah, di sebuah meja khusus di sudut ruangan, Luhan mengamati dalam diam dan kemudian menebak-nebak... meja itu adalah meja khusus arsitek.

Jadi, Sehun seorang arsitek?

Rupanya Sehun menyadari keberadaan Luhan, dia menolehkan kepalanya dan mengerutkan keningnya, "Kenapa kau bangun pagi-pagi sekali?"

dilemparkannya pandangannya ke jam dinding, masih jam lima pagi. Luhan berdiri dengan gugup, "Aku... aku ingin membuat sarapan, kau bilang kau sarapan setiap pagi, baru setelah itu tidur."

"Oh itu." Sehun tidak tega mengatakan kalau dia hanya sarapan roti tawar setiap pagi dan sebenarnya dia bisa menyiapkannya sendiri tanpa merepotkan Luhan.

Tetapi dia mempekerjakan Luhan sebagai pelayannya, dan Sehun sendiri harus membiasakan diri untuk dilayani. "Oke... terimakasih. Ada roti tawar di atas kulkas dan jeruk segar kalau kau ingin membuat jus jeruk. Nanti panggil aku kalau sarapannya sudah siap." gumamnya kemudian.

Setelah melihat Sehun membalikkan badan dan sibuk kembali dengan pekerjaannya, Luhan melangkah ke dapur, dia melihat roti tawar itu, mengisinya dengan keju dan saus kacang yang sudah tersedia dan memanggangnya.

Jeruk besar berwarna orange cerah itu menarik perhatiannya, Luhan mengambil beberapa buah dan memasukkannya ke juicer. Setelah itu dia mengatur makanan yang sudah siap di meja dapur. Biasanya untuk sarapan, Luhan selalu meminum susu satu gelas, tetapi dia ingat kemarin Sehun bilang dia tidak suka susu, dan sepertinya lelaki itu tidak punya susu di dapurnya.

Setelah makanan siap, Luhan memanggil Sehun dengan canggung dari ambang pintu dapur, dan diberikan jawaban singkat oleh Sehun. Tak lama lelaki itu muncul di dapur, masih dengan pakaiannya yang sama, celana panjang dan tidak berkemeja. Luhan sepertinya harus membiasakan diri dengan penampilan Sehun yang indah ini.

"Terimakasih, Luhan."

Sehun menyesap jus jeruknya, lalu mengunyah roti bakarnya dengan tenang, lelaki itu menyelesaikan makannya dengan cepat, lalu menyesap jus jeruknya lagi, setelah itu menguap, "Aku akan tidur. Kau bisa siapkan satu sarapan lagi, Kai untuk sementara akan tinggal di sini. dan oh ya, uang belanjamu ada di meja."

Luhan tertegun sambil menatap punggung Sehun yang berlalu. Jadi Kai, lelaki yang luar biasa tampan itu juga tinggal di apartemen ini?

Luhan sepertinya harus menguatkan hatinya untuk tinggal bersama dua lelaki yang sangat mempesona itu.

.

.

.

.

.

Pintu kamar Sehun masih tertutup rapat ketika giliran Kai yang bangun dari tidurnya.

Lelaki itu ternyata tidak pernah tampil berantakan dantidak pedulian seperti Sehun, Kai keluar kamar sudah mandi dengan aroma harum dan pakaian rapi. Dia melongok ke dapur, ke tempat Luhan sedang mencuci gelas dan piring kopi sisa Sehun,

"Wah aromanya enak." lelaki itu tersenyum dan duduk di meja dapur, kemudian mencomot satu roti bakar dan memakannya, "Mungkin keputusan Sehun menerima seorang pelayan di rumahnya sungguh tepat, dan aku juga ikut mendapatkan keuntungan."

Lelaki itu mengedipkan sebelah matanya menggoda, mau tak mau membuat Luhan tersenyum, "Semoga anda suka." gumamnya canggung, "Saya.. eh saya pamit dulu." setengah tergesa Luhan berjalan hendak keluar pintu dapur.

"Mau kemana?" suara Kai mencegahnya, lelaki itu mengerutkan keningnya.

"Saya hendak berbelanja bahan makanan di supermarket di basement.'

"Aku ikut." dengan tak terduga Kai berdiri, meneguk gelas jus jeruknya dan tersenyum ke arah Luhan, "Aku bosan di sini, biarkan aku menemanimu berbelanja."

.

.

.

.

.

Berbelanja bersama Kai berarti harus kuat menerima tatapan orang-orang ke arah mereka.

Yah, ketampanan Kai terlalu mencolok, hingga membuat semua orang yang berjenis kelamin perempuan hampir pasti menoleh dua kali ke arah mereka, Beberapa orang malahan memandang terang-terangan sambil mengangkat alis ke arah Luhan, seolah-olah mengatakan betapa tidak pantasnya Luhan bersanding di sebelah Kai, dan betapa beruntungnya Luhan karena bisa mendapatkan kesempatan itu.

Kai sendiri tampaknya tidak peduli, lelaki itu sepertinya sudah biasa menerima tatapan kekaguman dari orang-orang, dia menoleh dan tersenyum ke arah Luhan dengan ceria, "Jadi, kita akan masak apa hari ini?"

Luhan mengangkat bahunya, "Saya masih bingung... saya lupa menanyakan apa yang disukai dan tidak disukai oleh Sehun."

"Hmmm", Kai mengerutkan keningnya, "Kau jangan menggunakan 'saya' dan 'anda' kepadaku, pakailah 'aku' dan 'kau', oke?" tatapannya menggoda, membuat Luhan mau tak mau menganggukkan kepalanya, "Dan mengenai Sehun sepertinya kau tidak perlu cemas, dia menyukai semua jenis makanan, setahuku yang tidak disukainya cuma susu putih."

Kai melirik ke arah rak buah-buahan, "Aku akan mengambil buah pir itu, kau tunggu di sini saja ya," lelaki itu lalu melangkah sedikit menjauh dari Luhan.

Sementara itu, Luhan langsung berpikir untuk membuat masakan laut, dia akan membeli udang dan cumi lalu membuat masakan bersaus dan lezat, semoga saja Sehun menyukainya.

"Luhan?" suara lelaki yang familiar memanggilnya, membuat Luhan menolehkan kepalanya, dan melihat sosok yang dikenalnya berdiri di sana, sedang berbelanja,

"Jongdae?"

Jongdae adalah mantan rekan kerjanya di cafe tempatnya bekerja, lelaki itu satu-satunya rekan kerja yang bersikap baik kepada Luhan.

"Kenapa kau ada di sini?"

Lelaki itu menunjukkan keranjang belanjaannya yang berisi gula dan sirup, "Berbelanja untuk café, stok belanjaan belum datang dan ada beberapa barang yang habis, jadi aku disuruh berbelanja kemari, ini supermarket yang paling dekat dengan café, Kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini? Bos bilang kau sudah tidak bekerja lagi di café, aku berusaha mencari tahu tentangmu tapi aku kehilangan jejak, apalagi kau tidak punya ponsel untuk dihubungi."

Luhan menatap Jongdae dengan tatapan menyesal, "Maafkan aku Jongdae semua terjadi begitu cepat, tetapi aku baik-baik saja, sekarang aku bekerja sebagai pelayan di sebuah apartemen, yah kau tahu mirip pembantu rumah tangga." Senyumnya melebar, "Setidaknya aku dapat tempat tinggal dan makanan gratis."

"Aku senang mendengarnya." Jongdae menatap Luhan dengan tatapan mata lembut, "Kalau aku ingin bertemu denganmu lagi bagaimana caranya ya?"

Luhan juga tampak bingung, "Aku juga tidak tahu caranya, aku tidak punya ponsel."

"Hmm...kau bekerja di salah satu apartemen ini?"

"Iya."

"Apartemen nomor berapa? dengan tahu nomornya setidaknya aku tahu kau ada di mana."

Luhan hendak membuka mulutnya ketika sosok lelaki tampan itu tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya, merangkul Luhan dengan akrab, "Sehun akan sangat marah kalau kau sembarangan memberikan nomor apartemennya ke orang lain."

Kai bergumam tiba-tiba, melemparkan senyum manis ke arah Luhan Sementara itu Jongdae berdiri menatap mereka berdua, Luhan dan sosok Kai yang penampilannya sangat luar biasa, lelaki itu terperangah...

.

-sekaligus bingung...

.

.

.

.

.

To Be Continued

.

.

A/N

.

.

Sorry for typo dan kesalahan pengeditan.

.

Ucapan 'Thanks To' nya akan saya tulis di chapter akhir, Okay? :-D

.

Semua kritik dan saran saya terima dengan senang hati kok :) terkecuali untuk bash/flame.

.

Btw selamat buat exo yang menang 4 awards di MAMA 2014.. Ughh bahagianyaa~

.

Sampai jumpa di chapter depan ^_^