Title : Crush In Rush

Cast :

Xi Luhan (girl) - Oh Sehun, etc.

Warning : Genderswitch, typo(s), etc

Rated : T

Disclaimer :

Cerita ini sepenuhnya milik Santhy Agatha dari novel yang berjudul sama. dan saya hanya meremakenya dengan mengganti cast dan mengedit sedikit alurnya. So don't call me plagiator, ok?!

.

Summary : Sehun dan Luhan. Dua mahluk yang bertolak belakang, yang seharusnya tidak pernah bersinggungan. Tetapi kehidupan mempertemukan mereka ke dalam pusaran nasib yang tidak terelakkan.

.

.

Don't Like

.

Dont'read

.

.

Enjoy

.

.

(Saya mengganti Cast. Yang jadi adiknya Kai bukan Kyungsoo tapi TAEMIN. Dan yang jadi suaminya Taemin bukan Chanyeol tapi Minho)

.

.

.

.

.


Kai berdiri disana dengan senyum lebarnya dan tatapan mata tidak berdosanya, sama sekali tidak menyadari kalau Jongdae hampir saja melotot melihat penampilannya.

Tentu saja, Luhan yang dikenal oleh Jongdae pastilah tidak mungkin dekat dengan pria-pria berpenampilan elegan semacam ini. Luhan yang dikenal Jongdae sangat sederhana lugu dan pemalu. Sangat bertolak belakang dengan lelaki tampan itu, yang dengan santainya melingkarkan lengannya di pundak Luhan.

Apakah lelaki ini majikan Luhan yang diceritakan sebagai pemilik apartemen tempat Luhan bekerja?

Tetapi seorang majikan mana mungkin merangkulkan lengannya dengan akrab seperti itu? atau jangan-jangan lelaki ini pacar baru Luhan? Kalau begitu beruntung sekali Luhan bisa mendapatkan pacar lelaki yang jelas-jelas berasal dari kalangan atas itu... tapi kalau begitu kenapa Luhan masih bekerja sebagai pembantu? Kalau memang pacarnya kaya bukankah Luhan tidak perlu bekerja lagi?

Tiba-tiba pikiran buruk melintas di benak Jongdae, berpikiran jangan-jangan Luhan berbohong padanya, Luhan pasti tinggal di apartemen itu bukan sebagai pembantu, mungkin dia bekerja sebagai simpanan!

Tiba-tiba Jongdae merasa sedih dan tak yakin, merasa pedih kalau memang benar Luhan sampai jatuh di jurang kehinaan seperti itu... Yah bagaimanapun juga Jongdae tahu hidup Luhan begitu pas-pasan sampai kadang Jongdae merasa kasihan, dan godaan harta pastilah terasa begitu menarik...

Sementara itu Kai mengamati ekspresi Jongdae yang berubah-ubah sambil menahan tawa.

Ekspresi lelaki itu seperti buku yang terbuka, pertama-tama terlihat tercengang, lalu curiga, lalu marah dan terakhir sepertinya sedih. Kai berani bertaruh bahwa di benak lelaki ini pasti sudah dipenuhi dengan pikiran-pikiran yang aneh-aneh tentang dirinya dan Luhan.

"Temanmu, Luhan?" dengan sopan Kai mengulurkan tangannya ke arah Jongdae, matanya masih tetap menatap Luhan, menunggu jawaban. Apakah lelaki ini teman biasa Luhan, ataukah pacarnya?

Kalau lelaki ini pacar Luhan, mau tak mau Kai harus berusaha menjelaskan keadaan sebenarnya kepada lelaki ini dan mengusir seluruh pikiran buruk di benak lelaki ini. Kai terbiasa melakukannya, banyak sekali pria yang cemburu kepadanya, yah mau bagaimana lagi, keadaannya memang seperti ini, bukan salahnya kalau dia bertampang mempesona bukan?

"Iya ini teman saya."

Luhan bergumam cepat, tiba-tiba merasa canggung, apalagi melihat keterkejutan yang begitu nyata di mata Jongdae karena Kai bersikap akrab kepada Luhan. Luhan tidak tahu kenapa Kai begitu mudah bersikap akrab, mungkin memang sudah wataknya begitu meskipun mereka baru bertemu tadi pagi.

Kai langsung menyela Luhan, "Sudah kubilang jangan menyebut 'saya' dan 'anda'." Gumamnya dalam tawa, lalu mengalihkan kembali tatapannya ke arah Jongdae yang masih ragu menerima uluran tangannya, "aku Kai."

Jongdae menyambut uluran tangan Kai dengan sopan, mencoba tersenyum meskipun tatapan curiga masih tampak di sana. "Saya Jongdae, teman Luhan di cafe tempat Luhan dulu bekerja, cafe di seberang situ."

Kai tahu cafe itu, dia memang belum pernah kesana, tetapi setiap dia mengunjungi Sehun dia melewatinya, dan Sehun sering bilang kalau dia terbiasa menghabiskan paginya di sana.

"Saya teman majikan Luhan. Kebetulan saya bosan, jadi saya menguntit Luhan berbelanja di supermarket." Lelaki itu tersenyum sopan kepada Luhan. "Aku akan naik duluan, mungkin kau ingin bercakap-cakap dengan temanmu itu?"

Kai rupanya berbaik hati, lelaki itu melangkah menjauh, berpura-pura sangat tertarik pada botol-botol bumbu yang tertata rapi di rak.

Luhan mengalihkan pandangan ke arah Jongdae dan tersenyum meminta maaf, "Aku harus naik dan memasak." Gumamnya lembut, "Mungkin kita bisa bertemu nanti di sini ya...kalau tidak aku akan ke cafe."

"Aku akan menunggu." Jongdae menunjukkan belanjaannya, "Dan aku juga harus cepat-cepat kembali. Kabari aku ya kalau kau sudah punya ponsel atau sudah bisa dihubungi."

"Pasti." Luhan tersenyum, menganggukkan kepalanya, lalu melambai ketika Jongdae menggumamkan ucapan perpisahan dan pergi.

Tiba-tiba saja Kai sudah berdiri di sampingnya lagi, mengamati sosok Jongdae yang menjauh.

"Kekasihmu?" tanyanya lagi, kali ini ada nada menggoda dalam suaranya.

"Bukan, kami bersahabat di tempat kerja yang dulu."

Pipi Luhan merah padam. Tentu adalah sahabatnya. Luhan selalu memandang Jongdae sebagai orang yang baik, tidak pernah sedikitpun terlintas di benak Luhan untuk berpikiran lebih apalagi menyangkut asmara terhadap lelaki itu.

Kai melangkah menjajari langkah Luhan menuju kasir, dan kemudian bergumam lembut, "Hati-hati Luhan, aku laki-laki dan aku bisa membaca jika ada seorang laki-laki yang memendam cinta. Kalau kau memang tak bisa memberi lebih, jangan pernah memberi harapan kepada mereka."

Setelah berkata begitu, dengan santai Kai melenggang mendahului Luhan melewati kasir dan menunggu di depan supermarket, membuat Luhan mengernyitkan keningnya.

Apa maksud Kai berkata seperti itu? dan siapa yang dimaksud Kai dengan lelaki yang memendam cinta?

.

.

.

.

.

Apartemen masih tetap sepi ketika mereka pulang, dan kamar Sehun masih tertutup rapat.

Ketika melangkah masuk, Kai dan Luhan saling melempar pandang, lalu mengangkat bahu. Yah bagaimanapun juga gaya hidup Sehun yang terbalik dan seperti vampir itu harus dimaklumi. Apalagi dia bosnya, pemilik apartemen ini, Luhan lah yang harus menyesuaikan diri dengan gaya hidup Sehun.

Cuma dia tidak mengira akan ada lelaki lain yang tinggal di sini, dengan gaya hidup yang berbeda pula. Luhan menatap Kai, "Anda ingin makan siang apa?"

Kai mengangkat bahunya lalu melangkah ke arah kamarnya, "Apa saja, aku pemakan segalanya. Aku akan berlatih dulu ya, panggil aku kalau makanan sudah siap."

Berlatih?

Luhan tiba-tiba teringat akan kotak biola dari bahan kulit keras yang dibawa Kai kemarin. Lelaki itu pasti pemain biola.

Setelah Kai masuk ke kamarnya, Luhan bergegas ke dapur dan membongkar belanjaannya. Uang belanja yang diberikan oleh Sehun banyak sekali, dan dengan uang itu Luhan bahkan bisa membeli bahan makanan untuk satu

minggu. Dia memenuhi kulkas dengan berbagai macam sayur mayur, buah dan berbagai bumbu. Untuk persediaan daging, ikan dan telur, Luhan meletakkannya di tempat khusus di atas.

Setelah selesai mengatur semuanya, Luhan menatap kulkas yang penuh itu sambil tersenyum puas. Ini benar-benar seperti di drama-drama yang pernah dilihatnya, kulkas yang penuh bahan makanan, tak perlu mencemaskan akan makan apa esok hari.

Sambil bersyukur, Luhan mulai mengambil bahan-bahan masakannya, dia akan menyiapkan makan siang untuk Kai sekaligus menyiapkan makan malam untuk Sehun.

Untuk makan siang, dia akan membuat yang ringan saja, karena toh mereka akan makan tanpa Sehun. Kalau makan malam, Luhan akan membuat menu yang sedikit berat karena mereka semua akan makan malam.

Luhan memasak nasi, kemudian memutuskan untuk membuat ayam goreng saus inggris. Bumbunya sangat mudah dan tinggal menyiram ayam yang sudah digoreng renyah dengan saus inggris.

Tiba-tiba Luhan merasa sangat bahagia.

dia sangat suka memasak, di panti asuhan dulu, Luhan selalu kebagian tugas mengurusi dapur, memasak makanan untuk anak-anak panti. Mereka semua bilang masakan Luhan enak, dan memasak untuk anak-anak panti bukanlah suatu beban untuk Luhan, dia bahagia melakukannya.

Bahkan dulu dia sempat membuat kliping dari berbagai resep masakan yang diambil di tabloid-tabloid langganan ibu panti. Dia akan menggunting setiap resep dengan hati-hati, dan menempelkannya di buku besar yang dia miliki, buku itu hampir penuh, seluruh isinya adalah resep makanan. Luhan suka membalik-balik kliping buku resep itu, membacanya dengan harapan dia akan bisa mempraktekkannya suatu saat nanti.

Tetapi ternyata takdir berkata lain, Luhan harus meninggalkan panti karena hal yang tidak menyenangkan itu, dan dia terpaksa meninggalkan kliping buku resepnya karena terlalu berat untuk dibawanya.

Ah... kenangan buruk itu.

Dengan cepat Luhan mencoba menghapuskannya. Itu semua masa lalu. Pada akhirnya Tuhan telah begitu baik kepadanya, membuatnya sampai di titik ini. Luhan menata ayam goreng yang tampak renyah keemasan itu di piring saji, dia lalu mengambil saus yang sudah dibuatnya dengan rempah-rempah dan tentu saja bahan utamanya saus inggris yang harum dan khas, lalu menuang saus itu ke atas ayam. Ayam itu akan menyerap saus itu sampai ke dalam, hingga rasanya khas.

Luhan menatap puas ke arah masakannya, lalu dia menengok nasi nya yang sudah matang.

Luhan lalu teringat kalau Kai minta dipanggil kalau masakan sudah siap. Dengan tenang, Luhan melangkah keluar kamar, hendak mengetuk kamar Kai dan memanggilnya.

.

.

.


"Bawakan aku oleh-oleh yang banyak."

Kai memasang wajah cemberut sambil memandang ke arah layar, Adiknya yang sedang video chat bersamanya kini ada di belahan bumi yang lain, sedang menghabiskan masa bulan madunya bersama suaminya di sana.

Wajah Taemin, adiknya di sana sedang tertawa. Yah setelah menikah dengan Minho sahabatnya, Taemin makin tampak ceria dan bahagia. Kai sangat beryukur akan hal itu. Kebahagian adiknya membuatnya tenang, dan juga, adiknya telah dijaga oleh sahabatnya yang terbaik.

"Pasti Oppa! kami baru akan pulang minggu depan." Taemin menatap ke background gambar Kai yang sedang bercakap-cakap dengannya, "Itu bukan kamarmu, kau ada dimana? Benarkah apa yang dikatakan umma kalau kau sedang pelatihan musik dan harus dikarantina?"

Kai terkekeh, umma yang mereka bicarakan ini adalah ibu angkat mereka, meskipun begitu Kai dan Taemin sangat menghormati ibu angkat yang ini, lebih daripada ibu kandung mereka yang telah membuang mereka, dan bersikap jahat kepada mereka yang menyebabkan sang ibu kandung dipenjara sampai sekarang.

"Aku melarikan diri dari umma." Kai tertawa, "Kau tahu sendiri kan, sejak kau menikah dia mengejar-ngejarku untuk menyusulmu, dia bahkan sudah menyiapkan calon isteri untukku, anak dari nyonya Jung sahabat umma."

"Dia cantik." Taemin tertawa di layar, "kenapa kau tidak mencobanya?"

"Karena aku tahu pasti kalau hatinya tidak cantik." Mata Kai tampak dingin, yah bukankah semua perempuan mau kepadanya karena wajahnya yang tampan dan kekayaannya?

Taemin menatap ekspresi Kai dan tiba-tiba merasa sedih menyadari bahwa kakaknya ini belum lepas dari kebencian dan prasangkanya terhadap perempuan. Ibu kandung mereka memang jahat, egois dan tega membuang mereka demi keuntungan pribadinya, tetapi seharusnya Kai bisa menyadari bahwa tidak semua perempuan sejahat ibu mereka.

Taemin tidak sabar menunggu saatnya ada perempuan yang bisa membuat kakanya tersadar.

Tiba-tiba layar di depan Kai tampak bergoyang. Kai mengerutkan keningnya ketika ada wajah Minho, suami Taemin sekaligus sahabatnya yang muncul di sana.

"Minggir Minho, aku sedang bicara dengan adikku." Gumamnya dengan ketus.

Minho mengangkat alisnya, "Kau sudah berbicara terlalu lama dengannya. Ini bulan madu kami jadi maaf aku menginterupsi." Mata Minho bersinar jahil dan penuh tawa, "Bye Kai."

Lalu tiba-tiba saja layar gelap dan Taemin sudah log out.

Kai menatap layar komputer dengan kesal, tetapi kemudian merasa geli. Minho memang sangat posesif kepada Taemin dan Kai memang sengaja mengganggu bulan madu mereka dengan sengaja mengajak Taemin mengobrol lama-lama.

Lama kemudian, Kai masih menatap layar komputer yang kosong itu. Dia lalu mengehela napas panjang dan berdiri, meraih biolanya.

Taemin memintanya mencoba memberi kesempatan kepada perempuan. Tetapi Kai tumbuh dengan kebenciannya yang luar biasa kepada perempuan. Dia sangat benci kepada ibu kandungnya. Semua perempuan sama saja, semuanya penipu, jahat, licik dan hanya mengincar harta.

Perempuan itu iblis, yang menggunakan kekuatan pesonanya untuk menjatuhkan lelaki ke dalam jeratnya sebelum kemudian melemparnya ke penderitaan. Well bukan semuanya mungkin, adiknya Taemin dan ibu angkatnya masuk ke dalam pengecualian.

Kai tidak akan pernah jatuh ke dalam pesona perempuan manapun. Dia akan lebih dulu menyakiti dan menghancurkan perempuan sebelum mahluk itu menghancurkannya. Diraihnya biolanya, dan setelah memejamkan mata dan menghela napas, dia memainkannya.

Nada yang keluar adalah nada yang menyanyat sekaligus mengancam, ungkapan kebencian Kai kepada mahluk bernama perempuan di muka bumi ini.

.

Kai benci sekali, sangat benci!

.

.

.

Luhan mendengarkan musik itu ketika melangkah ke ruang tengah. Berarti betul dugaannya, Kai sedang berlatih memainkan biola.

Langkah Luhan mendekat ke arah kamar Kai, tiba-tiba merasa merinding mendengarkan lagu yang dimainkan di sana. Ini bukanlah jenis musik romantis yang dimainkan orang direstoran ketika seorang lelaki memutuskan melamar kekasihnya, ini juga bukan musik yang menyayat hati dan penuh kesedihan...

Ini lebih seperti... kemarahan...

Luhan mengerutkan keningnya dan melangkah ke arah kamar Kai yang setengah terbuka, musik itu terdengar makin jelas di sana. Dari pintu yang terbuka, Luhan melihat Kai yang sangat serius memainkan biolanya, matanya terpejam dan mulutnya merapat.

Dan seperti nada musik yang dimainkannya, ekspresi Kai benar-benar penuh kemarahan, seolah-olah ada bara kemurkaan yang siap meledak di sana.

Luhan jadi ragu untuk mengetuk pintu dan memberitahukan keberadaannya... dia hanya berdiri mematung di situ, mengamati ekspresi Kai dan musiknya yang makin bergolak akan kemarahan... sampai kemudian mata Kai yang indah membuka dan kemudian langsung menatap Luhan dengan tajam.

"Sudah berapa lama kau di situ?"

Suara Kai bahkan sedingin tatapannya. Tiba-tiba saja Luhan merasa takut. Kenapa Kai yang berdiri di depannya ini sangat berbeda dengan Kai yang ramah, yang tadi pagi berbelanja kepadanya?

"Eh... saya memanggil karena makanan sudah siap." Luhan bergumam gugup bingung menghadapi tatapan mata Kai yang dingin dan penuh kemarahan.

Sebenarnya lelaki itu sedang marah kepada siapa? Kenapa dia memainkan musik seperti itu? musik yang bergolak yang membuat siapapun yang mendengarkannya pasti tahu bahwa sang pemain biola sedang marah.

Tetapi kemudian Kai tampaknya bias menguasai diri. Kemarahan tampak surut dari matanya, dan dalam sekejap ada senyum di sana. Ekspresi lelaki itu kembali penuh canda dan ramah seperti yang selalu ditampilkannya di depan Luhan sebelumnya,

"Aku perhatikan, kau tetap saja menggunakan 'saya' dan 'anda' kepadaku, ini sudah ketiga kalinya aku mengingatkanmu." Bibir lelaki itu menipis, "Awas kalau sampai ke empat kalinya, coba ulang kata-katamu dengan menggunakan 'aku dan kau'."

Kai mengangkat alisnya dan tampak keras kepala. Luhan menatap lelaki itu dan menyadari bahwa dia seharusnya memberikan apa yang Kai mau karena sepertinya lelaki itu tidak akan menyerah sebelum mendapatkan keinginannya,

"Aku kemari hendak memberitahumu kalau makanan sudah siap." Gumam Luhan akhirnya dengan canggung, menggunakan 'aku' dan 'kau' seperti yang Kai mau, dan kemudian dia ternyata menciptakan senyum mempesona yang melebar di bibir Kai.

Oh astaga, lelaki ini memang tampan, dan ketampanannya naik berkali-kali lipat kalau dia tersenyum seperti itu.

Kalau saja Luhan tidak merasa canggung dan malu, dia pasti sudah memegang ambang pintu dan menarik napas panjang, karena udara seakan tertarik dari paru- parunya, terpesona oleh ketampanan Kai.

"Bagus." Kai tersenyum, lalu melangkah ke pintu dan melewati Luhan, "Ayo kita makan aku lapar!"

.

.

.

.

Ketika Luhan mengikuti Kai hendak melangkah ke dapur, pintu kamar Sehun terbuka dan lelaki itu muncul. Acak-acakan karena bangun tidur dan tampak cemberut, matanya menatap marah ke arah Kai.

"Kalau kau memang ingin tinggal di apartemen ini Kai, seharusnya kau menghormati jam tidurku, aku tidak suka berisik, dan alunan biolamu itu sampai menembus alam mimpiku, memaksaku bangun." Gumamnya tajam.

Kai tampaknya sama sekali tidak terpengaruh dengan kemarahan Sehun, dia malahan tertawa,

"Maafkan aku, aku lupa kalau kau sangat sensitif terhadap bunyi-bunyian, dan kau punya mood yang sangat jelek ketika bangun tidur. Aku janji tidak akan memainkan biola di saat kau tidur lagi."

Sehun terdiam, menatap Kai dengan tajam, lalu mengangkat bahunya, "Oke aku pegang kata-katamu." Gumamnya tak kalah tajam, lalu mundur dan setengah membanting pintu kamarnya itu, membuat Kai menatap dengan geli.

Sementara itu Luhan masih terdiam di sana agak bingung. Dua lelaki ini memang bersahabat, tetapi sepertinya mereka bersikap seperti anjing dan kucing. Luhan mengangkat bahu, lalu melangkah ke dapur, yah...dia kan perempuan, yang pasti dia tidak akan bisa memahani bagaimana persahabatan laki-laki.

.

.

.


Malamnya, Sehun ikut bergabung bersama mereka untuk makan malam, lelaki itu sudah segar sehabis mandi, dan berpakaian rapi. Syukurlah. Luhan semula ketakutan kalau Sehun akan datang ke ruang makan dengan celana dan bertelanjang dada seperti kemarin.

"Sepertinya moodmu sudah baik."

Kai mengambil sepiring nasi dan memakannya dengan sup daging dan wortel buatan Luhan, caranya makan seolah begitu menikmati, tampaknya dia suka dengan apa yang dimakannya karena tiba-tiba Kai mengangkat matanya dan menatap Luhan –yang dipaksa untuk makan bersama– dengan tatapan puas dan menggoda,

"Enak Luhan. Masakan rumahan memang paling enak, bahkan kokiku di rumah tidak bisa membuat makanan seenak ini. Rasanya sederhana tetapi murni, kurasa kokiku tidak bisa membuatnya karena dia terbiasa membuat rumit segala resep demi menunjukkan tekniknya." Sambil menyuap sendok ke mulutnya Kai mengedipkan matanya, "Mungkin aku akan mensabotasemu dari rumah Sehun dan menjadikanmu tukang masak pribadiku."

Pipi Luhan memerah mendengar pujian Kai yang dilemparkan secara langsung itu, dia menatap Kai dengan malu-malu, "Terimakasih." Gumamnya pelan, tiba-tiba merasa berdebar.

Mimpi apa dia sehingga bisa makan bersama dengan dua lelaki yang sama-sama tampan ini?

Sehun menyuap supnya, tetapi matanya menatap ke arah Kai dan kemudian berganti ke arah pipi Luhan yang merah padam. Kai telah menyebarkan rayuannya tentu saja, Lelaki itu memang perayu alami dan Luhan yang polos sepertinya telah tersihir oleh rayuan Kai,

"Jangan termakan rayuan Kai, Luhan."Sehun bergumam lugas, memberi Kai tatapan penuh peringatan, "Aku sarankan kau hati-hati kepadanya, Kai memang perayu ulung yang tidak pandang bulu dan kau harus waspada."

Pipi Luhan makin merah padam mendengarkan saran Sehun itu. Tetapi rupanya Kai malahan tertawa mendengarkan peringatan tentang dirinya yang diucapkan tetap di depan mukanya,

"Aku tidak akan mengganggu Luhan tentu saja." Gumam Kai, mengedipkan sebelah matanya kepada Luhan, "Luhan dan aku bersahabat, iya kan Luhan?"

"Iya."

Mau tak mau Luhan menganggukkan kepalanya, meskipun dia tidak tahu bagaimana deskirpsi sahabat menurut Kai, mereka kan baru bertemu tadi pagi?

Sehun mencibir, menyuapkan sup itu ke mulutnya, dan dia kemudian menyadari kata- kata Kai. Sup buatan Luhan memang enak, rasanya ringan tapi penuh aroma. Tidak sia-sia Sehun menjadikan Luhan pelayannya, gumam Sehun dalam hati.

.

.

.

.

Ketika Luhan sedang mencuci piring di dapur dan Kai masuk ke kamarnya untuk berlatih biola lagi –mumpung Sehun sedang terbangun, katanya– Sehun berjalan ke arah ruang tengah dan duduk di sana, pekerjaannya hampir beres dan sepertinya akan tiba saat-saat dimana Sehun bisa sedikit bersantai.

Ponselnya berdering lagi, dan Sehun tidak bisa menahankan kemarahannya ketika melihat nomor di sana. Pengacara ayah kandungnya lagi!

Kenapa mereka tidak pernah menyerah mengganggunya?

Karena tahu bahwa pengacara ayah kandungnya sangat gigih, Sehun akhirnya memutuskan untuk mengangkat telepon itu, "Kenapa kau tidak berhenti menggangguku?" dia langsung menyapa dengan kasar, membuat pengacara tua di seberang itu tertegun,

"Aku tidak mengganggumu, Sehun. Aku hanya ingin menginformasikan kepadamu."

"Menginformasikan apa?" rasa ingin tahu yang aneh menggelitik benak Sehun,

"Tentang ayahmu." Pengacara ayah kandungnya berdehem, "Sebelumnya aku meminta maaf, selama ini aku berbohong kepadamu..." suara si pengacara tampak tersendat, "Aku selalu bilang bahwa ayahmu sakit dan sekarat serta menginginkanmu datang, sebenarnya itu hanya taktikku supaya aku bisa membujukmu datang kemari menengok ayahmu. Tetapi ternyata alasan itu tidak bisa meluluhkan hatimu, kau tetap keras dalam pendirianmu."

Suara si pengacara tampak menuduh, "Kenyataannya ayahmu sebenarnya sehat, meskipun jantungnya lemah karena usia, dia tidak dalam keadaan sekarat. Dan karena seluruh usahanya untuk membuatmu datang ke London tidak berhasil, beliau memutuskan untuk mengunjungimu ke Korea."

Dasar tua bangka sialan.

Sehun mengutuk, langsung mengeluarkan kata-kata kasar dalam benaknya, mengutuk ayah kandungnya dan pengacara liciknya yang sama-sama pembohong besar. Untung Sehun sama sekali tidak termakan oleh kebohongan itu dulu.

"Jadi si tua itu datang ke Korea?" Sehun bergumam sinis, "Apakah dia pikir aku mau menemuinya?"

"Ayah kandungmu sangat keras kepala, dia memutuskan akan datang mengunjungimu dan akan berangkat lusa segera setelah semua surat-suratnya beres, aku sudah mencegahnya mengingat penyakit jantungnya dan usianya, tetapi dia tidak mendengarkan aku." Pengacara ayahnya menghela napas panjang, "Aku harap kau mau memberikan kesempatan untuk ayahmu, Sehun. Beliau sudah tua dan meskipun tidak sekarat, tetap saja penyakit jantungnya mengkhawatirkan."

"Aku tidak peduli." Sehun meradang lalu menutup ponselnya, memutus pembicaraan dengan kasar. Punya hak apa pengacara tua itu menyuruhnya mempedulikan kesehatan ayah kandungnya? Kenapa pula dia harus peduli kepada seorang lelaki yang membuangnya begitu saja?

Sudah terlambat untuk menginginkannya sekarang.

Sehun tidak akan membiarkan ayah kandungnya yang arogan itu mendapatkan apa yang dimauinya dengan mudah!

.

.

.

.

"Aku ingin kau besok siang ikut denganku." Sehun muncul di ambang pintu dapur, menatap tajam ke arah Luhan yang sedang mengelap meja dapur sampai licin. Dia ingin semuanya bersih sebelum dia tidur nanti.

"Ikut kemana?" tatapan Luhan tampak bingung, bukankah Sehun biasanya tidur kalau siang?

Sehun tampaknya menyadari pertanyaan di benak Luhan, "Aku tidak bekerja malam ini, jadi besok siang aku akan bangun. Kau ikut denganku, aku akan membawamu." Lelaki itu setengah membalikkan tubuhnya tak peduli.

"Ikut kemana?" Luhan mengulang pertanyaannya, buru-buru sebelum Sehun meninggalkan ruangan itu, kalau sampai tidak mendapatkan jawaban, mungkin Luhan akan tertidur malam ini dengan mata nyalang penasaran.

"Ke butik dan mall." Sehun yang sudah membalikkan tubuhnya menatap Luhan setengah menoleh, "Kita akan berbelanja pakaian untukmu." Dan kemudian Sehun pergi meninggalkan Luhan yang kebingungan.

Berbelanja pakaian? Apakah maksud Sehun seragam pelayan seperti yang dia lihat di buku-buku komik? Tapi apakah perlu memakai seragam?

Luhan tak henti-hentinya bertanya-tanya, bahkan sampai dia berbaring tidur di malam harinya.

.

.

.

.

.

To Be Continued


A/N

.

Saya mengganti castnya.. Di sini yang jadi adiknya Kai bukan Kyungsoo tapi Taemin, Dan yang jadi suaminya Taemin itu Minho bukan Chanyeol. Maaf jika membingungkan.

.

.

Sampai jumpa di chapter depan... dan, Review?