Title : Crush In Rush
Cast :
Xi Luhan (girl) - Oh Sehun, etc.
Warning : Genderswitch, typo(s), etc
Rated : T
Disclaimer :
Cerita ini sepenuhnya milik Santhy Agatha dari novel yang berjudul sama. dan saya hanya meremakenya dengan mengganti cast dan mengedit sedikit alurnya. So don't call me plagiator, ok?!
.
Summary : Sehun dan Luhan. Dua mahluk yang bertolak belakang, yang seharusnya tidak pernah bersinggungan. Tetapi kehidupan mempertemukan mereka ke dalam pusaran nasib yang tidak terelakkan.
.
.
Don't Like
.
Dont'read
.
.
Enjoy
.
.
.
.
Rupanya Sehun serius dengan maksudnya.
Jam satu siang lelaki itu keluar dari kamarnya dan sudah berpakaian rapi, diamenatap tajam ke arah Luhan yang sedang membersihkan karpet dengan penyedot debu. Sementara itu Kai sedang menonton TV di ruang tengah, lelaki itu menoleh dan mengangkat alisnya melihat penampilan Sehun yang rapih. "Mau pergi kencan?" godanya cepat.
Sehun menggelengkan kepalanya, "Bukan." Matanya mengarah kepada Luhan, "Kenapa kau belum berganti pakaian?"
Karena Luhan mengira Sehun sudah lupa dengan ajakannya kemarin, atau lelaki itu sedang bercanda... tetapi ternyata lelaki itu serius.
"Sa... saya sedang membersihkan karpet..." jawab Luhan akhirnya.
"Tinggalkan itu, ganti bajumu, kita berangkat sekarang dan cepatlah!." Gumamnya tegas tak terbantahkan, hingga Luhan terbirit-birit meletakkan pembersih debu di tangannya dan melangkah setengah berlari ke kamarnya untuk berganti pakaian.
Sementara itu, Kai yang masih duduk di sofa mengamati seluruh penampilan Sehun yang memilih berdiri, suaranya terdengar serius ketika berbicara, tidak penuh canda seperti yang ditampilkannya di depan Luhan, "Apa yang sedang kau rencanakan, Sehun?" tanyanya datar dan menyelidik.
Sehun menatap ke arah kamar Luhan yang tertutup rapat dan kemudian menatap Kai tajam, "Itu bukan urusanmu."
Kai mengangkat bahunya, "Memang." Gumamnya, "Apakah ini berhubungan dengan ayah kandungmu?"
Kai tentu saja tahu kisah tentang ayah kandung Sehun. Mereka memang bersahabat dekat karena memiliki kisah yang sama. Kisah yang sama-sama tragis, mereka sama-sama dibuang oleh salah satu orang tua kandung mereka. Bedanya sekarang ibu kandung Kai yang jahat dan mata duitan telah mendekam di penjara, menerima ganjaran atas perbuatannya. Sedangkan ayah Sehun masih hidup dan seperti kata pengacara ayahnya tadi, masih lumayan sehat dan gigih mengejar apa yang dia mau, menjadi batu sandungan dan ganjalan bagi langkah Sehun.
"Ya." Sehun mengangguk, percuma membohongi Kai, sahabatnya ini punya insting yang kuat, "Lelaki tua itu mau datang kemari."
"Kemari?" Kai mengangkat alisnya, "Dia tidak mudah menyerah ya."
"Dia tidak akan mendapatkan apa yang dia mau, aku tidak akan pernah mengakuinya sebagai ayah di depannya dan membuatnya puas. Bagiku ayahku bukan dia."
"Hati-hati Sehun." Kai bergumam, "Sepertinya ayah kandungmu itu sama keras kepalanya denganmu, kalian sepertinya sama-sama berpegang kuat kepada pendirian kalian masing-masing." Kai lalu melemparkan pandangannya ke arah kamar Luhan, "Dan akan kau gunakan sebagai apa Luhan nanti?"
Sehun tersenyum, senyum yang dalam dan penuh rencana, "Luhan adalah tamengku. Tameng terbaik yang pernah ada. Alat pembalasan dendam yang paling hebat."
Suara Sehun terdengar mantap, bergaung di ruang tengah apartemen itu.
"Teganya kau memanfaatkan gadis sepolos itu sebagai tameng?" Kai mengernyitkan keningnya, "Dan tameng seperti apa maksudmu?"
Sehun mengangkat alisnya, menatap Kai setengah mencemooh, "Benarkah yang kudengar ini? Seorang Kai yang selalu menyakiti hati perempuan tanpa pandang bulu tiba-tiba mencemaskan kepolosan seorang perempuan?"
Kai membalas tatapan mata Sehun dengan serius, "Aku sungguh-sungguh dengan perkataanku, Sehun. Kau tahu semua perempuan yang pernah menjadi korbanku, mereka memang pantas mendapatkannya, tetapi Luhan... dia benar-benar perempuan polos yang tidak tahu apa-apa. Apapun yang kau rencanakan terhadapnya, kau akan bersikap kejam kepadanya."
Sehun membeku, dia lalu mengangkat bahunya, "Luhan adalah satu-satunya orang yang paling tepat untuk ini."
Kai berdiri, menatap Sehun dengan tatapan tajam, "Terserah kau, Sehun. Aku sudah memperingatkanmu. Rasa berdosa itu akan semakin dalam kalau kau memanfaatkan perempuan polos yang tidak tahu apa-apa."
Kai lalu melangkah dan meninggalkan Sehun, masuk ke kamarnya, setelah beberapa langkah sampai di depan kamarnya, lelaki itu seolah teringat sesuatu dan menolehkan kepalanya sedikit, "Oh ya, aku lupa mengatakan kepadamu, tadi pagi aku berbelanja dengan Luhan, dan kami bertemu teman Luhan."
"Teman Luhan?" Sehun mengernyitkan keningnya, langsung tertarik.
"Yah, dia bilang dia teman Luhan. Salah satu rekan kerjanya di cafe tempat mereka bekerja sebelumnya." Kai menatap Sehun penuh arti, "Tapi aku tahu lelaki itu tidak menganggap Luhan sebagai teman. Dan kalau kau mau menjalankan rencanamu, apapun itu kau harus mempertimbangkan keberadaan orang- orang yang menyukai Luhan lebih dari yang seharusnya."
Kai sepertinya menebak kalau Sehun akan menjadikan Luhan sebagai kekasih pura-puranya. Sehun memang akan melakukan hal yang hampir mirip seperti itu, tetapi tentu saja dengan cara yang jauh berbeda. Dia akan membuat ayah kandungnya pulang ke negaranya dengan bahu terkulai kalah dan sangat sangat kesal.
"Aku akan mempertimbangkannya." Jawab Sehun datar, "Terimakasih Kai."
"Dan satu lagi, Luhan tidak punya ponsel. Kasihan sekali di jaman sekarang tidak punya alat komunikasi yang begitu penting. Kau mungkin bisa membelikannya satu."
"Akan kulakukan." Sehun mengangguk, menyadari bahwa hal itu luput dari perhatiannya. Nanti dia akan memastikan kalau Luhan mempunyai ponsel, hal itu memberikan manfaat baginya juga untuk berkomunikasi dengan Luhan kapanpun dia jauh.
.
.
.
.
.
Ketika Luhan keluar dari kamarnya setelah berganti pakaian, Sehun berdiri di sana dan menatap Luhan dari ujung kepala sampai ke ujung kakinya. Tatapannya setengah mencemooh setengah kasihan.
"Kau hanya punya baju ini?" lelaki itu mengamati blouse Luhan yang dulunya pasti pernah berwarna putih meskipun sekarang hanya menyisakan warna krem kusam yang tidak jelas. Dan perempuan itu mengenakan rok panjang hitam sebetisnya.
Blouse putih dan rok hitam!
Demi Tuhan... apakah perempuan ini tidak punya selera berpakaian yang lebih baik? Pakaiannya mengingatkan Sehun pada anak training di toko-toko. Padahal Sehun akan membawa Luhan ke butik kelas atas. Dia sendiri sebenarnya tidak peduli, tetapi dia tahu orang-orang di sana akan mencemooh Luhan, memandang Luhan seperti pertunjukan sirkus mahluk aneh yang salah tempat, dan dia tidak mau Luhan mengalami itu, dipermalukan seperti itu sementara Luhan berjalan di sisinya.
Tidak boleh ada orang yang mempermalukan perempuan yang sedang bersama Sehun.
Pipi Luhan sendiri tampak merah padam. Malu. Dia tahu bahwa pakaiannya yang sederhana itu pasti tidak akan cocok dengan selera Sehun, pasti akan membuat lelaki itu malu. Tetapi mau bagaimana lagi, pakaian yang dikenakannya ini adalah pakaian terbaiknya.
"Aku... aku hanya punya pakaian ini." Jawab Luhan menahan malu, sepertinya dia lebih baik mengurung diri di kamarnya saja daripada nanti mempermalukan Sehun, dengan sangat dia berdoa dalam hati supaya Sehun membatalkan acara keluar mereka.
Tetapi rupanya Sehun punya pikiran lain, lelaki itu menghela napas, tampak kesal, lalu meraih kunci mobilnya di gantungan dan melangkah mendahului Luhan ke pintu, "Ayo." Gumamnya, membuka pintu dan melangkah pergi, membuat Luhan terbirit-birit mengikutinya.
.
.
.
.
.
Mereka berkendara melalui kawasan elite di pusat kota, dan Sehun tiba-tiba berhenti di sebuah tempat yang dari papan nama di sana, merupakan sebuah butik, butik itu berupa rumah bercat putih dengan gaya belanda, dikelilingi pepohonan yang rimbun dan suasana yang asri.
"Ayo turun, pemilik butik ini temanku, jadi kita bisa mencari pakaian yang lebih tepat untukmu sebelum kita pergi ke mall dan butik-butik di sana."
Sehun membuka pintu dan melangkah memutari mobil, lalu membukakan mobil untuk Luhan dengan sopan.
Mereka lalu berjalan setengah bersisian, dengan Sehun di depan dan Luhan di belakangnya. Mereka memasuki butik elegan bergaya lama itu melalui sebuah pintu putar kuno yang berlapiskan krom dan kaca.
Suasana di dalam butik itu sangat elegan, dengan lampu berwarna kuning terang yang menciptakan keindahan tersendiri terhadap pakaian berbagai warna yang digantung di berbagai sudut. Luhan tidak pernah masuk ke tempat seperti ini tentu saja, matanya melahap seluruh sisi dengan penuh ingin tahu, menahan keinginan untuk bergumam "oooh", "waaaah", atau "wooow"
Seseorang keluar dari bagian belakang butik dan bergumam, "Mohon maaf, tidakkah anda melihat tanda di depan pintu? Kami baru buka pukul lima sore..."
Seseorang itu adalah perempuan yang sangat cantik, dengan kaos ketat berwarna biru gemerlap yang menunjukkan keseksiannya tubuhnya yang berkulit seputih susu, berkilauan bagaikan porselen.
"Sehun?" perempuan itu memekik kesenangan, "Sehun!" lalu perempuan itu menghambur, memeluk Sehun dengan erat,
"Kemana saja kau sayangku? Lama sekali kau tidak kemari."
Sehun membalas pelukan perempuan itu dengan canggung, "Aku sangat sibuk dengan pekerjaan akhir-akhir ini." Lelaki itu memundurkan langkah dan dengan halus melepaskan diri dari pelukan perempuan itu, "Bagaimana kabarmu, Xiumin?"
"Aku baik-baik saja." Xiumin bergumam ceria sambil mengedipkan sebelah matanya, "Dan aku sangat merindukanmu, Sehun. Dulu kau sering kemari sambil membawa pacar-pacar cantikmu itu... jadi karena kau lama tidak kemari, aku pikir mungkin kau sedang tidak berpacaran?"
Mata perempuan itu melirik ke arah Luhan yang berdiri gugup di belakang Sehun dan langsung mengangkat alisnya, "Atau kau berpacaran tapi sepertinya sudah merubah seleramu?"
Matanya mengamati Luhan dari ujung kaki ke ujung kepala, membuat Luhan malu setengah mati. Perempuan itu sangat modis dan sangat bergaya, dan sekarang mengamati Luhan dengan secercah rasa kasihan di matanya,
"Di mana kau menemukan gembel kecil ini?" gumamnya mendekati Luhan, dan kemudian menyentuh pundak Luhan tanpa permisi, lalu membalikkan tubuh Luhan yang sepertinya dianggapnya bagai boneka, dia mengamati tubuh Luhan dan kemudian menoleh ke arah Sehun lagi, "Kekasih terbarumu?" gumamnya tak percaya.
Sehun terkekeh, "Jangan terlalu mendekatinya Xiumin, Luhan akan ketakutan kepadamu. Tidak. Dia bukan kekasihku. Tetapi segera. Dia akan berperan sebagai kekasihku, dan aku ingin bantuanmu untuk melatihnya."
"Apa?"
Xiumin dan Luhan berseru bersamaan, yang satu bersemangat dan penuh ingin tahu, sementara yang lain kaget luar biasa.
"Ya. Aku ingin kau mengajari Luhan semuanya, seluruh caranya. Aku ingin dia berperan sebagai kekasih yang jalang, mata duitan, pokoknya jenis perempuan yang paling menyebalkan di muka bumi ini." Sehun menatap Xiumin dan tersenyum manis, "Aku tahu dari pengalamanmu di butik ini, kau banyak pengalaman dengan jenis-jenis perempuan seperti itu."
Xiumin tertawa. Tawa merdu yang enak di dengar, dia menepuk pundak Luhan lembut, "Hai aku Xiumin. Dan sepertinya sahabatku yang tiba-tiba datang setelah sekian lama menghilang ini tanpa tahu malu langsung meminta bantuanku."
Sapanya lembut, membuat Luhan tersenyum malu-malu. Sepertinya memang Xiumin sering mengucapkan kata-kata cemoohan, tetapi kemudian Luhan menyadari bahwa perempuan itu hanya menggunakan sebagai candaan, tidak ada maksud sama sekali dari Xiumin untuk merendahkan lawan bicaranya. Mungkin memang gaya bicaranya seperti itu...
Tetapi Luhan sendiri masih bingung dengan maksud perkataan Sehun tadi.
Apa maksudnya lelaki itu akan menjadikannya kekasihnya, atau berperan sebagai kekasih Sehun tetapi –kalau Luhan tidak salah dengar– harus bisa membawakan peran sebagai perempuan jahat?
"Aku bisa saja melakukannya, Sehun. meskipun tampaknya misi ini begitu berat." Xiumin menatap Luhan penuh arti, "tetapi kau harus menjelaskan semuanya kepadaku dari A sampai Z jadi aku tahu apa maksud semua rencanamu ini."
Xiumin lalu memanggil pelayannya yang segera datang dari pintu belakang, "Buatkan minuman untuk kedua tamuku, kita akan bercakap-cakap sebentar."
"Aku akan menjelaskannya kepadamu, Xiumin." Joshua menganggukkan kepalanya setuju, lalu menatap Luhan, "Luhan, kau bisa menunggu di sini? Aku akan bicara dengan Xiumin sebentar di dalam."
Meskipun merasa sangat ingin tahu hingga mendorongnya memaksa ikut, Luhan tidak berani. Yang biasa dia lakukan hanyalah menganggukkan kepalanya, meskipun benaknya masih didera oleh semua pertanyaan.
"Pelayan akan membawakanmu minuman dan kue, kau boleh melihat-lihat pakaian di sini dan mencobanya. Kalau ada yang menarik untukmu bilang saja, aku yakin Sehun dengan senang hati akan membelikannya untukmu."
Xiumin mengedipkan sebelah matanya, lalu dengan genit menggandeng lengan Sehun, dan dua anak manusia itu kemudian masuk ke ruang dalam yang sepertinya bagian kantor dari butik tersebut.
.
.
.
.
.
Luhan menghabiskan beberapa menit dengan hanya berdiri terpaku dan kebingungan harus berbuat apa.
Matanya mengamati seluruh ruangan dan mengagumi interiornya yang indah. Mereka seperti berada di rumah-rumah bangsawan eropa dari jaman dahulu kala. Sepertinya memang Xiumin sengaja membuat nuansa butiknya kuno tetapi elegan.
Kursi-kursinya berukir dengan warna cokelat gelap, berpadu dengan tirai merah yang bersemburat emas, tampak sangat kontras dengan tembok yang dicat putih bersih dan atap plafon dengan ukiran indah yang semuanya berwarna putih bersih. Sementara itu di bawah kakinya, karpet mahal yang sangat tebal berwarna cokelat tua tampak sangat berpadu dengan keseluruhan ruangan.
Setelah lama berdiri, Luhan sadar sepertinya Sehun akan lama di dalam sana.
Seorang pelayan muncul dari dalam, membawa nampan, ada teko sepertinya berisi teh dan juga cangkir-cangkir indah bergambar bunga dengan gaya victorian. Lalu ada sepiring kue cokelat yang tampak lezat dengan krim di atasnya. Pelayan itu meletakkan nampan di meja, dan Luhan menyadari ada tatapan kaget di matanya ketika melihat penampilan Luhan yang sangat sederhana, tetapi pelayan itu berhasil menutupinya dengan cepat, dengan sopan dia mempersilahkan Luhan untuk menikmati hidangannya selama menunggu.
Dengan hati-hati Luhan duduk di kursi di samping meja kecil yang telah disediakan, dia menuang teh yang harum itu, dan kemudian menyesapnya pelan-pelan.
Enak.
Ada rasa pedas yang khas, aroma daun mint yang membuat rasa teh itu istimewa. Luhan lalu mengicipi kue yang sangat menggugah selera itu, dan kemudian mengunyahnya dengan nikmat. Kue itu enak sekali!
Mata Luhan melirik dengan penuh rasa bersalah ke beberapa kue yang masih tersisa di piring, pasti akan sangat memalukan kalau Luhan menghabiskan kue itu. Tetapi kue itu enak sekali...
Mata Luhan memandang ke sekeliling, berusaha mengalahkan dorongan untuk menghabiskan kue yang enak itu, demi kesopanan. Akhirnya Luhan berdiri dan dengan hati-hati mendekat ke arah rak gaun–gaun itu.
Jemarinya menyentuh bahan sebuah gaun dari sutera halus yang begitu indah, warna gaun itu hijau yang teduh, dengan bros berwarna perak sebagai aksen di dadanya, iseng-iseng karena ingin tahu, Luhan melihat price tag yang menempel di gaun itu, dan kemudian membelalakkan matanya kaget.
Astaga! Gaun ini mahal sekali!
Dengan ketakutan, Luhan melangkah mundur dari rak gaun berisi gaun-gaun indah yang digantung, Astaga, harga gaun itu mungkin cukup untuk Luhan hidup beberapa bulan.
Dengan gugup, Luhan duduk lagi di kursinya, dia tidak berani memegang gaun-gaun itu setelah mengetahui harganya. Kalau sampai sentuhan tangannya membuat gaun itu rusak, bisa gawat, karena Luhan tidak mampu menggantinya.
Dengan cemas dan penuh rasa ingin tahu, Luhan menatap ke arah pintu kantor tempat Sehun dan Xiumin menghilang tadi.
.
.
.
.
.
"Itu rencana yang sangat licik Sehun, dan murni kejam."
Xiumin tidak bisa menahan diri mengucapkan kata-kata itu setelah Sehun selesai bercerita. Perempuan itu lalu menatap ke arah butik tempat Luhan masih menunggu di sana,
"Dan kalaupun aku mau membantumu, dari semua perempuan di dunia ini, kau bisa memilih perempuan yang berpengalaman. Dengan sedikit polesan, dia akan lebih mudah dimasukkan dalam rencanamu, dan kenapa kau malahan memilih perempuan lugu, polos dan tidak tahu apa-apa itu?"
Sehun menyandarkan tubuhnya ke kursi dan tersenyum tenang, "Perempuan yang berpengalaman akan berbahaya karena kadang kala mereka memberontak, menginginkan lebih, atau bahkan menggigit balik." Mata Sehun ikut melirik ke arah butik, "Luhan tidak akan mengkhianatiku."
Xiumin menatap Sehun, mereka memang bersahabat sejak lama, sejak masa kuliah.
Sehun dulu pernah membantu Xiumin melalui masa-masa sulitnya. Xiumin pernah jatuh dan hancur, menerima semua cemoohan orang, dan dia kehilangan banyak orang yang semula dikiranya sebagai sahabat baiknya. Hanya Sehun yang tetap disisinya dan mendukungnya, bagi Sehun tidak peduli Xiumin akan jatuh dan mempermalukan diri seperti apa, mereka berdua tetap bersahabat.
Dan kalau Sehun meminta pertolongan kepadanya, bagaimana dia bisa menolaknya?
"Aku akan melakukannya untukmu, Sehun. meskipun sepertinya sulit, aku akan mengubah perempuan polos yang ada di depan itu menjadi seperti yang kau mau. Mulai besok bawalah dia kesini setiap pagi. Kau bisa menjemputnya di sore hari, dan aku akan melatihnya dengan intensif, gaya berjalan, gaya berpakaian bahkan gaya berbicaranya."
Sehun tersenyum puas, "Aku tahu aku akan selalu bisa mengandalkanmu, Xiumin."
.
.
.
.
.
Sehun dan Xiumin keluar dari ruangan itu beberapa saat kemudian, dan Luhan langsung berdiri. Xiumin tersenyum manis kepada Luhan, lalu melemparkan tatapan bertanya kepada Sehun, "Kalian akan kemana hari ini?"
Sehun mengangkat bahu, "Kami akan ke mall, memberi beberapa gaun dan perlengkapan. Dan tentu saja kami akan berbelanja di butikmu ini, Xiumin." mata Sehun menatap penampilan Luhan. "Dia tidak boleh berjalan-jalan denganku dengan penampilan seperti itu."
"Tentu saja tidak boleh." Xiumin berseru ceria, lalu menghampiri Luhan dan merangkulnya, "Mari, akan kupilihkan pakaian yang pantas untukmu, kau pasti akan menyukainya."
.
.
.
Seperti kerbau yang dicocok hidungnya, Luhan menurut saja ketika Xiumin menyerahkan pakaian untuknya dan menyuruhnya berganti baju.
Di dalam ruang ganti Luhan mengintip kembali price tag baju yang ada di tangannya, dan mengerutkan keningnya. Harganya cukup tinggi untuk sebuah gaun terusan berwarna pink gelap.
Jemari Luhan bergetar ketika mencobanya, tetapi dia berusaha melakukannya. Setelah mengenakan gaun itu Luhan bercermin dan mengagumi betapa pas gaun itu di tubuhnya, Xiumin sepertinya punya insting bagus mengenai gaun.
Luhan juga mengagumi betapa ringannya bahan gaun itu, menempel di tubuhnya. Tampak pas dan tampak cantik.
Ketokan di pintu ruang ganti membuat Luhan sedikit terperanjat,
"Apakah kau sudah selesai di sana?" suara Xiumin terdengar dari depan pintu.
"Sudah..."
Luhan buru-buru membuka pintu ruang ganti itu dan berhadapan dengan Xiumin. Xiumin berdiri di sana dan tampak puas dengan penampilan Luhan, dia membawa sepatu berhak datar berwarna peach gelap yang sangat indah dan meletakkannya di lantai, "Ini, pakailah ini. Gaun itu seharusnya memang dipakai dengan sepatu ini."
Luhan menurutinya dan sekali lagi merasa takjub dengan betapa pasnya sepatu itu di kakinya. Xiumin menepuk pundak Luhan dan mengedipkan sebelah matanya, "Bagus. Kau sudah siap untuk berjalan-jalan dengan Sehun."
.
.
.
.
Reaksi Sehun melihat penampilan baru Luhan tidak terbaca.
Lelaki itu hanya mengangkat alisnya, dan kemudian mengamati Luhan dari ujung kepala sampai ujung kaki, kemudian menganggukkan kepalanya,
"Bagus Xiumin. Aku ingin kau menyiapkan lagi beberapa gaun, sebanyak mungkin dari koleksimu yang cocok dengan tubuh Luhan, juga sepatunya, dan aksesorisnya. Aku tahu butikmu ini lebih banyak menjual gaun-gaun formal, karena itu aku akan ke mall dan memberi gaun-gaun untuk keperluan lainnya."
"Hati-hati ya." Xiumin melepas kepergian mereka dalam senyum ramah, "Dan Sehun, jangan lupa membawa Luhan ke salon." Serunya setelah Sehun dan Luhan dekat dengan mobil mereka.
Sehun hanya memnganggukkan kepalanya dan melambai kepada Xiumin. Dengan sopan dia membukakan pintu untuk Luhan dan kemudian memutari mobilnya, duduk di balik kemudi dan menjalankan mobilnya keluar dari butik itu.
Sepanjang jalan mereka terdiam, meskipun Luhan berkali-kali mencuri pandang ke arah Sehun penuh pertanyaan. Kapan Sehun akan menjelaskan semuanya kepadanya?
Sehun sendiri tampaknya menyadari apa yang ada di benak Luhan, dia melirik sedikit dan tersenyum. "Kau pasti bertanya-tanya ya? Nanti setelah di rumah aku akan menjelaskan semuanya. Sekarang kau ikuti saja aku. Yang pasti kau bisa tenang, aku tidak akan menyakitimu."
Mau tak mau Luhan menganggukkan kepalanya dan kemudian berusaha mengalihkan pembicaraan, kalau tidak dia akan tersiksa akan rasa penasaran yang menderanya ketika harus menunggu Sehun menjelaskan segalanya ketika mereka pulang nanti.
"Butik yang sangat indah, dan Xiumin... pemiliknya sangat cantik."
Sehun tersenyum simpul, "Tentu saja, Xiumin sangat cantik, dia sangat menjaga kecantikannya itu setelah dia mendapatkannya hampir lima tahun yang lalu."
Mendapatkan kecantikan? Apa maksud Sehun?
Sehun sendiri terkekeh, "Semoga kau tidak menganggapku mantan pacarnya atau apa, kami bersahabat akrab sejak kuliah arsitek. Tetapi kemudian dia drop out karena mengejar hasrat sebenarnya di bidang desain pakaian, dan terbukti dia tidak sia-sia karena sekarang dia menjadi salah seorang perancang yang sukses dengan butik kelas satu yang sangat diminati."
Mata Sehun tampak geli ketika melempar kebenaran itu kepada Luhan. "Jangan tertipu dengan kecantikan dan sikap feminimnya Luhan, lima tahun yang lalu, Xiumin adalah seorang lelaki. Sampai kemudian dia memutuskan untuk mengikuti hasratnya untuk menjadi seorang perempuan."
Apa?
Luhan ternganga. Kaget sekaligus bingung.
Astaga, jadi Xiumin bukanlah perempuan tulen?
.
.
.
.
.
To be Continued
.
And, Mind to Review?.
.
.
A/N
.
Terima kasih buat yang udah ngefollow, ngefavorite dan terutama yang ngereview fanfic ini.
Saya akan update cepat kalo gak ada kendala.
.
Sampai jumpa chapter depan
