Title : Crush In Rush
Cast :
Xi Luhan (girl) - Oh Sehun, etc.
Warning : Genderswitch, typo(s), etc
Rated : T
Disclaimer :
Cerita ini sepenuhnya milik Santhy Agatha dari novel yang berjudul sama. dan saya hanya meremakenya dengan mengganti cast dan mengedit sedikit alurnya. So don't call me plagiator, ok?!
.
Summary : Sehun dan Luhan. Dua mahluk yang bertolak belakang, yang seharusnya tidak pernah bersinggungan. Tetapi kehidupan mempertemukan mereka ke dalam pusaran nasib yang tidak terelakkan.
.
.
Don't Like
.
Dont'read
.
.
Enjoy
.
.
.
.
Luhan benar benar terkejut dan tak menyangka kalau Xiumin bukanlah perempuan tulen, oh ya ampun tiba-tiba saja Luhan merasa malu, bagaimana bisa Xiumin yang bukan perempuan tulen tampak begitu cantik? Apalagi kalau dibandingkan dengan dirinya...
Sehun sendiri mengamati reaksi Luhan dan tersenyum geli, "Jangan merasa rendah diri. Xiumin memang selalu berusaha lebih cantik dari perempuan manapun di dunia ini, tapi dia sahabat yang baik dan dia akan membantumu."
"Membantuku?"
"Ya. Akan kujelaskan nanti, yang jelas, beberapa hari ini kau akan sering bertemu dengannya."
Luhan menatap Sehun, tetapi lelaki itu tampaknya sudah menghentikan pembahasan mereka tentang Xiumin. Pada akhirnya Luhan hanya terdiam, menyimpan pertanyaan dalam benaknya.
Nanti. Gumamnya dalam hati, nanti pasti Sehun akan menjelaskan kepadanya. Dan sekarang seperti yang diminta Sehun, Luhan akan menuruti rencana Sehun, dia bertekad menjadi pelayan yang baik untuk Sehun.
.
.
.
.
.
Tanpa disadari oleh Luhan, Sehun beberapa kali melirik penampilan perempuan itu, lalu tidak bisa menahan kepuasan dalam hatinya atas penampilan Luhan.
Perempuan itu cantik tentu saja, hanya tidak terpoles. Kecantikannya lugu dan polos, lebih seperti anak kecil yang membuat siapapun ingin melindunginya...
Sehun mengerutkan keningnya, Kenapa dia berpikiran seperti itu? Ingin melindungi Luhan?
Lelaki itu langsung berusaha membuang pikirannya dan mencoba fokus. Dia harus tetap pada rencananya semula, dia akan menggunakan Luhan sebagai tameng sekaligus sebagai alat pembalasan dendam kepada ayah kandungnya.
Dengan tenang Sehun membelokkan mobilnya menuju salah satu pusat perbelanjaan terbaru di pusat kota, yang katanya terbesar di asia.
Setelah membantu Luhan turun, Sehun menyerahkan mobilnya kepada petugas valey parkir. Mereka lalu berjalan bersisian memasuki pintu utama pusat perbelanjaan itu.
Sehun melirik Luhan dan sekali lagi tidak bisa menahan senyumnya melihat perempuan polos itu hampir saja ternganga melihat keindahan tempat yang mereka kunjungi.
Semuanya memang begitu besar, dari pilar dan tembok-tembok yang sangat tinggi sampai tanaman palem raksasa di dalam pot elegan yang ada di sudut-sudut tertentu.
"Kita ke salon yang itu dulu." dengan lembut Sehun menghela Luhan dan membawanya ke sebuah salon terkenal.
Sehun jarang ke salon, tetapi dia tahu mana salon yang baik mana yang tidak. Mantan-mantan kekasihnya dulu kebanyakan selalu membicarakan salon-salon langganan mereka, ada yang bilang salon A bagus sayang finishing touch nya jelek, ada yang bilang salon B pelayanannya tidak memuaskan dan sebagainya.
Pada akhirnya, Sehun bisa menarik kesimpulan salon mana yang bisa dipercaya untuk mengubah model rambut Luhan.
Oh sebenarnya tidak ada yang salah dengan model rambut Luhan. perempuan itu cukup beruntung memiliki rambut yang hitam, sehat dan halus dan panjang. Tetapi tidak ada model khusus untuk rambutnya. Hanya panjang dan lurus, dipotong rata. Sehun yakin stylist di salon ini bisa sedikit membuat gaya rambut Luhan lebih modern.
Ketika mereka masuk, salah satu pegawai salon berseragam hitam langsung menyambut mereka dengan ramah. Sehun mengatakan apa maksudnya kepada pegawai itu dan kemudian Luhan dihela masuk ke bagian dalam, sementara Sehun sendiri duduk di ruang tunggu, menunggu hasilnya dengan penasaran.
.
.
.
"Rambut anda sangat indah, halus dan hitam, sayang potongannya rata, jadi kesannya tipis dan membosankan."
Seorang stylist laki-laki yang agak gemulai menyentuh helaian rambut Luhan dari belakang, lelaki itu sekarangduduk di kursi tinggi di belakang Luhan yang duduk di kursinya sendiri dan menghadap kaca yang sangat besar. Dengan posisi kaca itu, Luhan bisa menatap mata sang stylist,
"Di salon mana anda dulu memotongnya?"
tampaknya karena baju Luhan yang mahal dan indah, dan karena Luhan datang bersama seorang lelaki tampan yang sangat elegan, stylist itu mengira Luhan mungkin salah satu pelanggan salon lain yang sekelas dengan salon ini.
Tetapi tentu saja bukan, dengan polos Luhan menjawab, "Saya memotongnya sendiri."
Stylist itu benar-benar tampak terkejut dengna jawaban Luhan, jemarinya yang sedang memegang rambut Luhan membeku di sana.
"Memotongnya sendiri?" gumamnya memekik ngeri, menatap Luhan dengan tak percaya.
"Ya." Luhan menganggukkan kepalanya mantap.
Memangnya apa yang salah dengan memotong rambutnya sendiri? Rambut Luhan panjang, tentu saja memudahkannya untuk memotong sendiri, dia tinggal menarik rambutnya ke depan, lalu gunting di tangannya pun beraksi, yang penting rambutnya tampak rata dan rapi dari belakang bukan?
"Tidak!" tiba-tiba saya sang stylist berseru membuat Luhan kaget, "Jangan pernah memotong rambutmu sendiri, cantik. Itu mengerikan untuk dibayangkan." Stylist lelaki itu begidik, "Itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang benar-benar ahli, bahkan aku sendiri masih tidak percaya diri melakukannya. Jadi kau harus berjanji tidak akan melakukannya? Oke?"
Luhan menatap mata stylist gemulai itu dari cermin, setengah mengernyit, bingung kenapa masalah seperti itu tampaknya begitu penting bagi si stylist . Tetapi kemudian, Luhan menganggukkan kepalanya untuk memuaskan si stylist.
"Oke" Jawabnya, dan si stylist tampak puas dengan jawabannya. Senyumnya melebar, jemarinya bergerak lagi dengan ahli di rambut Luhan, sebelum mengayunkan guntingnya, lelaki itu mengedipkan sebelah matanya kepada Luhan,
"Aku akan membuat rambutmu sedemikian cantiknya, penuh tekstur dan tampak penuh. Kekasih tampanmu yang di depan itu pasti nanti akan sangat terkejut melihat penampilan barumu."
Yang dimaksud kekasih tampannya pastilah Sehun. Tetapi Sehun bukan pacarnya.
Luhan terdiam, menatap kaca, ke arah si stylist yang mulai menggarap rambutnya.
Yah sudahlah.
Yang penting dia melakukan apa yang diinginkan Sehun. Matanya terus bergerak. Mengawasi gunting itu yang memotong rambutnya helai demi helai.
.
.
.
.
Ketika Stylist itu selesai, model rambutnya masih belum kelihatan, seorang petugas lain membawanya dan mencuci rambutnya dengan shampo yang sangat harum.
Setelah itu dia dibawa kembali kepada sang stylist. Lelaki itu sudah siap dengan hair dryer dan sisir di tangannya. Jemarinya yang lentik dan ahli langsung memilah-milah rambut Luhan yang basah, dan kemudian mengoleskan sesuatu yang basah dan lengket di sana.
"Diapakan?" Luhan bergumam bingung, takut karena tidak tahu apa yang dilakukan stylist itu ke rambutnya. Sementara lelaki gemulai itu tersenyum dan menatap Luhan penuh arti,
"Aku akan memberikan kilau para rambutmu, jadi ucapkan selamat tinggal pada warna hitam gelap yang membosankan."
.
.
.
.
Beberapa saat kemudian, rambutnya selesai, setelah menunggu beberapa lama, lalu rambutnya dicuci lagi, dikeringkan lagi dan di blow.
Luhan menatap takjub kepada rambutnya setengah terpana.
Itu dia yang sama yang didepan cermin, tetapi amat mengejutkan bahwa perubahan potongan dan warna rambut bisa merubah penampilan seseorang.
Luhan yang ada di sana sangat cantik, rambutnya masih tetap panjang tentu saja, tetapi potongannya bertingkat, membuat volume rambutnya tampak penuh dan segar. Begitu juga warnanya yang sekarang tampak berkilauan sehat.
Astaga... ternyata pekerjaan stylist itu tidak main-main.
Luhan merasa seperti artis-artis di drama yang penampilannya seperti baru keluar dari salon. Tiba-tiba saja dia merasa ingin terkikik sendirian ketika menyadari bahwa dia juga baru keluar dari salon.
"Nah ayo sayang, kau begitu cantik, tunjukkan kecantikanmu kepada kekasih tampanmu di depan itu, dia pasti terpesona setengah mati."
Lelaki gemulai itu menghela Luhan ke depan, tempat Sehun sedang mengerutkan keningnya sambil menatap ponsel yang dibawanya.
Lelaki itu menyadari kehadiran Luhan dari batuk sengaja sang stylist sebelum meninggalkan Luhan berdiri sendirian di sana, dan kemudian mendongakkan kepalanya, dan terpana.
Beberapa detik Sehun memandang penampilan baru Luhan dalam keheningan, sampai kemudian dia mengerjap dan memasang wajah datar,
"Bagus sekali." Gumamnya tanpa ekspresi, membuat Luhan bingung apakah lelaki itu menyukai penampilan barunya atau tidak.
Sehun lalu beranjak berdiri, dan memberi isyarat Luhan supaya mengikutinya, mereka keluar dari salon itu dan melangkah ke arah lain, Luhan berusaha menjajari langkah Sehun dan bertanya,
"Kita akan kemana lagi?"
"Membeli beberapa sepatu, koleksi di butik Xiumin belum cukup banyak karena memang dia tidak spesifik menjual sepatu. Ayo."
Mereka melangkah beberapa jauh dan kemudian masuk ke sebuah toko sepatu yang begitu elegan, penuh dengan kaca-kaca yang berkilau seakan tembus pandang, memantulkan suasana indah ruangan yang berwarna sampanye berpadu dengan karpet merah tebal yang indah.
"Ada yang bisa saya bantu tuan dan nona?" Pramuniaga langsung menyambut mereka dengan sopan di depan.
Sehun mengedikkan bahunya ke arah Luhan, "Dia butuh sepatu, yang banyak dan terbaru, keluarkan semua koleksi terbaru kalian."
Dan kemudian banyak sekali waktu yang dihabiskan untuk mencoba sepatu-sepatu yang seakan tidak ada habisnya.
Sehun akan duduk di sana, meminta Luhan berjalan di depannya, dan ketika tidak merasa cocok, lelaki itu akan berkata tidak, sedangkan ketika merasa cocok, dia akan memberi isyarat kepada pramuniaga yang langsung membawa kotak sepatu itu ke kasir.
Pada akhirnya, Luhan kelelahan mencoba berbagai macam sepatu itu. Oh memang benar, bisa masuk ke toko semewah ini dan memilih sepatu mungkin tidak akan pernah terwujud dalam kehidupan Luhan yang biasa, dan dia bersyukur bisa mengalami pengalaman ini.
Tetapi kalau begitu banyak sepatu yang harus dicobanya seperti ini, lama-lama Luhan merasa lelah dan bosan.
Ketika memasang kaitan sepatunya yang entah untuk ke beberapa kalinya, Luhan mendesah dan mulai merasa ingin melarikan diri dari tempat itu segera.
Sehun melihatnya, dan menemukan keengganan di mata Luhan ketika dia meminta perempuan itu mencoba sepatu, sungguh Luhan benar-benar berbeda dengan perempuan lain yang pernah bersamanya.
Perempuan-perempuan lain pasti akan merasa berada di surga, diajak berbelanja sepatu ataupun pakaian sekian lamanya, yah bagaimanapun Luhan perempuan yang berbeda.
Dengan lembut dan penuh senyum dia lalu mendekat berjongkok ke arah Luhan yang duduk di kursi khusus untuk mencoba sepatu, kemudian jemarinya meraih kaitan sepatu Luhan dan memakaikannya,
"Lelah ya?"
Sikap Sehun dan jemarinya yang sedang memegang pergelangan kaki Luhan nampak begitu lembut dan penuh perhatian, membuat pipi Luhan memerah karenanya. Luhan pada akhirnya hanya mampu menganggukkkan kepalanya, tidak mampu berkata-kata atas sikap lembut Sehun.
Sehun tersenyum dan menghela napas panjang, "Kalau begitu, setelah ini kita pulang saja, aku rasa masih banyak waktu untuk berbelanja yang lain."
.
.
.
.
.
Ketika mereka pulang, hari sudah beranjak malam.
Luhan melihat Kai sedang duduk di sofa ruang tengah dan menonton televisi sambil menyantap sesuatu yang seperti mie ramen.
Tiba-tiba saja Luhan merasa bersalah karena tadi tidak sempat memasakkan makan malam.
"Kalian sudah pulang rupanya." Kai mengalihkan pandangannya dari mie yang sedang dimakannya, dan menoleh.
Matanya melebar ketika melihat Luhan, lalu lelaki tampan itu tersenyum penuh arti, "Kau tampak cantik sekali dengan potongan rambut baru dan gaun manismu itu, Luhan." Serunya memuji, membuat pipi Luhan merona.
Sehun menoleh, menatap pipi Luhan yang memerah, kemudian dia melemparkan tatapan penuh peringatan kepada Kai,
"Jangan ganggu dia, Kai! dia milikku."
Mungkin maksud Sehun adalah Luhan pelayan miliknya. Tetapi entah bagaimana kalimat yang diucapkan secara lugas itu membuat jantung Luhan berdebar.
Sementara itu Kai mengamati reaksi Sehun dengan geli, lalu bergumam setengah mengejek, "Mulai posesif Sehun?"
Kata-katanya itu membuat wajah Sehun merah padam, lelaki itu menghela Luhan lembut, berusaha tidak mempedulikan Kai, "Ganti dengan pakaian rumahan dan kita akan bicara."
Sehun selalu mengucapkan perintahnya dengan begitu tegasnya, membuat Luhan langsung terbirit-birit ke kamar untuk menurutinya.
Sepeninggal Luhan, Kai menatap Sehun dengan pandangan menyelidik. "Kau membawa Luhan ke Xiumin ya?"
Kai tampak tidak suka, membuat Sehun merasa aneh.
Kai selalu bersikap sebagai pembenci perempuan, tetapi ternyata dia juga membenci mahluk yang bertingkah laku sebagai perempuan, entah karena Kai paranoid atau memang dia berpandangan konservatif.
"Aku tidak suka nada suaramu, Kai. Bagaimanapun juga Xiumin sahabatku."
Kai tersenyum, "Oke.. oke. Kenapa kau ini Sehun? dari awal kau masuk rumah ini, sikapmu seperti akan menyerangku."
Sehun tertegun dan kemudian menghela napas panjang ketika menyadari kebenaran kata-kata Kai.
Entah kenapa dia seperti ingin menyerang Kai. apalagi setelah Kai memuji Luhan dengan terang-terangan, rasanya Sehun tidak rela.
Dia mengacak rambutnya dengan frustrasi, apakah benar kata Kai tadi? Bahwa dia memendam rasa posesif dan bahkan cemburu kepada Luhan?
"Maafkan aku." Gumam Sehun kemudian, 'Kurasa aku hanya sedikit lelah."
Sehun menyusul duduk di sofa, dan kemudian menuang jus jeruk dari teko dingin yang ada di meja, meneguknya dengan haus.
"Tapi kuarasa itu sepadan." Gumam Kai dalam senyuman, "Dia berubah cantik sekali, seperti puteri dalam kisah dongeng cinderella."
Lagi. Sehun merasakan sengatan rasa itu lagi, perasaan tidak suka ketika Kai memuji Luhan dengan terang-terangan.
Ada apa dengannya ini?
Sehun tidak sempat menelaah perasaannya karena Luhan sudah keluar dari kamar, berjalan canggung setengah takut ke arah mereka, itu menjadi catatan bagi Sehun karena nanti, kalau mereka harus berhadapan dengan ayah kandungnya yang licik itu, Luhan harus bersikap percaya diri dan pemberani di depannya.
"Duduklah." Sehun menggeser duduknya, lalu menatap Kai dengan galak, "Aku ingin bicara empat mata dengan Luhan, akankah kau tetap di sini?"
Pengusiran terang-terangan Sehun itu ternyata sama sekali tidak menyinggung Kai, lelaki itu malah tertawa, membawa mangkok mienya tanpa kata dan melangkah pergi dari ruang tengah itu.
Lalu hening. Sehun tampak sedang berusaha menyusun kata-kata sementara Luhan menunggu. Lalu Sehun berdehem,
"Aku punya ayah kandung di London. Ayah kandung yang jahat. Dulu dia mengusir ibuku dalam kondisi hamil dan tak bertanggung jawab, ibuku pulang ke Korea, menanggung malu dan cemoohan karena mengandung anak haram, mengandung aku."
Sehun langsung membuka penjelasannya dengan kalimat pahit itu, membuat Luhan terkesiap dan merasa iba. Rasa ibanya itu mungkin terpancar jelas di matanya karena Sehun menatapnya garang,
"Jangan mengasihani aku, sedikitpun aku tidak pernah menyesal karena ayah kandungku membuangku jauh-jauh." Lelaki itu menghela napas marah,
"Dan itulah yang kuinginkan sampai saat ini, jauh-jauh dari lelaki munafik dan jahat itu, sayangnya dia tak tahu malu dan punya pemikiran lain, ayah kandungku mulai datang dan merecokiku, menggunakan kebohongan bahwa dia sekarat dan sakit keras dan mengira dengan begitu bisa meluluhkan hatiku dan membuatku mau menemuinya. Tentu saja cara itu tidak berhasil kepadaku. Dia tidak pernah ada dalam kehidupanku, lalu kenapa aku harus mencemaskan kesehatannya?"
Luhan menghela napas mendengar perkataan retoris itu, dia bingung harus berkata apa. "Mungkin... mungkin ayahmu menyesal dan ingin berbaikan denganmu? Bagaimanapun juga kau adalah anaknya."
"Lelaki jahat itu tidak akan pernah menyesal." Sehun membantah dengan sinis, "Dia hanya menginginkan pewaris seluruh kekayaannya, baginya kekayaannya hanya boleh diwariskan kepada orang yang mempunyai darah ningrat yang dimilikinya."
Sehun tersenyum sinis, "Aku sudah menolaknya, bagiku harta darinya adalah sampah, tetapi ayah kandungku tidak tahu malu, dia bahkan merencanakan pernikahan untukku dengan gadis berdarah bangsawan, demi menjaga kemurnian darah keturunannya. Tentu saja aku menolaknya mentah-mentah."
Sehun tampak semakin marah, "Dan kemudian dia mengatakan akan datang ke Korea untuk membujuk dan memaksa aku melakukan apa yang dia mau."
"Beliau akan datang ke Korea?" Luhan terkejut, tak menyangka ayah kandung Sehun ini akan bertindak sejauh itu.
"Ya. Karena dia lelaki arogan pemaksa yang tidak akan menyerah sebelum mendapatkan kemauannya." Mata Sehun menatap Luhan dalam-dalam, "Dan karena itulah aku membutuhkanmu, Luhan."
Jadi dia akan berperan sebagai apa?
Luhan jadi teringat akan betapa banyaknya pakaian, sepatu dan berbagai macam hal lainnya yang diberikan Sehun kepadanya, dari kata-kata laki-laki itu di salon, semua untuk memberikan Luhan peran sebagai perempuan jahat.
Apakah semua ini untuk ayah kandungnya?
"Aku ingin kau berperan sebagai kekasihku, terang-terangan di hadapan ayahku. Tetapi kau harus bersikap bukan sebagai kekasih yang baik-baik. Aku sudah menyelidiki ayah kandungku, aku tahu seperti apa wataknya, dia sangat menjunjung darah ningratnya. Mengetahui aku tergila-gila kepada perempuan yang tidak jelas asal-usulnya, yang baginya tidak sederajat dan jelas-jelas perempuan yang hanya mengincar hartaku akan membuatnya gila." Sehun terkekeh, "Pada akhirnya dia akan pulang dengan kekalahan yang menyakitkan."
Luhan menatap Sehun dan tiba-tiba merasa sedih.
Dia tidak punya ayah, Dan dulu ketika di panti asuhan, betapa dulu dia sangat menginginkan memiliki keluarga, memiliki ayah yang menyayanginya. Dan sekarang di depannya, ada seorang lelaki yang masih memiliki ayah kandung, tetapi memikirkannya dengan penuh dendam.
Tetapi Luhan tidak bisa menyalahkan Sehun.
lelaki itu mengetahui masa lalunya dengan pedih dan menumbuhkan kebencian di dadanya sejak lama, lagi pula sepertinya ayah kandung Sehun memang kejam karena membuang ibu Sehun yang sedang mengandung darah dagingnya sendiri, dan kemudian tiba-tiba ketika dia membutuhkan Sehun, dengan arogannya lelaki itu ingin mendekati Sehun kembali.
Setelah memikirkan segalanya, Luhan bisa memaklumi apa yang ada di benak Sehun.
Lelaki itu mengamati ekspresi Luhan dan kemudian tersenyum, "Aku ingin kau berlatih dengan Xiumin selama beberapa hari ini, dia akan mengajarimu bagaimana menjadi perempuan penggoda. Meskipun bukan perempuan tulen, Xiumin punya banyak pengalaman dengan perempuan-perempuan semacam itu, jadi dia bisa mengajarimu."
Sehun terkekeh, kemudian menatap Luhan dengan tatapan serius, "Aku akan memberikan gaji tambahan untuk tugasmu ini, Luhan. Jadi kau tidak perlu cemas, yang aku minta adalah kau melakukan pekerjaanmu ini dengan sebaik-baiknya."
Luhan terpekur kebingungan.
Sebenarnya dia tidak membutuhkan gaji tambahan lagi. Apa yang diberikan Sehun kepadanya saat ini sudah lebih dari cukup. Makanan setiap hari, tempat bernaung yang luar biasa indahnya.
Luhan tidak ingin meminta apa-apa lagi, yang dia inginkan adalah membantu Sehun sekuatnya. Lelaki itu adalah penolongnya dan Luhan akan melakukan apa saja untuk membalas budi.
.
.
.
To Be Continued
.
.
A/N
.
.
Duh ternyata di chapter sebelumnya (dan mungkin chapter sekarang juga) banyak kesalahan pengeditan... Maaf saya khilaf #lol .
Joshua itu Sehun dalam novel aslinya. Dan di novel aslinya Delilah (Xiumin) itu beneran Transgender.
Oiya buat yang nanya ini berapa chapter lagi jawabannya 6 chapter lagi. dan saya pastiin kalau minggu depan cerita ini udah tamat.
.
Ada salah satu reader yang ngasih tau saya informasi tentang... eumm, remake-an Crush in Rush juga.
Awalnya saya sempet bingung karna sebelum saya ngepost chapter awal, di ffn gak ada yang ngremake ini dengan cast exo. Maka dari itu saya berani ngeremake novel ini.
Tapi saya gak masalah karna setiap orang punya otp dan selera(?) masing-masing dan gimanapun ini karya orang dan saya hanya ingin membagikannya kepada para pembaca di ffn. Jadi udah resikonya hmmm...
Tapi saya akan tetap mempublish fanfic ini sampai tamat karna rasanya tanggung banget kalo berhenti di tengah jalan.
.
Sampai jumpa di chapter depan...
